LOGINTerima kasih, Pembaca Setia! Kisah Jessie dan Jacob ini tidak akan pernah sampai ke bab terakhir tanpa dukungan luar biasa dari kalian semua. Menulis kisah Jacob yang dingin namun penuh pengorbanan, serta Jessie yang tangguh, adalah perjalanan emosional yang luar biasa bagi saya.Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para pembaca yang telah mengirimkan GEM, Koin, dan Hadiah (Gifts). Setiap apresiasi yang kalian berikan bukan sekadar materi bagi saya, melainkan bentuk penghargaan yang membuat saya merasa karya ini sangat dihargai. Terima kasih telah menjadi "bahan bakar" saya untuk terus berkarya.Untuk Tim Editor dan Pihak GoodNovelTerima kasih kepada pihak
Jessie tertegun. Ia tidak pernah menyangka bahwa akar cinta Jacob sudah tertanam sedalam itu, jauh sebelum mereka dipertemukan kembali sebagai dua orang dewasa yang masing-masing membawa luka."Selama aku di luar negeri, aku selalu mencari informasi tentang kamu. Saat ada berita kamu bertunangan dengan Daniel, aku benar-benar pasrah dan merasa kalah," lanjut Jacob."Lalu kenapa kamu pulang?" tanya Jessie penasaran."Saat kamu akan menikah dengan Daniel, Nenek memaksaku pulang. Aku tidak mau kembali ke rumah Sanjaya karena…” kalimat Jacob menggantung di udara.“Kamu tahulah… Karena rasa trauma tempat Hadi mendorong Papaku hingga meninggal tepat di depan mataku. Jadi aku memilih menginap di hotel."Jac
"Terima kasih sudah bertahan bersamaku melewati semua badai itu, Jess," ucap Jacob tulus. Ia mencium pelipis istrinya dengan penuh perasaan cinta.Jessie memegang tangan Jacob yang besar dan hangat. "Kita melewatinya bersama-sama. Dan kita akan terus seperti ini sampai mereka dewasa nanti."Acara puncak dimulai saat Andi membantu menyalakan lilin berbentuk angka satu di atas kue tart bertingkat tiga yang sangat indah itu."Ayo semuanya berkumpul! Jason, Jasmine, waktunya tiup lilin!" seru Nenek Sari dengan penuh semangat sambil menggendong Jasmine mendekat.Jacob mengangkat Jason, sementara Jessie berdiri di sampingnya. Semua staf rumah dan keluarga melingkar mengelilingi meja bundar besar itu.Mereka menyanyikan lagu ulang t
Jacob menatap ke arah taman, di mana Jessie sedang duduk di rumput bersama Jason yang sedang mencoba tengkurap sendiri."Aku hanya sedang mencoba menjadi manusia yang lebih baik, Nek. Ternyata rasanya jauh lebih nikmat daripada menang di lantai bursa saham," jawab Jacob jujur.Kebahagiaan sederhana seperti melihat tawa bayinya kini menjadi pencapaian tertinggi bagi Jacob Sanjaya. Ia telah menemukan arti hidup yang sesungguhnya.Masa lalu yang penuh darah dan dendam kini benar-benar telah terkubur di bawah nisan orang tuanya pagi tadi. Hari ini adalah awal dari babak baru.Jacob berjalan mendekati Jessie dan ikut duduk di atas rumput. Ia membiarkan Jason menarik-narik ujung kemeja mahalnya dengan tangan mungilnya."Jason seper
"Aku tidak akan membiarkan anak-anak kita hidup dalam bayang-bayang dendam seperti aku dulu. Mereka akan tumbuh dalam cinta yang utuh," janji Jacob pelan.Ia mencium nisan kedua orang tuanya satu per satu sebagai tanda pamit. Jacob merasa beban berat yang selama belasan tahun ini ia panggul, akhirnya luruh di tempat ini.Setelah dari pemakaman, Jacob tidak langsung kembali ke rumah. Ia meminta Andi untuk menemuinya di ruang kerja utama di gedung pusat Seven Heaven.Lantai teratas gedung pencakar langit itu tampak sangat sibuk seperti biasa. Namun, Jacob masuk dengan suasana hati yang jauh lebih santai, tidak lagi memancarkan ketegangan yang mencekik.Andi sudah menunggu di depan meja kerja besar milik Jacob. Ia berdiri tegak dengan sikap profesional yang tidak pernah berubah selama bertahun-tahun."Anda memanggil saya, Tuan?" tanya Andi sambil menyiapkan berkas laporan mingguan yang biasanya harus diperiksa Jacob secara detail.Jacob tidak langsung duduk di kursinya. Ia berjalan menu
Kakek Bambang menggeleng sambil tertawa. "Aku ingin tinggal di rumah lama Wijaya, Jacob. Tapi aku akan sering datang ke sini untuk mengganggu cicitku.""Tapi Jason dan Jasmine butuh bimbingan dari kakek buyutnya agar tidak senakal papanya nanti," canda Jessie yang membuat semua orang di ruangan itu tertawa.Suasana sore itu terasa sangat ringan. Tidak ada lagi ketegangan bisnis atau laporan ancaman yang masuk ke ponsel Jacob.Jacob sengaja mematikan notifikasi pekerjaannya. Ia ingin memberikan perhatian penuh pada Kakek Bambang yang baru saja kembali dari perjuangan medisnya."Bagaimana dengan Daniel dan ibunya? Apa mereka benar-benar sudah tidak bisa menyentuh kita lagi?" tanya Kakek Bambang dengan nada serius.Wajah Jacob kembali menjadi kaku sejenak, namun sorot matanya tetap tenang. "Semua sudah selesai, Kek. Diana sudah mendapatkan hukuman seumur hidup.""Daniel juga sudah berada di fasilitas rehabilitasi yang sangat terpencil. Aku akan memastikan, mereka tidak akan pernah muncul
"Dia menghancurkan hidup banyak orang hanya karena obsesi gilanya," desis Jacob. "Dia membunuh Ayah, membuat Ibu menderita hingga akhir hayatnya, dan membuatku mengasingkan diri ke luar negeri. Semuanya karena dia kalah dalam memenangkan hati seorang wanita.""Kekalahan itu yang memberinya energi
Begitu ia melihat dua mobil hitam milik tim keamanannya bergerak masuk menuju rumah Lukman, Jacob segera memindahkan persneling ke posisi mundur. Ia memutar kemudi dengan cepat, melakukan manuver balik arah di ruang yang sangat sempit."Mereka sudah mencium jejak kita, Jess," ucap Jacob saat ia me
Langkah Jacob tiba-tiba terhenti. Jessie yang berjalan mengikuti langkah Jacob mendadak ikut berhenti.Jacob terpaku di depan anak tangga pertama. Tangan kanannya mencengkeram pegangan tangga kayu jati ukir itu dengan tenaga yang luar biasa besar membuat urat tangannya terlihat menegang. Matanya
Jacob mengepalkan tangannya di atas lutut. “Jadi pamanku tega membunuh saudaranya sendiri hanya untuk melindungi anak yang bukan darah daging Sanjaya. Hidupnya benar-benar ironis.”“Hadi terlalu sombong untuk melakukan tes DNA. Baginya, kehamilan perempuan itu sudah cukup jadi bukti kejantanannya.







