Mag-log inPria itu kemudian kembali melangkah mendahului Jessie. Tangannya mendorong pintu yang sudah setengah terbuka. Jacob lebih dahulu masuk dan Jessie mengkorinya langkahnya.
Sepertinya benar ini ruang kerja Jacob. Ada meja kayu yang mewah dan kursi kulit yang berwarna senada. Jendela yang menjulang juga memberikan kesan luas di ruangan ini. Di langit-langitnya terdapat lampu yang menggantung mewah. Jessie terpaku lagi.
Tanpa suara, Jacob berjalan menuju kursi di balik meja kerjanya, kemudian duduk di sana.
“Aku ingin kamu menandatangani kontrak ini,” Jacob menyodorkan sebuah kertas putih ke arah Jessie, yang sedari tadi tergeletak di atas meja.
Di tengah kertas ada huruf dicetak tebal berbunyi ‘kontrak pernikahan’. Jessie memandangi lembaran itu lantas mengerutkan dahi. Kontrak pernikahan…?
Belum sempat Jessie menjawab, Jacob berujar lagi.
“Aku akan menafkahimu, juga bertanggung jawab dan membiayaimu apabila kamu mengandung. Aku akan menjadi suami yang bertanggung jawab, asalkan…,” Jacob menunjuk-nunjuk sebuah klausul di atas kontrak itu, seolah menekankan bahwa peraturan itu yang paling penting. “Kita tidak saling mencampuri urusan masing-masing.”
Jessie menatap kontrak itu. Ia pikir ini adalah rencana lain keluarga Sanjaya. Ia tahu bagaimana keluarga Sanjaya begitu berpengaruh, maka bukan tidak mungkin jika Jacob sama liciknya dengan Daniel. Jessie tidak akan terjebak untuk kedua kalinya!
“Tidak,” jawab Jessie mantap sementara matanya masih memindai tulisan-tulisan di atas kertas tersebut.
“Jessie…” suara Jacob rendah mengusik lamunan Jessie. “Hubunganmu dengan keluargamu tidak baik, bukan?”
Jessie mengerjap. Dari mana pria ini tahu!? Kedua alisnya kini bertautan. “A.. apa? Tau apa kamu tentang keluargaku?”
Jacob menegakkan tubuhnya. Senyum tipis kembali muncul di bibirnya. “Aku tidak sengaja lewat,” ujarnya pendek. “Kamu ingin lepas dari keluargamu, ‘kan?”
Jessie mematung mendengarnya. Dari mana Jacob menarik kesimpulan seperti itu? Meski dalam hati Jessie menjawab iya, tetapi Jessie masih berpikir bahwa ini adalah akal-akalan keluarga Sanjaya lagi.
“Tidak juga. Aku … sudah terbiasa. Jadi, tidak masalah. Kau tidak perlu repot-repot. Jadi-”
“Malam itu, di hotel,” Jacob memotongnya, ia bicara tanpa ekspresi, “aku tidak memakai pengaman.”
Jessie mengerjap.
“Malam itu…?”
Jacob memotong lagi, matanya tajam menatap Jessie. “Menurutmu apa yang mungkin bisa terjadi?”
Tubuh Jessie mendadak kaku. Tidak menggunakan pengaman malam itu? Jadi, ia bisa hamil…!? Dari pria yang tak dikenalnya dan juga seseorang yang terasingkan? Napas Jessie tercekat.
Jessie langsung memalingkan pandangannya ke atas kertas kontrak tersebut. Ah, ia mengerti sekarang.
Jika ia benar hamil nanti dan menolak tawaran Jacob, apa itu berarti anaknya akan hidup tanpa seorang ayah? Nasib anaknya akan merana, mirip sepertinya sekarang. Lalu bagaimana nasibnya sendiri nanti? Ia sudah merelakan pilihan pasangannya, apa masa depannya harus dikorbankan juga?
Jessie mulai berpikir macam-macam. Ia menutup mata, berusaha mengambil keputusan meski dalam hatinya, Jessie tahu, tak banyak pilihan yang ia punya di depan mata.
Gundahnya buyar ketika telinga Jessie mendengar ketukan jari di atas meja. Jari Jacob menari di atas kertas kontrak itu, seolah menunggu jawaban Jessie yang tak kunjung datang.
“Kalau kau menandatangani kontrak ini, jelas aku akan bertanggung jawab,” jelas Jacob lagi. “Aku juga dapat membantumu menghadapi keluargamu.”
Jika dengan bersama Jacob akan membuatnya mudah pergi dari keluarga yang membuatnya sakit hati, sebuah rasa sakit yang selalu ia simpan rapat-rapat ini, maka tidak ada salahnya mencoba. Kehamilan yang mungkin terjadi pun tidak akan membebaninya, setidaknya ada kontrak yang mengikat tanggung jawab dari pria ini.
Apabila ini merupakan jebakan lain, toh, Jessie adalah wanita yang pintar. Ia akan mencari jalan keluar jika semuanya memburuk.
“Baik,” kata Jessie pada akhirnya. Jawaban itu penuh keyakinan. “Aku akan menandatangani kontrak ini.
Jacob menatapnya beberapa detik, lalu menyodorkan pena kepada Jessie. Tidak ada waktu itu menarik ucapannya, pena sudah digenggam di tangan, menunggu untuk bergulir di atas kertas.
Jessie menarik napas panjang sebelum membubuhkan tanda tangannya.
Sekarang ada hitam di atas putih.
Jessie masih terpaku di tempatnya ketika Jacob menarik kertas berisi kontrak itu. Ia simpan rapat-rapat di dalam map, lalu membawanya pergi.
“Ikut aku, Jessie. Akan aku tunjukkan kamar tidurmu,” pinta Jacob.
Jessie seolah tersihir oleh tiap kata-kata Jacob. Maka, Jessie mengekorinya sambil masih menimbang-nimbang keputusannya tadi.
Keduanya berakhir di depan pintu kamar dengan gagang yang terlihat mewah. Jacob membukanya. Pria itu tidak berkata apa-apa, hanya berdiri di ambang pintu, menunggu Jessie masuk.
Merasa dipersilakan, Jessie pada akhirnya masuk ke dalam kamar. Interiornya tak berbeda jauh dengan yang ada di luar. Jessie pun duduk dengan sedikit kikuk di atas ranjang.
“Kamar ini menjadi milikmu sekarang.”
Jessie mengangguk. “Terima kasih.”
Jacob tidak menjawab lagi. Ia hanya memindai kamar itu dengan tatapannya yang tajam, kemudian berpaling.
“Mulai besok, kau bukan lagi bagian dari keluarga Wijaya. Ingat itu, Jessie.” kata Jacob sebelum menutup pintu kamar.
Jessie tertegun mendengarnya. Apa lagi maksud pria itu?
Malam itu, setelah Jessie terlelap lebih dulu karena kelelahan pindah kamar, Jacob duduk di ruang kerjanya yang hanya diterangi lampu meja temaram. Ponselnya bergetar di atas meja kayu jati yang kokoh. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Andi, tangan kanannya yang paling tepercaya.Andi: "Tuan, saya baru saja mengirimkan file video dari lokasi proyek Lakeside."Jacob mengklik file video tersebut. Layar ponselnya menampilkan rekaman berkualitas tinggi yang diambil secara sembunyi-sembunyi dari jarak aman. Di sana, ia melihat Daniel dengan pakaian mahalnya berdiri di depan kerumunan warga yang tampak lusuh dan putus asa.Suara Daniel terdengar sangat jernih dalam rekaman itu: "Setiap menit kalian berdiri di sini, kalian menghambat pembangunan aset Sanjaya yang nilainya ribuan kali lipat dari harga diri kalian!"Melihat Daniel yang memerintahkan pengawalnya untuk bertindak kasar pada warga, sudut bibir Jacob terangkat. Matanya yang gelap berkilat puas. Daniel baru saja melakukan kesalah
Pagi itu, matahari bersinar terik di lokasi proyek Lakeside, tempat yang menjadi penentuan nasib posisi Daniel di Grup Sanjaya. Daniel turun dari mobilnya dengan kacamata hitam bertengger di hidung, didampingi oleh beberapa pengawal dan asisten pribadinya. Ia berjalan dengan langkah angkuh, seolah setiap jengkal tanah yang ia injak sudah sepenuhnya tunduk di bawah kekuasaannya.Namun, pemandangan di depan gerbang utama proyek tidak seperti yang ia bayangkan. Alih-alih para pekerja yang sibuk, ia justru disambut oleh kerumunan warga yang membawa spanduk-spanduk lusuh namun penuh amarah."Bayar hak kami! Jangan rampas tanah warisan kami!" teriak salah seorang warga yang berdiri paling depan.Daniel menghentikan langkahnya, raut wajahnya berubah seketika menjadi dingin dan merendahkan. Ia melepas kacamata hitamnya dengan gerakan dramatis."Apa-apaan ini?" tanya Daniel pada mandor proyek yang menghampirinya dengan wajah pucat. "Kenapa orang-orang kumuh ini ada di lokasi proyekku? Usir m
Sementara itu, beberapa saat setelah Daniel meninggalkannya kembali sendirian, Jessie melangkah keluar dari lobi kantor dengan bahu yang tampak tegang. Kata-kata Daniel masih terngiang di telinganya seperti kaset rusak yang memuakkan. Ia merasa udara di dalam gedung itu tiba-tiba menjadi sangat sesak. Namun, begitu matanya menatap ke arah gerbang depan, napasnya perlahan mulai teratur.Di sana, bersandar pada pintu mobil sedan hitam mewah yang mengkilap di bawah lampu jalan, Jacob berdiri menunggunya. Sosoknya yang jangkung dan tenang memberikan kontras tajam dengan hiruk pikuk kota. Mata Jacob langsung tertuju pada pintu keluar, seolah ia memang sudah menghitung detik kepulangan istrinya.Jacob segera menegakkan tubuh saat melihat Jessie mendekat. Ia tidak perlu menjadi ahli ekspresi untuk menyadari ada yang salah. Sudut bibir Jessie yang kaku dan binar matanya yang redup sudah cukup menjadi jawaban bagi Jacob.Tanpa bertanya sepatah kata pun di depan umum, Jacob membukakan pintu
Daniel tiba-tiba mengulurkan tangan, mencoba menyentuh ujung rambut Jessie, namun Jessie segera menghindar. Mata Daniel berkilat penuh obsesi yang membuat Jessie merinding."Jess, kita sudah bersama bertahun-tahun, bahkan kita adalah teman masa kecil, bukan?” ucap Daniel dengan nada halus yang sangat dibuat-buat. “Aku tahu tatapan matamu. Jacob mungkin punya uang, entah dari mana dia mendapatkannya, tapi dia tidak punya kenangan bersamamu sepertiku. Kamu masih menyukaiku, kan? Kamu belum bisa melupakanku, itulah sebabnya kamu selalu menyerangku dan Cindy."Daniel merendahkan suaranya, mencoba terdengar menggoda namun justru terasa licik bagi Jessie. "Jacob hanyalah pelarian karena kamu merasa aku menyakitimu. Tapi kamu tahu, aku bisa saja kembali padamu jika kamu berhenti bersikap keras kepala.” “Katakan pada Jacob untuk berhenti mencampuri urusanku di Sanjaya, dan aku mungkin akan mempertimbangkan untuk membawamu kembali ke sisiku." imbuhnya mengakhiri ucapannya.Jessie menatap Dani
Pagi itu, suasana di depan kantor redaksi mendadak riuh. Sebuah mobil sedan hitam mewah dengan kaca film yang sangat gelap berhenti tepat di depan lobi utama. Kehadiran mobil itu menarik perhatian semua orang karena harganya yang fantastis dan plat nomornya yang menunjukkan status kelas atas.Cindy, yang baru saja turun dari mobil Daniel yang tampak "biasa" dibandingkan mobil itu, menyipitkan mata. Ia berdiri di lobi dengan tangan bersedekap, menatap sinis."Siapa lagi itu? Sombong sekali parkir tepat di depan pintu," gumam Cindy dengan nada iri yang kental.Pintu penumpang terbuka, dan Jessie melangkah keluar. Ia tampak sangat segar dan penuh percaya diri. Jessie sempat berbalik ke arah jendela mobil yang masih tertutup rapat, melambaikan tangan kecil sambil tersenyum manis, sebelum mobil itu perlahan melaju pergi.Cindy mendengus keras dan langsung mencegat Jessie begitu langkah kakinya menyentuh lantai lobi."Wah, wah... hebat sekali ya seleramu, Jessie," cetus Cindy dengan nada
BAB 147Setelah ketegangan yang menguras emosi di ruang rapat Gedung Pusat Grup Sanjaya tadi siang, Jacob menjemput Jessie saat jam pulang kantor. Jacob tidak langsung membawa istrinya pulang. Ia membawa Jessie ke sebuah restoran rooftop yang sudah ia pesan secara privat untuk makan malam. Dan kini, mereka tengah duduk di sebuah restoran mewah yang hanya mereka berdua pelanggan yang datang malam ini.Restoran itu terletak di puncak salah satu gedung tertinggi, menyuguhkan pemandangan lampu kota yang berkilauan seperti hamparan berlian di bawah langit malam yang cerah.Pelayan mengantar mereka ke meja yang terletak di sudut paling ikonik, dihiasi dengan lilin-lilin kecil yang menciptakan suasana hangat dan intim."Aku tidak menyangka kita akan makan malam di tempat seperti ini setelah 'perang' tadi pagi," ucap Jessie sambil meletakkan tasnya, matanya berbinar menatap keindahan kota dari ketinggian.Jacob duduk di hadapan Jessie, melonggarkan sedikit dasinya, tindakan yang membuatnya t







