Masuk"Tidak, Nek, aku harus mengatakan ini agar semua orang di sini sadar," potong Daniel dengan nada yang semakin meninggi. Ia kini berdiri dari kursinya, berjalan memutari meja agar bisa berdiri lebih dekat di belakang Jacob.
"CEO Seven Heaven itu adalah sosok yang sangat misterius dan berkelas. Jangankan Jacob, aku saja yang merupakan Direktur di sini masih kesulitan menemuinya. Nenek memberikan tugas yang mustahil bagi Jacob. Ini sama saja dengan memberikan kesempatan pada seekor semut untuk menjatuhkan gajah. Jacob, kalau kamu punya rasa malu, sebaiknya kamu mengundurkan diri sekarang juga sebelum kamu mempermalukan nama Sanjaya lebih jauh lagi."
Daniel membungkuk sedikit ke arah telinga Jacob, berbisik namun cukup keras agar orang-orang di sekitarnya bisa mendengar. "K
Di sebuah restoran mewah yang telah dikosongkan secara khusus, Arya duduk dengan wajah tegang, sementara Jacob duduk di hadapannya dengan gestur yang sangat tenang, seolah sedang menikmati jamuan makan siang biasa.Arya menggebrak meja pelan, matanya nyalang penuh amarah yang tertahan. "Apa maksud semua ini, Jacob? Kenapa kamu membekukan semua aset dan akses komunikasiku? Kaju pikir aku sedang bercanda dengan ancamanku semalam?"Jacob tidak langsung menjawab. Ia mengambil gelas berisi air mineral, meminumnya sedikit, lalu meletakkannya kembali tanpa menimbulkan bunyi. Tatapannya datar, menembus langsung ke mata Arya yang mulai goyah."Anda pikir anda punya kuasa untuk mengancamku?" Jacob akhirnya bersuara. Tatapannya dingin, tidak berkedip sedikit pun. "Tindakan anda semalam adalah kesalahan terbesar dalam hidup anda."Arya mencoba kembali menggebrak meja, namun suaranya tercekat. "Kamu menyandera bisnisku! Lepaskan blokirnya sekarang, atau aku akan—""Akan apa?" potong Jacob tajam. "
Kecurigaan Hadi semakin menguat. Identitas CEO Seven Heaven dikenal sangat tertutup; tidak ada foto, tidak ada rekaman suara di media massa.Namun, satu hal yang pasti bagi Hadi: Jacob Sanjaya bukan lagi sekadar keponakan yang bisa ia remehkan. Ada kekuatan besar yang berdiri di belakang pria itu. Jika Jacob benar-benar memiliki koneksi dengan Seven Heaven, maka penyekapan Jessie di rumah Arya Wijaya saat ini adalah sumbu pendek yang bisa meledakkan bom waktu bagi mereka semua.Hadi memutuskan untuk menghubungi Arya Wijaya. Ia perlu memperingatkan pria itu agar berhati-hati. “Arya, awasi Jessie dengan ketat. Jangan biarkan dia berkomunikasi dengan siapa pun. Aku merasa Jacob sedang menyiapkan serangan balik.”Di sisi lain kota, di ruang kerjanya yang sunyi, Jacob sedang menatap monitor yang menampilkan aktivitas pelacakan ilegal yang baru saja dilakukan oleh informan Hadi. Jacob tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang sangat berbahaya.“Paman Hadi, kamu mulai mencium baunya?” u
Daniel tertegun sejenak, namun egonya tetap lebih besar. "Lalu kenapa? Kita punya Sanjaya! Kita punya Wijaya! Jika kita bersatu, Seven Heaven pun tidak akan bisa berkutik.""Anda sangat naif," potong Pak Bramantyo sambil menggelengkan kepala. "Tiga puluh menit yang lalu, dua mitra bisnis saya di Singapura memutus kontrak kerja sama secara sepihak hanya karena saya kedapatan menerima panggilan telepon dari Anda. Seven Heaven bukan sekadar perusahaan biasa. Seven Heaven adalah puncak dunia bisnis saat ini. Jika CEO-nya bilang 'hancur', maka besok pagi saya akan jatuh miskin."Daniel terbelalak. Keringat dingin mulai merembes di balik jas mahalnya. "Tapi... kenapa CEO itu peduli dengan proyek kecil seperti Lakeside? Dan kenapa dia seolah sedang menyerang Sanjaya?""Itu yang harus Anda cari tahu sendiri, barangkali anda atau Grup Sanjaya pernah membuat CEO itu tersinggung." Pak Bramantyo berdiri dan merapikan jasnya dengan terburu-buru. "Saran saya, berhentilah mencari investor. Tidak a
Pasca kekacauan terbongkarnya pernikahan kontrak antara Jacob dan Jessie, di kediaman utama keluarga Sanjaya, suasana masih terasa tegang. Daniel melihat ini sebagai peluang emas untuk menyingkirkan bayang-bayang Jacob selamanya. Ia harus membuktikan pada Nenek Sari bahwa tanpa Jacob pun, ia bisa menjadi pilar utama Grup Sanjaya.Daniel melangkah masuk ke kamar Nenek Sari dengan langkah yang dibuat sangat percaya diri. Di tangannya, ia memegang sebuah proposal tebal yang sudah ia siapkan semalaman dengan bantuan Hadi."Nenek, aku tahu situasi semalam sangat memalukan bagi keluarga kita karena ulah Jacob," buka Daniel sambil meletakkan dokumen itu di meja kerja Nenek Sari. "Tapi sebagai calon pewaris, aku tidak bisa membiarkan proyek Lakeside terbengkalai hanya karena masalah kontrak pernikahan itu."Nenek Sari yang sedang memijat pelipisnya menatap Daniel dengan mata lelah namun tetap tajam. "Lalu apa maumu, Daniel?""Aku sudah menghubungi beberapa kolega lama Papa, investor dari
Keesokan paginya, sinar matahari mulai menembus tirai ruang kerja Jacob. Pria itu sama sekali tidak memejamkan mata; ia menghabiskan malam dengan mempelajari setiap detail laporan korupsi Arya dan menyusun skenario penyelamatan Jessie.Saat Jacob sedang menyesap kopi hitamnya yang kedua, pintu ruang kerja diketuk pelan. Sosok Intan muncul di ambang pintu. Ia tidak lagi mengenakan gaun semalam yang berantakan. Ia kini memakai salah satu kemeja satin milik Jessie yang tertinggal di rumah itu, yang tampak sedikit kebesaran namun sengaja dibiarkan terbuka di bagian kerah, memberikan kesan rapuh sekaligus menggoda."Kak Jacob... maaf aku mengganggu," ucap Intan dengan suara yang dibuat selembut mungkin. Ia melangkah masuk dengan gerakan anggun, membawa nampan berisi sarapan ringan.Jacob hanya meliriknya datar. "Aku tidak menyuruhmu keluar dari kamar."Intan tidak berhenti. Ia meletakkan nampan itu di atas meja kerja Jacob, tepat di samping tumpukan dokumen. Ia membungkuk sedikit saat me
Setelah Intan dibawa oleh Andi menuju kamar yang telah disiapkan, Jacob segera beranjak menuju brankas pribadinya. Ia mengeluarkan kotak hitam milik mendiang ibu Jessie yang selama ini disimpan dengan aman setelah ia mengambilnya dari kamar Jessie.Dengan tangan yang stabil namun penuh penekanan, Jacob memasukkan kunci perunggu pemberian Intan ke dalam lubang kunci kotak tersebut. Terdengar bunyi klik yang tajam di keheningan ruang kerja itu. Tutup kotak terbuka, memperlihatkan tumpukan dokumen yang sudah mulai menguning dimakan usia, namun masih terbaca dengan jelas.Jacob mengambil lembar demi lembar dengan teliti. Matanya berkilat saat membaca kepala surat dokumen tersebut: "Laporan Investigasi Internal – Rahasia."Isinya adalah hasil penyelidikan mandiri yang dilakukan oleh ibu Jessie sebelum kematiannya. Dokumen itu merinci skema korupsi sistematis yang dilakukan oleh Arya Wijaya saat masih menjabat sebagai direktur operasional di Grup Wijaya. Arya tidak hanya mencuri dana per







