LOGINSuasana kelas XI IPA 2 pagi itu lebih tegang dari biasanya. Kertas ulangan biologi sudah dibagikan, masih tertutup di atas meja masing-masing siswa. Suara kipas angin berputar terasa lebih keras karena hampir semua orang diam.
Aira duduk tegak. Tangannya berada di atas meja, jari-jarinya saling bertaut. Wajahnya tenang, tapi ada napas yang ia tahan tanpa sadar. “Silakan dibuka,” kata guru mereka. Suara kertas terbalik terdengar serempak, Aira menunduk. Angka merah di pojok kanan atas langsung ia cari. Nilai: 98. Matanya berhenti di sana, untuk sesaat ia tidak bergerak. Lalu perlahan, sudut bibirnya terangkat. Bukan senyum lebar, tapi lebih ke puas, lega dan tepat. Ia mengembuskan napas yang sejak tadi ia tahan. Teman di sebelahnya melirik. “Wah, hampir sempurna!” Aira hanya tertawa kecil. “Masih kurang dua.” “Tetap aja itu tinggi banget.”, kata temannya lagi. Aira tidak menjawab. Tapi di dalam kepalanya, satu kalimat muncul jelas. 'Dapat di atas sembilan puluh lima.' Tanpa sadar, ia menoleh ke arah jendela, seolah seseorang bisa melihatnya dari sana. Jam istirahat pertama. Lorong gedung IPS tidak seramai biasanya. Beberapa siswa keluar masuk kelas dengan santai. Dipta sedang berdiri di depan kelas XII IPS 1, berbicara singkat dengan guru ekonomi. Map biru ada di tangannya. Gerakannya tenang dan tatapannya fokus. Lalu seseorang berhenti dua langkah di depannya. “Kak.”, kata orang itu, yang tak lain adalah Aira. Dipta menoleh. Aira berdiri di sana, sedikit terengah karena mungkin berjalan cepat. Tasnya masih tergantung di bahu, dan wajahnya untuk pertama kali sejak mereka bertemu terlihat benar-benar cerah. “Aku dapat 98”, katanya tanpa basa-basi. Ada kilat kecil di matanya. Bangga, tapi ingin memastikan seseorang tahu. Dipta memperhatikannya beberapa detik. Dan entah kenapa, melihat Aira datang mencarinya lebih dulu membuat sesuatu di dalam dadanya terasa berbeda. “Bagus,” jawabnya tenang. Tapi sorot matanya berubah sedikit. Lebih hangat. “Aku pakai cara Kakak,” lanjut Aira. “Fungsi dulu, baru istilah.” Dipta mengangguk pelan. “Kamu memang mampu.” Kalimat itu sederhana, tapi membuat Aira terdiam sesaat. Bukan karena pujian itu berlebihan, tapi karena ia jarang mendengar seseorang mengatakannya dengan nada se-yakin itu. “Terima kasih,” ucapnya lebih pelan. Dipta menatap wajahnya yang masih menyimpan sisa senyum tadi. Ia menyadari satu hal, Aira tidak datang untuk pamer nilai. Ia datang untuk berbagi hasilnya, dengannya dan itu bukan bagian dari rencana awalnya. Di ujung lorong, Angger dan Raka baru saja keluar dari tangga penghubung gedung IPA–IPS. Langkah mereka melambat saat melihat pemandangan di depan. Aira berdiri cukup dekat dengan Dipta. Wajahnya terlihat santai. Tidak canggung. Tidak menjaga jarak seperti saat berbicara dengan kakak kelas lain. Raka menyenggol bahu Angger pelan. “Cepat banget.” Angger mengamati dalam diam. “Dia yang nyari duluan,” gumamnya. Bayu yang menyusul di belakang ikut memperhatikan. “Ini udah beda.” David datang paling akhir, tangannya masih memegang helm. Ia hanya tersenyum tipis. “Udah kubilang.” Kembali ke lorong, dimana Dipta dan Aira berada. “Kamu lagi kosong?” tanya Dipta tiba-tiba. Aira mengangguk. “Iya, istirahat dua jam.” “Ke perpustakaan.”, bukan ajakan ragu-ragu maupun pertanyaan, lebih seperti keputusan yang wajar. Aira tidak menolak. “Oke.” Mereka berjalan berdampingan. Tidak terlalu dekat tapi cukup sejajar. Beberapa siswa yang berpapasan mulai melirik. XI IPA 2 dan XII IPS 1 memang jarang terlihat bersama. Apalagi dengan jarak sedekat itu. Di perpustakaan, mereka duduk di meja yang sama seperti beberapa hari lalu. Aira terlihat lebih santai sekarang. Bahunya tidak setegang sebelumnya. “Aku jarang belajar bareng orang,” katanya tiba-tiba. “Kenapa?”, tanya Dipta. “Biasanya aku lebih nyaman sendiri.”, jelasnya. Dipta memperhatikannya. “Kamu nyaman sekarang?”, pertanyaan itu keluar lebih personal dari yang ia rencanakan. Aira terdiam sesaat. Ia tidak langsung menjawab. “Lumayan”, katanya akhirnya, tersenyum kecil. Jawaban itu membuat jari Dipta yang sedang memegang pulpen berhenti sepersekian detik. Lumayan, bukan sekadar sopan ataupun basa-basi. Tanpa sadar, ia mulai ingin kata itu berubah menjadi sesuatu yang lebih. Beberapa menit kemudian, seorang siswa laki-laki dari XI IPA masuk ke perpustakaan. Ia berhenti saat melihat Aira. “Aira,” panggilnya. Aira menoleh. “Eh, Farhan.” Ia berdiri sedikit dari kursinya. “Kamu tadi keren banget nilainya,” lanjut Farhan sambil tersenyum. “Mau belajar bareng buat kimia nanti?” Aira terlihat berpikir sebentar. “Boleh sih—” “Kita sudah ada rencana.”, suara Dipta memotong. Tenang, datar dan jelas. Farhan menoleh, baru menyadari keberadaan Dipta sepenuhnya. “Oh… Kak", katanya sedikit canggung. Aira berkedip. “Rencana?” Dipta menatapnya tanpa ragu. “Materi minggu depan.” Itu tidak sepenuhnya bohong. Tapi juga bukan sesuatu yang sudah disepakati. Aira melihat dari satu wajah ke wajah lain, lalu tersenyum kecil pada Farhan. “Maaf ya, mungkin lain kali.” Farhan mengangguk, meski jelas kecewa. “Iya, nggak apa-apa.” Farhan pergi dan suasana meja itu berubah sedikit. Aira kembali duduk perlahan. “Kita memang ada rencana?” tanyanya ringan. Dipta menatap buku di depannya, bukan wajah Aira. “Akan ada.” Nada suaranya tetap stabil. Tapi di dalam dirinya. Ia baru saja merasakan sesuatu yang belum pernah ia masukkan dalam strategi. Tidak suka, bukan karena takut kalah ataupun bukan karena taruhan. Tapi karena melihat Aira hampir mengatakan “boleh” pada orang lain. Dan perasaan itu tidak rasional. Aira kembali membuka bukunya. Tidak menyadari bahwa lelaki di depannya kini tidak lagi sekadar mengamati pola. Ia mulai ingin mengatur jaraknya, mengendalikan situasi, dan memastikan kalau Aira belajar, Aira berbagi, Aira tersenyum, itu bersamanya. Dan obsesi kecil itu, mulai mengambil bentuk. ° Esoknya, kantin siang itu ramai. Aroma gorengan dan kopi bercampur dengan suara gelas dan tawa murid-murid. Matahari menembus jendela kaca, menerangi lantai yang sedikit berkilau. Aira duduk di salah satu meja dekat jendela, punggung tegak, buku biologi terbuka di depannya. Ia sedang serius menulis catatan, sesekali mencondongkan kepala untuk membaca ulang paragraf yang sulit dimengerti. Deg-degan kecil muncul setiap kali ia menoleh ke sekitar, tapi ia menahan diri, tetap fokus. Dari sisi lain, Angger berjalan santai. Satu tangan menggenggam baki minuman, senyumnya tipis tapi ramah. Ia berhenti beberapa meter dari Aira, menatapnya sebentar. Tubuhnya condong ringan ke arah Aira, tapi menjaga jarak satu kursi kosong di antara mereka, strategi halus agar tidak terlalu menekan. “Eh… itu buku catatan biologi ya?”, suaranya ringan, bersahabat, tanpa ada nada memaksa. Aira menoleh, sedikit tersipu, menutup bukunya perlahan. “Ah… iya. Aku lagi belajar topik sel dan jaringan. Beberapa bagian kurang jelas, jadi harus lebih teliti”, jawabnya. Bibirnya sedikit mengerut saat berbicara. “Oh… Kakak siapa ya? Kok bisa ada di sini?” Angger tersenyum, menyandarkan punggungnya ke kursi. “Kenalin, aku Angger. Dari kelas XII IPA 3. Aku tahu kamu karena kamu murid baru, lagi jadi perbincangan di sekolah. Kebetulan tadi lewat, lihat kamu serius banget belajar. Kalau mau, aku bisa bantu. Dulu aku juga sering kesulitan topik itu, bikin pusing kalau nggak ngerti dasar-dasarnya.” Aira tersenyum malu, menunduk sebentar, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. “Oh… gitu ya… Salam kenal, Kak Angger. Terima kasih. Aku biasanya belajar sendiri, tapi senang ada yang bisa jelasin.” Sementara itu, di pojok kantin, Dipta berdiri tegap, setengah tersembunyi di balik barisan kursi. Matanya tajam tapi tenang, menatap Angger dan Aira. Rahangnya sedikit mengeras, jari-jarinya mengetuk pelan di tepi meja seolah menghitung waktu setiap detik yang mereka habiskan bersama. Ia diam, menahan diri, tetapi setiap gerak Angger membuat dadanya terasa sedikit panas. Angger mencondongkan tubuh satu langkah, menatap Aira sambil menunjuk halaman buku yang ia maksud. “Kalau mau, aku bisa jelasin sedikit. Santai aja, nggak perlu terburu-buru.” Aira menatap halaman buku, lalu menoleh ke Angger, wajahnya memerah tipis. “Iya… boleh. Tapi Kakak jangan capek jelasin aku ya.” “Ah… santai aja. Aku juga senang kalau bisa bantu”, Angger menjawab, matanya sedikit berbinar saat melihat Aira tersenyum. Ia menahan diri untuk tidak terlalu dekat, membiarkan Aira merasa nyaman tapi tetap ada kontak mata ringan. Dari jarak beberapa meja, Dipta tetap menonton. Setiap gerakan Angger, cara ia mencondongkan tubuh, senyumnya, bahkan nada suaranya terbaca jelas di otak Dipta. Dadanya berdebar sedikit, tapi bukan karena cemburu. Ia tidak suka merasa ada orang lain mendekati Aira, apalagi dengan begitu santai, begitu alami. Aira menatap buku, menulis beberapa catatan. Setiap kali ia menatap Angger untuk bertanya, jantungnya deg-degan. Ia tidak sadar bahwa Dipta memperhatikan dari jauh. Dan dari sisi lain, suasana kantin seolah menahan napasnya sendiri, semua gerak-gerik kecil mereka menjadi titik ketegangan tersendiri. Setelah beberapa menit, Angger menyelesaikan penjelasannya, menepuk buku pelan, tersenyum. “Oke deh, itu aja dulu. Kalau masih bingung, panggil aku lagi ya.” Aira mengangguk, tersenyum malu. “Iya… terima kasih, Kak Angger. Beneran membantu.” Dipta menarik napas pelan, menurunkan tangan yang tadi mengetuk meja, lalu melangkah pelan meninggalkan kantin. Ia tidak menoleh, tapi matanya tetap tertuju pada Aira sesekali saat berjalan. Aura tenang tapi misterius itu membuat Aira secara otomatis menoleh, merasakan deg-degan yang belum pernah ia alami. Angger menatap Aira terakhir kali, tersenyum tipis, lalu kembali ke meja sendiri. Sementara Aira menatap ke jendela, matanya berkaca-kaca sedikit karena menahan debaran jantungnya. Hari itu, untuk pertama kalinya, Aira merasa sekolah barunya… sedikit berbeda. ° Perpustakaan siang itu sunyi. Cahaya matahari menembus jendela tinggi, membuat debu halus berterbangan di udara. Rak-rak kayu tinggi berjajar, menyisakan lorong sempit yang harus dilewati untuk mencapai buku-buku referensi. Aira berdiri di depan rak biologi, jari-jarinya menelusuri deretan buku. Beberapa buku terlalu tinggi, ia harus berdiri sedikit menonjolkan tubuh agar bisa meraih judul yang diinginkan. Sesekali ia menunduk, membolak-balik halaman, wajahnya serius tapi polos. Dari sisi rak lain, Bayu berjalan pelan. Ia memperhatikan Aira dari jarak beberapa meter, menyesuaikan langkahnya agar tidak terlalu dekat tapi tetap terlihat natural. Saat Aira mengangkat satu buku dan hampir kehilangan keseimbangan, Bayu menahan tangannya. “Awas.”, kata Bayu. Aira menoleh cepat, sedikit terkejut. Buku itu sudah aman di genggaman Bayu. Mata mereka bertemu sesaat, dan Aira merasakan detak jantungnya sedikit naik. “Oh… makasih”, katanya, menunduk sopan. Bayu tersenyum tipis, senyumnya hangat tapi tidak memaksa. “Aku punya ringkasan materi itu di HP. Kalau mau, bisa kdipahami lebih gampang dipahami.” Aira menatap Bayu dengan sedikit ragu. Ia bukan tipe yang mudah menerima bantuan. Tapi ada sesuatu di tatapan Bayu tenang, sopan, tidak ada tekanan yang akhirnya membuatnya merasa nyaman. “Boleh… tapi Kakak bikin sendiri ya?”, tanyanya pelan. “Iya. Semua catatan itu kubuat sendiri", jawab Bayu. “Supaya lebih mudah dimengerti.” Aira mengambil HP yang diberikan, matanya fokus membaca ringkasan yang rapi. Tangan Bayu masih tergantung ringan di samping, tidak menekan atau terlalu dekat. Sementara itu, dari sudut rak yang berbeda. Dipta berdiri diam. Matanya tidak berkedip terlalu sering. Ia memperhatikan gerak Aira dan Bayu. Bayu mencondongkan tubuh sedikit agar layar HP bisa terlihat jelas oleh Aira. Aira ikut mencondong, sedikit memiringkan kepala. Gestur itu terlihat biasa tapi bagi Dipta, setiap gerakan itu mengiris kesabaran kecilnya. Dipta menarik napas pelan, menunduk sebentar. Rahangnya mengeras. Ia berjalan satu langkah ke samping, hanya cukup untuk terlihat jika Aira menoleh. Tapi ia tidak berbicara dan tidak perlu. Hanya kehadirannya sudah cukup membuat Bayu sadar ada orang lain memperhatikan. “Struktur, fungsi, perbedaan”, Dipta akhirnya berkata rendah tapi jelas, terdengar oleh Aira. “Kalau kamu fokus tiga poin itu, sisanya mengikuti sendiri.” Aira menoleh, sedikit terkejut. “Kak… Dipta?” Bayu menahan senyum tipis, matanya melihat ke arah Dipta tapi tetap tenang. Dipta mencondongkan tubuh sedikit, menunjuk bagian buku di rak yang lebih relevan, tapi tetap memberi jarak. Nada suaranya rendah, misterius, tapi ramah. Aira menatapnya lagi, jantungnya berdegup lebih cepat. Wajahnya memerah sedikit. Bayu mengulurkan tangan untuk menutup HP, memberi Aira ruang. “Ya sudah, pakai cara Kak Dipta juga bisa”, katanya pelan, tapi nada suaranya menahan sedikit ketegangan. Aira menatap keduanya, merasa bingung tapi senang. Ia tidak menyadari bahwa hari itu, strategi diam-diam para kakak kelas sedang dijalankan: Angger dengan santainya, Bayu dengan praktisnya, Dipta dengan kehadirannya yang menguasai, dan Raka yang menunggu giliran berikutnya. Beberapa menit kemudian, Aira menata buku di tasnya. Ia duduk di kursi dekat jendela, menatap cahaya matahari menembus daun pepohonan di luar. Senyum tipis muncul di wajahnya, campuran rasa penasaran, kagum, dan sedikit deg-degan. Dari pojok rak lain, Dipta menutup bukunya, tangan menepuk pelan di tepi rak. Ia mengamati, menghitung langkah, mengulang setiap gerakan Aira dari awal hingga akhir. Tidak ada kata-kata yang keluar. Hanya ketenangan yang membakar sedikit ego, obsesi halus yang mulai terbentuk. Dan Aira, polos seperti biasanya, masih belum menyadari bahwa setiap interaksi hari itu terlihat santai, praktis, atau misterius merupakan bagian dari strategi yang diam-diam dijalankan teman-teman Dipta. Sore itu, ia pulang dengan hati ringan tapi kepala penuh catatan, sementara di balik rak dan lorong-lorong perpustakaan, empat orang lain menatap dengan cara masing-masing. Strategi diam-diam berjalan, dan tensi psikologis mulai terasa perlahan tapi pasti.Sore itu, sebuah kafe tidak jauh dari pusat kota cukup ramai. Di salah satu sudut, empat orang sudah duduk santai sejak tadi. Angger bersandar di kursi, kakinya selonjoran, Bayu sibuk dengan minumannya dan Raka lebih banyak diam, memainkan sendok di gelasnya. Sementara David tampak santai, ponselnya di tangan. “Mana sih orangnya?”, keluh Bayu. “Ngaret mulu.” “Biasa”, jawab Angger santai. “Orang sibuk.” “Gaya”, gumam Bayu. Belum sempat mereka lanjut seseorang datang. Dipta, langkahnya tenang seperti biasa, ekspresinya datar. Ia langsung duduk tanpa banyak basa-basi. “Lama”, komentar Bayu. “Macet”, jawab Dipta singkat. Padahal tidak, namun tidak ada yang mempermasalahkan. Beberapa menit awal diisi obrolan ringan, tentang sekolah, tentang kelulusan dan tentang rencana setelah lulus. Sampai akhirnya topik itu muncul. “Eh”, ucap David tiba-tiba, matanya beralih ke Dipta. “Ngomong-ngomong…” Dipta melirik sekilas. “Apa?” David menyandarkan tubuhnya. “Udah lewat, ya?” “A
Pintu kamar tertutup. Begitu kunci terpasang, Aira langsung bersandar di baliknya. Tubuhnya perlahan merosot ke bawah, tangannya menutup mulutnya sendiri, menahan suara yang sejak tadi ia paksa untuk tidak keluar dan saat itu juga semuanya pecah. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi, diam tanpa suara keras. Tubuhnya bergetar hebat seolah seluruh beban yang selama ini ia tahan akhirnya menemukan celah untuk keluar. Aira menunduk, dahinya hampir menyentuh lututnya. Tangannya masih menutup mulutnya, berusaha menahan agar tangisnya tidak terdengar keluar kamar. Ia tidak ingin ibunya tahu, tidak ingin siapa pun tahu, justru karena itulah rasanya semakin sesak. Napasnya tidak teratur, dadanya terasa sakit dan untuk beberapa saat, ia hanya bisa menangis seperti itu, sendirian. Entah berapa lama, tangisnya perlahan mereda dan hanya tersisa sesekali isakan kecil yang tertahan. Aira mengusap wajahnya kasar, mencoba menghapus sisa-sisa air mata. Ia menarik napas panjang beberapa kali la
Beberapa hari setelah itu, Aira mulai terlihat lebih “normal”, setidaknya di depan orang lain. Ia kembali masuk sekolah seperti biasa. Wajahnya memang masih sedikit pucat, tapi ia sudah tidak lagi terlihat limbung seperti sebelumnya. Ia lebih banyak diam, namun tetap menjawab saat diajak bicara. Di rumah pun sama, ia mulai makan meski hanya sedikit, mulai keluar kamar meski tidak lama. Dan setiap kali ibunya bertanya, Aira selalu menjawab dengan kalimat yang sama. “Aku udah mendingan, Bu.” Awalnya, ibunya masih memperhatikan dengan seksama. Namun hari demi hari, saat melihat Aira tetap bisa beraktivitas, kekhawatiran itu perlahan berkurang. Ayahnya juga berpikir hal yang sama, mungkin memang hanya kelelahan karena sekolah. Mereka mulai percaya dan Aira membiarkan itu. Malam hari, lampu kamar Aira menyala, musik terdengar cukup keras dari dalam. Lagu yang biasanya ia putar pelan, kali ini volumenya dinaikkan lebih tinggi dari biasanya. Di dalam kamar mandi, Aira membungkuk di depan
Di dalam UKS, Aira masih duduk lemah di tepi ranjang. Kepalanya terasa berat, pandangannya kadang masih sedikit berkunang. Perawat sudah beberapa kali menyuruhnya berbaring lagi, tapi Aira bersikeras ingin duduk. “Pusingnya masih?”, tanya salah satu guru yang sejak tadi mendampinginya. Aira menggeleng pelan. “Udah mendingan, Bu…” Namun wajahnya yang pucat justru berkata sebaliknya. Guru itu menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas pelan. “Sepertinya kamu nggak bisa lanjut pelajaran hari ini. Ibu nggak mau kamu pingsan lagi di kelas.” Aira ingin menolak. Ia tidak ingin merepotkan siapa pun. Tapi bahkan untuk sekadar berdiri saja, tubuhnya masih terasa ringan dan tidak stabil. “Teman kamu ada yang bisa antar pulang?”, tanya guru itu lagi. Aira sempat terdiam. Ia tidak tahu harus meminta tolong pada siapa. Di luar UKS, Farhan yang sejak tadi berdiri agak menjauh akhirnya melangkah mendekat. “Saya bisa, Bu. Saya bawa mobil.” Guru itu langsung mengangguk. “Ya sudah,
Beberapa hari sebelum ujian akhir sekolah dimulai, Dipta semakin jarang punya waktu. Jadwalnya penuh dari pagi sampai sore di sekolah untuk tambahan belajar dan try out, malamnya di rumah atau di apartemen dengan buku-buku dan materi ujian. Karena itu, saat suatu sore Dipta tiba-tiba berkata, “Besok malam ke apartemen. ” Aira langsung menoleh. “Buat apa?” Dipta menatapnya sebentar. “Belajar... habis ini aku bakal sibuk banget. Mungkin itu terakhir kali aku bisa ngajarin kamu sebelum ujian.” Kalimat itu sederhana, namun cukup membuat Aira mengangguk tanpa banyak berpikir. Bagaimanapun, akhir-akhir ini ia selalu merindukan saat-saat ketika Dipta duduk di sampingnya, menjelaskan pelajaran dengan nada datar dan tatapan serius seperti dulu. Malam berikutnya, Aira datang ke apartemen Dipta. Seperti biasa, awalnya memang benar-benar belajar. Meja di ruang makan penuh dengan buku, catatan, dan laptop. Dipta masih mengajari seperti biasa, masih sabar, masih sesekali menyindir Aira k
Libur panjang yang awalnya Aira kira akan terasa menyenangkan, justru berubah menjadi sesuatu yang membuatnya semakin tidak tenang. Hari pertama setelah pembagian rapor, Dipta masih seperti biasa. Masih sempat mengirim pesan pagi, masih sempat bertanya Aira sedang apa, bahkan malamnya masih menelepon sebentar, meski tidak lama. Setelah itu, semuanya mulai berubah. Pesan Aira yang biasanya dibalas dalam hitungan menit, sekarang bisa berjam-jam. Kadang baru dibalas sore, padahal dikirim sejak pagi, kadang bahkan malam dan jawaban Dipta selalu singkat. “Aku lagi sibuk.” “Di luar.” “Nanti ya.” “Capek.” Tidak ada penjelasan lebih dari itu. Awalnya Aira berusaha menganggap biasa, mungkin Dipta memang sedang sibuk, mungkin ada urusan keluarga atau mungkin karena libur, jadi dia lebih banyak pergi ke luar rumah. Namun semakin lama, semakin aneh, bahkan ada momen saat akhirnya membalas, Dipta tidak lagi seperti biasanya, tidak ada pesan panjang, tidak ada godaan menyebalkan, tidak
Lift sudah menunggu ketika mereka memasuki lobi apartemen. Lampu di dalamnya terang, dindingnya dilapisi cermin dari sisi ke sisi. Pantulan mereka langsung terlihat begitu pintu terbuka. Aira melangkah masuk lebih dulu, lalu berdiri sedikit ke samping. Dipta masuk setelahnya dan menekan tombol lant
Jam di dinding kamar Aira menunjukkan pukul 15.12. Ia sudah membuka lemari sejak lima menit lalu, tapi belum juga mengambil keputusan.“Kenapa sih susah banget cuma mau makan?” gumamnya pelan.Tangannya menyentuh beberapa gantungan baju. Blus putih? Terlalu formal. Kaos oversized? Terlalu santai. A
Pagi itu sekolah terasa seperti biasa, tapi bagi Aira, ada sedikit rasa “tidak biasa” yang sulit dijelaskan. Ia berjalan bersama Nadhira dan Lestari, tas digendong satu sisi, buku di tangan. Suara sepatu beradu dengan lantai keramik, tawa teman-teman terdengar dari beberapa kelas.“Air, nanti istir
Pagi itu koridor sekolah lebih ramai dari biasanya. Anak-anak baru selesai upacara dan bergerak ke kelas masing-masing. Suara sepatu beradu dengan lantai, tawa kecil terdengar di beberapa sudut. Aira berjalan bersama Nadhira dan Lestari. Tasnya digendong satu sisi, tangannya memegang buku yang belu







