LOGIN"Melihat angka pembaca mencapai 10K membuatku sangat bahagia! Sebagai penulis, dukungan berupa Gems bukan hanya soal angka, tapi bentuk apresiasi nyata yang membuatku semakin semangat menulis petualangan Jacob dan Jessie selanjutnya. Love you all! 💖"
Keesokan paginya, sinar matahari mulai menembus tirai ruang kerja Jacob. Pria itu sama sekali tidak memejamkan mata; ia menghabiskan malam dengan mempelajari setiap detail laporan korupsi Arya dan menyusun skenario penyelamatan Jessie.Saat Jacob sedang menyesap kopi hitamnya yang kedua, pintu ruang kerja diketuk pelan. Sosok Intan muncul di ambang pintu. Ia tidak lagi mengenakan gaun semalam yang berantakan. Ia kini memakai salah satu kemeja satin milik Jessie yang tertinggal di rumah itu, yang tampak sedikit kebesaran namun sengaja dibiarkan terbuka di bagian kerah, memberikan kesan rapuh sekaligus menggoda."Kak Jacob... maaf aku mengganggu," ucap Intan dengan suara yang dibuat selembut mungkin. Ia melangkah masuk dengan gerakan anggun, membawa nampan berisi sarapan ringan.Jacob hanya meliriknya datar. "Aku tidak menyuruhmu keluar dari kamar."Intan tidak berhenti. Ia meletakkan nampan itu di atas meja kerja Jacob, tepat di samping tumpukan dokumen. Ia membungkuk sedikit saat me
Setelah Intan dibawa oleh Andi menuju kamar yang telah disiapkan, Jacob segera beranjak menuju brankas pribadinya. Ia mengeluarkan kotak hitam milik mendiang ibu Jessie yang selama ini disimpan dengan aman setelah ia mengambilnya dari kamar Jessie.Dengan tangan yang stabil namun penuh penekanan, Jacob memasukkan kunci perunggu pemberian Intan ke dalam lubang kunci kotak tersebut. Terdengar bunyi klik yang tajam di keheningan ruang kerja itu. Tutup kotak terbuka, memperlihatkan tumpukan dokumen yang sudah mulai menguning dimakan usia, namun masih terbaca dengan jelas.Jacob mengambil lembar demi lembar dengan teliti. Matanya berkilat saat membaca kepala surat dokumen tersebut: "Laporan Investigasi Internal – Rahasia."Isinya adalah hasil penyelidikan mandiri yang dilakukan oleh ibu Jessie sebelum kematiannya. Dokumen itu merinci skema korupsi sistematis yang dilakukan oleh Arya Wijaya saat masih menjabat sebagai direktur operasional di Grup Wijaya. Arya tidak hanya mencuri dana per
Beberapa saat setelah percakapan Jacob dan Andi, pintu besar kediaman Jacob diketuk dengan pelan namun ragu. Saat seorang pelayan membukanya, sosok Intan berdiri di sana dengan wajah yang tampak sembab dan mata kemerahan. Penampilannya tidak seangkuh biasanya; ia terlihat rapuh, seolah baru saja melewati badai emosional yang hebat.Jacob yang sedang duduk di ruang tengah dengan segelas kopi pahit di tangannya, hanya melirik sekilas tanpa niat untuk berdiri. Aura di sekelilingnya masih sangat dingin dan tidak bersahabat."Tuan, ada Nona Intan di depan," lapor pelayan itu dengan ragu.Jacob terdiam sejenak, lalu meletakkan gelasnya dengan dentuman pelan. "Biarkan dia masuk."Intan melangkah masuk dengan bahu yang merosot. Begitu melihat Jacob, ia langsung tertunduk, tidak berani menatap mata tajam pria itu. "Kak Jacob..." suaranya terdengar serak, nyaris berbisik."Mau apa kamu ke sini?" tanya Jacob tanpa basa-basi. Suaranya datar, namun mengandung penolakan yang sangat jelas. "Bukanka
Mobil mewah milik Arya Wijaya melaju membelah kegelapan malam menuju kediaman utama keluarga Wijaya. Di dalam kabin yang kedap suara itu, suasana terasa sangat mencekam. Jessie duduk di kursi belakang, diapit ketat oleh Kinanti dan Intan. Ia merasa bukan lagi seperti seorang putri yang sedang pulang ke rumah ayahnya, melainkan seperti seorang tahanan yang sedang digiring menuju sel penjara."Hapus wajah menyedihkanmu itu, Jessie," ketus Kinanti sambil memperbaiki posisi duduknya dengan angkuh. Ia menatap Jessie dengan tatapan menghina. "Harusnya kamu bersyukur Papa masih mau membawamu pulang ke rumah ini. Kamu sudah mempermalukan nama besar Wijaya. Kalau bukan karena kebaikan hati Papa, kamu mungkin sudah dibuang sejak lama."Jessie tidak menyahut. Ia memilih untuk tetap diam, meskipun hatinya terasa sakit. Matanya menatap kosong ke arah luar jendela, menyaksikan deretan lampu jalanan yang berlalu dengan cepat. Jessie tidak menyahut. Ia memilih untuk tetap diam, meskipun hatinya t
"Aku punya lebih dari sekadar bukti, Arya. Aku punya saksi yang siap bicara jika aku menjentikkan jari," ucap Jacob dengan suara rendah yang menggetarkan ruangan. Ia melangkah maju, mempersempit jarak hingga Arya terpojok ke dinding. "Pilihannya sederhana. Biarkan Jessie kembali padaku."Jacob menatap Arya dengan mata yang berkilat tajam, memberikan tekanan mental yang luar biasa. "Atau... aku akan mengirimkan data korupsi Lakeside ini ke kejaksaan malam ini juga. Kamu tahu kan, Kakek Bambang Wijaya tidak akan segan-segan menendangmu dari Grup Wijaya jika dia tahu kamu mencuri aset mendiang putrinya sendiri?"Arya menelan ludah dengan susah payah. Kebenciannya pada Jacob kini kalah telak oleh rasa takut akan kehancuran total di depan matanya. Posisi, kekuasaan, dan nama baik yang ia bangun dengan cara kotor terancam runtuh dalam hitungan menit."Pilih, Arya. Waktumu sisa tiga menit," desis Jacob sambil melirik jam tangannya dengan ekspresi dingin.Hening sejenak. Namun, perlahan-laha
Pintu besar kediaman utama terbuka. Jacob melangkah masuk dengan tangan menggenggam erat jemari Jessie. Suasana di dalam ruangan itu begitu berat, seolah oksigen telah habis dihisap oleh ketegangan yang memuncak.Nenek Sari duduk tegak di kursi ruang keluarga. Matanya yang tajam menatap Jacob dan Jessie bergantian tanpa ekspresi marah yang meledak-ledak. Di sampingnya, kubu Hadi, Daniel, serta keluarga Wijaya berdiri dengan aura kemenangan yang sulit disembunyikan. Seolah menantikan eksekusi Jacob dan Jessie saat itu."Jacob, Jessie... duduklah," suara Nenek Sari terdengar sangat tenang, namun ketenangan itu justru terasa lebih mengancam daripada teriakan.Setelah keduanya duduk, Nenek Sari meletakkan ponsel yang menampilkan foto dokumen kontrak itu di atas meja marmer. "Aku tidak ingin mendengar fitnah atau bumbu-bumbu dari siapa pun. Aku hanya ingin bertanya padamu, Jacob. Apakah dokumen perjanjian pernikahan kontrak ini benar adanya?"Jacob menatap dokumen itu, lalu beralih menatap







