Share

Bab 3.

Penulis: Ellailaist
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-20 09:11:37

Belum sempat Jessie menyelesaikan ucapannya, bibir Jacob sudah menempel pada miliknya.

Pria itu membelah bibir merah muda Jessie dengan lembut, kemudian melumatnya. 

Jessie menarik napasnya, kaget dengan ciuman Jacob. Namun, kagetnya tidak menghentikan pria itu dalam menjamu bibir Jessie. Lama-kelamaan, Jessie seperti hanyut dalam ciumannya, ia membalas ciuman itu perlahan. Seperti mendapat lampu hijau, Jacob melumat bibir Jessie lebih dalam. Deru napas mereka terasa panas di wajah.

Baru setelah Jessie kehabisan napas, pria itu menarik diri. Lalu tersenyum miring melihat wajah Jessie yang memerah.

Pria ini!

Sempat terpikir oleh Jessie bahwa Jacob pasti hanya akan mengecupnya singkat, sekadar bermain peran. 

Ternyata Jessie salah besar. 

Tangan Jacob masih berada di atas pinggang Jessie, ketika suara sang pendeta yang mengumumkan deklarasi memecah hening kembali. “Atas kuasaNya, saya nyatakan Jacob Sanjaya dan Jessie Wijaya sebagai sepasang suami istri.”

Samar-samar Jessie dengar tepuk tangan yang terdengar palsu di seluruh ruang. Entahlah, isi pikirannya belum selesai atas ciuman yang baru diterimanya tadi. 

Jessie hanya mampu menunduk, menyembunyikan wajahnya.

Setelah apa yang dirasa Jessie sebagai berjam-jam lamanya, keduanya turun dari altar dan mulai menyaksikan tamu-tamu yang mulai pulang. Meski begitu, Jessie masih belum mendapat kata selamat barang satu pun dari keluarganya.

Sampai akhirnya ketika ballroom sudah setengah kosong, Jessie berlalu, bergerak ke salah satu sudut ruang untuk sekadar mengistirahatkan pikiran dari hal-hal yang terjadi. Namun, belum sempat Jessie mengambil waktu sendiri, ia sudah disambut dengan tatapan tajam ayahnya. Pria tua itu melangkah menghampiri.

“Jessie,” panggil Arya Wibowo, suaranya datar.

Jessie menoleh. “Iya, Ayah.”

Arya Wibowo mendekat, berbicara dengan suara kecil, seolah takut ada yang mendengarnya. “Dengar, kamu sekarang sudah menikahi cucu keluarga Sanjaya, kamu paham apa yang harus dilakukan, bukan?”

Jessie menatap ayahnya dengan mata kosong. Malas. Ia tahu maksud dan tujuan ayahnya. “Ayah, aku hanya-”

“Jessie, kamu harus bisa memanfaatkan kesempatan ini,” potong ayahnya. “Kuras harta keluarganya! Dengan begitu kita akan menjadi kaya raya.”

“Ayah … bahkan Jacob Sanjaya-”

“Berpikir, Jessie, ayolah!” Jessie seolah tidak diberi kesempatan bicara. Ayahnya selalu menyelak. “Kalau Jacob Sanjaya memang cucu terbuang, kamu bisa cari simpati ke anggota keluarga lain. Rebut hatinya!”

“Ayah…,” Jessie menghela napasnya. “Aku sudah menurutimu, menikah dengan pria yang bukan pilihanku. Setelah ini, aku tidak ingin ikut campur dengan urusan pribadi ayah terhadap pernikahan ini.”

“Jangan kurang ajar, Jessie,” Arya Wibowo menatapnya lagi. “Ini semua demi kebaikanmu!”

“Kebaikanku atau keserakahanmu, Ayah?”

Wajah Arya Wibowo mengeras. Ia mematung di sana sementara Jessie berbalik, meninggalkannya tanpa menoleh. Gaun putihnya menyeret lantai marmer, menyisakan gema langkah yang pelan namun tegas.

Ia tidak tahu, di ruangan sebelah, seseorang mendengarkan percakapan itu sejak awal, tanpa bersuara, tanpa bergerak.

Jacob Sanjaya berdiri di balik dinding kayu mahoni, mendengarkan setiap kata. Wajahnya tidak menunjukkan apa pun, hanya sorot mata yang sedikit mendalam saat nama “laki-laki buangan” itu keluar dari mulut Kinanti.

Tangannya yang memegang gelas air sempat berhenti di udara, lalu perlahan diletakkan di atas meja.

“Ayo, Jessie?” Suara berat itu mengejutkan Jessie dan membuatnya terlonjak pelan.

Ia menoleh perlahan dan di sana, berdiri pria yang baru saja sah menjadi suaminya. Jacob, dengan jas hitamnya yang masih rapi, dasi yang tidak longgar, dan pandangan mata yang tidak bisa ditebak.

Jessie menelan ludah. “Ke mana?”

Jacob tidak menjawab. Ia hanya berjalan lebih dulu, langkahnya mantap, sementara Jessie mengikutinya. Tak ada tangan yang ditawarkan, tak ada senyum, tak ada basa-basi.

Mereka keluar dari ballroom, menuruni tangga marmer yang kini sunyi. Lampu-lampu kristal di langit-langit berkilau redup.

Mobil hitam mewah pun mengantar mereka keluar dari hotel. Jessie menatap keluar, melihat rintik hujan yang mulai membasahi kota. Di sampingnya, Jacob duduk tenang, memandangi jalan lurus di depan. Tidak ada sepatah kata pun keluar darinya sejak mereka masuk ke mobil. Hanya hening dan suara hembusan nafas mereka.

Perjalanan berlangsung lama, melewati kawasan elite yang semakin sepi. Hingga akhirnya, mobil berhenti di depan sebuah gerbang tinggi berwarna hitam dengan logo berinisial “S” di tengahnya.

Gerbang itu perlahan terbuka, memperlihatkan jalan lebar yang dipagari taman rapi dan pohon-pohon besar di kiri kanan. Lampu taman menyala lembut, memantulkan cahaya ke permukaan air mancur kecil di tengah halaman.

Jessie terpaku. Takjub melihat bangunan di depannya yang berdiri megah.

Sebuah mansion mewah berwarna putih, klasik, dengan jendela besar dan pilar marmer menjulang.

Jessie mengikuti langkah Jacob yang perlahan masuk. Pintu depan terbuka, dan seorang wanita paruh baya berwajah ramah segera menghampiri.

“Selamat datang, Tuan Jacob, Nyonya,” sapa wanita itu dengan senyum hangat. “Saya Ratih, kepala asisten rumah tangga. Kami sudah menyiapkan kamar utama dan makan malam. Tuan ingin langsung ke ruang makan?”

Jacob melepas jasnya, menyerahkannya begitu saja pada seorang pelayan tanpa melihat. “Tidak. Siapkan teh di ruang kerja.”

“Baik, Tuan.”

Jessie masih berdiri di ambang pintu, matanya menyapu sekeliling. Interior rumah itu indah. Perpaduan antara arsitektur Eropa dan sentuhan klasik Jepang. Ada bingkai foto keluarga tergantung di dinding. Potret laki-laki muda itu pasti Jacob, bersama foto seorang pria dan wanita muda yang Jessie duga sebagai orang tua Jacob.

Jacob berjalan melewatinya, tidak berkata apa-apa, tidak menatapnya. 

Saat punggungnya menghilang di balik koridor panjang, Jessie mulai mengulur benang kusut di kepala. 

Apa benar Jacob Sanjaya adalah cucu yang terbuang?

Jessie menangkap Jacob berjalan menuju ke sebuah ruang, barangkali itu ruang kerjanya. Sebab dari luar, Jessie melihat tumpukan kertas dan dokumen-dokumen di atas meja. Tetapi Jessie bahkan belum bisa membayangkan pekerjaan seperti apa yang dilakukan oleh Jacob, apalagi ia dilabeli sebagai cucu yang terbuang.

Dalam lamunan singkatnya, Jessie merasa asing juga canggung berada di tempat ini. Ia tak yakin harus ke mana. Jessie berniat untuk memanggil Ratih, setidaknya meminta untuk ditunjukkan ke kamar tidur.

Namun, belum sempat Jessie berpaling untuk memanggil Ratih, Jacob lebih dahulu berbalik, kemudian memanggilnya, membuat Jessie sedikit terperanjat. “Jessie.”

Jessie pun menoleh. 

“Ikut denganku. Ada yang perlu kita bicarakan.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Ellailaist
kemana hayo?...
goodnovel comment avatar
Azzurra
Mau di ajak kemana Jessi
goodnovel comment avatar
Ellailaist
selamat mengikuti kisah Jessie dan Jacob ...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • DINIKAHI CUCU TERBUANG: SUAMIKU TERNYATA PENGUASA DUNIA   Bab 152.

    Malam itu, setelah Jessie terlelap lebih dulu karena kelelahan pindah kamar, Jacob duduk di ruang kerjanya yang hanya diterangi lampu meja temaram. Ponselnya bergetar di atas meja kayu jati yang kokoh. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Andi, tangan kanannya yang paling tepercaya.Andi: "Tuan, saya baru saja mengirimkan file video dari lokasi proyek Lakeside."Jacob mengklik file video tersebut. Layar ponselnya menampilkan rekaman berkualitas tinggi yang diambil secara sembunyi-sembunyi dari jarak aman. Di sana, ia melihat Daniel dengan pakaian mahalnya berdiri di depan kerumunan warga yang tampak lusuh dan putus asa.Suara Daniel terdengar sangat jernih dalam rekaman itu: "Setiap menit kalian berdiri di sini, kalian menghambat pembangunan aset Sanjaya yang nilainya ribuan kali lipat dari harga diri kalian!"Melihat Daniel yang memerintahkan pengawalnya untuk bertindak kasar pada warga, sudut bibir Jacob terangkat. Matanya yang gelap berkilat puas. Daniel baru saja melakukan kesalah

  • DINIKAHI CUCU TERBUANG: SUAMIKU TERNYATA PENGUASA DUNIA   Bab 151.

    Pagi itu, matahari bersinar terik di lokasi proyek Lakeside, tempat yang menjadi penentuan nasib posisi Daniel di Grup Sanjaya. Daniel turun dari mobilnya dengan kacamata hitam bertengger di hidung, didampingi oleh beberapa pengawal dan asisten pribadinya. Ia berjalan dengan langkah angkuh, seolah setiap jengkal tanah yang ia injak sudah sepenuhnya tunduk di bawah kekuasaannya.Namun, pemandangan di depan gerbang utama proyek tidak seperti yang ia bayangkan. Alih-alih para pekerja yang sibuk, ia justru disambut oleh kerumunan warga yang membawa spanduk-spanduk lusuh namun penuh amarah."Bayar hak kami! Jangan rampas tanah warisan kami!" teriak salah seorang warga yang berdiri paling depan.Daniel menghentikan langkahnya, raut wajahnya berubah seketika menjadi dingin dan merendahkan. Ia melepas kacamata hitamnya dengan gerakan dramatis."Apa-apaan ini?" tanya Daniel pada mandor proyek yang menghampirinya dengan wajah pucat. "Kenapa orang-orang kumuh ini ada di lokasi proyekku? Usir m

  • DINIKAHI CUCU TERBUANG: SUAMIKU TERNYATA PENGUASA DUNIA   Bab 150.

    Sementara itu, beberapa saat setelah Daniel meninggalkannya kembali sendirian, Jessie melangkah keluar dari lobi kantor dengan bahu yang tampak tegang. Kata-kata Daniel masih terngiang di telinganya seperti kaset rusak yang memuakkan. Ia merasa udara di dalam gedung itu tiba-tiba menjadi sangat sesak. Namun, begitu matanya menatap ke arah gerbang depan, napasnya perlahan mulai teratur.Di sana, bersandar pada pintu mobil sedan hitam mewah yang mengkilap di bawah lampu jalan, Jacob berdiri menunggunya. Sosoknya yang jangkung dan tenang memberikan kontras tajam dengan hiruk pikuk kota. Mata Jacob langsung tertuju pada pintu keluar, seolah ia memang sudah menghitung detik kepulangan istrinya.Jacob segera menegakkan tubuh saat melihat Jessie mendekat. Ia tidak perlu menjadi ahli ekspresi untuk menyadari ada yang salah. Sudut bibir Jessie yang kaku dan binar matanya yang redup sudah cukup menjadi jawaban bagi Jacob.Tanpa bertanya sepatah kata pun di depan umum, Jacob membukakan pintu

  • DINIKAHI CUCU TERBUANG: SUAMIKU TERNYATA PENGUASA DUNIA   Bab 149.

    Daniel tiba-tiba mengulurkan tangan, mencoba menyentuh ujung rambut Jessie, namun Jessie segera menghindar. Mata Daniel berkilat penuh obsesi yang membuat Jessie merinding."Jess, kita sudah bersama bertahun-tahun, bahkan kita adalah teman masa kecil, bukan?” ucap Daniel dengan nada halus yang sangat dibuat-buat. “Aku tahu tatapan matamu. Jacob mungkin punya uang, entah dari mana dia mendapatkannya, tapi dia tidak punya kenangan bersamamu sepertiku. Kamu masih menyukaiku, kan? Kamu belum bisa melupakanku, itulah sebabnya kamu selalu menyerangku dan Cindy."Daniel merendahkan suaranya, mencoba terdengar menggoda namun justru terasa licik bagi Jessie. "Jacob hanyalah pelarian karena kamu merasa aku menyakitimu. Tapi kamu tahu, aku bisa saja kembali padamu jika kamu berhenti bersikap keras kepala.” “Katakan pada Jacob untuk berhenti mencampuri urusanku di Sanjaya, dan aku mungkin akan mempertimbangkan untuk membawamu kembali ke sisiku." imbuhnya mengakhiri ucapannya.Jessie menatap Dani

  • DINIKAHI CUCU TERBUANG: SUAMIKU TERNYATA PENGUASA DUNIA   Bab 148.

    Pagi itu, suasana di depan kantor redaksi mendadak riuh. Sebuah mobil sedan hitam mewah dengan kaca film yang sangat gelap berhenti tepat di depan lobi utama. Kehadiran mobil itu menarik perhatian semua orang karena harganya yang fantastis dan plat nomornya yang menunjukkan status kelas atas.Cindy, yang baru saja turun dari mobil Daniel yang tampak "biasa" dibandingkan mobil itu, menyipitkan mata. Ia berdiri di lobi dengan tangan bersedekap, menatap sinis."Siapa lagi itu? Sombong sekali parkir tepat di depan pintu," gumam Cindy dengan nada iri yang kental.Pintu penumpang terbuka, dan Jessie melangkah keluar. Ia tampak sangat segar dan penuh percaya diri. Jessie sempat berbalik ke arah jendela mobil yang masih tertutup rapat, melambaikan tangan kecil sambil tersenyum manis, sebelum mobil itu perlahan melaju pergi.Cindy mendengus keras dan langsung mencegat Jessie begitu langkah kakinya menyentuh lantai lobi."Wah, wah... hebat sekali ya seleramu, Jessie," cetus Cindy dengan nada

  • DINIKAHI CUCU TERBUANG: SUAMIKU TERNYATA PENGUASA DUNIA   Bab 147.

    BAB 147Setelah ketegangan yang menguras emosi di ruang rapat Gedung Pusat Grup Sanjaya tadi siang, Jacob menjemput Jessie saat jam pulang kantor. Jacob tidak langsung membawa istrinya pulang. Ia membawa Jessie ke sebuah restoran rooftop yang sudah ia pesan secara privat untuk makan malam. Dan kini, mereka tengah duduk di sebuah restoran mewah yang hanya mereka berdua pelanggan yang datang malam ini.Restoran itu terletak di puncak salah satu gedung tertinggi, menyuguhkan pemandangan lampu kota yang berkilauan seperti hamparan berlian di bawah langit malam yang cerah.Pelayan mengantar mereka ke meja yang terletak di sudut paling ikonik, dihiasi dengan lilin-lilin kecil yang menciptakan suasana hangat dan intim."Aku tidak menyangka kita akan makan malam di tempat seperti ini setelah 'perang' tadi pagi," ucap Jessie sambil meletakkan tasnya, matanya berbinar menatap keindahan kota dari ketinggian.Jacob duduk di hadapan Jessie, melonggarkan sedikit dasinya, tindakan yang membuatnya t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status