Share

DIKIRA MISKIN
DIKIRA MISKIN
Author: Siti Aisyah

1. Bab 1

DIKIRA MISKIN

"Alhamdulillah, restoran kita semakin maju dan sudah memilik cabang. Semoga rasa syukur kita semakin bertambah dan ibadah kita semakin meningkat," ucap Mas Yudi. 

"Aamiin, kamu memang pantas mendapatkan ini semua, Mas. Kamu lelaki yang sangat ulet dan rajin. Orang bilang saat ini kamu sudah panen dari apa yang sudah ditanam sebelumnya. Janji Allah memang nyata. Siapa yang bersabar, maka akan indah pada waktunya." Aku tersenyum. 

Aku dan Mas Yudi sedang berkeliling resto yang baru saja dibuka hari ini. Senyum bahagia terpancar dari wajahnya yang tampan. Ya, Mas Yudi adalah lelaki paling tampan versi diriku sendiri, entah kalau orang lain menilai seperti apa. Tampan, cantik, itu relatif, bukan? 

Mas Yudi menggengam erat tanganku, "semua ini berkat dukungan kamu, Dek. Di balik suksesnya seorang pria pasti ada wanita yang berperan di belakangnya." 

"Kalau begitu bukan aku yang hebat atau kamu, Mas.  Ini Atas rida dan pertolongan Allah. Kita tidak akan bisa seperti ini jika dipisahkan satu sama lain karena kita saling melengkapi." Aku tersenyum dan menggelayut manja di pundaknya. 

Kami berusaha tersenyum kepada para pengunjung yang hadir hari itu untuk mengikuti acara pembukaan ini. Resto yang lumayan besar ini sudah penuh sehingga tidak ada satu meja pun yang kosong. Hanya ada satu di pojokan dan ke sana lah tujuanku dan Mas Yudi sekarang. 

Mas Yudi mengeluarkan ponsel dari saku celananya, lalu mengulurkan padaku. 

"Dek, aku mau minta izin untuk menghubungi seseorang sekarang," katanya. 

"Siapa? Kok sepertinya penting?" tanyaku dengan dahi berkerut. Mau telepon saja harus minta izin, apakah selama ini aku terlalu protektif? 

Mas Yudi tersenyum, "Aku ingin menghubungi seseorang yang sangat penting dalam hidupku." 

Aku semakin penasaran, sebenarnya siapa yang ingin dihubungi suamiku ini? 

"Jangan bilang kalau kamu ingin menelepon salah satu mantan pacar agar dia mau datang ke sini untuk ikut menikmati semua hidangan di sini, ya, Mas." Aku pura-pura cemberut. 

Mas Yudi mengaduk minuman di depannya  lalu meminumnya. Kutatap lelaki yang sudah membersamaiku selama hampir delapan tahun ini. 

Aku yakin Mas Yudi adalah orang yang setia dan tidak mungkin ada wanita lain selain aku. Aku percaya sepenuhnya kalau lelaki sepertinya tidak akan mungkin macam-macam. Ya, sebagai pemilik resto sukses dengan omzet yang besar tidak menutup kemungkinan banyak wanita di luar sana yang mengincarnya. 

Laleki berkumis tipis itu tertawa lalu mencubit hidungku lembut," Mana mungkin aku punya pacar. Hanya lelaki bodoh yang sanggup menduakan atau meninggalkan wanita sebaik kamu." 

Aku tersenyum, "Lalu siapa yang ingin Mas hubungi dan katanya penting itu?" 

Mas Yudi membuka galeri ponselnya dan terlihat di sana ada seorang wanita berkerudung instan yang sedang tersenyum. Dia adalah wanita yang sudah melahirkan Mas Yudi. 

"Jadi, wanita yang sangat penting itu ibu, Mas?" tanyaku. 

Mas Yudi mengangguk, tetapi sesaat kemudian matanya berkaca-kaca. 

"Seandainya ibu juga ada di sini, pasti kebahagiaan kita akan semakin lengkap, ya?" ucap Mas Yudi. 

"Kalau begitu telepon saja, Mas, dan bilang kalau kita sudah punya resto bahkan sudah punya cabang," 

Ibu Mas Yudi atau mertuaku tinggal di kampung yang jauh di sana. Sekali pun ia belum pernah datang ke rumah kami yang ada di kota, bahkan ia juga tidak tahu kalau anak lelaki satu-satunya ini sudah sukses. 

Lalu Mas Yudi menelepon. 

"Bagaimana tanggapan ibu setelah dikasih tahu kalau kita sudah punya resto cabang baru, Mas," tanyaku penasaran. 

Lelaki bertubuh tegap itu mendadak berwajah lesu setelah selesai menelepon ibu. 

"Seperti biasa, Dek. Ibu tidak percaya dengan ucapanku apalagi di sana juga ada Mbak Ranti Mbak Wiwid sang ratu kompor." Raut wajah Mas Yudi berubah sendu. 

Aku bangkit lalu berjalan dan berdiri di belakangnya, membungkuk, kulingkarkan di lehernya di lehernya dan berbisik di telinganya, "Sabar, Mas, semoga suatu saat mereka percaya dengan apa yang kita punya agar kita tidak dihina terus." 

Bayangan saat berkunjung ke rumah ibu beberapa tahun yang lalu kembali terlintas di benakku.

"Cari kerja itu yang berkelas, dong, Yud. Masa iya kakak iparmu semuanya menjadi pegawai kamu masih gini-gini aja. Terkadang aku harus malu mengakui kamu sebagai bagian dari keluarga kami. Nggak level," ucap Mbak Wiwid. 

Wanita yang selalu tampil modis itu berkata sambil mengibaskan tangan di depan wajahnya. 

"Betul itu, Yud. Apa nggak pingin setiap hari selalu tampil dengan memakai seragam yang menjadi simbol sebuah kesuksesan seseorang?" sahut Mbak Ranti dengan nada tinggi. 

Aku menelan ludah yang terasa sangat sulit. Sakit hati, tentu saja itulah yang kurasakan saat ini.

"Alhamdulillah, Mbak. Saat ini kami sudah punya kehidupan yang jauh lebih layak dari sebelumnya," ucapku sambil mengurut dada perlahan agar bisa bersabar menghadapi keduanya. 

Mbak Ranti melotot, "Meski lebih layak, tetap saja kehidupan kami lebih baik, kan? Aku misalnya, punya suami pegawai negeri dan masih punya penghasilan di di sawah yang terkadang tidak akan habis selama berbulan-bulan." 

Saat itu, kami memang belum punya resto seperti sekarang. Mas Yudi hanya menjadi pedagang bakso keliling. 

Ibu datang dan ikut nimbrung obrolan kami, wanita yang kulitnya sudah mulai berkeriput itu duduk di samping Mbak Wiwid. 

"Kakakmu itu benar, Yud. Seharusnya kamu malu kalau tidak menjadi pegawai di rumah ini. Bagaimana kamu bisa menghidupi istrimu jika masih jualan dengan hasil yang tidak menentu seperti itu," ucap ibu. Ucapannya itu sungguh mampu memporak porandakan hatiku. 

Salah satu ucapan ibu yang tidak akan pernah hilang dari ingatanku adalah, "jangan pernah kembali sebelum kamu sukses." 

Benar saja, setelah itu kami tidak pernah datang lagi ke rumah yang hanya membuat kami sakit hati itu. 

"Maaf, Pak, ada seseorang yang ingin bertemu. "Seorang wanita berseragam resto kami datang mendekat dan membuyarkan lamunanku tentang ibu dan para kakak iparku. 

***

Kami sedang sarapan bersama saat ponsel Mas Yudi yang ada di atas meja berdering sebagai  pertanda ada sebuah panggilan masuk. 

Mas Yudi yang sedang menikmati roti dengan olesan selai strawberry itu meletakkan rotinya  dan bergegas mengangkat telepon yang sudah menjerit-jerit. 

"Halo, assalamu'alaikum." Mas Yudi menyapa lebih dulu. 

Raut wajah Mas Yudi berubah setelah mendengar jawaban dari seberang sana. 

Sebenarnya siapa yang sudah menelepon suamiku itu sehingga membuat ia bersedih seperti itu? 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status