LOGINSuasana kelas XI IPA 2 pagi itu lebih tegang dari biasanya. Kertas ulangan biologi sudah dibagikan, masih tertutup di atas meja masing-masing siswa. Suara kipas angin berputar terasa lebih keras karena hampir semua orang diam.
Aira duduk tegak. Tangannya berada di atas meja, jari-jarinya saling bertaut. Wajahnya tenang, tapi ada napas yang ia tahan tanpa sadar. “Silakan dibuka,” kata guru mereka. Suara kertas terbalik terdengar serempak, Aira menunduk. Angka merah di pojok kanan atas langsung ia cari. Nilai: 98. Matanya berhenti di sana, untuk sesaat ia tidak bergerak. Lalu perlahan, sudut bibirnya terangkat. Bukan senyum lebar, tapi lebih ke puas, lega dan tepat. Ia mengembuskan napas yang sejak tadi ia tahan. Teman di sebelahnya melirik. “Wah, hampir sempurna!” Aira hanya tertawa kecil. “Masih kurang dua.” “Tetap aja itu tinggi banget.”, kata temannya lagi. Aira tidak menjawab. Tapi di dalam kepalanya, satu kalimat muncul jelas. 'Dapat di atas sembilan puluh lima.' Tanpa sadar, ia menoleh ke arah jendela, seolah seseorang bisa melihatnya dari sana. Jam istirahat pertama. Lorong gedung IPS tidak seramai biasanya. Beberapa siswa keluar masuk kelas dengan santai. Dipta sedang berdiri di depan kelas XII IPS 1, berbicara singkat dengan guru ekonomi. Map biru ada di tangannya. Gerakannya tenang dan tatapannya fokus. Lalu seseorang berhenti dua langkah di depannya. “Kak.”, kata orang itu, yang tak lain adalah Aira. Dipta menoleh. Aira berdiri di sana, sedikit terengah karena mungkin berjalan cepat. Tasnya masih tergantung di bahu, dan wajahnya untuk pertama kali sejak mereka bertemu terlihat benar-benar cerah. “Aku dapat 98”, katanya tanpa basa-basi. Ada kilat kecil di matanya. Bangga, tapi ingin memastikan seseorang tahu. Dipta memperhatikannya beberapa detik. Dan entah kenapa, melihat Aira datang mencarinya lebih dulu membuat sesuatu di dalam dadanya terasa berbeda. “Bagus,” jawabnya tenang. Tapi sorot matanya berubah sedikit. Lebih hangat. “Aku pakai cara Kakak,” lanjut Aira. “Fungsi dulu, baru istilah.” Dipta mengangguk pelan. “Kamu memang mampu.” Kalimat itu sederhana, tapi membuat Aira terdiam sesaat. Bukan karena pujian itu berlebihan, tapi karena ia jarang mendengar seseorang mengatakannya dengan nada se-yakin itu. “Terima kasih,” ucapnya lebih pelan. Dipta menatap wajahnya yang masih menyimpan sisa senyum tadi. Ia menyadari satu hal, Aira tidak datang untuk pamer nilai. Ia datang untuk berbagi hasilnya, dengannya dan itu bukan bagian dari rencana awalnya. Di ujung lorong, Angger dan Raka baru saja keluar dari tangga penghubung gedung IPA–IPS. Langkah mereka melambat saat melihat pemandangan di depan. Aira berdiri cukup dekat dengan Dipta. Wajahnya terlihat santai. Tidak canggung. Tidak menjaga jarak seperti saat berbicara dengan kakak kelas lain. Raka menyenggol bahu Angger pelan. “Cepat banget.” Angger mengamati dalam diam. “Dia yang nyari duluan,” gumamnya. Bayu yang menyusul di belakang ikut memperhatikan. “Ini udah beda.” David datang paling akhir, tangannya masih memegang helm. Ia hanya tersenyum tipis. “Udah kubilang.” Kembali ke lorong, dimana Dipta dan Aira berada. “Kamu lagi kosong?” tanya Dipta tiba-tiba. Aira mengangguk. “Iya, istirahat dua jam.” “Ke perpustakaan.”, bukan ajakan ragu-ragu maupun pertanyaan, lebih seperti keputusan yang wajar. Aira tidak menolak. “Oke.” Mereka berjalan berdampingan. Tidak terlalu dekat tapi cukup sejajar. Beberapa siswa yang berpapasan mulai melirik. XI IPA 2 dan XII IPS 1 memang jarang terlihat bersama. Apalagi dengan jarak sedekat itu. Di perpustakaan, mereka duduk di meja yang sama seperti beberapa hari lalu. Aira terlihat lebih santai sekarang. Bahunya tidak setegang sebelumnya. “Aku jarang belajar bareng orang,” katanya tiba-tiba. “Kenapa?”, tanya Dipta. “Biasanya aku lebih nyaman sendiri.”, jelasnya. Dipta memperhatikannya. “Kamu nyaman sekarang?”, pertanyaan itu keluar lebih personal dari yang ia rencanakan. Aira terdiam sesaat. Ia tidak langsung menjawab. “Lumayan”, katanya akhirnya, tersenyum kecil. Jawaban itu membuat jari Dipta yang sedang memegang pulpen berhenti sepersekian detik. Lumayan, bukan sekadar sopan ataupun basa-basi. Tanpa sadar, ia mulai ingin kata itu berubah menjadi sesuatu yang lebih. Beberapa menit kemudian, seorang siswa laki-laki dari XI IPA masuk ke perpustakaan. Ia berhenti saat melihat Aira. “Aira,” panggilnya. Aira menoleh. “Eh, Farhan.” Ia berdiri sedikit dari kursinya. “Kamu tadi keren banget nilainya,” lanjut Farhan sambil tersenyum. “Mau belajar bareng buat kimia nanti?” Aira terlihat berpikir sebentar. “Boleh sih—” “Kita sudah ada rencana.”, suara Dipta memotong. Tenang, datar dan jelas. Farhan menoleh, baru menyadari keberadaan Dipta sepenuhnya. “Oh… Kak", katanya sedikit canggung. Aira berkedip. “Rencana?” Dipta menatapnya tanpa ragu. “Materi minggu depan.” Itu tidak sepenuhnya bohong. Tapi juga bukan sesuatu yang sudah disepakati. Aira melihat dari satu wajah ke wajah lain, lalu tersenyum kecil pada Farhan. “Maaf ya, mungkin lain kali.” Farhan mengangguk, meski jelas kecewa. “Iya, nggak apa-apa.” Farhan pergi dan suasana meja itu berubah sedikit. Aira kembali duduk perlahan. “Kita memang ada rencana?” tanyanya ringan. Dipta menatap buku di depannya, bukan wajah Aira. “Akan ada.” Nada suaranya tetap stabil. Tapi di dalam dirinya. Ia baru saja merasakan sesuatu yang belum pernah ia masukkan dalam strategi. Tidak suka, bukan karena takut kalah ataupun bukan karena taruhan. Tapi karena melihat Aira hampir mengatakan “boleh” pada orang lain. Dan perasaan itu tidak rasional. Aira kembali membuka bukunya. Tidak menyadari bahwa lelaki di depannya kini tidak lagi sekadar mengamati pola. Ia mulai ingin mengatur jaraknya, mengendalikan situasi, dan memastikan kalau Aira belajar, Aira berbagi, Aira tersenyum, itu bersamanya. Dan obsesi kecil itu, mulai mengambil bentuk. ° Esoknya, kantin siang itu ramai. Aroma gorengan dan kopi bercampur dengan suara gelas dan tawa murid-murid. Matahari menembus jendela kaca, menerangi lantai yang sedikit berkilau. Aira duduk di salah satu meja dekat jendela, punggung tegak, buku biologi terbuka di depannya. Ia sedang serius menulis catatan, sesekali mencondongkan kepala untuk membaca ulang paragraf yang sulit dimengerti. Deg-degan kecil muncul setiap kali ia menoleh ke sekitar, tapi ia menahan diri, tetap fokus. Dari sisi lain, Angger berjalan santai. Satu tangan menggenggam baki minuman, senyumnya tipis tapi ramah. Ia berhenti beberapa meter dari Aira, menatapnya sebentar. Tubuhnya condong ringan ke arah Aira, tapi menjaga jarak satu kursi kosong di antara mereka, strategi halus agar tidak terlalu menekan. “Eh… itu buku catatan biologi ya?”, suaranya ringan, bersahabat, tanpa ada nada memaksa. Aira menoleh, sedikit tersipu, menutup bukunya perlahan. “Ah… iya. Aku lagi belajar topik sel dan jaringan. Beberapa bagian kurang jelas, jadi harus lebih teliti”, jawabnya. Bibirnya sedikit mengerut saat berbicara. “Oh… Kakak siapa ya? Kok bisa ada di sini?” Angger tersenyum, menyandarkan punggungnya ke kursi. “Kenalin, aku Angger. Dari kelas XII IPA 3. Aku tahu kamu karena kamu murid baru, lagi jadi perbincangan di sekolah. Kebetulan tadi lewat, lihat kamu serius banget belajar. Kalau mau, aku bisa bantu. Dulu aku juga sering kesulitan topik itu, bikin pusing kalau nggak ngerti dasar-dasarnya.” Aira tersenyum malu, menunduk sebentar, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. “Oh… gitu ya… Salam kenal, Kak Angger. Terima kasih. Aku biasanya belajar sendiri, tapi senang ada yang bisa jelasin.” Sementara itu, di pojok kantin, Dipta berdiri tegap, setengah tersembunyi di balik barisan kursi. Matanya tajam tapi tenang, menatap Angger dan Aira. Rahangnya sedikit mengeras, jari-jarinya mengetuk pelan di tepi meja seolah menghitung waktu setiap detik yang mereka habiskan bersama. Ia diam, menahan diri, tetapi setiap gerak Angger membuat dadanya terasa sedikit panas. Angger mencondongkan tubuh satu langkah, menatap Aira sambil menunjuk halaman buku yang ia maksud. “Kalau mau, aku bisa jelasin sedikit. Santai aja, nggak perlu terburu-buru.” Aira menatap halaman buku, lalu menoleh ke Angger, wajahnya memerah tipis. “Iya… boleh. Tapi Kakak jangan capek jelasin aku ya.” “Ah… santai aja. Aku juga senang kalau bisa bantu”, Angger menjawab, matanya sedikit berbinar saat melihat Aira tersenyum. Ia menahan diri untuk tidak terlalu dekat, membiarkan Aira merasa nyaman tapi tetap ada kontak mata ringan. Dari jarak beberapa meja, Dipta tetap menonton. Setiap gerakan Angger, cara ia mencondongkan tubuh, senyumnya, bahkan nada suaranya terbaca jelas di otak Dipta. Dadanya berdebar sedikit, tapi bukan karena cemburu. Ia tidak suka merasa ada orang lain mendekati Aira, apalagi dengan begitu santai, begitu alami. Aira menatap buku, menulis beberapa catatan. Setiap kali ia menatap Angger untuk bertanya, jantungnya deg-degan. Ia tidak sadar bahwa Dipta memperhatikan dari jauh. Dan dari sisi lain, suasana kantin seolah menahan napasnya sendiri, semua gerak-gerik kecil mereka menjadi titik ketegangan tersendiri. Setelah beberapa menit, Angger menyelesaikan penjelasannya, menepuk buku pelan, tersenyum. “Oke deh, itu aja dulu. Kalau masih bingung, panggil aku lagi ya.” Aira mengangguk, tersenyum malu. “Iya… terima kasih, Kak Angger. Beneran membantu.” Dipta menarik napas pelan, menurunkan tangan yang tadi mengetuk meja, lalu melangkah pelan meninggalkan kantin. Ia tidak menoleh, tapi matanya tetap tertuju pada Aira sesekali saat berjalan. Aura tenang tapi misterius itu membuat Aira secara otomatis menoleh, merasakan deg-degan yang belum pernah ia alami. Angger menatap Aira terakhir kali, tersenyum tipis, lalu kembali ke meja sendiri. Sementara Aira menatap ke jendela, matanya berkaca-kaca sedikit karena menahan debaran jantungnya. Hari itu, untuk pertama kalinya, Aira merasa sekolah barunya… sedikit berbeda. ° Perpustakaan siang itu sunyi. Cahaya matahari menembus jendela tinggi, membuat debu halus berterbangan di udara. Rak-rak kayu tinggi berjajar, menyisakan lorong sempit yang harus dilewati untuk mencapai buku-buku referensi. Aira berdiri di depan rak biologi, jari-jarinya menelusuri deretan buku. Beberapa buku terlalu tinggi, ia harus berdiri sedikit menonjolkan tubuh agar bisa meraih judul yang diinginkan. Sesekali ia menunduk, membolak-balik halaman, wajahnya serius tapi polos. Dari sisi rak lain, Bayu berjalan pelan. Ia memperhatikan Aira dari jarak beberapa meter, menyesuaikan langkahnya agar tidak terlalu dekat tapi tetap terlihat natural. Saat Aira mengangkat satu buku dan hampir kehilangan keseimbangan, Bayu menahan tangannya. “Awas.”, kata Bayu. Aira menoleh cepat, sedikit terkejut. Buku itu sudah aman di genggaman Bayu. Mata mereka bertemu sesaat, dan Aira merasakan detak jantungnya sedikit naik. “Oh… makasih”, katanya, menunduk sopan. Bayu tersenyum tipis, senyumnya hangat tapi tidak memaksa. “Aku punya ringkasan materi itu di HP. Kalau mau, bisa kdipahami lebih gampang dipahami.” Aira menatap Bayu dengan sedikit ragu. Ia bukan tipe yang mudah menerima bantuan. Tapi ada sesuatu di tatapan Bayu tenang, sopan, tidak ada tekanan yang akhirnya membuatnya merasa nyaman. “Boleh… tapi Kakak bikin sendiri ya?”, tanyanya pelan. “Iya. Semua catatan itu kubuat sendiri", jawab Bayu. “Supaya lebih mudah dimengerti.” Aira mengambil HP yang diberikan, matanya fokus membaca ringkasan yang rapi. Tangan Bayu masih tergantung ringan di samping, tidak menekan atau terlalu dekat. Sementara itu, dari sudut rak yang berbeda. Dipta berdiri diam. Matanya tidak berkedip terlalu sering. Ia memperhatikan gerak Aira dan Bayu. Bayu mencondongkan tubuh sedikit agar layar HP bisa terlihat jelas oleh Aira. Aira ikut mencondong, sedikit memiringkan kepala. Gestur itu terlihat biasa tapi bagi Dipta, setiap gerakan itu mengiris kesabaran kecilnya. Dipta menarik napas pelan, menunduk sebentar. Rahangnya mengeras. Ia berjalan satu langkah ke samping, hanya cukup untuk terlihat jika Aira menoleh. Tapi ia tidak berbicara dan tidak perlu. Hanya kehadirannya sudah cukup membuat Bayu sadar ada orang lain memperhatikan. “Struktur, fungsi, perbedaan”, Dipta akhirnya berkata rendah tapi jelas, terdengar oleh Aira. “Kalau kamu fokus tiga poin itu, sisanya mengikuti sendiri.” Aira menoleh, sedikit terkejut. “Kak… Dipta?” Bayu menahan senyum tipis, matanya melihat ke arah Dipta tapi tetap tenang. Dipta mencondongkan tubuh sedikit, menunjuk bagian buku di rak yang lebih relevan, tapi tetap memberi jarak. Nada suaranya rendah, misterius, tapi ramah. Aira menatapnya lagi, jantungnya berdegup lebih cepat. Wajahnya memerah sedikit. Bayu mengulurkan tangan untuk menutup HP, memberi Aira ruang. “Ya sudah, pakai cara Kak Dipta juga bisa”, katanya pelan, tapi nada suaranya menahan sedikit ketegangan. Aira menatap keduanya, merasa bingung tapi senang. Ia tidak menyadari bahwa hari itu, strategi diam-diam para kakak kelas sedang dijalankan: Angger dengan santainya, Bayu dengan praktisnya, Dipta dengan kehadirannya yang menguasai, dan Raka yang menunggu giliran berikutnya. Beberapa menit kemudian, Aira menata buku di tasnya. Ia duduk di kursi dekat jendela, menatap cahaya matahari menembus daun pepohonan di luar. Senyum tipis muncul di wajahnya, campuran rasa penasaran, kagum, dan sedikit deg-degan. Dari pojok rak lain, Dipta menutup bukunya, tangan menepuk pelan di tepi rak. Ia mengamati, menghitung langkah, mengulang setiap gerakan Aira dari awal hingga akhir. Tidak ada kata-kata yang keluar. Hanya ketenangan yang membakar sedikit ego, obsesi halus yang mulai terbentuk. Dan Aira, polos seperti biasanya, masih belum menyadari bahwa setiap interaksi hari itu terlihat santai, praktis, atau misterius merupakan bagian dari strategi yang diam-diam dijalankan teman-teman Dipta. Sore itu, ia pulang dengan hati ringan tapi kepala penuh catatan, sementara di balik rak dan lorong-lorong perpustakaan, empat orang lain menatap dengan cara masing-masing. Strategi diam-diam berjalan, dan tensi psikologis mulai terasa perlahan tapi pasti.Barang-barang di atas meja kasir mulai berpindah satu persatu. Suara beep mesin scanner terdengar berulang kaleng susu, botol minum, buku gambar astronot dan cemilan sampai perintilan kecil lainnya. Aira berdiri di sisi kasir, sesekali melirik layar total belanja. “Ini kayaknya bisa buat buka warung…” gumamnya pelan, setengah bercanda. Di sampingnya, Dipta masih membantu mengangkat barang dari troli. Gerakannya tenang sudah terbiasa, kasir menyebutkan total pembelian yang angkanya tidak kecil. Aira langsung mengambil dompetnya tanpa ragu. “Sebentar ya—” Namun tangan Dipta lebih dulu bergerak. Satu kartu sudah diletakkan di mesin. Aira langsung menoleh cepat. “Pak?!” Dipta tidak melihat ke arahnya. “Lanjut saja mbak.” Kasir langsung memproses. Aira langsung mendekat sedikit. “Pak, ini saya yang bayar…” Dipta tetap tenang. “Sudah biar saya aja.” Aira mengernyit. “Kan ini belanjaan saya…” Dipta baru memandang, tatapannya datar. “Iya.” Aira makin bingung. “Terus ken
Aira masih berdiri di depan rak susu, mencoba mengembalikan fokusnya setelah kejadian barusan yang jujur saja, cukup membuat kepalanya sedikit “panas dingin”. Troli di depannya sudah hampir penuh. Ia mengambil satu kaleng susu formula, memperhatikan labelnya sebentar, lalu tanpa ragu memasukkannya ke dalam troli. Gerakannya cepat seolah sudah hafal. Di sampingnya, Dipta berdiri tenang. Tadinya hanya memperhatikan sekilas, namun kali ini tatapannya bertahan lebih lama. Matanya turun perlahan ke dalam troli, satu persatu isi di dalamnya terlihat jelas produk anak-anak. Cemilan khusus, perawatan bayi, minyak telon dan lainnya. Semuanya bukan yang biasa, lalu pandangannya bergeser ke bagian lain. Produk milik Aira seperti sabun, sampo, body lotion, skincare, make up, semuanya standar. Bahkan bisa dibilang sederhana. Dipta tidak langsung bicara, tatapannya sedikit berubah lebih dalam. Aira yang masih fokus merapikan barang, tidak langsung sadar diperhatikan seperti itu. “Ini harusnya
Dulu, Dipta adalah seseorang yang mengendalikan. Sekarang dia terlihat seperti seseorang yang membentuk tanpa menekan. Arjito menghela napas lagi, lebih panjang dari sebelumnya. “Kamu benar-benar belajar…” Kalimat itu keluar pelan, bukan hanya untuk Aira justru ini juga untuk Dipta. Beberapa detik ruangan itu benar-benar hening. Tidak ada suara selain napas yang teratur. Lalu perlahan, tangan Arjito meraih ponselnya yang terletak di sisi meja. Ia menatap layar sebentar, seolah memastikan keputusan kecil itu, kemudian satu nama dipilih. Panggilan dilakukan. Nada sambung terdengar beberapa detik, sebelum akhirnya tersambung. “Jarang kamu yang menghubungi duluan.” suara di seberang terdengar santai, sedikit ringan, sangat kontras dengan suasana di ruangan itu. Suara dari Hadiyasa Mahesa. Arjito tidak langsung menjawab. Ia berdiri perlahan dari kursinya, berjalan mendekati jendela besar di belakang meja. Pemandangan kota terbentang luas di bawah sana, gedung-gedung tinggi berdir
Setelah Nadhira benar-benar pergi, akhirnya suasana di meja itu kembali tenang. Aira menarik napas panjang, lalu menegakkan badannya. “Akhirnya…” Di depannya, makanan sudah tersaji, hangat dan terlihat menggoda. Dipta mulai makan tanpa banyak bicara, seperti biasa. Aira mengambil sendok, belum langsung makan. “Pak.” Dipta berhenti dari aktivitasnya. “Ya?” “Tadi itu…” Aira berhenti sebentar. “…memalukan nggak sih?” Dipta tetap tenang. “Tidak.” Aira mengernyit. “Serius?” "Iya”, jawab Dipta singkat lagi. Aira memperhatikan ekspresinya, mencari jika ada tanda-tanda bercanda, tapi tidak ada. “Padahal itu temen saya paling… ya gitu lah…” Dipta menjawab singkat. “Sudah terlihat.” Aira langsung ketawa kecil. “Iya kan” Aira akhirnya mulai makan. Suasana perlahan jadi lebih santai dalam beberapa suapan berlalu. Aira tiba-tiba bicara lagi, lebih pelan. “…Pak.” “Ya?”, sahut Dipta yang kembali harus terhenti menikmati hidangan. “Kalau orang-orang dulu lihat kita sekar
Pagi itu berjalan seperti biasa di Rajendra Engineering. Aira sudah kembali dengan rutinitasnya, menyusun jadwal, menyiapkan dokumen, dan memastikan semua agenda Dipta berjalan rapi. Suasana kantor relatif normal dan tenang. Sampai ada suara yang menahan aktivitasnya. “Bu Aira, ada tamu.” ucap staf yang memanggilnya. Aira menoleh. “Tamu?” Staf di depannya mengangguk. “Dari perusahaan luar, sudah ada janji dengan Pak Dipta.” Aira langsung mengangguk kecil. “Baik, saya konfirmasi dulu.” Dia berdiri, berjalan ke ruang kerja Dipta, mengetuk pelan. “Masuk.” ucap Dipta. Aira membuka pintu. “Pak, tamu dari perusahaan—” Kalimatnya terhenti, karena di dalam ruangan itu sudah berdiri dua orang. Seorang pria paruh baya dengan aura pebisnis kuat dan di sampingnya Andine. Aira langsung diam sepersekian detik, matanya menyipit sedikit. “Oh…” Andine yang melihat itu, langsung mengenali wajah Aira. Tatapannya berubah tajam, senyum tipis muncul di bibirnya. "Ternyata kamu…” gumamnya pelan
Ruang kerja kembali hening setelah tumpukan revisi itu selesai mereka baca. Aira masih duduk, menatap dokumen di depannya seolah belum benar-benar selesai memproses semuanya. Sementara Dipta sudah mulai menandai bagian-bagian yang perlu diperbaiki. Aira akhirnya bicara pelan. “Pak.” Dipta tidak menoleh. "Iya?” Aira menarik napas kecil. “Saya baru ngerti sekarang.” Dipta berhenti sebentar. “Apa?” Aira menatap dokumen itu lagi. “Kenapa orang-orang masih hormat sama beliau…” Dia berhenti, lalu lanjut pelan. “…padahal standarnya kayak… ya ini…” dia mengangkat sedikit kertas revisi itu. Dipta menutup pulpen. “Karena dia tidak menjatuhkan orangnya.” Aira langsung menoleh. “Iya…” Dia mengangguk pelan. “…dia kayak… selalu punya cara lain sebelum nyalahin orang.” lalu berhenti sebentar. Aira melanjutkan, kali ini lebih jujur. “…dulu saya kira ayah saya itu dingin.” Dia tertawa kecil. “…ternyata bukan dingin… cuma terlalu mikir jauh.” Dipta menatapnya sekilas. “…dan kamu baru
Ruang musik sudah setengah terbuka ketika Aira datang. Ia memang sengaja datang lebih awal bukan karena terlalu rajin, tapi karena ia butuh ruang sebelum ruangan itu penuh suara dan tatapan. Tasnya ia letakkan di kursi dekat piano. Udara di dalam masih dingin, bercampur aroma kayu dan kabel alat mu
Aira terbangun bahkan sebelum alarmnya berbunyi. Langit di luar jendela kamarnya masih berwarna abu-abu pucat. Cahaya pagi belum sepenuhnya masuk, tapi cukup untuk membuat bayangan lemari dan meja belajarnya terlihat jelas. Ia menatap langit-langit beberapa detik, lalu semalam kembali. Cahaya layar
Jam di dinding kamar Aira menunjukkan pukul 15.12. Ia sudah membuka lemari sejak lima menit lalu, tapi belum juga mengambil keputusan.“Kenapa sih susah banget cuma mau makan?” gumamnya pelan.Tangannya menyentuh beberapa gantungan baju. Blus putih? Terlalu formal. Kaos oversized? Terlalu santai. A
Beberapa hari setelah mereka bertukar nomor HP, Aira duduk di kelas kosong XI IPA 2. Di depannya, buku Biologi terbuka lebar, catatan rapi tertata di setiap halaman. Tapi matanya sesekali menatap layar ponsel, jari-jarinya memainkan ujung pena tanpa sadar. Napasnya pendek ketika ia menarik napas da







