Home / Romansa / DIPTA / BAB 6 Chemistry dan Konflik kecil

Share

BAB 6 Chemistry dan Konflik kecil

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-02-26 10:55:56

Hari itu, Dipta duduk di kelas XII IPS 1 sambil membaca catatan ekonomi. Tapi matanya tidak sepenuhnya fokus pada buku, tatapannya sesekali tertuju ke kelas XI IPA 2, tepatnya ke Aira yang sedang menulis catatan di meja dekat jendela.

“Hmm… berbeda dari yang lain", pikirnya dalam hati.

Bukan karena dia jatuh hati, tapi karena pola Aira menarik, lugu, cerdas, tapi tetap ceria. Ada sesuatu yang membuatnya ingin menang taruhan ini, bukan sekadar ikut-ikutan. Teman-temannya Angger, Bayu, Raka, dan David masih mendekati Aira dengan cara masing-masing. Tapi Dipta mulai membuat strategi sendiri, lebih intens tapi tetap misterius, lebih sering berada di dekat Aira saat ada kesempatan.

Di perpustakaan, Aira sedang kebingungan mencari buku biologi yang tepat. Beberapa buku yang ia ambil ternyata terlalu ringkas. Dipta lewat, pura-pura tersenggol rak. “Hmm… buku ini terlalu ringkas. Kamu mau aku tunjukkan yang lebih lengkap?”

Aira menoleh, sedikit tersipu. “Oh… iya, kalau nggak merepotkan, terima kasih sebelumnya”.

Dipta menunjuk beberapa buku dengan gestur halus, menyingkirkan mencari ke rak lain agar Aira bisa melihat bab yang tepat. “Bab ini lebih jelas. Kalau mau, aku bisa jelaskan sedikit intinya.”

Aira mengangguk, wajahnya merah muda. Ia mulai menyadari, ada perhatian khusus dari pemuda tinggi itu. Tapi ia tidak tahu alasannya.

Suatu sore di lapangan, saat Aira duduk di bangku membaca catatan, Dipta lewat dan menatapnya.

“Serius amat baca terus… jangan sampai buku itu bikin kamu pusing”, komentarnya dengan nada sedikit pedas tapi rendah, membuat Aira tersenyum malu.

Aira menoleh, mencoba menahan tawa. “Eh… aku biasanya bisa belajar sendiri…”.

Dipta mengangkat satu alis, menatap sekilas dengan intens. “Kalau terlalu santai, jangan salahkan aku kalau kamu tertinggal.”

Aira menelan ludah, jantungnya berdegup lebih cepat. Tatapan itu, misterius tapi memancing rasa penasaran.

Beberapa kali di kelas atau saat jam kosong, Dipta menatap Aira dari jauh. Intens tapi diam. Tidak selalu mendekat, tapi cukup untuk membuat Aira sadar, ada yang berbeda. Sesekali ia menatap saat Aira tersenyum pada teman, sekilas tapi terasa lama. Sesekali ia pura-pura berjalan di lorong dekat Aira, tatapan tidak terlepas sebentar. Sesekali ia sengaja berada di rak buku yang sama, hanya untuk “memantau” dengan alasan membantu.

Aira mulai merasa bingung. “Kenapa rasanya dia selalu ada.. tapi bukan teman biasa?” gumamnya.

Debaran jantungnya meningkat, wajahnya kembali memerah. Ia belum tahu bahwa perhatian ini adalah bagian dari obsesi Dipta untuk menang taruhan.

Hari-hari berikutnya, interaksi kecil seperti ini terus terjadi, Dipta membantu Aira mencari buku yang sulit. Memberikan komentar pedas tapi bikin senyum, yang menimbulkan rasa tertantang dan penasaran. Tatapan intens yang kadang singkat, kadang sedikit lama agar membangun ketegangan halus. Aira mulai sadar ada “perhatian khusus”, tapi ia masih bingung, dan tetap cenderung menjaga jarak sopan.

Setiap detik interaksi terasa ringan tapi membuat hatinya tak karuan mulai terasa, jantungnya berdebar saat Dipta ada di dekatnya, wajahnya memerah saat komentar pedas tapi terdengar menyenangkan yang dilempar Dipta, senyumnya selalu muncul tanpa sadar, seolah menandakan chemistry perlahan terbentuk.

Teman-temannya mulai sadar, strategi Dipta berbeda dari mereka. Lebih fokus, lebih intens, dan membuat efek ke Humaira lebih kuat.

Angger bergumam pelan, “Hmm… Dipta mulai serius ya? Padahal katanya cuma ikut taruhan…”

Bayu mengangguk. “Dia mulai berbeda dari kita… lebih menonjol, lebih ‘mengontrol’ situasi.”

Raka menambahkan sambil tersenyum, “Efeknya juga paling terlihat ke Aira. Deg-degan paling nyata dibandingkan cara kita.”

David diam, mencatat dalam hati. “Ini mulai menjadi kompetisi serius. Tapi tetap harus hati-hati. Aira masih belum sadar apa pun.”

Hari itu, didepan kelas XII IPS 1 terasa lebih “hidup” dari biasanya. Angger, Bayu, Raka, dan David saling bertukar pandang dengan senyum tipis, masing-masing membawa strategi berbeda.

“Eh… lihat Aira di kantin tadi?”, Angger berbisik sambil menatap teman-temannya.

“Aku sengaja duduk dekat dia, tapi Bayu juga tiba-tiba muncul. Ini jadi kayak… siapa yang lebih efektif ya?”

Bayu menepuk meja. “Aku cuma bantuin catatan. Tapi efeknya lumayan. Dia terlihat senang dan lugu banget.”

Raka tertawa pelan. “Aku bikin dia ketawa di lapangan. Deg-degannya pasti paling kentara kalau sama aku.”

David mencondongkan tubuh, menatap Aira dari jauh. “Aku lebih fokus observasi. Tapi aku yakin efeknya diam-diam paling kuat.”

Dari kejauhan, Dipta duduk tegap, diam tapi mata tajam selalu mengawasi semua gerak-gerik teman-temannya. Ia tahu persaingan mulai memanas. Ada aura ketegangan kecil di kelas, tapi ia tetap tenang, sambil perlahan memikirkan strategi untuk memastikan Aira tetap aman tapi ia tetap mengontrol situasi.

Aira sendiri mulai merasakan ada yang berbeda. Beberapa hal kecil membuatnya bertanyasituas, tatapan orang yang terlalu lama, kadang Angger, kadang Bayu, tapi terutama Dipta. Komentar ringan yang sering muncul akhir-akhir ini, “Eh, jangan lupa catatan ini,” atau "Ini bisa lebih mudah kalau pakai cara ini”. Rumor kecil yang terdengar dari teman sekelas, “Katanya dia murid baru itu disukai banyak orang”, tapi Aira hanya tersenyum seperti biasa dan masa bodoh.

Saat ia duduk di kantin dengan buku catatan biologi, Bayu datang membawa jus. “Biar aku yang beliin kamu, biar nggak repot.”

Aira menoleh, tersenyum malu. “Ah… nggak apa-apa, aku bisa ambil sendiri kok Kak…”

Bayu mengangkat bahu. “Yaudah… tapi aku cuma bantu.”

Aira hanya tersenyum, masih seperti biasa, tapi jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Ia merasa ada perhatian lebih, tapi tidak bisa menjelaskan kenapa rasanya berbeda.

Saat ketegangan mulai terasa di kelas, beberapa teman mulai berusaha “menonjol” terlalu berlebihan. Angger mencondongkan tubuh ke Aira, berusaha bercanda lucu, tapi agak lebay. Dipta, yang duduk beberapa bangku di depan, menoleh sekilas dengan tatapan intens.

“Cukup, Angger,” katanya rendah tapi tegas. “Jangan terlalu keras. Dia baru di sini, santai saja.”

Angger sedikit kaget tapi menuruti, matanya berkedip nakal tapi hormat.

Bayu, yang ingin memberi catatan tambahan dengan terlalu banyak penjelasan, juga ditegur ringan. “Fokus aja, jangan bikin dia kewalahan.”

Dipta tidak banyak bicara, tapi aura dominannya jelas, ia mengawasi, mengontrol situasi, memastikan Aira tetap nyaman, tapi teman-temannya tidak terlalu berlebihan.

Di perpustakaan, Aira sedang membaca catatan biologi. Dipta berjalan melewati rak, sengaja melangkah pelan.

“Buku itu cukup membantu?” tanyanya rendah, tatapan tajam tapi misterius.

Aira menoleh, wajahnya sedikit memerah. “Ah… iya… terima kasih. Aku masih harus banyak belajar.”

Dipta mengangguk. “Kalau butuh bantuan, bilang saja. Jangan ragu.”

Kembali perhatian Aira diambil alih, ada perhatian khusus. Deg-degan muncul lagi, jantungnya cepat, tapi ia tetap tidak mengerti sepenuhnya.

Hari-hari berikutnya, ketegangan terasa di sekolah. Teman-teman Dipta semakin agresif tapi tetap sopan pada Aira, Angger bercanda lebih sering, Bayu lebih banyak memberi catatan, Raka humoris tapi ingin terlihat dekat, dan David tetap observatif tapi lebih sering mendekat. Aira mulai menyadari perbedaan perlakuan, ia tersenyum malu, bingung, dan juga merasa bahwa dia dihargai. Dipta semakin dominan, selalu menegur teman-temannya secara halus tapi tegas, tatapan intens saat mengawasi.

Suasana di kantin, lapangan, dan perpustakaan terasa “hidup”. Ada ketegangan halus tapi seru, chemistry mulai terasa tapi Aira masih tetap berada dalam dunianya.

Meski Aira merasa akhir-akhir ini, hari-harinya sedikit berbeda. Ada tatapan yang selalu tertuju padanya, kadang Dipta, kadang teman-temannya. Ada komentar ringan yang menyenangkan tapi bikin jantung berdegup, yang terkadang pedas tapi terasa seru baginya. Rumor kecil dari teman yang ia dengar karena Aira yang selalu dihampiri beberapa kakak kelas, ia hanya bisa tersenyum malu.

Intensitasnya meningkat sedikit demi sedikit, namun Aira belum juga menyadari jika sudah masuk dalam lingkaran kecil taruhan, belum mengerti perasaan atau strategi mereka. Ia hanya menyadari bahwa kakak kelasnya ini sangat baik dan perhatian padanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DIPTA   BAB 96 Beli Papa

    Suasana di depan pintu swalayan itu masih menyisakan sedikit ketegangan. Orang-orang sudah kembali lalu-lalang seperti biasa, tapi di antara empat orang yang berdiri di sana, rasanya belum benar-benar kembali normal. Indri menarik napas pelan, mencoba merapikan ekspresinya. Tatapannya kembali ke arah Dipta Niskala Mahesa. “Kamu pulang malam ini.” Nada suaranya tidak keras tapi jelas itu bukan sekadar permintaan. Dipta menatapnya. “Kenapa?” Indri menjawab tenang. “Jam delapan ada acara keluarga di rumah.” Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan, “Karin menginap. Orang tuanya menitipkan dia sementara di rumah kita.” Di sampingnya, Karin langsung menyahut dengan nada lebih ringan. “Iya, aku mau mulai kuliah di Jakarta, jadi sementara di sana dulu…” Dipta hanya mengangguk kecil, tidak ada respon berlebihan. “Saya lihat nanti.” Indri tidak membantah, namun tatapannya sedikit menahan. “Usahakan.” Tidak ada yang berbicara untuk beberapa saat, lalu tanpa sadar tatapan Indri kemba

  • DIPTA   BAB 95 Inspeksi

    Barang-barang di atas meja kasir mulai berpindah satu persatu. Suara beep mesin scanner terdengar berulang kaleng susu, botol minum, buku gambar astronot dan cemilan sampai perintilan kecil lainnya. Aira berdiri di sisi kasir, sesekali melirik layar total belanja. “Ini kayaknya bisa buat buka warung…” gumamnya pelan, setengah bercanda. Di sampingnya, Dipta masih membantu mengangkat barang dari troli. Gerakannya tenang sudah terbiasa, kasir menyebutkan total pembelian yang angkanya tidak kecil. Aira langsung mengambil dompetnya tanpa ragu. “Sebentar ya—” Namun tangan Dipta lebih dulu bergerak. Satu kartu sudah diletakkan di mesin. Aira langsung menoleh cepat. “Pak?!” Dipta tidak melihat ke arahnya. “Lanjut saja mbak.” Kasir langsung memproses. Aira langsung mendekat sedikit. “Pak, ini saya yang bayar…” Dipta tetap tenang. “Sudah biar saya aja.” Aira mengernyit. “Kan ini belanjaan saya…” Dipta baru memandang, tatapannya datar. “Iya.” Aira makin bingung. “Terus ken

  • DIPTA   BAB 94 Belanjaan

    Aira masih berdiri di depan rak susu, mencoba mengembalikan fokusnya setelah kejadian barusan yang jujur saja, cukup membuat kepalanya sedikit “panas dingin”. Troli di depannya sudah hampir penuh. Ia mengambil satu kaleng susu formula, memperhatikan labelnya sebentar, lalu tanpa ragu memasukkannya ke dalam troli. Gerakannya cepat seolah sudah hafal. Di sampingnya, Dipta berdiri tenang. Tadinya hanya memperhatikan sekilas, namun kali ini tatapannya bertahan lebih lama. Matanya turun perlahan ke dalam troli, satu persatu isi di dalamnya terlihat jelas produk anak-anak. Cemilan khusus, perawatan bayi, minyak telon dan lainnya. Semuanya bukan yang biasa, lalu pandangannya bergeser ke bagian lain. Produk milik Aira seperti sabun, sampo, body lotion, skincare, make up, semuanya standar. Bahkan bisa dibilang sederhana. Dipta tidak langsung bicara, tatapannya sedikit berubah lebih dalam. Aira yang masih fokus merapikan barang, tidak langsung sadar diperhatikan seperti itu. “Ini harusnya

  • DIPTA   BAB 93 Belanja

    Dulu, Dipta adalah seseorang yang mengendalikan. Sekarang dia terlihat seperti seseorang yang membentuk tanpa menekan. Arjito menghela napas lagi, lebih panjang dari sebelumnya. “Kamu benar-benar belajar…” Kalimat itu keluar pelan, bukan hanya untuk Aira justru ini juga untuk Dipta. Beberapa detik ruangan itu benar-benar hening. Tidak ada suara selain napas yang teratur. Lalu perlahan, tangan Arjito meraih ponselnya yang terletak di sisi meja. Ia menatap layar sebentar, seolah memastikan keputusan kecil itu, kemudian satu nama dipilih. Panggilan dilakukan. Nada sambung terdengar beberapa detik, sebelum akhirnya tersambung. “Jarang kamu yang menghubungi duluan.” suara di seberang terdengar santai, sedikit ringan, sangat kontras dengan suasana di ruangan itu. Suara dari Hadiyasa Mahesa. Arjito tidak langsung menjawab. Ia berdiri perlahan dari kursinya, berjalan mendekati jendela besar di belakang meja. Pemandangan kota terbentang luas di bawah sana, gedung-gedung tinggi berdir

  • DIPTA   BAB 92 Jalur yang Dibentuk

    Setelah Nadhira benar-benar pergi, akhirnya suasana di meja itu kembali tenang. Aira menarik napas panjang, lalu menegakkan badannya. “Akhirnya…” Di depannya, makanan sudah tersaji, hangat dan terlihat menggoda. Dipta mulai makan tanpa banyak bicara, seperti biasa. Aira mengambil sendok, belum langsung makan. “Pak.” Dipta berhenti dari aktivitasnya. “Ya?” “Tadi itu…” Aira berhenti sebentar. “…memalukan nggak sih?” Dipta tetap tenang. “Tidak.” Aira mengernyit. “Serius?” "Iya”, jawab Dipta singkat lagi. Aira memperhatikan ekspresinya, mencari jika ada tanda-tanda bercanda, tapi tidak ada. “Padahal itu temen saya paling… ya gitu lah…” Dipta menjawab singkat. “Sudah terlihat.” Aira langsung ketawa kecil. “Iya kan” Aira akhirnya mulai makan. Suasana perlahan jadi lebih santai dalam beberapa suapan berlalu. Aira tiba-tiba bicara lagi, lebih pelan. “…Pak.” “Ya?”, sahut Dipta yang kembali harus terhenti menikmati hidangan. “Kalau orang-orang dulu lihat kita sekar

  • DIPTA   BAB 91 Andine dan Bertemu Nadhira

    Pagi itu berjalan seperti biasa di Rajendra Engineering. Aira sudah kembali dengan rutinitasnya, menyusun jadwal, menyiapkan dokumen, dan memastikan semua agenda Dipta berjalan rapi. Suasana kantor relatif normal dan tenang. Sampai ada suara yang menahan aktivitasnya. “Bu Aira, ada tamu.” ucap staf yang memanggilnya. Aira menoleh. “Tamu?” Staf di depannya mengangguk. “Dari perusahaan luar, sudah ada janji dengan Pak Dipta.” Aira langsung mengangguk kecil. “Baik, saya konfirmasi dulu.” Dia berdiri, berjalan ke ruang kerja Dipta, mengetuk pelan. “Masuk.” ucap Dipta. Aira membuka pintu. “Pak, tamu dari perusahaan—” Kalimatnya terhenti, karena di dalam ruangan itu sudah berdiri dua orang. Seorang pria paruh baya dengan aura pebisnis kuat dan di sampingnya Andine. Aira langsung diam sepersekian detik, matanya menyipit sedikit. “Oh…” Andine yang melihat itu, langsung mengenali wajah Aira. Tatapannya berubah tajam, senyum tipis muncul di bibirnya. "Ternyata kamu…” gumamnya pelan

  • DIPTA   BAB 22 Tempat Yang Sama, Posisi Yang Berubah

    Tempat itu tidak pernah berubah. Kafe semi-terbuka di sudut jalan utama, dengan dinding kaca besar menghadap persimpangan. Lampunya terang, tidak temaram. Meja-meja tersusun rapi, kursi kayu dengan sandaran lurus, dan aroma kopi yang lebih kuat daripada wangi manis sirup seperti di tempat lain, tid

  • DIPTA   BAB 21 Langkah Lebih Dekat

    Mobil melaju kembali, lampu jalan mulai menari di kaca depan. Hening, tapi tidak canggung hanya ruang yang penuh konsentrasi. Aira masih merasakan sisa hangat di pergelangan tangannya, sedangkan Dipta memutar-mutar setir dengan tenang, matanya fokus ke depan, tapi pikirannya masih tertuju pada resp

  • DIPTA   BAB 19 Hari Pertemuan Kedua

    Sabtu pagi, jam menunjukkan pukul 06.12. Padahal biasanya Aira baru benar-benar bangun pukul tujuh saat tidak ada sekolah. Matanya sudah terbuka sejak lima belas menit lalu. Ia menatap langit-langit kamar, diam untuk beberapa waktu. Lalu memiringkan tubuh, mengambil ponsel di meja samping ranjang, t

  • DIPTA   BAB 18 Perubahan dan H-1 Pertemuan

    Jum'at, saat jam istirahat pertama selalu jadi waktu yang paling bising di sekolah. Tapi koridor lantai dua hari itu justru terasa lebih lengang. Mungkin karena sebagian besar siswa turun ke kantin. Cahaya matahari masuk dari jendela panjang, memantul di lantai keramik yang sedikit kusam. Aira ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status