Masuk
“Aku rasa ini bukan ide yang bagus, Daniel.” Jessie berdiri kaku di tengah kamar hotel mewah itu. Cahaya temaram lilin aromaterapi memantul di dinding marmer, menciptakan suasana intim yang justru membuat perutnya mual.
“Ayolah, Jess.” Daniel meraih tangan Jessie, jemarinya menggenggam lembut tetapi terasa memaksa. “Kita hanya butuh waktu berdua sebelum besok. Tanpa keluarga, tanpa teman-temanmu yang cerewet itu.”
Jessie menelan ludah. Ia selalu tahu bahwa pernikahan ini hanyalah kesepakatan dua keluarga. Ayahnya mengejar kekayaan keluarga Sanjaya, sementara ia hanya ingin lepas dari rumah, dari ibu tiri yang selalu meremehkannya, dari tekanan keluarga yang tak pernah peduli pada dirinya.
Tapi berada di kamar hotel seperti ini, malam sebelum pernikahan, tetap terasa salah.
Jessie mengedarkan pandangan. Ranjang besar, tirai tebal, anggur merah di meja, dan lilin-lilin wangi… semuanya seperti terlalu ‘disiapkan’.
“Kita bisa bicara di lobi, atau di restoran,” ucap Jessie lirih. “Kenapa harus di sini?”
Daniel terkekeh, nada tawanya ringan tapi matanya dingin. “Kamu terlalu tegang. Sedikit minum tidak akan membuatmu kehilangan kendali, kan?” Ia mengangkat dua gelas sampanye. Jessie ragu.
Tapi sebelum ia sempat menolak, Daniel sudah menyodorkan gelas ke bibirnya, seolah mendorongnya agar minum.
“Untuk masa depan kita,” ujar Daniel sambil tersenyum.
Jessie mengangkat gelas hanya untuk menghargai. Cairan itu hangat ketika melewati tenggorokan, namun rasa getir samar membuat alisnya terangkat. Aneh. Sampanye biasanya tidak seperti itu.
Ia baru meneguk sedikit, tetapi pandangannya langsung berputar. “Aku... kenapa rasanya—”
Dunia mulai memudar di sekelilingnya.
“Daniel… apa yang kamu—”
Kalimatnya terputus. Jantungnya berdetak terlalu cepat. Napasnya memburu. Tubuhnya panas seperti sedang demam tinggi.
Dalam penglihatan yang mulai kabur, bayangan Daniel bergerak ke arah pintu. Jessie melihatnya samar berbicara dengan seseorang di luar kamar.
Satu kalimat dari Daniel samar terdengar di telinganya.
“…tiduri wanita itu…”
“Apa…?” Jessie mencoba menangkap arti kalimat itu. Tapi kepalanya berat, matanya menutup dengan sendirinya, dan ia jatuh ke ranjang tanpa daya.
Entah berapa lama ia tertidur. Ia hanya ingat tubuhnya terasa… aneh. Panas merayap dari ujung kaki sampai punggungnya. Nafasnya pendek. Kulitnya sensitif terhadap udara yang menyentuh.
Jessie menggeliat, meraih tepi selimut. “Daniel…?” panggilnya lemah.
Tidak ada jawaban dari pria itu.
Yang ada justru… seseorang lain.
Siluet seorang pria tinggi berdiri tak jauh dari ranjang. Jessie memaksa matanya membuka lebih lebar. Ia ingin berteriak, tapi tubuhnya seperti tidak mau bekerja sama.
“Siapa…” Jessie menarik napas keras, dada naik turun tak teratur. “Apa yang… kamu lakukan di sini?”
Pria itu tampak terkejut melihat kondisinya. Matanya menajam, kemudian melirik gelas-gelas sampanye di meja. “Nona, kamu... apa kamu sadar apa yang kamu minum?”
Jessie tidak bisa menjawab. Otaknya kabur. Tubuhnya panas. Pikirannya berkata ia harus menjauh, tapi tubuhnya justru bergerak mendekat.
“Tol—tolong…” suaranya pecah, antara sadar dan tidak.
Pria itu tampak ragu. Tangan besarnya terulur hanya untuk memastikan Jessie tidak terjatuh. “Kamu tidak baik-baik saja. Duduk dulu.”
Namun ketika ia mencoba menjauh, Jessie malah meraih kerah kemejanya dan menarik pria itu ke arahnya.
Bibirnya menyentuh bibir pria itu.
Mata pria itu terbelalak. Ia tampak berniat mundur, tetapi Jessie sudah lebih dulu terseret oleh sensasi aneh yang membakar tubuhnya. Semua terasa berat dan panas, dan Jessie tidak punya kendali atas dirinya sendiri.
Yang terakhir ia ingat hanyalah tangan pria itu yang menahan pinggangnya agar ia tidak tumbang, lalu gelap.
Cahaya pagi yang tajam membangunkan Jessie.
Kepala berdenyut, tubuh terasa lelah dan… sakit di beberapa titik. Ia meraba ranjang, dan tubuhnya membeku.
Kulitnya menyentuh seprai langsung.
Tidak ada kain.
Tidak ada pakaian.
“Tidak… tidak…” Jessie menoleh panik. Sisi ranjang kosong, tapi suara pancuran air terdengar dari kamar mandi.
Ketika pintu terbuka, uap hangat keluar bersama sosok pria tinggi berhanduk. Rambutnya basah, menetes, dan garis luka memanjang di rusuk kirinya terlihat jelas.
Dia bukan Daniel.
“Siapa kamu!?” teriak Jessie dengan suara serak. “Apa yang kamu lakukan di sini?!”
Pria itu berhenti, menatapnya dengan ekspresi rumit.
“Semalam… kamu yang menarikku,” katanya pelan.
Jessie merasa wajahnya panas, antara malu, marah, dan takut. “Tolong jangan bercanda! Lihat cincin di jariku! Aku ini wanita yang akan segera menikah.”
Pria itu tidak membalas, hanya melirik gelas sampanye di meja. “Minumanmu dicampur obat. Bukan efek alkohol.”
Jantung Jessie mencelos. Samar-samar ia mengingat panas yang menyiksa tubuhnya semalam.
Berarti…
“Kamu bekerja sama dengan Daniel!?” tuduh Jessie gemetar.
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya mengambil kemejanya, mengenakannya perlahan, lalu melangkah ke pintu.
“Jawab aku!” Jessie berteriak, suara pecah.
Pria itu berhenti, menoleh sedikit—namun tetap tanpa kata—lalu pergi.
Pintu tertutup dengan bunyi pelan, meninggalkan Jessie sendirian bersama seprai kusut dan tubuh yang terasa asing.
Getaran ponsel di meja membuatnya terlonjak.
Pesan dari Daniel.
[Kamu tidur nyenyak, calon pengantinku?
Aku lihat ada lelaki keluar dari kamar hotelmu pagi ini. Siapa dia?]Jessie menatap layar ponsel dengan tangan bergetar. Dunia seakan runtuh di sekelilingnya.
Dalam bisikan nyaris tak terdengar, ia berkata,
“Daniel… apa yang sebenarnya kamu rencanakan padaku? Kamu menjebakku…?”
Jacob berdiri dari kursinya, tubuhnya tegak dan kaku. "Katakan.""Hasilnya negatif, Tuan. Daniel Sanjaya sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengan Hadi Sanjaya. Secara biologis, Daniel bukan anak kandung paman Anda," lapor Andi dengan lugas.Jessie menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak tidak percaya. "Bukan anak kandung? Lalu selama ini..."Jacob tertegun di tempatnya. Ia tidak menunjukkan keterkejutan yang meledak, namun matanya yang menyipit menandakan otaknya sedang bekerja dengan kecepatan penuh. Ia kembali teringat hasil audit yang baru saja ia baca. Daniel adalah satu-satunya orang yang meninggalkan jejak dalam penggelapan dana. Daniel yang menandatangani semua dokumennya. Daniel yang melakukan pencucian uang. Sementara Hadi, entah bagaimana, tetap terlihat bersih di atas kertas.Semua bukti yang sudah mereka audit terasa janggal. Terlalu rapi. Sedangkan Hadi Sanjaya terlalu bersih.Sebuah tawa dingin dan hambar keluar dari mulut Jacob. Ia kembali duduk, n
Sinar matahari pagi menembus celah gorden ruang makan, memantul di atas meja kaca yang sudah tertata rapi dengan dua piring nasi goreng dan jus jeruk segar. Aroma kopi yang baru diseduh memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang jauh lebih tenang dibandingkan kekacauan semalam. Jacob duduk dengan kemeja hitam yang lengannya sudah digulung rapi, sementara Jessie duduk di hadapannya sambil sesekali menyuapkan makanan ke mulutnya."Kamu terlihat jauh lebih segar pagi ini," ucap Jacob sambil meletakkan cangkir kopinya."Mandi air hangat dan tidur tanpa gangguan benar-benar membantu," jawab Jessie. Ia menatap Jacob dengan lekat. "Bagaimana denganmu? Kamu sudah bangun sebelum aku tadi."Jacob baru saja akan menjawab saat suara bel pintu depan terdengar. Tidak lama kemudian, Bu Ratih, pelayan senior menghampiri mereka di meja makan dengan ekspresi formal."Tuan Jacob, Pak Andi sudah datang. Beliau menunggu di ruang tamu," lapor Bu ratih sambil menunduk.Jacob melirik jam tangan di pergela
"Kenapa kamu tidak makan?" tanya Jessie saat menyadari Jacob lebih banyak memperhatikannya."Melihatmu makan dengan lahap sudah membuatku merasa lebih baik," jawab Jacob lugas. Ia memotong sepotong steak dan meletakkannya di piring Jessie. "Makanlah. Kita sudah melewati banyak hal berat hari ini."Jessie mengangguk patuh. Ia menikmati setiap suapan makanan itu, merasakan energi kembali mengisi tubuhnya. Setelah selesai makan, Jacob membayar tagihan dan menuntun Jessie kembali ke mobil. Udara malam kini terasa lebih segar, hujan sudah benar-benar berhenti meninggalkan aspal yang mengilap tertimpa lampu kota."Siap untuk babak terakhir malam ini?" tanya Jacob saat mereka sudah berada di dalam mobil kembali.Jessie menarik napas panjang, menatap flashdisk perak yang dipegang Jacob. "Sangat siap. Mari kita berikan apa yang seharusnya Daniel dapatkan."Jacob menghidupkan mesin mobil, namun tangannya tidak segera memindahkan tuas persneling. Ia terdiam sejenak sambil menatap lurus ke de
Mobil yang dikendarai Andi melambat saat mendekati sebuah area ruko yang sepi dan remang-remang. Hujan masih turun meski tidak sederas sebelumnya, menyisakan suara ketukan ritmis di atas kap mobil. Dari arah kegelapan, sebuah mobil sedan perak milik Jacob yang dikendarai oleh salah satu anak buahnya bergerak mendekat.Jacob turun lebih dulu, memayungi Jessie yang melangkah keluar dari kursi belakang. Anak buah Jacob segera menyerahkan kunci mobil dengan gerakan sigap sebelum masuk ke dalam mobil Andi untuk melanjutkan tugas mengawal Cindy. Jacob memberikan anggukan singkat kepada Andi sebagai instruksi terakhir sebelum mobil hitam itu melesat pergi meninggalkan mereka."Ayo masuk, Jess," ucap Jacob sambil membukakan pintu untuk istrinya.Di dalam mobil mereka, keheningan menyergap. Suasana terasa sangat berbeda setelah ketegangan yang nyaris merenggut nyawa mereka beberapa saat lalu. Jacob menyalakan pemanas ruangan untuk mengusir hawa dingin yang mereka rasakan. Ia baru saja ak
Mereka bertiga melangkah cepat melewati meja bar. Pria tua penjaga kafe itu hanya melirik sekilas tanpa bertanya. Begitu mereka masuk ke area dapur yang sempit dan berbau bumbu masakan, Jacob mendorong pintu darurat yang terbuat dari besi.Udara dingin dan air hujan langsung membasahi wajah mereka. Mereka berada di sebuah gang sempit yang gelap. Di ujung gang, sebuah mobil milik Andi sudah menunggu dengan pintu terbuka."Masuk! Cepat!" seru Andi yang berdiri di samping mobil sambil memegang senjata di balik jaketnya.Tepat saat Cindy hendak masuk ke mobil, suara deru motor terdengar keras dari mulut gang. Dua orang bermotor mencoba merangsek masuk ke dalam gang sempit itu. Lampu depan motor mereka yang sangat terang menyilaukan pandangan."Tuan Jacob, masuk ke dalam!" teriak Andi.Andi dan satu orang anak buahnya bergerak maju, menghalangi akses masuk motor tersebut. Jacob mendorong Jessie dan Cindy masuk ke kursi belakang, lalu ia sendiri melompat masuk ke kursi depan di samping
Hujan rintik mulai membasahi kaca jendela kafe tua di sudut tersembunyi Kota malam itu. Jacob memarkir mobilnya agak jauh dari pintu masuk, memilih area yang tidak terjangkau langsung oleh sorot lampu jalan. Ia tidak segera mematikan mesin mobilnya. Matanya memindai sekitar, memastikan tidak ada kendaraan yang membuntuti mereka sejak dari rumah sakit."Kamu yakin dia akan datang?" tanya Jessie sambil melepaskan sabuk pengamannya.Jacob mengangguk pelan. "Dia tidak punya pilihan lain. Cindy tahu Daniel akan menjadikannya tumbal jika polisi mulai bergerak. Satu-satunya pelindungnya adalah kita."Mereka turun dari mobil. Udara malam yang lembap dan dingin segera menyergap kulit. Jacob menggandeng tangan Jessie, menuntunnya masuk ke dalam kafe yang remang-remang. Suara lonceng di atas pintu berdenting pelan saat mereka masuk. Aroma biji kopi terpanggang dan kayu tua memenuhi indra penciuman. Kafe ini hampir kosong, hanya ada seorang pria tua yang sibuk mengelap gelas di balik meja ba







