Home / Romansa / DIPTA / BAB 3 Taruhan Dimulai

Share

BAB 3 Taruhan Dimulai

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-02-24 22:04:18

Bel pulang berbunyi nyaring, menggema sampai ke lorong-lorong gedung IPS. Siswa kelas XII IPS 1 mulai beranjak dari kursi mereka. Suara kaki kursi bergeser dan ritsleting tas yang ditarik bersahutan. Di antara keramaian itu, Dipta tetap bergerak dengan ritmenya sendiri. Ia merapikan buku ekonominya lebih dulu, menyusun catatan ke dalam map transparan dan memastikan tidak ada lembar yang terlipat. Gerakannya rapi, efisien, tanpa terburu-buru.

Beberapa siswa lain meliriknya sekilas. Siapa yang tidak mengenal Dipta Niskala Mahesa, Juara umum dan Juara kelas berturut-turut. Anak IPS yang nilainya tak pernah turun, tapi Dipta tidak pernah terlihat haus perhatian. Ia tidak banyak bicara, tidak suka nongkrong berisik di kelas. Kalau ditanya guru, jawabannya selalu tepat, ringkas, dan jarang salah. Ia berdiri, menggantungkan tas ke bahu kanan, lalu keluar kelas.

Lorong gedung IPS lebih sepi dibanding gedung IPA. Udara sore mulai terasa hangat, matahari condong ke barat. Dipta berjalan lurus tanpa menoleh, seolah sudah tahu ke mana ia harus menuju.

Tangga belakang. Tempat yang tidak terlalu ramai. Biasanya dipakai siswa untuk duduk santai sebelum pulang. Dan benar saja, ada empat orang sudah menunggunya. Angger duduk di anak tangga paling atas, satu kaki naik, satu kaki turun. Raka bersandar di dinding, tangan masuk saku. Bayu berdiri dengan posisi tegak seperti sedang memikirkan sesuatu. David memutar kunci motor di jarinya, wajahnya tampak santai tapi jelas menunggu. Mereka berhenti bicara saat melihat Dipta mendekat.

“Kita pikir kamu langsung pulang", kata Angger lebih dulu, senyum miringnya muncul.

Dipta berhenti satu anak tangga di bawah mereka. “Kalian yang ngajak", jawabnya tenang. Nada suaranya datar, tapi bukan tidak peduli. Hanya terkendali.

Bayu turun satu langkah, menyamakan tinggi badan. “Kita langsung saja.”

“Langsung apa?”, tanya Dipta.

Raka menatapnya tajam. “Murid pindahan. XI IPA 2.”

Nama itu belum disebut, tapi mereka semua tahu siapa yang dimaksud, Aira.

David menyeringai tipis. “Baru dua minggu. Tapi sudah bikin setengah gedung IPA penasaran.”

“Dan?”, Dipta mengangkat alis sedikit.

Angger tertawa pelan. “Dan kita bikin taruhan.”

Hening sesaat. Dipta tidak langsung merespon. Ia menatap wajah mereka satu per-satu, tidak ada yang bercanda.

“Taruhan apa?”, tanyanya akhirnya.

Bayu menjawab, suaranya lebih serius dibanding yang lain. “Siapa yang bisa bikin dia jadi pacarnya duluan.”

David menambahkan, “Hadiah seratus juta.”

Angin sore berembus pelan, menggerakkan sedikit rambut Dipta. Ia tidak terkejut, tidak tertarik dan tidak juga menolak. Hanya diam.

“Seratus juta dari mana?”, tanyanya.

“Kita patungan”, jawab Raka singkat.

Dipta memiringkan kepala sedikit. “Dan kalian pikir aku tertarik?”

Angger langsung menyahut, “Bukan soal uangnya.”

“Lalu?”, tanyanya lagi.

Bayu tersenyum tipis. “Soal tantangan.”

Dipta menyilangkan tangan di dada, bersandar ringan ke tembok tangga. Ekspresinya tetap tenang, tapi matanya mulai fokus.

“Kenapa aku?”, tanyanya lagi.

David tertawa kecil. “Karena kalau cuma kita, terlalu gampang. Tapi kalau kamu ikut… itu baru permainan.”

Angger menambahkan, “Kamu paling strategis.”

Raka mengangguk. “Dan kita semua tahu kamu nggak pernah kalah kalau sudah masuk sesuatu.”

Dipta tidak langsung menjawab. Ia memandang ke arah lapangan sekolah yang terlihat dari sela-sela tangga.

“Dia tipe seperti apa?”, tanyanya.

Bayu menjawab cepat, seolah sudah menyiapkan data. “Pintar. Juara kelas di sekolah lamanya, tenang nggak suka cari perhatian.”

Raka menambahkan, “Tapi ada satu titik lemah.”

Dipta menoleh sedikit.

"Biologi”, lanjut Bayu. “Nilainya bagus, tapi bukan yang paling kuat.”

Senyum tipis, hampir tak terlihat, muncul di wajah Dipta.

“Sudah observasi?” tanyanya.

“Sejak minggu lalu”, jawab Angger bangga.

“Dan belum ada yang bergerak", tambah David.

Dipta mengetuk pelan anak tangga dengan ujung sepatunya. Sekali. Dua kali. Ia tidak peduli pada uangnya, ia tidak butuh pembuktian dan ia juga tidak punya ketertarikan khusus pada murid pindahan itu. Tapi sesuatu tentang struktur permainan ini menarik. Orangnya pintar, terbiasa jadi yang terbaik dan punya satu celah kecil. Ia bisa melihat polanya.

"Kalau aku ikut”, ucapnya pelan, “kalian tidak boleh ikut campur.”

Angger langsung mengangguk. “Deal.”

“Tidak ada ganggu-ganggu”, lanjut Dipta. “Tidak ada pancingan murahan.”

Bayu tersenyum. “Kita bukan anak SMP.”

David turun satu anak tangga, mengulurkan tangan. “Jadi?”

Hening sebentar. Lalu Dipta menjabat tangan itu singkat. "Baik. Aku ikut.”

Angger hampir bersorak, tapi menahan diri. “Akhirnya.”

Raka tersenyum puas. “Permainan dimulai.”

Dipta melepaskan tantangannya. "Ini bukan permainan", katanya datar.

“Lalu?” tanya David.

“Ini soal membaca pola.”, lanjutnya.

Mereka saling pandang. Dipta melangkah turun satu anak tangga, kini berdiri sejajar dengan mereka.

“Orang yang terbiasa juara tidak suka merasa kalah”, lanjutnya. “Kalau dia lemah di biologi, jangan dekati dari sisi emosional dulu.”

“Terus?” Angger penasaran.

“Masuk dari sisi kompetensinya. Buat dia merasa tetap dihargai.”, jelas Dipta.

Bayu tersenyum tipis. “Makanya kita butuh kamu.”

Dipta memandang lurus ke depan. Ia tidak membayangkan wajah Aira, tidak membayangkan senyumnya, dan tidak membayangkan apa pun. Baginya, ini hanya strategi.

“Seratus juta”, gumam David pelan.

Dipta hanya mengangkat bahu ringan. “Uangnya ambil saja nanti.”

Keempat temannya terdiam sesaat. Bagi mereka, uang itu besar. Bagi Dipta, bukan itu poinnya.

“Langkah pertama?” tanya Raka.

Dipta menjawab tanpa ragu, “Amati.”

“Berapa lama?”, tanya Raka lagi.

“Sampai aku tahu ritmenya.”, jawab Dipta.

Angger menyeringai. “Kamu menyeramkan kalau serius.”

Dipta tidak menanggapi. Ia menuruni tangga lebih dulu, berjalan menuju parkiran. Langkahnya stabil, wajahnya kembali tanpa ekspresi. Di belakangnya, empat orang saling pandang dengan campuran kagum dan antusias. Taruhan sudah resmi di mulai.

Dan di gedung sebelah, kelas XI IPA 2 baru saja selesai praktikum biologi. Aira menutup bukunya dengan sedikit kerutan di dahi, merasa materi sel terasa lebih rumit dari yang ia duga. Tanpa tahu, seseorang baru saja memutuskan untuk mempelajarinya seperti ia mempelajari grafik ekonomi.

°

Kelas XI IPA 2 selalu lebih berisik setelah praktikum. Bau alkohol dan cairan kimia masih samar tercium dari meja laboratorium yang tadi mereka gunakan. Buku biologi terbuka di hampir setiap meja, beberapa siswa masih membahas hasil pengamatan sel bawang yang tadi mereka lihat di mikroskop. Aira duduk di bangku dekat jendela.

Cahaya sore masuk menyamping, membuat garis tipis di pipinya. Rambutnya yang diikat rendah sedikit berantakan karena tadi beberapa kali ia menyelipkannya ke belakang telinga saat fokus.

Di depannya, buku biologi terbuka penuh coretan. Ia menggigit ujung bolpoinnya pelan.

“Kenapa hasilku beda ya…”, gumamnya hampir tak terdengar.

Teman sebangkunya sudah lebih dulu menutup buku. “Ah, santai aja Ra. Nilaimu tetap bagus kok.”

Aira tersenyum tipis, tapi ia tidak puas. Bagus bukan berarti maksimal dan ia terbiasa maksimal. Tangannya kembali membalik halaman, menelusuri gambar struktur sel dengan tatapan serius. Alisnya sedikit bertaut. Ia bukan tidak mengerti hanya saja, biologi bukan ritme yang paling nyaman untuknya. Ia kuat di logika, ia kuat di pola angka dan ia kuat di analisis, tapi hafalan detail dan istilah Latin panjang membuatnya harus bekerja dua kali lebih keras.

Bel pulang kedua berbunyi, siswa mulai keluar kelas. Aira merapikan buku dengan gerakan cepat tapi tetap rapi. Ia berdiri, memasukkan buku ke dalam tas, lalu berjalan keluar bersama arus siswa lainnya. Dan dari ujung lorong gedung IPA, seseorang memperhatikannya.

Dipta berdiri tidak terlalu dekat. Bersandar ringan di dinding dekat papan pengumuman. Tangannya memegang ponsel, tapi matanya tidak benar-benar membaca layar. Ia mengamati. Cara Aira berjalan yang tidak terburu-buru, bahunya yang tegak dan tatapannya yang lurus. Tidak terlihat seperti siswa pindahan yang canggung. Menarik.

Aira berhenti sebentar di depan papan pengumuman akademik. Matanya menyapu daftar nilai ulangan harian yang baru ditempel. Ia mencari namanya lalu menemukannya. Nilainya tinggi tapi bukan yang tertinggi, ada nama lain berada satu tingkat di atasnya.

Alis Aira bergerak tipis bukan kecewa berlebihan, tapi ada sesuatu yang terusik. Ia menghela napas pelan dan saat itulah Dipta melihat ekspresi yang ia cari, ambisi. Ada sebuah ambisi disana. Bukan untuk terlihat hebat, tapi untuk tidak kalah dari dirinya sendiri.

Aira berbalik dan hampir saja menabrak seseorang.

“Oh.. maaf!”, katanya cepat.

Dipta sudah berdiri tepat di depannya. Jarak mereka tidak terlalu dekat, tapi cukup membuat Aira sedikit mendongak untuk menatap wajahnya.

“Tidak apa-apa”, jawab Dipta tenang. Suara yang dalam, terkontrol.

Aira mengangguk kecil. “Kakak kelas ya?”

Seragamnya jelas menunjukkan kelas XII, tapi ia tetap bertanya sopan.

“XII IPS 1”, jawabnya singkat.

“Oh.” Aira tersenyum ringan. “Saya Aira. XI IPA 2.”

“Aku tahu.” Jawaban itu keluar begitu saja.

Aira berkedip.

“Maksudnya… aku pernah dengar", tambah Dipta tanpa mengubah ekspresi.

Aira tertawa kecil, canggung tapi tidak terganggu. “Semoga yang didengar bukan yang aneh-aneh.”

“Katanya kamu juara kelas di sekolah lama.”, ucap Dipta.

Aira sedikit terdiam. Ia tidak menyangka itu yang akan dibahas. “Iya… kebetulan”, jawabnya merendah.

Dipta memperhatikan lagi. Cara Aira menjawab tidak sombong dan tidak juga pura-pura tidak tahu diri. Ia memang hanya terbiasa berprestasi.

“Nilai biologi kamu tadi”, ucap Dipta pelan.

Aira spontan menegang sedikit. “Kenapa?”

“Bukan yang tertinggi.” Nada itu bukan mengejek. Lebih seperti pernyataan data.

Aira menatapnya beberapa detik, mencoba membaca maksudnya.

“Iya”, jawabnya jujur. “Masih kurang teliti.”

Dipta mengangguk sekali. “Kalau struktur sel, jangan hafal bentuknya. Pahami fungsinya dulu. Nanti istilahnya ikut.”

Aira terdiam. Kalimat itu justru lebih sederhana dari cara guru menjelaskan tadi.

“Kenapa Kakak tahu?”, tanyanya refleks.

“IPS bukan berarti tidak belajar biologi.”, katanya santai, tangannya masuk kesalah satu saku celananya.

Aira sedikit tersipu. “Bukan maksudnya begitu…”

Dipta tidak tersenyum, tapi tatapannya melembut tipis. “Logika dulu. Baru detail”, lanjutnya singkat.

Angin sore berembus lagi. Beberapa siswa melewati mereka, tapi percakapan itu terasa seperti ruang kecil yang terpisah dari keramaian. Aira menatapnya dengan rasa ingin tahu yang mulai tumbuh.

“Kalau Kakak masuk IPA, pasti bisa juara juga ya?”, tanyanya tanpa sadar.

Dipta tidak langsung menjawab. Nilai IPA dan IPS-nya memang selalu seimbang. Ia bisa memilih jalur mana saja.

“Aku pilih yang aku mau”, jawabnya akhirnya.

Jawaban yang tidak membanggakan diri, tapi juga tidak menyangkal kemampuan.

Aira mengangguk pelan. Ia tidak tahu bahwa laki-laki di depannya sedang menyusun pola. Bahwa kalimat tadi bukan spontanitas biasa, bahwa bahkan cara ia bereaksi saat disebut soal biologi sudah dicatat dengan rapi.

“Aku pulang dulu,” kata Aira akhirnya. “Makasih… sarannya.”

Dipta mengangguk. “Sama-sama.”

Aira melangkah pergi. Dan untuk pertama kalinya, Dipta benar-benar memperhatikan punggungnya menjauh. Bukan sebagai target taruhan, tapi sebagai teka-teki. Ia mengeluarkan ponsel, membuka grup kecil berisi empat nama.

Angger: Gimana?

Dipta mengetik singkat. 'Observasi selesai.'

Ia masuk lewat akademik. Beberapa detik kemudian, balasan masuk bertubi-tubi.

Raka: Secepat itu?

Bayu: Jangan bilang udah mulai gerak.

David: Gila, baru hari pertama.

Dipta mengunci layar ponsel, ekspresinya tetap tenang. Tapi jauh di dalam, ada sesuatu yang tidak ia perhitungkan tadi. Tatapan Aira saat ia merasa tertantang, itu bukan ekspresi orang yang mudah ditaklukkan. Dan untuk pertama kalinya sejak taruhan dimulai, permainan ini terasa menarik baginya.

°

Perpustakaan sekolah selalu lebih tenang menjelang sore. Cahaya matahari masuk melalui jendela tinggi, jatuh membentuk garis-garis panjang di lantai keramik. Suara halaman buku dibalik terdengar lebih jelas dibanding suara langkah kaki.

Aira duduk di meja paling ujung, dekat rak biologi. Di depannya, buku referensi tambahan terbuka lebar. Ia mencatat dengan serius, dahinya sedikit berkerut. Tangannya bergerak cepat, tapi sesekali berhenti, seolah sedang menata ulang pemahamannya.

“Fungsi dulu, baru istilah…”, gumamnya. Ia mengulang kalimat itu pelan. Kalimat dari kakak kelas IPS yang entah kenapa masih terngiang.

Ia mencoba cara itu. Bukan menghafal bagian-bagian sel tapi memahami perannya. Dan untuk pertama kalinya sejak materi itu dimulai, semuanya terasa lebih masuk akal. Aira tersenyum kecil tanpa sadar.

Di sisi lain ruangan, Dipta berdiri di balik rak buku ekonomi. Ia tidak langsung mendeka, ia mengamati dulu. Cara Aira duduk tegak, cara ia menggigit bibir bawah saat berpikir dan cara ia memutar bolpoin ketika menemukan jawaban. Ia terlihat berbeda ketika fokus, jadi terlihat lebih hidup. Dipta berjalan pelan mendekat, langkahnya nyaris tak bersuara.

Ia berhenti di sisi meja. “Kamu pakai cara kemarin?”

Aira sedikit terkejut, tapi tidak sampai tersentak. “Oh.. Kak Dipta.”

Ia refleks menutup bukunya sedikit, lalu sadar dan membukanya lagi. “Iya. Lebih gampang ternyata,” katanya jujur.

Dipta menarik kursi di depannya tanpa bertanya lebih dulu kemudian duduk. Gerakannya tenang, tidak terburu-buru seolah itu hal yang wajar.

“Bagian mana yang masih membingungkan?”, tanyanya.

Aira menunjukkan satu diagram. “Retikulum endoplasma kasar dan halus. Aku suka ketuker.”

Dipta melihat sebentar. “Bayangkan pabrik”, katanya.

Aira mengangkat wajahnya sedikit.

“Yang kasar itu ada ‘pekerja’-nya. Ribosom. Jadi produksi protein di situ.” Ia mengambil bolpoin Aira tanpa sadar, lalu menggambar sketsa kecil di pinggir buku. “Yang halus tidak punya pekerja. Fokusnya lebih ke lipid dan detoksifikasi.”

Aira memperhatikan dengan sangat serius. Cara Dipta menjelaskan tidak berbelit, tidak seperti guru yang harus mengikuti buku teks. Lebih seperti seseorang yang memahami konsepnya duluan.

“Oh…” Aira mengangguk pelan. “Jadi logikanya fungsi produksi dulu, baru detailnya.”

“Tepat.”, katanya singkat.

Mata mereka sempat bertemu dan ada sepersekian detik yang terasa lebih lama dari seharusnya.

Aira yang lebih dulu memalingkan wajah. “Terima kasih,” katanya pelan.

Dipta menyandarkan punggung ke kursi. Ia seharusnya merasa ini berjalan sesuai rencana. Masuk dari akademik. Bangun ketergantungan intelektual dan buat dia nyaman.

Strategi.

Tapi saat melihat Aira tersenyum kecil karena berhasil memahami sesuatu, ada rasa aneh yang menyelip. Bukan puas karena menang, bukan bangga karena berhasil. Lebih seperti ingin melihat ekspresi itu lagi.

“Aku bisa bantu kalau kamu mau", ucapnya.

Aira mengerjap. “Serius?”

“Selama tidak bentrok jadwal.”, katanya lagi.

Aira terlihat ragu sebentar. Lalu bertanya lagi, “Kakak IPS… nggak sibuk ekonomi dan sosiologi?”

Dipta tersenyum tipis, kali ini benar-benar terlihat. “Nilai IPA-ku tidak pernah di bawah sembilan.”

Aira terdiam. “Kok bisa masuk IPS?”, tanyanya polos.

“Aku pilih.” Jawaban itu lagi. Bukan karena tidak mampu tapi karena mau.

Aira menatapnya dengan rasa hormat yang mulai tumbuh dan Dipta melihatnya, menghitungnya dan menyimpannya.

Di sisi lain sekolah, di parkiran. Angger bersandar di motor sambil melihat ke arah gedung perpustakaan.

“Dia di dalam,” gumamnya.

Raka mendecak. “Baru tiga hari.”

Bayu menyipitkan mata. “Cepat banget.”

David hanya tertawa kecil. “Udah kubilang. Kalau dia serius, beda.”

Mereka melihat siluet dua orang yang duduk berhadapan dari balik kaca perpustakaan. Aira tampak fokus. Dipta tampak tenang.

“Menurut kalian dia beneran cuma main?” tanya Bayu tiba-tiba.

Angger terdiam sebentar. “Dipta nggak pernah setengah-setengah.”

Dan itu justru yang membuat permainan ini mulai terasa berbeda.

Kembali ke dalam perpustakaan. Aira menutup bukunya setelah hampir satu jam.

“Aku nggak sadar udah selama ini.”, kata Aira sambil melihat jarum jam di pergelangan tangannya.

“Kamu cepat tangkap”, kata Dipta. Pujian itu keluar datar, tapi tulus.

Aira tersenyum kecil. “Aku cuma nggak mau kalah sama nilai sendiri.”

Dipta memiringkan kepala sedikit. “Kamu selalu harus jadi paling atas?”

Aira berpikir sebentar. Lalu, “Bukan paling atas", jawabnya pelan. “Tapi nggak mau mengecewakan diri sendiri.”

Kalimat itu membuat Dipta diam, ada sesuatu dalam nada Aira yang berbeda. Tidak sombong dan tidak ambisius berlebihan. Hanya standar yang ia pasang untuk dirinya sendiri. Dan tanpa sadar, Dipta mulai ingin menjadi bagian dari standar itu. Bukan untuk menang taruhan tapi untuk memastikan ia tetap berdiri di sana.

“Aku antar sampai depan?”, tawarnya.

Aira menggeleng pelan. “Nggak usah, Kak. Aku bisa sendiri.”

Jawaban itu terdengar sopan dan mandiri. Tidak bergantung.

Dipta mengangguk. Ia berdiri lebih dulu, menarik kursinya dengan tenang. “Aira.”, panggilnya.

Aira menoleh.

“Besok ulangan?”, tanyanya.

“Iya.”, jawab Aira singkat.

“Dapat di atas sembilan puluh lima”. Itu bukan pertanyaan maupun juga perintah. Lebih seperti keyakinan yang ditanamkan.

Aira tersenyum tipis. “Doakan saja.”

“Aku tidak perlu mendoakan sesuatu yang sudah jelas,” jawabnya.

Dan untuk pertama kalinya, pipi Aira sedikit memerah. Saat Dipta berjalan keluar perpustakaan, ponselnya bergetar.

Angger: Udah lengket aja.

Raka: Berapa lama lagi?

David: Seratus juta aman ya?

Dipta mengetik singkat. 'Ini baru awal.'

Ia menatap kembali ke arah jendela perpustakaan.

Aira masih di dalam, merapikan buku. Sejak pertama kali taruhan dimulai, ia tidak lagi melihat angka, tidak lagi melihat hadiah. Ia melihat seseorang yang ingin ia pahami lebih dalam. Dan obsesi kecil itu, baru saja tumbuh.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DIPTA   BAB 137 Perdebatan Kecil

    Jam menunjukkan sekitar 10.50 ketika mobil mulai keluar dari area kota. Dipta duduk di kursi pengemudi dengan fokus penuh, sementara Aira di sampingnya sudah lebih santai, sandar sedikit ke kursi sambil melihat jalan yang mulai berubah jadi lebih lengang. Di belakang, barang-barang sudah tertata rapi tidak terlalu banyak, tapi cukup untuk beberapa hari di Bandung. Beberapa menit pertama perjalanan terasa tenang, hanya suara mesin dan pemandangan luar yang berganti pelan. Aira menoleh ke samping. “Kamu nggak capek bawa mobil sendiri?” Dipta menggeleng. “Lebih tenang kalau aku yang bawa.” Aira mengangguk pelan. “Biasanya kamu nggak suka disetir orang lain ya.” “Iya” jawab Dipta singkat. “…lebih gampang kontrol kalau aku yang pegang.” Aira lalu tersenyum kecil. “Kamu tuh dari dulu emang suka kontrol semuanya ya.” Dipta melirik sekilas. “Bukan semua.” “Apa aja?” tanya Aira penasaran. Dipta tidak langsung jawab, lalu setelah beberapa detik. “Yang penting.” Aira menatap

  • DIPTA   BAB 136 Yang di Sengaja

    Aira masih belum berhenti juga. Nada bicaranya santai, tapi jelas ada sengaja di sana semacam “menarik pelan” reaksi dari orang yang di sebelahnya. “Terus dulu kamu nggak pernah segini jauh jaraknya. Sekarang malah kayak takut sendiri.” Dipta akhirnya menghela napas panjang. Ia tidak kesal mendengar ucapan Aira, justru sekarang ia tau bahwa ini sudah masuk tahap “oke ini disengaja.” “Kamu sengaja ya?” Aira langsung diam sepersekian detik, lalu jawab dengan tenang. “Iya.” Dipta menoleh. “Kenapa?” Aira menatapnya sekilas, lalu kembali menatap langit-langit. “Kamu lucu kalau gini.” Dipta langsung diam. Dan diamnya Dipta justru membuat Aira semakin yakin kalau Dipta terpancing. Aira lanjut pelan, masih dengan nada ringan. “Dulu kamu nggak segini hati-hati... Kalau di kamar, kamu nggak pernah jaga jarak kayak sekarang.” Dipta mengalihkan pandangan sebentar, lalu menjawab pelan tapi jelas. “Dulu beda.” Aira menoleh. “Beda karena apa?” Hening sebentar. Dipta akhirnya menjawab juju

  • DIPTA   BAB 135 Perkembangan dan Batas

    Askara memang bukan anak yang “baru mulai belajar” seperti kebanyakan anak seusianya. Sejak usia sekitar 1,5 tahun, dia sudah terbiasa melihat huruf, angka, dan pola bahasa setiap hari. Bukan dengan cara dipaksa belajar, tapi lewat kebiasaan kecil di rumah yang tanpa sadar membentuknya. Aira sering menulis kadang di notes, kadang di buku kecil untuk urusan pekerjaannya sebagai penulis novel online. Huruf-huruf itu sering dibuat besar, sengaja, karena ada satu “pembaca kecil” yang selalu penasaran di dekatnya dan pembaca itu adalah Askara. Awalnya hanya menunjuk “Ini apa?” Lalu berubah jadi mengeja pelan. “…A… I… R… A…” Lama-lama anak itu jadi terbiasa. Sampai akhirnya bukan hanya huruf, tapi juga angka, pola, dan logika sederhana ikut masuk tanpa terasa. Sekarang, saat masuk usia playgroup, Askara sudah jauh lebih maju dibanding anak seusianya. Dia sudah bisa membaca kata-kata sederhana dengan cukup lancar, mengenali angka tanpa ragu, bahkan mulai memahami konsep dasar penjumlahan

  • DIPTA   BAB 134 Perubahan

    Sore itu, sekitar jam empat lewat sedikit, suasana rumah mulai berubah lagi. Bukan jadi sepi total tapi jelas lebih ringan. Indri Mahesa dan Hadiyasa Mahesa sudah lebih dulu pamit, disusul Arjito Rajendra dan Linda yang juga akhirnya pulang setelah obrolan panjang yang terasa seperti reuni masa lalu yang terlalu jujur untuk ukuran satu hari. Begitu mobil terakhir keluar dari halaman, rumah itu langsung terasa lebih “longgar”. Aira berdiri di dekat pintu, masih sedikit melamun, seperti otaknya belum selesai memproses semua cerita tadi. Di belakangnya, Dipta baru saja menutup pintu. “Capek?” tanya Dipta pelan. Aira menoleh, lalu menghela napas panjang. “Capek sih. Tapi lebih ke… penuh.” Dipta mengangguk kecil. “Hari ini memang terlalu banyak sejarah yang keluar sekaligus.” Dari ruang tengah, suara kecil terdengar. Askara masih sibuk sendiri, main tanpa peduli dunia orang dewasa yang barusan “rapat besar keluarga”. Aira melirik ke arah suara itu, lalu sedikit tersenyum. “Tapi aneh

  • DIPTA   BAB 133 Nostalgia Para Orang Tua

    Begitu semua sudah masuk, suasana rumah Dipta langsung berubah dari “kunjungan mendadak” jadi “piknik keluarga yang tidak direncanakan”. Dari arah dapur, terdengar suara plastik kresek dan kotak makanan diturunkan satu per satu. Indri Mahesa datang dengan dua tas besar. “Ini Bunda masakin sup, sama lauk ringan.” Belum selesai bicara, dari belakang Linda sudah menyusul sambil meletakkan beberapa kotak. “Ibu bawa makanan favorit kamu juga.” Aira yang berdiri di ruang tengah langsung diam. “Ini rumah atau acara potluck…” gumamnya pelan. Di sisi lain, Askara sudah lebih dulu “sibuk”. Dia duduk di karpet ruang keluarga, membuka satu persatu cemilan yang dibawa Indri dan Linda. “Ini buat aku semua?” Indri langsung tersenyum. “Iya, tapi jangan makan banyak-banyak dulu ya.” Linda ikut menambahkan sambil mengelus kepala Askara. “Kalau ini habis, nanti nenek bikin lagi.” Askara langsung mengangguk serius. “Aku akan evaluasi kualitasnya.” Aira hampir tersedak tawa kecil dengar i

  • DIPTA   BAB 132 Kegiatan Baru

    Perubahan kecil itu mulai kelihatan dari rutinitas harian Aira. Kalau dulu dia masih sering pulang ke rumah orang tuanya, sekarang arah pulangnya pelan-pelan bergeser. Lebih sering ke rumah Dipta . Bukan karena “sudah diumumkan ke dunia luar”, tapi karena di titik ini, itu terasa paling aman dan paling tenang untuk sementara. Awalnya Aira masih canggung. Namun lama-lama, ritme itu terbentuk sendiri. Pulang kerja, makan, istirahat, urus hal kecil rumah, tidur. Sederhana, namun tetap stabil, dan yang paling menarik justru bukan itu. Justru perubahan kecil dari Aira terhadap Askara. “Papa pinjaman.” begitu Askara menyebut Dipta dengan santai, tanpa beban, seperti nama panggilan yang sudah jadi kebiasaan. Dipta awalnya hanya diam mendengar itu. Lalu menatap Askara sebentar. “Pinjaman?” Askara mengangguk polos. “Soalnya papa asli aku belum bisa bareng aku terus.” Aira yang mendengar itu langsung terdiam sebentar. Tidak ada nada sedih yang berlebihan, hanya ada sesuatu yang pelan-pela

  • DIPTA   BAB 14 Perbedaan dan Gesekan

    Aira terbangun bahkan sebelum alarmnya berbunyi. Langit di luar jendela kamarnya masih berwarna abu-abu pucat. Cahaya pagi belum sepenuhnya masuk, tapi cukup untuk membuat bayangan lemari dan meja belajarnya terlihat jelas. Ia menatap langit-langit beberapa detik, lalu semalam kembali. Cahaya layar

  • DIPTA   BAB 12 Pertemuan dan Lebih dari Sekedar Pedas

    Jam di dinding kamar Aira menunjukkan pukul 15.12. Ia sudah membuka lemari sejak lima menit lalu, tapi belum juga mengambil keputusan.“Kenapa sih susah banget cuma mau makan?” gumamnya pelan.Tangannya menyentuh beberapa gantungan baju. Blus putih? Terlalu formal. Kaos oversized? Terlalu santai. A

  • DIPTA   BAB 9 Percakapan dan Pesan

    Beberapa hari setelah mereka bertukar nomor HP, Aira duduk di kelas kosong XI IPA 2. Di depannya, buku Biologi terbuka lebar, catatan rapi tertata di setiap halaman. Tapi matanya sesekali menatap layar ponsel, jari-jarinya memainkan ujung pena tanpa sadar. Napasnya pendek ketika ia menarik napas da

  • DIPTA   BAB 8 Persaingan & Flirty Close Call

    Hari-hari berlanjut, Aira tiba di sekolah lebih awal dari biasanya. Hari ini ada latihan OSIS untuk kegiatan lingkungan sekolah, yang ia ikuti bersama teman dekatnya Nadhira dan Lestari. Meski pagi masih terasa sejuk, hati Aira sedikit berdebar karena ia tahu kemungkinan akan bertemu Dipta di area s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status