Se connecterSesi outbound di Rajendra Engineering hampir sampai akhir. Rute terakhir adalah area sungai kecil yang dangkal, tapi arusnya cukup deras dan batu-batu licin membuat langkah harus ekstra hati-hati. Aira berhenti sejenak di pinggir sungai. Matanya menatap aliran air yang bergerak cepat. “Ini serius harus lewat sini…” gumamnya pelan. Jantungnya sudah berdebar dari sebelum masuk. Di sisi lain kelompok, Rania Pradana ikut berjalan di tim yang sama. Tatapannya jatuh ke Aira yang tampak ragu melangkah, ada jeda kecil lalu terjadi senggolan. Senggolan itu tidak terlihat seperti sengaja bagi orang lain hanya saja cukup kuat untuk membuat Aira kehilangan keseimbangan. “…!” Dalam satu detik kaki Aira terpeleset di batu licin, tubuhnya jatuh ke arus sungai. “Aira!!” teriakan dari beberapa anggota tim langsung pecah. • Sesi outbound terakhir di area sungai Rajendra Engineering menjadi bagian yang paling menegangkan sejak pagi. Langit Puncak sudah agak redup, cahaya matahari tertutup pepohon
Setelah makan malam di area outdoor penginapan Rajendra Engineering selesai, suasana langsung berubah jadi lebih santai. Lampu gantung tetap menyala, tapi beberapa karyawan sudah pindah ke area kecil di depan panggung dadakan. Ada acara ringan games, ice breaking dan sedikit hiburan internal. Aira duduk di kursi yang sama seperti tadi dan sayangnya, Dipta masih di sebelahnya. Masih belum pindah dan belum pergi, seolah kursi itu sudah “resmi jadi posisi tetap”. Aira mulai merasa tidak tenang, bukan karena acaranya. Justru karena setiap kali ia bergerak sedikit ada tatapan orang lain yang ikut bergerak juga. “Pak… Bapak nggak ikut ke depan?” bisik Aira pelan. Dipta menatap panggung sebentar. “Tidak.” singkat. Lalu kembali melihat ke depan, tapi tetap tidak pindah. Aira menghela napas kecil. “Iya… baik…” gumamnya dalam hati. “aku yang harus kuat.” Di sisi lain, beberapa karyawan wanita mulai memperhatikan. “Eh serius deket banget ya Pak Dipta sama sekretarisnya…” “Dari tadi duduk
Hari keberangkatan employee gathering di Rajendra Engineering akhirnya tiba. Halaman kantor sudah ramai, karyawan berkumpul di depan beberapa bus besar yang akan membawa mereka ke Puncak, Bogor. Suasana heboh, bercampur tawa dan suara koper digeret. Aira berdiri agak di pinggir. Koper sudah di tangan, namun ia terlihat sedikit bingung. Matanya melirik satu bus, lalu bus lain, tidak banyak yang ia kenal dekat. Sebagian besar masih sebatas rekan kerja formal. “Yang mana ya…” gumamnya pelan. Di saat itu Dipta baru keluar dari gedung. Langkahnya langsung berhenti saat melihat Aira masih berdiri di tempat yang sama. “Belum naik?” tanyanya datar. Aira langsung menoleh. “Saya… masih bingung mau naik bis yang mana, Pak.” jawabnya jujur, agak canggung. Dipta melirik ke arah bus yang sudah penuh karyawan yang ramai dan berisik. Terlalu banyak orang dan entah kenapa itu langsung membuatnya tidak nyaman membayangkan Aira ikut di sana. “Nggak usah.” ucapnya tiba-tiba. Aira langsung men
Pagi di Dipta Niskala Mahesa dimulai seperti biasa rapi, cepat, tanpa banyak jeda. Agenda hari itu jelas, meeting luar dengan klien besar. Dan sesuai ucapannya kemarin, dia tidak membawa Aira ikut serta. “Biar di kantor saja.” Kalimat itu masih teringat, tegas dan profesional. Mobil sudah siap di depan, driver sudah menunggu. Asisten sudah menyiapkan dokumen, tapi entah kenapa Dipta tidak langsung masuk mobil. Ia berdiri sebentar di depan pintu kantor, melirik ke arah dalam seperti kebiasaan kecil yang tidak ia sadari sendiri. Biasanya di sana ada Aira, menyerahkan dokumen terakhir dan mengucapkan “hati-hati, Pak” dengan nada datar tapi sopan, hari ini tidak ada. "Harusnya memang begini.” gumamnya pelan, lalu masuk mobil. Di perjalanan, meeting sudah mulai dipikirkan. Dokumen dicek, catatan dibaca dan ada satu hal kecil yang terus mengganggu ritme pikirannya. Hening yang tidak biasanya ada. Biasanya ada suara ketukan pelan dari meja sekretaris, biasanya ada update singkat dan bia
Meeting di ruang VIP hotel akhirnya selesai. Klien dari Surabaya itu sudah berpamitan dengan sopan, diikuti stafnya yang keluar lebih dulu. Suasana ruangan yang tadi penuh diskusi kini mendadak sunyi. Aira sedang merapikan dokumen di meja seperti biasa, tenang, rapi dan tidak ada yang aneh. Meski ia mulai merasakan sesuatu. Dipta belum berdiri dari kursinya. Biasanya setelah meeting selesai, dia akan langsung memberi instruksi kecil atau bangkit lebih dulu. Kali ini tidak, dia tetap duduk dan diam. Tatapannya ke depan, tapi tidak benar-benar fokus ke apa pun di ruangan itu. Aira melirik sekilas. “Pak?” Tidak ada jawaban langsung, hanya jeda singkat. Baru kemudian Dipta menjawab. “…rapikan file, kita langsung balik.” nada suaranya datar. Aira mengangguk cepat. “Baik, Pak.” Saat ia membungkuk mengambil dokumen, ia merasakan itu lagi. Aura yang berbeda, bukan aura orang yang sedang marah, bukan kesal biasa, radanya ini lebih seperti “tenang yang terlalu dalam”. Dan itu justru yang
Dipta baru sampai di rumahnya sendiri malam itu. Bukan rumah orang tuanya, hanya rumah pribadi yang biasanya sunyi dan memang sengaja ia biarkan sunyi.Ia masuk, menutup pintu, lalu melepas jasnya pelan. Tidak langsung mandi, ia hanya berdiri sebentar di tengah ruang tamu. Lalu satu per satu ingatan hari itu muncul lagi. Di mobil sore tadi, Aira yang duduk di sampingnya, pura-pura fokus ke tablet padahal jelas tidak sepenuhnya tenang. Nada suaranya saat menjawab telepon. “Iya, nanti Mama beli ya.” Lalu suara kecil itu. “Mau es krim. Papa juga mau.” Dipta menutup mata sebentar, bukan karena ia merasa terganggu. Justru karena kalimat itu terlalu “hidup” untuk diabaikan begitu saja. Ia berjalan pelan ke arah jendela rumahnya. Di luar, lampu kota redup. Refleksi dirinya sendiri terlihat di kaca, namun pikirannya tidak sedang melihat dirinya. Melainkan anak kecil yang tadi ia lihat sekilas di depan rumah itu. Askara Satya Rajendra yang lincah berjalan tanpa ragu, tertawa seperti t
Lift sudah menunggu ketika mereka memasuki lobi apartemen. Lampu di dalamnya terang, dindingnya dilapisi cermin dari sisi ke sisi. Pantulan mereka langsung terlihat begitu pintu terbuka. Aira melangkah masuk lebih dulu, lalu berdiri sedikit ke samping. Dipta masuk setelahnya dan menekan tombol lant
Jam di dinding kamar Aira menunjukkan pukul 15.12. Ia sudah membuka lemari sejak lima menit lalu, tapi belum juga mengambil keputusan.“Kenapa sih susah banget cuma mau makan?” gumamnya pelan.Tangannya menyentuh beberapa gantungan baju. Blus putih? Terlalu formal. Kaos oversized? Terlalu santai. A
Beberapa hari setelah mereka bertukar nomor HP, Aira duduk di kelas kosong XI IPA 2. Di depannya, buku Biologi terbuka lebar, catatan rapi tertata di setiap halaman. Tapi matanya sesekali menatap layar ponsel, jari-jarinya memainkan ujung pena tanpa sadar. Napasnya pendek ketika ia menarik napas da
Hari-hari berlanjut, Aira tiba di sekolah lebih awal dari biasanya. Hari ini ada latihan OSIS untuk kegiatan lingkungan sekolah, yang ia ikuti bersama teman dekatnya Nadhira dan Lestari. Meski pagi masih terasa sejuk, hati Aira sedikit berdebar karena ia tahu kemungkinan akan bertemu Dipta di area s







