ログインTiga puluh menit berlalu, mobil Rolls-Royce hitam itu perlahan mengurangi kecepatannya dan akhirnya menepi dengan mulus di area parkiran sebuah gedung apartemen kelas menengah di pinggiran kota Palermo. Hujan yang mengguyur kota sejak sore kini mulai mereda, menyisakan rintik-rintik gerimis kecil yang tipis.George melangkah keluar dari mobil, menolak payung yang disodorkan oleh pengawalnya, lalu berjalan berdampingan bersama Elena untuk mengantarkan gadis itu hingga sampai ke depan pintu unit apartemennya yang berada di lantai tiga.KLIK...Elena memutar kunci pintu kayu apartemennya, lalu berbalik menghadap George dengan senyuman tulus. "Kita sudah sampai, Tuan Alando. Terima kasih banyak karena sudah bersedia meluangkan waktu Anda yang berharga untuk mengantarkanku pulang dengan selamat."George hanya memberikan anggukan kepala yang dingin namun tetap berwibawa. "Sama-sama, Dokter Elena."Merasa tidak sopan jika langsung membiarkan penyelamatnya pergi begitu saja dalam kondisi jas
Rumah Sakit Anak Sant’Agata perlahan mulai diselimuti oleh warna gelap menjelang malam. Koridor-koridor yang biasanya bising oleh suara tangisan atau tawa anak-anak kini berangsur senyap.Di dalam ruang kerjanya, Elena Botticelli sedang merapikan beberapa dokumen terakhir ke dalam tas kulitnya. Gerakannya terhenti saat sebuah nada getar pendek terdengar dari ponsel pintarnya yang tergeletak di atas meja.Elena meraih benda tersebut, mendapati sebuah pesan singkat dari kakak laki-lakinya, Jacobs.“Elena, maafkan aku. Malam ini aku tidak bisa menjemputmu ke rumah sakit karena ada tugas penyelidikan mendadak di kantor pusat. Pulanglah lebih awal dan berhati-hatilah di jalan.”Elena mengembuskan napas pendek, namun seulas senyum maklum terukir di bibirnya. Sebagai adik seorang perwira polisi, ia sudah sangat terbiasa dengan jadwal mendadak seperti ini. Jemari lentiknya dengan cepat mengetik balasan.“Iya, Kak, tidak apa-apa. Aku mengerti. Aku bisa pulang menggunakan taksi malam ini. Kau j
Elena berjalan perlahan menyusuri lorong rumah sakit yang mulai sepi untuk menuju ke arah lobi kepulangan. Namun, saat langkah kakinya melewati depan pintu ruang ICU tempat Alando dirawat, ia refleks menghentikan langkahnya dan menoleh. Di depan pintu kayu itu, tampak Luca masih berdiri tegak bersama dua orang bodyguard. Elena terdiam sejenak di posisinya, jemarinya meremas tali tasnya. Ada dorongan kuat di dalam hatinya yang bertanya, apakah sebaiknya aku menemui Alando sebentar hanya untuk sekadar memastikan kondisi medis dan mentalnya setelah keributan tadi? Namun ia segera mengurungkan niatnya mengingat bahwa jam ini adalah waktu istirahat ketat bagi pasien pasca-trauma. Luca yang memiliki ketajaman mata seorang mafia segera menyadari keberadaan Elena. Ia tersenyum tipis, memanggil nama Elena dengan sopan, lalu melangkah lebar menghampiri gadis itu. "Dokter Elena," sapa Luca ramah. Elena tersenyum tipis, mencoba bersikap senatural mungkin. "Ah, Tuan Luca. Apakah Tuan Bes
"Kau anak pembangkang! Ayah hanya ingin kau lebih dewasa dalam berpikir, Alando!" sebuah suara bariton yang berat dan bergetar karena amarah terdengar menggelegar.Elena tersentak kaget. Apa yang terjadi di dalam? Ia menoleh ke sekitar, tak ingin ada para suster atau orang lain yang mendengar kegaduhan itu. Didorong oleh rasa kemanusiaan dan insting dokternya yang khawatir akan kondisi psikologis pasiennya yang baru sadar, Elena memberanikan diri melangkah mendekat ke arah celah pintu."Anak tak tahu diuntung!" suara pria tua itu kembali terdengar, kian meninggi dan sarat akan kekecewaan yang mendalam. "Aku hanya ingin kau segera menikah dan mulai bersikap lebih serius mengurus masa depan perusahaan kita! Jika kau terus-menerus membangkang seperti ini, lebih baik kau tidak perlu pulang ke Milan selamanya! Lupakan bahwa kau masih memiliki seorang Ayah yang sudah tua... dan memiliki penyakit jantung ini!"Elena tersentak hebat, jantungnya berdegup kencang saat melihat siluet pria tua d
Hujan mulai mereda. Butiran bening terjun bebas dari kaca jendela berembun. Setelah selesai mengikat simpul perban, Elena mengembuskan napas lega. Ia menatap wajah George dengan penuh rasa ingin tahu. Pakaian yang dikenakan pria ini terbuat dari bahan sutra dan wol Italia kelas tinggi, jam tangan di pergelangan tangannya seharga ratusan ribu euro—penampilannya sangat jelas mengindikasikan seorang pengusaha muda sukses. "Luka Anda sudah berhasil dijahit dan dibersihkan, Tuan," ujar Elena lembut sembari melepas sarung tangan medisnya. "Tapi... apa yang sebenarnya dilakukan oleh seorang pengusaha seperti Anda di bangsal anak rumah sakit ini? Apakah Anda sedang mencari anak atau keponakan Anda yang dirawat di sini?" George baru saja hendak membuka mulutnya untuk menjawab, ketika tiba-tiba— 𝘉𝘙𝘈𝘈𝘒! Pintu ruang tindakan medis terdorong keras dari luar. "TUAN MUDA! APA ANDA BAIK-BAIK SAJA?!" Elena dan Joice tersentak kaget, seketika menoleh ke arah pintu. Sejumlah pria
"Halo, Tuan Luca.." "Ya, Kapten. Apa?" Panggilan tersebut terhubung langsung ke Sisilia, diterima oleh Luca yang saat itu berdiri tegak di belakang George Riciteli. Setelah mendengarkan laporan singkat dari Kapten Smith di Roma, Luca menutup telepon lalu melangkah mendekati bos besarnya. Di dalam kamar griya tawang mewah yang luas di Sisilia, George Riciteli berdiri membelakangi ruangan, memandangi gemerlap lampu kota melalui dinding kaca besar. Ia memejamkan matanya erat-erat saat mendengar laporan dari bibir Luca bahwa Bella baru saja kembali melakukan aksi nekat di Roma dan hampir membuat identitasnya terbongkar jika Smith tidak segera membungkam korbannya. "George..." Luca bersuara dengan nada yang sangat berat. "Kita tidak bisa terus-menerus membiarkan Bella lepas kontrol seperti ini. Pihak kepolisian Roma, bahkan yang kita bayar sekalipun, tidak akan mampu lagi menahan gelombang tekanan dari ribuan warga yang terus berdemonstrasi menuntut penangkapan pelaku pembunuhan ber







