Mag-log inPagi itu, udara di SMA terasa hangat, tapi tidak menusuk. Cahaya matahari menembus jendela kelas XI IPA 2, menyorot buku catatan Aira yang rapi. Ia duduk di bangku dekat jendela, mencoba fokus pada pelajaran Biologi. Tapi pikirannya sering melayang ke seseorang yang ia lihat beberapa kali dalam beberapa hari terakhir, pemuda dari kelas XII IPS 1 yang tinggi, rapi, dan selalu tampak fokus. Namanya Dipta. Meski mereka tidak sekelas dan memiliki jurusan berbeda, ada sesuatu pada aura Dipta yang sulit dijelaskan. Matanya sesekali menatap kosong, tapi selalu penuh perhatian terhadap apa yang ia lakukan.
Aira menghela napas dan menepuk buku pelan, mencoba menenangkan pikirannya. "Ah.. Jangan mikirin dia terus, Aira…”, gumamnya pelan. Tapi bayangan pemuda itu terus muncul dalam benaknya, membuat hatinya berdebar saat ia menoleh ke lorong, kantin, atau perpustakaan dan tempat-tempat mereka kadang kebetulan bertemu. Jam kosong pertama dimulai. Aira membawa buku catatan Biologi menuju kantin, menyesuaikan diri dengan ritme sekolah baru. Di lorong, ia menatap ke arah kelas XII IPS 1, dan di sana ia melihat Dipta sedang berjalan santai. Kebetulan, mereka berjalan searah di lorong yang sama. “Eh… kau dari kelas IPA 2, kan?”, sapanya rendah tapi cukup terdengar. Aira tersipu, menundukkan kepala. “Y-ya… kakak kelas dari IPS 1…” Dipta tersenyum tipis, aura tenangnya membuat Aira menahan senyum. “Aku sering melihatmu di perpustakaan… sibuk sama catatan, ya?” Aira mengangguk pelan. “Iya… kadang aku butuh waktu sendiri buat belajar. Tapi… masih menyesuaikan diri.” Tatapan Dipta hangat tapi tetap misterius. Mereka berjalan berdampingan sebentar sebelum Dipta berbelok ke kelasnya. Momen itu singkat, tapi cukup untuk membuat jantung Aira berdegup lebih cepat. “Aduh.. Kenapa malah deg-degan gini sih?”, gumamnya dalam hati, menepuk buku dengan tangan gemetar sedikit. Beberapa jam kemudian, Aira menuju perpustakaan untuk mencari buku tambahan Biologi. Beberapa buku terlihat terlalu ringkas, beberapa terlalu tebal. Saat ia membolak-balik rak, seseorang melangkah pelan di dekatnya. Aira menoleh, dan ternyata itu Dipta. Ia sedang mengambil buku untuk keperluan belajarnya, tapi kebetulan berada di rak yang sama dengan Aira. “Hmm… buku ini terlalu ringkas. Kau mau aku tunjukkan yang lebih lengkap?”, tanyanya. Aira tersipu, menundukkan kepala. “Oh… iya, kalau nggak merepotkan, terima kasih…” Dipta menyingkirkan beberapa buku agar Aira bisa melihat bab yang tepat. “Bab ini lebih jelas. Kalau mau, aku bisa jelaskan sedikit intinya”, katanya sambil tersenyum samar. Aira mengangguk pelan, wajahnya memerah. Ia mulai menyadari ada perhatian khusus dari pemuda tinggi itu, tapi belum tahu alasannya. Di sisi lain, beberapa teman Dipta. Angger, Raka, Bayu (XII IPA 3), dan David (XII IPA 2) menyadari perubahan strategi Dipta. “Hmm… Dipta mulai serius ya? Padahal katanya cuma ikut taruhan…”, gumam Angger, matanya mengikuti gerak-gerik Dipta dari jauh. Bayu mengangguk. “Dia lebih menonjol dari kita… terutama soal Aira. Efeknya paling terasa.” Raka tersenyum tipis. “Deg-degannya paling nyata kalau sama Aira. Kita kalah jauh.” David tetap observatif. "Ini mulai jadi kompetisi serius. Tapi Aira sepertinya belum sadar apa pun.” Mereka semua tahu, meski Dipta jarang bicara, aura dominannya sudah mulai terasa. Karena mereka berbeda jurusan, interaksi mereka dengan Aira terjadi di area bersama, kantin, lapangan, atau perpustakaan. David, yang masih sama jurusan IPA, punya sedikit keuntungan untuk interaksi lebih dekat, tapi tetap menahan diri, pelan-pelan. Di kelas Bahasa Inggris, Aira sedang mengerjakan tugas kelompok. Duduk bersebelahan dengan teman sekelasnya, ia sesekali menatap ke lorong di mana ia melihat Dipta sesekali lewat sambil membawa buku. Ia tersenyum sendiri, merasakan gejolak hati yang aneh. Seorang teman bertanya, “Kamu kenapa, Aira? Kok sering senyum-senyum sendiri?” Aira hanya tersipu. “Ah… nggak ada apa-apa…” Dalam hatinya, ia berpikir, “Kenapa setiap dia lewat, rasanya ada yang beda?” Malamnya, Aira duduk di meja belajarnya di rumah. Ia masih memikirkan hari itu, tatapan singkat, senyum samar, dan ucapan Dipta yang terdengar ringan dan hangat. “Kenapa rasanya ada yang berbeda sama kakak kelas itu…?” gumamnya, tersenyum tipis. Ibunya menepuk bahunya. “Hari pertama sekolah baru pasti terasa aneh. Tapi kamu kelihatan menikmati, kan?” Aira mengangguk. “Iya, Bu… teman-temannya ramah. Tapi aku… merasa penasaran sama satu kakak kelas dari IPS 1…” Ibunya tersenyum, sambil berlalu pergi membiarkannya sendiri. Aira menulis beberapa catatan tambahan, menutup buku, dan berbaring sejenak sambil tersenyum. “Besok… harus lebih fokus… tapi rasanya juga ingin lihat dia lagi", pikirnya menatap langit-langit kamar dengan harap-harap canggung. ° Esoknya, suasana perpustakaan sekolah terasa tenang, hanya terdengar suara halaman buku yang dibolak-balik dan langkah kaki pelajar yang mondar-mandir. Aira duduk di meja pojok dekat jendela, membuka buku Biologi tebal yang baru ia pinjam. Ia mencoba fokus, tapi pikirannya terus melayang ke kakak kelas yang sering ia lihat belakangan ini Dipta. Beberapa hari terakhir, Aira menyadari ada sesuatu yang berbeda, tatapan sekilas Dipta, komentar ringan tapi hangat, dan momen-momen kebetulan di area bersama yang membuatnya sedikit tersipu. Tapi ia masih bingung, apakah semua ini hanya kebetulan, atau memang perhatian khusus? Saat Aira sedang mencari buku Biologi tambahan, seseorang lewat di rak yang sama. Aira menoleh, dan ya, lagi-lagi Dipta. Ia tampak sengaja memperhatikan beberapa buku di rak samping, tapi kebetulan berada dekat Aira. “Hmm… kau tampak kesulitan memilih, ya?”, tanya Dipta rendah, tatapannya intens tapi tidak mengintimidasi. Aira tersipu, menundukkan kepala. “Ah… iya, aku masih menyesuaikan diri dengan buku-buku ini… kadang terlalu ringkas, kadang terlalu tebal.” Dipta tersenyum tipis, gesturnya tenang saat menunjuk buku yang menurutnya tepat. “Kalau mau, aku bisa tunjukkan yang lebih lengkap. Bab ini jelas dan gampang dimengerti.” Aira mengangguk perlahan. Wajahnya merah muda, jantungnya berdetak lebih cepat. “Kenapa tiba-tiba deg-degan lagi sih, tiap dia ada di dekatku?”, pikirnya, menutup buku sebentar sambil menatap rak lain. Dipta menyingkirkan beberapa buku agar Aira bisa melihat bab yang tepat. Ia menjelaskan sedikit intinya, suara rendah tapi terdengar jelas. “Jadi intinya, kalau fokus di diagram ini, konsepnya lebih mudah dipahami. Kau bisa pakai cara ini untuk belajar sendiri.” Aira menatapnya, mencoba mencatat sambil tersenyum malu. “Oh… iya… terima kasih. Aku nggak nyangka bisa dijelaskan sebentar aja tapi langsung ngerti.” “Ya… kadang sederhana itu lebih efektif,” kata Dipta, menatapnya sebentar sebelum mengalihkan pandangan ke rak lain. Aira menelan ludah. Ada sesuatu di cara Dipta menatapnya, tidak menghakimi, tapi seakan memperhatikan dengan detail. Deg-degan muncul lagi, tapi ia tetap berusaha tenang. Beberapa menit kemudian, Aira mencoba mengambil buku lain di rak yang sedikit tinggi. Tanpa sadar, tangannya gemetar. “Perlu bantuan?” suara rendah Dipta terdengar di dekat bahunya. Aira menoleh, sedikit tersipu. “Ah… iya, kalau nggak merepotkan…” Dipta dengan cepat dan halus mengambil buku itu dan menyerahkannya ke Aira. Mata mereka bertemu sebentar. Ikatan halus itu terasa, senyum samar, pandangan intens tapi tidak lama, cukup untuk membuat Aira sadar ada sesuatu yang berbeda. “Kenapa aku merasa dia selalu ada di saat yang tepat… tapi aku masih nggak ngerti alasannya?”, gumamnya dalam hati. Sepanjang interaksi singkat itu, Aira mulai menyadari. Dipta memperhatikan dengan detail, tapi tidak terlalu mencolok. Gestur dan kata-katanya ringan. Ia merasa dihargai dan diperhatikan, tapi tetap bingung soal maksudnya. Setelah beberapa menit, Dipta melangkah pergi ke rak lain, meninggalkan Aira dengan jantung yang berdegup kencang dan senyum malu di wajahnya. Aira menghela napas pelan, menatap buku di depannya. “Ah… kenapa rasanya hati ini… berdebar terus ya?” Dari kejauhan, beberapa teman Dipta (Angger, Raka, Bayu, David) mungkin sedang memperhatikan atau melakukan hal atau urusan mereka masing-masing di perpustakaan. Tapi interaksi Aira dan Dipta tetap terasa lebih intens dan spesial, karena Dipta tahu cara menjaga momen itu agar tidak menonjol, tapi cukup untuk membuat Aira sadar. Matahari sore hampir condong ke barat. Lapangan sekolah dipenuhi siswa yang sengaja melepas penat setelah jam pelajaran. Aira duduk di bangku pinggir lapangan sambil membaca catatan Biologi yang baru ia salin dari perpustakaan tadi. Angin sore meniup rambutnya pelan, membuat ia sedikit terganggu, tapi ia terlalu asyik dengan catatan itu untuk terlalu peduli. Tiba-tiba, sebuah bayangan melintasi pandangannya. Dipta berjalan santai di dekat lapangan, tampak casual tapi selalu mengawasi sekeliling. Saat matanya bertemu dengan Aira, ia menyunggingkan senyum tipis tidak terlalu lama, hanya cukup untuk membuat jantung Aira berdegup kencang. “Aduh… kenapa tiap kali dia menatap, rasanya… aneh banget?”, gumam Aira, menunduk pelan, wajahnya merah muda. Dipta menghampiri bangku tempat Aira duduk. “Serius amat baca terus… jangan sampai catatan itu bikin pusing,” katanya dengan nada sedikit pedas, tapi rendah dan terdengar santai. Aira menoleh, mencoba menahan tawa. "Eh… aku biasanya bisa belajar sendiri…” Dipta mengangkat satu alis, tatapannya intens tapi tidak menakutkan. “Kalau terlalu santai, jangan salahkan aku kalau kau tertinggal.” Deg-degan Aira meningkat. Tatapan misterius tapi menarik itu membuatnya sulit konsentrasi pada catatan. Ia hanya bisa tersenyum malu, sambil berusaha menulis catatan. Beberapa teman Dipta dari kelas IPA mulai muncul di area lapangan. Angger, Raka, Bayu mencoba mendekati Aira dengan gaya mereka sendiri, bercanda atau memberi komentar ringan. David tetap observatif, memperhatikan momen-momen antara Dipta dan Aira, tapi tetap sopan karena mereka satu IPA. “Aku cuma bantuin catatan biologi sedikit… tapi rasanya cukup efektif,” kata Bayu sambil tersenyum, meletakkan buku catatan di samping Aira. Raka menambahkan dengan humor, “Kalau aku jadi pengamat, deg-degan paling kentara pasti kalau sama aku.” Aira tersenyum tipis, tapi hatinya tetap terasa hangat dan deg-degan lebih nyata saat Dipta menatapnya sebentar, menegaskan kehadirannya tanpa perlu bicara banyak. Dipta duduk beberapa bangku di dekat Aira, pura-pura melihat catatan sendiri. Sesekali ia menatap Aira sekilas, lama tapi tidak berlebihan. Dan ikatan halus itu, mulai terasa lebih nyata. Tatapan singkat yang membuat Aira tersipu, senyum samar yang muncul tak sengaja. Aira menyadari bahwa perhatian ini berbeda dari teman-teman lainnya, tapi ia masih bingung dengan maksud Dipta. Angger, Raka, David, dan Bayu mencoba bersaing dengan cara mereka sendiri, tapi Dipta tetap memimpin secara halus. Menegur ringan jika teman-temannya terlalu berlebihan. Menjaga momen agar Aira tetap nyaman, tapi tetap membangun ketegangan. Tetap diam di saat yang tepat, membuat tatapan dan senyumnya lebih efektif. Setelah lapangan, Aira menuju kantin untuk membeli minum. Ia duduk sendiri sebentar, membuka catatan. Tiba-tiba, Bayu datang membawa jus. “Biar aku yang beliin, biar nggak repot,” katanya. Aira tersenyum malu. “Ah… nggak apa-apa, aku bisa ambil sendiri kok, Kak…” Bayu mengangkat bahu, tapi tetap tersenyum. “Yaudah… tapi aku cuma bantu.” Beberapa detik kemudian, Dipta muncul dari sisi lain kantin, membawa buku catatannya. Ia menatap Aira sebentar, senyum tipis kembali muncul. “Kenapa tiap dia ada, rasanya hati ini berdebar terus ya… tapi aku masih nggak ngerti maksudnya”, gumam Aira, menutup catatannya sebentar dan tersenyum malu. Malamnya, kamar Aira dipenuhi cahaya hangat dari lampu belajar. Catatan Biologi masih terbuka di meja, tapi pikirannya jauh dari buku. Hari itu terasa berbeda, lebih hidup, lebih seru, tapi juga sedikit membingungkan. Ia menghela napas pelan, menatap jendela kamar. Suara burung malam dan angin yang masuk lewat jendela membuat pikirannya lebih jernih. “Kenapa setiap kali dia ada… rasanya jantung ini berdegup aneh?”, gumamnya. Ia menutup buku sebentar dan menaruh pensil di samping, membiarkan dirinya merenung. Aira mengingat hari itu di perpmerenung. Cara Dipta menunjukkan buku yang tepat, menjelaskan sedikit intinya. Tatapan intens tapi singkat, membuatnya tersipu. Komentar pedas tapi menyenangkan di lapangan, yang masih terngiang di kepala. “Kenapa rasanya… berbeda dari teman-teman lain?” pikirnya, tersenyum tipis. Ia menyadari, perhatian Dipta bukan hanya soal bicara atau membantu, tapi juga cara dia hadir di saat yang tepat. Ia menulis di buku catatannya, tapi bukan soal Biologi. Lebih ke catatan pribadinya. “Deg-degan… tapi nyaman. Bingung… tapi senang. Kenapa kakak kelas ini selalu muncul di momen yang tepat?” Ibunya masuk sebentar, membawa segelas teh hangat. “Masih mikirin sekolah baru?”, tanyanya. Aira tersenyum, menerima teh itu. “Iya, Bu… sekolahnya menyenangkan… tapi ada satu kakak kelas… agak aneh deh rasanya.” Ibunya tersenyum misterius. “Ah, kenapa aneh? Ada yang spesial ya?” Aira tersipu, menunduk. “Ah… nggak juga, Bu… cuma… dia… kayak hmm… perhatian tapi misterius gitu.” Ibunya tertawa ringan. “Kalau begitu… nikmati saja. Tapi jangan sampai lupa belajar, ya.”, nasehat ibunya. Aira mengangguk sambil tersenyum, merasa nyaman. Kehadiran orang tuanya menenangkan, tapi pikirannya tetap terisi oleh bayangan Dipta dan tatapan intensnya. Aira juga sadar, beberapa teman Dipta. Angger, Raka, Bayu, dan David kadang ikut muncul di lapangan atau perpustakaan. Meski mereka sopan, Aira merasa sedikit bingung. Kadang ia tersenyum sendiri saat menyadari ada orang yang bersaing untuk perhatian tapi cara mereka berbeda. “Tapi… rasanya, cara kakak kelas itu… beda. Lebih halus, tapi bikin aku… susah napas.” Ia menutup catatan dan merebahkan diri sejenak, membiarkan semua perasaan itu mengalir. Senyum tipis muncul, wajahnya memerah sendiri. Dalam pikirannya, Aira belum tahu. Bahwa setiap tatapan, komentar, atau bantuan Dipta bukan sekadar perhatian biasa. Ada strategi halus di balik cara Dipta mendekati dan mengawasinya. Persaingan teman-teman Dipta juga menjadi bagian dari “aturan main” yang tidak ia sadari. Namun, hal itu membuat Aira penasaran dan sedikit tertantang, meski ia sendiri tidak tahu alasannya. “Entah kenapa, aku ingin tahu lebih banyak tentang dia… tapi juga ingin tetap fokus sama diriku sendiri”, gumamnya. Ia menatap jendela, bayangan lampu jalan di luar, dan tersenyum. Hari-hari ke depan akan terasa lebih seru dan sedikit membingungkan. Tapi Aira merasa siap, meski rasa penasaran masih menggelayut.Ruang audit internal itu terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena AC, justru karena tidak ada lagi ruang untuk “alasan sosial”. Hanya ada meja, laptop, dan dua orang auditor yang sudah tidak tertarik pada emosi hanya fakta. Rania duduk, tangannya mulai tidak setenang sebelumnya. Di depan layar, log komunikasi kembali ditampilkan. Nama-nama, waktu, akses, percakapan singkat. Semuanya terlalu rapi untuk bisa dibantah sepenuhnya. “Akses ini Anda lakukan atas instruksi siapa?” tanya auditor lagi. Rania diam, kali ini tidak seperti awal yang masih bisa pura-pura tenang. Diamnya lebih berat. “Saya hanya membantu.” jawabnya akhirnya. Auditor tidak langsung bereaksi, hanya geser satu file lagi. “Ini bukan bantuan internal biasa. Ini melibatkan koordinasi dengan pihak luar perusahaan.” Rania menelan ludah. Di sisi lain gedung, ruang kerja Dipta. Aira duduk di sofa, membaca beberapa dokumen kecil di tablet. Namun telinganya jelas “setengah fokus” ke arah ini. “Dia mulai tertekan.”
Aira menutup pintu ruang kerja Dipta pelan. Begitu bunyi klik terdengar bahunya langsung turun sedikit. Seperti ada beban yang baru saja “diizinkan jatuh”. Langkahnya yang tadi di luar terlihat rapi dan tenang, perlahan berubah begitu dia sudah tidak lagi jadi sorotan siapa pun. Baru dua langkah di dalam ruangan, kakinya terasa agak goyah. Bukan jatuh tapi jelas tidak stabil. Aira langsung berhenti, berdiri diam sebentar. Matanya melirik ke lantai, lalu ke kursi terdekat. Seolah sedang “mengkalibrasi ulang” tubuhnya sendiri. “Capek banget ternyata jadi manusia profesional.” gumamnya pelan, nyaris tidak terdengar. Dia menarik napas panjang, lalu duduk di kursi tanpa drama. Baru setelah itu, bahunya benar-benar lemas. Di sisi lain ruangan, Dipta sedang membereskan beberapa dokumen. Dia melirik sekilas, lalu sadar satu hal kecil yang tidak diucapkan Aira tadi di luar. Mode tadi itu bukan stabil, itu mode bertahan hidup. Dipta tidak langsung komentar, hanya saja sudut bibirnya naik s
Priska akhirnya tidak lagi punya ruang untuk bertahan di dalam ruangan itu. Ayahnya berdiri wajahnya tegang, tapi masih berusaha menjaga martabat di depan semua pemegang saham. “Priska.” suaranya rendah, tapi tegas. “Keluar.” Priska menoleh cepat. “Papa, aku bisa jelasin—” “Keluar sekarang.” ulangnya, kali ini lebih dingin. Tidak ada ruang diskusi lagi. Beberapa staf keamanan perusahaan yang sudah memahami situasi langsung melangkah maju, tapi tetap menjaga jarak sopan. Priska mundur setengah langkah. Matanya masih mencari pembelaan ke ruangan, ke Dipta, ke siapa pun. Namun tidak ada yang menyambut itu. Akhirnya, dengan napas yang sudah tidak stabil, dia melangkah keluar ruangan. Pintu tertutup, ruangan kembali hening. Ayah Priska berdiri beberapa detik tanpa bicara. Lalu menarik napas panjang. Mengalihkan fokusnya ke arah Arjito dan Dipta. “Untuk sementara,” ucapnya, “saya mohon kejadian ini tidak keluar dari ranah internal perusahaan.” Nada suaranya berubah dari emosio
Di ruang rapat, suasana masih berjalan normal di permukaan. Presentasi lanjutan terus bergerak, angka-angka proyek, laporan kerja sama, dan proyeksi saham ditampilkan satu per satu.7 Tapi di balik itu. Dipta tidak benar-benar hanya mendengar. Layar kecil di samping laptopnya kembali menyala. Notifikasi sistem CCTV, satu titik rekaman masuk otomatis. Dipta menatap sebentar, tiidak lama tapi cukup untuk menangkap pola. Rak dokumen, pergerakan orang di area luar ruangannya, waktu akses yang tidak seharusnya terjadi, jarinya bergerak pelan di trackpad. Membuka rekaman, layar terlihat koridor dekat ruang kerja Dipta. Beberapa staf lalu-lalu normal. terlihat muncul di sudut frame. Tidak langsung masuk tapi menunggu melihat situasi sekitar. Beberapa detik kemudian, seorang OB datang membawa tray minuman. Kopi dan teh untuk ruang rapat. Rania mendekat, gerakannya terlihat santai seolah hanya lewat. Namun dari sudut kamera tangan Rania bergerak sedikit lebih lama di area tray hanya bebera
Beberapa waktu kemudian, ruangan itu sudah kembali sunyi. Hanya ada suara napas yang perlahan mulai stabil. Dipta duduk di tepi sofa ruang istirahat. Tangannya masih bertumpu di dahi. Matanya terpejam sebentar, seperti sedang mengembalikan kesadaran penuh. Efek yang tadi mengganggu pikirannya, perlahan mulai reda. Sisa-sisanya masih ada tapi sudah jauh lebih bisa dikendalikan. Di sisi lain Aira sudah duduk bersandar di sofa. Bukan duduk tegak lagi lebih ke rebahan setengah sadar. Matanya setengah terbuka, tangannya menutup wajah sebentar. “Dipta…” suaranya pelan banget. “Kamu ini… seriusan…” Dipta melirik sekilas. Ada sedikit senyum tipis di wajahnya. “Tadi kamu bilang bantu.” Aira langsung diam. Lalu hanya bisa menghela napas panjang. “Bantu bukan berarti begini…” gumamnya lemah. Dipta tertawa kecil, suaranya rendah. Masih agak berat, tapi sudah stabil. “Harusnya kamu kabur, "Harusnya kamu mikir dulu…” Balas Aira pelan. “Ini kantor…” Dipta menoleh, tatapannya mulai kemb
Di dalam ruangan suasana sudah panas dan tegang. Detik itu juga Priska bergerak cepat, tangannya langsung mengacak rambutnya sendiri, napasnya dibuat terengah, beberapa kancing bajunya dibuka paksa, kainnya sedikit ditarik hingga tampak kusut. Lalu dia dengan sengaja menampar dirinya sendiri. 'Plak!' Satu tamparan mendarat di pipinya sendiri, keras sekali, dua kali. Sampai meninggalkan bekas kemerahan. Dipta yang melihat itu, matanya langsung menyempit. “Gila… gumamnya pelan. Sekarang dia benar-benar paham, ini bukan sekadar jebakan. Ini sudah dirancang matang. 'Brak!' Pintu terbuka, Aira masuk. Langkahnya cepat, napasnya sedikit memburu dan matanya langsung menyapu ruanga dan berhenti. Di sana di depan matanya seorang wanita dengan pakaian berantakan, duduk di pangkuan suaminya. Hanya satu detik tapi cukup. Tatapan Aira berubah dingin, tajam dan meledak. “Gak tahu malu.” Satu kalimat terucap lain tapi penuh tekanan. Priska sempat pura-pura terkejut, seolah ketahuan.
Hari itu, Dipta duduk di kelas XII IPS 1 sambil membaca catatan ekonomi. Tapi matanya tidak sepenuhnya fokus pada buku, tatapannya sesekali tertuju ke kelas XI IPA 2, tepatnya ke Aira yang sedang menulis catatan di meja dekat jendela.“Hmm… berbeda dari yang lain", pikirnya dalam hati.Bukan karena
Pagi menjelang siang, lapangan sekolah lebih sepi dari biasanya. Angin tipis membuat dedaunan bergetar, dan cahaya matahari yang mulai miring menembus sela-sela pepohonan. Aira duduk di bawah pohon besar, buku biologi di pangkuan, mencoba memahami diagram sel yang rumit. Tiba-tiba, suara ringan
Suasana kelas XI IPA 2 pagi itu lebih tegang dari biasanya. Kertas ulangan biologi sudah dibagikan, masih tertutup di atas meja masing-masing siswa. Suara kipas angin berputar terasa lebih keras karena hampir semua orang diam. Aira duduk tegak. Tangannya berada di atas meja, jari-jarinya saling b
Bel pulang berbunyi nyaring, menggema sampai ke lorong-lorong gedung IPS. Siswa kelas XII IPS 1 mulai beranjak dari kursi mereka. Suara kaki kursi bergeser dan ritsleting tas yang ditarik bersahutan. Di antara keramaian itu, Dipta tetap bergerak dengan ritmenya sendiri. Ia merapikan buku ekonominya







