LOGINSuara dengung mesin jahit elektrik dari ruko konveksi di seberang gang sudah menderu sejak pukul enam pagi, bersahut-sahutan dengan bunyi sutil besi yang menghantam wajan tukang nasi uduk. Juna melangkah menuruni tangga besi luar kos.
Nara berdiri di depan dispenser yang diletakkan di atas meja kayu. Ia mengaduk kopi sachet di dalam gelas kertas. Rambutnya basah, diikat ekor kuda. "Hari ini udah dilepas?" tanya Nara tanpa menoleh. Ujung sendoknya mengetuk pinggiran gelas tiga kali. Juna berhenti di dekat tiang beton, membetulkan posisi ranselnya. "Iya. Disuruh nyari prospek sendiri. Keliling lapangan." Nara mengangkat gelasnya, meniup permukaan kopi yang mengepulkan uap panas, lalu menatap Juna. "Berarti hari ini lo bakal ketemu Jakarta." Juna mengernyitkan dahi, matanya melirik ke arah jalanan gang yang mulai dipadati punggung para pekerja pabrik. "Kemarin gue ketemu apa?" "Versi trial," jawab Nara pendek. Dia berbalik lalu menuju kamarnya. Juna menarik napas panjang, melangkah keluar kos, ikut melebur ke dalam arus manusia yang mengalir keluar dari gang menuju jalan raya. Dari dalam angkot yang melaju pelan, mata Juna terpaku pada barisan ruko yang berderet di sepanjang tepi jalan. Ia turun di kawasan niaga padat, berjalan kaki menyusuri trotoar. Langkahnya terhenti oleh aroma menyengat cairan pengencer cat dari sebuah ruko berukuran empat kali enam meter. "Ini mesinnya ada empat, Mas. Biasanya kalau musim pemilu atau pendaftaran sekolah, bisa jalan dua puluh empat jam," ucap seorang pria sambil menunjuk ke arah deretan meja panjang di dalam ruko. Juna berdiri di samping meja, memegang lembaran brosur Company Profile Nexus Web Solution. "Nah, kalau pakai website, Mas... nanti portofolio sablonnya bisa dipajang di internet. Jadi orang dari luar Jakarta juga bisa pesan langsung." Pria itu menerima brosur dari tangan Juna, membolak-baliknya dengan ujung jari. Matanya membaca deretan angka paket. Jari telunjuknya berhenti di angka tujuh juta lima ratus ribu. Dia menghela napas, lalu meletakkan kembali brosur itu ke atas meja potong kain. "Bagus sih, Mas. Menarik sebenarnya. Tapi..." Pria itu menyengir, menggaruk kepalanya. "Jujur aja, saya masih fokus buat bayar sisa kontrakan ruko ini dulu bulan depan. Masih megap-megap." Juna menelan ludah. "Oh... iya, Mas. Nggak apa-apa." Ia mengeluarkan kartu nama dari saku kemejanya, lalu menyodorkannya. "Kalau nanti Mas butuh website compro, kontak saya saja ya, Mas." Pria itu menepuk pundak Juna dua kali sambil tersenyum ramah. "Siap, Mas. Maaf ya, semoga laris di tempat lain." Juna mengangguk, melangkah keluar ke bawah terik matahari, membereskan brosurnya, lalu berjalan menyusuri jalur angkot menuju Glodok. Suara deru kipas angin bekas dan lengkingan musik dangdut dari speaker rakitan saling bertubrukan di sepanjang lorong Pasar Glodok. Juna berhenti di depan toko yang dipenuhi tumpukan komponen trafo dan kabel-kabel tembaga. Seorang pria paruh baya berkacamata tebal duduk di balik meja kaca, jemarinya memutar obeng, membongkar bagian dalam amplifier tua. "Permisi, Pak. Siang. Saya Juna dari Nexus Web Solution, mau menawarkan—" "Nggak butuh." Pria itu memotong kalimat Juna tanpa mengangkat kepala. Ujung obengnya bergesek kasar dengan pelat besi. Juna tersentak, tubuhnya mundur sedikit, lalu tersenyum tipis. "Ini untuk sistem inventaris barang toko Bapak, biar..." "Nggak butuh, Mas. Makasih," pria itu mengulang kalimatnya. Dia mengibaskan tangan kirinya di udara. Juna terpaku beberapa detik di tengah lorong, memandangi pria itu, lalu berbalik dan melangkah mundur. Ia meninggalkan Glodok, menumpang bus kota menuju kawasan bisnis Kuningan. Dari halte, ia melangkah masuk ke dalam lobi gedung bertingkat yang dingin. Sol sepatunya berdecit di atas lantai granit mengilap saat ia mendekati meja resepsionis. "Siang, Mbak. Saya Juna dari Nexus Web Solution. Saya bisa bertemu dengan bagian Purchasing, Mbak?" "Ada appointment, Mas?" Seorang wanita dengan riasan wajah tebal dan rambut disanggul tinggi menatap Juna dari balik meja marmer hitam. Tangan kanannya memegang gagang telepon, jemari tangan kirinya mengetuk permukaan meja. Juna merapatkan map birunya ke perut. "Belum ada, Mbak. Jika berkenan, siapa tahu saya bisa berdiskusi untuk kebutuhan sistem integrasi vendor." "Nggak bisa," wanita itu menjawab cepat, matanya beralih ke layar komputer di hadapannya. "Kalau belum ada appointment, nggak bisa masuk. Semua jadwal harus lewat email dulu." "Kalau boleh tahu, alamat email purchasing-nya apa ya, Mbak?" "Ada di website perusahaan kami. Cek saja sendiri di sana." Wanita itu membetulkan letak mikrofon kecil di telinganya, lalu kembali berbicara dengan suara manis ke dalam telepon, mengabaikan Juna yang masih berdiri di depan meja marmer. Juna mundur dua langkah, memandangi pintu putar otomatis di lobi yang terus bergerak dilalui orang-orang berpakaian necis. Ia terus berjalan ke gedung yang berjarak dua blok dari gedung pertama. Setelah menunggu satu jam, ia duduk di dalam ruang rapat ber-AC. Di seberang meja kaca oval, seorang wanita berusia akhir tiga puluhan dengan blazer abu-abu duduk tegak. Juna menatap nama Siti Rahma - Marketing Manager di papan namanya. Wanita itu mendengarkan presentasi Juna selama lima belas menit tanpa menyela. Wajahnya datar, tanpa ekspresi. Matanya menatap slide presentasi di laptop Juna, lalu berpindah ke wajah Juna, lalu kembali ke slide. Juna menutup laptopnya, napasnya memburu. "Kira-kira begitu, Ibu, untuk efisiensi budget marketing lewat landing page terarah." Siti Rahma merapikan tumpukan brosur yang diberikan Juna, menyatukan sudutnya, lalu meletakkannya di sudut meja. "Baik, terima kasih atas presentasinya, Juna." Wanita itu bangkit berdiri, mengulurkan tangan kanannya. "Nanti saya sampaikan ke bagian terkait." Juna menjabat tangan wanita itu. Dia membereskan laptopnya kembali ke dalam ransel, lalu berjalan gontai menyusuri koridor korporat menuju lift. Juna beralih ke kawasan pinggiran Tendean, area industri yang lebih kecil. Ia melangkah masuk ke ruko percetakan tua, diiringi suara gemuruh mesin cetak offset raksasa yang mengeluarkan lembaran-lembaran kalender. "Minum dulu, Mas. Jangan buru-buru ngomongin bisnis. Wajah Mas udah kering banget, kelihatan haus." Seorang pria tua berambut putih mendorong sebotol air mineral dingin ke arah Juna. Mereka duduk di bangku plastik di depan mesin cetak offset raksasa. Lembaran kertas kalender keluar dari mulut mesin. Bau kertas baru dan tinta cetak memenuhi udara. Juna menerima botol, meminumnya hingga setengah. "Makasih, Pak." Pak Hasan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil menyalakan sebatang rokok kretek. "Website itu bagus. Saya tahu dunia sudah berubah. Tapi buat percetakan tua kayak punya saya ini, pesanan itu datangnya dari hubungan lama, dari mulut ke mulut orang pasar." Dia mengembuskan asap rokoknya ke atas, menatap langit-langit. "Jadi, saya belum bisa ambil paketnya, Mas Juna." Juna menurunkan botol minumnya, kepalanya menunduk pelan. "Iya, Pak. Nggak apa-apa." Pak Hasan menatap raut wajah Juna, lalu terkekeh pelan. "Masnya baru di Jakarta, ya? Kelihatan dari cara pegang mapnya. Masih kencang banget, kayak takut kecopetan." Juna tersenyum, melonggarkan pegangan tangannya pada map biru. "Jangan buru-buru sukses, Mas." Pak Hasan mengetuk abu rokoknya ke dalam kaleng cat bekas. Suaranya merendah. "Jakarta itu suka makan orang yang buru-buru. Nikmati saja jalannya. Hari ini nggak closing, besok putar lagi jalurnya." Juna berpamitan saat cahaya matahari terpantul dari kaca ruko di seberang. Dia berjalan menuju halte terdekat, tubuhnya ikut berdesakan masuk ke dalam bus Transjakarta Koridor 1 yang bergerak merayap membelah kemacetan Jalan Sudirman. Juna duduk di kursi bagian belakang, memangku ranselnya. Kulit sepatunya penuh bercak debu putih dari daerah Glodok. Dia membuka buku catatan kecilnya. Ujung pulpennya mencoret lima nama perusahaan. ***Pendingin ruangan di sudut kubikel berdesis panjang, uap dingin menguap di atas kepala Danang. Di atas meja kerja Juna, gelas berisi sisa es kopi susu mulai berkeringat, membentuk lingkaran air yang perlahan melebar membasahi sudut kertas tagihan internet.Rafi duduk di sebelah Juna. Jari telunjuknya mengetuk sisi gelas kopinya bercampur suara ketikan papan ketik Bayu. Bahu Juna menegang, punggungnya tegak lurus menatap baris kode pemrograman yang tidak berubah selama sepuluh menit. Matanya merah di bagian sudut.Di kubikel seberang, Danang sesekali menurunkan pandangan dari monitornya, melirik ke arah Juna dan Rafi sebelum kembali mengetik.Gagang pintu kayu di ruangan tengah berputar. Anto melangkah keluar. Kemeja flanel kotak-kotak biru miliknya digulung kasar sampai siku. Wajahnya lurus,atanya menyapu ruangan, lalu berhenti tepat pada ubun-ubun Juna."Juna. Rafi. Ruangan gue."Juna menahan napasnya di tenggorokan. Rafi menurunkan gelas kopinya ke atas meja. Dia menoleh ke arah Dan
Logo emas Prames Group di dinding akrilik memantulkan cahaya putih lampu. Pulpen emas milik Heru tergeletak tanpa tutup di atas permukaan meja kayu oval, bergulir pelan, berhenti tepat di dekat garis tengah. Map kontrak kerja sudah tenggelam di balik ritsleting tas kanvas Dita.Dita berdiri tegak di tempatnya, kedua tangannya menggenggam erat tali tas kanvas di bahunya, buku-buku jarinya memutih. Heru melangkah memutari meja, mendekatinya.Dita tidak bergerak mundur. Matanya menatap lurus ke depan, kosong. "Setelah ini selesai, Pak."Heru berhenti satu jengkal di depan Dita. "Kamu terlalu banyak membuat aturan hari ini.""Bapak juga," balas Dita pendek.Heru berbalik sebentar, melangkah ke arah pintu kayu, mengintip lewat celah kecil di antara bilah tirai vertikal.Kursi kerja di dekat meja bergeser kasar, menabrak kaki meja oval. Tas kanvas Dita.Di dinding, poster dengan tulisan People First tetap terpampang di bawah sorot lampu. Kedua tangan Dita mencengkeram tepi meja oval kayu di
Dita menunduk, rahangnya mengeras.Heru tertawa pendek. "Saya ini punya ingatan yang kuat soal wajah orang. Apalagi kalau pelayanannya malam itu... cukup membekas sampai besok paginya."Dita mempererat genggamannya di tas kanvasnya. "Saya datang ke sini untuk interview kerja, Pak Heru.""Saya tahu," Heru kembali duduk di kursi. "Makanya saya masih ada di dalam ruangan ini sekarang. Kalau saya nggak mau, kamu sudah disuruh pulang sama staf saya."Pandangan dita bergeram ke poster bertuliskan Integrity. Growth. People First di belakang HeruHeru menyilangkan kaki kirinya di atas lutut kanan. "Kita bicara realitas saja, Dita. Nilai tes administrasi kamu pas-pasan. Pengalaman kerja kamu di bidang logistik hampir nggak ada nilainya untuk standar Prames Group. Usia kamu juga sudah mepet untuk batas maksimal posisi entry level di sini."Dita menatap permukaan meja kayu yang mengkilap."Tapi saya bisa bantu kamu," suara Heru turun satu oktav.Dita tidak mengangkat wajahnya. "Bantu gimana, Pak
Cahaya matahari melewati celah gorden kain tipis. Debu-debu halus melayang di dalam garis vertikal yang menerangi permukaan kasur. Gaun hitam poliester ketat dan kemeja katun tergeletak di atas kasur.Dita duduk tegak di atas lantai, menghadap cermin kotak kecil di atas meja. Wajahnya polos. Jemarinya menggenggam pensil alis cokelat, menarik garis pelan di atas tulang pelipis, mencoba membuat lengkungan yang tipis, namun goresan itu berakhir terlalu tajam dan tebal—pola yang biasa dia gambar di bawah sorot lampu neon temaram room karaoke.Dita mengembuskan napas panjang. Ujung telunjuknya menghapus paksa sudut terluar alis itu hingga kulitnya memerah. Ia melirik ke layar ponsel ponsel di atas nakah, menatap email masuk.Prames Group TowerUndangan Interview: Staf Administrasi Logistik LapanganWaktu: Pukul 14.00 WIBLantai 12, Ruang Rekrutmen BTok. Tok.Pintu kamar diketuk dua kali dari luar.Monic berdiri di ambang pintu. Wajahnya masih pucat, gurat lelah setelah dua hari meringkuk
Gerakan koin di tangan Juna berhenti di tengah punggung Monic. Logam itu menempel kaku di atas kulit. "Hah? Maksud lo?""Kamar 104. Kamarnya Dita."Juna menelan ludah, menatap garis merah vertikal yang baru dibuatnya di punggung Monic. "Maksud lo apa sih, Mon? Jangan mulai deh," ia meletakkan koin seribuan di atas kasur. Logam itu jatuh tanpa bunyi di atas kain seprai.Monic memutar kepalanya, melirik dari balik bahunya yang memerah. Kelopak matanya yang sayu menyipit. "Gue kebangun tengah malem pas mau ambil minum ke bawah. Ada siluet cowok keluar dari Kamar 104 pakai kaos kebalik. Pas lewat lampu koridor, gue kenal kaosnya."Juna mematung. Tangannya terkepal di atas lutut."Besok paginya, si Dita keluar jemur baju sambil senyum-senyum sendiri pas pasang jepitan jemuran," Monic kembali menghadap bantal. Suaranya datar. "Gue cuma mau tahu satu hal dari lo.""Apa?""Lo m
Cahaya matahari siang menyinari koridor semen lantai dua. Dari luar gang Mampang, sayup-sayup terdengar teriakan intermiten tukang galon keliling beradu dengan deru knalpot motor yang melintas di atas aspal kering.Juna melangkah keluar dari Kamar 202.Rambutnya acak-acakan. Tangannya memegang botol mineral kosong. Langkahnya tertahan tepat tiga langkah sebelum mencapai pembatas koridor.Di depan pintu Kamar 203. Monic duduk di atas kursi kayu panjang. Ia mengenakan kaos jersey bola kebesaran. Wajahnya polos tanpa riasan, pucat dengan rona keunguan samar di bawah kelopak mata. Rambut hitam panjangnya diikat asal ke atas, anak rambut lepek menempel di pelipis. Selimut beludru tipis diturunkan sebatas pundak, membungkus lengan atasnya yang bergidik kecil.Juna menggeser sandal jepitnya. "Tumben nggak wangi parfum satu gang."Monic menoleh, Kelopak matanya bergerak lambat, mata sayu dan kemerahan di sudut-sudutnya. "G







