Home / Romansa / DIPTA / BAB 7 Perhatian

Share

BAB 7 Perhatian

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-02-26 18:05:31

Pagi itu, udara di SMA terasa hangat, tapi tidak menusuk. Cahaya matahari menembus jendela kelas XI IPA 2, menyorot buku catatan Aira yang rapi. Ia duduk di bangku dekat jendela, mencoba fokus pada pelajaran Biologi. Tapi pikirannya sering melayang ke seseorang yang ia lihat beberapa kali dalam beberapa hari terakhir, pemuda dari kelas XII IPS 1 yang tinggi, rapi, dan selalu tampak fokus. Namanya Dipta. Meski mereka tidak sekelas dan memiliki jurusan berbeda, ada sesuatu pada aura Dipta yang sulit dijelaskan. Matanya sesekali menatap kosong, tapi selalu penuh perhatian terhadap apa yang ia lakukan.

Aira menghela napas dan menepuk buku pelan, mencoba menenangkan pikirannya. "Ah.. Jangan mikirin dia terus, Aira…”, gumamnya pelan.

Tapi bayangan pemuda itu terus muncul dalam benaknya, membuat hatinya berdebar saat ia menoleh ke lorong, kantin, atau perpustakaan dan tempat-tempat mereka kadang kebetulan bertemu.

Jam kosong pertama dimulai. Aira membawa buku catatan Biologi menuju kantin, menyesuaikan diri dengan ritme sekolah baru. Di lorong, ia menatap ke arah kelas XII IPS 1, dan di sana ia melihat Dipta sedang berjalan santai. Kebetulan, mereka berjalan searah di lorong yang sama.

“Eh… kau dari kelas IPA 2, kan?”, sapanya rendah tapi cukup terdengar.

Aira tersipu, menundukkan kepala. “Y-ya… kakak kelas dari IPS 1…”

Dipta tersenyum tipis, aura tenangnya membuat Aira menahan senyum. “Aku sering melihatmu di perpustakaan… sibuk sama catatan, ya?”

Aira mengangguk pelan. “Iya… kadang aku butuh waktu sendiri buat belajar. Tapi… masih menyesuaikan diri.”

Tatapan Dipta hangat tapi tetap misterius. Mereka berjalan berdampingan sebentar sebelum Dipta berbelok ke kelasnya. Momen itu singkat, tapi cukup untuk membuat jantung Aira berdegup lebih cepat.

“Aduh.. Kenapa malah deg-degan gini sih?”, gumamnya dalam hati, menepuk buku dengan tangan gemetar sedikit.

Beberapa jam kemudian, Aira menuju perpustakaan untuk mencari buku tambahan Biologi. Beberapa buku terlihat terlalu ringkas, beberapa terlalu tebal. Saat ia membolak-balik rak, seseorang melangkah pelan di dekatnya. Aira menoleh, dan ternyata itu Dipta. Ia sedang mengambil buku untuk keperluan belajarnya, tapi kebetulan berada di rak yang sama dengan Aira.

“Hmm… buku ini terlalu ringkas. Kau mau aku tunjukkan yang lebih lengkap?”, tanyanya.

Aira tersipu, menundukkan kepala. “Oh… iya, kalau nggak merepotkan, terima kasih…”

Dipta menyingkirkan beberapa buku agar Aira bisa melihat bab yang tepat. “Bab ini lebih jelas. Kalau mau, aku bisa jelaskan sedikit intinya”, katanya sambil tersenyum samar.

Aira mengangguk pelan, wajahnya memerah. Ia mulai menyadari ada perhatian khusus dari pemuda tinggi itu, tapi belum tahu alasannya.

Di sisi lain, beberapa teman Dipta. Angger, Raka, Bayu (XII IPA 3), dan David (XII IPA 2) menyadari perubahan strategi Dipta.

“Hmm… Dipta mulai serius ya? Padahal katanya cuma ikut taruhan…”, gumam Angger, matanya mengikuti gerak-gerik Dipta dari jauh.

Bayu mengangguk. “Dia lebih menonjol dari kita… terutama soal Aira. Efeknya paling terasa.”

Raka tersenyum tipis. “Deg-degannya paling nyata kalau sama Aira. Kita kalah jauh.”

David tetap observatif. "Ini mulai jadi kompetisi serius. Tapi Aira sepertinya belum sadar apa pun.”

Mereka semua tahu, meski Dipta jarang bicara, aura dominannya sudah mulai terasa. Karena mereka berbeda jurusan, interaksi mereka dengan Aira terjadi di area bersama, kantin, lapangan, atau perpustakaan. David, yang masih sama jurusan IPA, punya sedikit keuntungan untuk interaksi lebih dekat, tapi tetap menahan diri, pelan-pelan.

Di kelas Bahasa Inggris, Aira sedang mengerjakan tugas kelompok. Duduk bersebelahan dengan teman sekelasnya, ia sesekali menatap ke lorong di mana ia melihat Dipta sesekali lewat sambil membawa buku. Ia tersenyum sendiri, merasakan gejolak hati yang aneh.

Seorang teman bertanya, “Kamu kenapa, Aira? Kok sering senyum-senyum sendiri?”

Aira hanya tersipu. “Ah… nggak ada apa-apa…”

Dalam hatinya, ia berpikir, “Kenapa setiap dia lewat, rasanya ada yang beda?”

Malamnya, Aira duduk di meja belajarnya di rumah. Ia masih memikirkan hari itu, tatapan singkat, senyum samar, dan ucapan Dipta yang terdengar ringan dan hangat.

“Kenapa rasanya ada yang berbeda sama kakak kelas itu…?” gumamnya, tersenyum tipis.

Ibunya menepuk bahunya. “Hari pertama sekolah baru pasti terasa aneh. Tapi kamu kelihatan menikmati, kan?”

Aira mengangguk. “Iya, Bu… teman-temannya ramah. Tapi aku… merasa penasaran sama satu kakak kelas dari IPS 1…”

Ibunya tersenyum, sambil berlalu pergi membiarkannya sendiri. Aira menulis beberapa catatan tambahan, menutup buku, dan berbaring sejenak sambil tersenyum.

“Besok… harus lebih fokus… tapi rasanya juga ingin lihat dia lagi", pikirnya menatap langit-langit kamar dengan harap-harap canggung.

°

Esoknya, suasana perpustakaan sekolah terasa tenang, hanya terdengar suara halaman buku yang dibolak-balik dan langkah kaki pelajar yang mondar-mandir. Aira duduk di meja pojok dekat jendela, membuka buku Biologi tebal yang baru ia pinjam. Ia mencoba fokus, tapi pikirannya terus melayang ke kakak kelas yang sering ia lihat belakangan ini Dipta.

Beberapa hari terakhir, Aira menyadari ada sesuatu yang berbeda, tatapan sekilas Dipta, komentar ringan tapi hangat, dan momen-momen kebetulan di area bersama yang membuatnya sedikit tersipu. Tapi ia masih bingung, apakah semua ini hanya kebetulan, atau memang perhatian khusus?

Saat Aira sedang mencari buku Biologi tambahan, seseorang lewat di rak yang sama. Aira menoleh, dan ya, lagi-lagi Dipta. Ia tampak sengaja memperhatikan beberapa buku di rak samping, tapi kebetulan berada dekat Aira.

“Hmm… kau tampak kesulitan memilih, ya?”, tanya Dipta rendah, tatapannya intens tapi tidak mengintimidasi.

Aira tersipu, menundukkan kepala. “Ah… iya, aku masih menyesuaikan diri dengan buku-buku ini… kadang terlalu ringkas, kadang terlalu tebal.”

Dipta tersenyum tipis, gesturnya tenang saat menunjuk buku yang menurutnya tepat. “Kalau mau, aku bisa tunjukkan yang lebih lengkap. Bab ini jelas dan gampang dimengerti.”

Aira mengangguk perlahan. Wajahnya merah muda, jantungnya berdetak lebih cepat. “Kenapa tiba-tiba deg-degan lagi sih, tiap dia ada di dekatku?”, pikirnya, menutup buku sebentar sambil menatap rak lain.

Dipta menyingkirkan beberapa buku agar Aira bisa melihat bab yang tepat. Ia menjelaskan sedikit intinya, suara rendah tapi terdengar jelas. “Jadi intinya, kalau fokus di diagram ini, konsepnya lebih mudah dipahami. Kau bisa pakai cara ini untuk belajar sendiri.”

Aira menatapnya, mencoba mencatat sambil tersenyum malu. “Oh… iya… terima kasih. Aku nggak nyangka bisa dijelaskan sebentar aja tapi langsung ngerti.”

“Ya… kadang sederhana itu lebih efektif,” kata Dipta, menatapnya sebentar sebelum mengalihkan pandangan ke rak lain.

Aira menelan ludah. Ada sesuatu di cara Dipta menatapnya, tidak menghakimi, tapi seakan memperhatikan dengan detail. Deg-degan muncul lagi, tapi ia tetap berusaha tenang.

Beberapa menit kemudian, Aira mencoba mengambil buku lain di rak yang sedikit tinggi. Tanpa sadar, tangannya gemetar.

“Perlu bantuan?” suara rendah Dipta terdengar di dekat bahunya.

Aira menoleh, sedikit tersipu. “Ah… iya, kalau nggak merepotkan…”

Dipta dengan cepat dan halus mengambil buku itu dan menyerahkannya ke Aira. Mata mereka bertemu sebentar. Ikatan halus itu terasa, senyum samar, pandangan intens tapi tidak lama, cukup untuk membuat Aira sadar ada sesuatu yang berbeda.

“Kenapa aku merasa dia selalu ada di saat yang tepat… tapi aku masih nggak ngerti alasannya?”, gumamnya dalam hati.

Sepanjang interaksi singkat itu, Aira mulai menyadari. Dipta memperhatikan dengan detail, tapi tidak terlalu mencolok. Gestur dan kata-katanya ringan. Ia merasa dihargai dan diperhatikan, tapi tetap bingung soal maksudnya. Setelah beberapa menit, Dipta melangkah pergi ke rak lain, meninggalkan Aira dengan jantung yang berdegup kencang dan senyum malu di wajahnya.

Aira menghela napas pelan, menatap buku di depannya. “Ah… kenapa rasanya hati ini… berdebar terus ya?”

Dari kejauhan, beberapa teman Dipta (Angger, Raka, Bayu, David) mungkin sedang memperhatikan atau melakukan hal atau urusan mereka masing-masing di perpustakaan. Tapi interaksi Aira dan Dipta tetap terasa lebih intens dan spesial, karena Dipta tahu cara menjaga momen itu agar tidak menonjol, tapi cukup untuk membuat Aira sadar.

Matahari sore hampir condong ke barat. Lapangan sekolah dipenuhi siswa yang sengaja melepas penat setelah jam pelajaran. Aira duduk di bangku pinggir lapangan sambil membaca catatan Biologi yang baru ia salin dari perpustakaan tadi. Angin sore meniup rambutnya pelan, membuat ia sedikit terganggu, tapi ia terlalu asyik dengan catatan itu untuk terlalu peduli.

Tiba-tiba, sebuah bayangan melintasi pandangannya. Dipta berjalan santai di dekat lapangan, tampak casual tapi selalu mengawasi sekeliling. Saat matanya bertemu dengan Aira, ia menyunggingkan senyum tipis tidak terlalu lama, hanya cukup untuk membuat jantung Aira berdegup kencang.

“Aduh… kenapa tiap kali dia menatap, rasanya… aneh banget?”, gumam Aira, menunduk pelan, wajahnya merah muda.

Dipta menghampiri bangku tempat Aira duduk. “Serius amat baca terus… jangan sampai catatan itu bikin pusing,” katanya dengan nada sedikit pedas, tapi rendah dan terdengar santai.

Aira menoleh, mencoba menahan tawa. "Eh… aku biasanya bisa belajar sendiri…”

Dipta mengangkat satu alis, tatapannya intens tapi tidak menakutkan. “Kalau terlalu santai, jangan salahkan aku kalau kau tertinggal.”

Deg-degan Aira meningkat. Tatapan misterius tapi menarik itu membuatnya sulit konsentrasi pada catatan. Ia hanya bisa tersenyum malu, sambil berusaha menulis catatan.

Beberapa teman Dipta dari kelas IPA mulai muncul di area lapangan. Angger, Raka, Bayu mencoba mendekati Aira dengan gaya mereka sendiri, bercanda atau memberi komentar ringan. David tetap observatif, memperhatikan momen-momen antara Dipta dan Aira, tapi tetap sopan karena mereka satu IPA.

“Aku cuma bantuin catatan biologi sedikit… tapi rasanya cukup efektif,” kata Bayu sambil tersenyum, meletakkan buku catatan di samping Aira.

Raka menambahkan dengan humor, “Kalau aku jadi pengamat, deg-degan paling kentara pasti kalau sama aku.”

Aira tersenyum tipis, tapi hatinya tetap terasa hangat dan deg-degan lebih nyata saat Dipta menatapnya sebentar, menegaskan kehadirannya tanpa perlu bicara banyak. Dipta duduk beberapa bangku di dekat Aira, pura-pura melihat catatan sendiri. Sesekali ia menatap Aira sekilas, lama tapi tidak berlebihan. Dan ikatan halus itu, mulai terasa lebih nyata.

Tatapan singkat yang membuat Aira tersipu, senyum samar yang muncul tak sengaja. Aira menyadari bahwa perhatian ini berbeda dari teman-teman lainnya, tapi ia masih bingung dengan maksud Dipta.

Angger, Raka, David, dan Bayu mencoba bersaing dengan cara mereka sendiri, tapi Dipta tetap memimpin secara halus. Menegur ringan jika teman-temannya terlalu berlebihan. Menjaga momen agar Aira tetap nyaman, tapi tetap membangun ketegangan. Tetap diam di saat yang tepat, membuat tatapan dan senyumnya lebih efektif.

Setelah lapangan, Aira menuju kantin untuk membeli minum. Ia duduk sendiri sebentar, membuka catatan. Tiba-tiba, Bayu datang membawa jus.

“Biar aku yang beliin, biar nggak repot,” katanya.

Aira tersenyum malu. “Ah… nggak apa-apa, aku bisa ambil sendiri kok, Kak…”

Bayu mengangkat bahu, tapi tetap tersenyum. “Yaudah… tapi aku cuma bantu.”

Beberapa detik kemudian, Dipta muncul dari sisi lain kantin, membawa buku catatannya. Ia menatap Aira sebentar, senyum tipis kembali muncul.

“Kenapa tiap dia ada, rasanya hati ini berdebar terus ya… tapi aku masih nggak ngerti maksudnya”, gumam Aira, menutup catatannya sebentar dan tersenyum malu.

Malamnya, kamar Aira dipenuhi cahaya hangat dari lampu belajar. Catatan Biologi masih terbuka di meja, tapi pikirannya jauh dari buku. Hari itu terasa berbeda, lebih hidup, lebih seru, tapi juga sedikit membingungkan.

Ia menghela napas pelan, menatap jendela kamar. Suara burung malam dan angin yang masuk lewat jendela membuat pikirannya lebih jernih.

“Kenapa setiap kali dia ada… rasanya jantung ini berdegup aneh?”, gumamnya.

Ia menutup buku sebentar dan menaruh pensil di samping, membiarkan dirinya merenung.

Aira mengingat hari itu di perpmerenung. Cara Dipta menunjukkan buku yang tepat, menjelaskan sedikit intinya. Tatapan intens tapi singkat, membuatnya tersipu. Komentar pedas tapi menyenangkan di lapangan, yang masih terngiang di kepala.

“Kenapa rasanya… berbeda dari teman-teman lain?” pikirnya, tersenyum tipis. Ia menyadari, perhatian Dipta bukan hanya soal bicara atau membantu, tapi juga cara dia hadir di saat yang tepat.

Ia menulis di buku catatannya, tapi bukan soal Biologi. Lebih ke catatan pribadinya.

“Deg-degan… tapi nyaman. Bingung… tapi senang. Kenapa kakak kelas ini selalu muncul di momen yang tepat?”

Ibunya masuk sebentar, membawa segelas teh hangat. “Masih mikirin sekolah baru?”, tanyanya.

Aira tersenyum, menerima teh itu. “Iya, Bu… sekolahnya menyenangkan… tapi ada satu kakak kelas… agak aneh deh rasanya.”

Ibunya tersenyum misterius. “Ah, kenapa aneh? Ada yang spesial ya?”

Aira tersipu, menunduk. “Ah… nggak juga, Bu… cuma… dia… kayak hmm… perhatian tapi misterius gitu.”

Ibunya tertawa ringan. “Kalau begitu… nikmati saja. Tapi jangan sampai lupa belajar, ya.”, nasehat ibunya.

Aira mengangguk sambil tersenyum, merasa nyaman. Kehadiran orang tuanya menenangkan, tapi pikirannya tetap terisi oleh bayangan Dipta dan tatapan intensnya.

Aira juga sadar, beberapa teman Dipta. Angger, Raka, Bayu, dan David kadang ikut muncul di lapangan atau perpustakaan. Meski mereka sopan, Aira merasa sedikit bingung. Kadang ia tersenyum sendiri saat menyadari ada orang yang bersaing untuk perhatian tapi cara mereka berbeda.

“Tapi… rasanya, cara kakak kelas itu… beda. Lebih halus, tapi bikin aku… susah napas.”

Ia menutup catatan dan merebahkan diri sejenak, membiarkan semua perasaan itu mengalir. Senyum tipis muncul, wajahnya memerah sendiri. Dalam pikirannya, Aira belum tahu. Bahwa setiap tatapan, komentar, atau bantuan Dipta bukan sekadar perhatian biasa. Ada strategi halus di balik cara Dipta mendekati dan mengawasinya. Persaingan teman-teman Dipta juga menjadi bagian dari “aturan main” yang tidak ia sadari. Namun, hal itu membuat Aira penasaran dan sedikit tertantang, meski ia sendiri tidak tahu alasannya.

“Entah kenapa, aku ingin tahu lebih banyak tentang dia… tapi juga ingin tetap fokus sama diriku sendiri”, gumamnya.

Ia menatap jendela, bayangan lampu jalan di luar, dan tersenyum. Hari-hari ke depan akan terasa lebih seru dan sedikit membingungkan. Tapi Aira merasa siap, meski rasa penasaran masih menggelayut.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DIPTA   BAB 159 Sebelum Acara

    Menjelang sore, suasana rumah sudah kembali hidup seperti biasanya. Dari dapur, aroma masakan mulai menyebar perlahan ke seluruh ruangan. Wangi gurih ayam kremes yang sedang digoreng bercampur dengan aroma rolade yang sudah matang, ditambah tumis kacang panjang yang masih mengeluarkan suara “cesss…” pelan dari wajan. Aira berdiri di depan kompor, rambutnya diikat seadanya, tangannya sibuk bolak-balik antara wajan dan piring. Sesekali ia mencicipi masakan, memastikan rasanya pas. Sementara di sampingnya, Dipta duduk santai di kursi dapur sambil membantu memotong ujung-ujung kacang panjang. Gerakannya rapi, meski jelas bukan ahli dapur, tapi cukup terbiasa. “Yang ini dibuang semua?” tanyanya sambil mengangkat satu potong. Aira melirik sekilas. “Iya, yang keras-keras dibuang. Jangan ikut dimasak nanti susah dimakan.” Dipta mengangguk pelan, lanjut bekerja tanpa banyak komentar. Suasana itu sederhana, tapi terasa hangat. Di kamar, Askara yang tadi tidur siang mulai bergerak pelan. Al

  • DIPTA   BAB 158 Baterai Habis

    Setelah keluar dari butik, mereka tidak langsung pulang. Langkah Aira justru melambat saat melewati deretan restoran di lantai itu. Perutnya sebenarnya sudah mulai terasa kosong, apalagi sejak tadi hanya fokus memilih baju dan “mengawasi” dua orang di belakangnya, satu suami, satu anak. “Aku lapar.” ucap Aira tiba-tiba. Dipta yang berjalan di sampingnya langsung menoleh. “Dari tadi nggak bilang.” Aira mendengus. “Lagi milih baju mana sempat mikirin makan.” Askara yang dengar kata makan langsung bereaksi paling cepat. “MAKAN??” Nada suaranya naik satu oktaf Aira langsung tertawa kecil. “Iya, makan.” “AYO!” katanya sambil langsung menarik tangan Aira. Dipta hanya menggeleng kecil melihat itu. Mereka akhirnya memilih salah satu restoran yang tidak terlalu ramai tapi cukup nyaman. Tempatnya hangat, tidak terlalu formal, cocok untuk makan santai. Begitu duduk, Askara langsung naik ke kursi dengan semangat, bahkan belum lihat menu. “Aku mau ayam!” Aira menghela napas. “Belum liha

  • DIPTA   BAB 157 Undangan Reuni

    Sore itu, Dipta baru saja sampai rumah, masih dengan kemeja kerja yang belum sempat dia ganti. Ponselnya bergetar terus sejak tadi di mobil, tapi baru sekarang dia benar-benar membuka grup lama yang sudah lama sekali tidak aktif. “SMA Garuda – Angkatan Kita” Nama grup yang bahkan sudah hampir dia lupakan. Begitu dibuka, isinya sudah ramai, David, Angger, Bayu, Raka semuanya muncul lagi dengan gaya yang masih sama seperti dulu, hanya saja sekarang ditambah topik kerja, hidup, dan reuni. Dipta membaca beberapa pesan, sudut bibirnya sedikit naik. “Reuni, ya…” gumamnya pelan. Malamnya, saat Aira sedang duduk santai di ruang tengah sambil scroll sesuatu di ponselnya, Dipta duduk di sebelahnya. “Ada undangan.” katanya tiba-tiba. Aira melirik sekilas. “Undangan apa?” “Reuni SMA Garuda.” Aira langsung berhenti scrolling. Dia menoleh penuh. “Reuni?” Dipta mengangguk. “Yang ngundang anak-anak satu angkatan. Di sekolah.” Aira diam sebentar, mencerna. SMA Garuda, tempat yang punya cuku

  • DIPTA   BAB 156 Rencana Honeymoon

    Malam sudah benar-benar tenang ketika mereka berdua akhirnya rebahan di ranjang, bukan dengan suasana lelah seperti beberapa hari sebelumnya, tapi lebih ke kondisi “selesai semua urusan hari itu”. Aira bersandar di dada Dipta, posisinya santai, satu tangannya main pelan di ujung selimut, sementara Dipta menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Lampu kamar sudah diredupkan, menyisakan cahaya hangat yang bikin suasana terasa lebih pelan dari biasanya, tidak ada pembicaraan besar. Sampai Dipta tiba-tiba membuka suara. “Kalau kita honeymoon gimana?” Aira yang sedang santai langsung berhenti sejenak. Dia mengangkat sedikit kepalanya, menoleh ke arah Dipta. “Honeymoon?” ulangnya pelan. Dipta mengangguk, tetap tenang. “Iya.” Aira diam sebentar. Bukan karena tidak mengerti, tapi karena kalimat itu terasa agak… terlambat, dalam arti yang tidak buruk, hanya saja baru sekarang muncul di tengah hidup yang sudah cukup panjang mereka jalani. Dia menghembuskan napas pelan. “Kita honeymoon s

  • DIPTA   BAB 155 Betah

    Begitu keluar dari kamar mandi, Dipta hanya menemukan kamar yang sudah rapi, rapi dalam versi Aira yang khas. Tidak berantakan, tapi juga bukan tipe rapi yang “hotel banget”. Ada sentuhan hidup di sana, tas yang sudah kembali ke tempatnya, bed cover yang sedikit dirapikan, dan aroma samar sabun yang masih tertinggal di udara tapi Aira tidak ada di sana. Dipta berhenti sebentar di tengah langkah. Matanya menyapu kamar, kosong tidak ada tanda-tamda Aira disana. “Ke dapur lagi…” gumamnya pelan, sudah bisa menebak tanpa perlu banyak berpikir. Dia menghela napas kecil, lalu berjalan santai keluar kamar, masih dengan rambut setengah kering dan pakaian rumah yang sederhana. Cincin di jarinya sesekali memantulkan cahaya saat tangannya bergerak, seperti detail kecil yang sebenarnya tidak dia sadari tapi terus “ikut ada”. Begitu sampai di area dapur, benar saja. Aira sudah di sana. Suasana dapur terbuka itu hangat, bukan hanya karena kompor yang menyala, tapi juga karena suara kecil aktivi

  • DIPTA   BAB 154 Kejutan

    Saat Aira masih di kamar mandi, suara air yang jatuh ke lantai keramik memenuhi kamar mandi dengan ritme yang stabil. Rumah sudah kembali tenang, hanya tersisa suara itu dan napas lelah dari dua orang yang baru saja menjalani hari cukup panjang dengan cara masing-masing. Dipta masuk kamar dengan langkah pelan. Dasinya sudah dilepas, jasnya disampirkan di kursi, dan dua kancing atas kemejanya dibiarkan terbuka. Bukan karena gaya, tapi lebih ke tubuhnya yang butuh ruang untuk bernapas setelah seharian penuh aktivitas dan perjalanan. Begitu masuk, matanya langsung menangkap satu hal, tas Aira tergeletak di atas ranjang, seperti biasa. Dipta hanya tersenyum kecil. “Habit baru…” gumamnya pelan, nyaris tidak terdengar. Dia mendekat, merapikan posisi tas itu sedikit ke sisi ranjang, seolah kalau tidak dia rapikan, nanti Aira sendiri akan lupa dan menumpuknya dengan barang lain lagi. Tangannya baru saja hendak menarik tas itu sedikit ketika matanya berhenti pada sebuah paperbag kecil di s

  • DIPTA   BAB 6 Chemistry dan Konflik kecil

    Hari itu, Dipta duduk di kelas XII IPS 1 sambil membaca catatan ekonomi. Tapi matanya tidak sepenuhnya fokus pada buku, tatapannya sesekali tertuju ke kelas XI IPA 2, tepatnya ke Aira yang sedang menulis catatan di meja dekat jendela.“Hmm… berbeda dari yang lain", pikirnya dalam hati.Bukan karena

  • DIPTA   BAB 5 Persaingan dan Strategi

    Pagi menjelang siang, lapangan sekolah lebih sepi dari biasanya. Angin tipis membuat dedaunan bergetar, dan cahaya matahari yang mulai miring menembus sela-sela pepohonan. Aira duduk di bawah pohon besar, buku biologi di pangkuan, mencoba memahami diagram sel yang rumit. Tiba-tiba, suara ringan

  • DIPTA   BAB 2 Mata Yang Mengamati

    Di kelas dekat sisi lapangan, suasana pagi begitu hidup. Beberapa murid masih asyik mengobrol, ada yang menatap papan tulis dengan serius didalam kelas, ada yang memainkan pulpen sambil setengah mengantuk saat berjalan. Di salah satu sisinya, empat murid Angger, Bayu, Raka, dan David duduk berdampi

  • DIPTA   BAB 1 Hari Pertama Humaira

    Humaira Navya Aruna atau biasa akrab dipanggil Aira menatap halaman depan sekolah baru itu dengan mata berbinar campur gugup. Gedung tinggi, cat krem yang rapi, kaca-kaca besar memantulkan cahaya pagi yang lembut. Semua terlihat begitu megah, berbeda dari sekolah lamanya yang sederhana. Jalan setap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status