LOGINPagi menjelang siang, lapangan sekolah lebih sepi dari biasanya. Angin tipis membuat dedaunan bergetar, dan cahaya matahari yang mulai miring menembus sela-sela pepohonan. Aira duduk di bawah pohon besar, buku biologi di pangkuan, mencoba memahami diagram sel yang rumit.
Tiba-tiba, suara ringan dan bercanda terdengar di dekatnya. “Hai… kalau kamu baca terus, bisa-bisa otakmu meledak, lho”, kata Raka sambil tersenyum jahil, duduk di rumput tak jauh dari Aira. Aira menoleh, kaku sebentar, lalu tersenyum samar. “Eh… aku baik-baik saja kok… hmm… Kak”, jawabnya sedikit menunduk sambil menata rambut yang tergerai. Raka mencondongkan tubuh ke arah Aira, tangan menunjuk diagram di buku. “Yaudah, tapi kalau mau istirahat sebentar atau sekadar ngobrol tentang biologi, panggil aja ya. Aku bisa bikin belajar lebih seru.” Aira menatapnya, bibir sedikit mengerut saat menahan tawa, lalu akhirnya terkekeh tipis. Bahunya sedikit naik-turun, matanya mengikuti gerak Raka dengan penuh perhatian. Ada kehangatan yang tiba-tiba mengisi sore itu, berbeda dari ketenangan perpustakaan atau keseriusan kantin. Dari sisi lain lapangan, Dipta berdiri di bawah pohon yang sedikit menjorok ke lapangan. Tatapannya tetap tenang, namun sorot matanya tidak lepas dari Aira. Ia menunduk sebentar, lalu menarik napas pelan. Rahangnya mengeras, tetapi langkahnya tetap lambat dan terkendali. Raka, tanpa sadar, beberapa kali menoleh ke arah Dipta, tapi tidak melihat tatapan penuh perhatian itu. Bagi Dipta, setiap tawa Aira terasa seperti sesuatu yang harus diwaspadai, bukan karena marah, tapi hanya ingin memastikan tidak ada yang mengambil posisinya di dekat Aira. “Kalau serius belajar terus, kamu nggak boleh lupa senyum juga, ya”, Raka menambahkan sambil terkekeh ringan. Aira menoleh, tersenyum tipis sambil menutup buku sebentar. Tangannya menekan buku ke pangkuan, lalu menatap Raka sekilas. “Aku akan coba… Kak”, katanya, suara pelan tapi jelas. Raka mengangguk, senyum lebar muncul di wajahnya. “Nah, itu baru! Santai aja, nggak perlu tegang.” Dipta mengalihkan pandangan sebentar ke langit, menenangkan diri, tapi matanya tetap menyorot Aira dan Raka. Setiap gerak Raka, setiap tawa Aira, tersimpan di ingatannya. Ia menarik tangan ke saku, menahan dorongan untuk mendekat, obsesi halus yang baru saja mulai terasa. Sore itu berakhir dengan Aira menata kembali buku-bukunya, tersenyum tipis ke Raka, lalu menatap ke arah lapangan yang mulai sepi. Ada rasa lega, senyum yang alami, tapi juga rasa ingin tahu yang samar terhadap cara kakak-kakak kelas itu memperhatikannya. Raka berdiri, melambaikan tangan ringan. “Oke, sampai besok ya. Jangan lupa istirahat juga.” Aira melambai balik, pipinya sedikit memerah. Tanpa sadar, tatapannya kembali ke arah pohon tempat Dipta berdiri. Senyuman tipis muncul di wajahnya, tapi matanya juga mencerminkan rasa ingin tahu—apa yang membuat suasana sore itu terasa berbeda dari biasanya? Dan di sudut lapangan, Dipta melangkah menjauh perlahan, tetap diam, tetap memperhatikan. Hari itu, Raka berhasil mencairkan suasana, tapi bagi Dipta, ini hanyalah awal. Sesuatu dalam dirinya mulai bergerak lebih protektif, lebih waspada, lebih tertarik pada cara Aira tersenyum alami. ° Laboratorium siang itu sunyi. Bau alkohol dan larutan kimia tipis menyelimuti ruangan. Meja-meja kayu tersusun rapi, mikroskop tertata di setiap sudut, dan cahaya matahari yang masuk dari jendela tinggi membuat debu halus berkilau di udara. Aira berdiri di depan meja mikroskop, jari-jarinya gemetar sedikit saat mencoba mengatur lensa. Ia mencondongkan tubuh ke depan, mata fokus menatap sel yang seharusnya terlihat jelas. Dari sisi meja lain, David berjalan perlahan. Senyum ringan terukir di wajahnya, langkahnya tidak terburu-buru, tapi setiap gerakannya tertata rapi, seolah sudah membaca situasi. Ia mencondongkan tubuh sedikit, tangan menunjuk mikroskop tanpa menyentuh tangan Aira. “Aira, mau aku bantu atur mikroskopnya? Supaya selnya lebih jelas”, ucap David, suara rendah tapi hangat, tanpa kesan memaksa. Aira menoleh cepat, sedikit terkejut, lalu menunduk sambil menata rambut yang sedikit jatuh di depan wajah. “Oh… iya, Kak. Terima kasih. Aku belum terbiasa pakai mikroskop di pelajaran baru ini”, jawabnya, suaranya pelan, wajah sedikit memerah. David mengangguk singkat, menahan senyum. Tangannya bergerak perlahan, menunjukkan posisi lensa dan fokus tanpa menyentuh tangan Aira. “Kalau begitu, ini posisinya lebih stabil. Lihat bagian ini, nanti selnya terlihat jelas.” Aira mencondongkan tubuh lebih dekat, matanya mengikuti gerakan David, bibirnya mengerut sedikit saat berusaha memahami. Ia sesekali mengangkat alis, menatap David dengan rasa ingin tahu dan penghargaan. Cara David menjelaskan hal teknis tanpa terdengar menggurui membuatnya nyaman. Dari jarak beberapa meter, Dipta berdiri di pintu laboratorium, tangan di saku, mata tetap fokus pada Aira. Rahangnya mengeras sedikit, menahan dorongan untuk maju. Setiap senyum kecil Aira, setiap gerak tangan David, tertangkap jelas olehnya. Ia menarik napas pelan, menenangkan diri. David mencondongkan tubuh lagi, menunjuk catatan kecil Aira sambil tersenyum tipis. “Kalau kamu catat poin-poin penting, nanti lebih gampang diingat. Aku juga biasanya begitu.” Aira tersenyum samar, menunduk sebentar. Tangannya bergerak cepat mencatat, tapi matanya tetap sesekali menoleh ke David, seolah ingin memastikan ia tidak salah paham. Cara David bersikap tenang tapi perhatian membuatnya merasa dihargai. Dipta menggerakkan kepalanya sedikit, matanya menelusuri interaksi itu. Ia tetap diam, tapi dalam hati, ia menilai setiap gestur, setiap detik Aira menatap David, dan setiap senyum kecil yang muncul di wajahnya. Ada rasa waspada halus, tapi juga dorongan untuk melindungi meski ia belum menyadari betapa kuatnya perasaan itu mulai muncul. Beberapa menit kemudian, Aira menyelesaikan pengaturan mikroskop. Ia menarik napas panjang, tersenyum tipis ke David. “Terima kasih, Kak. Penjelasannya gampang dipahami, aku jadi lebih ngerti sekarang.” David tersenyum ringan, menepuk meja pelan. “Sama-sama. Aku senang bisa bantu. Kalau butuh, aku bisa temani latihan lagi kapan saja.” Aira mengangguk, menutup buku catatannya perlahan. Matanya menatap jendela tinggi, cahaya matahari menyinari pipinya, wajahnya terlihat tenang tapi berseri. Tanpa sadar, setiap langkah dan perhatian kecil David meninggalkan kesan yang hangat meski tetap alami, tapi berbeda dari sebelumnya. Di sudut ruangan, Dipta menarik napas dalam-dalam, menurunkan tangan dari saku. Ia menatap Aira sekali lagi sebelum perlahan melangkah keluar laboratorium, tetap diam tapi matanya mengikuti setiap gerakannya. Hari itu, ia menyadari sesuatu, kehadiran orang lain di sekitar Aira, walau tampak membantu, membuatnya lebih fokus pada satu hal saja, Aira. ° Suasana sekolah sore itu lebih tenang. Koridor utama yang biasanya ramai dengan siswa yang berpindah kelas kini tersisa beberapa orang saja. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela panjang membuat lantai berkilau, dan suara langkah kaki terdengar jelas. Aira berjalan sambil menata tasnya. Buku catatan biologi masih menempel di lengannya. Ia menoleh ke papan pengumuman, mencoba mencari jadwal ulangan besok. Tangannya menekan buku sedikit, wajahnya fokus tapi santai. Dari ujung koridor, Dipta terlihat menunggu dengan langkah lambat, seperti sengaja menyesuaikan jarak. Matanya tertuju pada Aira, tapi ekspresinya tetap tenang, bibir menutup rapat, rahangnya rileks tapi waspada. Saat Aira melangkah melewati ujung koridor, tasnya tersenggol sedikit di pinggir dinding. Dipta, yang berada beberapa langkah di depan, mencondongkan tubuh ke samping seolah tidak sengaja, cukup dekat agar Aira menoleh. “Oh… maaf, Kak”, Aira berkata pelan, sedikit menunduk sambil menyesuaikan posisi tasnya. “Tidak apa-apa”, jawab Dipta, nada rendah tapi ramah. Ia mencondongkan tubuh sedikit, menunjuk buku catatan yang terselip di tas Aira. “Kalau mau, aku bisa bantu cek bagian yang susah dipahami.” Aira menatapnya, senyum tipis muncul di bibirnya. Ia menunduk sebentar, menatap buku di tangannya. “Oh… iya, terima kasih… Kak. Aku biasanya belajar sendiri, tapi ini membantu.” Dipta mengangguk singkat, lalu berjalan seiring dengan Aira meski tetap memberi jarak, gesturnya ringan tapi sengaja terlihat alami. Ia menepuk tasnya pelan, memberi ruang agar Aira bisa menata buku di dalamnya tanpa merasa ditekan. Di kantin, beberapa meja masih kosong. Aira memilih tempat duduk dekat jendela, membuka buku catatannya lagi. Cahaya sore menyorot rambutnya, membuat wajahnya terlihat lembut. Dipta duduk di meja yang berdekatan, cukup dekat untuk membuat Aira menoleh, tapi tidak mengganggu ruang pribadinya. Tangannya menaruh buku di meja, jari-jari mengetuk pelan ritme ringan di tepi meja. “Bagian selnya tadi kamu sudah catat semua?”, tanya Dipta, suara rendah tapi cukup terdengar. Aira mengangguk, menatap buku, lalu menatap Dipta sebentar. Bibirnya mengerut tipis, wajahnya serius tapi nyaman. “Sudah… tapi ada beberapa diagram yang kurang jelas. Kalau Kakak sempat, bisa jelasin sedikit?” Dipta mencondongkan tubuh, menunjuk diagram dengan jari telunjuknya, tapi tetap memberi jarak. Nada suaranya stabil, misterius tapi mudah didekati. “Lihat ini, ini inti dari sel, dan ini perbedaannya dengan jaringan lain. Kalau ini dipahami, sisanya lebih gampang.” Aira menatapnya dengan seksama, sesekali mengangguk, wajahnya berseri. Tangannya menutup catatan sesaat, menyesuaikan posisi buku agar lebih mudah melihat. Gestur kecil itu membuat suasana lebih hangat, alami, tanpa terdengar dibuat-buat. Di sisi lain kantin, Angger, Bayu, dan Raka duduk di meja terpisah, diam-diam menatap. Angger menepuk meja pelan, menahan tawa. “Lihat tuh… Dipta langsung ambil alih, tapi tetap halus. Aira nggak sadar kalau ini bagian dari strategi.” Bayu tersenyum tipis, matanya mengikuti interaksi itu. “Iya… pendekatan halus, tapi efektif. Rasa penasaran Aira muncul alami.” Raka terkekeh pelan. “Bisa bikin belajar jadi nyaman, tapi tetap ada yang bikin Dia… fokus ke satu orang,” ucapnya sambil menoleh ke arah Dipta. Dipta mengamati Aira dari sudut matanya, tetap tenang, tapi pikirannya sudah menghitung setiap gerakan, senyum, dan gestur. Ia tahu, kehadirannya di dekat Aira lebih dari sekadar membantu belajar. Ada rasa ingin memastikan, ingin menjaga sekaligus sedikit ingin dipahami. Aira menutup buku sebentar, menatap jendela di luar. Ia tersenyum tipis, menarik napas dalam, dan menghela sedikit bahu yang tegang. Sore itu terasa berbeda ada rasa tenang tapi penuh perhatian, alami tapi ada rasa nyaman yang belum ia mengerti sepenuhnya. Dan bagi Dipta, setiap gerakan Aira adalah catatan tersendiri. Ia melangkah pelan ke arah pintu kantin saat Aira bersiap pulang, tetap misterius, tetap tenang. Hari itu, interaksi yang paling sederhana sekalipun meninggalkan kesan yang jelas dan tanpa disadari, taruhan yang teman-temannya buat mulai terasa nyata. ° Sore mulai memudar, cahaya matahari berangsur masuk ke lorong-lorong sekolah. Suasana kelas XI IPA 2 terasa lebih tenang; sebagian siswa sudah pulang, sebagian lagi menata buku di tas mereka. Aira duduk di bangku dekat jendela kantin, menata buku catatannya. Wajahnya terlihat rileks, pipi memerah sedikit karena tertawa ringan dengan hal-hal yang terjadi hari itu gestur Angger, tips praktis Bayu, humor Raka, dan perhatian tenang David. Semua terasa berbeda, tapi tetap alami. Angger duduk di meja terpisah, menepuk meja pelan sambil tersenyum. “Aku suka cara aku mulai duluan. Santai, tapi dia terlihat nyaman. Ini strategi awal yang oke,” gumamnya. Bayu, yang duduk agak jauh, mengangguk. “Aku fokus ke bantuan praktis. Dia terlihat senang, dan interaksi tetap natural. Bagus.” Raka menepuk pundak sendiri sambil terkekeh ringan. “Aku bikin suasana lebih santai. Dia menanggapi humorku dengan senyum, tapi tetap sopan. Efeknya langsung terasa.” David diam, menatap dari jauh, menilai setiap gerak kecil Aira. “Observasi diam-diam. Aku bisa catat detail kecil. Pelan-pelan kita lihat siapa strategi paling efektif. Tapi semuanya berjalan lancar.” Dipta, yang sejak tadi mengamati dari pinggir kantin, menarik napas panjang. Rahangnya sedikit mengeras, mata tajam tetap memantau Aira, tapi gerakannya tetap terkendali. Setiap senyum, setiap gestur Aira, dan cara dia menanggapi kakak-kakak kelasnya, terutama interaksi yang lebih lama dengan David menjadi catatan penting di benaknya. Tanpa sadar, Aira menoleh lagi ke arah lorong, tersenyum tipis. Tangannya menata buku di tas, mata sesekali menatap jendela. Ada rasa lega dan hangat di hatinya, yang berbeda dari pagi hari. Hari ini terasa ringan, tapi penuh hal-hal yang membuatnya tersenyum kecil sendiri. Angger, Bayu, dan Raka saling bertukar pandang, senyum tipis di wajah masing-masing. Mereka diam-diam puas; pendekatan mereka berhasil membuat Aira nyaman, tapi tetap polos. Taruhan kecil yang mereka buat kini mulai terasa nyata tanpa membuat Aira menyadarinya. Dari sisi lain kantin, Dipta menarik napas pelan. Ia berjalan pelan ke arah pintu keluar, tetap memperhatikan Aira sebentar sebelum meninggalkan ruangan. Tidak ada kata yang terucap, tidak ada gerakan berlebihan, tapi aura protektif dan perhatian halusnya terasa jelas, meski hanya di matanya sendiri. Aira menatap ke arah Dipta yang berjalan menjauh, matanya sedikit menyipit, bibir mengerut tipis. Ada rasa ingin tahu yang samar tentang kakak kelas yang tampak misterius tapi mudah didekati. Ia menutup tas, menarik napas, lalu tersenyum pelan pada dirinya sendiri. Hari itu berakhir dengan keseimbangan yang halus: empat kakak kelasnya berhasil menunjukkan sisi masing-masing, Aira tetap nyaman dan polos, dan Dipta mulai menyadari bahwa kehadiran orang lain di sekitar Aira membuatnya lebih fokus, lebih waspada, bahkan sedikit posesif. Dan di dalam hati Dipta, ada satu hal yang jelas: semua ini baru permulaan. ° Kamar Dipta gelap redup, hanya lampu meja belajar yang menyala lembut. Buku-buku tertata rapi di rak, tapi suasana tetap terasa hening, hampir mmenekan Dipta duduk di tepi ranjang, tangan menekuk di lutut, kepala sedikit menunduk. Mata menatap ke lantai, tapi pikirannya melayang jauh ke siang tadi. Setiap adegan di kantin, laboratorium, dan koridor diulang perlahan di benaknya gerakan Aira, cara dia tersenyum, cara menatap buku, bahkan cara menunduk saat menyesuaikan tas. Rahangnya mengeras sedikit, napas pelan tapi teratur. “Dia… berbeda,” gumamnya. “Bukan hanya karena dia polos atau baru di sekolah… ada sesuatu yang bikin aku… tidak bisa lepas pandang.” Tangannya mengetuk lutut pelan, ritme samar tapi konsisten. Ia mengingat bagaimana teman-temannya mendekati Aira dengan strategi masing-masing, tapi cara Aira menanggapi mereka membuatnya merasa ada wilayahnya sendiri yang terganggu. Matanya menatap ke jendela gelap, bayangan lampu kota masuk perlahan. “Aku harus pastikan… semuanya tetap… di kendaliku,” pikir Dipta. Ada nada posesif yang samar, bukan agresif, tapi jelas menguat dari perasaan protektif yang sudah muncul sejak siang. Ia menutup mata sebentar, menarik napas dalam. Bayangan Aira tersenyum, menatap buku, mencondongkan tubuh saat David menunjuk mikroskop semua adegan itu masih terekam jelas di kepala. Ada obsesi halus yang mulai terbentuk, keinginan untuk memastikan dia tetap dekat, tetap aman dan, tanpa disadari, tetap miliknya. Dipta membuka mata perlahan, menatap langit-langit kamar. Tangan menepuk lutut beberapa kali, seolah menenangkan diri sendiri. “Hari ini baru permulaan besok, aku harus lebih fokus. Strategi mereka efektif… tapi aku juga punya cara sendiri,” gumamnya. Lampu meja menyinari wajahnya, bayangan samar di dinding. Senyumnya tipis, bukan senyum biasa, tapi senyum seseorang yang sedang menghitung langkah berikutnya, memutar strategi, dan merasakan dorongan posesif yang belum pernah ia sadari sebelumnya. Di dalam hati Dipta, satu hal jelas: ini bukan lagi soal taruhan teman-temannya. Ini tentang kontrol, perhatian, dan obsesi yang mulai tumbuh perlahan. Ia menunduk lagi, tangan mengepal ringan, dan menutup mata, membiarkan malam menelan pikirannya sambil memutar ulang setiap momen hari itu sebuah malam yang menandai awal tensi baru, jauh lebih pribadi, yang akan mewarnai di hari-hari berikutnya.Barang-barang di atas meja kasir mulai berpindah satu persatu. Suara beep mesin scanner terdengar berulang kaleng susu, botol minum, buku gambar astronot dan cemilan sampai perintilan kecil lainnya. Aira berdiri di sisi kasir, sesekali melirik layar total belanja. “Ini kayaknya bisa buat buka warung…” gumamnya pelan, setengah bercanda. Di sampingnya, Dipta masih membantu mengangkat barang dari troli. Gerakannya tenang sudah terbiasa, kasir menyebutkan total pembelian yang angkanya tidak kecil. Aira langsung mengambil dompetnya tanpa ragu. “Sebentar ya—” Namun tangan Dipta lebih dulu bergerak. Satu kartu sudah diletakkan di mesin. Aira langsung menoleh cepat. “Pak?!” Dipta tidak melihat ke arahnya. “Lanjut saja mbak.” Kasir langsung memproses. Aira langsung mendekat sedikit. “Pak, ini saya yang bayar…” Dipta tetap tenang. “Sudah biar saya aja.” Aira mengernyit. “Kan ini belanjaan saya…” Dipta baru memandang, tatapannya datar. “Iya.” Aira makin bingung. “Terus ken
Aira masih berdiri di depan rak susu, mencoba mengembalikan fokusnya setelah kejadian barusan yang jujur saja, cukup membuat kepalanya sedikit “panas dingin”. Troli di depannya sudah hampir penuh. Ia mengambil satu kaleng susu formula, memperhatikan labelnya sebentar, lalu tanpa ragu memasukkannya ke dalam troli. Gerakannya cepat seolah sudah hafal. Di sampingnya, Dipta berdiri tenang. Tadinya hanya memperhatikan sekilas, namun kali ini tatapannya bertahan lebih lama. Matanya turun perlahan ke dalam troli, satu persatu isi di dalamnya terlihat jelas produk anak-anak. Cemilan khusus, perawatan bayi, minyak telon dan lainnya. Semuanya bukan yang biasa, lalu pandangannya bergeser ke bagian lain. Produk milik Aira seperti sabun, sampo, body lotion, skincare, make up, semuanya standar. Bahkan bisa dibilang sederhana. Dipta tidak langsung bicara, tatapannya sedikit berubah lebih dalam. Aira yang masih fokus merapikan barang, tidak langsung sadar diperhatikan seperti itu. “Ini harusnya
Dulu, Dipta adalah seseorang yang mengendalikan. Sekarang dia terlihat seperti seseorang yang membentuk tanpa menekan. Arjito menghela napas lagi, lebih panjang dari sebelumnya. “Kamu benar-benar belajar…” Kalimat itu keluar pelan, bukan hanya untuk Aira justru ini juga untuk Dipta. Beberapa detik ruangan itu benar-benar hening. Tidak ada suara selain napas yang teratur. Lalu perlahan, tangan Arjito meraih ponselnya yang terletak di sisi meja. Ia menatap layar sebentar, seolah memastikan keputusan kecil itu, kemudian satu nama dipilih. Panggilan dilakukan. Nada sambung terdengar beberapa detik, sebelum akhirnya tersambung. “Jarang kamu yang menghubungi duluan.” suara di seberang terdengar santai, sedikit ringan, sangat kontras dengan suasana di ruangan itu. Suara dari Hadiyasa Mahesa. Arjito tidak langsung menjawab. Ia berdiri perlahan dari kursinya, berjalan mendekati jendela besar di belakang meja. Pemandangan kota terbentang luas di bawah sana, gedung-gedung tinggi berdir
Setelah Nadhira benar-benar pergi, akhirnya suasana di meja itu kembali tenang. Aira menarik napas panjang, lalu menegakkan badannya. “Akhirnya…” Di depannya, makanan sudah tersaji, hangat dan terlihat menggoda. Dipta mulai makan tanpa banyak bicara, seperti biasa. Aira mengambil sendok, belum langsung makan. “Pak.” Dipta berhenti dari aktivitasnya. “Ya?” “Tadi itu…” Aira berhenti sebentar. “…memalukan nggak sih?” Dipta tetap tenang. “Tidak.” Aira mengernyit. “Serius?” "Iya”, jawab Dipta singkat lagi. Aira memperhatikan ekspresinya, mencari jika ada tanda-tanda bercanda, tapi tidak ada. “Padahal itu temen saya paling… ya gitu lah…” Dipta menjawab singkat. “Sudah terlihat.” Aira langsung ketawa kecil. “Iya kan” Aira akhirnya mulai makan. Suasana perlahan jadi lebih santai dalam beberapa suapan berlalu. Aira tiba-tiba bicara lagi, lebih pelan. “…Pak.” “Ya?”, sahut Dipta yang kembali harus terhenti menikmati hidangan. “Kalau orang-orang dulu lihat kita sekar
Pagi itu berjalan seperti biasa di Rajendra Engineering. Aira sudah kembali dengan rutinitasnya, menyusun jadwal, menyiapkan dokumen, dan memastikan semua agenda Dipta berjalan rapi. Suasana kantor relatif normal dan tenang. Sampai ada suara yang menahan aktivitasnya. “Bu Aira, ada tamu.” ucap staf yang memanggilnya. Aira menoleh. “Tamu?” Staf di depannya mengangguk. “Dari perusahaan luar, sudah ada janji dengan Pak Dipta.” Aira langsung mengangguk kecil. “Baik, saya konfirmasi dulu.” Dia berdiri, berjalan ke ruang kerja Dipta, mengetuk pelan. “Masuk.” ucap Dipta. Aira membuka pintu. “Pak, tamu dari perusahaan—” Kalimatnya terhenti, karena di dalam ruangan itu sudah berdiri dua orang. Seorang pria paruh baya dengan aura pebisnis kuat dan di sampingnya Andine. Aira langsung diam sepersekian detik, matanya menyipit sedikit. “Oh…” Andine yang melihat itu, langsung mengenali wajah Aira. Tatapannya berubah tajam, senyum tipis muncul di bibirnya. "Ternyata kamu…” gumamnya pelan
Ruang kerja kembali hening setelah tumpukan revisi itu selesai mereka baca. Aira masih duduk, menatap dokumen di depannya seolah belum benar-benar selesai memproses semuanya. Sementara Dipta sudah mulai menandai bagian-bagian yang perlu diperbaiki. Aira akhirnya bicara pelan. “Pak.” Dipta tidak menoleh. "Iya?” Aira menarik napas kecil. “Saya baru ngerti sekarang.” Dipta berhenti sebentar. “Apa?” Aira menatap dokumen itu lagi. “Kenapa orang-orang masih hormat sama beliau…” Dia berhenti, lalu lanjut pelan. “…padahal standarnya kayak… ya ini…” dia mengangkat sedikit kertas revisi itu. Dipta menutup pulpen. “Karena dia tidak menjatuhkan orangnya.” Aira langsung menoleh. “Iya…” Dia mengangguk pelan. “…dia kayak… selalu punya cara lain sebelum nyalahin orang.” lalu berhenti sebentar. Aira melanjutkan, kali ini lebih jujur. “…dulu saya kira ayah saya itu dingin.” Dia tertawa kecil. “…ternyata bukan dingin… cuma terlalu mikir jauh.” Dipta menatapnya sekilas. “…dan kamu baru
Ruang musik sudah setengah terbuka ketika Aira datang. Ia memang sengaja datang lebih awal bukan karena terlalu rajin, tapi karena ia butuh ruang sebelum ruangan itu penuh suara dan tatapan. Tasnya ia letakkan di kursi dekat piano. Udara di dalam masih dingin, bercampur aroma kayu dan kabel alat mu
Aira terbangun bahkan sebelum alarmnya berbunyi. Langit di luar jendela kamarnya masih berwarna abu-abu pucat. Cahaya pagi belum sepenuhnya masuk, tapi cukup untuk membuat bayangan lemari dan meja belajarnya terlihat jelas. Ia menatap langit-langit beberapa detik, lalu semalam kembali. Cahaya layar
Jam di dinding kamar Aira menunjukkan pukul 15.12. Ia sudah membuka lemari sejak lima menit lalu, tapi belum juga mengambil keputusan.“Kenapa sih susah banget cuma mau makan?” gumamnya pelan.Tangannya menyentuh beberapa gantungan baju. Blus putih? Terlalu formal. Kaos oversized? Terlalu santai. A
Beberapa hari setelah mereka bertukar nomor HP, Aira duduk di kelas kosong XI IPA 2. Di depannya, buku Biologi terbuka lebar, catatan rapi tertata di setiap halaman. Tapi matanya sesekali menatap layar ponsel, jari-jarinya memainkan ujung pena tanpa sadar. Napasnya pendek ketika ia menarik napas da







