Mag-log inDr. Elena Lockhart erwacht ohne jede Erinnerung an ihre Vergangenheit – nur ihre medizinischen Fähigkeiten und ihr Schwur, Leben zu retten, sind ihr geblieben. Dann wird ein bewusstloser Fremder in ihre Notaufnahme gebracht. Er ist der Alphakönig. Und er stirbt an einem geheimnisvollen Fluch, den bisher kein Werwolfheiler jemals heilen konnte. Gegen jede Vernunft gelingt es Elena, den Fluch aufzuhalten. Doch jedes Mal, wenn sie ihn rettet, verlässt der Fluch seinen Körper und gräbt sich tiefer in ihren eigenen. Mit jedem Tag wird der Alpha stärker, während Elena immer schwächer wird. Wenn sie ihn aufgibt, wird der Alphakönig sterben und das Königreich in einem blutigen Krieg um den Thron versinken. Wenn sie ihn weiter behandelt, wird sie das nächste Opfer des Fluchs sein, noch bevor sie herausfindet, wer sie wirklich ist. Nun muss die Ärztin, die geschworen hat, jedes Leben zu retten, entscheiden, ob ein einziger König ihr eigenes Leben wert ist – während der Mann, den sie zu retten versucht, sich ausgerechnet in die einzige Frau verliebt, die er vielleicht opfern muss. In einem Königreich, das auf Blut und Geheimnissen erbaut wurde, könnten die Antworten auf Elenas verlorene Erinnerungen der Schlüssel sein, den Fluch zu brechen – doch den Alpha zu retten könnte sie alles kosten, sogar ihr Herz.
view more“Sayang, kamu menangis?”
Alana yang berdiri di pojok ruangan langsung berlari ke dekapannya. Chandra dengan cekatan memeluknya, terheran karena bahu Alana berguncang hebat.
“Apa yang terjadi?”
Alana menatapnya sejenak. Wajahnya pucat. Matanya merah. Butuh beberapa detik sebelum Alana bicara.
"Ayah… Memberiku ultimatum semalam," suaranya nyaris seperti bisikan. “Valestra Group diambang kebangkrutan. Aku ga tahu sejak kapan, Tapi tadi Ia berkata ... satu-satunya cara menyelamatkan semuanya adalah dengan menjualnya ke Ravenshade.”
Chandra mendengarkan. Napasnya mulai berubah.
Alana melanjutkan. “Tapi mereka bukan cuma mau perusahaan. Mereka mau ... aku.”
“Aku harus menjadi pendamping putra mereka, menikah dengan Brian Ravenshade sebagai bagian dari kesepakatan. Kalau nggak … Ratusan karyawan kehilangan pekerjaan.”
Alana menunduk. “Ayah bilang ini pengorbanan yang harus aku lakukan demi keluarga. Demi perusahaan. Demi semua orang.” Air matanya menetes.
Chandra mengulurkan tangan, menggenggam jemari Alana yang dingin dengan kuat.
“Alana, denger. Nggak ada siapa pun di dunia ini, yang punya hak mutusin hidup kamu,” katanya pelan, tapi pasti. “Aku ga akan ngebiarin mereka merebutmu gitu aja.”
Alana menarik napas panjang. Suaranya lebih tenang saat berkata, “Aku tahu. Kalau mereka bisa bikin keputusan seenaknya ... kita juga bisa.”
Chandra menatapnya dalam-dalam. “Apa maksudmu?”
Alana mengangguk kecil, lalu berbisik, “Kita pergi. Kita bangun hidup baru jauh dari mereka. Berdua. Kamu mau kan?”
Chandra tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya mengeratkan genggaman tangannya. Itu cukup.
Mereka tidak tahu ke mana atau bagaimana. Tapi yang pasti, mereka harus meninggalkan semua ini. Cinta mereka bukan bagian dari perjanjian bisnis mana pun.
Mereka tidak perlu menunggu lama, mereka segera menyusun pelarian.
“Kata ayah,” ujar Alana sambil membuka tabletnya, “Jet pribadi Brian Ravenshade dijadwalkan mendarat besok, jam dua siang. Penerbangan langsung dari Tokyo.”
Alana menatap layar tanpa benar-benar membaca isinya.
Chandra memotong. “Oke, kita pergi jam tiga sore. Saat semua perhatian mereka tertuju padanya.”
Ia menoleh, mencari reaksi Alana. “Kita jadikan ini sebagai ... simbol. Balasan atas kesemena-menaan mereka.”
“Kita ketemu dimana?” tanya Alana tegas.
Chandra tidak ragu. “Taman tempat aku nembak kamu.”
Alana mengangguk. Tidak ada pilihan yang lebih tepat. Di sana, kisah mereka bermula. Dan sekarang mereka akan memulai ulang lagi dari sana.
Malam itu Alana tidak tidur. Ia mengulang-ulang rencana di kepalanya, membayangkan setiap langkah, setiap kemungkinan. Tapi tidak sekalipun ia merasa ragu.
Pagi berikutnya, rumah terasa berbeda. Bagi Alana semuanya terasa lebih mencekam.
Ayahnya, Silvano Valestra sudah duduk di ruang makan, Ia sedang membahas detail penyambutan Brian dengan salah satu asisten yang berdiri di sisi meja. Nadanya lugas, formal, dan dingin.
Ibu dan adiknya juga ikut sarapan. Wajahnya tanpa cela, tapi mata mereka memindai Alana dari ujung rambut ke kaki.
“Tim penyambutan sudah siap di bandara,” kata Ayahnya sambil melipat koran. “Jet Brian akan mendarat tepat pukul dua siang sesuai rencana. Dia langsung ke hotel, baru kesini untuk makan malam bersama. Semuanya harus sempurna.”
Alana menahan mualnya dengan mengunyah perlahan. Ia hanya mengangguk pelan dan menelan rasa sesak yang menggumpal di dada.
Dina mengangkat wajah dari ponselnya, lalu menoleh ke arah ayahnya.
“Ayah yakin? Kak Alana kan ... sudah punya kak Chandra,” ucapnya pelan. “Kalau mau gadis Valestra, aku bersedia gantiin kakak … kalau itu bisa nyelamatin perusahaan.”
Keheningan sesaat mengisi ruang makan.
“Ini bukan tentang rela atau nggak,” kata Silvano akhirnya, “Ayah Brian sudah menyebut nama Alana sejak awal. Kita ga berada dalam posisi tawar.”
Ibunya menimpali tanpa menoleh ke siapa pun. “Lagipula ya, siapa sih Chandra? Arsitek lepas tanpa nama, masa depannya ga jelas. Dibandingkan Brian? Jauh banget lah.”
Setiap kata itu terasa menusuk Alana. Tapi juga memperkuat tekadnya.
Setelah selesai, ia berpamitan dengan alasan klien VIP ingin berkonsultasi langsung. Tidak seorang pun mempertanyakan, bahkan ayahnya hanya mengangguk sambil menatap layar ponselnya.
Ransel kecil berisi dokumen, uang tunai, dan beberapa potong pakaian sudah diselipkan ke dalam bagasi sebelumnya, lewat bantuan Riana, asisten pribadinya yang setia dan diam-diam membantu.
Alana melangkah keluar tanpa menoleh. Ia tidak menggunakan mobil pribadi. Taksi online yang ia pesan datang lima menit kemudian. Supirnya ramah, tidak banyak bicara.
Saat kendaraan itu melaju perlahan meninggalkan gerbang rumah besar yang selama ini mengurungnya, Alana tidak bisa menahan diri untuk menoleh.
Jantungnya berdebar kencang. Ada kecemasan yang tajam, menusuk, menekan.
Tapi di sela-sela itu, muncul rasa yang lain. Rasa yang belum pernah ia kenali sebelumnya. Sensasi ringan... hampir seperti terbang.
Kebebasan.
Tak lama, Sebuah pesan masuk. Alana membuka ponselnya dengan tangan gemetar yang tak ia sadari sejak tadi.
"Aku udah jalan. Bentar lagi kita ketemu ya. Aku nggak sabar."
Ia menatap kata-kata itu beberapa detik lebih lama dari yang perlu. Sebuah penegas bahwa ia tidak sendiri. Bahwa keputusannya bukan keputusasaan, tapi keberanian.
Bangku kayu di bawah pohon rindang itu masih ada, tak berubah. Tempat itu dulu menyaksikan Chandra dengan tangan gemetar menyatakan cinta untuk pertama kalinya, dan Alana menerima dengan air mata bahagia. Kini, tempat yang sama akan menyaksikan permulaan baru mereka.
Ia duduk. Punggungnya tegak, napasnya pendek-pendek. Waktu di ponselnya menunjukkan pukul dua lima puluh lima. Lima menit menuju kebebasan.
Getaran kedua datang. Alana membuka layar.
"Aku udah sampai, tinggal nyebrang ke taman."
Alana langsung berdiri. Matanya menyapu jalanan di depannya. Lalu ia melihatnya.
Di seberang jalan, Chandra melambaikan tangan. Wajahnya teduh, lega. Pandangannya tertuju padanya, utuh. Ia melangkah pelan, bersiap menyeberang saat lampu lalu lintas berubah.
Alana mengangkat tangannya setengah, bibirnya mulai tersenyum.
Tapi tiba-tiba, Suara decitan ban memecah keheningan. Tajam. Mendadak. Memekakkan.
Semua orang menoleh. Sebuah sedan melaju liar tidak terkendali. Mobil itu oleng ke arah kiri, langsung menuju trotoar tempat Alana berdiri.
Tubuh Alana membeku. Ia tidak bisa bergerak. Udara mendadak menghilang dari paru-parunya. Matanya terpaku pada mobil yang semakin mendekat. kepanikan menggulung cepat di dalam tubuhnya.
Dari seberang jalan, Chandra melihat semuanya. Sorot matanya melebar. Tangannya terangkat, dan dari jauh, berteriak.
“ALANA, AWAS!”
Elenas PerspektiveIch lief rastlos in meinem Wohnzimmer auf und ab, während meine Brust wegen der vorherigen Szene zwischen Lora und mir von Unruhe erfüllt war.„Lily, was wusstest du über Lora?“, fragte ich Lily, die mich aus einiger Entfernung beobachtete.„Hä?“„Antworte!“, schrie ich. Ich verstand zwar, worauf sie hinauswollte, als sie den Alpha beschützen wollte, aber …„Sie ist die Geliebte des Alpha-Königs. Ich habe sie schon zusammen gesehen, seit ich geboren wurde. Sie liebt ihn von ganzem Herzen und würde alles tun, um ihn glücklich zu machen, sogar ihr eigenes Leben für ihn geben.“„Sie sind nicht miteinander verwandt? Und jetzt sag mir: Sehe ich gefährlich aus? Wie jemand, der ein Leben nehmen könnte? Sie hat dem Alpha gesagt, dass er meine Medikamente und Verschreibungen nicht nehmen soll!“Lily unterdrückte ein Lachen.„Wirklich? Sie ist schon etwas Besonderes. Sie vertraut niemandem. Dabei ist sie eigentlich ein süßes und freundliches Mädchen. Die kurze Begegnung, die
Kades Perspektive„Du kannst diese Kräuter nicht nehmen, Alpha“, fuhr Lora ihn in einem kalten Ton an, sobald Elena meine Gemächer verlassen hatte.„Beruhige dich, Lora.“ Ich versuchte, ihren Zorn zu besänftigen, aber sie wollte nichts davon hören.„Nein … du sollst meine nehmen. Du kannst ihr nicht vertrauen. Es sind kaum sieben Tage vergangen, seit du sie kennengelernt hast, und schon … Willst du ihr wirklich dein Leben anvertrauen, Alpha-König?„Aus welchem Rudel stammt sie? Wer ist sie? Vor ein paar Tagen berichteten einige Wachen, dass sich ihre Augen verändert hätten und etwas beinahe von ihr Besitz ergriffen hätte … Du hast nicht einmal ihre Identität untersuchen lassen.“„Halt den Mund, Lora. Sie hat mir mehrmals das Leben gerettet.“„Ich habe dir unzählige Male das Leben gerettet, Alpha. Seit ich zehn bin, war ich immer an deiner Seite. Hast du deine schmerzhaften Anfälle jemals allein durchstehen müssen? Schon gut …“ Sie schniefte, während ihr Blick meinen festhielt.„Nur wei
Elenas Perspektive„Du kennst mich auch?“ fragte ich Alpha Kade bestürzt. Statt zu antworten, hob er eine Augenbraue und grinste schelmisch.„Ich weiß nichts über dich, Elena. Meine Männer haben Alpha Norran überwacht, seit er das Rudel betreten hat, und dabei Bruchstücke deiner Vergangenheit gefunden.“„Außerdem …“ Er brach ab und schluckte die Worte hinunter.„Ich muss meine Schwester retten. Daran wird sich nichts ändern. Du hast mich außerdem an ihn verkauft …“„Norran hat dir erzählt, dass ich das getan habe?“„Er ist dein Bruder. Er wird es dir besser erklären können.“ Seine Augen blitzten auf.„Norran!“ Ich sah, wie sich seine Kiefermuskeln anspannten. Er legte seine Hände auf meine Schultern und bohrte seinen brennenden Blick in meinen.„Hör mir zu. Du wirst dieses Rudel nicht verlassen. Und du wirst nicht zu diesem Monster gehen, um deine Schwester zu retten …“ Kades Stimme ließ keinen Widerspruch zu. In ihr lag eine deutliche Endgültigkeit.„Wir reden über meine Schwester … n
ELENAS PERSPEKTIVE„Was hast du meiner Schwester angetan?“Plötzlich verstand ich, warum Kade sein Bestes getan hatte, um mich von ihm fernzuhalten.Norran war nicht der, für den ich ihn gehalten hatte.„Nichts. Sie macht einfach einen kühlen Eindruck und erledigt ihre Arbeit ziemlich gut. Ihr beide habt dieselben Augen … Meine Güte. Ich hätte nie gedacht, dass der Tag kommen würde, an dem ich beide Schwestern in meinen Händen halten würde.Veronica redet viel über dich. Sie nach einer gefühlten Ewigkeit wiederzusehen, wird nicht schlecht sein!“ Sein Blick glitt über mich.Ich holte zitternd Luft und kämpfte gegen die Tränen an, die sich in meinen Augen gesammelt hatten.„Du erpresst mich mit meiner Schwester? Ich schätze, du beobachtest mich schon seit einer ganzen Weile …“„Fast dein ganzes Leben lang, Elena Lockhart. Ich habe dich im Auge behalten. Nicht, um dir wehzutun, sondern um dich zu meiner zu machen. Die Mondgöttin hat es perfekt eingefädelt.“„Du bist egoistisch. Meine Sch











