MasukDi kelas dekat sisi lapangan, suasana pagi begitu hidup. Beberapa murid masih asyik mengobrol, ada yang menatap papan tulis dengan serius didalam kelas, ada yang memainkan pulpen sambil setengah mengantuk saat berjalan. Di salah satu sisinya, empat murid Angger, Bayu, Raka, dan David duduk berdampingan, tapi mata mereka sama-sama tidak fokus pada pelajaran.
Angger mencondongkan tubuh, menatap teman-temannya dengan sorot mata bercampur penasaran dan geli. “Eh, kalian lihat murid pindahan baru di XI IPA 2 nggak sih?” Bayu tersenyum tipis. “Yang rambut hitam panjang itu ya? Aku lihat tadi di lorong… lumayan lah. Lugu sih, tapi beda banget sama anak-anak XI lain.” Raka menyipitkan mata, mencondongkan badan ke depan. “Lugu? Mana ada yang lugu gitu… tapi iya, menarik. Dan… iya, bener. Badannya beda, keliatan rapi, proporsional… agak menonjollah dibagian tertentu, dibanding yang lain.” David terkekeh, menahan tawa. “Hahaha, iya, itu jarang buat umur segitu. Wajar kalau kita… ya, penasaran aja.” Mereka semua tertawa kecil, tapi tetap menjaga volume agar siswa lain yang sedang lewat tidak mendengar. Suasana jadi ringan, tapi mata mereka terus mengamati setiap gerak-gerik Aira dari jauh, di lorong atas. Tidak ada yang berani terlalu dekat dulu hanya melihat dan menilai dengan rasa penasaran. Angger mencondongkan tubuh lebih dekat ke teman-temannya, suara penuh tipu daya. “Eh, gini aja deh… siapa yang bisa bikin Humaira jadi pacarnya, menang taruhan. Gampang kan?” Bayu menoleh, menahan senyum lebar. “Serius lo, Angger? Tapi… bisa juga tuh. Tantangan menarik nih, kita main halus aja.” Raka mengangguk setuju, matanya berbinar. “Setuju! Tapi jangan sampai dia ngerasa diganggu, ya. Kita main santai aja, pendekatan halus. Jangan terlalu agresif.” David menepuk meja, tertawa kecil. “Deal! Tapi jangan sampai Dipta ikut-ikutan ah.. Dia itu… dingin banget, cuek, bisa bikin strategi kita gagal kalau dia mau.” Angger mencondongkan kepala, menatap ke arah Dipta yang duduk tenang di bangkunya sendiri, membaca buku ekonomi dengan serius. “Hah… itu sih paling cuek, nggak bakal mau ikut taruhan.” Bayu menambahkan, “Tapi ya, siapapun yang akhirnya berhasil, pasti dapet prestise juga. Ini bukan soal menang, tapi… ya, seru-seruan aja.” "Tapi berapa mau taruhannya?", kata Raka. " Gimana kalo 50 juta", usul dari Bayu. "Ah ga berasa, uang jajan gue sebulan itu, naikin lagi lah 100 juta gimana?", kata David memberi masukan. "Nah ide bagus tu, gue setuju deh seratus juta buat pemenang", kata Angger. Akhirnya, mereka semua setuju. Taruhan kecil ini bukan untuk merendahkan atau mengganggu, tapi semacam tantangan sosial melihat siapa yang paling ‘pede’ dan bisa dekat dengan murid baru itu. Sementara itu, Dipta tetap asyik dengan buku di depannya. Beberapa kali Angger menoleh ke arahnya, mencoba menyelipkan komentar. “Eh, Dipta… mau ikut taruhan nggak? Murid pindahan baru itu… lumayan menarik nih, yang menang dapat 100 juta.” Dipta mengangkat satu alis, menatap sekilas, lalu menutup buku lagi. “Tidak tertarik”, jawabnya singkat, suaranya dingin tapi terdengar jelas oleh teman-temannya. Teman-temannya saling bertukar pandang, menahan tawa. “Dingin banget,” bisik Bayu pelan. “Kayaknya nggak bakal ikut. Untung ya, kita bisa main sendiri dulu.” Raka menepuk pundak Angger. “Yah, tapi jangan salah. Meski cuek, dia itu jenius. Kalau dia mau, bisa bikin semua taruhan ini gagal.” David tertawa pelan. “Yap. Tapi biarlah. Sekarang, fokus kita cuma satu, yaitu Aira. Kita amati dulu, strategi halus, jangan sampai ketahuan dia.” Sejak hari pertama, keempatnya mulai mengamati Aira dengan berbagai cara. Jam istirahat, mereka akan memilih tempat strategis di kantin dan lapangan, sekadar muncul di dekat teman-temannya Aira, tapi tetap terlihat alami. Saat pelajaran olahraga, mereka akan duduk di sisi lapangan, mengamati gerakannya tanpa terlalu menonjol. Detail kecil, seperti tawa Aira, cara menunduk saat malu, cara ia merapikan rambut semua jadi bahan pengamatan. Bukan untuk memojokkan, bukan juga untuk bahan ejekan, tapi rasa penasaran yang wajar meski taruhannya tak wajar. Mereka sadar, ini bukan hal yang biasa, dan mereka ingin memahami siapa murid baru ini sebelum mendekati. Saat jam kosong sebelum pelajaran terakhir, mereka duduk melingkar di pojok lorong kelas XII, membicarakan strategi dengan serius tapi tetap bercanda. “Pertama-tama, kita harus tau apa yang dia suka,” kata Angger. “Aku lihat dia bawa buku catatan tebal. Kayaknya suka nulis atau bikin cerita.” Bayu menambahkan, “Iya, bisa jadi kita mulai dari hobi dia. Kita bisa ngobrol santai, tanya-tanya soal tulisannya.” Raka tersenyum licik. “Tapi jangan kelihatan terlalu niat. Kalau ketahuan kita main taruhan, bakal gagal.” David menepuk meja lagi. “Nah itu dia. Kita amati dulu, terus cari momen pas. Pelan-pelan.” Mereka semua setuju. Strategi ini bukan soal paksa atau paksaan, mereka ingin pendekatan halus. Humor dan candaan ringan antar mereka juga jadi bagian dari rencana agar tidak tegang. Di bangku sendiri, Dipta tampak fokus membaca buku, sesekali mencatat. Dia sesekali menoleh sekilas, tapi tidak memberi perhatian berlebihan pada pembicaraan teman-temannya. Angger menatapnya, hampir tergoda untuk menantang Dipta ikut taruhan. Tapi menahan diri. “Ah sudahlah… cuek itu emang ciri khasnya. Lebih baik fokus kita sama strategi sendiri dulu.” Bayu menambahkan, “Iya, lagian kalau Dipta ikut, semua bakal kacau. Dia itu jenius… bisa bikin kita kalah sebelum sempat mulai.” Raka tertawa pelan. “Setuju. Tapi biarlah… ini tentang siapa yang paling paham Humaira, bukan siapa yang paling jenius.” David menyetujui. “Benar. Kita mulai dari pengamatan dulu, pelan-pelan. Jangan sampai dia sadar.” Hari demi hari, mereka mulai terbiasa mengamati Aira. Tidak terlalu mencolok, tapi cukup untuk mengenali kebiasaan dan karakternya. Saat ia tersenyum pada teman sekelas, mata mereka memperhatikan kehangatan yang terpancar. Saat ia menunduk membaca buku, mereka menyadari ketenangan dan keseriusannya. Bahkan cara ia berjalan, cara ia menatap lorong, semua jadi informasi kecil yang mereka kumpulkan. Keempatnya sadar, ini bukan sekadar ketertarikan biasa ini lebih seperti rasa penasaran, campur kagum, dan sedikit keseruan. Dan tanpa mereka sadari, taruhannya sudah mulai terasa, siapa yang akan berhasil mendekati Aira lebih dulu, dengan cara paling halus, tentu akan jadi pemenang. Tentu ini akan menjadi tantangan yang panjang untuk mereka. Bersaing secara sehat tanpa menjelekkan sisi dari masing-masing didepan Aira. Siapa yang akan terpilih berarti dialah pemenangnya, tidak akan ada perdebatan saat semuanya sudah diputuskan. Tak ada yang tau siapa yang akan menang, semuanya sama-sama akan saling menguji tak-tik masing-masing saat waktunya tiba nanti. Tinggal beberapa langkah lagi, untuk menguji siapa yang bisa menaklukkan.Jam di dinding kamar Aira menunjukkan pukul 15.12. Ia sudah membuka lemari sejak lima menit lalu, tapi belum juga mengambil keputusan.“Kenapa sih susah banget cuma mau makan?” gumamnya pelan.Tangannya menyentuh beberapa gantungan baju. Blus putih? Terlalu formal. Kaos oversized? Terlalu santai. Akhirnya ia mengambil kemeja krem tipis dengan celana hitam sederhana. Rapi, tapi tidak berlebihan. Ia berdiri di depan cermin, rambutnya dibiarkan terurai, lalu ia ikat setengah, lalu dilepas lagi.“Ya ampun, kenapa jadi ribet gini…”, desahnya pelan.Ponselnya berbunyi.Nadhira: "Jadi?"Aira langsung membalas.Aira: "Jadi lah. Cuma makan doang."Tiga detik kemudian.Nadhira: "Cuma makan katanya."Aira mendengus kecil. Lalu membalas lagi. 'Udah sana, kamu fokus hidup kamu sendiri.'Ia meletakkan ponsel di kasur, lalu duduk sebentar. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Padahal ini bukan pertama kalinya ia bicara dengan Dipta. Bukan juga pertama kali mereka duduksendiri, tapi ini di
Pagi itu sekolah terasa seperti biasa, tapi bagi Aira, ada sedikit rasa “tidak biasa” yang sulit dijelaskan. Ia berjalan bersama Nadhira dan Lestari, tas digendong satu sisi, buku di tangan. Suara sepatu beradu dengan lantai keramik, tawa teman-teman terdengar dari beberapa kelas.“Air, nanti istirahat jangan lupa ke kantin, ya?” Lestari mencondongkan tubuh, merapikan rambutnya.“Iya, aku belum sarapan tadi”, jawab Aira ringan, tersenyum sekilas.Langkah mereka melambat saat Aira menangkap sosok yang sudah dikenalnya. Dipta berdiri di ujung koridor, bersandar di dekat jendela. Di dekatnya, Rania tampak tertawa atas sesuatu yang Dipta katakan. Ia terlihat rapi, rambut terurai, dan gesturnya santai.Aira menelan sedikit rasa canggungnya. Tangannya yang memegang buku mengencang. Nadhira menyadari tatapan Aira dan menoleh pelan.“Eh…”, gumamnya.Aira cepat-cepat mengalihkan pandangan, pura-pura merapikan tali tasnya.“Kenapa?”, Lestari menatapnya.“Nggak kok”, jawab Aira, terlalu cepat.B
Pagi itu koridor sekolah lebih ramai dari biasanya. Anak-anak baru selesai upacara dan bergerak ke kelas masing-masing. Suara sepatu beradu dengan lantai, tawa kecil terdengar di beberapa sudut. Aira berjalan bersama Nadhira dan Lestari. Tasnya digendong satu sisi, tangannya memegang buku yang belum sempat dimasukkan ke dalam tas.“Air, nanti istirahat ke kantin ya?”, tanya Lestari sambil merapikan rambutnya.“Iya, aku belum sarapan tadi”, jawab Aira ringan.Langkahnya melambat ketika tanpa sengaja pandangannya menangkap sesuatu di ujung koridor, ada Dipta di sana. Ia berdiri bersandar santai di dekat jendela. Seragamnya rapi seperti biasa, lengan kemeja sedikit digulung. Di depannya berdiri Rania. Rania terlihat lebih rapi dari biasanya. Rambutnya dibiarkan terurai, dan ia tertawa cukup keras atas sesuatu yang Dipta katakan.Aira tidak langsung berhenti, tapi langkahnya otomatis melambat. Tangannya yang memegang buku sedikit mengencang.Rania menyentuh lengan Dipta ringan saat tertaw
Beberapa hari setelah mereka bertukar nomor HP, Aira duduk di kelas kosong XI IPA 2. Di depannya, buku Biologi terbuka lebar, catatan rapi tertata di setiap halaman. Tapi matanya sesekali menatap layar ponsel, jari-jarinya memainkan ujung pena tanpa sadar. Napasnya pendek ketika ia menarik napas dalam-dalam, kemudian mulai mengetik pesan pertama ke Dipta.Aira: "Kak Dipta, aku masih bingung sama diagram sel… bisa jelasin lagi?"Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar. Pesan masuk dari Dipta.Dipta: "Oke… aku jelasin sedikit. Tapi jangan salah paham, diagram sel itu kayak labirin, aku jadi mau ikut nyasar juga"Aira menutup mata sebentar, tersenyum sendiri. Ia kembali menatap catatan, tapi pikirannya entah kenapa melayang membayangkan Dipta dengan ekspresi serius tapi nakal, sedikit menggoda lewat chat itu. Ada hangat yang muncul di dadanya, tanpa ia mengerti dari mana asalnya.Aira: "Hahaha… iya deh, aku coba lagi."Dipta: "Bagus… tapi jangan sampai tersesat di labirin itu ya. Kal
Hari-hari berlanjut, Aira tiba di sekolah lebih awal dari biasanya. Hari ini ada latihan OSIS untuk kegiatan lingkungan sekolah, yang ia ikuti bersama teman dekatnya Nadhira dan Lestari. Meski pagi masih terasa sejuk, hati Aira sedikit berdebar karena ia tahu kemungkinan akan bertemu Dipta di area sekolah, walau mereka beda jurusan.“Nadhira, lihat deh, catatan Biologi aku masih berantakan”, keluh Aira sambil menatap buku di tangan.Nadhira menepuk bahu Aira, tersenyum nakal. “Santai aja, Air… lagian aku pikir kakak kelas itu eh, maksudku, Dipta tidak akan memperhatikanmu kalau kau kelihatan panik, kan?”Aira tersipu, menunduk sebentar. “Eh… jangan bilang gitu, Nadhira… aku nggak tahu juga, kok…”Lestari, yang duduk di samping, tersenyum tipis. “Hati-hati, Air. Kau kelihatan sedikit terganggu tiap kali ada dia. Tapi jangan sampai kehilangan fokus sama latihan hari ini.”Aira menatap keduanya, nyaman itu yang dia rasakan. Kehadiran teman-temannya membuatnya lebih tenang, tapi tetap ada
Pagi itu, udara di SMA terasa hangat, tapi tidak menusuk. Cahaya matahari menembus jendela kelas XI IPA 2, menyorot buku catatan Aira yang rapi. Ia duduk di bangku dekat jendela, mencoba fokus pada pelajaran Biologi. Tapi pikirannya sering melayang ke seseorang yang ia lihat beberapa kali dalam beberapa hari terakhir, pemuda dari kelas XII IPS 1 yang tinggi, rapi, dan selalu tampak fokus. Namanya Dipta. Meski mereka tidak sekelas dan memiliki jurusan berbeda, ada sesuatu pada aura Dipta yang sulit dijelaskan. Matanya sesekali menatap kosong, tapi selalu penuh perhatian terhadap apa yang ia lakukan. Aira menghela napas dan menepuk buku pelan, mencoba menenangkan pikirannya. "Ah.. Jangan mikirin dia terus, Aira…”, gumamnya pelan. Tapi bayangan pemuda itu terus muncul dalam benaknya, membuat hatinya berdebar saat ia menoleh ke lorong, kantin, atau perpustakaan dan tempat-tempat mereka kadang kebetulan bertemu. Jam kosong pertama dimulai. Aira membawa buku catatan Biologi menuju kantin







