LOGINSuasana kelas XI IPA 2 pagi itu lebih tegang dari biasanya. Kertas ulangan biologi sudah dibagikan, masih tertutup di atas meja masing-masing siswa. Suara kipas angin berputar terasa lebih keras karena hampir semua orang diam.
Aira duduk tegak. Tangannya berada di atas meja, jari-jarinya saling bertaut. Wajahnya tenang, tapi ada napas yang ia tahan tanpa sadar. “Silakan dibuka,” kata guru mereka. Suara kertas terbalik terdengar serempak, Aira menunduk. Angka merah di pojok kanan atas langsung ia cari. Nilai: 98. Matanya berhenti di sana, untuk sesaat ia tidak bergerak. Lalu perlahan, sudut bibirnya terangkat. Bukan senyum lebar, tapi lebih ke puas, lega dan tepat. Ia mengembuskan napas yang sejak tadi ia tahan. Teman di sebelahnya melirik. “Wah, hampir sempurna!” Aira hanya tertawa kecil. “Masih kurang dua.” “Tetap aja itu tinggi banget.”, kata temannya lagi. Aira tidak menjawab. Tapi di dalam kepalanya, satu kalimat muncul jelas. 'Dapat di atas sembilan puluh lima.' Tanpa sadar, ia menoleh ke arah jendela, seolah seseorang bisa melihatnya dari sana. Jam istirahat pertama. Lorong gedung IPS tidak seramai biasanya. Beberapa siswa keluar masuk kelas dengan santai. Dipta sedang berdiri di depan kelas XII IPS 1, berbicara singkat dengan guru ekonomi. Map biru ada di tangannya. Gerakannya tenang dan tatapannya fokus. Lalu seseorang berhenti dua langkah di depannya. “Kak.”, kata orang itu, yang tak lain adalah Aira. Dipta menoleh. Aira berdiri di sana, sedikit terengah karena mungkin berjalan cepat. Tasnya masih tergantung di bahu, dan wajahnya untuk pertama kali sejak mereka bertemu terlihat benar-benar cerah. “Aku dapat 98”, katanya tanpa basa-basi. Ada kilat kecil di matanya. Bangga, tapi ingin memastikan seseorang tahu. Dipta memperhatikannya beberapa detik. Dan entah kenapa, melihat Aira datang mencarinya lebih dulu membuat sesuatu di dalam dadanya terasa berbeda. “Bagus,” jawabnya tenang. Tapi sorot matanya berubah sedikit. Lebih hangat. “Aku pakai cara Kakak,” lanjut Aira. “Fungsi dulu, baru istilah.” Dipta mengangguk pelan. “Kamu memang mampu.” Kalimat itu sederhana, tapi membuat Aira terdiam sesaat. Bukan karena pujian itu berlebihan, tapi karena ia jarang mendengar seseorang mengatakannya dengan nada se-yakin itu. “Terima kasih,” ucapnya lebih pelan. Dipta menatap wajahnya yang masih menyimpan sisa senyum tadi. Ia menyadari satu hal, Aira tidak datang untuk pamer nilai. Ia datang untuk berbagi hasilnya, dengannya dan itu bukan bagian dari rencana awalnya. Di ujung lorong, Angger dan Raka baru saja keluar dari tangga penghubung gedung IPA–IPS. Langkah mereka melambat saat melihat pemandangan di depan. Aira berdiri cukup dekat dengan Dipta. Wajahnya terlihat santai. Tidak canggung. Tidak menjaga jarak seperti saat berbicara dengan kakak kelas lain. Raka menyenggol bahu Angger pelan. “Cepat banget.” Angger mengamati dalam diam. “Dia yang nyari duluan,” gumamnya. Bayu yang menyusul di belakang ikut memperhatikan. “Ini udah beda.” David datang paling akhir, tangannya masih memegang helm. Ia hanya tersenyum tipis. “Udah kubilang.” Kembali ke lorong, dimana Dipta dan Aira berada. “Kamu lagi kosong?” tanya Dipta tiba-tiba. Aira mengangguk. “Iya, istirahat dua jam.” “Ke perpustakaan.”, bukan ajakan ragu-ragu maupun pertanyaan, lebih seperti keputusan yang wajar. Aira tidak menolak. “Oke.” Mereka berjalan berdampingan. Tidak terlalu dekat tapi cukup sejajar. Beberapa siswa yang berpapasan mulai melirik. XI IPA 2 dan XII IPS 1 memang jarang terlihat bersama. Apalagi dengan jarak sedekat itu. Di perpustakaan, mereka duduk di meja yang sama seperti beberapa hari lalu. Aira terlihat lebih santai sekarang. Bahunya tidak setegang sebelumnya. “Aku jarang belajar bareng orang,” katanya tiba-tiba. “Kenapa?”, tanya Dipta. “Biasanya aku lebih nyaman sendiri.”, jelasnya. Dipta memperhatikannya. “Kamu nyaman sekarang?”, pertanyaan itu keluar lebih personal dari yang ia rencanakan. Aira terdiam sesaat. Ia tidak langsung menjawab. “Lumayan”, katanya akhirnya, tersenyum kecil. Jawaban itu membuat jari Dipta yang sedang memegang pulpen berhenti sepersekian detik. Lumayan, bukan sekadar sopan ataupun basa-basi. Tanpa sadar, ia mulai ingin kata itu berubah menjadi sesuatu yang lebih. Beberapa menit kemudian, seorang siswa laki-laki dari XI IPA masuk ke perpustakaan. Ia berhenti saat melihat Aira. “Aira,” panggilnya. Aira menoleh. “Eh, Farhan.” Ia berdiri sedikit dari kursinya. “Kamu tadi keren banget nilainya,” lanjut Farhan sambil tersenyum. “Mau belajar bareng buat kimia nanti?” Aira terlihat berpikir sebentar. “Boleh sih—” “Kita sudah ada rencana.”, suara Dipta memotong. Tenang, datar dan jelas. Farhan menoleh, baru menyadari keberadaan Dipta sepenuhnya. “Oh… Kak", katanya sedikit canggung. Aira berkedip. “Rencana?” Dipta menatapnya tanpa ragu. “Materi minggu depan.” Itu tidak sepenuhnya bohong. Tapi juga bukan sesuatu yang sudah disepakati. Aira melihat dari satu wajah ke wajah lain, lalu tersenyum kecil pada Farhan. “Maaf ya, mungkin lain kali.” Farhan mengangguk, meski jelas kecewa. “Iya, nggak apa-apa.” Farhan pergi dan suasana meja itu berubah sedikit. Aira kembali duduk perlahan. “Kita memang ada rencana?” tanyanya ringan. Dipta menatap buku di depannya, bukan wajah Aira. “Akan ada.” Nada suaranya tetap stabil. Tapi di dalam dirinya. Ia baru saja merasakan sesuatu yang belum pernah ia masukkan dalam strategi. Tidak suka, bukan karena takut kalah ataupun bukan karena taruhan. Tapi karena melihat Aira hampir mengatakan “boleh” pada orang lain. Dan perasaan itu tidak rasional. Aira kembali membuka bukunya. Tidak menyadari bahwa lelaki di depannya kini tidak lagi sekadar mengamati pola. Ia mulai ingin mengatur jaraknya, mengendalikan situasi, dan memastikan kalau Aira belajar, Aira berbagi, Aira tersenyum, itu bersamanya. Dan obsesi kecil itu, mulai mengambil bentuk. ° Esoknya, kantin siang itu ramai. Aroma gorengan dan kopi bercampur dengan suara gelas dan tawa murid-murid. Matahari menembus jendela kaca, menerangi lantai yang sedikit berkilau. Aira duduk di salah satu meja dekat jendela, punggung tegak, buku biologi terbuka di depannya. Ia sedang serius menulis catatan, sesekali mencondongkan kepala untuk membaca ulang paragraf yang sulit dimengerti. Deg-degan kecil muncul setiap kali ia menoleh ke sekitar, tapi ia menahan diri, tetap fokus. Dari sisi lain, Angger berjalan santai. Satu tangan menggenggam baki minuman, senyumnya tipis tapi ramah. Ia berhenti beberapa meter dari Aira, menatapnya sebentar. Tubuhnya condong ringan ke arah Aira, tapi menjaga jarak satu kursi kosong di antara mereka, strategi halus agar tidak terlalu menekan. “Eh… itu buku catatan biologi ya?”, suaranya ringan, bersahabat, tanpa ada nada memaksa. Aira menoleh, sedikit tersipu, menutup bukunya perlahan. “Ah… iya. Aku lagi belajar topik sel dan jaringan. Beberapa bagian kurang jelas, jadi harus lebih teliti”, jawabnya. Bibirnya sedikit mengerut saat berbicara. “Oh… Kakak siapa ya? Kok bisa ada di sini?” Angger tersenyum, menyandarkan punggungnya ke kursi. “Kenalin, aku Angger. Dari kelas XII IPA 3. Aku tahu kamu karena kamu murid baru, lagi jadi perbincangan di sekolah. Kebetulan tadi lewat, lihat kamu serius banget belajar. Kalau mau, aku bisa bantu. Dulu aku juga sering kesulitan topik itu, bikin pusing kalau nggak ngerti dasar-dasarnya.” Aira tersenyum malu, menunduk sebentar, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. “Oh… gitu ya… Salam kenal, Kak Angger. Terima kasih. Aku biasanya belajar sendiri, tapi senang ada yang bisa jelasin.” Sementara itu, di pojok kantin, Dipta berdiri tegap, setengah tersembunyi di balik barisan kursi. Matanya tajam tapi tenang, menatap Angger dan Aira. Rahangnya sedikit mengeras, jari-jarinya mengetuk pelan di tepi meja seolah menghitung waktu setiap detik yang mereka habiskan bersama. Ia diam, menahan diri, tetapi setiap gerak Angger membuat dadanya terasa sedikit panas. Angger mencondongkan tubuh satu langkah, menatap Aira sambil menunjuk halaman buku yang ia maksud. “Kalau mau, aku bisa jelasin sedikit. Santai aja, nggak perlu terburu-buru.” Aira menatap halaman buku, lalu menoleh ke Angger, wajahnya memerah tipis. “Iya… boleh. Tapi Kakak jangan capek jelasin aku ya.” “Ah… santai aja. Aku juga senang kalau bisa bantu”, Angger menjawab, matanya sedikit berbinar saat melihat Aira tersenyum. Ia menahan diri untuk tidak terlalu dekat, membiarkan Aira merasa nyaman tapi tetap ada kontak mata ringan. Dari jarak beberapa meja, Dipta tetap menonton. Setiap gerakan Angger, cara ia mencondongkan tubuh, senyumnya, bahkan nada suaranya terbaca jelas di otak Dipta. Dadanya berdebar sedikit, tapi bukan karena cemburu. Ia tidak suka merasa ada orang lain mendekati Aira, apalagi dengan begitu santai, begitu alami. Aira menatap buku, menulis beberapa catatan. Setiap kali ia menatap Angger untuk bertanya, jantungnya deg-degan. Ia tidak sadar bahwa Dipta memperhatikan dari jauh. Dan dari sisi lain, suasana kantin seolah menahan napasnya sendiri, semua gerak-gerik kecil mereka menjadi titik ketegangan tersendiri. Setelah beberapa menit, Angger menyelesaikan penjelasannya, menepuk buku pelan, tersenyum. “Oke deh, itu aja dulu. Kalau masih bingung, panggil aku lagi ya.” Aira mengangguk, tersenyum malu. “Iya… terima kasih, Kak Angger. Beneran membantu.” Dipta menarik napas pelan, menurunkan tangan yang tadi mengetuk meja, lalu melangkah pelan meninggalkan kantin. Ia tidak menoleh, tapi matanya tetap tertuju pada Aira sesekali saat berjalan. Aura tenang tapi misterius itu membuat Aira secara otomatis menoleh, merasakan deg-degan yang belum pernah ia alami. Angger menatap Aira terakhir kali, tersenyum tipis, lalu kembali ke meja sendiri. Sementara Aira menatap ke jendela, matanya berkaca-kaca sedikit karena menahan debaran jantungnya. Hari itu, untuk pertama kalinya, Aira merasa sekolah barunya… sedikit berbeda. ° Perpustakaan siang itu sunyi. Cahaya matahari menembus jendela tinggi, membuat debu halus berterbangan di udara. Rak-rak kayu tinggi berjajar, menyisakan lorong sempit yang harus dilewati untuk mencapai buku-buku referensi. Aira berdiri di depan rak biologi, jari-jarinya menelusuri deretan buku. Beberapa buku terlalu tinggi, ia harus berdiri sedikit menonjolkan tubuh agar bisa meraih judul yang diinginkan. Sesekali ia menunduk, membolak-balik halaman, wajahnya serius tapi polos. Dari sisi rak lain, Bayu berjalan pelan. Ia memperhatikan Aira dari jarak beberapa meter, menyesuaikan langkahnya agar tidak terlalu dekat tapi tetap terlihat natural. Saat Aira mengangkat satu buku dan hampir kehilangan keseimbangan, Bayu menahan tangannya. “Awas.”, kata Bayu. Aira menoleh cepat, sedikit terkejut. Buku itu sudah aman di genggaman Bayu. Mata mereka bertemu sesaat, dan Aira merasakan detak jantungnya sedikit naik. “Oh… makasih”, katanya, menunduk sopan. Bayu tersenyum tipis, senyumnya hangat tapi tidak memaksa. “Aku punya ringkasan materi itu di HP. Kalau mau, bisa kdipahami lebih gampang dipahami.” Aira menatap Bayu dengan sedikit ragu. Ia bukan tipe yang mudah menerima bantuan. Tapi ada sesuatu di tatapan Bayu tenang, sopan, tidak ada tekanan yang akhirnya membuatnya merasa nyaman. “Boleh… tapi Kakak bikin sendiri ya?”, tanyanya pelan. “Iya. Semua catatan itu kubuat sendiri", jawab Bayu. “Supaya lebih mudah dimengerti.” Aira mengambil HP yang diberikan, matanya fokus membaca ringkasan yang rapi. Tangan Bayu masih tergantung ringan di samping, tidak menekan atau terlalu dekat. Sementara itu, dari sudut rak yang berbeda. Dipta berdiri diam. Matanya tidak berkedip terlalu sering. Ia memperhatikan gerak Aira dan Bayu. Bayu mencondongkan tubuh sedikit agar layar HP bisa terlihat jelas oleh Aira. Aira ikut mencondong, sedikit memiringkan kepala. Gestur itu terlihat biasa tapi bagi Dipta, setiap gerakan itu mengiris kesabaran kecilnya. Dipta menarik napas pelan, menunduk sebentar. Rahangnya mengeras. Ia berjalan satu langkah ke samping, hanya cukup untuk terlihat jika Aira menoleh. Tapi ia tidak berbicara dan tidak perlu. Hanya kehadirannya sudah cukup membuat Bayu sadar ada orang lain memperhatikan. “Struktur, fungsi, perbedaan”, Dipta akhirnya berkata rendah tapi jelas, terdengar oleh Aira. “Kalau kamu fokus tiga poin itu, sisanya mengikuti sendiri.” Aira menoleh, sedikit terkejut. “Kak… Dipta?” Bayu menahan senyum tipis, matanya melihat ke arah Dipta tapi tetap tenang. Dipta mencondongkan tubuh sedikit, menunjuk bagian buku di rak yang lebih relevan, tapi tetap memberi jarak. Nada suaranya rendah, misterius, tapi ramah. Aira menatapnya lagi, jantungnya berdegup lebih cepat. Wajahnya memerah sedikit. Bayu mengulurkan tangan untuk menutup HP, memberi Aira ruang. “Ya sudah, pakai cara Kak Dipta juga bisa”, katanya pelan, tapi nada suaranya menahan sedikit ketegangan. Aira menatap keduanya, merasa bingung tapi senang. Ia tidak menyadari bahwa hari itu, strategi diam-diam para kakak kelas sedang dijalankan: Angger dengan santainya, Bayu dengan praktisnya, Dipta dengan kehadirannya yang menguasai, dan Raka yang menunggu giliran berikutnya. Beberapa menit kemudian, Aira menata buku di tasnya. Ia duduk di kursi dekat jendela, menatap cahaya matahari menembus daun pepohonan di luar. Senyum tipis muncul di wajahnya, campuran rasa penasaran, kagum, dan sedikit deg-degan. Dari pojok rak lain, Dipta menutup bukunya, tangan menepuk pelan di tepi rak. Ia mengamati, menghitung langkah, mengulang setiap gerakan Aira dari awal hingga akhir. Tidak ada kata-kata yang keluar. Hanya ketenangan yang membakar sedikit ego, obsesi halus yang mulai terbentuk. Dan Aira, polos seperti biasanya, masih belum menyadari bahwa setiap interaksi hari itu terlihat santai, praktis, atau misterius merupakan bagian dari strategi yang diam-diam dijalankan teman-teman Dipta. Sore itu, ia pulang dengan hati ringan tapi kepala penuh catatan, sementara di balik rak dan lorong-lorong perpustakaan, empat orang lain menatap dengan cara masing-masing. Strategi diam-diam berjalan, dan tensi psikologis mulai terasa perlahan tapi pasti.Ruang audit internal itu terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena AC, justru karena tidak ada lagi ruang untuk “alasan sosial”. Hanya ada meja, laptop, dan dua orang auditor yang sudah tidak tertarik pada emosi hanya fakta. Rania duduk, tangannya mulai tidak setenang sebelumnya. Di depan layar, log komunikasi kembali ditampilkan. Nama-nama, waktu, akses, percakapan singkat. Semuanya terlalu rapi untuk bisa dibantah sepenuhnya. “Akses ini Anda lakukan atas instruksi siapa?” tanya auditor lagi. Rania diam, kali ini tidak seperti awal yang masih bisa pura-pura tenang. Diamnya lebih berat. “Saya hanya membantu.” jawabnya akhirnya. Auditor tidak langsung bereaksi, hanya geser satu file lagi. “Ini bukan bantuan internal biasa. Ini melibatkan koordinasi dengan pihak luar perusahaan.” Rania menelan ludah. Di sisi lain gedung, ruang kerja Dipta. Aira duduk di sofa, membaca beberapa dokumen kecil di tablet. Namun telinganya jelas “setengah fokus” ke arah ini. “Dia mulai tertekan.”
Aira menutup pintu ruang kerja Dipta pelan. Begitu bunyi klik terdengar bahunya langsung turun sedikit. Seperti ada beban yang baru saja “diizinkan jatuh”. Langkahnya yang tadi di luar terlihat rapi dan tenang, perlahan berubah begitu dia sudah tidak lagi jadi sorotan siapa pun. Baru dua langkah di dalam ruangan, kakinya terasa agak goyah. Bukan jatuh tapi jelas tidak stabil. Aira langsung berhenti, berdiri diam sebentar. Matanya melirik ke lantai, lalu ke kursi terdekat. Seolah sedang “mengkalibrasi ulang” tubuhnya sendiri. “Capek banget ternyata jadi manusia profesional.” gumamnya pelan, nyaris tidak terdengar. Dia menarik napas panjang, lalu duduk di kursi tanpa drama. Baru setelah itu, bahunya benar-benar lemas. Di sisi lain ruangan, Dipta sedang membereskan beberapa dokumen. Dia melirik sekilas, lalu sadar satu hal kecil yang tidak diucapkan Aira tadi di luar. Mode tadi itu bukan stabil, itu mode bertahan hidup. Dipta tidak langsung komentar, hanya saja sudut bibirnya naik s
Priska akhirnya tidak lagi punya ruang untuk bertahan di dalam ruangan itu. Ayahnya berdiri wajahnya tegang, tapi masih berusaha menjaga martabat di depan semua pemegang saham. “Priska.” suaranya rendah, tapi tegas. “Keluar.” Priska menoleh cepat. “Papa, aku bisa jelasin—” “Keluar sekarang.” ulangnya, kali ini lebih dingin. Tidak ada ruang diskusi lagi. Beberapa staf keamanan perusahaan yang sudah memahami situasi langsung melangkah maju, tapi tetap menjaga jarak sopan. Priska mundur setengah langkah. Matanya masih mencari pembelaan ke ruangan, ke Dipta, ke siapa pun. Namun tidak ada yang menyambut itu. Akhirnya, dengan napas yang sudah tidak stabil, dia melangkah keluar ruangan. Pintu tertutup, ruangan kembali hening. Ayah Priska berdiri beberapa detik tanpa bicara. Lalu menarik napas panjang. Mengalihkan fokusnya ke arah Arjito dan Dipta. “Untuk sementara,” ucapnya, “saya mohon kejadian ini tidak keluar dari ranah internal perusahaan.” Nada suaranya berubah dari emosio
Di ruang rapat, suasana masih berjalan normal di permukaan. Presentasi lanjutan terus bergerak, angka-angka proyek, laporan kerja sama, dan proyeksi saham ditampilkan satu per satu.7 Tapi di balik itu. Dipta tidak benar-benar hanya mendengar. Layar kecil di samping laptopnya kembali menyala. Notifikasi sistem CCTV, satu titik rekaman masuk otomatis. Dipta menatap sebentar, tiidak lama tapi cukup untuk menangkap pola. Rak dokumen, pergerakan orang di area luar ruangannya, waktu akses yang tidak seharusnya terjadi, jarinya bergerak pelan di trackpad. Membuka rekaman, layar terlihat koridor dekat ruang kerja Dipta. Beberapa staf lalu-lalu normal. terlihat muncul di sudut frame. Tidak langsung masuk tapi menunggu melihat situasi sekitar. Beberapa detik kemudian, seorang OB datang membawa tray minuman. Kopi dan teh untuk ruang rapat. Rania mendekat, gerakannya terlihat santai seolah hanya lewat. Namun dari sudut kamera tangan Rania bergerak sedikit lebih lama di area tray hanya bebera
Beberapa waktu kemudian, ruangan itu sudah kembali sunyi. Hanya ada suara napas yang perlahan mulai stabil. Dipta duduk di tepi sofa ruang istirahat. Tangannya masih bertumpu di dahi. Matanya terpejam sebentar, seperti sedang mengembalikan kesadaran penuh. Efek yang tadi mengganggu pikirannya, perlahan mulai reda. Sisa-sisanya masih ada tapi sudah jauh lebih bisa dikendalikan. Di sisi lain Aira sudah duduk bersandar di sofa. Bukan duduk tegak lagi lebih ke rebahan setengah sadar. Matanya setengah terbuka, tangannya menutup wajah sebentar. “Dipta…” suaranya pelan banget. “Kamu ini… seriusan…” Dipta melirik sekilas. Ada sedikit senyum tipis di wajahnya. “Tadi kamu bilang bantu.” Aira langsung diam. Lalu hanya bisa menghela napas panjang. “Bantu bukan berarti begini…” gumamnya lemah. Dipta tertawa kecil, suaranya rendah. Masih agak berat, tapi sudah stabil. “Harusnya kamu kabur, "Harusnya kamu mikir dulu…” Balas Aira pelan. “Ini kantor…” Dipta menoleh, tatapannya mulai kemb
Di dalam ruangan suasana sudah panas dan tegang. Detik itu juga Priska bergerak cepat, tangannya langsung mengacak rambutnya sendiri, napasnya dibuat terengah, beberapa kancing bajunya dibuka paksa, kainnya sedikit ditarik hingga tampak kusut. Lalu dia dengan sengaja menampar dirinya sendiri. 'Plak!' Satu tamparan mendarat di pipinya sendiri, keras sekali, dua kali. Sampai meninggalkan bekas kemerahan. Dipta yang melihat itu, matanya langsung menyempit. “Gila… gumamnya pelan. Sekarang dia benar-benar paham, ini bukan sekadar jebakan. Ini sudah dirancang matang. 'Brak!' Pintu terbuka, Aira masuk. Langkahnya cepat, napasnya sedikit memburu dan matanya langsung menyapu ruanga dan berhenti. Di sana di depan matanya seorang wanita dengan pakaian berantakan, duduk di pangkuan suaminya. Hanya satu detik tapi cukup. Tatapan Aira berubah dingin, tajam dan meledak. “Gak tahu malu.” Satu kalimat terucap lain tapi penuh tekanan. Priska sempat pura-pura terkejut, seolah ketahuan.
Pagi menjelang siang, lapangan sekolah lebih sepi dari biasanya. Angin tipis membuat dedaunan bergetar, dan cahaya matahari yang mulai miring menembus sela-sela pepohonan. Aira duduk di bawah pohon besar, buku biologi di pangkuan, mencoba memahami diagram sel yang rumit. Tiba-tiba, suara ringan
Bel pulang berbunyi nyaring, menggema sampai ke lorong-lorong gedung IPS. Siswa kelas XII IPS 1 mulai beranjak dari kursi mereka. Suara kaki kursi bergeser dan ritsleting tas yang ditarik bersahutan. Di antara keramaian itu, Dipta tetap bergerak dengan ritmenya sendiri. Ia merapikan buku ekonominya
Di kelas dekat sisi lapangan, suasana pagi begitu hidup. Beberapa murid masih asyik mengobrol, ada yang menatap papan tulis dengan serius didalam kelas, ada yang memainkan pulpen sambil setengah mengantuk saat berjalan. Di salah satu sisinya, empat murid Angger, Bayu, Raka, dan David duduk berdampi
Humaira Navya Aruna atau biasa akrab dipanggil Aira menatap halaman depan sekolah baru itu dengan mata berbinar campur gugup. Gedung tinggi, cat krem yang rapi, kaca-kaca besar memantulkan cahaya pagi yang lembut. Semua terlihat begitu megah, berbeda dari sekolah lamanya yang sederhana. Jalan setap







