Home / Romansa / DIPTA / BAB 3 Taruhan Dimulai

Share

BAB 3 Taruhan Dimulai

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-02-24 22:04:18

Bel pulang berbunyi nyaring, menggema sampai ke lorong-lorong gedung IPS. Siswa kelas XII IPS 1 mulai beranjak dari kursi mereka. Suara kaki kursi bergeser dan ritsleting tas yang ditarik bersahutan. Di antara keramaian itu, Dipta tetap bergerak dengan ritmenya sendiri. Ia merapikan buku ekonominya lebih dulu, menyusun catatan ke dalam map transparan dan memastikan tidak ada lembar yang terlipat. Gerakannya rapi, efisien, tanpa terburu-buru.

Beberapa siswa lain meliriknya sekilas. Siapa yang tidak mengenal Dipta Niskala Mahesa, Juara umum dan Juara kelas berturut-turut. Anak IPS yang nilainya tak pernah turun, tapi Dipta tidak pernah terlihat haus perhatian. Ia tidak banyak bicara, tidak suka nongkrong berisik di kelas. Kalau ditanya guru, jawabannya selalu tepat, ringkas, dan jarang salah. Ia berdiri, menggantungkan tas ke bahu kanan, lalu keluar kelas.

Lorong gedung IPS lebih sepi dibanding gedung IPA. Udara sore mulai terasa hangat, matahari condong ke barat. Dipta berjalan lurus tanpa menoleh, seolah sudah tahu ke mana ia harus menuju.

Tangga belakang. Tempat yang tidak terlalu ramai. Biasanya dipakai siswa untuk duduk santai sebelum pulang. Dan benar saja, ada empat orang sudah menunggunya. Angger duduk di anak tangga paling atas, satu kaki naik, satu kaki turun. Raka bersandar di dinding, tangan masuk saku. Bayu berdiri dengan posisi tegak seperti sedang memikirkan sesuatu. David memutar kunci motor di jarinya, wajahnya tampak santai tapi jelas menunggu. Mereka berhenti bicara saat melihat Dipta mendekat.

“Kita pikir kamu langsung pulang", kata Angger lebih dulu, senyum miringnya muncul.

Dipta berhenti satu anak tangga di bawah mereka. “Kalian yang ngajak", jawabnya tenang. Nada suaranya datar, tapi bukan tidak peduli. Hanya terkendali.

Bayu turun satu langkah, menyamakan tinggi badan. “Kita langsung saja.”

“Langsung apa?”, tanya Dipta.

Raka menatapnya tajam. “Murid pindahan. XI IPA 2.”

Nama itu belum disebut, tapi mereka semua tahu siapa yang dimaksud, Aira.

David menyeringai tipis. “Baru dua minggu. Tapi sudah bikin setengah gedung IPA penasaran.”

“Dan?”, Dipta mengangkat alis sedikit.

Angger tertawa pelan. “Dan kita bikin taruhan.”

Hening sesaat. Dipta tidak langsung merespon. Ia menatap wajah mereka satu per-satu, tidak ada yang bercanda.

“Taruhan apa?”, tanyanya akhirnya.

Bayu menjawab, suaranya lebih serius dibanding yang lain. “Siapa yang bisa bikin dia jadi pacarnya duluan.”

David menambahkan, “Hadiah seratus juta.”

Angin sore berembus pelan, menggerakkan sedikit rambut Dipta. Ia tidak terkejut, tidak tertarik dan tidak juga menolak. Hanya diam.

“Seratus juta dari mana?”, tanyanya.

“Kita patungan”, jawab Raka singkat.

Dipta memiringkan kepala sedikit. “Dan kalian pikir aku tertarik?”

Angger langsung menyahut, “Bukan soal uangnya.”

“Lalu?”, tanyanya lagi.

Bayu tersenyum tipis. “Soal tantangan.”

Dipta menyilangkan tangan di dada, bersandar ringan ke tembok tangga. Ekspresinya tetap tenang, tapi matanya mulai fokus.

“Kenapa aku?”, tanyanya lagi.

David tertawa kecil. “Karena kalau cuma kita, terlalu gampang. Tapi kalau kamu ikut… itu baru permainan.”

Angger menambahkan, “Kamu paling strategis.”

Raka mengangguk. “Dan kita semua tahu kamu nggak pernah kalah kalau sudah masuk sesuatu.”

Dipta tidak langsung menjawab. Ia memandang ke arah lapangan sekolah yang terlihat dari sela-sela tangga.

“Dia tipe seperti apa?”, tanyanya.

Bayu menjawab cepat, seolah sudah menyiapkan data. “Pintar. Juara kelas di sekolah lamanya, tenang nggak suka cari perhatian.”

Raka menambahkan, “Tapi ada satu titik lemah.”

Dipta menoleh sedikit.

"Biologi”, lanjut Bayu. “Nilainya bagus, tapi bukan yang paling kuat.”

Senyum tipis, hampir tak terlihat, muncul di wajah Dipta.

“Sudah observasi?” tanyanya.

“Sejak minggu lalu”, jawab Angger bangga.

“Dan belum ada yang bergerak", tambah David.

Dipta mengetuk pelan anak tangga dengan ujung sepatunya. Sekali. Dua kali. Ia tidak peduli pada uangnya, ia tidak butuh pembuktian dan ia juga tidak punya ketertarikan khusus pada murid pindahan itu. Tapi sesuatu tentang struktur permainan ini menarik. Orangnya pintar, terbiasa jadi yang terbaik dan punya satu celah kecil. Ia bisa melihat polanya.

"Kalau aku ikut”, ucapnya pelan, “kalian tidak boleh ikut campur.”

Angger langsung mengangguk. “Deal.”

“Tidak ada ganggu-ganggu”, lanjut Dipta. “Tidak ada pancingan murahan.”

Bayu tersenyum. “Kita bukan anak SMP.”

David turun satu anak tangga, mengulurkan tangan. “Jadi?”

Hening sebentar. Lalu Dipta menjabat tangan itu singkat. "Baik. Aku ikut.”

Angger hampir bersorak, tapi menahan diri. “Akhirnya.”

Raka tersenyum puas. “Permainan dimulai.”

Dipta melepaskan tantangannya. "Ini bukan permainan", katanya datar.

“Lalu?” tanya David.

“Ini soal membaca pola.”, lanjutnya.

Mereka saling pandang. Dipta melangkah turun satu anak tangga, kini berdiri sejajar dengan mereka.

“Orang yang terbiasa juara tidak suka merasa kalah”, lanjutnya. “Kalau dia lemah di biologi, jangan dekati dari sisi emosional dulu.”

“Terus?” Angger penasaran.

“Masuk dari sisi kompetensinya. Buat dia merasa tetap dihargai.”, jelas Dipta.

Bayu tersenyum tipis. “Makanya kita butuh kamu.”

Dipta memandang lurus ke depan. Ia tidak membayangkan wajah Aira, tidak membayangkan senyumnya, dan tidak membayangkan apa pun. Baginya, ini hanya strategi.

“Seratus juta”, gumam David pelan.

Dipta hanya mengangkat bahu ringan. “Uangnya ambil saja nanti.”

Keempat temannya terdiam sesaat. Bagi mereka, uang itu besar. Bagi Dipta, bukan itu poinnya.

“Langkah pertama?” tanya Raka.

Dipta menjawab tanpa ragu, “Amati.”

“Berapa lama?”, tanya Raka lagi.

“Sampai aku tahu ritmenya.”, jawab Dipta.

Angger menyeringai. “Kamu menyeramkan kalau serius.”

Dipta tidak menanggapi. Ia menuruni tangga lebih dulu, berjalan menuju parkiran. Langkahnya stabil, wajahnya kembali tanpa ekspresi. Di belakangnya, empat orang saling pandang dengan campuran kagum dan antusias. Taruhan sudah resmi di mulai.

Dan di gedung sebelah, kelas XI IPA 2 baru saja selesai praktikum biologi. Aira menutup bukunya dengan sedikit kerutan di dahi, merasa materi sel terasa lebih rumit dari yang ia duga. Tanpa tahu, seseorang baru saja memutuskan untuk mempelajarinya seperti ia mempelajari grafik ekonomi.

°

Kelas XI IPA 2 selalu lebih berisik setelah praktikum. Bau alkohol dan cairan kimia masih samar tercium dari meja laboratorium yang tadi mereka gunakan. Buku biologi terbuka di hampir setiap meja, beberapa siswa masih membahas hasil pengamatan sel bawang yang tadi mereka lihat di mikroskop. Aira duduk di bangku dekat jendela.

Cahaya sore masuk menyamping, membuat garis tipis di pipinya. Rambutnya yang diikat rendah sedikit berantakan karena tadi beberapa kali ia menyelipkannya ke belakang telinga saat fokus.

Di depannya, buku biologi terbuka penuh coretan. Ia menggigit ujung bolpoinnya pelan.

“Kenapa hasilku beda ya…”, gumamnya hampir tak terdengar.

Teman sebangkunya sudah lebih dulu menutup buku. “Ah, santai aja Ra. Nilaimu tetap bagus kok.”

Aira tersenyum tipis, tapi ia tidak puas. Bagus bukan berarti maksimal dan ia terbiasa maksimal. Tangannya kembali membalik halaman, menelusuri gambar struktur sel dengan tatapan serius. Alisnya sedikit bertaut. Ia bukan tidak mengerti hanya saja, biologi bukan ritme yang paling nyaman untuknya. Ia kuat di logika, ia kuat di pola angka dan ia kuat di analisis, tapi hafalan detail dan istilah Latin panjang membuatnya harus bekerja dua kali lebih keras.

Bel pulang kedua berbunyi, siswa mulai keluar kelas. Aira merapikan buku dengan gerakan cepat tapi tetap rapi. Ia berdiri, memasukkan buku ke dalam tas, lalu berjalan keluar bersama arus siswa lainnya. Dan dari ujung lorong gedung IPA, seseorang memperhatikannya.

Dipta berdiri tidak terlalu dekat. Bersandar ringan di dinding dekat papan pengumuman. Tangannya memegang ponsel, tapi matanya tidak benar-benar membaca layar. Ia mengamati. Cara Aira berjalan yang tidak terburu-buru, bahunya yang tegak dan tatapannya yang lurus. Tidak terlihat seperti siswa pindahan yang canggung. Menarik.

Aira berhenti sebentar di depan papan pengumuman akademik. Matanya menyapu daftar nilai ulangan harian yang baru ditempel. Ia mencari namanya lalu menemukannya. Nilainya tinggi tapi bukan yang tertinggi, ada nama lain berada satu tingkat di atasnya.

Alis Aira bergerak tipis bukan kecewa berlebihan, tapi ada sesuatu yang terusik. Ia menghela napas pelan dan saat itulah Dipta melihat ekspresi yang ia cari, ambisi. Ada sebuah ambisi disana. Bukan untuk terlihat hebat, tapi untuk tidak kalah dari dirinya sendiri.

Aira berbalik dan hampir saja menabrak seseorang.

“Oh.. maaf!”, katanya cepat.

Dipta sudah berdiri tepat di depannya. Jarak mereka tidak terlalu dekat, tapi cukup membuat Aira sedikit mendongak untuk menatap wajahnya.

“Tidak apa-apa”, jawab Dipta tenang. Suara yang dalam, terkontrol.

Aira mengangguk kecil. “Kakak kelas ya?”

Seragamnya jelas menunjukkan kelas XII, tapi ia tetap bertanya sopan.

“XII IPS 1”, jawabnya singkat.

“Oh.” Aira tersenyum ringan. “Saya Aira. XI IPA 2.”

“Aku tahu.” Jawaban itu keluar begitu saja.

Aira berkedip.

“Maksudnya… aku pernah dengar", tambah Dipta tanpa mengubah ekspresi.

Aira tertawa kecil, canggung tapi tidak terganggu. “Semoga yang didengar bukan yang aneh-aneh.”

“Katanya kamu juara kelas di sekolah lama.”, ucap Dipta.

Aira sedikit terdiam. Ia tidak menyangka itu yang akan dibahas. “Iya… kebetulan”, jawabnya merendah.

Dipta memperhatikan lagi. Cara Aira menjawab tidak sombong dan tidak juga pura-pura tidak tahu diri. Ia memang hanya terbiasa berprestasi.

“Nilai biologi kamu tadi”, ucap Dipta pelan.

Aira spontan menegang sedikit. “Kenapa?”

“Bukan yang tertinggi.” Nada itu bukan mengejek. Lebih seperti pernyataan data.

Aira menatapnya beberapa detik, mencoba membaca maksudnya.

“Iya”, jawabnya jujur. “Masih kurang teliti.”

Dipta mengangguk sekali. “Kalau struktur sel, jangan hafal bentuknya. Pahami fungsinya dulu. Nanti istilahnya ikut.”

Aira terdiam. Kalimat itu justru lebih sederhana dari cara guru menjelaskan tadi.

“Kenapa Kakak tahu?”, tanyanya refleks.

“IPS bukan berarti tidak belajar biologi.”, katanya santai, tangannya masuk kesalah satu saku celananya.

Aira sedikit tersipu. “Bukan maksudnya begitu…”

Dipta tidak tersenyum, tapi tatapannya melembut tipis. “Logika dulu. Baru detail”, lanjutnya singkat.

Angin sore berembus lagi. Beberapa siswa melewati mereka, tapi percakapan itu terasa seperti ruang kecil yang terpisah dari keramaian. Aira menatapnya dengan rasa ingin tahu yang mulai tumbuh.

“Kalau Kakak masuk IPA, pasti bisa juara juga ya?”, tanyanya tanpa sadar.

Dipta tidak langsung menjawab. Nilai IPA dan IPS-nya memang selalu seimbang. Ia bisa memilih jalur mana saja.

“Aku pilih yang aku mau”, jawabnya akhirnya.

Jawaban yang tidak membanggakan diri, tapi juga tidak menyangkal kemampuan.

Aira mengangguk pelan. Ia tidak tahu bahwa laki-laki di depannya sedang menyusun pola. Bahwa kalimat tadi bukan spontanitas biasa, bahwa bahkan cara ia bereaksi saat disebut soal biologi sudah dicatat dengan rapi.

“Aku pulang dulu,” kata Aira akhirnya. “Makasih… sarannya.”

Dipta mengangguk. “Sama-sama.”

Aira melangkah pergi. Dan untuk pertama kalinya, Dipta benar-benar memperhatikan punggungnya menjauh. Bukan sebagai target taruhan, tapi sebagai teka-teki. Ia mengeluarkan ponsel, membuka grup kecil berisi empat nama.

Angger: Gimana?

Dipta mengetik singkat. 'Observasi selesai.'

Ia masuk lewat akademik. Beberapa detik kemudian, balasan masuk bertubi-tubi.

Raka: Secepat itu?

Bayu: Jangan bilang udah mulai gerak.

David: Gila, baru hari pertama.

Dipta mengunci layar ponsel, ekspresinya tetap tenang. Tapi jauh di dalam, ada sesuatu yang tidak ia perhitungkan tadi. Tatapan Aira saat ia merasa tertantang, itu bukan ekspresi orang yang mudah ditaklukkan. Dan untuk pertama kalinya sejak taruhan dimulai, permainan ini terasa menarik baginya.

°

Perpustakaan sekolah selalu lebih tenang menjelang sore. Cahaya matahari masuk melalui jendela tinggi, jatuh membentuk garis-garis panjang di lantai keramik. Suara halaman buku dibalik terdengar lebih jelas dibanding suara langkah kaki.

Aira duduk di meja paling ujung, dekat rak biologi. Di depannya, buku referensi tambahan terbuka lebar. Ia mencatat dengan serius, dahinya sedikit berkerut. Tangannya bergerak cepat, tapi sesekali berhenti, seolah sedang menata ulang pemahamannya.

“Fungsi dulu, baru istilah…”, gumamnya. Ia mengulang kalimat itu pelan. Kalimat dari kakak kelas IPS yang entah kenapa masih terngiang.

Ia mencoba cara itu. Bukan menghafal bagian-bagian sel tapi memahami perannya. Dan untuk pertama kalinya sejak materi itu dimulai, semuanya terasa lebih masuk akal. Aira tersenyum kecil tanpa sadar.

Di sisi lain ruangan, Dipta berdiri di balik rak buku ekonomi. Ia tidak langsung mendeka, ia mengamati dulu. Cara Aira duduk tegak, cara ia menggigit bibir bawah saat berpikir dan cara ia memutar bolpoin ketika menemukan jawaban. Ia terlihat berbeda ketika fokus, jadi terlihat lebih hidup. Dipta berjalan pelan mendekat, langkahnya nyaris tak bersuara.

Ia berhenti di sisi meja. “Kamu pakai cara kemarin?”

Aira sedikit terkejut, tapi tidak sampai tersentak. “Oh.. Kak Dipta.”

Ia refleks menutup bukunya sedikit, lalu sadar dan membukanya lagi. “Iya. Lebih gampang ternyata,” katanya jujur.

Dipta menarik kursi di depannya tanpa bertanya lebih dulu kemudian duduk. Gerakannya tenang, tidak terburu-buru seolah itu hal yang wajar.

“Bagian mana yang masih membingungkan?”, tanyanya.

Aira menunjukkan satu diagram. “Retikulum endoplasma kasar dan halus. Aku suka ketuker.”

Dipta melihat sebentar. “Bayangkan pabrik”, katanya.

Aira mengangkat wajahnya sedikit.

“Yang kasar itu ada ‘pekerja’-nya. Ribosom. Jadi produksi protein di situ.” Ia mengambil bolpoin Aira tanpa sadar, lalu menggambar sketsa kecil di pinggir buku. “Yang halus tidak punya pekerja. Fokusnya lebih ke lipid dan detoksifikasi.”

Aira memperhatikan dengan sangat serius. Cara Dipta menjelaskan tidak berbelit, tidak seperti guru yang harus mengikuti buku teks. Lebih seperti seseorang yang memahami konsepnya duluan.

“Oh…” Aira mengangguk pelan. “Jadi logikanya fungsi produksi dulu, baru detailnya.”

“Tepat.”, katanya singkat.

Mata mereka sempat bertemu dan ada sepersekian detik yang terasa lebih lama dari seharusnya.

Aira yang lebih dulu memalingkan wajah. “Terima kasih,” katanya pelan.

Dipta menyandarkan punggung ke kursi. Ia seharusnya merasa ini berjalan sesuai rencana. Masuk dari akademik. Bangun ketergantungan intelektual dan buat dia nyaman.

Strategi.

Tapi saat melihat Aira tersenyum kecil karena berhasil memahami sesuatu, ada rasa aneh yang menyelip. Bukan puas karena menang, bukan bangga karena berhasil. Lebih seperti ingin melihat ekspresi itu lagi.

“Aku bisa bantu kalau kamu mau", ucapnya.

Aira mengerjap. “Serius?”

“Selama tidak bentrok jadwal.”, katanya lagi.

Aira terlihat ragu sebentar. Lalu bertanya lagi, “Kakak IPS… nggak sibuk ekonomi dan sosiologi?”

Dipta tersenyum tipis, kali ini benar-benar terlihat. “Nilai IPA-ku tidak pernah di bawah sembilan.”

Aira terdiam. “Kok bisa masuk IPS?”, tanyanya polos.

“Aku pilih.” Jawaban itu lagi. Bukan karena tidak mampu tapi karena mau.

Aira menatapnya dengan rasa hormat yang mulai tumbuh dan Dipta melihatnya, menghitungnya dan menyimpannya.

Di sisi lain sekolah, di parkiran. Angger bersandar di motor sambil melihat ke arah gedung perpustakaan.

“Dia di dalam,” gumamnya.

Raka mendecak. “Baru tiga hari.”

Bayu menyipitkan mata. “Cepat banget.”

David hanya tertawa kecil. “Udah kubilang. Kalau dia serius, beda.”

Mereka melihat siluet dua orang yang duduk berhadapan dari balik kaca perpustakaan. Aira tampak fokus. Dipta tampak tenang.

“Menurut kalian dia beneran cuma main?” tanya Bayu tiba-tiba.

Angger terdiam sebentar. “Dipta nggak pernah setengah-setengah.”

Dan itu justru yang membuat permainan ini mulai terasa berbeda.

Kembali ke dalam perpustakaan. Aira menutup bukunya setelah hampir satu jam.

“Aku nggak sadar udah selama ini.”, kata Aira sambil melihat jarum jam di pergelangan tangannya.

“Kamu cepat tangkap”, kata Dipta. Pujian itu keluar datar, tapi tulus.

Aira tersenyum kecil. “Aku cuma nggak mau kalah sama nilai sendiri.”

Dipta memiringkan kepala sedikit. “Kamu selalu harus jadi paling atas?”

Aira berpikir sebentar. Lalu, “Bukan paling atas", jawabnya pelan. “Tapi nggak mau mengecewakan diri sendiri.”

Kalimat itu membuat Dipta diam, ada sesuatu dalam nada Aira yang berbeda. Tidak sombong dan tidak ambisius berlebihan. Hanya standar yang ia pasang untuk dirinya sendiri. Dan tanpa sadar, Dipta mulai ingin menjadi bagian dari standar itu. Bukan untuk menang taruhan tapi untuk memastikan ia tetap berdiri di sana.

“Aku antar sampai depan?”, tawarnya.

Aira menggeleng pelan. “Nggak usah, Kak. Aku bisa sendiri.”

Jawaban itu terdengar sopan dan mandiri. Tidak bergantung.

Dipta mengangguk. Ia berdiri lebih dulu, menarik kursinya dengan tenang. “Aira.”, panggilnya.

Aira menoleh.

“Besok ulangan?”, tanyanya.

“Iya.”, jawab Aira singkat.

“Dapat di atas sembilan puluh lima”. Itu bukan pertanyaan maupun juga perintah. Lebih seperti keyakinan yang ditanamkan.

Aira tersenyum tipis. “Doakan saja.”

“Aku tidak perlu mendoakan sesuatu yang sudah jelas,” jawabnya.

Dan untuk pertama kalinya, pipi Aira sedikit memerah. Saat Dipta berjalan keluar perpustakaan, ponselnya bergetar.

Angger: Udah lengket aja.

Raka: Berapa lama lagi?

David: Seratus juta aman ya?

Dipta mengetik singkat. 'Ini baru awal.'

Ia menatap kembali ke arah jendela perpustakaan.

Aira masih di dalam, merapikan buku. Sejak pertama kali taruhan dimulai, ia tidak lagi melihat angka, tidak lagi melihat hadiah. Ia melihat seseorang yang ingin ia pahami lebih dalam. Dan obsesi kecil itu, baru saja tumbuh.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DIPTA   BAB 55 Taruhan yang Terlewat dan yang Tak Bisa Ditahan Lagi

    Sore itu, sebuah kafe tidak jauh dari pusat kota cukup ramai. Di salah satu sudut, empat orang sudah duduk santai sejak tadi. Angger bersandar di kursi, kakinya selonjoran, Bayu sibuk dengan minumannya dan Raka lebih banyak diam, memainkan sendok di gelasnya. Sementara David tampak santai, ponselnya di tangan. “Mana sih orangnya?”, keluh Bayu. “Ngaret mulu.” “Biasa”, jawab Angger santai. “Orang sibuk.” “Gaya”, gumam Bayu. Belum sempat mereka lanjut seseorang datang. Dipta, langkahnya tenang seperti biasa, ekspresinya datar. Ia langsung duduk tanpa banyak basa-basi. “Lama”, komentar Bayu. “Macet”, jawab Dipta singkat. Padahal tidak, namun tidak ada yang mempermasalahkan. Beberapa menit awal diisi obrolan ringan, tentang sekolah, tentang kelulusan dan tentang rencana setelah lulus. Sampai akhirnya topik itu muncul. “Eh”, ucap David tiba-tiba, matanya beralih ke Dipta. “Ngomong-ngomong…” Dipta melirik sekilas. “Apa?” David menyandarkan tubuhnya. “Udah lewat, ya?” “A

  • DIPTA   BAB 54 Yang Takut dan yang Kembali Mendekat

    Pintu kamar tertutup. Begitu kunci terpasang, Aira langsung bersandar di baliknya. Tubuhnya perlahan merosot ke bawah, tangannya menutup mulutnya sendiri, menahan suara yang sejak tadi ia paksa untuk tidak keluar dan saat itu juga semuanya pecah. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi, diam tanpa suara keras. Tubuhnya bergetar hebat seolah seluruh beban yang selama ini ia tahan akhirnya menemukan celah untuk keluar. Aira menunduk, dahinya hampir menyentuh lututnya. Tangannya masih menutup mulutnya, berusaha menahan agar tangisnya tidak terdengar keluar kamar. Ia tidak ingin ibunya tahu, tidak ingin siapa pun tahu, justru karena itulah rasanya semakin sesak. Napasnya tidak teratur, dadanya terasa sakit dan untuk beberapa saat, ia hanya bisa menangis seperti itu, sendirian. Entah berapa lama, tangisnya perlahan mereda dan hanya tersisa sesekali isakan kecil yang tertahan. Aira mengusap wajahnya kasar, mencoba menghapus sisa-sisa air mata. Ia menarik napas panjang beberapa kali la

  • DIPTA   BAB 53 Yang Tak Biasa

    Beberapa hari setelah itu, Aira mulai terlihat lebih “normal”, setidaknya di depan orang lain. Ia kembali masuk sekolah seperti biasa. Wajahnya memang masih sedikit pucat, tapi ia sudah tidak lagi terlihat limbung seperti sebelumnya. Ia lebih banyak diam, namun tetap menjawab saat diajak bicara. Di rumah pun sama, ia mulai makan meski hanya sedikit, mulai keluar kamar meski tidak lama. Dan setiap kali ibunya bertanya, Aira selalu menjawab dengan kalimat yang sama. “Aku udah mendingan, Bu.” Awalnya, ibunya masih memperhatikan dengan seksama. Namun hari demi hari, saat melihat Aira tetap bisa beraktivitas, kekhawatiran itu perlahan berkurang. Ayahnya juga berpikir hal yang sama, mungkin memang hanya kelelahan karena sekolah. Mereka mulai percaya dan Aira membiarkan itu. Malam hari, lampu kamar Aira menyala, musik terdengar cukup keras dari dalam. Lagu yang biasanya ia putar pelan, kali ini volumenya dinaikkan lebih tinggi dari biasanya. Di dalam kamar mandi, Aira membungkuk di depan

  • DIPTA   BAB 52 Sesuatu yang Berbeda

    Di dalam UKS, Aira masih duduk lemah di tepi ranjang. Kepalanya terasa berat, pandangannya kadang masih sedikit berkunang. Perawat sudah beberapa kali menyuruhnya berbaring lagi, tapi Aira bersikeras ingin duduk. “Pusingnya masih?”, tanya salah satu guru yang sejak tadi mendampinginya. Aira menggeleng pelan. “Udah mendingan, Bu…” Namun wajahnya yang pucat justru berkata sebaliknya. Guru itu menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas pelan. “Sepertinya kamu nggak bisa lanjut pelajaran hari ini. Ibu nggak mau kamu pingsan lagi di kelas.” Aira ingin menolak. Ia tidak ingin merepotkan siapa pun. Tapi bahkan untuk sekadar berdiri saja, tubuhnya masih terasa ringan dan tidak stabil. “Teman kamu ada yang bisa antar pulang?”, tanya guru itu lagi. Aira sempat terdiam. Ia tidak tahu harus meminta tolong pada siapa. Di luar UKS, Farhan yang sejak tadi berdiri agak menjauh akhirnya melangkah mendekat. “Saya bisa, Bu. Saya bawa mobil.” Guru itu langsung mengangguk. “Ya sudah,

  • DIPTA   BAB 51 Semakin Menjauh

    Beberapa hari sebelum ujian akhir sekolah dimulai, Dipta semakin jarang punya waktu. Jadwalnya penuh dari pagi sampai sore di sekolah untuk tambahan belajar dan try out, malamnya di rumah atau di apartemen dengan buku-buku dan materi ujian. Karena itu, saat suatu sore Dipta tiba-tiba berkata, “Besok malam ke apartemen. ” Aira langsung menoleh. “Buat apa?” Dipta menatapnya sebentar. “Belajar... habis ini aku bakal sibuk banget. Mungkin itu terakhir kali aku bisa ngajarin kamu sebelum ujian.” Kalimat itu sederhana, namun cukup membuat Aira mengangguk tanpa banyak berpikir. Bagaimanapun, akhir-akhir ini ia selalu merindukan saat-saat ketika Dipta duduk di sampingnya, menjelaskan pelajaran dengan nada datar dan tatapan serius seperti dulu. Malam berikutnya, Aira datang ke apartemen Dipta. Seperti biasa, awalnya memang benar-benar belajar. Meja di ruang makan penuh dengan buku, catatan, dan laptop. Dipta masih mengajari seperti biasa, masih sabar, masih sesekali menyindir Aira k

  • DIPTA   BAB 50 Perubahan dan Ketergantungan

    Libur panjang yang awalnya Aira kira akan terasa menyenangkan, justru berubah menjadi sesuatu yang membuatnya semakin tidak tenang. Hari pertama setelah pembagian rapor, Dipta masih seperti biasa. Masih sempat mengirim pesan pagi, masih sempat bertanya Aira sedang apa, bahkan malamnya masih menelepon sebentar, meski tidak lama. Setelah itu, semuanya mulai berubah. Pesan Aira yang biasanya dibalas dalam hitungan menit, sekarang bisa berjam-jam. Kadang baru dibalas sore, padahal dikirim sejak pagi, kadang bahkan malam dan jawaban Dipta selalu singkat. “Aku lagi sibuk.” “Di luar.” “Nanti ya.” “Capek.” Tidak ada penjelasan lebih dari itu. Awalnya Aira berusaha menganggap biasa, mungkin Dipta memang sedang sibuk, mungkin ada urusan keluarga atau mungkin karena libur, jadi dia lebih banyak pergi ke luar rumah. Namun semakin lama, semakin aneh, bahkan ada momen saat akhirnya membalas, Dipta tidak lagi seperti biasanya, tidak ada pesan panjang, tidak ada godaan menyebalkan, tidak

  • DIPTA   BAB 38 Rania Yang Tak Aman dan Sebuah Fakta

    Koridor sekolah masih ramai oleh siswa yang baru keluar kelas.Rania berjalan bersama dua temannya, namun langkahnya melambat ketika beberapa siswa dari kelas lain lewat di dekat mereka. Suara mereka tidak terlalu pelan, justru cukup jelas untuk terdengar. “Eh… itu Rania, kan?”, ucap siswa yang me

  • DIPTA   BAB 10 Celah Yang Terlihat

    Pagi itu koridor sekolah lebih ramai dari biasanya. Anak-anak baru selesai upacara dan bergerak ke kelas masing-masing. Suara sepatu beradu dengan lantai, tawa kecil terdengar di beberapa sudut. Aira berjalan bersama Nadhira dan Lestari. Tasnya digendong satu sisi, tangannya memegang buku yang belu

  • DIPTA   BAB 9 Percakapan dan Pesan

    Beberapa hari setelah mereka bertukar nomor HP, Aira duduk di kelas kosong XI IPA 2. Di depannya, buku Biologi terbuka lebar, catatan rapi tertata di setiap halaman. Tapi matanya sesekali menatap layar ponsel, jari-jarinya memainkan ujung pena tanpa sadar. Napasnya pendek ketika ia menarik napas da

  • DIPTA   BAB 8 Persaingan & Flirty Close Call

    Hari-hari berlanjut, Aira tiba di sekolah lebih awal dari biasanya. Hari ini ada latihan OSIS untuk kegiatan lingkungan sekolah, yang ia ikuti bersama teman dekatnya Nadhira dan Lestari. Meski pagi masih terasa sejuk, hati Aira sedikit berdebar karena ia tahu kemungkinan akan bertemu Dipta di area s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status