LOGINBel pulang berbunyi nyaring, menggema sampai ke lorong-lorong gedung IPS. Siswa kelas XII IPS 1 mulai beranjak dari kursi mereka. Suara kaki kursi bergeser dan ritsleting tas yang ditarik bersahutan. Di antara keramaian itu, Dipta tetap bergerak dengan ritmenya sendiri. Ia merapikan buku ekonominya lebih dulu, menyusun catatan ke dalam map transparan dan memastikan tidak ada lembar yang terlipat. Gerakannya rapi, efisien, tanpa terburu-buru.
Beberapa siswa lain meliriknya sekilas. Siapa yang tidak mengenal Dipta Niskala Mahesa, Juara umum dan Juara kelas berturut-turut. Anak IPS yang nilainya tak pernah turun, tapi Dipta tidak pernah terlihat haus perhatian. Ia tidak banyak bicara, tidak suka nongkrong berisik di kelas. Kalau ditanya guru, jawabannya selalu tepat, ringkas, dan jarang salah. Ia berdiri, menggantungkan tas ke bahu kanan, lalu keluar kelas. Lorong gedung IPS lebih sepi dibanding gedung IPA. Udara sore mulai terasa hangat, matahari condong ke barat. Dipta berjalan lurus tanpa menoleh, seolah sudah tahu ke mana ia harus menuju. Tangga belakang. Tempat yang tidak terlalu ramai. Biasanya dipakai siswa untuk duduk santai sebelum pulang. Dan benar saja, ada empat orang sudah menunggunya. Angger duduk di anak tangga paling atas, satu kaki naik, satu kaki turun. Raka bersandar di dinding, tangan masuk saku. Bayu berdiri dengan posisi tegak seperti sedang memikirkan sesuatu. David memutar kunci motor di jarinya, wajahnya tampak santai tapi jelas menunggu. Mereka berhenti bicara saat melihat Dipta mendekat. “Kita pikir kamu langsung pulang", kata Angger lebih dulu, senyum miringnya muncul. Dipta berhenti satu anak tangga di bawah mereka. “Kalian yang ngajak", jawabnya tenang. Nada suaranya datar, tapi bukan tidak peduli. Hanya terkendali. Bayu turun satu langkah, menyamakan tinggi badan. “Kita langsung saja.” “Langsung apa?”, tanya Dipta. Raka menatapnya tajam. “Murid pindahan. XI IPA 2.” Nama itu belum disebut, tapi mereka semua tahu siapa yang dimaksud, Aira. David menyeringai tipis. “Baru dua minggu. Tapi sudah bikin setengah gedung IPA penasaran.” “Dan?”, Dipta mengangkat alis sedikit. Angger tertawa pelan. “Dan kita bikin taruhan.” Hening sesaat. Dipta tidak langsung merespon. Ia menatap wajah mereka satu per-satu, tidak ada yang bercanda. “Taruhan apa?”, tanyanya akhirnya. Bayu menjawab, suaranya lebih serius dibanding yang lain. “Siapa yang bisa bikin dia jadi pacarnya duluan.” David menambahkan, “Hadiah seratus juta.” Angin sore berembus pelan, menggerakkan sedikit rambut Dipta. Ia tidak terkejut, tidak tertarik dan tidak juga menolak. Hanya diam. “Seratus juta dari mana?”, tanyanya. “Kita patungan”, jawab Raka singkat. Dipta memiringkan kepala sedikit. “Dan kalian pikir aku tertarik?” Angger langsung menyahut, “Bukan soal uangnya.” “Lalu?”, tanyanya lagi. Bayu tersenyum tipis. “Soal tantangan.” Dipta menyilangkan tangan di dada, bersandar ringan ke tembok tangga. Ekspresinya tetap tenang, tapi matanya mulai fokus. “Kenapa aku?”, tanyanya lagi. David tertawa kecil. “Karena kalau cuma kita, terlalu gampang. Tapi kalau kamu ikut… itu baru permainan.” Angger menambahkan, “Kamu paling strategis.” Raka mengangguk. “Dan kita semua tahu kamu nggak pernah kalah kalau sudah masuk sesuatu.” Dipta tidak langsung menjawab. Ia memandang ke arah lapangan sekolah yang terlihat dari sela-sela tangga. “Dia tipe seperti apa?”, tanyanya. Bayu menjawab cepat, seolah sudah menyiapkan data. “Pintar. Juara kelas di sekolah lamanya, tenang nggak suka cari perhatian.” Raka menambahkan, “Tapi ada satu titik lemah.” Dipta menoleh sedikit. "Biologi”, lanjut Bayu. “Nilainya bagus, tapi bukan yang paling kuat.” Senyum tipis, hampir tak terlihat, muncul di wajah Dipta. “Sudah observasi?” tanyanya. “Sejak minggu lalu”, jawab Angger bangga. “Dan belum ada yang bergerak", tambah David. Dipta mengetuk pelan anak tangga dengan ujung sepatunya. Sekali. Dua kali. Ia tidak peduli pada uangnya, ia tidak butuh pembuktian dan ia juga tidak punya ketertarikan khusus pada murid pindahan itu. Tapi sesuatu tentang struktur permainan ini menarik. Orangnya pintar, terbiasa jadi yang terbaik dan punya satu celah kecil. Ia bisa melihat polanya. "Kalau aku ikut”, ucapnya pelan, “kalian tidak boleh ikut campur.” Angger langsung mengangguk. “Deal.” “Tidak ada ganggu-ganggu”, lanjut Dipta. “Tidak ada pancingan murahan.” Bayu tersenyum. “Kita bukan anak SMP.” David turun satu anak tangga, mengulurkan tangan. “Jadi?” Hening sebentar. Lalu Dipta menjabat tangan itu singkat. "Baik. Aku ikut.” Angger hampir bersorak, tapi menahan diri. “Akhirnya.” Raka tersenyum puas. “Permainan dimulai.” Dipta melepaskan tantangannya. "Ini bukan permainan", katanya datar. “Lalu?” tanya David. “Ini soal membaca pola.”, lanjutnya. Mereka saling pandang. Dipta melangkah turun satu anak tangga, kini berdiri sejajar dengan mereka. “Orang yang terbiasa juara tidak suka merasa kalah”, lanjutnya. “Kalau dia lemah di biologi, jangan dekati dari sisi emosional dulu.” “Terus?” Angger penasaran. “Masuk dari sisi kompetensinya. Buat dia merasa tetap dihargai.”, jelas Dipta. Bayu tersenyum tipis. “Makanya kita butuh kamu.” Dipta memandang lurus ke depan. Ia tidak membayangkan wajah Aira, tidak membayangkan senyumnya, dan tidak membayangkan apa pun. Baginya, ini hanya strategi. “Seratus juta”, gumam David pelan. Dipta hanya mengangkat bahu ringan. “Uangnya ambil saja nanti.” Keempat temannya terdiam sesaat. Bagi mereka, uang itu besar. Bagi Dipta, bukan itu poinnya. “Langkah pertama?” tanya Raka. Dipta menjawab tanpa ragu, “Amati.” “Berapa lama?”, tanya Raka lagi. “Sampai aku tahu ritmenya.”, jawab Dipta. Angger menyeringai. “Kamu menyeramkan kalau serius.” Dipta tidak menanggapi. Ia menuruni tangga lebih dulu, berjalan menuju parkiran. Langkahnya stabil, wajahnya kembali tanpa ekspresi. Di belakangnya, empat orang saling pandang dengan campuran kagum dan antusias. Taruhan sudah resmi di mulai. Dan di gedung sebelah, kelas XI IPA 2 baru saja selesai praktikum biologi. Aira menutup bukunya dengan sedikit kerutan di dahi, merasa materi sel terasa lebih rumit dari yang ia duga. Tanpa tahu, seseorang baru saja memutuskan untuk mempelajarinya seperti ia mempelajari grafik ekonomi. ° Kelas XI IPA 2 selalu lebih berisik setelah praktikum. Bau alkohol dan cairan kimia masih samar tercium dari meja laboratorium yang tadi mereka gunakan. Buku biologi terbuka di hampir setiap meja, beberapa siswa masih membahas hasil pengamatan sel bawang yang tadi mereka lihat di mikroskop. Aira duduk di bangku dekat jendela. Cahaya sore masuk menyamping, membuat garis tipis di pipinya. Rambutnya yang diikat rendah sedikit berantakan karena tadi beberapa kali ia menyelipkannya ke belakang telinga saat fokus. Di depannya, buku biologi terbuka penuh coretan. Ia menggigit ujung bolpoinnya pelan. “Kenapa hasilku beda ya…”, gumamnya hampir tak terdengar. Teman sebangkunya sudah lebih dulu menutup buku. “Ah, santai aja Ra. Nilaimu tetap bagus kok.” Aira tersenyum tipis, tapi ia tidak puas. Bagus bukan berarti maksimal dan ia terbiasa maksimal. Tangannya kembali membalik halaman, menelusuri gambar struktur sel dengan tatapan serius. Alisnya sedikit bertaut. Ia bukan tidak mengerti hanya saja, biologi bukan ritme yang paling nyaman untuknya. Ia kuat di logika, ia kuat di pola angka dan ia kuat di analisis, tapi hafalan detail dan istilah Latin panjang membuatnya harus bekerja dua kali lebih keras. Bel pulang kedua berbunyi, siswa mulai keluar kelas. Aira merapikan buku dengan gerakan cepat tapi tetap rapi. Ia berdiri, memasukkan buku ke dalam tas, lalu berjalan keluar bersama arus siswa lainnya. Dan dari ujung lorong gedung IPA, seseorang memperhatikannya. Dipta berdiri tidak terlalu dekat. Bersandar ringan di dinding dekat papan pengumuman. Tangannya memegang ponsel, tapi matanya tidak benar-benar membaca layar. Ia mengamati. Cara Aira berjalan yang tidak terburu-buru, bahunya yang tegak dan tatapannya yang lurus. Tidak terlihat seperti siswa pindahan yang canggung. Menarik. Aira berhenti sebentar di depan papan pengumuman akademik. Matanya menyapu daftar nilai ulangan harian yang baru ditempel. Ia mencari namanya lalu menemukannya. Nilainya tinggi tapi bukan yang tertinggi, ada nama lain berada satu tingkat di atasnya. Alis Aira bergerak tipis bukan kecewa berlebihan, tapi ada sesuatu yang terusik. Ia menghela napas pelan dan saat itulah Dipta melihat ekspresi yang ia cari, ambisi. Ada sebuah ambisi disana. Bukan untuk terlihat hebat, tapi untuk tidak kalah dari dirinya sendiri. Aira berbalik dan hampir saja menabrak seseorang. “Oh.. maaf!”, katanya cepat. Dipta sudah berdiri tepat di depannya. Jarak mereka tidak terlalu dekat, tapi cukup membuat Aira sedikit mendongak untuk menatap wajahnya. “Tidak apa-apa”, jawab Dipta tenang. Suara yang dalam, terkontrol. Aira mengangguk kecil. “Kakak kelas ya?” Seragamnya jelas menunjukkan kelas XII, tapi ia tetap bertanya sopan. “XII IPS 1”, jawabnya singkat. “Oh.” Aira tersenyum ringan. “Saya Aira. XI IPA 2.” “Aku tahu.” Jawaban itu keluar begitu saja. Aira berkedip. “Maksudnya… aku pernah dengar", tambah Dipta tanpa mengubah ekspresi. Aira tertawa kecil, canggung tapi tidak terganggu. “Semoga yang didengar bukan yang aneh-aneh.” “Katanya kamu juara kelas di sekolah lama.”, ucap Dipta. Aira sedikit terdiam. Ia tidak menyangka itu yang akan dibahas. “Iya… kebetulan”, jawabnya merendah. Dipta memperhatikan lagi. Cara Aira menjawab tidak sombong dan tidak juga pura-pura tidak tahu diri. Ia memang hanya terbiasa berprestasi. “Nilai biologi kamu tadi”, ucap Dipta pelan. Aira spontan menegang sedikit. “Kenapa?” “Bukan yang tertinggi.” Nada itu bukan mengejek. Lebih seperti pernyataan data. Aira menatapnya beberapa detik, mencoba membaca maksudnya. “Iya”, jawabnya jujur. “Masih kurang teliti.” Dipta mengangguk sekali. “Kalau struktur sel, jangan hafal bentuknya. Pahami fungsinya dulu. Nanti istilahnya ikut.” Aira terdiam. Kalimat itu justru lebih sederhana dari cara guru menjelaskan tadi. “Kenapa Kakak tahu?”, tanyanya refleks. “IPS bukan berarti tidak belajar biologi.”, katanya santai, tangannya masuk kesalah satu saku celananya. Aira sedikit tersipu. “Bukan maksudnya begitu…” Dipta tidak tersenyum, tapi tatapannya melembut tipis. “Logika dulu. Baru detail”, lanjutnya singkat. Angin sore berembus lagi. Beberapa siswa melewati mereka, tapi percakapan itu terasa seperti ruang kecil yang terpisah dari keramaian. Aira menatapnya dengan rasa ingin tahu yang mulai tumbuh. “Kalau Kakak masuk IPA, pasti bisa juara juga ya?”, tanyanya tanpa sadar. Dipta tidak langsung menjawab. Nilai IPA dan IPS-nya memang selalu seimbang. Ia bisa memilih jalur mana saja. “Aku pilih yang aku mau”, jawabnya akhirnya. Jawaban yang tidak membanggakan diri, tapi juga tidak menyangkal kemampuan. Aira mengangguk pelan. Ia tidak tahu bahwa laki-laki di depannya sedang menyusun pola. Bahwa kalimat tadi bukan spontanitas biasa, bahwa bahkan cara ia bereaksi saat disebut soal biologi sudah dicatat dengan rapi. “Aku pulang dulu,” kata Aira akhirnya. “Makasih… sarannya.” Dipta mengangguk. “Sama-sama.” Aira melangkah pergi. Dan untuk pertama kalinya, Dipta benar-benar memperhatikan punggungnya menjauh. Bukan sebagai target taruhan, tapi sebagai teka-teki. Ia mengeluarkan ponsel, membuka grup kecil berisi empat nama. Angger: Gimana? Dipta mengetik singkat. 'Observasi selesai.' Ia masuk lewat akademik. Beberapa detik kemudian, balasan masuk bertubi-tubi. Raka: Secepat itu? Bayu: Jangan bilang udah mulai gerak. David: Gila, baru hari pertama. Dipta mengunci layar ponsel, ekspresinya tetap tenang. Tapi jauh di dalam, ada sesuatu yang tidak ia perhitungkan tadi. Tatapan Aira saat ia merasa tertantang, itu bukan ekspresi orang yang mudah ditaklukkan. Dan untuk pertama kalinya sejak taruhan dimulai, permainan ini terasa menarik baginya. ° Perpustakaan sekolah selalu lebih tenang menjelang sore. Cahaya matahari masuk melalui jendela tinggi, jatuh membentuk garis-garis panjang di lantai keramik. Suara halaman buku dibalik terdengar lebih jelas dibanding suara langkah kaki. Aira duduk di meja paling ujung, dekat rak biologi. Di depannya, buku referensi tambahan terbuka lebar. Ia mencatat dengan serius, dahinya sedikit berkerut. Tangannya bergerak cepat, tapi sesekali berhenti, seolah sedang menata ulang pemahamannya. “Fungsi dulu, baru istilah…”, gumamnya. Ia mengulang kalimat itu pelan. Kalimat dari kakak kelas IPS yang entah kenapa masih terngiang. Ia mencoba cara itu. Bukan menghafal bagian-bagian sel tapi memahami perannya. Dan untuk pertama kalinya sejak materi itu dimulai, semuanya terasa lebih masuk akal. Aira tersenyum kecil tanpa sadar. Di sisi lain ruangan, Dipta berdiri di balik rak buku ekonomi. Ia tidak langsung mendeka, ia mengamati dulu. Cara Aira duduk tegak, cara ia menggigit bibir bawah saat berpikir dan cara ia memutar bolpoin ketika menemukan jawaban. Ia terlihat berbeda ketika fokus, jadi terlihat lebih hidup. Dipta berjalan pelan mendekat, langkahnya nyaris tak bersuara. Ia berhenti di sisi meja. “Kamu pakai cara kemarin?” Aira sedikit terkejut, tapi tidak sampai tersentak. “Oh.. Kak Dipta.” Ia refleks menutup bukunya sedikit, lalu sadar dan membukanya lagi. “Iya. Lebih gampang ternyata,” katanya jujur. Dipta menarik kursi di depannya tanpa bertanya lebih dulu kemudian duduk. Gerakannya tenang, tidak terburu-buru seolah itu hal yang wajar. “Bagian mana yang masih membingungkan?”, tanyanya. Aira menunjukkan satu diagram. “Retikulum endoplasma kasar dan halus. Aku suka ketuker.” Dipta melihat sebentar. “Bayangkan pabrik”, katanya. Aira mengangkat wajahnya sedikit. “Yang kasar itu ada ‘pekerja’-nya. Ribosom. Jadi produksi protein di situ.” Ia mengambil bolpoin Aira tanpa sadar, lalu menggambar sketsa kecil di pinggir buku. “Yang halus tidak punya pekerja. Fokusnya lebih ke lipid dan detoksifikasi.” Aira memperhatikan dengan sangat serius. Cara Dipta menjelaskan tidak berbelit, tidak seperti guru yang harus mengikuti buku teks. Lebih seperti seseorang yang memahami konsepnya duluan. “Oh…” Aira mengangguk pelan. “Jadi logikanya fungsi produksi dulu, baru detailnya.” “Tepat.”, katanya singkat. Mata mereka sempat bertemu dan ada sepersekian detik yang terasa lebih lama dari seharusnya. Aira yang lebih dulu memalingkan wajah. “Terima kasih,” katanya pelan. Dipta menyandarkan punggung ke kursi. Ia seharusnya merasa ini berjalan sesuai rencana. Masuk dari akademik. Bangun ketergantungan intelektual dan buat dia nyaman. Strategi. Tapi saat melihat Aira tersenyum kecil karena berhasil memahami sesuatu, ada rasa aneh yang menyelip. Bukan puas karena menang, bukan bangga karena berhasil. Lebih seperti ingin melihat ekspresi itu lagi. “Aku bisa bantu kalau kamu mau", ucapnya. Aira mengerjap. “Serius?” “Selama tidak bentrok jadwal.”, katanya lagi. Aira terlihat ragu sebentar. Lalu bertanya lagi, “Kakak IPS… nggak sibuk ekonomi dan sosiologi?” Dipta tersenyum tipis, kali ini benar-benar terlihat. “Nilai IPA-ku tidak pernah di bawah sembilan.” Aira terdiam. “Kok bisa masuk IPS?”, tanyanya polos. “Aku pilih.” Jawaban itu lagi. Bukan karena tidak mampu tapi karena mau. Aira menatapnya dengan rasa hormat yang mulai tumbuh dan Dipta melihatnya, menghitungnya dan menyimpannya. Di sisi lain sekolah, di parkiran. Angger bersandar di motor sambil melihat ke arah gedung perpustakaan. “Dia di dalam,” gumamnya. Raka mendecak. “Baru tiga hari.” Bayu menyipitkan mata. “Cepat banget.” David hanya tertawa kecil. “Udah kubilang. Kalau dia serius, beda.” Mereka melihat siluet dua orang yang duduk berhadapan dari balik kaca perpustakaan. Aira tampak fokus. Dipta tampak tenang. “Menurut kalian dia beneran cuma main?” tanya Bayu tiba-tiba. Angger terdiam sebentar. “Dipta nggak pernah setengah-setengah.” Dan itu justru yang membuat permainan ini mulai terasa berbeda. Kembali ke dalam perpustakaan. Aira menutup bukunya setelah hampir satu jam. “Aku nggak sadar udah selama ini.”, kata Aira sambil melihat jarum jam di pergelangan tangannya. “Kamu cepat tangkap”, kata Dipta. Pujian itu keluar datar, tapi tulus. Aira tersenyum kecil. “Aku cuma nggak mau kalah sama nilai sendiri.” Dipta memiringkan kepala sedikit. “Kamu selalu harus jadi paling atas?” Aira berpikir sebentar. Lalu, “Bukan paling atas", jawabnya pelan. “Tapi nggak mau mengecewakan diri sendiri.” Kalimat itu membuat Dipta diam, ada sesuatu dalam nada Aira yang berbeda. Tidak sombong dan tidak ambisius berlebihan. Hanya standar yang ia pasang untuk dirinya sendiri. Dan tanpa sadar, Dipta mulai ingin menjadi bagian dari standar itu. Bukan untuk menang taruhan tapi untuk memastikan ia tetap berdiri di sana. “Aku antar sampai depan?”, tawarnya. Aira menggeleng pelan. “Nggak usah, Kak. Aku bisa sendiri.” Jawaban itu terdengar sopan dan mandiri. Tidak bergantung. Dipta mengangguk. Ia berdiri lebih dulu, menarik kursinya dengan tenang. “Aira.”, panggilnya. Aira menoleh. “Besok ulangan?”, tanyanya. “Iya.”, jawab Aira singkat. “Dapat di atas sembilan puluh lima”. Itu bukan pertanyaan maupun juga perintah. Lebih seperti keyakinan yang ditanamkan. Aira tersenyum tipis. “Doakan saja.” “Aku tidak perlu mendoakan sesuatu yang sudah jelas,” jawabnya. Dan untuk pertama kalinya, pipi Aira sedikit memerah. Saat Dipta berjalan keluar perpustakaan, ponselnya bergetar. Angger: Udah lengket aja. Raka: Berapa lama lagi? David: Seratus juta aman ya? Dipta mengetik singkat. 'Ini baru awal.' Ia menatap kembali ke arah jendela perpustakaan. Aira masih di dalam, merapikan buku. Sejak pertama kali taruhan dimulai, ia tidak lagi melihat angka, tidak lagi melihat hadiah. Ia melihat seseorang yang ingin ia pahami lebih dalam. Dan obsesi kecil itu, baru saja tumbuh.Ruang audit internal itu terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena AC, justru karena tidak ada lagi ruang untuk “alasan sosial”. Hanya ada meja, laptop, dan dua orang auditor yang sudah tidak tertarik pada emosi hanya fakta. Rania duduk, tangannya mulai tidak setenang sebelumnya. Di depan layar, log komunikasi kembali ditampilkan. Nama-nama, waktu, akses, percakapan singkat. Semuanya terlalu rapi untuk bisa dibantah sepenuhnya. “Akses ini Anda lakukan atas instruksi siapa?” tanya auditor lagi. Rania diam, kali ini tidak seperti awal yang masih bisa pura-pura tenang. Diamnya lebih berat. “Saya hanya membantu.” jawabnya akhirnya. Auditor tidak langsung bereaksi, hanya geser satu file lagi. “Ini bukan bantuan internal biasa. Ini melibatkan koordinasi dengan pihak luar perusahaan.” Rania menelan ludah. Di sisi lain gedung, ruang kerja Dipta. Aira duduk di sofa, membaca beberapa dokumen kecil di tablet. Namun telinganya jelas “setengah fokus” ke arah ini. “Dia mulai tertekan.”
Aira menutup pintu ruang kerja Dipta pelan. Begitu bunyi klik terdengar bahunya langsung turun sedikit. Seperti ada beban yang baru saja “diizinkan jatuh”. Langkahnya yang tadi di luar terlihat rapi dan tenang, perlahan berubah begitu dia sudah tidak lagi jadi sorotan siapa pun. Baru dua langkah di dalam ruangan, kakinya terasa agak goyah. Bukan jatuh tapi jelas tidak stabil. Aira langsung berhenti, berdiri diam sebentar. Matanya melirik ke lantai, lalu ke kursi terdekat. Seolah sedang “mengkalibrasi ulang” tubuhnya sendiri. “Capek banget ternyata jadi manusia profesional.” gumamnya pelan, nyaris tidak terdengar. Dia menarik napas panjang, lalu duduk di kursi tanpa drama. Baru setelah itu, bahunya benar-benar lemas. Di sisi lain ruangan, Dipta sedang membereskan beberapa dokumen. Dia melirik sekilas, lalu sadar satu hal kecil yang tidak diucapkan Aira tadi di luar. Mode tadi itu bukan stabil, itu mode bertahan hidup. Dipta tidak langsung komentar, hanya saja sudut bibirnya naik s
Priska akhirnya tidak lagi punya ruang untuk bertahan di dalam ruangan itu. Ayahnya berdiri wajahnya tegang, tapi masih berusaha menjaga martabat di depan semua pemegang saham. “Priska.” suaranya rendah, tapi tegas. “Keluar.” Priska menoleh cepat. “Papa, aku bisa jelasin—” “Keluar sekarang.” ulangnya, kali ini lebih dingin. Tidak ada ruang diskusi lagi. Beberapa staf keamanan perusahaan yang sudah memahami situasi langsung melangkah maju, tapi tetap menjaga jarak sopan. Priska mundur setengah langkah. Matanya masih mencari pembelaan ke ruangan, ke Dipta, ke siapa pun. Namun tidak ada yang menyambut itu. Akhirnya, dengan napas yang sudah tidak stabil, dia melangkah keluar ruangan. Pintu tertutup, ruangan kembali hening. Ayah Priska berdiri beberapa detik tanpa bicara. Lalu menarik napas panjang. Mengalihkan fokusnya ke arah Arjito dan Dipta. “Untuk sementara,” ucapnya, “saya mohon kejadian ini tidak keluar dari ranah internal perusahaan.” Nada suaranya berubah dari emosio
Di ruang rapat, suasana masih berjalan normal di permukaan. Presentasi lanjutan terus bergerak, angka-angka proyek, laporan kerja sama, dan proyeksi saham ditampilkan satu per satu.7 Tapi di balik itu. Dipta tidak benar-benar hanya mendengar. Layar kecil di samping laptopnya kembali menyala. Notifikasi sistem CCTV, satu titik rekaman masuk otomatis. Dipta menatap sebentar, tiidak lama tapi cukup untuk menangkap pola. Rak dokumen, pergerakan orang di area luar ruangannya, waktu akses yang tidak seharusnya terjadi, jarinya bergerak pelan di trackpad. Membuka rekaman, layar terlihat koridor dekat ruang kerja Dipta. Beberapa staf lalu-lalu normal. terlihat muncul di sudut frame. Tidak langsung masuk tapi menunggu melihat situasi sekitar. Beberapa detik kemudian, seorang OB datang membawa tray minuman. Kopi dan teh untuk ruang rapat. Rania mendekat, gerakannya terlihat santai seolah hanya lewat. Namun dari sudut kamera tangan Rania bergerak sedikit lebih lama di area tray hanya bebera
Beberapa waktu kemudian, ruangan itu sudah kembali sunyi. Hanya ada suara napas yang perlahan mulai stabil. Dipta duduk di tepi sofa ruang istirahat. Tangannya masih bertumpu di dahi. Matanya terpejam sebentar, seperti sedang mengembalikan kesadaran penuh. Efek yang tadi mengganggu pikirannya, perlahan mulai reda. Sisa-sisanya masih ada tapi sudah jauh lebih bisa dikendalikan. Di sisi lain Aira sudah duduk bersandar di sofa. Bukan duduk tegak lagi lebih ke rebahan setengah sadar. Matanya setengah terbuka, tangannya menutup wajah sebentar. “Dipta…” suaranya pelan banget. “Kamu ini… seriusan…” Dipta melirik sekilas. Ada sedikit senyum tipis di wajahnya. “Tadi kamu bilang bantu.” Aira langsung diam. Lalu hanya bisa menghela napas panjang. “Bantu bukan berarti begini…” gumamnya lemah. Dipta tertawa kecil, suaranya rendah. Masih agak berat, tapi sudah stabil. “Harusnya kamu kabur, "Harusnya kamu mikir dulu…” Balas Aira pelan. “Ini kantor…” Dipta menoleh, tatapannya mulai kemb
Di dalam ruangan suasana sudah panas dan tegang. Detik itu juga Priska bergerak cepat, tangannya langsung mengacak rambutnya sendiri, napasnya dibuat terengah, beberapa kancing bajunya dibuka paksa, kainnya sedikit ditarik hingga tampak kusut. Lalu dia dengan sengaja menampar dirinya sendiri. 'Plak!' Satu tamparan mendarat di pipinya sendiri, keras sekali, dua kali. Sampai meninggalkan bekas kemerahan. Dipta yang melihat itu, matanya langsung menyempit. “Gila… gumamnya pelan. Sekarang dia benar-benar paham, ini bukan sekadar jebakan. Ini sudah dirancang matang. 'Brak!' Pintu terbuka, Aira masuk. Langkahnya cepat, napasnya sedikit memburu dan matanya langsung menyapu ruanga dan berhenti. Di sana di depan matanya seorang wanita dengan pakaian berantakan, duduk di pangkuan suaminya. Hanya satu detik tapi cukup. Tatapan Aira berubah dingin, tajam dan meledak. “Gak tahu malu.” Satu kalimat terucap lain tapi penuh tekanan. Priska sempat pura-pura terkejut, seolah ketahuan.
Pagi itu, udara di SMA terasa hangat, tapi tidak menusuk. Cahaya matahari menembus jendela kelas XI IPA 2, menyorot buku catatan Aira yang rapi. Ia duduk di bangku dekat jendela, mencoba fokus pada pelajaran Biologi. Tapi pikirannya sering melayang ke seseorang yang ia lihat beberapa kali dalam beb
Hari itu, Dipta duduk di kelas XII IPS 1 sambil membaca catatan ekonomi. Tapi matanya tidak sepenuhnya fokus pada buku, tatapannya sesekali tertuju ke kelas XI IPA 2, tepatnya ke Aira yang sedang menulis catatan di meja dekat jendela.“Hmm… berbeda dari yang lain", pikirnya dalam hati.Bukan karena
Pagi menjelang siang, lapangan sekolah lebih sepi dari biasanya. Angin tipis membuat dedaunan bergetar, dan cahaya matahari yang mulai miring menembus sela-sela pepohonan. Aira duduk di bawah pohon besar, buku biologi di pangkuan, mencoba memahami diagram sel yang rumit. Tiba-tiba, suara ringan
Suasana kelas XI IPA 2 pagi itu lebih tegang dari biasanya. Kertas ulangan biologi sudah dibagikan, masih tertutup di atas meja masing-masing siswa. Suara kipas angin berputar terasa lebih keras karena hampir semua orang diam. Aira duduk tegak. Tangannya berada di atas meja, jari-jarinya saling b







