แชร์

4. WAJAH JAKARTA

ผู้เขียน: Arata Kaivan
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-16 00:35:35

Juna berdiri di depan pintu kaca lantai delapan di gedung perkantoran SCBD. Ia mendongak, menatap papan nama akrilik Nexus Web Solution - Ruang Kerja 1.

Kepalanya menunduk, memandangi lantai parket kayu. Matanya bergerak ke meja kayu panjang yang dipenuhi monitor-monitor besar.

Aroma kopi saset dan asap rokok elektrik dari arah balkon luar menyatu dengan dinginnya udara AC sentral yang berembus.

"Pagi, Mas Juna, ya? Sini, ikut saya," ujar seorang pria bertubuh tambun yang mengenakan kemeja biru dongker, dengan kancing bagian bawah yang kesulitan menahan perutnya.

Juna berjalan mendekat, mendekap map birunya ke dada. "Pagi, Pak."

"Gue Anto, Sales Manager di sini. Panggil Mas atau Pak bebas, asal jangan panggil Sayang," kata Anto sambil terkekeh. Dia menunjuk ke arah pemuda kurus yang sedang mengetik di meja sebelah. "Nah, ini Rafi. Senior sales lu. Nanti lu banyak belajar di lapangan sama dia."

Rafi menoleh, mengangkat tangan kanannya. "Yo, Jun. Santai aja. Nanti siang kita langsung training product knowledge dulu, baru cabut keluar."

Di sudut ruangan yang lain, tiga pemuda dengan kaus oblong hitam dan celana jeans belel duduk menghadap monitor tanpa menoleh.

Jemari mereka bergerak di atas papan ketik, sesekali mengumpat pelan ketika layar mereka menampilkan tulisan merah Error: Connection Timeout.

Juna menurunkan ranselnya ke bawah meja kosong yang ditunjuk Anto. Dia memandangi papan tulis putih di tengah ruangan yang dipenuhi coretan spidol merah berisi daftar nama perusahaan dan angka-angka jutaan rupiah.

"Produk kita ada tiga lini utama, Jun," ujar Anto sambil mengetukkan ujung pulpen penanya ke permukaan meja. Ia menunjuk presentasi PowerPoint di layar laptopnya.

Juna duduk tegak, ujung pulpennya siap di atas buku catatan kecil.

"Pertama, Company Profile standar. Ini buat perusahaan-perusahaan menengah yang cuma butuh legitimasi biar kelihatan oke di internet. Kedua, Landing Page buat jualan produk spesifik. Biasanya anak-anak dropshipper atau MLM yang butuh ini. Ketiga, E-commerce penuh pakai sistem pembayaran terintegrasi. Ini yang paling mahal, harganya bisa mulai dari tiga puluh juta sampai ratusan juta," jelas Anto tanpa jeda napas, jemarinya bergerak memindahkan slide.

Juna menatap grafik rumit tentang arsitektur server dan optimasi SEO di layar. Dahinya berkeringat di ruangan ber-AC. "Mas, kalau saya... saya kan nggak ngerti coding sama sekali. Kemarin di kampus cuma belajar manajemen dasar."

Anto menghentikan gerakan pulpennya, lalu bersandar ke kursi kerjanya. Dia menatap Juna lekat-lekat, matanya menyipit di balik kacamatanya.

"Lu nggak perlu ngerti coding, Jun. Programmer di belakang tuh yang pusing sampai botak," kata Anto, jempolnya menunjuk tim developer di sudut ruangan. "Tugas lu di lapangan cuma bikin klien ngerasa kalau bisnis mereka bakal mati besok pagi kalau nggak punya website buatan kita. Lu nggak perlu ngerti cara kerja mesinnya, lu cuma perlu tahu di mana letak dompet orang yang punya mesin."

Anto mendekatkan wajahnya ke arah Juna, menurunkan volume suaranya. "Yang penting lu ngerti apa masalah klien. Kalau mereka butuh kelihatan kaya, lu jual website yang kelihatan mewah. Kalau mereka butuh efisiensi, lu jual sistem. Paham?"

Juna mengangguk pelan, jemarinya mencatat dua kalimat terakhir Anto di buku catatannya dengan garis bawah tebal.

Matahari pukul dua siang membakar udara. Juna berjalan di belakang Rafi menyusuri koridor gedung perkantoran tua di daerah Tendean. Mereka baru keluar dari ruang rapat perusahaan distributor ATK.

"Lu lihat tadi kenapa dia nolak?" tanya Rafi, jarinya menekan tombol lift ke bawah.

Pandangan Juna menerawang, jemarinya mengusap dagu. "Karena harganya kemahalan, Mas? Tadi Mas Rafi buka di angka lima belas juta."

Pintu lift terbuka. Mereka melangkah masuk. Rafi menatap pantulan dirinya di dinding lift yang mengilap, merapikan rambutnya yang rusak tertiup angin jalanan.

"Salah," kata Rafi sambil menggeleng. "Dia nolak bukan karena angka lima belas juta. Uang segitu mah kecil buat dia. Dia nolak karena dari awal dia emang cuma mau bikin list buat anggaran tahun depan. Tahun ini mereka belom butuh banget website kita."

Lift berhenti di lantai dasar. Rafi melangkah keluar lebih dulu, disusul Juna di belakangnya.

"Inget, Jun. Di dunia sales, orang beli bukan karena produk lu bagus. Produk website mah di tempat lain banyak yang lebih murah. Orang beli karena mereka percaya sama orang yang jual. Kalau dari tatapan mata lu aja udah keliatan lu butuh duitnya mereka buat kejar komisi, mereka bakal langsung pasang benteng." Rafi berhenti di samping motornya di parkiran, menoleh menatap Juna. "Lu harus bisa jual diri lu dulu sebelum jual produk perusahaan."

Sore hari, seluruh tim sales berkumpul kembali di ruangan kerja. Anto berdiri di depan papan tulis putih, memegang spidol merah. "Oke, ini evaluasi tengah bulan," kata Anto sambil menuliskan angka besar di tengah papan tulis dengan tiga coretan bawah yang tebal.

Juna menatap angka lima ratus juta di papan tulis. Matanya membelalak. "Segini target kita, Mas? Per bulan?"

"Bukan tim, Jun. Itu target divisi penjualan kita, dan kalau di-breakdown, lu sebagai junior punya kuota closing minimal lima puluh juta bulan ini. Berarti minimal tiga website Company Profile kelas menengah harus lu dapet sebelum tanggal tiga puluh," kata Anto sambil mempelintir tutup spidolnya hingga berbunyi klik. "Tapi karena lo baru, target ini belum berlaku buat lu."

Juna menurunkan pandangannya ke arah lantai parket. Anto berjalan mendekati meja Juna. "Selamat datang di Jakarta, Juna," ucap Anto pelan. "Kota ini nggak peduli lu lulusan mana. Lu mau lulusan universitas negeri top atau swasta ruko, Jakarta nggak nanya ijazah lu warna apa kalau target lu kosong. Yang penting di sini cuma hasil. Lu closing, lu bertahan. Lu zonk, lu keluar. Gampang kan?"

Juna mengangguk pelan.

Pukul delapan malam. Bus Transjakarta yang ditumpangi Juna mengerem mendadak di Halte Mampang. Tubuh Juna terdorong ke depan, menabrak punggung pria paruh baya. Juna mencengkeram tiang besi pegangan bus erat, urat lengannya menonjol.

Juna turun di halte terdekat dari kosnya, lalu berjalan kaki memasuki gang sempit ruko konveksi. Dinding-dinding batako di kiri-kanannya menyempit dalam kegelapan malam.

Ia menaiki anak tangga besi luar kos menuju lantai dua, langkahnya menyeret ujung sepatunya di setiap undakan. Langkahnya terhenti di anak tangga terakhir. Ia menatap pintu kamar nomor 203 di sebelah kamarnya yang terbuka setengah.

Juna berdiri mematung, memandangi Monic yang sedang mengoleskan body lotion di paha putihnya. Paha itu tertutup hotpants kain pendek, sementara lekuk tubuhnya tercetak jelas di balik tanktop ketat tanpa lengan.

Monic menoleh, menatap lurus ke arah Juna. Ia berdiri, berjalan menuju pintu. "Eh, Mas Juna sudah pulang?" sapa Monic sambil bersandar di kusen pintu.

Juna melangkah ke pintu kamarnya. "Iya, Mbak. Hari pertama kerja."

"Jangan panggil Mbak dong, panggil Monic aja."

"Eh, iya, Mon." Langkah Juna berhenti di depannya.

"Mau mampir dulu nggak?" tanya Monic sambil menggeser tubuhnya, dadanya bergoyang membentur kusen pintu.

Juna menelan ludah. "Suami Mbak sudah pulang, kan?"

"Suami?" Dahi Monic berkerut. "Saya belum nikah, Mas."

"Hah?" Mulut Juna terbuka, matanya menatap kosong ke arah Monic.

"Dia pacar saya, datangnya seminggu sekali." Tatapan Monic turun, menyapu ke arah perut bawah Juna. "Kalau hari biasa, paling balik ke rumah istrinya."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • DI BALIK LAMPU IBUKOTA   46. DUA TOPENG

    Pendingin ruangan di sudut kubikel berdesis panjang, uap dingin menguap di atas kepala Danang. Di atas meja kerja Juna, gelas berisi sisa es kopi susu mulai berkeringat, membentuk lingkaran air yang perlahan melebar membasahi sudut kertas tagihan internet.Rafi duduk di sebelah Juna. Jari telunjuknya mengetuk sisi gelas kopinya bercampur suara ketikan papan ketik Bayu. Bahu Juna menegang, punggungnya tegak lurus menatap baris kode pemrograman yang tidak berubah selama sepuluh menit. Matanya merah di bagian sudut.Di kubikel seberang, Danang sesekali menurunkan pandangan dari monitornya, melirik ke arah Juna dan Rafi sebelum kembali mengetik.Gagang pintu kayu di ruangan tengah berputar. Anto melangkah keluar. Kemeja flanel kotak-kotak biru miliknya digulung kasar sampai siku. Wajahnya lurus,atanya menyapu ruangan, lalu berhenti tepat pada ubun-ubun Juna."Juna. Rafi. Ruangan gue."Juna menahan napasnya di tenggorokan. Rafi menurunkan gelas kopinya ke atas meja. Dia menoleh ke arah Dan

  • DI BALIK LAMPU IBUKOTA   46. MEJA HRD

    Logo emas Prames Group di dinding akrilik memantulkan cahaya putih lampu. Pulpen emas milik Heru tergeletak tanpa tutup di atas permukaan meja kayu oval, bergulir pelan, berhenti tepat di dekat garis tengah. Map kontrak kerja sudah tenggelam di balik ritsleting tas kanvas Dita.Dita berdiri tegak di tempatnya, kedua tangannya menggenggam erat tali tas kanvas di bahunya, buku-buku jarinya memutih. Heru melangkah memutari meja, mendekatinya.Dita tidak bergerak mundur. Matanya menatap lurus ke depan, kosong. "Setelah ini selesai, Pak."Heru berhenti satu jengkal di depan Dita. "Kamu terlalu banyak membuat aturan hari ini.""Bapak juga," balas Dita pendek.Heru berbalik sebentar, melangkah ke arah pintu kayu, mengintip lewat celah kecil di antara bilah tirai vertikal.Kursi kerja di dekat meja bergeser kasar, menabrak kaki meja oval. Tas kanvas Dita.Di dinding, poster dengan tulisan People First tetap terpampang di bawah sorot lampu. Kedua tangan Dita mencengkeram tepi meja oval kayu di

  • DI BALIK LAMPU IBUKOTA   45. KONTRAK

    Dita menunduk, rahangnya mengeras.Heru tertawa pendek. "Saya ini punya ingatan yang kuat soal wajah orang. Apalagi kalau pelayanannya malam itu... cukup membekas sampai besok paginya."Dita mempererat genggamannya di tas kanvasnya. "Saya datang ke sini untuk interview kerja, Pak Heru.""Saya tahu," Heru kembali duduk di kursi. "Makanya saya masih ada di dalam ruangan ini sekarang. Kalau saya nggak mau, kamu sudah disuruh pulang sama staf saya."Pandangan dita bergeram ke poster bertuliskan Integrity. Growth. People First di belakang HeruHeru menyilangkan kaki kirinya di atas lutut kanan. "Kita bicara realitas saja, Dita. Nilai tes administrasi kamu pas-pasan. Pengalaman kerja kamu di bidang logistik hampir nggak ada nilainya untuk standar Prames Group. Usia kamu juga sudah mepet untuk batas maksimal posisi entry level di sini."Dita menatap permukaan meja kayu yang mengkilap."Tapi saya bisa bantu kamu," suara Heru turun satu oktav.Dita tidak mengangkat wajahnya. "Bantu gimana, Pak

  • DI BALIK LAMPU IBUKOTA   44. INTERVIEW

    Cahaya matahari melewati celah gorden kain tipis. Debu-debu halus melayang di dalam garis vertikal yang menerangi permukaan kasur. Gaun hitam poliester ketat dan kemeja katun tergeletak di atas kasur.Dita duduk tegak di atas lantai, menghadap cermin kotak kecil di atas meja. Wajahnya polos. Jemarinya menggenggam pensil alis cokelat, menarik garis pelan di atas tulang pelipis, mencoba membuat lengkungan yang tipis, namun goresan itu berakhir terlalu tajam dan tebal—pola yang biasa dia gambar di bawah sorot lampu neon temaram room karaoke.Dita mengembuskan napas panjang. Ujung telunjuknya menghapus paksa sudut terluar alis itu hingga kulitnya memerah. Ia melirik ke layar ponsel ponsel di atas nakah, menatap email masuk.Prames Group TowerUndangan Interview: Staf Administrasi Logistik LapanganWaktu: Pukul 14.00 WIBLantai 12, Ruang Rekrutmen BTok. Tok.Pintu kamar diketuk dua kali dari luar.Monic berdiri di ambang pintu. Wajahnya masih pucat, gurat lelah setelah dua hari meringkuk

  • DI BALIK LAMPU IBUKOTA   43. KAMAR 203

    Gerakan koin di tangan Juna berhenti di tengah punggung Monic. Logam itu menempel kaku di atas kulit. "Hah? Maksud lo?""Kamar 104. Kamarnya Dita."Juna menelan ludah, menatap garis merah vertikal yang baru dibuatnya di punggung Monic. "Maksud lo apa sih, Mon? Jangan mulai deh," ia meletakkan koin seribuan di atas kasur. Logam itu jatuh tanpa bunyi di atas kain seprai.Monic memutar kepalanya, melirik dari balik bahunya yang memerah. Kelopak matanya yang sayu menyipit. "Gue kebangun tengah malem pas mau ambil minum ke bawah. Ada siluet cowok keluar dari Kamar 104 pakai kaos kebalik. Pas lewat lampu koridor, gue kenal kaosnya."Juna mematung. Tangannya terkepal di atas lutut."Besok paginya, si Dita keluar jemur baju sambil senyum-senyum sendiri pas pasang jepitan jemuran," Monic kembali menghadap bantal. Suaranya datar. "Gue cuma mau tahu satu hal dari lo.""Apa?""Lo m

  • DI BALIK LAMPU IBUKOTA   42. KEROKAN

    Cahaya matahari siang menyinari koridor semen lantai dua. Dari luar gang Mampang, sayup-sayup terdengar teriakan intermiten tukang galon keliling beradu dengan deru knalpot motor yang melintas di atas aspal kering.Juna melangkah keluar dari Kamar 202.Rambutnya acak-acakan. Tangannya memegang botol mineral kosong. Langkahnya tertahan tepat tiga langkah sebelum mencapai pembatas koridor.Di depan pintu Kamar 203. Monic duduk di atas kursi kayu panjang. Ia mengenakan kaos jersey bola kebesaran. Wajahnya polos tanpa riasan, pucat dengan rona keunguan samar di bawah kelopak mata. Rambut hitam panjangnya diikat asal ke atas, anak rambut lepek menempel di pelipis. Selimut beludru tipis diturunkan sebatas pundak, membungkus lengan atasnya yang bergidik kecil.Juna menggeser sandal jepitnya. "Tumben nggak wangi parfum satu gang."Monic menoleh, Kelopak matanya bergerak lambat, mata sayu dan kemerahan di sudut-sudutnya. "G

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status