Dan di sinilah Titi sekarang bersama Ryan yang menggendong Sifa…
Pria dan bocah kecil itu tampak begitu akrab, sehingga mereka bertiga jadi tampak seperti keluarga bahagia. Bahkan, langsung jadi pusat perhatian semua yang ada di tempat itu. Tentu saja karena Ryan! Fisik pria itu yang bak model papan atas memang membuatnya selalu bersinar di manapun ia berada. Titi bahkan merasa iri padanya. Sebagai perempuan pendek yang mudah sekali naik berat badan, wajahnya pun pas-pasan. Dulu, Titi sampai heran dengan Ryan. Di antara banyaknya perempuan cantik, kenapa Ryan memilihnya waktu itu? Untungnya, sekarang Ryan bertunangan dengan orang yang sepadan…. "Papa!" "Hah?!" Lamunan Titi buyar seketika. Bukan Sifa yang mengatakannya, tapi Ryan. "Panggil Om dengan panggilan Papa, aku kan Papa kamu," ujar pria itu kembali dengan enteng. "Bukan, dia bukan Papa kamu. Sifa panggil saja dia Om Ryan," jelas Titi yang tak ingin ada kesalahpahaman. "Oke, Papa!" Sayangnya, Ryan dan Sifa sudah melakukan tos dengan senang, sementara Titi hanya bisa pasrah. Apalagi Sifa kelihatan sekali bahagia. Betapa sulitnya ia, selama ini harus memutar otak meladeni pertanyaan Sifa tentang ayahnya. Seperti kata Guru wali kelas Sifa di TK, bocah cantik itu dibully karena tidak memiliki ayah oleh teman-temannya. Sifa diejek sebagai anak haram dan lain-lain. Jelas, kedatangan Ryan yang mau menjadi ayahnya membuat bocah kecil ini senang. Terlebih, Ryan berusaha sekali menjadi ayah yang baik untuk Sifa…. "Ma!" Titi kebanyakan melamun sampai lupa kalau anaknya sudah masuk ke wahana permainan bersama Ryan. "Hati-hati ya, Sayang!" ujar Titi tersenyum lebar. Melihat itu, Ryan ikut tersenyum. Akhirnya setelah sekian lama, ia bisa melihat senyum manis itu lagi. Kemudian ia kembali fokus menjaga Sifa yang main wahana mandi bola. Sementara itu, Titi menemukan area Ice Skating di seberang wahana permainan anak-anak. Ia jadi ingat kalau dulu itu adalah wahana yang sering dikunjungi dengan Ryan. Pria itu jugalah yang mengajarkannya bermain wahana itu. Hanya saja, setelah Sifa dan Ryan selesai bermain selama dua jam, tiba-tiba ada seorang yang memanggilnya. "Kak Ryan?" "Queen, ngapain kamu di sini?" tanya Ryan. Deg! 'Waduh gawat!' batin Titi panik menyadari kehadiran Queen, teman seangkatan Titi yang dulu berkuliah di jurusan International Business Management (IBM) dan juga tunangan Ryan! Wanita cantik yang memiliki perawakan bak model ini bahkan langsung menatapnya tajam. Buru-buru, Titi langsung menarik Sifa agar lepas dari gandengan Ryan dan ingin kabur. “Tunggu, Titi!” cegah Queen tiba-tiba, lalu menatap tajam Ryan, "Aku harusnya yang tanya, ngapain kamu sama Titi? Dan, siapa anak ini?!" "Oh Queen, apakabar?! Ini Sifa, anak aku..." "Ini anakmu, kamu udah nikah?" tanya Queen. Titi mencoba meramu situasi. Kalau jawab tidak, ini akan jadi konflik baru. Lebih baik, ia mengiyakan. "Iya... gitu deh." Queen terlihat lebih lega, padahal tadi ia kelihatan ingin meledak. "Mana suamimu?" tanya Queen. “Itu…” “Queen, lebih baik kamu makan malem bareng kita, yuk!" Belum sempat menjelaskan, Ryan segera memotong ucapanya. *** ‘Seandainya aku bisa kabur,’ batin Titi nelangsa. Bagaimana bisa keempatnya benar-benar makan malam bersama? Belum lagi, Queen yang terlalu bersemangat pun bertanya banyak hal tentang Titi. Seperti, ke mana saja dia selama ini? Kerja di mana dia? Meski demikian, Titi tahu bahwa sikap agresif Queen adalah bentuk dari kekhawatirannya sebagai wanita yang baru saja menemukan sang tunangan jalan bersama dengan sang mantan. Jadi saat keduanya kebetulan di toilet, Titi lantas memperlihatkan posisinya dengan jelas! "Oh ya, Queen. Kalian kapan nikah? Nanti, undang aku, ya." "Tunggu… “ tatap Queen heran, “kamu dukung aku sama Kak Ryan?" Wanita itu memang orang yang cukup frontal. Namun, Titi tahu bahwa Queen bukanlah orang yang jahat. Lagipula, mereka tidak memiliki konflik di masa lalu. "Jelas, kalian cocok banget. Jadi, jangan khawatir soal aku dan Ryan, ya,” ucap Titi menenangkan, “Toh, kami tahu kalau kami juga beda keyakinan dan gak mungkin bisa bersama." “Hehehe… sorry kalau sikapku nyebelin, ya.” Mendengar itu pun, Queen terlihat cerah dan mulai membicarakan hal lain. Titi sontak mengangguk setelah memastikan hijabnya rapi. Jujur, ia sangat senang masalah ini berlalu. Sebab, dia tak ingin menjadi orang ketiga. Masalahnya justru muncul ketika keduanya kembali dari toilet. Ryan terlihat sedang menyuapi Sifa. Dan, bocah itu keceplosan menyebut Ryan dengan sebutan Papa! "Enak kan?" tanya Ryan yang belum sadar situasi genting saat ini. "Iya, Pah!" Balasan Sifa yang kedua kali ini jelas membuat Queen terlihat tidak senang!Toko tiga lantai itu kini bukan lagi sekadar tempat usaha. Ia tumbuh menjadi hal yang menarik, jadi pilihan. Bukan simbol kekayaan, melainkan simbol pilihan hidup yang jujur. Di sudut pasar kota yang dulu tak banyak dilirik karena suram dan peralihan pasar ke toko online, kini toko itu jadi destinasi. Orang datang bukan hanya untuk membeli, tapi untuk merasakan desain tata letak mini market dengan suasana yang hangat, rapi, dan familiar dengan budaya Indonesia. Ciri khas Titi yang dituangkan ke dalam setiap sudut ruang. Titi kini dikenal sebagai arsitek dan konsultan ruang komersial dengan pendekatan emosional. Padahal background pendidikannya IT. Meski begitu, ia terus belajar hal baru sehingga ia bisa menguasai bidang itu dan sedang mengambil kuliah S1 bidang Arsitekur. Ia tidak pernah membanggakan siapa suaminya. Justru karena itu, ia dihargai lebih. Sementara Ryan, setelah tiga tahun menyelamatkan perusahaan keluarga dari jurang kehancuran, ia memutuskan untuk benar-benar
Beberapa bulan berlalu sejak percakapan itu. Titi dan Ryan kembali ke Jakarta, ke rumah kecil yang kini mereka sebut rumah sungguhan—bukan tempat sementara, bukan pelarian. Di dalamnya, rencana toko tiga lantai yang dulu hanya obrolan sarapan mulai tumbuh jadi bangunan nyata. Titi sibuk dengan desain interior dan konsep ruang, sementara Ryan fokus pada izin usaha, pemasok, dan jaringan distribusi. Di luar itu, X-Tec—perusahaan teknologi yang Ryan bangun dari nol bersama Tristan—berkembang pesat. Walau Ryan tidak lagi muncul di depan publik, ia tetap pemegang kendali utama di balik layar. Tristan menjadi wajah X-Tec, menjalankan semua hal teknis dan administratif, sementara Ryan fokus mengembangkan arah dan strategi pasar. Namun, di tengah ketenangan itu, masalah datang bukan dari bisnis pribadi Ryan, tapi dari perusahaan keluarga yang dulu ditinggalkannya. Malam itu, Tristan datang ke rumah tanpa kabar. Wajahnya terlihat serius, bahkan cemas. Setelah basa-basi sebentar dengan Tit
Pagi harinya, Titi masih penasaran apa yang sebenarnya ingin diungkapkan oleh Ryan. Akan tetapi, bukannya menjawab, Ryan justru terus menghindarinya. Mereka pun sarapan di restoran hotel. Suasananya masih lengang. Udara dingin pegunungan yang terselip lewat celah jendela besar terasa segar, menyatu dengan aroma roti panggang dan kopi. Titi duduk di meja pojok, mengenakan hijab motif bunga kecil dengan blus santai dan rok Plisket. Di hadapannya, sisa sarapan mereka tinggal setengah potong buah dan dua cangkir kopi yang sudah hangat. Ryan belum bicara sejak tadi. Pria itu hanya duduk, memainkan sendok kecil di atas meja, sesekali melirik ke taman luar yang dihiasi kabut tipis. Tapi Titi tahu, pikirannya ada di tempat lain. “Yan,” panggil Titi pelan. Ryan menoleh. Matanya seperti menyimpan sesuatu yang sudah terlalu lama mengendap. “Kamu masih inget mau cerita soal apa?” Ryan mengangguk. Pelan, seperti menguatkan diri. “Aku nggak bener-bener jatuh miskin, Ti.” Titi diam. Reak
Malam itu, kamar mereka terasa terlalu sunyi untuk dua orang yang baru saja mengikat janji. Lampu tidur di sudut ruangan menyala temaram, memantulkan cahaya lembut ke dinding putih bersih dan langit-langit tinggi khas Hotel bintang 5. Lantai hangat, kasur empuk, seprai bersih beraroma lavender, semua serba sempurna—hanya saja, udara di antara mereka masih mengandung kegugupan. Titi duduk di tepi ranjang dengan rambut basah tergerai. Ia memberanikan diri untuk membuka hijabnya tadi. Setelah mengganti baju dengan piyama katun tipis berwarna salem, hasil pinjaman dari penginapan. Ryan berdiri di balkon, menatap langit yang gelap total tanpa bintang. “Dingin banget,” gumamnya sambil merapatkan jaket ke tubuh. Titi hanya menjawab dengan anggukan kecil, meski Ryan tidak bisa melihat dari belakang. Begitu ia kembali masuk ke kamar, Titi sudah naik ke atas kasur, menarik selimut sampai dada dan memeluk bantal seperti anak kecil. Di titik itu, Ryan terkejut dengan Titi yang membuka hijab
Setelah matahari naik tinggi dan sesi sunrise selesai, mereka kembali ke penginapan untuk sarapan dan istirahat. Titi tertidur di sofa kamar hotel tanpa sempat mengganti baju. Raut wajahnya masih terlihat lelah, tapi juga tenang. Setelah dipindahkan ke kasur oleh Ryan. Ia memperhatikan istrinya itu diam-diam dari balik meja kecil, sambil menyeruput kopi hangat. Rasanya seperti mimpi, bisa pergi bareng Titi, senagai suami istri, dalam momen yang tak terlalu formal tapi bermakna. Ia tak berani membangunkan Titi. Tapi saat jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang, dan sopir jeep sudah menunggu di lobi, Ryan mendekat, menyentuh lembut bahu Titi. “Sayang, bangun dulu, yuk. Kita masih ada spot foto yang bagus di kaki Bromo.” Titi membuka matanya perlahan, masih malas-malasan. “Kaki siapa?” Ryan terkekeh sambil mengelus kepalanya. “Kaki Bromo. Bukan kaki orang. Ayo, udah aku siapin outfit kamu juga.” Titi menatapnya curiga. “Kamu nyiapin baju aku?” “Tenang, aku nggak s
Mobil Jeep itu sampai di tempat parkir, sebelum mereka harus jalan ke atas sedikit untuk mencapai spot terkenal itu. Melihat sunrise dan moment luar biasa yang akan mereka abadikan.Lampu-lampu senter dan kilatan kamera para wisatawan lain jadi satu-satunya penerang. Udara pukul tiga dini hari itu terasa menusuk tulang, tapi Ryan malah semangat luar biasa.'Si Anak Gunung ini memang luar biasa', batin Titi.Padahal ia sudah membayangkan betapa lelahnya ke Spot sunrise, meskipun hanya naik sedikit saja sekitar 200 meter.“Turun dulu, pelan-pelan,” ujar Ryan sambil membukakan pintu jeep untuk Titi.Titi menggeliat kecil, masih setengah mengantuk. Tapi detik berikutnya, Ryan malah mengangkatnya untuk turun.Titi terkejut sejenak, ia agak malu juga. Namun ia baru ingat, kalau Ryan memang seperti itu tanpa memandang tempat.Ia menyelipkan tangan ke dalam saku jaket, berjaan pelan di samping Ryan saat suaminya itu meraih bahunya dan menggiringnya menuju jalur pendakian kecil. Kepalanya