Home / Romansa / DIPTA / BAB 7 Perhatian

Share

BAB 7 Perhatian

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-02-26 18:05:31

Pagi itu, udara di SMA terasa hangat, tapi tidak menusuk. Cahaya matahari menembus jendela kelas XI IPA 2, menyorot buku catatan Aira yang rapi. Ia duduk di bangku dekat jendela, mencoba fokus pada pelajaran Biologi. Tapi pikirannya sering melayang ke seseorang yang ia lihat beberapa kali dalam beberapa hari terakhir, pemuda dari kelas XII IPS 1 yang tinggi, rapi, dan selalu tampak fokus. Namanya Dipta. Meski mereka tidak sekelas dan memiliki jurusan berbeda, ada sesuatu pada aura Dipta yang sulit dijelaskan. Matanya sesekali menatap kosong, tapi selalu penuh perhatian terhadap apa yang ia lakukan.

Aira menghela napas dan menepuk buku pelan, mencoba menenangkan pikirannya. "Ah.. Jangan mikirin dia terus, Aira…”, gumamnya pelan.

Tapi bayangan pemuda itu terus muncul dalam benaknya, membuat hatinya berdebar saat ia menoleh ke lorong, kantin, atau perpustakaan dan tempat-tempat mereka kadang kebetulan bertemu.

Jam kosong pertama dimulai. Aira membawa buku catatan Biologi menuju kantin, menyesuaikan diri dengan ritme sekolah baru. Di lorong, ia menatap ke arah kelas XII IPS 1, dan di sana ia melihat Dipta sedang berjalan santai. Kebetulan, mereka berjalan searah di lorong yang sama.

“Eh… kau dari kelas IPA 2, kan?”, sapanya rendah tapi cukup terdengar.

Aira tersipu, menundukkan kepala. “Y-ya… kakak kelas dari IPS 1…”

Dipta tersenyum tipis, aura tenangnya membuat Aira menahan senyum. “Aku sering melihatmu di perpustakaan… sibuk sama catatan, ya?”

Aira mengangguk pelan. “Iya… kadang aku butuh waktu sendiri buat belajar. Tapi… masih menyesuaikan diri.”

Tatapan Dipta hangat tapi tetap misterius. Mereka berjalan berdampingan sebentar sebelum Dipta berbelok ke kelasnya. Momen itu singkat, tapi cukup untuk membuat jantung Aira berdegup lebih cepat.

“Aduh.. Kenapa malah deg-degan gini sih?”, gumamnya dalam hati, menepuk buku dengan tangan gemetar sedikit.

Beberapa jam kemudian, Aira menuju perpustakaan untuk mencari buku tambahan Biologi. Beberapa buku terlihat terlalu ringkas, beberapa terlalu tebal. Saat ia membolak-balik rak, seseorang melangkah pelan di dekatnya. Aira menoleh, dan ternyata itu Dipta. Ia sedang mengambil buku untuk keperluan belajarnya, tapi kebetulan berada di rak yang sama dengan Aira.

“Hmm… buku ini terlalu ringkas. Kau mau aku tunjukkan yang lebih lengkap?”, tanyanya.

Aira tersipu, menundukkan kepala. “Oh… iya, kalau nggak merepotkan, terima kasih…”

Dipta menyingkirkan beberapa buku agar Aira bisa melihat bab yang tepat. “Bab ini lebih jelas. Kalau mau, aku bisa jelaskan sedikit intinya”, katanya sambil tersenyum samar.

Aira mengangguk pelan, wajahnya memerah. Ia mulai menyadari ada perhatian khusus dari pemuda tinggi itu, tapi belum tahu alasannya.

Di sisi lain, beberapa teman Dipta. Angger, Raka, Bayu (XII IPA 3), dan David (XII IPA 2) menyadari perubahan strategi Dipta.

“Hmm… Dipta mulai serius ya? Padahal katanya cuma ikut taruhan…”, gumam Angger, matanya mengikuti gerak-gerik Dipta dari jauh.

Bayu mengangguk. “Dia lebih menonjol dari kita… terutama soal Aira. Efeknya paling terasa.”

Raka tersenyum tipis. “Deg-degannya paling nyata kalau sama Aira. Kita kalah jauh.”

David tetap observatif. "Ini mulai jadi kompetisi serius. Tapi Aira sepertinya belum sadar apa pun.”

Mereka semua tahu, meski Dipta jarang bicara, aura dominannya sudah mulai terasa. Karena mereka berbeda jurusan, interaksi mereka dengan Aira terjadi di area bersama, kantin, lapangan, atau perpustakaan. David, yang masih sama jurusan IPA, punya sedikit keuntungan untuk interaksi lebih dekat, tapi tetap menahan diri, pelan-pelan.

Di kelas Bahasa Inggris, Aira sedang mengerjakan tugas kelompok. Duduk bersebelahan dengan teman sekelasnya, ia sesekali menatap ke lorong di mana ia melihat Dipta sesekali lewat sambil membawa buku. Ia tersenyum sendiri, merasakan gejolak hati yang aneh.

Seorang teman bertanya, “Kamu kenapa, Aira? Kok sering senyum-senyum sendiri?”

Aira hanya tersipu. “Ah… nggak ada apa-apa…”

Dalam hatinya, ia berpikir, “Kenapa setiap dia lewat, rasanya ada yang beda?”

Malamnya, Aira duduk di meja belajarnya di rumah. Ia masih memikirkan hari itu, tatapan singkat, senyum samar, dan ucapan Dipta yang terdengar ringan dan hangat.

“Kenapa rasanya ada yang berbeda sama kakak kelas itu…?” gumamnya, tersenyum tipis.

Ibunya menepuk bahunya. “Hari pertama sekolah baru pasti terasa aneh. Tapi kamu kelihatan menikmati, kan?”

Aira mengangguk. “Iya, Bu… teman-temannya ramah. Tapi aku… merasa penasaran sama satu kakak kelas dari IPS 1…”

Ibunya tersenyum, sambil berlalu pergi membiarkannya sendiri. Aira menulis beberapa catatan tambahan, menutup buku, dan berbaring sejenak sambil tersenyum.

“Besok… harus lebih fokus… tapi rasanya juga ingin lihat dia lagi", pikirnya menatap langit-langit kamar dengan harap-harap canggung.

°

Esoknya, suasana perpustakaan sekolah terasa tenang, hanya terdengar suara halaman buku yang dibolak-balik dan langkah kaki pelajar yang mondar-mandir. Aira duduk di meja pojok dekat jendela, membuka buku Biologi tebal yang baru ia pinjam. Ia mencoba fokus, tapi pikirannya terus melayang ke kakak kelas yang sering ia lihat belakangan ini Dipta.

Beberapa hari terakhir, Aira menyadari ada sesuatu yang berbeda, tatapan sekilas Dipta, komentar ringan tapi hangat, dan momen-momen kebetulan di area bersama yang membuatnya sedikit tersipu. Tapi ia masih bingung, apakah semua ini hanya kebetulan, atau memang perhatian khusus?

Saat Aira sedang mencari buku Biologi tambahan, seseorang lewat di rak yang sama. Aira menoleh, dan ya, lagi-lagi Dipta. Ia tampak sengaja memperhatikan beberapa buku di rak samping, tapi kebetulan berada dekat Aira.

“Hmm… kau tampak kesulitan memilih, ya?”, tanya Dipta rendah, tatapannya intens tapi tidak mengintimidasi.

Aira tersipu, menundukkan kepala. “Ah… iya, aku masih menyesuaikan diri dengan buku-buku ini… kadang terlalu ringkas, kadang terlalu tebal.”

Dipta tersenyum tipis, gesturnya tenang saat menunjuk buku yang menurutnya tepat. “Kalau mau, aku bisa tunjukkan yang lebih lengkap. Bab ini jelas dan gampang dimengerti.”

Aira mengangguk perlahan. Wajahnya merah muda, jantungnya berdetak lebih cepat. “Kenapa tiba-tiba deg-degan lagi sih, tiap dia ada di dekatku?”, pikirnya, menutup buku sebentar sambil menatap rak lain.

Dipta menyingkirkan beberapa buku agar Aira bisa melihat bab yang tepat. Ia menjelaskan sedikit intinya, suara rendah tapi terdengar jelas. “Jadi intinya, kalau fokus di diagram ini, konsepnya lebih mudah dipahami. Kau bisa pakai cara ini untuk belajar sendiri.”

Aira menatapnya, mencoba mencatat sambil tersenyum malu. “Oh… iya… terima kasih. Aku nggak nyangka bisa dijelaskan sebentar aja tapi langsung ngerti.”

“Ya… kadang sederhana itu lebih efektif,” kata Dipta, menatapnya sebentar sebelum mengalihkan pandangan ke rak lain.

Aira menelan ludah. Ada sesuatu di cara Dipta menatapnya, tidak menghakimi, tapi seakan memperhatikan dengan detail. Deg-degan muncul lagi, tapi ia tetap berusaha tenang.

Beberapa menit kemudian, Aira mencoba mengambil buku lain di rak yang sedikit tinggi. Tanpa sadar, tangannya gemetar.

“Perlu bantuan?” suara rendah Dipta terdengar di dekat bahunya.

Aira menoleh, sedikit tersipu. “Ah… iya, kalau nggak merepotkan…”

Dipta dengan cepat dan halus mengambil buku itu dan menyerahkannya ke Aira. Mata mereka bertemu sebentar. Ikatan halus itu terasa, senyum samar, pandangan intens tapi tidak lama, cukup untuk membuat Aira sadar ada sesuatu yang berbeda.

“Kenapa aku merasa dia selalu ada di saat yang tepat… tapi aku masih nggak ngerti alasannya?”, gumamnya dalam hati.

Sepanjang interaksi singkat itu, Aira mulai menyadari. Dipta memperhatikan dengan detail, tapi tidak terlalu mencolok. Gestur dan kata-katanya ringan. Ia merasa dihargai dan diperhatikan, tapi tetap bingung soal maksudnya. Setelah beberapa menit, Dipta melangkah pergi ke rak lain, meninggalkan Aira dengan jantung yang berdegup kencang dan senyum malu di wajahnya.

Aira menghela napas pelan, menatap buku di depannya. “Ah… kenapa rasanya hati ini… berdebar terus ya?”

Dari kejauhan, beberapa teman Dipta (Angger, Raka, Bayu, David) mungkin sedang memperhatikan atau melakukan hal atau urusan mereka masing-masing di perpustakaan. Tapi interaksi Aira dan Dipta tetap terasa lebih intens dan spesial, karena Dipta tahu cara menjaga momen itu agar tidak menonjol, tapi cukup untuk membuat Aira sadar.

Matahari sore hampir condong ke barat. Lapangan sekolah dipenuhi siswa yang sengaja melepas penat setelah jam pelajaran. Aira duduk di bangku pinggir lapangan sambil membaca catatan Biologi yang baru ia salin dari perpustakaan tadi. Angin sore meniup rambutnya pelan, membuat ia sedikit terganggu, tapi ia terlalu asyik dengan catatan itu untuk terlalu peduli.

Tiba-tiba, sebuah bayangan melintasi pandangannya. Dipta berjalan santai di dekat lapangan, tampak casual tapi selalu mengawasi sekeliling. Saat matanya bertemu dengan Aira, ia menyunggingkan senyum tipis tidak terlalu lama, hanya cukup untuk membuat jantung Aira berdegup kencang.

“Aduh… kenapa tiap kali dia menatap, rasanya… aneh banget?”, gumam Aira, menunduk pelan, wajahnya merah muda.

Dipta menghampiri bangku tempat Aira duduk. “Serius amat baca terus… jangan sampai catatan itu bikin pusing,” katanya dengan nada sedikit pedas, tapi rendah dan terdengar santai.

Aira menoleh, mencoba menahan tawa. "Eh… aku biasanya bisa belajar sendiri…”

Dipta mengangkat satu alis, tatapannya intens tapi tidak menakutkan. “Kalau terlalu santai, jangan salahkan aku kalau kau tertinggal.”

Deg-degan Aira meningkat. Tatapan misterius tapi menarik itu membuatnya sulit konsentrasi pada catatan. Ia hanya bisa tersenyum malu, sambil berusaha menulis catatan.

Beberapa teman Dipta dari kelas IPA mulai muncul di area lapangan. Angger, Raka, Bayu mencoba mendekati Aira dengan gaya mereka sendiri, bercanda atau memberi komentar ringan. David tetap observatif, memperhatikan momen-momen antara Dipta dan Aira, tapi tetap sopan karena mereka satu IPA.

“Aku cuma bantuin catatan biologi sedikit… tapi rasanya cukup efektif,” kata Bayu sambil tersenyum, meletakkan buku catatan di samping Aira.

Raka menambahkan dengan humor, “Kalau aku jadi pengamat, deg-degan paling kentara pasti kalau sama aku.”

Aira tersenyum tipis, tapi hatinya tetap terasa hangat dan deg-degan lebih nyata saat Dipta menatapnya sebentar, menegaskan kehadirannya tanpa perlu bicara banyak. Dipta duduk beberapa bangku di dekat Aira, pura-pura melihat catatan sendiri. Sesekali ia menatap Aira sekilas, lama tapi tidak berlebihan. Dan ikatan halus itu, mulai terasa lebih nyata.

Tatapan singkat yang membuat Aira tersipu, senyum samar yang muncul tak sengaja. Aira menyadari bahwa perhatian ini berbeda dari teman-teman lainnya, tapi ia masih bingung dengan maksud Dipta.

Angger, Raka, David, dan Bayu mencoba bersaing dengan cara mereka sendiri, tapi Dipta tetap memimpin secara halus. Menegur ringan jika teman-temannya terlalu berlebihan. Menjaga momen agar Aira tetap nyaman, tapi tetap membangun ketegangan. Tetap diam di saat yang tepat, membuat tatapan dan senyumnya lebih efektif.

Setelah lapangan, Aira menuju kantin untuk membeli minum. Ia duduk sendiri sebentar, membuka catatan. Tiba-tiba, Bayu datang membawa jus.

“Biar aku yang beliin, biar nggak repot,” katanya.

Aira tersenyum malu. “Ah… nggak apa-apa, aku bisa ambil sendiri kok, Kak…”

Bayu mengangkat bahu, tapi tetap tersenyum. “Yaudah… tapi aku cuma bantu.”

Beberapa detik kemudian, Dipta muncul dari sisi lain kantin, membawa buku catatannya. Ia menatap Aira sebentar, senyum tipis kembali muncul.

“Kenapa tiap dia ada, rasanya hati ini berdebar terus ya… tapi aku masih nggak ngerti maksudnya”, gumam Aira, menutup catatannya sebentar dan tersenyum malu.

Malamnya, kamar Aira dipenuhi cahaya hangat dari lampu belajar. Catatan Biologi masih terbuka di meja, tapi pikirannya jauh dari buku. Hari itu terasa berbeda, lebih hidup, lebih seru, tapi juga sedikit membingungkan.

Ia menghela napas pelan, menatap jendela kamar. Suara burung malam dan angin yang masuk lewat jendela membuat pikirannya lebih jernih.

“Kenapa setiap kali dia ada… rasanya jantung ini berdegup aneh?”, gumamnya.

Ia menutup buku sebentar dan menaruh pensil di samping, membiarkan dirinya merenung.

Aira mengingat hari itu di perpmerenung. Cara Dipta menunjukkan buku yang tepat, menjelaskan sedikit intinya. Tatapan intens tapi singkat, membuatnya tersipu. Komentar pedas tapi menyenangkan di lapangan, yang masih terngiang di kepala.

“Kenapa rasanya… berbeda dari teman-teman lain?” pikirnya, tersenyum tipis. Ia menyadari, perhatian Dipta bukan hanya soal bicara atau membantu, tapi juga cara dia hadir di saat yang tepat.

Ia menulis di buku catatannya, tapi bukan soal Biologi. Lebih ke catatan pribadinya.

“Deg-degan… tapi nyaman. Bingung… tapi senang. Kenapa kakak kelas ini selalu muncul di momen yang tepat?”

Ibunya masuk sebentar, membawa segelas teh hangat. “Masih mikirin sekolah baru?”, tanyanya.

Aira tersenyum, menerima teh itu. “Iya, Bu… sekolahnya menyenangkan… tapi ada satu kakak kelas… agak aneh deh rasanya.”

Ibunya tersenyum misterius. “Ah, kenapa aneh? Ada yang spesial ya?”

Aira tersipu, menunduk. “Ah… nggak juga, Bu… cuma… dia… kayak hmm… perhatian tapi misterius gitu.”

Ibunya tertawa ringan. “Kalau begitu… nikmati saja. Tapi jangan sampai lupa belajar, ya.”, nasehat ibunya.

Aira mengangguk sambil tersenyum, merasa nyaman. Kehadiran orang tuanya menenangkan, tapi pikirannya tetap terisi oleh bayangan Dipta dan tatapan intensnya.

Aira juga sadar, beberapa teman Dipta. Angger, Raka, Bayu, dan David kadang ikut muncul di lapangan atau perpustakaan. Meski mereka sopan, Aira merasa sedikit bingung. Kadang ia tersenyum sendiri saat menyadari ada orang yang bersaing untuk perhatian tapi cara mereka berbeda.

“Tapi… rasanya, cara kakak kelas itu… beda. Lebih halus, tapi bikin aku… susah napas.”

Ia menutup catatan dan merebahkan diri sejenak, membiarkan semua perasaan itu mengalir. Senyum tipis muncul, wajahnya memerah sendiri. Dalam pikirannya, Aira belum tahu. Bahwa setiap tatapan, komentar, atau bantuan Dipta bukan sekadar perhatian biasa. Ada strategi halus di balik cara Dipta mendekati dan mengawasinya. Persaingan teman-teman Dipta juga menjadi bagian dari “aturan main” yang tidak ia sadari. Namun, hal itu membuat Aira penasaran dan sedikit tertantang, meski ia sendiri tidak tahu alasannya.

“Entah kenapa, aku ingin tahu lebih banyak tentang dia… tapi juga ingin tetap fokus sama diriku sendiri”, gumamnya.

Ia menatap jendela, bayangan lampu jalan di luar, dan tersenyum. Hari-hari ke depan akan terasa lebih seru dan sedikit membingungkan. Tapi Aira merasa siap, meski rasa penasaran masih menggelayut.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DIPTA   BAB 135 Perkembangan dan Batas

    Askara memang bukan anak yang “baru mulai belajar” seperti kebanyakan anak seusianya. Sejak usia sekitar 1,5 tahun, dia sudah terbiasa melihat huruf, angka, dan pola bahasa setiap hari. Bukan dengan cara dipaksa belajar, tapi lewat kebiasaan kecil di rumah yang tanpa sadar membentuknya. Aira sering menulis kadang di notes, kadang di buku kecil untuk urusan pekerjaannya sebagai penulis novel online. Huruf-huruf itu sering dibuat besar, sengaja, karena ada satu “pembaca kecil” yang selalu penasaran di dekatnya dan pembaca itu adalah Askara. Awalnya hanya menunjuk “Ini apa?” Lalu berubah jadi mengeja pelan. “…A… I… R… A…” Lama-lama anak itu jadi terbiasa. Sampai akhirnya bukan hanya huruf, tapi juga angka, pola, dan logika sederhana ikut masuk tanpa terasa. Sekarang, saat masuk usia playgroup, Askara sudah jauh lebih maju dibanding anak seusianya. Dia sudah bisa membaca kata-kata sederhana dengan cukup lancar, mengenali angka tanpa ragu, bahkan mulai memahami konsep dasar penjumlahan

  • DIPTA   BAB 134 Perubahan

    Sore itu, sekitar jam empat lewat sedikit, suasana rumah mulai berubah lagi. Bukan jadi sepi total tapi jelas lebih ringan. Indri Mahesa dan Hadiyasa Mahesa sudah lebih dulu pamit, disusul Arjito Rajendra dan Linda yang juga akhirnya pulang setelah obrolan panjang yang terasa seperti reuni masa lalu yang terlalu jujur untuk ukuran satu hari. Begitu mobil terakhir keluar dari halaman, rumah itu langsung terasa lebih “longgar”. Aira berdiri di dekat pintu, masih sedikit melamun, seperti otaknya belum selesai memproses semua cerita tadi. Di belakangnya, Dipta baru saja menutup pintu. “Capek?” tanya Dipta pelan. Aira menoleh, lalu menghela napas panjang. “Capek sih. Tapi lebih ke… penuh.” Dipta mengangguk kecil. “Hari ini memang terlalu banyak sejarah yang keluar sekaligus.” Dari ruang tengah, suara kecil terdengar. Askara masih sibuk sendiri, main tanpa peduli dunia orang dewasa yang barusan “rapat besar keluarga”. Aira melirik ke arah suara itu, lalu sedikit tersenyum. “Tapi aneh

  • DIPTA   BAB 133 Nostalgia Para Orang Tua

    Begitu semua sudah masuk, suasana rumah Dipta langsung berubah dari “kunjungan mendadak” jadi “piknik keluarga yang tidak direncanakan”. Dari arah dapur, terdengar suara plastik kresek dan kotak makanan diturunkan satu per satu. Indri Mahesa datang dengan dua tas besar. “Ini Bunda masakin sup, sama lauk ringan.” Belum selesai bicara, dari belakang Linda sudah menyusul sambil meletakkan beberapa kotak. “Ibu bawa makanan favorit kamu juga.” Aira yang berdiri di ruang tengah langsung diam. “Ini rumah atau acara potluck…” gumamnya pelan. Di sisi lain, Askara sudah lebih dulu “sibuk”. Dia duduk di karpet ruang keluarga, membuka satu persatu cemilan yang dibawa Indri dan Linda. “Ini buat aku semua?” Indri langsung tersenyum. “Iya, tapi jangan makan banyak-banyak dulu ya.” Linda ikut menambahkan sambil mengelus kepala Askara. “Kalau ini habis, nanti nenek bikin lagi.” Askara langsung mengangguk serius. “Aku akan evaluasi kualitasnya.” Aira hampir tersedak tawa kecil dengar i

  • DIPTA   BAB 132 Kegiatan Baru

    Perubahan kecil itu mulai kelihatan dari rutinitas harian Aira. Kalau dulu dia masih sering pulang ke rumah orang tuanya, sekarang arah pulangnya pelan-pelan bergeser. Lebih sering ke rumah Dipta . Bukan karena “sudah diumumkan ke dunia luar”, tapi karena di titik ini, itu terasa paling aman dan paling tenang untuk sementara. Awalnya Aira masih canggung. Namun lama-lama, ritme itu terbentuk sendiri. Pulang kerja, makan, istirahat, urus hal kecil rumah, tidur. Sederhana, namun tetap stabil, dan yang paling menarik justru bukan itu. Justru perubahan kecil dari Aira terhadap Askara. “Papa pinjaman.” begitu Askara menyebut Dipta dengan santai, tanpa beban, seperti nama panggilan yang sudah jadi kebiasaan. Dipta awalnya hanya diam mendengar itu. Lalu menatap Askara sebentar. “Pinjaman?” Askara mengangguk polos. “Soalnya papa asli aku belum bisa bareng aku terus.” Aira yang mendengar itu langsung terdiam sebentar. Tidak ada nada sedih yang berlebihan, hanya ada sesuatu yang pelan-pela

  • DIPTA   BAB 131 Runtuh

    Iya, itu justru jadi garis penting yang mereka jaga ketat. Di dalam mobil itu, meskipun suasana mulai lebih tenang, ada satu hal yang tidak berubah: status mereka tetap “tidak diumumkan”. Aira masih memilih diam. Bukan karena tidak percaya, tapi karena situasi di luar belum stabil rumor, tekanan kantor, dan bayang-bayang Andine yang belum selesai benar-benar diputus. Dipta juga tidak memaksa. Dia paham, ini bukan soal ingin disembunyikan selamanya tapi soal waktu yang belum aman. Di perjalanan, Aira sempat bicara pelan tanpa menoleh. “Soal kita… tetap kayak kemarin ya.” Dipta langsung paham maksudnya. “Iya.” jawabnya singkat. Aira melanjutkan, lebih pelan lagi. “Di kantor… tetap biasa.” Dipta mengangguk. “Tetap profesional.” Hening sebentar. Dipta menambahkan, suaranya tenang. “Aku nggak akan maksa kamu ngakuin apa pun ke siapa pun. “…sampai kamu siap.” Aira diam lama. Lalu pelan menjawab. “Aku belum siap.” “Aku tahu.” jawab Dipta singkat, tanpa nada kecewa, tanpa tekanan. A

  • DIPTA   BAB 130 Pagi

    Pagi itu sekitar pukul 06.30. Aira akhirnya bangun dari tidur yang sedikit lebih panjang dari biasanya. Biasanya dia sudah aktif dari jam lima, tapi tubuhnya masih “recovery mode” setelah drama semalam. Dia duduk sebentar di ranjang, lalu keluar kamar tanpa banyak pikir. Di luar kamar, rumah terasa berbeda. Meski sunyi tapi kesunyian itu terasa lebih hangat dan ada satu hal yang langsung menarik perhatiannya aroma masakan. Aira berhenti. “Bau apa ini…” gumamnya pelan. Dia mengikuti arah aroma itu, langkahnya pelan, masih setengah sadar. Rumah ini besar, bahkan terasa seperti bisa “menelan arah” kalau tidak terbiasa. Sampai akhirnya langkahnya terhenti di satu area, sebuah ruangan namun tidak ada pintu. Hanya bukaan lebar yang menyatu dengan interior rumah. Aira melangkah lebih dekat dan dia langsung diam. Di dalamnya bukan ruang kerja, bukan juga ruang tamu, melainkan sebuah area bermain anak. Ada perosotan kecil, kolam bola, rumah-rumahan mini, mainan tertata rapi, dan ruang lua

  • DIPTA   BAB 60 Kedatangan dan Pukulan Kenyataan

    Rumah itu berdiri jauh lebih megah dari yang terakhir kali ia ingat. Arjito Rajendra berdiri di depan gerbang besar, matanya menatap lurus ke arah bangunan luas dengan arsitektur modern yang menjulang elegan. Dulu, tempat ini tidak seperti ini. Masih besar, iya. Tapi belum semewah dan sedingin seka

  • DIPTA   BAB 56 Yang di Siapkan Diam-diam

    Perjalanan pulang terasa seperti mimpi yang terlalu panjang. Aira tidak benar-benar ingat bagaimana ia keluar dari klinik, tidak ingat bagaimana ia naik kendaraan dan tidak ingat jalan yang ia lewati. Semuanya seperti lewat begitu saja, seolah tubuhnya berjalan sendiri, sementara pikirannya terting

  • DIPTA   BAB 54 Yang Takut dan yang Kembali Mendekat

    Pintu kamar tertutup. Begitu kunci terpasang, Aira langsung bersandar di baliknya. Tubuhnya perlahan merosot ke bawah, tangannya menutup mulutnya sendiri, menahan suara yang sejak tadi ia paksa untuk tidak keluar dan saat itu juga semuanya pecah. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi, diam tanp

  • DIPTA   BAB 51 Semakin Menjauh

    Beberapa hari sebelum ujian akhir sekolah dimulai, Dipta semakin jarang punya waktu. Jadwalnya penuh dari pagi sampai sore di sekolah untuk tambahan belajar dan try out, malamnya di rumah atau di apartemen dengan buku-buku dan materi ujian. Karena itu, saat suatu sore Dipta tiba-tiba berkata, “Be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status