Home / Romansa / DIPTA / BAB 2 Mata Yang Mengamati

Share

BAB 2 Mata Yang Mengamati

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-02-24 22:03:22

Di kelas dekat sisi lapangan, suasana pagi begitu hidup. Beberapa murid masih asyik mengobrol, ada yang menatap papan tulis dengan serius didalam kelas, ada yang memainkan pulpen sambil setengah mengantuk saat berjalan. Di salah satu sisinya, empat murid Angger, Bayu, Raka, dan David duduk berdampingan, tapi mata mereka sama-sama tidak fokus pada pelajaran.

Angger mencondongkan tubuh, menatap teman-temannya dengan sorot mata bercampur penasaran dan geli. “Eh, kalian lihat murid pindahan baru di XI IPA 2 nggak sih?”

Bayu tersenyum tipis. “Yang rambut hitam panjang itu ya? Aku lihat tadi di lorong… lumayan lah. Lugu sih, tapi beda banget sama anak-anak XI lain.”

Raka menyipitkan mata, mencondongkan badan ke depan. “Lugu? Mana ada yang lugu gitu… tapi iya, menarik. Dan… iya, bener. Badannya beda, keliatan rapi, proporsional… agak menonjollah dibagian tertentu, dibanding yang lain.”

David terkekeh, menahan tawa. “Hahaha, iya, itu jarang buat umur segitu. Wajar kalau kita… ya, penasaran aja.”

Mereka semua tertawa kecil, tapi tetap menjaga volume agar siswa lain yang sedang lewat tidak mendengar. Suasana jadi ringan, tapi mata mereka terus mengamati setiap gerak-gerik Aira dari jauh, di lorong atas. Tidak ada yang berani terlalu dekat dulu hanya melihat dan menilai dengan rasa penasaran.

Angger mencondongkan tubuh lebih dekat ke teman-temannya, suara penuh tipu daya. “Eh, gini aja deh… siapa yang bisa bikin Humaira jadi pacarnya, menang taruhan. Gampang kan?”

Bayu menoleh, menahan senyum lebar. “Serius lo, Angger? Tapi… bisa juga tuh. Tantangan menarik nih, kita main halus aja.”

Raka mengangguk setuju, matanya berbinar. “Setuju! Tapi jangan sampai dia ngerasa diganggu, ya. Kita main santai aja, pendekatan halus. Jangan terlalu agresif.”

David menepuk meja, tertawa kecil. “Deal! Tapi jangan sampai Dipta ikut-ikutan ah.. Dia itu… dingin banget, cuek, bisa bikin strategi kita gagal kalau dia mau.”

Angger mencondongkan kepala, menatap ke arah Dipta yang duduk tenang di bangkunya sendiri, membaca buku ekonomi dengan serius. “Hah… itu sih paling cuek, nggak bakal mau ikut taruhan.”

Bayu menambahkan, “Tapi ya, siapapun yang akhirnya berhasil, pasti dapet prestise juga. Ini bukan soal menang, tapi… ya, seru-seruan aja.”

"Tapi berapa mau taruhannya?", kata Raka.

" Gimana kalo 50 juta", usul dari Bayu.

"Ah ga berasa, uang jajan gue sebulan itu, naikin lagi lah 100 juta gimana?", kata David memberi masukan.

"Nah ide bagus tu, gue setuju deh seratus juta buat pemenang", kata Angger.

Akhirnya, mereka semua setuju. Taruhan kecil ini bukan untuk merendahkan atau mengganggu, tapi semacam tantangan sosial melihat siapa yang paling ‘pede’ dan bisa dekat dengan murid baru itu.

Sementara itu, Dipta tetap asyik dengan buku di depannya. Beberapa kali Angger menoleh ke arahnya, mencoba menyelipkan komentar.

“Eh, Dipta… mau ikut taruhan nggak? Murid pindahan baru itu… lumayan menarik nih, yang menang dapat 100 juta.”

Dipta mengangkat satu alis, menatap sekilas, lalu menutup buku lagi. “Tidak tertarik”, jawabnya singkat, suaranya dingin tapi terdengar jelas oleh teman-temannya.

Teman-temannya saling bertukar pandang, menahan tawa. “Dingin banget,” bisik Bayu pelan. “Kayaknya nggak bakal ikut. Untung ya, kita bisa main sendiri dulu.”

Raka menepuk pundak Angger. “Yah, tapi jangan salah. Meski cuek, dia itu jenius. Kalau dia mau, bisa bikin semua taruhan ini gagal.”

David tertawa pelan. “Yap. Tapi biarlah. Sekarang, fokus kita cuma satu, yaitu Aira. Kita amati dulu, strategi halus, jangan sampai ketahuan dia.”

Sejak hari pertama, keempatnya mulai mengamati Aira dengan berbagai cara. Jam istirahat, mereka akan memilih tempat strategis di kantin dan lapangan, sekadar muncul di dekat teman-temannya Aira, tapi tetap terlihat alami. Saat pelajaran olahraga, mereka akan duduk di sisi lapangan, mengamati gerakannya tanpa terlalu menonjol.

Detail kecil, seperti tawa Aira, cara menunduk saat malu, cara ia merapikan rambut semua jadi bahan pengamatan. Bukan untuk memojokkan, bukan juga untuk bahan ejekan, tapi rasa penasaran yang wajar meski taruhannya tak wajar. Mereka sadar, ini bukan hal yang biasa, dan mereka ingin memahami siapa murid baru ini sebelum mendekati.

Saat jam kosong sebelum pelajaran terakhir, mereka duduk melingkar di pojok lorong kelas XII, membicarakan strategi dengan serius tapi tetap bercanda.

“Pertama-tama, kita harus tau apa yang dia suka,” kata Angger. “Aku lihat dia bawa buku catatan tebal. Kayaknya suka nulis atau bikin cerita.”

Bayu menambahkan, “Iya, bisa jadi kita mulai dari hobi dia. Kita bisa ngobrol santai, tanya-tanya soal tulisannya.”

Raka tersenyum licik. “Tapi jangan kelihatan terlalu niat. Kalau ketahuan kita main taruhan, bakal gagal.”

David menepuk meja lagi. “Nah itu dia. Kita amati dulu, terus cari momen pas. Pelan-pelan.”

Mereka semua setuju. Strategi ini bukan soal paksa atau paksaan, mereka ingin pendekatan halus. Humor dan candaan ringan antar mereka juga jadi bagian dari rencana agar tidak tegang.

Di bangku sendiri, Dipta tampak fokus membaca buku, sesekali mencatat. Dia sesekali menoleh sekilas, tapi tidak memberi perhatian berlebihan pada pembicaraan teman-temannya.

Angger menatapnya, hampir tergoda untuk menantang Dipta ikut taruhan. Tapi menahan diri. “Ah sudahlah… cuek itu emang ciri khasnya. Lebih baik fokus kita sama strategi sendiri dulu.”

Bayu menambahkan, “Iya, lagian kalau Dipta ikut, semua bakal kacau. Dia itu jenius… bisa bikin kita kalah sebelum sempat mulai.”

Raka tertawa pelan. “Setuju. Tapi biarlah… ini tentang siapa yang paling paham Humaira, bukan siapa yang paling jenius.”

David menyetujui. “Benar. Kita mulai dari pengamatan dulu, pelan-pelan. Jangan sampai dia sadar.”

Hari demi hari, mereka mulai terbiasa mengamati Aira. Tidak terlalu mencolok, tapi cukup untuk mengenali kebiasaan dan karakternya. Saat ia tersenyum pada teman sekelas, mata mereka memperhatikan kehangatan yang terpancar. Saat ia menunduk membaca buku, mereka menyadari ketenangan dan keseriusannya. Bahkan cara ia berjalan, cara ia menatap lorong, semua jadi informasi kecil yang mereka kumpulkan.

Keempatnya sadar, ini bukan sekadar ketertarikan biasa ini lebih seperti rasa penasaran, campur kagum, dan sedikit keseruan. Dan tanpa mereka sadari, taruhannya sudah mulai terasa, siapa yang akan berhasil mendekati Aira lebih dulu, dengan cara paling halus, tentu akan jadi pemenang.

Tentu ini akan menjadi tantangan yang panjang untuk mereka. Bersaing secara sehat tanpa menjelekkan sisi dari masing-masing didepan Aira. Siapa yang akan terpilih berarti dialah pemenangnya, tidak akan ada perdebatan saat semuanya sudah diputuskan.

Tak ada yang tau siapa yang akan menang, semuanya sama-sama akan saling menguji tak-tik masing-masing saat waktunya tiba nanti. Tinggal beberapa langkah lagi, untuk menguji siapa yang bisa menaklukkan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DIPTA   BAB 161 SMA Gaurda

    Saat mobil berhenti di halaman SMA Garuda, suasana sudah cukup ramai. Lampu-lampu aula menyala terang, suara musik dan obrolan terdengar sampai ke luar. Beberapa mobil terparkir rapi, menunjukkan kalau acara ini memang dihadiri banyak orang dari berbagai angkatan. Dipta turun lebih dulu, lalu memutar ke sisi lain membuka pintu untuk Aira. Aira keluar dengan tenang, merapikan sedikit dress-nya. Tatapannya sempat mengarah ke gedung sekolah itu, ada jeda sepersekian detik. Tempat ini, tempat yang seharusnya jadi kenangan biasa, tapi justru menyimpan sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai. “Siap?” tanya Dipta pelan. Aira melirik, lalu mengangguk singkat. “Siap.” Mereka berjalan berdampingan menuju aula. Langkah Dipta tetap tenang, seperti biasa tegap, dingin, penuh kontrol. Sementara Aira di sampingnya terlihat anggun, tapi ada ketegangan halus yang hanya bisa terasa kalau diperhatikan lebih dalam. Begitu masuk ke dalam aula, suasana langsung terasa lebih hidup. Orang-orang be

  • DIPTA   BAB 160 Reuni

    Saat Aira keluar dari kamar mandi dengan dress yang sudah rapi menempel di tubuhnya, suasana kamar terasa lebih tenang. Rambutnya masih setengah basah, ujung-ujungnya meneteskan air yang ia biarkan jatuh begitu saja sebelum akhirnya duduk di depan meja rias. Tangannya bergerak pelan, mengambil cushion, menepuk-nepuk tipis ke wajahnya. Tidak berlebihan, hanya cukup untuk meratakan warna kulit yang sedikit lelah. Lalu concealer tipis di bawah mata, sedikit lipbalm, dan sentuhan halus lain yang hampir tidak terlihat tapi cukup membuat aura wajahnya berubah. Bukan jadi mencolok, hanya terlihat lebih segar. Di saat yang sama, pintu kamar terbuka. Dipta masuk, rambutnya masih sedikit berantakan, kaosnya sudah ia ganti dengan yang lebih santai setelah tadi menemani Askara mandi. Langkahnya sempat terhenti begitu melihat Aira di depan meja rias. Ia tidak langsung bicara hanya berdiri sebentar, memperhatikan. Aira yang awalnya fokus ke cermin akhirnya sadar sedang diperhatikan. Matanya meli

  • DIPTA   BAB 159 Sebelum Acara

    Menjelang sore, suasana rumah sudah kembali hidup seperti biasanya. Dari dapur, aroma masakan mulai menyebar perlahan ke seluruh ruangan. Wangi gurih ayam kremes yang sedang digoreng bercampur dengan aroma rolade yang sudah matang, ditambah tumis kacang panjang yang masih mengeluarkan suara “cesss…” pelan dari wajan. Aira berdiri di depan kompor, rambutnya diikat seadanya, tangannya sibuk bolak-balik antara wajan dan piring. Sesekali ia mencicipi masakan, memastikan rasanya pas. Sementara di sampingnya, Dipta duduk santai di kursi dapur sambil membantu memotong ujung-ujung kacang panjang. Gerakannya rapi, meski jelas bukan ahli dapur, tapi cukup terbiasa. “Yang ini dibuang semua?” tanyanya sambil mengangkat satu potong. Aira melirik sekilas. “Iya, yang keras-keras dibuang. Jangan ikut dimasak nanti susah dimakan.” Dipta mengangguk pelan, lanjut bekerja tanpa banyak komentar. Suasana itu sederhana, tapi terasa hangat. Di kamar, Askara yang tadi tidur siang mulai bergerak pelan. Al

  • DIPTA   BAB 158 Baterai Habis

    Setelah keluar dari butik, mereka tidak langsung pulang. Langkah Aira justru melambat saat melewati deretan restoran di lantai itu. Perutnya sebenarnya sudah mulai terasa kosong, apalagi sejak tadi hanya fokus memilih baju dan “mengawasi” dua orang di belakangnya, satu suami, satu anak. “Aku lapar.” ucap Aira tiba-tiba. Dipta yang berjalan di sampingnya langsung menoleh. “Dari tadi nggak bilang.” Aira mendengus. “Lagi milih baju mana sempat mikirin makan.” Askara yang dengar kata makan langsung bereaksi paling cepat. “MAKAN??” Nada suaranya naik satu oktaf Aira langsung tertawa kecil. “Iya, makan.” “AYO!” katanya sambil langsung menarik tangan Aira. Dipta hanya menggeleng kecil melihat itu. Mereka akhirnya memilih salah satu restoran yang tidak terlalu ramai tapi cukup nyaman. Tempatnya hangat, tidak terlalu formal, cocok untuk makan santai. Begitu duduk, Askara langsung naik ke kursi dengan semangat, bahkan belum lihat menu. “Aku mau ayam!” Aira menghela napas. “Belum liha

  • DIPTA   BAB 157 Undangan Reuni

    Sore itu, Dipta baru saja sampai rumah, masih dengan kemeja kerja yang belum sempat dia ganti. Ponselnya bergetar terus sejak tadi di mobil, tapi baru sekarang dia benar-benar membuka grup lama yang sudah lama sekali tidak aktif. “SMA Garuda – Angkatan Kita” Nama grup yang bahkan sudah hampir dia lupakan. Begitu dibuka, isinya sudah ramai, David, Angger, Bayu, Raka semuanya muncul lagi dengan gaya yang masih sama seperti dulu, hanya saja sekarang ditambah topik kerja, hidup, dan reuni. Dipta membaca beberapa pesan, sudut bibirnya sedikit naik. “Reuni, ya…” gumamnya pelan. Malamnya, saat Aira sedang duduk santai di ruang tengah sambil scroll sesuatu di ponselnya, Dipta duduk di sebelahnya. “Ada undangan.” katanya tiba-tiba. Aira melirik sekilas. “Undangan apa?” “Reuni SMA Garuda.” Aira langsung berhenti scrolling. Dia menoleh penuh. “Reuni?” Dipta mengangguk. “Yang ngundang anak-anak satu angkatan. Di sekolah.” Aira diam sebentar, mencerna. SMA Garuda, tempat yang punya cuku

  • DIPTA   BAB 156 Rencana Honeymoon

    Malam sudah benar-benar tenang ketika mereka berdua akhirnya rebahan di ranjang, bukan dengan suasana lelah seperti beberapa hari sebelumnya, tapi lebih ke kondisi “selesai semua urusan hari itu”. Aira bersandar di dada Dipta, posisinya santai, satu tangannya main pelan di ujung selimut, sementara Dipta menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Lampu kamar sudah diredupkan, menyisakan cahaya hangat yang bikin suasana terasa lebih pelan dari biasanya, tidak ada pembicaraan besar. Sampai Dipta tiba-tiba membuka suara. “Kalau kita honeymoon gimana?” Aira yang sedang santai langsung berhenti sejenak. Dia mengangkat sedikit kepalanya, menoleh ke arah Dipta. “Honeymoon?” ulangnya pelan. Dipta mengangguk, tetap tenang. “Iya.” Aira diam sebentar. Bukan karena tidak mengerti, tapi karena kalimat itu terasa agak… terlambat, dalam arti yang tidak buruk, hanya saja baru sekarang muncul di tengah hidup yang sudah cukup panjang mereka jalani. Dia menghembuskan napas pelan. “Kita honeymoon s

  • DIPTA   BAB 7 Perhatian

    Pagi itu, udara di SMA terasa hangat, tapi tidak menusuk. Cahaya matahari menembus jendela kelas XI IPA 2, menyorot buku catatan Aira yang rapi. Ia duduk di bangku dekat jendela, mencoba fokus pada pelajaran Biologi. Tapi pikirannya sering melayang ke seseorang yang ia lihat beberapa kali dalam beb

  • DIPTA   BAB 6 Chemistry dan Konflik kecil

    Hari itu, Dipta duduk di kelas XII IPS 1 sambil membaca catatan ekonomi. Tapi matanya tidak sepenuhnya fokus pada buku, tatapannya sesekali tertuju ke kelas XI IPA 2, tepatnya ke Aira yang sedang menulis catatan di meja dekat jendela.“Hmm… berbeda dari yang lain", pikirnya dalam hati.Bukan karena

  • DIPTA   BAB 5 Persaingan dan Strategi

    Pagi menjelang siang, lapangan sekolah lebih sepi dari biasanya. Angin tipis membuat dedaunan bergetar, dan cahaya matahari yang mulai miring menembus sela-sela pepohonan. Aira duduk di bawah pohon besar, buku biologi di pangkuan, mencoba memahami diagram sel yang rumit. Tiba-tiba, suara ringan

  • DIPTA   BAB 4 Persaingan Dipta dan Teman-Teman

    Suasana kelas XI IPA 2 pagi itu lebih tegang dari biasanya. Kertas ulangan biologi sudah dibagikan, masih tertutup di atas meja masing-masing siswa. Suara kipas angin berputar terasa lebih keras karena hampir semua orang diam. Aira duduk tegak. Tangannya berada di atas meja, jari-jarinya saling b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status