Share

7 - Kembali

Author: Harina
last update Last Updated: 2025-12-13 11:51:04

Seumpama air hujan yang terbendung, kemudian mendapatkan jalan mengalir, membasahi pepohonan yang kering. Begitulah apa yang dirasakan Anaya. Rindu yang selama ini menggumpal di hatinya, telah pecah dan tertabur. Pertemuan kembali dengan lelaki yang dicintainya mengguncang jiwa. Membingungkan, tetapi terasa benar dan wajar

“Ini beneran Kak Damar?” Suara Anaya bergetar.

Abizar mengangguk. “Ini aku. Tampangku memang beda, tapi … ini aku beneran. Aku Damar Abimana, suamimu.”

Air mata Anaya mengalir. Ia percaya. Sorot mata yang menatapnya teduh tersebut, sangat ia kenal. Mata itulah yang dulu membuatnya takluk dan menerima cinta Damar. Tangannya terulur meraba pipi Abizar. Pantas saja ia merasa tak asing biarpun fisiknya 

“Tapi … kenapa ….” Anaya tidak dapat meneruskan kalimatnya. Terlalu banyak pertanyaan di benaknya. 

Lelaki itu memejamkan mata. Segenap pori-pori tubuhnya mengembang. Jantungnya berdesir menghangatkan semua nadinya. Ingin ia menarik tangan halus itu dan menciuminya. Namun, sebuah kesadaran, mendorong dirinya segera kembali fokus. Ia menengok ke arah kedai. Semua yang di dalam, sepertinya tidak memperhatikan. Namun, meskipun kaca mobil gelap dan ia yakin tak ada yang melihat apa yang baru saja dilakukan Anaya, teap saja ia merasa tak aman.

“Aku bilang ke mereka, kalau aku mau pergi ke bank.” Anaya seperti menjawab kegelisahannya.

Abizar langsung menginjak gas dan melajukan mobil meninggalkan kedai. 

“Kita mau kemana? Aku sebenarnya nggak ada urusan ke bank.” Anaya cemas dengan ketergesaannya. 

“Kita cari tempat yang aman untuk bicara,” jawab Abizar. “Nggak boleh ada yang tahu kalau aku belum mati.”

Anaya terkejut. Apa maksudnya? Walau ia sepenuhnya yakin Abizar adalah Damar, ada sesuatu di sikap pengemudi itu yang membuatnya khawatir. Sikap tegang dan waspada yang ditampilkan menular ke dirinya.

“Kenapa?” Anaya ikut berhati-hati. Menoleh ke samping dan ke belakang. 

Abizar tidak menjawab. Ia mengenakan kaca matanya lagi, dan berkonsentrasi ke jalanan. Sepuluh menit kemudian, ia berhenti di parkiran basement bank. Setelah membuka sedikit jendela dan melepaskan sabuk pengaman, ia menoleh pada Anaya yang setengah ketakutan dengan tingkahnya. 

“Maaf sudah membuatmu takut.” Jari Abizar ganti membelai pipi Anaya yang langsung basah oleh air mata. Hai … apa kabar Sayang?” 

Tangis Anaya pecah berderai. Keduanya berpelukan erat. Saling terisak, tersenyum dan tertawa.

“Dari dulu aku yakin, Kakak masih hidup.” Anaya membelai rambut abu-abu itu. “Bagaimana ceritanya? Kenapa nggak pulang? Kenapa muka Kakak diganti begini? Kenapa pura-pura jadi orang lain? … kenapa?”

Abizar alias Damar tersenyum. Hatinya pedih dengan kebingungan Anaya. 

“Ya, aku selamat dari kecelakaan itu. Entah bagaimana, aku terlempar keluar dari helikopter itu, dan hanyut. Aku nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Saat aku sadar, aku sudah sebulan dirawat di sebuah pulau pribadi. Aku menderita banyak luka dan tulang yang patah. Di sini … di sini.” Damar menunjuk tangan, kaki dan mukanya. 

“Siapa yang merawat?” tanya Anaya.

“Seorang wanita kaya. Dia kemudian membawa aku ke rumah sakit di Thailand. Aku berkali-kali dioperasi. Termasuk muka ini.” 

“Tapi, kenapa dibikin jadi berubah? Kulit Kakak juga jadi lebih puih. Siapa sih wanita itu?” Anaya merengut. Kesal sekaligus cemburu.

“Dia sudah tua.” Damar tertawa. Ia paham perasaan Anaya dari ekspresi wajahnya. 

“Kenapa dia nggak melaporkan Kakak? Padahal tim SAR mencari dan kecelakaan itu ada di berita?” Anaya heran. “Kenapa Kakak nggak nggak ngasih aku kabar? Padahal aku nungguin?” 

“Maaf.” Damar menatap Anaya penuh sesal. “Ada alasan yang nggak bisa aku ceritakan sekarang. Tapi, percayalah … setiap saat aku selalu ingat kau. Tiap malam aku berdoa supaya bisa bertemu lagi, dan kamu tetap akan mengenaliku. Hari ini, doa aku dikabulkan.”

Anaya menggelengkan kepala. Ia masih belum puas karena belum mendapatkan alasan.

“Kenapa tega begitu, sih? Nggak tahu apa aku tersiksa menunggu kabar? Dipaksa menerima kenyataan kalau kamu sudah mati. Apalagi terus aku hamil ….” Air mata Anaya kembali mengalir. Ia menundukkan kepala. Matanya tertuju pada cincin di jari manisnya. Mendadak ia teringat pada Arlo.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DI ANTARA DUA SUAMI   24 - Pergi

    Anaya menjawab pertanyaan Arlo satu persatu dengan nada yang diusahakan tenang. Abizar memutar tubuhnya kembali menghadap ke depan. “Oke!” Anaya mengakhiri panggilannya, lalu membuka pintu mobil.“Kamu mau kemana?” tanya Abizar.“Aku harus beli barang dulu untuk di kedai. Kalau langsung pulang nggak bawa apa-apa, nanti Arlo curiga,” jawab Anaya. “Tunggu saja di sini!”Anaya pergi bergegas. Untung saja Abizar parkir tak jauh dari pintu masuk mall. Tak jauh melangkah, ia menemukan toko houseware. Ia mengambil troli dan cepat mengisinya dengan piring, sendok, tempat tisu, dan beberapa barang lain yang sebenarnya tidak diperlukan.Semua dilakukannya dengan pikiran yang bercabang-cabang, dengan pokok utama soal kasus yang dihadapi sopirnya.Tiba di rumah, Arlo langsung mencecarnya lagi. Anaya yang penat hanya bisa menahan kesal.“Kenapa Sasha sampai nggak sekolah hari ini?” tanya Arlo.“Aku ‘kan sudah bilang tadi, aku nggak enak badan,” jawab Anaya.“Kalau kamu sakit, kenapa nggak ngasih

  • DI ANTARA DUA SUAMI   23 - Terus Terang

    Abizar melirik Anaya melalui kaca spion. Wajah perempuan itu diliputi ketegangan dan ketakutan. Betapa ingin dirinya memeluk dan membisikkan kata-kata lembut untuk menenangkannya.“Anaya, kamu nggak perlu cemas berlebihan seperti itu,” ujar Abizar.“Bagaimana aku nggak cemas … aku nggak ngerti persoalannya!” Anaya berucap keras.“Oke … aku akan cari tempat yang aman dan cerita ke kamu. Tapi, kamu harus tetap tenang dan merahasiakan semuanya!” tegas Abizar.Anaya mengangguk. “Iya.”Abizar mengemudi dengan sikap waspada melintasi jalan yang tidak terlalu padat. Ia memutar balik arah, menuju mall. Ia membawa Anaya ke parkiran basement. Dicarinya tempat yang tersembunyi. Ia tidak mematikan mesin, namun membuka sedikit jendela agar tetap ada udara yang masuk ke dalam kabin mobil.“Ceritakan!” Anaya memerintah.“Sabar!” Abizar melepaskan sabuk pengaman dan memutar separuh tubuhnya, hingga matanya leluasa menatap Anaya.“Aku nggak sabar!” Anaya merengut.Didesak demikian, tidak membuat Abiza

  • DI ANTARA DUA SUAMI   22 - Rahasia Mulai Terkuak

    “Pembunuhan? …. Siapa yang dibunuh?” Suara Anaya bergetar. Jantungnya berdegup kencang.“Seorang pengusaha.”Kepala Anaya pusing. Otaknya pengar seperti habis terpapar cahaya silau yang tajam menusuk mata.“Bagaimana Kak Damar bisa terlibat?” Anaya tidak percaya. Setahunya, Damar tidak pernah memiliki masalah dengan orang lain. Lelaki itu terkenal berperilaku lembut dan santun. “Itu yang sedang kami dalami. Makanya kami mendatangi Ibu. Saat ini, penyelidikan kami mengarah ke Damar sebagai pelaku. Tapi, karena dia sudah meninggal, maka kami mencari keterangan dan pendukung untuk membuktikan sejauh mana keterlibatannya.”Anaya bingung dan khawatir. Jangan-jangan inilah rahasia yang disembunyikan Damar, yang membuatnya bersembunyi, merubah wajah dan berganti nama menjadi Abizar. Bila benar, artinya dirinya telah bekerja sama dan mempercayai seorang penjahat. Tepatnya, pembunuh.“Kami meminta izin memeriksa barang-barang almarhum Damar. Apakah Ibu masih menyimpannya?”Sesuatu di dalam d

  • DI ANTARA DUA SUAMI   21 - Tindak Lanjut Penyelidikan

    Pagi-pagi, Arlo sudah pergi. Meninggalkan Anaya yang enggan bangkit dari tempat tidur. Mood-nya sudah rusak sejak semalam. Sasha pun seperti tertular rasa malas berangkat ke sekolah. Anak kecil itu, menolak disuruh mandi oleh mbak asisten rumah tangga, dan malah pindah ke tempat tidur Anaya, menggulung dirinya di dalam selimut.“Mama … aku nggak mau ke sekolah hari ini. Sekali-sekali, aku kepengen libur.” Sasha berbisik.“Oke … Mama juga ngantuk. Kita tidur aja lagi, ya.” Anaya mendekap anaknya dan kembali memejamkan mata. Tak ada yang berani mengganggu ibu dan anak itu. Abizar juga cuma bisa menahan gelisah karena Anaya tidak kunjung keluar dan memberikan perintah hari ini. Sementara, hari terus berjalan menuju siang.Jam sepuluh, baru Anaya bangun. Itupun karena Sasha mengeluh lapar. Lekas ia bangkit dan menyiapkan makanan untuk mereka berdua. Asisten rumah tangganya memberi tahu bahwa sedari tadi Abizar menunggu arahannya hari ini.“Bilang ke dia, hari ini, aku nggak pergi kemana-

  • DI ANTARA DUA SUAMI   20 - Perasaan Khianat

    “Boleh nggak, Bu?” tanya Lani lagi.“Kenapa harus meminta izin aku?” Anaya merasa janggal. “Ya, karena saya dan Pak Abizar ‘kan sama-sama kerja sama ibu. Saya takutnya ibu bikin aturan sesama karyawan nggak boleh ada yang pacaran.” Lani menjelaskannya sambil tersipu.“Kamu sudah resmi putus sama pacar kamu sebelumnya?” Anaya memastikan hubungan anak buahnya itu yang memang pasang surut.“Sudah, Bu. Bosan saya sudah diselingkuhin terus,” jawab Lani sambil mengeluh.“Nah, kamu sudah cek belum latar belakang Pak Abizar. Kalau dari rambutnya yang ubanan, kayaknya dia sudah cukup pengalaman. Jangan-jangan sudah punya isteri dan anak.” Anaya sengaja menumbuhkan keraguan di diri Lani.“Sudah kutanya, dia bilang pernah menikah. Sekarang sudah pisah dari isteri dan anaknya. Isterinya juga sudah menikah lagi.” Lani membantah keraguan Anaya.Anaya tertegun dengan jawaban Lani. Jika itu yang memang benar dikatakan Abizar, lelaki itu sebenarnya sudah berkata jujur apa adanya. “Kenapa kamu suka

  • DI ANTARA DUA SUAMI   19- Cemburu

    Udara di dalam kamar jadi hening. Anaya diam, sementara Arlo menunggu jawaban. “Kamu sedang ingat dia?” Arlo mengulang pertanyaannya. “Iya.” Anaya menjawab lirih. “Sebenarnya, aku nggak suka waktu kamu bilang bertemu Mama Marini, apalagi menemaninya ke makam” “Kenapa nggak suka?” tanya Anaya. “Nggak suka aja. Kesannya, kamu belum bisa move on dari dia,” jawab Arlo. “Walaupun kita sudah bertahun-tahun bersama, aku sering merasa kalau kamu masih tetap mencintai dia. Padahal, dia ‘kan sudah mati.” Anaya menggigit bibirnya. Apa yang dikatakan Arlo, memang benar adanya. Persoalannya kini, Damar ternyata masih hidup. “Bukankah dulu, sebelum kita menikah, aku sudah pernah bilang soal perasaanku ke dia? Walau bagaimanapun, aku nggak akan pernah bisa menghapus dia dari ingatan aku.” Anaya mengingatkan. “Iya, kamu memang pernah bilang begitu.” “Jadi, kenapa harus jadi masalah kalau aku bertemu dengan keluarga almarhum suami pertamaku dan mengunjungi makamnya? Mereka keluargaku juga …

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status