ホーム / Rumah Tangga / DIA BUKAN BAPAKKU / Buat apa dia datang?

共有

DIA BUKAN BAPAKKU
DIA BUKAN BAPAKKU
作者: KARTIKA DEKA

Buat apa dia datang?

作者: KARTIKA DEKA
last update 最終更新日: 2025-08-06 00:38:25

Farah terbangun dari tidurnya. Keringat dingin membasahi wajahnya. Sudah lama dia tak bermimpi buruk, tetapi beberapa hari ini, mimpi itu datang lagi. 

Wanita itu bangun, dan mengusap wajahnya yang berkeringat. Dilihatnya wajah suaminya yang tidur lelap di sampingnya. 

Suara nafasnya yang menderu masih terdengar. Dadanya masih bergerak naik turun dengan cepat. Mimpi itu sangat menakutkan. Tepatnya bukan mimpi, tetapi peristiwa yang pernah dia alami sewaktu kecil dan selalu menghantui. Seperti bayangan yang tak mau berlalu, selalu mengikuti kemanapun dia pergi. 

Sudah sangat lama, dia bisa tidur nyenyak karena mimpi itu tak pernah datang lagi. Tetapi, dia sendiri tak tahu, kenapa sekarang mimpi itu kembali menghantui.

~~~~~~

Mendengar ada yang mengetuk pintu rumahnya, Farah yang sedang menyuapi anak sulungnya yang masih berusia tujuh tahun, segera buru-buru membuka pintu. Dia mengira suaminya Yusuf yang pulang bekerja. 

Wanita cantik itu memasang senyum manis di wajahnya untuk menyambut kepulangan suaminya. Namun begitu pintu dibuka, seketika senyumnya menghilang melihat sosok yang berdiri di depan pintu rumahnya. Sosok laki-laki yang sudah renta. Wajahnya tampak kuyu dan lusuh, terlihat lebih tua dari usia yang sebenarnya. Di tangannya, dia membawa sebuah buntelan sarung yang Farah yakin itu adalah pakaian. 

Matanya berkaca-kaca menatap wajah Farah. Melihat laki-laki itu, Farah cepat-cepat menutup pintu rumahnya. Jantungnya berdegup kencang. Bayangan ketakutan tergambar jelas di wajahnya. Padahal, laki-laki itu belum sempat bicara apa pun. Itu laki-laki yang selalu hadir di mimpi buruknya. 

“Ibu kenapa?” tanya gadis kecil yang jalan ke arahnya.

Melihat anaknya, Farah langsung memeluk anaknya hingga terduduk di lantai. Tubuhnya gemetar. Tangis yang ditahan tak lagi bisa dibendung olehnya. Dia memeluk gadis kecil yang kebingungan itu sambil menangis sangat kencang. 

Melihat ibunya menangis, Lila juga ikut menangis. Bahkan lebih kencang dari Farah. Hal itu akhirnya menyadarkan Farah. Farah mengurai pelukannya dan segera menghapus air matanya. 

“Ibu kenapa?” tanya Lila yang masih menangis karena bingung. 

“Ibu nggak papa, Sayang. Lila tengok Adek ya. Takutnya Adek bangun,” kata Farah sambil mengusap pipi Lila yang imut dan cantik. Lila mengangguk. 

Akan tetapi, baru lagi Lila jalan beberapa langkah, terdengar suara ketukan pintu. Lila langsung berbalik. 

“Itu pasti Ayah!” serunya. Wajahnya yang tadi bingung dan mendung, kini berubah ceria dengan begitu cepat. 

Jantung Farah berdegup kencang. Dia tak yakin kalau suaminya yang pulang. Untuk memastikan kalau suaminya yang benar-benar pulang, Farah menyingkap tirai jendela sedikit. Benar, itu suaminya yang pulang. Tetapi, lelaki tadi masih ada di sana. 

Sekali lagi, pintu rumah diketuk. Dengan ragu, akhirnya Farah bangkit. 

“Cepat buka, Bu. Ayah pasti bawa kue. Semalam Ayah udah janji sama Lila,” kata Lila dengan sangat bersemangat. 

Tangan Farah gemetar, membuka pintu rumahnya. Begitu dibuka, dia melihat wajah teduh suaminya, Yusuf. Farah tak mampu mengumbar senyum seperti biasanya. Apalagi laki-laki tadi tampak berdiri di belakang Yusuf. 

“Ayah, Ayah!” seru Lila sambil mengulurkan tangannya minta digendong. 

Tanpa rasa lelah, Yusuf menggendong anak perempuannya itu. 

“Ayah bawa kue kan?” tanya Lila dengan semangat. 

“Bawa dong. Ini.” Yusuf mengangkat kantongan plastik berisi kue pesanan putri cantiknya. Lila langsung meraih kantongan plastik itu dengan bahagia.

Tiba-tiba, Lila mendekatkan kepalanya ke telinga Yusuf lalu berbisik, “Kakek itu siapa, Yah?” 

Gadis kecil itu heran melihat seorang kakek tua yang berdiri tak jauh dari ayahnya. Wajahnya tampak pucat. Berusaha tersenyum melihat kebahagiaan putri kecil dan ayahnya, tetapi terlihat sedih. Dia dulu juga pernah merasakan kebahagiaan yang sama. 

Yusuf menoleh pada laki-laki tua itu. “Oh, ini.” 

Yusuf menurunkan Lila dari gendongannya. “Dia Kakek Lila, namanya Kakek Hadi.” 

Yusuf melihat Farah yang tampak diam saja. Wajahnya tampak tak suka melihat kehadiran laki-laki itu. 

“Loh, tapi Lila udah ada Kakek Soleh?” tanya Lila bingung. Dia hanya tahu, kakek dari ayahnya. 

“Kakek Soleh kan, bapaknya Ayah. Kalau Kakek Hadi, bapaknya Ibu,” jelas Yusuf dengan sabar. 

Lila tersenyum senang melihat Hadi. Hadi juga tersenyum dengan mata berkaca-kaca. 

“Asik, Lila punya Kakek dua, kayak teman-teman Lila,” seru gadis kecil itu sangat senang. Hal itu justru membuat Farah terperanjat ketakutan.

~

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • DIA BUKAN BAPAKKU   Isi surat

    “Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un,” kata Yusuf.Farah yang sedang menidurkan Genta, reflek melihatnya. Tadi Yusuf memang menerima telepon dari seseorang. Yusuf bicara dengan orang yang menghubunginya tanpa keluar dari kamar. Makanya Farah bisa mendengarnya. “Baik, Pak. Saya akan segera kesana,” kata Yusuf lagi, lalu hening. Yusuf mendengarkan orang di sebrangnya bicara, lalu melihat Farah. “Insha Allah, Pak.” Tak lama, Yusuf mengucap salam, lantas meletakkan hapenya di atas meja rias. Dia tampak menghela nafas dalam. Seperti ada hal yang berat yang harus dia sampaikan pada Farah. “Siapa yang meninggal, Bang?” tanya Farah. Yusuf melihatnya, lalu melihat Genta yang sudah tertidur. Bukannya menjawab, Yusuf malah membuka lemari dan mengambil sebuah amplop dari dompetnya.Perlahan dia jalan mendekati Farah, lalu duduk di sebelahnya. “Abang ada amanah dari seseorang untuk kamu,” kata Yusuf lalu memberikan amplop itu pada Farah. Alis Farah menaut, tetapi tetap menerima amplop itu kar

  • DIA BUKAN BAPAKKU   Tak bisa lupa

    “Udahlah, kamu nggak usah cerita soal keburukan istri kamu itu. Aku sudah tenang tanpa kamu sekarang. Jadi jangan ganggu aku lagi,” sela Nisma yang tak mau mendengar penjelasan suaminya, tepatnya, mantan suami. “Sayang–” Tegar berhenti karena Nisma melototinya. “Um, Nis. Aku mohon. Bagaimana cara aku menebus kesalahan sama kamu? Aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Walau aku menikahi Ajeng, tetap aja yang kuingat itu, kamu,” kata Tegar memohon. “Gi la kamu ya. Bisa-bisanya kamu mikirin perempuan lain di saat sudah beristri. Pantas aja, cerai lagi dalam waktu singkat,” ejek Nisma. “Bukan itu yang menyebabkan kami pisah,” kata Tegar, lalu cepat menyambung ucapannya sebelum Nisma memotongnya lagi. “Ajeng tak selembut kelihatannya. Dia bukan istri dan menantu yang menurut. Bahkan, sejak keuangan dipegang sama dia, warung nyaris aja pailit. Dia menyelewengkan uang penjualan setiap hari. Warung cabang, bahkan sudah mengurangi banyak karyawan, karena tak sanggup menggaji. Ibu jadi jatuh saki

  • DIA BUKAN BAPAKKU   Ingin rujuk

    Sudah enam bulan berlalu. Semuanya sudah berjalan seperti biasa, kecuali Yusuf yang rutin mengunjungi Hadi. Yusuf memahami, kesalahan masa lalu Hadi sulit untuk dimaafkan oleh istrinya, tetapi Yusuf mencoba menempatkan diri sebagai orang yang memberi kesempatan ada Hadi untuk memperbaiki diri. Farah yang tengah bersiap untuk menjemput Lila dari sekolah, dikejutkan dengan kehadiran Tegar. “Kak, tolong kasih tau dimana Nisma sekarang,” kata Tegar dengan wajah memohon. Farah menatap wajah Tegar dengan sorot mata yang tajam. “Buat apa?” tanyanya.Tegar menelan ludah. Sudah lama, sejak dia berpisah dari Nisma dia tak lagi datang, apalagi mencari Nisma.“Saya … ingin merujuk Nisma, Kak,” kata Tegar agak ragu, khawatir memancing amarah Farah. Mata Farah menyipit mendengarnya. “Kenapa? Bukannya kamu udah nikah lagi sama wanita yang dipilihkan ibu kamu?” Tegar hanya bisa menunduk lesu. “Saya menyesal sudah menuruti keinginan Ibu, Kak. Saya nggak bisa melupakan Nisma.”“Nggak mungkin, kamu

  • DIA BUKAN BAPAKKU   Surat titipan

    Lelaki tua itu merogoh saku bajunya, lalu mengeluarkan sebuah amplop. Dilihatnya amplop itu untuk sesaat, lalu diberikan pada Yusuf. Yusuf melihat dengan heran.“Mungkin, Bapak tak akan punya kesempatan untuk minta maaf lagi secara langsung sama Farah juga Nisma. Kamu simpan surat itu, berikan pada mereka kalau Bapak nanti meninggal dunia,” kata Hadi dengan mata berkaca-kaca dan suara yang bergetar.Yusuf terpaku memandangi amplop lusuh di tangan Hadi. Sepertinya, surat itu sudah sangat lama Hadi simpan. Tangannya sempat ragu untuk menerima. Seakan berat amanah yang dititipkan padanya. Namun akhirnya ia menunduk pelan, meraih amplop itu dengan kedua tangan.“Baik, Pak. Saya simpan. Insha Allah, nanti saya sampaikan,” ucap Yusuf, suaranya serak.Hadi hanya mengangguk, lalu menunduk menahan isak yang hendak pecah. Sesaat, suasana di halaman lembaga perawatan lansia itu hening, hanya terdengar desir angin sore yang menerbangkan debu dan daun kering.Yusuf menatap lelaki renta di depannya

  • DIA BUKAN BAPAKKU   Diantar ke tempat penampungan

    “Kok Pak Hadi dibawa lagi?” tanya Imah dengan bingung. Entah pada siapa, yang jelas ada Rundiah dan Sarah di dekatnya. Saat ini, ketiganya sedang duduk di depan rumah Sarah yang berada di depan rumah Imran.“Ya berarti memang benar dia pelakunya,” kata Rundiah.“Tapi kok, kayaknya polisinya baik banget,” kata Sarah. “Biasanya, kalau sama pelaku apalagi pelaku yang cabul sama anak-anak, polisi itu paling nggak suka, bisa kasar sikapnya. Jangankan polisi, kita aja gitu. Emang suka, lihat orang jahat kayak gitu.” Begitulah pembicaraan orang yang awam. “Iya juga. Pak Hadi juga nggak diborgol kan?” kata Rundiah. “Ya mungkin, karena Bang Yusuf nggak nerima Pak Hadi. Ingatkan, kejadian kemarin itu. Apa jangan-jangan, Farah yang nggak mau dan udah ngomong sama Bang Yusuf,” kata Imah pula. “Bisa jadi. Tapi kok ya Farah itu kejam kali sama bapaknya sendiri. Kesalahan masa lalu, ya aturan jangan diungkit lagi. Pak Hadi sekarang juga udah baik. Buktinya, nggak ada masalah selama dia tinggal d

  • DIA BUKAN BAPAKKU   Masa lalu yang sulit dimaafkan

    Yusuf akhirnya sampai ke rumah Imran. Terpaksa dia izin dari perusahaan tempatnya bekerja. Imran mengajak polisi dan Hadi ke rumahnya. Rumah sederhana itu, seketika terasa penuh, karena memang ruangan tamu rumah Imran kecil. Sengaja Imran tak mengajak duduk di mushola, agar tak menjadi pusat perhatian dan akan ada yang datang untuk mencuri dengar.“Assalamualaikum,” sapa Yusuf saat masih di teras dan terus melangkah masuk ke dalam rumah Imran. “Waalaikumsalam.” Semuanya menyambut salam Yusuf.Saat mata Yusuf bertemu dengan mata Hadi, Hadi langsung menunduk dalam. Yusuf segera menyalami para polisi, Imran dan tentunya Hadi. Tangan pria tua itu terasa dingin, terlihat jelas kalau dia menyimpan ketakutan di hatinya. Yusuf menarik napas dalam-dalam. Matanya tajam menatap sosok Hadi yang bahkan tak berani mengangkat wajah. Ada perasaan aneh mengalir di dadanya, antara amarah, iba, dan bingung harus bersikap seperti apa.“Silakan duduk, Yusuf,” kata Imran lembut.Yusuf duduk di dekat Imr

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status