MasukHari itu, Dipta duduk di kelas XII IPS 1 sambil membaca catatan ekonomi. Tapi matanya tidak sepenuhnya fokus pada buku, tatapannya sesekali tertuju ke kelas XI IPA 2, tepatnya ke Aira yang sedang menulis catatan di meja dekat jendela.
“Hmm… berbeda dari yang lain", pikirnya dalam hati. Bukan karena dia jatuh hati, tapi karena pola Aira menarik, lugu, cerdas, tapi tetap ceria. Ada sesuatu yang membuatnya ingin menang taruhan ini, bukan sekadar ikut-ikutan. Teman-temannya Angger, Bayu, Raka, dan David masih mendekati Aira dengan cara masing-masing. Tapi Dipta mulai membuat strategi sendiri, lebih intens tapi tetap misterius, lebih sering berada di dekat Aira saat ada kesempatan. Di perpustakaan, Aira sedang kebingungan mencari buku biologi yang tepat. Beberapa buku yang ia ambil ternyata terlalu ringkas. Dipta lewat, pura-pura tersenggol rak. “Hmm… buku ini terlalu ringkas. Kamu mau aku tunjukkan yang lebih lengkap?” Aira menoleh, sedikit tersipu. “Oh… iya, kalau nggak merepotkan, terima kasih sebelumnya”. Dipta menunjuk beberapa buku dengan gestur halus, menyingkirkan mencari ke rak lain agar Aira bisa melihat bab yang tepat. “Bab ini lebih jelas. Kalau mau, aku bisa jelaskan sedikit intinya.” Aira mengangguk, wajahnya merah muda. Ia mulai menyadari, ada perhatian khusus dari pemuda tinggi itu. Tapi ia tidak tahu alasannya. Suatu sore di lapangan, saat Aira duduk di bangku membaca catatan, Dipta lewat dan menatapnya. “Serius amat baca terus… jangan sampai buku itu bikin kamu pusing”, komentarnya dengan nada sedikit pedas tapi rendah, membuat Aira tersenyum malu. Aira menoleh, mencoba menahan tawa. “Eh… aku biasanya bisa belajar sendiri…”. Dipta mengangkat satu alis, menatap sekilas dengan intens. “Kalau terlalu santai, jangan salahkan aku kalau kamu tertinggal.” Aira menelan ludah, jantungnya berdegup lebih cepat. Tatapan itu, misterius tapi memancing rasa penasaran. Beberapa kali di kelas atau saat jam kosong, Dipta menatap Aira dari jauh. Intens tapi diam. Tidak selalu mendekat, tapi cukup untuk membuat Aira sadar, ada yang berbeda. Sesekali ia menatap saat Aira tersenyum pada teman, sekilas tapi terasa lama. Sesekali ia pura-pura berjalan di lorong dekat Aira, tatapan tidak terlepas sebentar. Sesekali ia sengaja berada di rak buku yang sama, hanya untuk “memantau” dengan alasan membantu. Aira mulai merasa bingung. “Kenapa rasanya dia selalu ada.. tapi bukan teman biasa?” gumamnya. Debaran jantungnya meningkat, wajahnya kembali memerah. Ia belum tahu bahwa perhatian ini adalah bagian dari obsesi Dipta untuk menang taruhan. Hari-hari berikutnya, interaksi kecil seperti ini terus terjadi, Dipta membantu Aira mencari buku yang sulit. Memberikan komentar pedas tapi bikin senyum, yang menimbulkan rasa tertantang dan penasaran. Tatapan intens yang kadang singkat, kadang sedikit lama agar membangun ketegangan halus. Aira mulai sadar ada “perhatian khusus”, tapi ia masih bingung, dan tetap cenderung menjaga jarak sopan. Setiap detik interaksi terasa ringan tapi membuat hatinya tak karuan mulai terasa, jantungnya berdebar saat Dipta ada di dekatnya, wajahnya memerah saat komentar pedas tapi terdengar menyenangkan yang dilempar Dipta, senyumnya selalu muncul tanpa sadar, seolah menandakan chemistry perlahan terbentuk. Teman-temannya mulai sadar, strategi Dipta berbeda dari mereka. Lebih fokus, lebih intens, dan membuat efek ke Humaira lebih kuat. Angger bergumam pelan, “Hmm… Dipta mulai serius ya? Padahal katanya cuma ikut taruhan…” Bayu mengangguk. “Dia mulai berbeda dari kita… lebih menonjol, lebih ‘mengontrol’ situasi.” Raka menambahkan sambil tersenyum, “Efeknya juga paling terlihat ke Aira. Deg-degan paling nyata dibandingkan cara kita.” David diam, mencatat dalam hati. “Ini mulai menjadi kompetisi serius. Tapi tetap harus hati-hati. Aira masih belum sadar apa pun.” Hari itu, didepan kelas XII IPS 1 terasa lebih “hidup” dari biasanya. Angger, Bayu, Raka, dan David saling bertukar pandang dengan senyum tipis, masing-masing membawa strategi berbeda. “Eh… lihat Aira di kantin tadi?”, Angger berbisik sambil menatap teman-temannya. “Aku sengaja duduk dekat dia, tapi Bayu juga tiba-tiba muncul. Ini jadi kayak… siapa yang lebih efektif ya?” Bayu menepuk meja. “Aku cuma bantuin catatan. Tapi efeknya lumayan. Dia terlihat senang dan lugu banget.” Raka tertawa pelan. “Aku bikin dia ketawa di lapangan. Deg-degannya pasti paling kentara kalau sama aku.” David mencondongkan tubuh, menatap Aira dari jauh. “Aku lebih fokus observasi. Tapi aku yakin efeknya diam-diam paling kuat.” Dari kejauhan, Dipta duduk tegap, diam tapi mata tajam selalu mengawasi semua gerak-gerik teman-temannya. Ia tahu persaingan mulai memanas. Ada aura ketegangan kecil di kelas, tapi ia tetap tenang, sambil perlahan memikirkan strategi untuk memastikan Aira tetap aman tapi ia tetap mengontrol situasi. Aira sendiri mulai merasakan ada yang berbeda. Beberapa hal kecil membuatnya bertanyasituas, tatapan orang yang terlalu lama, kadang Angger, kadang Bayu, tapi terutama Dipta. Komentar ringan yang sering muncul akhir-akhir ini, “Eh, jangan lupa catatan ini,” atau "Ini bisa lebih mudah kalau pakai cara ini”. Rumor kecil yang terdengar dari teman sekelas, “Katanya dia murid baru itu disukai banyak orang”, tapi Aira hanya tersenyum seperti biasa dan masa bodoh. Saat ia duduk di kantin dengan buku catatan biologi, Bayu datang membawa jus. “Biar aku yang beliin kamu, biar nggak repot.” Aira menoleh, tersenyum malu. “Ah… nggak apa-apa, aku bisa ambil sendiri kok Kak…” Bayu mengangkat bahu. “Yaudah… tapi aku cuma bantu.” Aira hanya tersenyum, masih seperti biasa, tapi jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Ia merasa ada perhatian lebih, tapi tidak bisa menjelaskan kenapa rasanya berbeda. Saat ketegangan mulai terasa di kelas, beberapa teman mulai berusaha “menonjol” terlalu berlebihan. Angger mencondongkan tubuh ke Aira, berusaha bercanda lucu, tapi agak lebay. Dipta, yang duduk beberapa bangku di depan, menoleh sekilas dengan tatapan intens. “Cukup, Angger,” katanya rendah tapi tegas. “Jangan terlalu keras. Dia baru di sini, santai saja.” Angger sedikit kaget tapi menuruti, matanya berkedip nakal tapi hormat. Bayu, yang ingin memberi catatan tambahan dengan terlalu banyak penjelasan, juga ditegur ringan. “Fokus aja, jangan bikin dia kewalahan.” Dipta tidak banyak bicara, tapi aura dominannya jelas, ia mengawasi, mengontrol situasi, memastikan Aira tetap nyaman, tapi teman-temannya tidak terlalu berlebihan. Di perpustakaan, Aira sedang membaca catatan biologi. Dipta berjalan melewati rak, sengaja melangkah pelan. “Buku itu cukup membantu?” tanyanya rendah, tatapan tajam tapi misterius. Aira menoleh, wajahnya sedikit memerah. “Ah… iya… terima kasih. Aku masih harus banyak belajar.” Dipta mengangguk. “Kalau butuh bantuan, bilang saja. Jangan ragu.” Kembali perhatian Aira diambil alih, ada perhatian khusus. Deg-degan muncul lagi, jantungnya cepat, tapi ia tetap tidak mengerti sepenuhnya. Hari-hari berikutnya, ketegangan terasa di sekolah. Teman-teman Dipta semakin agresif tapi tetap sopan pada Aira, Angger bercanda lebih sering, Bayu lebih banyak memberi catatan, Raka humoris tapi ingin terlihat dekat, dan David tetap observatif tapi lebih sering mendekat. Aira mulai menyadari perbedaan perlakuan, ia tersenyum malu, bingung, dan juga merasa bahwa dia dihargai. Dipta semakin dominan, selalu menegur teman-temannya secara halus tapi tegas, tatapan intens saat mengawasi. Suasana di kantin, lapangan, dan perpustakaan terasa “hidup”. Ada ketegangan halus tapi seru, chemistry mulai terasa tapi Aira masih tetap berada dalam dunianya. Meski Aira merasa akhir-akhir ini, hari-harinya sedikit berbeda. Ada tatapan yang selalu tertuju padanya, kadang Dipta, kadang teman-temannya. Ada komentar ringan yang menyenangkan tapi bikin jantung berdegup, yang terkadang pedas tapi terasa seru baginya. Rumor kecil dari teman yang ia dengar karena Aira yang selalu dihampiri beberapa kakak kelas, ia hanya bisa tersenyum malu. Intensitasnya meningkat sedikit demi sedikit, namun Aira belum juga menyadari jika sudah masuk dalam lingkaran kecil taruhan, belum mengerti perasaan atau strategi mereka. Ia hanya menyadari bahwa kakak kelasnya ini sangat baik dan perhatian padanya.Jam di dinding kamar Aira menunjukkan pukul 15.12. Ia sudah membuka lemari sejak lima menit lalu, tapi belum juga mengambil keputusan.“Kenapa sih susah banget cuma mau makan?” gumamnya pelan.Tangannya menyentuh beberapa gantungan baju. Blus putih? Terlalu formal. Kaos oversized? Terlalu santai. Akhirnya ia mengambil kemeja krem tipis dengan celana hitam sederhana. Rapi, tapi tidak berlebihan. Ia berdiri di depan cermin, rambutnya dibiarkan terurai, lalu ia ikat setengah, lalu dilepas lagi.“Ya ampun, kenapa jadi ribet gini…”, desahnya pelan.Ponselnya berbunyi.Nadhira: "Jadi?"Aira langsung membalas.Aira: "Jadi lah. Cuma makan doang."Tiga detik kemudian.Nadhira: "Cuma makan katanya."Aira mendengus kecil. Lalu membalas lagi. 'Udah sana, kamu fokus hidup kamu sendiri.'Ia meletakkan ponsel di kasur, lalu duduk sebentar. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Padahal ini bukan pertama kalinya ia bicara dengan Dipta. Bukan juga pertama kali mereka duduksendiri, tapi ini di
Pagi itu sekolah terasa seperti biasa, tapi bagi Aira, ada sedikit rasa “tidak biasa” yang sulit dijelaskan. Ia berjalan bersama Nadhira dan Lestari, tas digendong satu sisi, buku di tangan. Suara sepatu beradu dengan lantai keramik, tawa teman-teman terdengar dari beberapa kelas.“Air, nanti istirahat jangan lupa ke kantin, ya?” Lestari mencondongkan tubuh, merapikan rambutnya.“Iya, aku belum sarapan tadi”, jawab Aira ringan, tersenyum sekilas.Langkah mereka melambat saat Aira menangkap sosok yang sudah dikenalnya. Dipta berdiri di ujung koridor, bersandar di dekat jendela. Di dekatnya, Rania tampak tertawa atas sesuatu yang Dipta katakan. Ia terlihat rapi, rambut terurai, dan gesturnya santai.Aira menelan sedikit rasa canggungnya. Tangannya yang memegang buku mengencang. Nadhira menyadari tatapan Aira dan menoleh pelan.“Eh…”, gumamnya.Aira cepat-cepat mengalihkan pandangan, pura-pura merapikan tali tasnya.“Kenapa?”, Lestari menatapnya.“Nggak kok”, jawab Aira, terlalu cepat.B
Pagi itu koridor sekolah lebih ramai dari biasanya. Anak-anak baru selesai upacara dan bergerak ke kelas masing-masing. Suara sepatu beradu dengan lantai, tawa kecil terdengar di beberapa sudut. Aira berjalan bersama Nadhira dan Lestari. Tasnya digendong satu sisi, tangannya memegang buku yang belum sempat dimasukkan ke dalam tas.“Air, nanti istirahat ke kantin ya?”, tanya Lestari sambil merapikan rambutnya.“Iya, aku belum sarapan tadi”, jawab Aira ringan.Langkahnya melambat ketika tanpa sengaja pandangannya menangkap sesuatu di ujung koridor, ada Dipta di sana. Ia berdiri bersandar santai di dekat jendela. Seragamnya rapi seperti biasa, lengan kemeja sedikit digulung. Di depannya berdiri Rania. Rania terlihat lebih rapi dari biasanya. Rambutnya dibiarkan terurai, dan ia tertawa cukup keras atas sesuatu yang Dipta katakan.Aira tidak langsung berhenti, tapi langkahnya otomatis melambat. Tangannya yang memegang buku sedikit mengencang.Rania menyentuh lengan Dipta ringan saat tertaw
Beberapa hari setelah mereka bertukar nomor HP, Aira duduk di kelas kosong XI IPA 2. Di depannya, buku Biologi terbuka lebar, catatan rapi tertata di setiap halaman. Tapi matanya sesekali menatap layar ponsel, jari-jarinya memainkan ujung pena tanpa sadar. Napasnya pendek ketika ia menarik napas dalam-dalam, kemudian mulai mengetik pesan pertama ke Dipta.Aira: "Kak Dipta, aku masih bingung sama diagram sel… bisa jelasin lagi?"Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar. Pesan masuk dari Dipta.Dipta: "Oke… aku jelasin sedikit. Tapi jangan salah paham, diagram sel itu kayak labirin, aku jadi mau ikut nyasar juga"Aira menutup mata sebentar, tersenyum sendiri. Ia kembali menatap catatan, tapi pikirannya entah kenapa melayang membayangkan Dipta dengan ekspresi serius tapi nakal, sedikit menggoda lewat chat itu. Ada hangat yang muncul di dadanya, tanpa ia mengerti dari mana asalnya.Aira: "Hahaha… iya deh, aku coba lagi."Dipta: "Bagus… tapi jangan sampai tersesat di labirin itu ya. Kal
Hari-hari berlanjut, Aira tiba di sekolah lebih awal dari biasanya. Hari ini ada latihan OSIS untuk kegiatan lingkungan sekolah, yang ia ikuti bersama teman dekatnya Nadhira dan Lestari. Meski pagi masih terasa sejuk, hati Aira sedikit berdebar karena ia tahu kemungkinan akan bertemu Dipta di area sekolah, walau mereka beda jurusan.“Nadhira, lihat deh, catatan Biologi aku masih berantakan”, keluh Aira sambil menatap buku di tangan.Nadhira menepuk bahu Aira, tersenyum nakal. “Santai aja, Air… lagian aku pikir kakak kelas itu eh, maksudku, Dipta tidak akan memperhatikanmu kalau kau kelihatan panik, kan?”Aira tersipu, menunduk sebentar. “Eh… jangan bilang gitu, Nadhira… aku nggak tahu juga, kok…”Lestari, yang duduk di samping, tersenyum tipis. “Hati-hati, Air. Kau kelihatan sedikit terganggu tiap kali ada dia. Tapi jangan sampai kehilangan fokus sama latihan hari ini.”Aira menatap keduanya, nyaman itu yang dia rasakan. Kehadiran teman-temannya membuatnya lebih tenang, tapi tetap ada
Pagi itu, udara di SMA terasa hangat, tapi tidak menusuk. Cahaya matahari menembus jendela kelas XI IPA 2, menyorot buku catatan Aira yang rapi. Ia duduk di bangku dekat jendela, mencoba fokus pada pelajaran Biologi. Tapi pikirannya sering melayang ke seseorang yang ia lihat beberapa kali dalam beberapa hari terakhir, pemuda dari kelas XII IPS 1 yang tinggi, rapi, dan selalu tampak fokus. Namanya Dipta. Meski mereka tidak sekelas dan memiliki jurusan berbeda, ada sesuatu pada aura Dipta yang sulit dijelaskan. Matanya sesekali menatap kosong, tapi selalu penuh perhatian terhadap apa yang ia lakukan. Aira menghela napas dan menepuk buku pelan, mencoba menenangkan pikirannya. "Ah.. Jangan mikirin dia terus, Aira…”, gumamnya pelan. Tapi bayangan pemuda itu terus muncul dalam benaknya, membuat hatinya berdebar saat ia menoleh ke lorong, kantin, atau perpustakaan dan tempat-tempat mereka kadang kebetulan bertemu. Jam kosong pertama dimulai. Aira membawa buku catatan Biologi menuju kantin







