Home / Romansa / DIPTA / BAB 4 Persaingan Dipta dan Teman-Teman

Share

BAB 4 Persaingan Dipta dan Teman-Teman

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-02-24 22:05:46

Suasana kelas XI IPA 2 pagi itu lebih tegang dari biasanya. Kertas ulangan biologi sudah dibagikan, masih tertutup di atas meja masing-masing siswa. Suara kipas angin berputar terasa lebih keras karena hampir semua orang diam.

Aira duduk tegak. Tangannya berada di atas meja, jari-jarinya saling bertaut. Wajahnya tenang, tapi ada napas yang ia tahan tanpa sadar.

“Silakan dibuka,” kata guru mereka.

Suara kertas terbalik terdengar serempak, Aira menunduk. Angka merah di pojok kanan atas langsung ia cari.

Nilai: 98. Matanya berhenti di sana, untuk sesaat ia tidak bergerak. Lalu perlahan, sudut bibirnya terangkat. Bukan senyum lebar, tapi lebih ke puas, lega dan tepat. Ia mengembuskan napas yang sejak tadi ia tahan.

Teman di sebelahnya melirik. “Wah, hampir sempurna!”

Aira hanya tertawa kecil. “Masih kurang dua.”

“Tetap aja itu tinggi banget.”, kata temannya lagi.

Aira tidak menjawab. Tapi di dalam kepalanya, satu kalimat muncul jelas. 'Dapat di atas sembilan puluh lima.' Tanpa sadar, ia menoleh ke arah jendela, seolah seseorang bisa melihatnya dari sana.

Jam istirahat pertama. Lorong gedung IPS tidak seramai biasanya. Beberapa siswa keluar masuk kelas dengan santai. Dipta sedang berdiri di depan kelas XII IPS 1, berbicara singkat dengan guru ekonomi. Map biru ada di tangannya. Gerakannya tenang dan tatapannya fokus. Lalu seseorang berhenti dua langkah di depannya.

“Kak.”, kata orang itu, yang tak lain adalah Aira.

Dipta menoleh. Aira berdiri di sana, sedikit terengah karena mungkin berjalan cepat. Tasnya masih tergantung di bahu, dan wajahnya untuk pertama kali sejak mereka bertemu terlihat benar-benar cerah.

“Aku dapat 98”, katanya tanpa basa-basi. Ada kilat kecil di matanya. Bangga, tapi ingin memastikan seseorang tahu.

Dipta memperhatikannya beberapa detik. Dan entah kenapa, melihat Aira datang mencarinya lebih dulu membuat sesuatu di dalam dadanya terasa berbeda.

“Bagus,” jawabnya tenang. Tapi sorot matanya berubah sedikit. Lebih hangat.

“Aku pakai cara Kakak,” lanjut Aira. “Fungsi dulu, baru istilah.”

Dipta mengangguk pelan. “Kamu memang mampu.”

Kalimat itu sederhana, tapi membuat Aira terdiam sesaat. Bukan karena pujian itu berlebihan, tapi karena ia jarang mendengar seseorang mengatakannya dengan nada se-yakin itu.

“Terima kasih,” ucapnya lebih pelan.

Dipta menatap wajahnya yang masih menyimpan sisa senyum tadi. Ia menyadari satu hal, Aira tidak datang untuk pamer nilai. Ia datang untuk berbagi hasilnya, dengannya dan itu bukan bagian dari rencana awalnya.

Di ujung lorong, Angger dan Raka baru saja keluar dari tangga penghubung gedung IPA–IPS. Langkah mereka melambat saat melihat pemandangan di depan. Aira berdiri cukup dekat dengan Dipta. Wajahnya terlihat santai. Tidak canggung. Tidak menjaga jarak seperti saat berbicara dengan kakak kelas lain.

Raka menyenggol bahu Angger pelan. “Cepat banget.”

Angger mengamati dalam diam. “Dia yang nyari duluan,” gumamnya.

Bayu yang menyusul di belakang ikut memperhatikan. “Ini udah beda.”

David datang paling akhir, tangannya masih memegang helm. Ia hanya tersenyum tipis. “Udah kubilang.”

Kembali ke lorong, dimana Dipta dan Aira berada.

“Kamu lagi kosong?” tanya Dipta tiba-tiba.

Aira mengangguk. “Iya, istirahat dua jam.”

“Ke perpustakaan.”, bukan ajakan ragu-ragu maupun pertanyaan, lebih seperti keputusan yang wajar.

Aira tidak menolak. “Oke.”

Mereka berjalan berdampingan. Tidak terlalu dekat tapi cukup sejajar. Beberapa siswa yang berpapasan mulai melirik. XI IPA 2 dan XII IPS 1 memang jarang terlihat bersama. Apalagi dengan jarak sedekat itu.

Di perpustakaan, mereka duduk di meja yang sama seperti beberapa hari lalu. Aira terlihat lebih santai sekarang. Bahunya tidak setegang sebelumnya.

“Aku jarang belajar bareng orang,” katanya tiba-tiba.

“Kenapa?”, tanya Dipta.

“Biasanya aku lebih nyaman sendiri.”, jelasnya.

Dipta memperhatikannya. “Kamu nyaman sekarang?”, pertanyaan itu keluar lebih personal dari yang ia rencanakan.

Aira terdiam sesaat. Ia tidak langsung menjawab. “Lumayan”, katanya akhirnya, tersenyum kecil.

Jawaban itu membuat jari Dipta yang sedang memegang pulpen berhenti sepersekian detik. Lumayan, bukan sekadar sopan ataupun basa-basi. Tanpa sadar, ia mulai ingin kata itu berubah menjadi sesuatu yang lebih.

Beberapa menit kemudian, seorang siswa laki-laki dari XI IPA masuk ke perpustakaan. Ia berhenti saat melihat Aira.

“Aira,” panggilnya.

Aira menoleh. “Eh, Farhan.”

Ia berdiri sedikit dari kursinya. “Kamu tadi keren banget nilainya,” lanjut Farhan sambil tersenyum. “Mau belajar bareng buat kimia nanti?”

Aira terlihat berpikir sebentar. “Boleh sih—”

“Kita sudah ada rencana.”, suara Dipta memotong.

Tenang, datar dan jelas.

Farhan menoleh, baru menyadari keberadaan Dipta sepenuhnya. “Oh… Kak", katanya sedikit canggung.

Aira berkedip. “Rencana?”

Dipta menatapnya tanpa ragu. “Materi minggu depan.”

Itu tidak sepenuhnya bohong. Tapi juga bukan sesuatu yang sudah disepakati. Aira melihat dari satu wajah ke wajah lain, lalu tersenyum kecil pada Farhan. “Maaf ya, mungkin lain kali.”

Farhan mengangguk, meski jelas kecewa. “Iya, nggak apa-apa.”

Farhan pergi dan suasana meja itu berubah sedikit. Aira kembali duduk perlahan.

“Kita memang ada rencana?” tanyanya ringan.

Dipta menatap buku di depannya, bukan wajah Aira. “Akan ada.” Nada suaranya tetap stabil.

Tapi di dalam dirinya. Ia baru saja merasakan sesuatu yang belum pernah ia masukkan dalam strategi. Tidak suka, bukan karena takut kalah ataupun bukan karena taruhan. Tapi karena melihat Aira hampir mengatakan “boleh” pada orang lain. Dan perasaan itu tidak rasional.

Aira kembali membuka bukunya. Tidak menyadari bahwa lelaki di depannya kini tidak lagi sekadar mengamati pola. Ia mulai ingin mengatur jaraknya, mengendalikan situasi, dan memastikan kalau Aira belajar, Aira berbagi, Aira tersenyum, itu bersamanya. Dan obsesi kecil itu, mulai mengambil bentuk.

°

Esoknya, kantin siang itu ramai. Aroma gorengan dan kopi bercampur dengan suara gelas dan tawa murid-murid. Matahari menembus jendela kaca, menerangi lantai yang sedikit berkilau. Aira duduk di salah satu meja dekat jendela, punggung tegak, buku biologi terbuka di depannya. Ia sedang serius menulis catatan, sesekali mencondongkan kepala untuk membaca ulang paragraf yang sulit dimengerti. Deg-degan kecil muncul setiap kali ia menoleh ke sekitar, tapi ia menahan diri, tetap fokus.

Dari sisi lain, Angger berjalan santai. Satu tangan menggenggam baki minuman, senyumnya tipis tapi ramah. Ia berhenti beberapa meter dari Aira, menatapnya sebentar. Tubuhnya condong ringan ke arah Aira, tapi menjaga jarak satu kursi kosong di antara mereka, strategi halus agar tidak terlalu menekan.

“Eh… itu buku catatan biologi ya?”, suaranya ringan, bersahabat, tanpa ada nada memaksa.

Aira menoleh, sedikit tersipu, menutup bukunya perlahan. “Ah… iya. Aku lagi belajar topik sel dan jaringan. Beberapa bagian kurang jelas, jadi harus lebih teliti”, jawabnya. Bibirnya sedikit mengerut saat berbicara. “Oh… Kakak siapa ya? Kok bisa ada di sini?”

Angger tersenyum, menyandarkan punggungnya ke kursi. “Kenalin, aku Angger. Dari kelas XII IPA 3. Aku tahu kamu karena kamu murid baru, lagi jadi perbincangan di sekolah. Kebetulan tadi lewat, lihat kamu serius banget belajar. Kalau mau, aku bisa bantu. Dulu aku juga sering kesulitan topik itu, bikin pusing kalau nggak ngerti dasar-dasarnya.”

Aira tersenyum malu, menunduk sebentar, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. “Oh… gitu ya… Salam kenal, Kak Angger. Terima kasih. Aku biasanya belajar sendiri, tapi senang ada yang bisa jelasin.”

Sementara itu, di pojok kantin, Dipta berdiri tegap, setengah tersembunyi di balik barisan kursi. Matanya tajam tapi tenang, menatap Angger dan Aira. Rahangnya sedikit mengeras, jari-jarinya mengetuk pelan di tepi meja seolah menghitung waktu setiap detik yang mereka habiskan bersama. Ia diam, menahan diri, tetapi setiap gerak Angger membuat dadanya terasa sedikit panas.

Angger mencondongkan tubuh satu langkah, menatap Aira sambil menunjuk halaman buku yang ia maksud. “Kalau mau, aku bisa jelasin sedikit. Santai aja, nggak perlu terburu-buru.”

Aira menatap halaman buku, lalu menoleh ke Angger, wajahnya memerah tipis. “Iya… boleh. Tapi Kakak jangan capek jelasin aku ya.”

“Ah… santai aja. Aku juga senang kalau bisa bantu”, Angger menjawab, matanya sedikit berbinar saat melihat Aira tersenyum. Ia menahan diri untuk tidak terlalu dekat, membiarkan Aira merasa nyaman tapi tetap ada kontak mata ringan.

Dari jarak beberapa meja, Dipta tetap menonton. Setiap gerakan Angger, cara ia mencondongkan tubuh, senyumnya, bahkan nada suaranya terbaca jelas di otak Dipta. Dadanya berdebar sedikit, tapi bukan karena cemburu. Ia tidak suka merasa ada orang lain mendekati Aira, apalagi dengan begitu santai, begitu alami.

Aira menatap buku, menulis beberapa catatan. Setiap kali ia menatap Angger untuk bertanya, jantungnya deg-degan. Ia tidak sadar bahwa Dipta memperhatikan dari jauh. Dan dari sisi lain, suasana kantin seolah menahan napasnya sendiri, semua gerak-gerik kecil mereka menjadi titik ketegangan tersendiri.

Setelah beberapa menit, Angger menyelesaikan penjelasannya, menepuk buku pelan, tersenyum. “Oke deh, itu aja dulu. Kalau masih bingung, panggil aku lagi ya.”

Aira mengangguk, tersenyum malu. “Iya… terima kasih, Kak Angger. Beneran membantu.”

Dipta menarik napas pelan, menurunkan tangan yang tadi mengetuk meja, lalu melangkah pelan meninggalkan kantin. Ia tidak menoleh, tapi matanya tetap tertuju pada Aira sesekali saat berjalan. Aura tenang tapi misterius itu membuat Aira secara otomatis menoleh, merasakan deg-degan yang belum pernah ia alami.

Angger menatap Aira terakhir kali, tersenyum tipis, lalu kembali ke meja sendiri. Sementara Aira menatap ke jendela, matanya berkaca-kaca sedikit karena menahan debaran jantungnya.

Hari itu, untuk pertama kalinya, Aira merasa sekolah barunya… sedikit berbeda.

°

Perpustakaan siang itu sunyi. Cahaya matahari menembus jendela tinggi, membuat debu halus berterbangan di udara. Rak-rak kayu tinggi berjajar, menyisakan lorong sempit yang harus dilewati untuk mencapai buku-buku referensi.

Aira berdiri di depan rak biologi, jari-jarinya menelusuri deretan buku. Beberapa buku terlalu tinggi, ia harus berdiri sedikit menonjolkan tubuh agar bisa meraih judul yang diinginkan. Sesekali ia menunduk, membolak-balik halaman, wajahnya serius tapi polos.

Dari sisi rak lain, Bayu berjalan pelan. Ia memperhatikan Aira dari jarak beberapa meter, menyesuaikan langkahnya agar tidak terlalu dekat tapi tetap terlihat natural. Saat Aira mengangkat satu buku dan hampir kehilangan keseimbangan, Bayu menahan tangannya.

“Awas.”, kata Bayu.

Aira menoleh cepat, sedikit terkejut. Buku itu sudah aman di genggaman Bayu. Mata mereka bertemu sesaat, dan Aira merasakan detak jantungnya sedikit naik.

“Oh… makasih”, katanya, menunduk sopan.

Bayu tersenyum tipis, senyumnya hangat tapi tidak memaksa. “Aku punya ringkasan materi itu di HP. Kalau mau, bisa kdipahami lebih gampang dipahami.”

Aira menatap Bayu dengan sedikit ragu. Ia bukan tipe yang mudah menerima bantuan. Tapi ada sesuatu di tatapan Bayu tenang, sopan, tidak ada tekanan yang akhirnya membuatnya merasa nyaman.

“Boleh… tapi Kakak bikin sendiri ya?”, tanyanya pelan.

“Iya. Semua catatan itu kubuat sendiri", jawab Bayu. “Supaya lebih mudah dimengerti.”

Aira mengambil HP yang diberikan, matanya fokus membaca ringkasan yang rapi. Tangan Bayu masih tergantung ringan di samping, tidak menekan atau terlalu dekat. Sementara itu, dari sudut rak yang berbeda. Dipta berdiri diam. Matanya tidak berkedip terlalu sering. Ia memperhatikan gerak Aira dan Bayu.

Bayu mencondongkan tubuh sedikit agar layar HP bisa terlihat jelas oleh Aira. Aira ikut mencondong, sedikit memiringkan kepala. Gestur itu terlihat biasa tapi bagi Dipta, setiap gerakan itu mengiris kesabaran kecilnya.

Dipta menarik napas pelan, menunduk sebentar. Rahangnya mengeras. Ia berjalan satu langkah ke samping, hanya cukup untuk terlihat jika Aira menoleh. Tapi ia tidak berbicara dan tidak perlu. Hanya kehadirannya sudah cukup membuat Bayu sadar ada orang lain memperhatikan.

“Struktur, fungsi, perbedaan”, Dipta akhirnya berkata rendah tapi jelas, terdengar oleh Aira. “Kalau kamu fokus tiga poin itu, sisanya mengikuti sendiri.”

Aira menoleh, sedikit terkejut. “Kak… Dipta?”

Bayu menahan senyum tipis, matanya melihat ke arah Dipta tapi tetap tenang.

Dipta mencondongkan tubuh sedikit, menunjuk bagian buku di rak yang lebih relevan, tapi tetap memberi jarak. Nada suaranya rendah, misterius, tapi ramah. Aira menatapnya lagi, jantungnya berdegup lebih cepat. Wajahnya memerah sedikit.

Bayu mengulurkan tangan untuk menutup HP, memberi Aira ruang. “Ya sudah, pakai cara Kak Dipta juga bisa”, katanya pelan, tapi nada suaranya menahan sedikit ketegangan.

Aira menatap keduanya, merasa bingung tapi senang. Ia tidak menyadari bahwa hari itu, strategi diam-diam para kakak kelas sedang dijalankan: Angger dengan santainya, Bayu dengan praktisnya, Dipta dengan kehadirannya yang menguasai, dan Raka yang menunggu giliran berikutnya.

Beberapa menit kemudian, Aira menata buku di tasnya. Ia duduk di kursi dekat jendela, menatap cahaya matahari menembus daun pepohonan di luar. Senyum tipis muncul di wajahnya, campuran rasa penasaran, kagum, dan sedikit deg-degan.

Dari pojok rak lain, Dipta menutup bukunya, tangan menepuk pelan di tepi rak. Ia mengamati, menghitung langkah, mengulang setiap gerakan Aira dari awal hingga akhir. Tidak ada kata-kata yang keluar. Hanya ketenangan yang membakar sedikit ego, obsesi halus yang mulai terbentuk.

Dan Aira, polos seperti biasanya, masih belum menyadari bahwa setiap interaksi hari itu terlihat santai, praktis, atau misterius merupakan bagian dari strategi yang diam-diam dijalankan teman-teman Dipta.

Sore itu, ia pulang dengan hati ringan tapi kepala penuh catatan, sementara di balik rak dan lorong-lorong perpustakaan, empat orang lain menatap dengan cara masing-masing. Strategi diam-diam berjalan, dan tensi psikologis mulai terasa perlahan tapi pasti.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DIPTA   BAB 160 Reuni

    Saat Aira keluar dari kamar mandi dengan dress yang sudah rapi menempel di tubuhnya, suasana kamar terasa lebih tenang. Rambutnya masih setengah basah, ujung-ujungnya meneteskan air yang ia biarkan jatuh begitu saja sebelum akhirnya duduk di depan meja rias. Tangannya bergerak pelan, mengambil cushion, menepuk-nepuk tipis ke wajahnya. Tidak berlebihan, hanya cukup untuk meratakan warna kulit yang sedikit lelah. Lalu concealer tipis di bawah mata, sedikit lipbalm, dan sentuhan halus lain yang hampir tidak terlihat tapi cukup membuat aura wajahnya berubah. Bukan jadi mencolok, hanya terlihat lebih segar. Di saat yang sama, pintu kamar terbuka. Dipta masuk, rambutnya masih sedikit berantakan, kaosnya sudah ia ganti dengan yang lebih santai setelah tadi menemani Askara mandi. Langkahnya sempat terhenti begitu melihat Aira di depan meja rias. Ia tidak langsung bicara hanya berdiri sebentar, memperhatikan. Aira yang awalnya fokus ke cermin akhirnya sadar sedang diperhatikan. Matanya meli

  • DIPTA   BAB 159 Sebelum Acara

    Menjelang sore, suasana rumah sudah kembali hidup seperti biasanya. Dari dapur, aroma masakan mulai menyebar perlahan ke seluruh ruangan. Wangi gurih ayam kremes yang sedang digoreng bercampur dengan aroma rolade yang sudah matang, ditambah tumis kacang panjang yang masih mengeluarkan suara “cesss…” pelan dari wajan. Aira berdiri di depan kompor, rambutnya diikat seadanya, tangannya sibuk bolak-balik antara wajan dan piring. Sesekali ia mencicipi masakan, memastikan rasanya pas. Sementara di sampingnya, Dipta duduk santai di kursi dapur sambil membantu memotong ujung-ujung kacang panjang. Gerakannya rapi, meski jelas bukan ahli dapur, tapi cukup terbiasa. “Yang ini dibuang semua?” tanyanya sambil mengangkat satu potong. Aira melirik sekilas. “Iya, yang keras-keras dibuang. Jangan ikut dimasak nanti susah dimakan.” Dipta mengangguk pelan, lanjut bekerja tanpa banyak komentar. Suasana itu sederhana, tapi terasa hangat. Di kamar, Askara yang tadi tidur siang mulai bergerak pelan. Al

  • DIPTA   BAB 158 Baterai Habis

    Setelah keluar dari butik, mereka tidak langsung pulang. Langkah Aira justru melambat saat melewati deretan restoran di lantai itu. Perutnya sebenarnya sudah mulai terasa kosong, apalagi sejak tadi hanya fokus memilih baju dan “mengawasi” dua orang di belakangnya, satu suami, satu anak. “Aku lapar.” ucap Aira tiba-tiba. Dipta yang berjalan di sampingnya langsung menoleh. “Dari tadi nggak bilang.” Aira mendengus. “Lagi milih baju mana sempat mikirin makan.” Askara yang dengar kata makan langsung bereaksi paling cepat. “MAKAN??” Nada suaranya naik satu oktaf Aira langsung tertawa kecil. “Iya, makan.” “AYO!” katanya sambil langsung menarik tangan Aira. Dipta hanya menggeleng kecil melihat itu. Mereka akhirnya memilih salah satu restoran yang tidak terlalu ramai tapi cukup nyaman. Tempatnya hangat, tidak terlalu formal, cocok untuk makan santai. Begitu duduk, Askara langsung naik ke kursi dengan semangat, bahkan belum lihat menu. “Aku mau ayam!” Aira menghela napas. “Belum liha

  • DIPTA   BAB 157 Undangan Reuni

    Sore itu, Dipta baru saja sampai rumah, masih dengan kemeja kerja yang belum sempat dia ganti. Ponselnya bergetar terus sejak tadi di mobil, tapi baru sekarang dia benar-benar membuka grup lama yang sudah lama sekali tidak aktif. “SMA Garuda – Angkatan Kita” Nama grup yang bahkan sudah hampir dia lupakan. Begitu dibuka, isinya sudah ramai, David, Angger, Bayu, Raka semuanya muncul lagi dengan gaya yang masih sama seperti dulu, hanya saja sekarang ditambah topik kerja, hidup, dan reuni. Dipta membaca beberapa pesan, sudut bibirnya sedikit naik. “Reuni, ya…” gumamnya pelan. Malamnya, saat Aira sedang duduk santai di ruang tengah sambil scroll sesuatu di ponselnya, Dipta duduk di sebelahnya. “Ada undangan.” katanya tiba-tiba. Aira melirik sekilas. “Undangan apa?” “Reuni SMA Garuda.” Aira langsung berhenti scrolling. Dia menoleh penuh. “Reuni?” Dipta mengangguk. “Yang ngundang anak-anak satu angkatan. Di sekolah.” Aira diam sebentar, mencerna. SMA Garuda, tempat yang punya cuku

  • DIPTA   BAB 156 Rencana Honeymoon

    Malam sudah benar-benar tenang ketika mereka berdua akhirnya rebahan di ranjang, bukan dengan suasana lelah seperti beberapa hari sebelumnya, tapi lebih ke kondisi “selesai semua urusan hari itu”. Aira bersandar di dada Dipta, posisinya santai, satu tangannya main pelan di ujung selimut, sementara Dipta menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Lampu kamar sudah diredupkan, menyisakan cahaya hangat yang bikin suasana terasa lebih pelan dari biasanya, tidak ada pembicaraan besar. Sampai Dipta tiba-tiba membuka suara. “Kalau kita honeymoon gimana?” Aira yang sedang santai langsung berhenti sejenak. Dia mengangkat sedikit kepalanya, menoleh ke arah Dipta. “Honeymoon?” ulangnya pelan. Dipta mengangguk, tetap tenang. “Iya.” Aira diam sebentar. Bukan karena tidak mengerti, tapi karena kalimat itu terasa agak… terlambat, dalam arti yang tidak buruk, hanya saja baru sekarang muncul di tengah hidup yang sudah cukup panjang mereka jalani. Dia menghembuskan napas pelan. “Kita honeymoon s

  • DIPTA   BAB 155 Betah

    Begitu keluar dari kamar mandi, Dipta hanya menemukan kamar yang sudah rapi, rapi dalam versi Aira yang khas. Tidak berantakan, tapi juga bukan tipe rapi yang “hotel banget”. Ada sentuhan hidup di sana, tas yang sudah kembali ke tempatnya, bed cover yang sedikit dirapikan, dan aroma samar sabun yang masih tertinggal di udara tapi Aira tidak ada di sana. Dipta berhenti sebentar di tengah langkah. Matanya menyapu kamar, kosong tidak ada tanda-tamda Aira disana. “Ke dapur lagi…” gumamnya pelan, sudah bisa menebak tanpa perlu banyak berpikir. Dia menghela napas kecil, lalu berjalan santai keluar kamar, masih dengan rambut setengah kering dan pakaian rumah yang sederhana. Cincin di jarinya sesekali memantulkan cahaya saat tangannya bergerak, seperti detail kecil yang sebenarnya tidak dia sadari tapi terus “ikut ada”. Begitu sampai di area dapur, benar saja. Aira sudah di sana. Suasana dapur terbuka itu hangat, bukan hanya karena kompor yang menyala, tapi juga karena suara kecil aktivi

  • DIPTA   BAB 3 Taruhan Dimulai

    Bel pulang berbunyi nyaring, menggema sampai ke lorong-lorong gedung IPS. Siswa kelas XII IPS 1 mulai beranjak dari kursi mereka. Suara kaki kursi bergeser dan ritsleting tas yang ditarik bersahutan. Di antara keramaian itu, Dipta tetap bergerak dengan ritmenya sendiri. Ia merapikan buku ekonominya

  • DIPTA   BAB 2 Mata Yang Mengamati

    Di kelas dekat sisi lapangan, suasana pagi begitu hidup. Beberapa murid masih asyik mengobrol, ada yang menatap papan tulis dengan serius didalam kelas, ada yang memainkan pulpen sambil setengah mengantuk saat berjalan. Di salah satu sisinya, empat murid Angger, Bayu, Raka, dan David duduk berdampi

  • DIPTA   BAB 1 Hari Pertama Humaira

    Humaira Navya Aruna atau biasa akrab dipanggil Aira menatap halaman depan sekolah baru itu dengan mata berbinar campur gugup. Gedung tinggi, cat krem yang rapi, kaca-kaca besar memantulkan cahaya pagi yang lembut. Semua terlihat begitu megah, berbeda dari sekolah lamanya yang sederhana. Jalan setap

  • DIPTA   BAB 7 Perhatian

    Pagi itu, udara di SMA terasa hangat, tapi tidak menusuk. Cahaya matahari menembus jendela kelas XI IPA 2, menyorot buku catatan Aira yang rapi. Ia duduk di bangku dekat jendela, mencoba fokus pada pelajaran Biologi. Tapi pikirannya sering melayang ke seseorang yang ia lihat beberapa kali dalam beb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status