Compartilhar

3. MALAM PERTAMA

Autor: Arata Kaivan
last update Data de publicação: 2026-08-16 00:35:12

Baling-baling kipas angin besi berputar di langit-langit. Juna tidur telentang di atas kasur tanpa sprei. Kedua lengannya terlipat di belakang kepalanya, menjadi bantalan. Cahaya lampu neon di atasnya terpantul di pupil matanya.

Dari balik jendela kaca nako yang terbuka setengah, suara knalpot motor matik menderu pendek, disusul gesekan standar samping. Dua orang laki-laki berbicara di bawah, lalu tertawa.

Langkah kaki terdengar menaiki tangga besi luar kos, lalu berhenti di depan pintu kamar sebelah Juna.

Tubuh Juna berbalik menghadap dinding. Matanya menatap permukaan semen pelapis yang tidak rata. "Jakarta enggak pernah tidur, apa?" Suaranya serak, tertahan di tenggorokan.

Klek.

Suara anak kunci yang diputar terdengar dari kamar sebelah, disusul gesekan daun pintu yang beradu dengan lantai keramik tidak rata.

"Hahaha, jangan di situ, ih! Geli!"

Suara lengkingan tawa seorang perempuan menembus dinding. Juna tersentak. Kelopak matanya terbuka lebar. Pandangannya lurus menatap jeruji besi ventilasi di atas pintu kamarnya.

"Lagian kamu jalan cepat banget tadi," sebuah suara laki-laki menyahut, disusul bunyi pelat gesper sabuk yang dilemparkan ke lantai keramik.

"Ah, Mas, buru-buru banget, sih."

"Aku kangen."

Juna mematung.

Bunyi tarikan kain yang bergesek terdengar dari balik tembok, diikuti derit pegas kasur yang tertekan beban berat. Kasur di kamar sebelah bergeser beberapa sentimeter, menyenggol permukaan dinding pembatas.

"Bentar, bentar... pintunya belum dikunci," bisik si perempuan, disusul napas pendek yang terengah.

"Udah, biarin aja."

Suara tawa berubah menjadi deretan lenguhan pendek yang tertahan. Suara kain tersibak terdengar samar, berganti dengan bunyi gesekan kulit yang beradu dengan kain sprei.

"Aahhh, jangan buru-buru, Mas," desah wanita di kamar sebelah terdengar samar.

Bunyi pegas kasur berderit teratur, mengikuti lenguhan dari kamar sebelah. Temponya bertambah cepat setiap beberapa detik.

Dinding kamar Juna bergetar terkena hantaman dari kamar sebelah. Poster kalender di kamar Juna bergoyang.

Juna menarik bantal tipis dari bawah kepalanya, melipatnya menjadi dua, lalu menekannya kuat-kuat ke kedua telinganya. "Ya Allah, ngapain mereka..." Ia memejamkan mata, dahinya berkerut.

Suara hentakan kulit beradu dengan kulit di kamar sebelah makin cepat, bersahutan dengan derit kipas angin di langit-langit kamarnya yang berputar, seolah menyesuaikan ritme dari kamar sebelah.

"Mmhhhh, terus, Mas."

"Sebentar lagi."

Beberapa menit berlalu. Suara pria itu melenguh panjang, lalu kembali sepi.

Juna melonggarkan tekanan bantal di telinganya. Suara benturan keras dari ujung koridor, dekat tangga, terdengar menggema.

"Gue udah transfer, ya! Lu cek HP lu!"

Suara melengking seorang pria memecah keheningan pukul dua pagi. Nada bicaranya tinggi.

"Terus kurang apalagi?! Lu pikir cari duit di sini segampang lu minta?!" sahut suara perempuan yang serak, diiringi bunyi langkah kaki yang menghentak lantai koridor.

Juna menurunkan bantalnya, duduk tegak di atas kasur. Matanya menatap daun pintu kamarnya yang bergetar setiap kali angin malam berembus keras.

"Jangan teriak-teriak, bangsat! Malu sama anak-anak!" pria itu mengumpat, suaranya mengecil.

"Lu yang mulai duluan! Kalau enggak niat, enggak usah datang sekalian!"

Brakk!

Suara pintu dibanting keras. Gumpalan debu putih jatuh dari celah ventilasi kamar Juna, mendarat di atas map plastik birunya yang tergeletak di lantai.

Koridor kembali senyap. Mesin pompa air di lantai bawah menyala otomatis, suaranya melengking membelah malam.

Juna kembali membaringkan tubuhnya. Ia menatap langit-langit. "Orang Jakarta ributnya jam segini?" Matanya berkedip lambat dalam kegelapan.

Lenguhan demi lenguhan dari kamar sebelah kembali terdengar, menemani malam pertama Juna di Jakarta. Suara pertengkaran dari kamar di lantai satu pun turut menyapanya dalam kegelapan.

Juna memejamkan mata perlahan, lalu menarik napas panjang.

Sinar matahari pagi menembus celah jendela nako. Garis-garis kuning menerangi kamar. Mata Juna terbuka, lalu pandangannya beralih ke layar ponselnya. Angka 07.12 memantul di matanya yang memerah.

"Anjir, telat!" Juna melompat dari kasur, menyambar handuk yang tergantung di paku.

Langkahnya tertahan di depan pintu kamar. Kepalanya menoleh ke arah pintu kamar nomor 202 di sebelahnya. Seorang pria keluar dari dalam kamar itu.

Pria tersebut merapikan kerah bajunya sambil menyemprotkan parfum dari botol kecil ke dadanya. Aroma parfum maskulin mengusir bau apek koridor.

Pria itu menoleh dan menatap Juna. "Baru, Mas?" Ia memasukkan botol parfum ke dalam tas selempangnya.

Juna mengangguk. "Iya, Mas. Baru semalam masuk."

"Sorry ya kalau terganggu. Nanti dipelanin mainnya." Pria itu menyeringai, lalu berjalan melewati Juna menuju tangga besi.

Pandangan Juna mengikuti punggung pria itu sampai menghilang tertelan anak tangga. Ia kembali melangkah menuju kamar mandi di ujung lorong lantai dua.

Lima belas menit kemudian, Juna keluar dari kamar mandi bersama di ujung lorong. Langkahnya melambat saat melewati pintu kamar 202. Pintu terbuka ke dalam. Seorang wanita mengenakan lingerie berdiri di ambang pintu.

"Orang baru ya, Mas?" Wanita itu bersandar di kusen pintu, menatap Juna dari atas ke bawah.

"Iya, Mbak," jawab Juna singkat.

"Gue Monic, kalau lo?" Ia mengulurkan tangan.

"Saya Juna, Mbak." Juna menelan ludah, matanya tak sengaja menatap lingerie transparan di tubuh Monic.

"Kalau bete, main aja ke sini." Wanita itu mengedipkan sebelah matanya, lalu berbalik masuk. Pintu dibiarkan terbuka.

Juna gemetar. Ia menggelengkan kepala, lalu melanjutkan langkah menuju kamarnya.

Juna menuruni anak tangga besi setengah berlari, sepatu kainnya berdetak di atas anak tangga. Matanya melirik Nara yang duduk di kursi panjang di teras bawah, dekat dispenser umum.

Tangan Nara memegang piring berisi nasi uduk. Rambutnya sudah diikat cepol ke belakang dengan rapi. Ia mengenakan kemeja kotak-kotak merah dengan lengan digulung sampai siku.

"Buru-buru amat, Jun. Hari pertama, ya?" Nara mendongak, menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.

Juna berhenti di anak tangga terakhir, membetulkan posisi tali ranselnya yang melintir. "Iya. Gila, gue bangun kesiangan."

Nara menatap lingkaran hitam di bawah mata Juna, lalu tersenyum tipis. "Bagaimana tidur pertama di kos ini?"

Juna mengusap tengkuknya. "Berisik banget, Nar. Kamar sebelah gue... ah, tahu deh. Terus ada orang berantem lagi jam dua pagi."

Nara mengunyah nasinya perlahan. Matanya menatap lurus ke arah ujung gang yang mulai dipadati motor karyawan pabrik konveksi. "Masih mending."

Juna mengernyitkan dahi. "Mending apanya? Gue enggak bisa tidur sama sekali. Kepala gue mau pecah nih."

Nara menurunkan piringnya ke atas meja kayu, mengambil segelas air putih, lalu meminumnya. Ia bangkit berdiri, menepuk-nepuk bagian belakang celana jinsnya.

"Nanti juga lo paham mendingnya di mana." Nara tertawa kecil. Ia menyambar tas kainnya yang tergeletak di meja. "Gue cabut duluan. Jangan telat, lo. Hari pertama, kalau telat bisa langsung dikasih surat peringatan."

Nara berjalan mendahului Juna. Langkahnya pelan menyusuri gang sempit, meninggalkan Juna yang masih berdiri memandangi punggungnya.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • DI BALIK LAMPU IBUKOTA   8. HASRAT

    Jemari Juna memutih, mencengkeram pinggiran kusen kayu pintu kamar 202. Napasnya tersangkut di tenggorokan. Pupil matanya bergerak naik turun ke area dada dan paha Monic Suara dengung baling-baling kipas angin dinding dari dalam kamar Monic terdengar meredup. Otot di balik celana juna menenga. Ia memejamkan mata. Rahangnya mengatup keras hingga giginya berkerut."Anjing..." suara Juna berbisik. "Gue mau ngapain?"Juna menarik telapak tangannya dari kusen, menggantung di samping pahanya. Ia mundur satu langkah, menjauhkan dadanya dari celah pintu. Ia mengembuskan napas panjang lewat mulut. Kedua tangannya mengusap wajahnya, pipinya memerah.Tok. Tok. Tok.Juna mengetuk pintu kamar Monic.Monic tersentak, kain selimut yang tergulung di pinggangnya bergerak naik saat ia mengangkat kepalanya. Rambut panjangnya menutupi sebagian wajah. Dia mengedipkan mata beberapa kali, menatap lurus ke arah langit-langit, lalu kepalanya menoleh ke arah sumber suara. "Juna?" Suaranya parau.Juna tetap ber

  • DI BALIK LAMPU IBUKOTA   7. JAKARTA TENGAH MALAM

    Lampu-lampu jalan sebagian besar padam, sebagian berkedip, satu bohlam di sudut kelokan bergoyang pelan ditiup angin. Dari kejauhan, gonggongan anjing liar menyalak pendek dua kali, lalu hilang ditelan deru knalpot motor yang melintas cepat di jalan raya luar.Langkah kaki Juna tertahan di anak tangga besi ketiga. Ia menatap Dita duduk memunggungi arah tangga. Kepalanya tertunduk dalam, dagunya hampir menyentuh lutut yang tertekuk erat. Bahunya bergetar naik-turun. Ia menggenggam ponsel di tangan kanannya, layar ponsel menyala redup, menampilkan baris-baris pesan teks yang bergulir cepat tanpa suara. Isakan pendek terdengar dari sela bibirnya yang tertutup telapak tangan. Juna menarik kembali kaki kanannya ke undakan bawah. Jarinya menyentuh besi pegangan tangga yang dingin, rahangnya terbuka.Dita menoleh saat suara decit sepatu Juna terdengar dari belakang punggungnya. Tangan kirinya bergerak cepat mengusap kedua pipi dan pelupuk matanya. Ia bangkit berdiri, menyambar sandal jepitny

  • DI BALIK LAMPU IBUKOTA   6. TERAS KOST

    Juna menyandarkan kepalanya ke kaca bus yang bergetar.Matanya menatap pantulan wajahnya di kaca, yang seolah bersinggungan dengankerumunan orang di luar yang berebut masuk ke dalam bus.Bus menurunkan Juna di Halte Mampang saat jam menunjukkanpukul delapan lewat lima belas menit. Ia berjalan kaki menyusuri jalan rayayang mulai sepi, lalu berbelok memasuki gang sempit di antara ruko-rukokonveksi yang sudah berhenti beroperasi. Langkahnya terhenti di depan gerbang kos. Lampu bohlamkuning yang digantung di atas meja kayu menyala terang, membentuk bayanganbeberapa penghuni yang sedang berkumpul. Suara air dari ember cucian terdengarsamar dari sudut belokan.Juna berjalan memasuki teras, lalu duduk di ujung undakansemen dekat tiang penyangga tanpa langsung naik ke lantai atas.Nara duduk di ruang tengah kos. Ia mendongak. "Lokelihatan kayak habis ditolak lima cewek sekaligus, Jun."Juna meletakkan map birunya di atas lutut, lalu mengusapwajahnya. "Ditolak lima perusahaan, Nar.

  • DI BALIK LAMPU IBUKOTA   5. SALES

    Suara dengung mesin jahit elektrik dari ruko konveksi diseberang gang sudah menderu sejak pukul enam pagi, bersahut-sahutan denganbunyi sutil besi yang menghantam wajan tukang nasi uduk. Juna melangkahmenuruni tangga besi luar kos.Nara berdiri di depan dispenser yang diletakkan di atas mejakayu. Ia mengaduk kopi sachet di dalam gelas kertas. Rambutnya basah,diikat ekor kuda."Hari ini udah dilepas?" tanya Nara tanpa menoleh.Ujung sendoknya mengetuk pinggiran gelas tiga kali.Juna berhenti di dekat tiang beton, membetulkan posisiranselnya. "Iya. Disuruh nyari prospek sendiri. Keliling lapangan."Nara mengangkat gelasnya, meniup permukaan kopi yangmengepulkan uap panas, lalu menatap Juna. "Berarti hari ini lo bakalketemu Jakarta."Juna mengernyitkan dahi, matanya melirik ke arah jalanangang yang mulai dipadati punggung para pekerja pabrik. "Kemarin gue ketemuapa?""Versi trial," jawab Nara pendek. Diaberbalik lalu menuju kamarnya.Juna menarik napas panjang, melangkah kelua

  • DI BALIK LAMPU IBUKOTA   4. WAJAH JAKARTA

    Juna berdiri di depan pintu kaca lantai delapan di gedungperkantoran SCBD. Ia mendongak, menatap papan nama akrilik Nexus WebSolution - Ruang Kerja 1. Kepalanya menunduk, memandangi lantai parket kayu. Matanyabergerak ke meja kayu panjang yang dipenuhi monitor-monitor besar.Aroma kopi saset dan asap rokok elektrik dari arah balkonluar menyatu dengan dinginnya udara AC sentral yang berembus."Pagi, Mas Juna, ya? Sini, ikut saya," ujarseorang pria bertubuh tambun yang mengenakan kemeja biru dongker, dengankancing bagian bawah yang kesulitan menahan perutnya.Juna berjalan mendekat, mendekap map birunya ke dada."Pagi, Pak.""Gue Anto, Sales Manager di sini. Panggil Masatau Pak bebas, asal jangan panggil Sayang," kata Anto sambil terkekeh.Dia menunjuk ke arah pemuda kurus yang sedang mengetik di meja sebelah."Nah, ini Rafi. Senior sales lu. Nanti lu banyak belajar dilapangan sama dia."Rafi menoleh, mengangkat tangan kanannya. "Yo, Jun.Santai aja. Nanti siang kita langsung t

  • DI BALIK LAMPU IBUKOTA   3. MALAM PERTAMA

    Baling-baling kipas angin besi berputar di langit-langit.Juna tidur telentang di atas kasur tanpa sprei. Kedua lengannya terlipat dibelakang kepalanya, menjadi bantalan. Cahaya lampu neon di atasnya terpantul dipupil matanya.Dari balik jendela kaca nako yang terbuka setengah, suaraknalpot motor matik menderu pendek, disusul gesekan standar samping. Dua oranglaki-laki berbicara di bawah, lalu tertawa. Langkah kaki terdengar menaiki tangga besi luar kos, laluberhenti di depan pintu kamar sebelah Juna.Tubuh Juna berbalik menghadap dinding. Matanya menatappermukaan semen pelapis yang tidak rata. "Jakarta enggak pernah tidur,apa?" Suaranya serak, tertahan di tenggorokan.Klek.Suara anak kunci yang diputar terdengar dari kamar sebelah,disusul gesekan daun pintu yang beradu dengan lantai keramik tidak rata."Hahaha, jangan di situ, ih! Geli!"Suara lengkingan tawa seorang perempuan menembus dinding.Juna tersentak. Kelopak matanya terbuka lebar. Pandangannya lurus menatapjeruji

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status