Compartilhar

5. SALES

Autor: Arata Kaivan
last update Data de publicação: 2026-08-16 00:35:58

Suara dengung mesin jahit elektrik dari ruko konveksi di seberang gang sudah menderu sejak pukul enam pagi, bersahut-sahutan dengan bunyi sutil besi yang menghantam wajan tukang nasi uduk. Juna melangkah menuruni tangga besi luar kos.

Nara berdiri di depan dispenser yang diletakkan di atas meja kayu. Ia mengaduk kopi sachet di dalam gelas kertas. Rambutnya basah, diikat ekor kuda.

"Hari ini udah dilepas?" tanya Nara tanpa menoleh. Ujung sendoknya mengetuk pinggiran gelas tiga kali.

Juna berhenti di dekat tiang beton, membetulkan posisi ranselnya. "Iya. Disuruh nyari prospek sendiri. Keliling lapangan."

Nara mengangkat gelasnya, meniup permukaan kopi yang mengepulkan uap panas, lalu menatap Juna. "Berarti hari ini lo bakal ketemu Jakarta."

Juna mengernyitkan dahi, matanya melirik ke arah jalanan gang yang mulai dipadati punggung para pekerja pabrik. "Kemarin gue ketemu apa?"

"Versi trial," jawab Nara pendek. Dia berbalik lalu menuju kamarnya.

Juna menarik napas panjang, melangkah keluar kos, ikut melebur ke dalam arus manusia yang mengalir keluar dari gang menuju jalan raya.

Dari dalam angkot yang melaju pelan, mata Juna terpaku pada barisan ruko yang berderet di sepanjang tepi jalan. Ia turun di kawasan niaga padat, berjalan kaki menyusuri trotoar.

Langkahnya terhenti oleh aroma menyengat cairan pengencer cat dari sebuah ruko berukuran empat kali enam meter.

"Ini mesinnya ada empat, Mas. Biasanya kalau musim pemilu atau pendaftaran sekolah, bisa jalan dua puluh empat jam," ucap seorang pria sambil menunjuk ke arah deretan meja panjang di dalam ruko.

Juna berdiri di samping meja, memegang lembaran brosur Company Profile Nexus Web Solution. "Nah, kalau pakai website, Mas... nanti portofolio sablonnya bisa dipajang di internet. Jadi orang dari luar Jakarta juga bisa pesan langsung."

Pria itu menerima brosur dari tangan Juna, membolak-baliknya dengan ujung jari. Matanya membaca deretan angka paket. Jari telunjuknya berhenti di angka tujuh juta lima ratus ribu.

Dia menghela napas, lalu meletakkan kembali brosur itu ke atas meja potong kain. "Bagus sih, Mas. Menarik sebenarnya. Tapi..." Pria itu menyengir, menggaruk kepalanya. "Jujur aja, saya masih fokus buat bayar sisa kontrakan ruko ini dulu bulan depan. Masih megap-megap."

Juna menelan ludah. "Oh... iya, Mas. Nggak apa-apa." Ia mengeluarkan kartu nama dari saku kemejanya, lalu menyodorkannya. "Kalau nanti Mas butuh website compro, kontak saya saja ya, Mas."

Pria itu menepuk pundak Juna dua kali sambil tersenyum ramah. "Siap, Mas. Maaf ya, semoga laris di tempat lain."

Juna mengangguk, melangkah keluar ke bawah terik matahari, membereskan brosurnya, lalu berjalan menyusuri jalur angkot menuju Glodok.

Suara deru kipas angin bekas dan lengkingan musik dangdut dari speaker rakitan saling bertubrukan di sepanjang lorong Pasar Glodok.

Juna berhenti di depan toko yang dipenuhi tumpukan komponen trafo dan kabel-kabel tembaga.

Seorang pria paruh baya berkacamata tebal duduk di balik meja kaca, jemarinya memutar obeng, membongkar bagian dalam amplifier tua.

"Permisi, Pak. Siang. Saya Juna dari Nexus Web Solution, mau menawarkan—"

"Nggak butuh." Pria itu memotong kalimat Juna tanpa mengangkat kepala. Ujung obengnya bergesek kasar dengan pelat besi.

Juna tersentak, tubuhnya mundur sedikit, lalu tersenyum tipis. "Ini untuk sistem inventaris barang toko Bapak, biar..."

"Nggak butuh, Mas. Makasih," pria itu mengulang kalimatnya. Dia mengibaskan tangan kirinya di udara.

Juna terpaku beberapa detik di tengah lorong, memandangi pria itu, lalu berbalik dan melangkah mundur.

Ia meninggalkan Glodok, menumpang bus kota menuju kawasan bisnis Kuningan. Dari halte, ia melangkah masuk ke dalam lobi gedung bertingkat yang dingin.

Sol sepatunya berdecit di atas lantai granit mengilap saat ia mendekati meja resepsionis.

"Siang, Mbak. Saya Juna dari Nexus Web Solution. Saya bisa bertemu dengan bagian Purchasing, Mbak?"

"Ada appointment, Mas?"

Seorang wanita dengan riasan wajah tebal dan rambut disanggul tinggi menatap Juna dari balik meja marmer hitam. Tangan kanannya memegang gagang telepon, jemari tangan kirinya mengetuk permukaan meja.

Juna merapatkan map birunya ke perut. "Belum ada, Mbak. Jika berkenan, siapa tahu saya bisa berdiskusi untuk kebutuhan sistem integrasi vendor."

"Nggak bisa," wanita itu menjawab cepat, matanya beralih ke layar komputer di hadapannya. "Kalau belum ada appointment, nggak bisa masuk. Semua jadwal harus lewat email dulu."

"Kalau boleh tahu, alamat email purchasing-nya apa ya, Mbak?"

"Ada di website perusahaan kami. Cek saja sendiri di sana." Wanita itu membetulkan letak mikrofon kecil di telinganya, lalu kembali berbicara dengan suara manis ke dalam telepon, mengabaikan Juna yang masih berdiri di depan meja marmer.

Juna mundur dua langkah, memandangi pintu putar otomatis di lobi yang terus bergerak dilalui orang-orang berpakaian necis.

Ia terus berjalan ke gedung yang berjarak dua blok dari gedung pertama. Setelah menunggu satu jam, ia duduk di dalam ruang rapat ber-AC.

Di seberang meja kaca oval, seorang wanita berusia akhir tiga puluhan dengan blazer abu-abu duduk tegak. Juna menatap nama Siti Rahma - Marketing Manager di papan namanya.

Wanita itu mendengarkan presentasi Juna selama lima belas menit tanpa menyela. Wajahnya datar, tanpa ekspresi. Matanya menatap slide presentasi di laptop Juna, lalu berpindah ke wajah Juna, lalu kembali ke slide.

Juna menutup laptopnya, napasnya memburu. "Kira-kira begitu, Ibu, untuk efisiensi budget marketing lewat landing page terarah."

Siti Rahma merapikan tumpukan brosur yang diberikan Juna, menyatukan sudutnya, lalu meletakkannya di sudut meja.

"Baik, terima kasih atas presentasinya, Juna." Wanita itu bangkit berdiri, mengulurkan tangan kanannya. "Nanti saya sampaikan ke bagian terkait."

Juna menjabat tangan wanita itu. Dia membereskan laptopnya kembali ke dalam ransel, lalu berjalan gontai menyusuri koridor korporat menuju lift.

Juna beralih ke kawasan pinggiran Tendean, area industri yang lebih kecil. Ia melangkah masuk ke ruko percetakan tua, diiringi suara gemuruh mesin cetak offset raksasa yang mengeluarkan lembaran-lembaran kalender.

"Minum dulu, Mas. Jangan buru-buru ngomongin bisnis. Wajah Mas udah kering banget, kelihatan haus." Seorang pria tua berambut putih mendorong sebotol air mineral dingin ke arah Juna.

Mereka duduk di bangku plastik di depan mesin cetak offset raksasa. Lembaran kertas kalender keluar dari mulut mesin. Bau kertas baru dan tinta cetak memenuhi udara.

Juna menerima botol, meminumnya hingga setengah. "Makasih, Pak."

Pak Hasan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil menyalakan sebatang rokok kretek. "Website itu bagus. Saya tahu dunia sudah berubah. Tapi buat percetakan tua kayak punya saya ini, pesanan itu datangnya dari hubungan lama, dari mulut ke mulut orang pasar." Dia mengembuskan asap rokoknya ke atas, menatap langit-langit. "Jadi, saya belum bisa ambil paketnya, Mas Juna."

Juna menurunkan botol minumnya, kepalanya menunduk pelan. "Iya, Pak. Nggak apa-apa."

Pak Hasan menatap raut wajah Juna, lalu terkekeh pelan. "Masnya baru di Jakarta, ya? Kelihatan dari cara pegang mapnya. Masih kencang banget, kayak takut kecopetan."

Juna tersenyum, melonggarkan pegangan tangannya pada map biru.

"Jangan buru-buru sukses, Mas." Pak Hasan mengetuk abu rokoknya ke dalam kaleng cat bekas. Suaranya merendah. "Jakarta itu suka makan orang yang buru-buru. Nikmati saja jalannya. Hari ini nggak closing, besok putar lagi jalurnya."

Juna berpamitan saat cahaya matahari terpantul dari kaca ruko di seberang. Dia berjalan menuju halte terdekat, tubuhnya ikut berdesakan masuk ke dalam bus Transjakarta Koridor 1 yang bergerak merayap membelah kemacetan Jalan Sudirman.

Juna duduk di kursi bagian belakang, memangku ranselnya. Kulit sepatunya penuh bercak debu putih dari daerah Glodok.

Dia membuka buku catatan kecilnya. Ujung pulpennya mencoret lima nama perusahaan.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • DI BALIK LAMPU IBUKOTA   8. HASRAT

    Jemari Juna memutih, mencengkeram pinggiran kusen kayu pintu kamar 202. Napasnya tersangkut di tenggorokan. Pupil matanya bergerak naik turun ke area dada dan paha Monic Suara dengung baling-baling kipas angin dinding dari dalam kamar Monic terdengar meredup. Otot di balik celana juna menenga. Ia memejamkan mata. Rahangnya mengatup keras hingga giginya berkerut."Anjing..." suara Juna berbisik. "Gue mau ngapain?"Juna menarik telapak tangannya dari kusen, menggantung di samping pahanya. Ia mundur satu langkah, menjauhkan dadanya dari celah pintu. Ia mengembuskan napas panjang lewat mulut. Kedua tangannya mengusap wajahnya, pipinya memerah.Tok. Tok. Tok.Juna mengetuk pintu kamar Monic.Monic tersentak, kain selimut yang tergulung di pinggangnya bergerak naik saat ia mengangkat kepalanya. Rambut panjangnya menutupi sebagian wajah. Dia mengedipkan mata beberapa kali, menatap lurus ke arah langit-langit, lalu kepalanya menoleh ke arah sumber suara. "Juna?" Suaranya parau.Juna tetap ber

  • DI BALIK LAMPU IBUKOTA   7. JAKARTA TENGAH MALAM

    Lampu-lampu jalan sebagian besar padam, sebagian berkedip, satu bohlam di sudut kelokan bergoyang pelan ditiup angin. Dari kejauhan, gonggongan anjing liar menyalak pendek dua kali, lalu hilang ditelan deru knalpot motor yang melintas cepat di jalan raya luar.Langkah kaki Juna tertahan di anak tangga besi ketiga. Ia menatap Dita duduk memunggungi arah tangga. Kepalanya tertunduk dalam, dagunya hampir menyentuh lutut yang tertekuk erat. Bahunya bergetar naik-turun. Ia menggenggam ponsel di tangan kanannya, layar ponsel menyala redup, menampilkan baris-baris pesan teks yang bergulir cepat tanpa suara. Isakan pendek terdengar dari sela bibirnya yang tertutup telapak tangan. Juna menarik kembali kaki kanannya ke undakan bawah. Jarinya menyentuh besi pegangan tangga yang dingin, rahangnya terbuka.Dita menoleh saat suara decit sepatu Juna terdengar dari belakang punggungnya. Tangan kirinya bergerak cepat mengusap kedua pipi dan pelupuk matanya. Ia bangkit berdiri, menyambar sandal jepitny

  • DI BALIK LAMPU IBUKOTA   6. TERAS KOST

    Juna menyandarkan kepalanya ke kaca bus yang bergetar.Matanya menatap pantulan wajahnya di kaca, yang seolah bersinggungan dengankerumunan orang di luar yang berebut masuk ke dalam bus.Bus menurunkan Juna di Halte Mampang saat jam menunjukkanpukul delapan lewat lima belas menit. Ia berjalan kaki menyusuri jalan rayayang mulai sepi, lalu berbelok memasuki gang sempit di antara ruko-rukokonveksi yang sudah berhenti beroperasi. Langkahnya terhenti di depan gerbang kos. Lampu bohlamkuning yang digantung di atas meja kayu menyala terang, membentuk bayanganbeberapa penghuni yang sedang berkumpul. Suara air dari ember cucian terdengarsamar dari sudut belokan.Juna berjalan memasuki teras, lalu duduk di ujung undakansemen dekat tiang penyangga tanpa langsung naik ke lantai atas.Nara duduk di ruang tengah kos. Ia mendongak. "Lokelihatan kayak habis ditolak lima cewek sekaligus, Jun."Juna meletakkan map birunya di atas lutut, lalu mengusapwajahnya. "Ditolak lima perusahaan, Nar.

  • DI BALIK LAMPU IBUKOTA   5. SALES

    Suara dengung mesin jahit elektrik dari ruko konveksi diseberang gang sudah menderu sejak pukul enam pagi, bersahut-sahutan denganbunyi sutil besi yang menghantam wajan tukang nasi uduk. Juna melangkahmenuruni tangga besi luar kos.Nara berdiri di depan dispenser yang diletakkan di atas mejakayu. Ia mengaduk kopi sachet di dalam gelas kertas. Rambutnya basah,diikat ekor kuda."Hari ini udah dilepas?" tanya Nara tanpa menoleh.Ujung sendoknya mengetuk pinggiran gelas tiga kali.Juna berhenti di dekat tiang beton, membetulkan posisiranselnya. "Iya. Disuruh nyari prospek sendiri. Keliling lapangan."Nara mengangkat gelasnya, meniup permukaan kopi yangmengepulkan uap panas, lalu menatap Juna. "Berarti hari ini lo bakalketemu Jakarta."Juna mengernyitkan dahi, matanya melirik ke arah jalanangang yang mulai dipadati punggung para pekerja pabrik. "Kemarin gue ketemuapa?""Versi trial," jawab Nara pendek. Diaberbalik lalu menuju kamarnya.Juna menarik napas panjang, melangkah kelua

  • DI BALIK LAMPU IBUKOTA   4. WAJAH JAKARTA

    Juna berdiri di depan pintu kaca lantai delapan di gedungperkantoran SCBD. Ia mendongak, menatap papan nama akrilik Nexus WebSolution - Ruang Kerja 1. Kepalanya menunduk, memandangi lantai parket kayu. Matanyabergerak ke meja kayu panjang yang dipenuhi monitor-monitor besar.Aroma kopi saset dan asap rokok elektrik dari arah balkonluar menyatu dengan dinginnya udara AC sentral yang berembus."Pagi, Mas Juna, ya? Sini, ikut saya," ujarseorang pria bertubuh tambun yang mengenakan kemeja biru dongker, dengankancing bagian bawah yang kesulitan menahan perutnya.Juna berjalan mendekat, mendekap map birunya ke dada."Pagi, Pak.""Gue Anto, Sales Manager di sini. Panggil Masatau Pak bebas, asal jangan panggil Sayang," kata Anto sambil terkekeh.Dia menunjuk ke arah pemuda kurus yang sedang mengetik di meja sebelah."Nah, ini Rafi. Senior sales lu. Nanti lu banyak belajar dilapangan sama dia."Rafi menoleh, mengangkat tangan kanannya. "Yo, Jun.Santai aja. Nanti siang kita langsung t

  • DI BALIK LAMPU IBUKOTA   3. MALAM PERTAMA

    Baling-baling kipas angin besi berputar di langit-langit.Juna tidur telentang di atas kasur tanpa sprei. Kedua lengannya terlipat dibelakang kepalanya, menjadi bantalan. Cahaya lampu neon di atasnya terpantul dipupil matanya.Dari balik jendela kaca nako yang terbuka setengah, suaraknalpot motor matik menderu pendek, disusul gesekan standar samping. Dua oranglaki-laki berbicara di bawah, lalu tertawa. Langkah kaki terdengar menaiki tangga besi luar kos, laluberhenti di depan pintu kamar sebelah Juna.Tubuh Juna berbalik menghadap dinding. Matanya menatappermukaan semen pelapis yang tidak rata. "Jakarta enggak pernah tidur,apa?" Suaranya serak, tertahan di tenggorokan.Klek.Suara anak kunci yang diputar terdengar dari kamar sebelah,disusul gesekan daun pintu yang beradu dengan lantai keramik tidak rata."Hahaha, jangan di situ, ih! Geli!"Suara lengkingan tawa seorang perempuan menembus dinding.Juna tersentak. Kelopak matanya terbuka lebar. Pandangannya lurus menatapjeruji

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status