MasukPagi itu, udara di SMA terasa hangat, tapi tidak menusuk. Cahaya matahari menembus jendela kelas XI IPA 2, menyorot buku catatan Aira yang rapi. Ia duduk di bangku dekat jendela, mencoba fokus pada pelajaran Biologi. Tapi pikirannya sering melayang ke seseorang yang ia lihat beberapa kali dalam beberapa hari terakhir, pemuda dari kelas XII IPS 1 yang tinggi, rapi, dan selalu tampak fokus. Namanya Dipta. Meski mereka tidak sekelas dan memiliki jurusan berbeda, ada sesuatu pada aura Dipta yang sulit dijelaskan. Matanya sesekali menatap kosong, tapi selalu penuh perhatian terhadap apa yang ia lakukan.
Aira menghela napas dan menepuk buku pelan, mencoba menenangkan pikirannya. "Ah.. Jangan mikirin dia terus, Aira…”, gumamnya pelan. Tapi bayangan pemuda itu terus muncul dalam benaknya, membuat hatinya berdebar saat ia menoleh ke lorong, kantin, atau perpustakaan dan tempat-tempat mereka kadang kebetulan bertemu. Jam kosong pertama dimulai. Aira membawa buku catatan Biologi menuju kantin, menyesuaikan diri dengan ritme sekolah baru. Di lorong, ia menatap ke arah kelas XII IPS 1, dan di sana ia melihat Dipta sedang berjalan santai. Kebetulan, mereka berjalan searah di lorong yang sama. “Eh… kau dari kelas IPA 2, kan?”, sapanya rendah tapi cukup terdengar. Aira tersipu, menundukkan kepala. “Y-ya… kakak kelas dari IPS 1…” Dipta tersenyum tipis, aura tenangnya membuat Aira menahan senyum. “Aku sering melihatmu di perpustakaan… sibuk sama catatan, ya?” Aira mengangguk pelan. “Iya… kadang aku butuh waktu sendiri buat belajar. Tapi… masih menyesuaikan diri.” Tatapan Dipta hangat tapi tetap misterius. Mereka berjalan berdampingan sebentar sebelum Dipta berbelok ke kelasnya. Momen itu singkat, tapi cukup untuk membuat jantung Aira berdegup lebih cepat. “Aduh.. Kenapa malah deg-degan gini sih?”, gumamnya dalam hati, menepuk buku dengan tangan gemetar sedikit. Beberapa jam kemudian, Aira menuju perpustakaan untuk mencari buku tambahan Biologi. Beberapa buku terlihat terlalu ringkas, beberapa terlalu tebal. Saat ia membolak-balik rak, seseorang melangkah pelan di dekatnya. Aira menoleh, dan ternyata itu Dipta. Ia sedang mengambil buku untuk keperluan belajarnya, tapi kebetulan berada di rak yang sama dengan Aira. “Hmm… buku ini terlalu ringkas. Kau mau aku tunjukkan yang lebih lengkap?”, tanyanya. Aira tersipu, menundukkan kepala. “Oh… iya, kalau nggak merepotkan, terima kasih…” Dipta menyingkirkan beberapa buku agar Aira bisa melihat bab yang tepat. “Bab ini lebih jelas. Kalau mau, aku bisa jelaskan sedikit intinya”, katanya sambil tersenyum samar. Aira mengangguk pelan, wajahnya memerah. Ia mulai menyadari ada perhatian khusus dari pemuda tinggi itu, tapi belum tahu alasannya. Di sisi lain, beberapa teman Dipta. Angger, Raka, Bayu (XII IPA 3), dan David (XII IPA 2) menyadari perubahan strategi Dipta. “Hmm… Dipta mulai serius ya? Padahal katanya cuma ikut taruhan…”, gumam Angger, matanya mengikuti gerak-gerik Dipta dari jauh. Bayu mengangguk. “Dia lebih menonjol dari kita… terutama soal Aira. Efeknya paling terasa.” Raka tersenyum tipis. “Deg-degannya paling nyata kalau sama Aira. Kita kalah jauh.” David tetap observatif. "Ini mulai jadi kompetisi serius. Tapi Aira sepertinya belum sadar apa pun.” Mereka semua tahu, meski Dipta jarang bicara, aura dominannya sudah mulai terasa. Karena mereka berbeda jurusan, interaksi mereka dengan Aira terjadi di area bersama, kantin, lapangan, atau perpustakaan. David, yang masih sama jurusan IPA, punya sedikit keuntungan untuk interaksi lebih dekat, tapi tetap menahan diri, pelan-pelan. Di kelas Bahasa Inggris, Aira sedang mengerjakan tugas kelompok. Duduk bersebelahan dengan teman sekelasnya, ia sesekali menatap ke lorong di mana ia melihat Dipta sesekali lewat sambil membawa buku. Ia tersenyum sendiri, merasakan gejolak hati yang aneh. Seorang teman bertanya, “Kamu kenapa, Aira? Kok sering senyum-senyum sendiri?” Aira hanya tersipu. “Ah… nggak ada apa-apa…” Dalam hatinya, ia berpikir, “Kenapa setiap dia lewat, rasanya ada yang beda?” Malamnya, Aira duduk di meja belajarnya di rumah. Ia masih memikirkan hari itu, tatapan singkat, senyum samar, dan ucapan Dipta yang terdengar ringan dan hangat. “Kenapa rasanya ada yang berbeda sama kakak kelas itu…?” gumamnya, tersenyum tipis. Ibunya menepuk bahunya. “Hari pertama sekolah baru pasti terasa aneh. Tapi kamu kelihatan menikmati, kan?” Aira mengangguk. “Iya, Bu… teman-temannya ramah. Tapi aku… merasa penasaran sama satu kakak kelas dari IPS 1…” Ibunya tersenyum, sambil berlalu pergi membiarkannya sendiri. Aira menulis beberapa catatan tambahan, menutup buku, dan berbaring sejenak sambil tersenyum. “Besok… harus lebih fokus… tapi rasanya juga ingin lihat dia lagi", pikirnya menatap langit-langit kamar dengan harap-harap canggung. ° Esoknya, suasana perpustakaan sekolah terasa tenang, hanya terdengar suara halaman buku yang dibolak-balik dan langkah kaki pelajar yang mondar-mandir. Aira duduk di meja pojok dekat jendela, membuka buku Biologi tebal yang baru ia pinjam. Ia mencoba fokus, tapi pikirannya terus melayang ke kakak kelas yang sering ia lihat belakangan ini Dipta. Beberapa hari terakhir, Aira menyadari ada sesuatu yang berbeda, tatapan sekilas Dipta, komentar ringan tapi hangat, dan momen-momen kebetulan di area bersama yang membuatnya sedikit tersipu. Tapi ia masih bingung, apakah semua ini hanya kebetulan, atau memang perhatian khusus? Saat Aira sedang mencari buku Biologi tambahan, seseorang lewat di rak yang sama. Aira menoleh, dan ya, lagi-lagi Dipta. Ia tampak sengaja memperhatikan beberapa buku di rak samping, tapi kebetulan berada dekat Aira. “Hmm… kau tampak kesulitan memilih, ya?”, tanya Dipta rendah, tatapannya intens tapi tidak mengintimidasi. Aira tersipu, menundukkan kepala. “Ah… iya, aku masih menyesuaikan diri dengan buku-buku ini… kadang terlalu ringkas, kadang terlalu tebal.” Dipta tersenyum tipis, gesturnya tenang saat menunjuk buku yang menurutnya tepat. “Kalau mau, aku bisa tunjukkan yang lebih lengkap. Bab ini jelas dan gampang dimengerti.” Aira mengangguk perlahan. Wajahnya merah muda, jantungnya berdetak lebih cepat. “Kenapa tiba-tiba deg-degan lagi sih, tiap dia ada di dekatku?”, pikirnya, menutup buku sebentar sambil menatap rak lain. Dipta menyingkirkan beberapa buku agar Aira bisa melihat bab yang tepat. Ia menjelaskan sedikit intinya, suara rendah tapi terdengar jelas. “Jadi intinya, kalau fokus di diagram ini, konsepnya lebih mudah dipahami. Kau bisa pakai cara ini untuk belajar sendiri.” Aira menatapnya, mencoba mencatat sambil tersenyum malu. “Oh… iya… terima kasih. Aku nggak nyangka bisa dijelaskan sebentar aja tapi langsung ngerti.” “Ya… kadang sederhana itu lebih efektif,” kata Dipta, menatapnya sebentar sebelum mengalihkan pandangan ke rak lain. Aira menelan ludah. Ada sesuatu di cara Dipta menatapnya, tidak menghakimi, tapi seakan memperhatikan dengan detail. Deg-degan muncul lagi, tapi ia tetap berusaha tenang. Beberapa menit kemudian, Aira mencoba mengambil buku lain di rak yang sedikit tinggi. Tanpa sadar, tangannya gemetar. “Perlu bantuan?” suara rendah Dipta terdengar di dekat bahunya. Aira menoleh, sedikit tersipu. “Ah… iya, kalau nggak merepotkan…” Dipta dengan cepat dan halus mengambil buku itu dan menyerahkannya ke Aira. Mata mereka bertemu sebentar. Ikatan halus itu terasa, senyum samar, pandangan intens tapi tidak lama, cukup untuk membuat Aira sadar ada sesuatu yang berbeda. “Kenapa aku merasa dia selalu ada di saat yang tepat… tapi aku masih nggak ngerti alasannya?”, gumamnya dalam hati. Sepanjang interaksi singkat itu, Aira mulai menyadari. Dipta memperhatikan dengan detail, tapi tidak terlalu mencolok. Gestur dan kata-katanya ringan. Ia merasa dihargai dan diperhatikan, tapi tetap bingung soal maksudnya. Setelah beberapa menit, Dipta melangkah pergi ke rak lain, meninggalkan Aira dengan jantung yang berdegup kencang dan senyum malu di wajahnya. Aira menghela napas pelan, menatap buku di depannya. “Ah… kenapa rasanya hati ini… berdebar terus ya?” Dari kejauhan, beberapa teman Dipta (Angger, Raka, Bayu, David) mungkin sedang memperhatikan atau melakukan hal atau urusan mereka masing-masing di perpustakaan. Tapi interaksi Aira dan Dipta tetap terasa lebih intens dan spesial, karena Dipta tahu cara menjaga momen itu agar tidak menonjol, tapi cukup untuk membuat Aira sadar. Matahari sore hampir condong ke barat. Lapangan sekolah dipenuhi siswa yang sengaja melepas penat setelah jam pelajaran. Aira duduk di bangku pinggir lapangan sambil membaca catatan Biologi yang baru ia salin dari perpustakaan tadi. Angin sore meniup rambutnya pelan, membuat ia sedikit terganggu, tapi ia terlalu asyik dengan catatan itu untuk terlalu peduli. Tiba-tiba, sebuah bayangan melintasi pandangannya. Dipta berjalan santai di dekat lapangan, tampak casual tapi selalu mengawasi sekeliling. Saat matanya bertemu dengan Aira, ia menyunggingkan senyum tipis tidak terlalu lama, hanya cukup untuk membuat jantung Aira berdegup kencang. “Aduh… kenapa tiap kali dia menatap, rasanya… aneh banget?”, gumam Aira, menunduk pelan, wajahnya merah muda. Dipta menghampiri bangku tempat Aira duduk. “Serius amat baca terus… jangan sampai catatan itu bikin pusing,” katanya dengan nada sedikit pedas, tapi rendah dan terdengar santai. Aira menoleh, mencoba menahan tawa. "Eh… aku biasanya bisa belajar sendiri…” Dipta mengangkat satu alis, tatapannya intens tapi tidak menakutkan. “Kalau terlalu santai, jangan salahkan aku kalau kau tertinggal.” Deg-degan Aira meningkat. Tatapan misterius tapi menarik itu membuatnya sulit konsentrasi pada catatan. Ia hanya bisa tersenyum malu, sambil berusaha menulis catatan. Beberapa teman Dipta dari kelas IPA mulai muncul di area lapangan. Angger, Raka, Bayu mencoba mendekati Aira dengan gaya mereka sendiri, bercanda atau memberi komentar ringan. David tetap observatif, memperhatikan momen-momen antara Dipta dan Aira, tapi tetap sopan karena mereka satu IPA. “Aku cuma bantuin catatan biologi sedikit… tapi rasanya cukup efektif,” kata Bayu sambil tersenyum, meletakkan buku catatan di samping Aira. Raka menambahkan dengan humor, “Kalau aku jadi pengamat, deg-degan paling kentara pasti kalau sama aku.” Aira tersenyum tipis, tapi hatinya tetap terasa hangat dan deg-degan lebih nyata saat Dipta menatapnya sebentar, menegaskan kehadirannya tanpa perlu bicara banyak. Dipta duduk beberapa bangku di dekat Aira, pura-pura melihat catatan sendiri. Sesekali ia menatap Aira sekilas, lama tapi tidak berlebihan. Dan ikatan halus itu, mulai terasa lebih nyata. Tatapan singkat yang membuat Aira tersipu, senyum samar yang muncul tak sengaja. Aira menyadari bahwa perhatian ini berbeda dari teman-teman lainnya, tapi ia masih bingung dengan maksud Dipta. Angger, Raka, David, dan Bayu mencoba bersaing dengan cara mereka sendiri, tapi Dipta tetap memimpin secara halus. Menegur ringan jika teman-temannya terlalu berlebihan. Menjaga momen agar Aira tetap nyaman, tapi tetap membangun ketegangan. Tetap diam di saat yang tepat, membuat tatapan dan senyumnya lebih efektif. Setelah lapangan, Aira menuju kantin untuk membeli minum. Ia duduk sendiri sebentar, membuka catatan. Tiba-tiba, Bayu datang membawa jus. “Biar aku yang beliin, biar nggak repot,” katanya. Aira tersenyum malu. “Ah… nggak apa-apa, aku bisa ambil sendiri kok, Kak…” Bayu mengangkat bahu, tapi tetap tersenyum. “Yaudah… tapi aku cuma bantu.” Beberapa detik kemudian, Dipta muncul dari sisi lain kantin, membawa buku catatannya. Ia menatap Aira sebentar, senyum tipis kembali muncul. “Kenapa tiap dia ada, rasanya hati ini berdebar terus ya… tapi aku masih nggak ngerti maksudnya”, gumam Aira, menutup catatannya sebentar dan tersenyum malu. Malamnya, kamar Aira dipenuhi cahaya hangat dari lampu belajar. Catatan Biologi masih terbuka di meja, tapi pikirannya jauh dari buku. Hari itu terasa berbeda, lebih hidup, lebih seru, tapi juga sedikit membingungkan. Ia menghela napas pelan, menatap jendela kamar. Suara burung malam dan angin yang masuk lewat jendela membuat pikirannya lebih jernih. “Kenapa setiap kali dia ada… rasanya jantung ini berdegup aneh?”, gumamnya. Ia menutup buku sebentar dan menaruh pensil di samping, membiarkan dirinya merenung. Aira mengingat hari itu di perpmerenung. Cara Dipta menunjukkan buku yang tepat, menjelaskan sedikit intinya. Tatapan intens tapi singkat, membuatnya tersipu. Komentar pedas tapi menyenangkan di lapangan, yang masih terngiang di kepala. “Kenapa rasanya… berbeda dari teman-teman lain?” pikirnya, tersenyum tipis. Ia menyadari, perhatian Dipta bukan hanya soal bicara atau membantu, tapi juga cara dia hadir di saat yang tepat. Ia menulis di buku catatannya, tapi bukan soal Biologi. Lebih ke catatan pribadinya. “Deg-degan… tapi nyaman. Bingung… tapi senang. Kenapa kakak kelas ini selalu muncul di momen yang tepat?” Ibunya masuk sebentar, membawa segelas teh hangat. “Masih mikirin sekolah baru?”, tanyanya. Aira tersenyum, menerima teh itu. “Iya, Bu… sekolahnya menyenangkan… tapi ada satu kakak kelas… agak aneh deh rasanya.” Ibunya tersenyum misterius. “Ah, kenapa aneh? Ada yang spesial ya?” Aira tersipu, menunduk. “Ah… nggak juga, Bu… cuma… dia… kayak hmm… perhatian tapi misterius gitu.” Ibunya tertawa ringan. “Kalau begitu… nikmati saja. Tapi jangan sampai lupa belajar, ya.”, nasehat ibunya. Aira mengangguk sambil tersenyum, merasa nyaman. Kehadiran orang tuanya menenangkan, tapi pikirannya tetap terisi oleh bayangan Dipta dan tatapan intensnya. Aira juga sadar, beberapa teman Dipta. Angger, Raka, Bayu, dan David kadang ikut muncul di lapangan atau perpustakaan. Meski mereka sopan, Aira merasa sedikit bingung. Kadang ia tersenyum sendiri saat menyadari ada orang yang bersaing untuk perhatian tapi cara mereka berbeda. “Tapi… rasanya, cara kakak kelas itu… beda. Lebih halus, tapi bikin aku… susah napas.” Ia menutup catatan dan merebahkan diri sejenak, membiarkan semua perasaan itu mengalir. Senyum tipis muncul, wajahnya memerah sendiri. Dalam pikirannya, Aira belum tahu. Bahwa setiap tatapan, komentar, atau bantuan Dipta bukan sekadar perhatian biasa. Ada strategi halus di balik cara Dipta mendekati dan mengawasinya. Persaingan teman-teman Dipta juga menjadi bagian dari “aturan main” yang tidak ia sadari. Namun, hal itu membuat Aira penasaran dan sedikit tertantang, meski ia sendiri tidak tahu alasannya. “Entah kenapa, aku ingin tahu lebih banyak tentang dia… tapi juga ingin tetap fokus sama diriku sendiri”, gumamnya. Ia menatap jendela, bayangan lampu jalan di luar, dan tersenyum. Hari-hari ke depan akan terasa lebih seru dan sedikit membingungkan. Tapi Aira merasa siap, meski rasa penasaran masih menggelayut.Jam di dinding kamar Aira menunjukkan pukul 15.12. Ia sudah membuka lemari sejak lima menit lalu, tapi belum juga mengambil keputusan.“Kenapa sih susah banget cuma mau makan?” gumamnya pelan.Tangannya menyentuh beberapa gantungan baju. Blus putih? Terlalu formal. Kaos oversized? Terlalu santai. Akhirnya ia mengambil kemeja krem tipis dengan celana hitam sederhana. Rapi, tapi tidak berlebihan. Ia berdiri di depan cermin, rambutnya dibiarkan terurai, lalu ia ikat setengah, lalu dilepas lagi.“Ya ampun, kenapa jadi ribet gini…”, desahnya pelan.Ponselnya berbunyi.Nadhira: "Jadi?"Aira langsung membalas.Aira: "Jadi lah. Cuma makan doang."Tiga detik kemudian.Nadhira: "Cuma makan katanya."Aira mendengus kecil. Lalu membalas lagi. 'Udah sana, kamu fokus hidup kamu sendiri.'Ia meletakkan ponsel di kasur, lalu duduk sebentar. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Padahal ini bukan pertama kalinya ia bicara dengan Dipta. Bukan juga pertama kali mereka duduksendiri, tapi ini di
Pagi itu sekolah terasa seperti biasa, tapi bagi Aira, ada sedikit rasa “tidak biasa” yang sulit dijelaskan. Ia berjalan bersama Nadhira dan Lestari, tas digendong satu sisi, buku di tangan. Suara sepatu beradu dengan lantai keramik, tawa teman-teman terdengar dari beberapa kelas.“Air, nanti istirahat jangan lupa ke kantin, ya?” Lestari mencondongkan tubuh, merapikan rambutnya.“Iya, aku belum sarapan tadi”, jawab Aira ringan, tersenyum sekilas.Langkah mereka melambat saat Aira menangkap sosok yang sudah dikenalnya. Dipta berdiri di ujung koridor, bersandar di dekat jendela. Di dekatnya, Rania tampak tertawa atas sesuatu yang Dipta katakan. Ia terlihat rapi, rambut terurai, dan gesturnya santai.Aira menelan sedikit rasa canggungnya. Tangannya yang memegang buku mengencang. Nadhira menyadari tatapan Aira dan menoleh pelan.“Eh…”, gumamnya.Aira cepat-cepat mengalihkan pandangan, pura-pura merapikan tali tasnya.“Kenapa?”, Lestari menatapnya.“Nggak kok”, jawab Aira, terlalu cepat.B
Pagi itu koridor sekolah lebih ramai dari biasanya. Anak-anak baru selesai upacara dan bergerak ke kelas masing-masing. Suara sepatu beradu dengan lantai, tawa kecil terdengar di beberapa sudut. Aira berjalan bersama Nadhira dan Lestari. Tasnya digendong satu sisi, tangannya memegang buku yang belum sempat dimasukkan ke dalam tas.“Air, nanti istirahat ke kantin ya?”, tanya Lestari sambil merapikan rambutnya.“Iya, aku belum sarapan tadi”, jawab Aira ringan.Langkahnya melambat ketika tanpa sengaja pandangannya menangkap sesuatu di ujung koridor, ada Dipta di sana. Ia berdiri bersandar santai di dekat jendela. Seragamnya rapi seperti biasa, lengan kemeja sedikit digulung. Di depannya berdiri Rania. Rania terlihat lebih rapi dari biasanya. Rambutnya dibiarkan terurai, dan ia tertawa cukup keras atas sesuatu yang Dipta katakan.Aira tidak langsung berhenti, tapi langkahnya otomatis melambat. Tangannya yang memegang buku sedikit mengencang.Rania menyentuh lengan Dipta ringan saat tertaw
Beberapa hari setelah mereka bertukar nomor HP, Aira duduk di kelas kosong XI IPA 2. Di depannya, buku Biologi terbuka lebar, catatan rapi tertata di setiap halaman. Tapi matanya sesekali menatap layar ponsel, jari-jarinya memainkan ujung pena tanpa sadar. Napasnya pendek ketika ia menarik napas dalam-dalam, kemudian mulai mengetik pesan pertama ke Dipta.Aira: "Kak Dipta, aku masih bingung sama diagram sel… bisa jelasin lagi?"Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar. Pesan masuk dari Dipta.Dipta: "Oke… aku jelasin sedikit. Tapi jangan salah paham, diagram sel itu kayak labirin, aku jadi mau ikut nyasar juga"Aira menutup mata sebentar, tersenyum sendiri. Ia kembali menatap catatan, tapi pikirannya entah kenapa melayang membayangkan Dipta dengan ekspresi serius tapi nakal, sedikit menggoda lewat chat itu. Ada hangat yang muncul di dadanya, tanpa ia mengerti dari mana asalnya.Aira: "Hahaha… iya deh, aku coba lagi."Dipta: "Bagus… tapi jangan sampai tersesat di labirin itu ya. Kal
Hari-hari berlanjut, Aira tiba di sekolah lebih awal dari biasanya. Hari ini ada latihan OSIS untuk kegiatan lingkungan sekolah, yang ia ikuti bersama teman dekatnya Nadhira dan Lestari. Meski pagi masih terasa sejuk, hati Aira sedikit berdebar karena ia tahu kemungkinan akan bertemu Dipta di area sekolah, walau mereka beda jurusan.“Nadhira, lihat deh, catatan Biologi aku masih berantakan”, keluh Aira sambil menatap buku di tangan.Nadhira menepuk bahu Aira, tersenyum nakal. “Santai aja, Air… lagian aku pikir kakak kelas itu eh, maksudku, Dipta tidak akan memperhatikanmu kalau kau kelihatan panik, kan?”Aira tersipu, menunduk sebentar. “Eh… jangan bilang gitu, Nadhira… aku nggak tahu juga, kok…”Lestari, yang duduk di samping, tersenyum tipis. “Hati-hati, Air. Kau kelihatan sedikit terganggu tiap kali ada dia. Tapi jangan sampai kehilangan fokus sama latihan hari ini.”Aira menatap keduanya, nyaman itu yang dia rasakan. Kehadiran teman-temannya membuatnya lebih tenang, tapi tetap ada
Pagi itu, udara di SMA terasa hangat, tapi tidak menusuk. Cahaya matahari menembus jendela kelas XI IPA 2, menyorot buku catatan Aira yang rapi. Ia duduk di bangku dekat jendela, mencoba fokus pada pelajaran Biologi. Tapi pikirannya sering melayang ke seseorang yang ia lihat beberapa kali dalam beberapa hari terakhir, pemuda dari kelas XII IPS 1 yang tinggi, rapi, dan selalu tampak fokus. Namanya Dipta. Meski mereka tidak sekelas dan memiliki jurusan berbeda, ada sesuatu pada aura Dipta yang sulit dijelaskan. Matanya sesekali menatap kosong, tapi selalu penuh perhatian terhadap apa yang ia lakukan. Aira menghela napas dan menepuk buku pelan, mencoba menenangkan pikirannya. "Ah.. Jangan mikirin dia terus, Aira…”, gumamnya pelan. Tapi bayangan pemuda itu terus muncul dalam benaknya, membuat hatinya berdebar saat ia menoleh ke lorong, kantin, atau perpustakaan dan tempat-tempat mereka kadang kebetulan bertemu. Jam kosong pertama dimulai. Aira membawa buku catatan Biologi menuju kantin







