Share

Mas Duda, tolong ....

***

Erika menatap takut-takut pada pria berwajah tegas yang sedang menggendong Aleetha. "Anu ... maaf sekali, tadi saya cuma asal ngomong. Lagian anak sekecil Aleetha dibiarkan sendirian di alun-alun yang ramai kan bahaya, jadi ... ya, saya kira dia sengaja dibuang. Duh, maaf ya, Pak, mulut saya memang sedikit kurang bisa dikondisikan. Maaf ya." Erika menyenggol lengan Diandra berharap sahabatnya itu turut membela.

"Beneran Papa mau buang Aleetha?" tanya Aleetha polos. "Tante Ayesha gak mau punya anak kayak Aleetha ya, Pa? Kalau gitu, Papa jangan menikah sama Tante Ayesha, menikah saja sama Tante Diandra. Tante Diandra mau kan jadi Mama Aleetha?" Aleetha menatap Diandra dengan kedua matanya yang bulat.

Diandra kikuk mendapat pertanyaan yang keluar dari bibir gadis mungil nan lugu di depannya.

"Benar kamu tinggalkan Aleetha di sini sendirian, Sha?" tanya Papa Leetha mengacuhkan pertanyaan putrinya pada Diandra.

"M-- Mas, mana mungkin ...."

"Aleetha belum pernah berbohong, Sha," sela pria berjambang tipis itu tegas.

"Jadi kamu lebih percaya sama omongan anak kecil daripada aku, Mas?" Ayesha memekik kesal, "Aku memang belum pernah punya anak, tapi mana mungkin aku tinggalkan Aleetha di sini sendirian. Demi Allah, aku tidak setega itu pada Aleetha, Mas!"

Diandra yang mulai jengah memilih mundur setelah menghempaskan tangan Ayesha begitu saja, dia hendak berlalu sambil menarik tangan Erika. Namun tiba-tiba ....

"Jangan-jangan kamu yang sudah meracuni otak Aleetha, iya? Ngaku kamu!"

Diandra menghentikan langkah dan berbalik menatap Ayesha yang juga sedang melayangkan tatapan sengit ke arahnya. Dada Ayesha membusung. Tangannya berkacak pinggang seakan-akan sedang menantang Diandra yang berada sedikit jauh dari tempatnya berdiri.

"Kamu dan temanmu sengaja bilang kalau Aleetha dibuang, padahal sebenarnya kamu ingin merebut posisiku! Kamu ingin menjadi Mama Aleetha, ngaku kamu!" teriak Ayesha lantang. "Dasar pelakor! Kamu pasti sudah merencanakan semua ini. Jalang!"

Diandra melepaskan tangan Erika dan mendorong bahu Ayesha dengan kasar. "Jaga bicaramu!" ucap Diandra memperingatkan. "Aku bahkan tidak kenal siapa Aleetha, siapa kamu dan siapa pria itu. Cukup udang yang berotak kerdil, kamu jangan," imbuh Diandra menyindir.

"Aku menemani Aleetha karena dia yang memintaku agar mau menemaninya. Aku bahkan tidak tau bagaimana garis kekeluargaan kalian. Lalu kamu, enak sekali bilang kalau aku sudah merencanakan ini. Lagipula siapa kamu, hah? Siapa pria itu? Aku tidak perduli! Aku hanya kasihan melihat Aleetha mondar-mandir sendirian di alun-alun sebesar ini. Andai bukan aku, tidak menutup kemungkinan dia akan dimanfaatkan orang-orang jahat. Ngerti kamu, hah?"

Napas Ayesha memburu. Melihat Diandra yang begitu berani menunjuk-nunjuk wajahnya membuat emosi Ayesha semakin memuncak.

"Mas, pokoknya kita harus laporkan dia ke Polisi." Ayesha berbicara sambil terus menatap Diandra. "Aku kebingungan mencari Aleetha sampai berjam-jam, lalu dia bilang kalau dia menemani Aleetha? Alasan macam apa itu, dasar gila!"

"Sya, cukup!"

"Aku tidak terima diperlakukan seperti ini, Mas. Jelas-jelas perempuan gila itu yang sudah meracuni otak Aleetha. Aku tidak mungkin meninggalkan Aleetha sendirian disini, kamu percaya padaku kan, Mas?" Ayesha merajuk.

Diandra membuang muka kemudian berkata, "Hanya laki-laki bodoh yang mau menikahi perempuan tidak waras seperti dia, ya kan, Rik?" Erika mengangguk membenarkan ucapan Diandra. "Percaya atau tidak, aku yakin Aleetha berbicara jujur. Anak kecil tidak pernah berbohong, dia memang mau membuang Aleetha."

Wajah Ayesha semakin padam. Kedua tangan yang semua berkacak pinggang kini tergantung dengan posisi sigap namun keduanya mengepal kuat.

"Tutup mulutmu, Jalang!" Ayesha berteriak lantang. "Tau apa kau tentangku, hah?"

Diandra menjentikkan jari tepat di depan wajah Ayesha. "Itulah yang berusaha aku katakan sejak tadi, Mbak. Tau apa aku tentang kalian? Aku menemani Aleetha karena murni merasa kasihan padanya. Dan kamu ... enak sekali bibir merahmu itu mengatakan kalau aku penculik," sahut Diandra berusaha mengendalikan intonasi suaranya. "Memang ada penculik yang mau-maunya duduk di ruangan terbuka begini apalagi sampai rela menunggu orang tua yang dia culik datang? Ada, gitu?" Diandra memberondong Ayesha dengan banyak pertanyaan. "Aku sebenarnya tidak mau ikut campur terlalu dalam, tapi mulutmu sangat menakutkan. Tidak bisa aku bayangkan kalau Aleetha punya Ibu sepertimu."

Diandra hendak berbalik, namun ia urung melakukan itu dan kembali berucap, "Satu lagi, Mbak, dengarkan aku baik-baik! Aku ... bukan jalang dan juga bukan pelakor! Tapi kalau calon suamimu itu mau denganku, ya ... aku tidak menolak." Setelah mengatakan demikian, Diandra menarik tangan Erika dan membawa temannya itu pergi tanpa memperdulikan teriakan Ayesha yang semakin marah.

"Perempuan gila! Gak waras!"

Suara Ayesha masih terdengar namun Diandra mencoba abai. Urusannya telah selesai. Setidaknya Aleetha sudah bertemu dengan orang tuanya.

"Gila! Kamu benar-benar gila, Di!" gerutu Erika sambil terus mengedarkan pandangan. Takut jika Ayesha mengejar mereka sampai ke tempat parkir motor. "Kalau dia marah dan ngejar kita gimana? Ck, Diandra ... jangan sampai wanita gila tadi gagal menikah, kalau sampai itu terjadi, habislah kita."

"Kita gak kenal sama mereka, santai aja sih, Rik," jawab Diandra tak acuh. "Aku tadi cuma kesal aja, enak banget ngatain orang jalang. Kalau aku jalang, gak mungkin Mas Bara selingkuh sama Aluna. Ya kan?"

Suara Diandra kembali bergetar. "Stop! Aku sudah bilang kalau waktu menangis yang kamu miliki sudah habis. Ayo pulang!" ucap Erika sambil menekan tangan di udara.

Erika merangkul bahu Diandra dan meninggalkan alun-alun Kota Surabaya tepat pada pukul 22.00 WIB.

***

"Di, ada yang mau aku bicarakan."

Diandra yang bersiap menaiki motornya terpaksa menoleh. Mendengar suara Bara seperti sedang menabur garam di lukanya. Perih.

"Aku naik jabatan, Di ...."

"Oh, ya, selamat," jawab Diandra tak acuh.

"Aku berjanji akan menikahi kamu setelah naik jabatan. Kamu masih mau ingat dengan janjiku kan, Di?"

"Menurut Mas Bara?" Diandra balik bertanya.

Bara mengusap wajahnya frustrasi. "Ini murni kecelakaan, Diandra. Jujur, aku seperti sedang dijebak oleh Aluna."

"Aku tidak perduli tentang itu, Mas," sahut Diandra lirih. Otaknya teramat lelah memikirkan tentang bagaimana bisa Bara terpikat pada Aluna. "Kamu menghamili Aluna, itu artinya kamu harus menikahinya. Bukankah kemarin malam kalian sudah berembuk kesepakatan?" Diandra tak bisa abai pada rasa penasaran yang mengungkung jiwanya. Meskipun kecewa, tetap saja dia ingin tahu kesepakatan seperti apa yang sudah dicapai oleh Bara dan keluarga Aluna. Walau pada akhirnya tetap hanyalah luka yang akan Dian terima.

"Kami akan menikah minggu depan," seloroh Bara sambil membuang pandangan.

"Bagus, kamu memang harus jadi laki-laki yang gentle." Diandra mencoba tersenyum, "Jadi untuk apa kamu menawarkan pernikahan padaku? Bukankah minggu depan kamu sudah menjadi suami orang?"

Bara mengangkat kepalanya dan menatap kedua mata Diandra yang mulai redup. "Aku tau kamu pasti terluka. Maafkan aku, Di. Tapi asal kamu tau, aku berusaha menjadikan kamu yang pertama. Aku ingin menepati janjiku padamu. Terima aku lagi, Dian, aku pastikan Aluna dan keluarganya tidak akan bisa menolak hubungan kita."

Napas Diandra memburu. Ingin sekali ia melempar tamparan di pipi Bara dengan sekuat-kuatnya, namun urung ia lakukan itu.

"Aku sudah menemukan pengganti kamu, Mas." Diandra berdusta. "Tolong jangan ganggu aku lagi atau ...."

"Bohong! Katakan kalau kamu berbohong, Diandra!" bentak Bara. Pergelangan tangan Diandra dicekal dengan kuat hingga perempuan ber-make up tipis itu meringis kesakitan. "Kamu tidak semudah itu melupakan aku. Kamu bohong kan, Di?"

Diandra menggeleng. "Aku tidak berbohong, Mas."

Plak!

Diandra hampir saja tersungkur, namun beruntungnya tangan kokoh seseorang dengan sigap menahan tubuh Diandra.

"Tante Diandra ...."

Diandra menoleh sambil memegang pipinya yang memanas. Melihat gadis kecil yang tidak asing sedang berlari ke arahnya, entah mengapa air mata Diandra berjatuhan dengan begitu deras.

Bersambung

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status