Beranda / Romansa / DIPTA / BAB 171 Gagal

Share

BAB 171 Gagal

Penulis: Adw_Canss781
last update Tanggal publikasi: 2026-10-11 23:59:59
Di dalam ruangan suasana sudah panas dan tegang. Detik itu juga Priska bergerak cepat, tangannya langsung mengacak rambutnya sendiri, napasnya dibuat terengah, beberapa kancing bajunya dibuka paksa, kainnya sedikit ditarik hingga tampak kusut. Lalu dia dengan sengaja menampar dirinya sendiri.

'Plak!'

Satu tamparan mendarat di pipinya sendiri, keras sekali, dua kali. Sampai meninggalkan bekas kemerahan.

Dipta yang melihat itu, matanya langsung menyempit. “Gila… gumamnya pelan.

Sekarang d
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • DIPTA   BAB 172 Setelah Kekacauan

    Beberapa waktu kemudian, ruangan itu sudah kembali sunyi. Hanya ada suara napas yang perlahan mulai stabil. Dipta duduk di tepi sofa ruang istirahat. Tangannya masih bertumpu di dahi. Matanya terpejam sebentar, seperti sedang mengembalikan kesadaran penuh. Efek yang tadi mengganggu pikirannya, perlahan mulai reda. Sisa-sisanya masih ada tapi sudah jauh lebih bisa dikendalikan. Di sisi lain Aira sudah duduk bersandar di sofa. Bukan duduk tegak lagi lebih ke rebahan setengah sadar. Matanya setengah terbuka, tangannya menutup wajah sebentar. “Dipta…” suaranya pelan banget. “Kamu ini… seriusan…” Dipta melirik sekilas. Ada sedikit senyum tipis di wajahnya. “Tadi kamu bilang bantu.” Aira langsung diam. Lalu hanya bisa menghela napas panjang. “Bantu bukan berarti begini…” gumamnya lemah. Dipta tertawa kecil, suaranya rendah. Masih agak berat, tapi sudah stabil. “Harusnya kamu kabur, "Harusnya kamu mikir dulu…” Balas Aira pelan. “Ini kantor…” Dipta menoleh, tatapannya mulai kemb

  • DIPTA   BAB 171 Gagal

    Di dalam ruangan suasana sudah panas dan tegang. Detik itu juga Priska bergerak cepat, tangannya langsung mengacak rambutnya sendiri, napasnya dibuat terengah, beberapa kancing bajunya dibuka paksa, kainnya sedikit ditarik hingga tampak kusut. Lalu dia dengan sengaja menampar dirinya sendiri. 'Plak!' Satu tamparan mendarat di pipinya sendiri, keras sekali, dua kali. Sampai meninggalkan bekas kemerahan. Dipta yang melihat itu, matanya langsung menyempit. “Gila… gumamnya pelan. Sekarang dia benar-benar paham, ini bukan sekadar jebakan. Ini sudah dirancang matang. 'Brak!' Pintu terbuka, Aira masuk. Langkahnya cepat, napasnya sedikit memburu dan matanya langsung menyapu ruanga dan berhenti. Di sana di depan matanya seorang wanita dengan pakaian berantakan, duduk di pangkuan suaminya. Hanya satu detik tapi cukup. Tatapan Aira berubah dingin, tajam dan meledak. “Gak tahu malu.” Satu kalimat terucap lain tapi penuh tekanan. Priska sempat pura-pura terkejut, seolah ketahuan.

  • DIPTA   BAB 170 Jebakan

    Siang itu chat masuk ke ponsel Rania. Nama yang muncul Priska. Priska: “Hari ini rapat pemegang saham.” Rania: “Aku tahu.” Priska: “Ini kesempatan.” Jeda beberapa detik, Rania membaca. Matanya mulai serius. Priska: “Minuman Dipta harus dipisah.” Kalimat itu singkat tapi jelas sebuah perintah. Rania mengetik pelan. “Maksud kamu?” Balasan datang cepat. “Jangan campur dengan yang lain. Aku kirim detailnya.” Tak lama instruksi lebih jelas masuk, jenis minuman kopi/teh yang biasa Dipta minum, posisi di nampan pojok kanan, tanda kecil misalnya tutup atau sendok berbeda dan yang paling penting. “Pastikan hanya dia yang minum.” Rania menatap layar cukup lama. Jantungnya sedikit berdegup. Ini bukan sekadar ganggu kerjaan lagi, ini sudah jauh. Rania: “Kamu yakin?” Balasan Priska kali ini lebih dingin. “Kamu mau dia terus sama Aira?” Rania menghela napas. Lalu mengetik, “Aku butuh orang.” Priska: “OB. Tapi jangan sampai dia tahu.” Rania menatap ke arah luar ruangan. Di sana terli

  • DIPTA   BAB 169 Satu Nama

    Sejak hari itu tidak ada perubahan yang terlihat mencolok. Semua masih berjalan normal. Meeting, kerjaan, ritme kantor, tetap seperti biasa. Tapi yang berubah itu cara Rania bergerak. Awalnya eangat kecil. Hal yang bahkan kalau orang lain lihat mungkin dianggap sepele. Seperti pagi itu Aira sudah menyiapkan jadwal Dipta lengkap dan rapi. Namun saat Dipta menanyakan satu dokumen, tidak ada. Aira mengernyit. “Harusnya ada di sini…” Dia membuka ulang file, mencari namun kosong. Padahal dia yakin sudah menaruhnya. Di sisi lain Rania duduk di mejanya, diam sambil mengetik seperti biasa. Tapi sudut matanya sempat melirik singkat hampir tidak terlihat. Aira akhirnya menemukan file itu di folder lain. Dipindahka bukan hilang. Tapi cukup untuk bikin alur kerja terganggu. Hari berikutnya hal lain terjadi. Email pentin terkirim terlambat. Padahal Aira sudah menjadwalkannya dan lagi, dia yakin. Dia tidak pernah lalai soal itu. “Maaf, Pak. Ada delay sedikit,” ucap Aira profesional.

  • DIPTA   BAB 168 Rencana

    Menjelang sore setelah semua urusan rumah selesai dan perut sudah terisi, Aira dan Dipta akhirnya bersiap keluar. Tujuannya jelas, menjemput Askara yang sejak semalam memang dititipkan di rumah Hadiyasa dan Indri. Perjalanan tidak terlalu lama. Begitu mobil masuk ke halaman rumah suasana sudah terasa hidup. Dari luar saja sudah terdengar suara kecil yang cukup familiar. “Mamaa…!” Belum juga Aira benar-benar turun, Askara sudah berlari kecil dari dalam rumah. Langsung menghampiri, Aira refleks tersenyum lebar dan langsung berlutut sedikit untuk menyambutnya. “Iya… iya… sini.” ucap Aira sambil memeluk tubuh kecil itu. Askara langsung menempel seolah sudah rindu dari kemarin. Dipta yang turun dari sisi lain hanya melihat itu dengan tatapan lembut. “Baru semalam ditinggal.” gumamnya pelan. Indri yang berdiri di belakang langsung menyahut, “Namanya juga anak kecil, ya pasti nyari orang tuanya.” Senyumnya hangat. Hadiyasa juga ikut keluar. “Masuk dulu kalian, jangan langsung

  • DIPTA   BAB 167 Minggu yang Tenang

    Biasanya jam lima pagi Aira sudah terbangun, seperti sudah jadi kebiasaan. Bangun pelan, lihat sekitar, lalu mulai aktivitas kecil entah itu cuci baju, stretching ringan, atau sekadar nyiapin dapur sebelum masak. Namun pagi ini beda, Aira sebenarnya sempat terbangun. Matanya terbuka sedikit, masih setengah sadar. Refleks mau bangun tapi tangannya tertahan, pinggangnya ditarik kembali. “Aku mau bangun…” gumamnya pelan, suara masih serak. Dipta yang masih setengah mengantuk di sampingnya hanya merespon dengan tarikan ringan. “Masih pagi.” Aira mengernyit. “Udah jam lima…” Biasanya itu sudah “pagi” buat dia. Dipta justru mendekat lagi, memeluk dari belakangebih erat. “Aku mau ke dapur nanti…” lanjut Aira, masih mencoba bangun. Lagi-lagi ditahan. “Sebentar.” Nada suaranya rendah. Belum sepenuhnya bangun, tapi jelas ada niat lain yang sedang Dipta susun. Dipta bangkit lalu memposisikan dirinya diatas Aira dengan tetap menahan bobot tubuhnha dengan kedua lengan, agar Aira tidak

  • DIPTA   BAB 6 Chemistry dan Konflik kecil

    Hari itu, Dipta duduk di kelas XII IPS 1 sambil membaca catatan ekonomi. Tapi matanya tidak sepenuhnya fokus pada buku, tatapannya sesekali tertuju ke kelas XI IPA 2, tepatnya ke Aira yang sedang menulis catatan di meja dekat jendela.“Hmm… berbeda dari yang lain", pikirnya dalam hati.Bukan karena

  • DIPTA   BAB 5 Persaingan dan Strategi

    Pagi menjelang siang, lapangan sekolah lebih sepi dari biasanya. Angin tipis membuat dedaunan bergetar, dan cahaya matahari yang mulai miring menembus sela-sela pepohonan. Aira duduk di bawah pohon besar, buku biologi di pangkuan, mencoba memahami diagram sel yang rumit. Tiba-tiba, suara ringan

  • DIPTA   BAB 4 Persaingan Dipta dan Teman-Teman

    Suasana kelas XI IPA 2 pagi itu lebih tegang dari biasanya. Kertas ulangan biologi sudah dibagikan, masih tertutup di atas meja masing-masing siswa. Suara kipas angin berputar terasa lebih keras karena hampir semua orang diam. Aira duduk tegak. Tangannya berada di atas meja, jari-jarinya saling b

  • DIPTA   BAB 3 Taruhan Dimulai

    Bel pulang berbunyi nyaring, menggema sampai ke lorong-lorong gedung IPS. Siswa kelas XII IPS 1 mulai beranjak dari kursi mereka. Suara kaki kursi bergeser dan ritsleting tas yang ditarik bersahutan. Di antara keramaian itu, Dipta tetap bergerak dengan ritmenya sendiri. Ia merapikan buku ekonominya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status