หน้าหลัก / Romansa / DIPTA / BAB 21 Langkah Lebih Dekat

แชร์

BAB 21 Langkah Lebih Dekat

ผู้เขียน: Adw_Canss781
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-12 17:00:19

Mobil melaju kembali, lampu jalan mulai menari di kaca depan. Hening, tapi tidak canggung hanya ruang yang penuh konsentrasi. Aira masih merasakan sisa hangat di pergelangan tangannya, sedangkan Dipta memutar-mutar setir dengan tenang, matanya fokus ke depan, tapi pikirannya masih tertuju pada respons Aira tadi.

“Kamu nggak nanya apa-apa soal… aku”, ucap Aira akhirnya, suara pelan tapi jelas.

Dipta menoleh separuh, sekadar menepuk setir. “Kenapa harus nanya? Kalau aku ingin kamu tahu, aku bil
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • DIPTA   BAB 164 Lebih Berbahaya

    Priska akhirnya mundur pelan setelah jawaban Dipta yang halus tapi jelas menutup celah. “Iya… nanti aku hubungi lewat kantor aja.” ucapnya, masih berusaha menjaga senyum. Dipta hanya mengangguk. “Iya." ucapnya singkat. Setelah itu Priska pamit, meski sebelum pergi sempat melirik lagi ke arah Dipta, jelas masih ada rasa penasaran. Begitu Priska benar-benar menjauh, teman-temannya barulah bereaksi. “Wihhhhh…” Bayu langsung bersuara pelan tapi panjang. “Selamat ya… lo lulus ujian.” Raka langsung ketawa kecil. “Nyaris lo tadi.” David nyengir. “Kalau tadi lo kasih nomor… selesai hidup lo.” Angger menambahkan santai, “Bukan selesai… tapi masuk babak baru.” Dipta mendengus pelan. “Udah pernah.” jelasnya langsung. Empat orang itu serempak nengok. “Hah?” Bayu. Dipta menghela napas pendek. “Kasus Sania.” Sunyi setengah detik. “OH IYAAAA! Kenapa dengan Sania?Dia nemuin lo lagim” Bayu langsung ingat. Raka ketawa. “Lo balikan?” David geleng-geleng. Dipta cuma menatap datar. “Wa

  • DIPTA   BAB 163 Diawasi

    Bayu yang dari tadi mulai santai, tiba-tiba nyeletuk lagi. “Eh bentar…” Dia menatap Dipta curiga. “Kalau lo nikahnya dari abis lulus…” Raka langsung nangkep arah pikirannya. “…berarti anak lo sekarang udah gede dong?” Semua langsung fokus lagi. Dipta menjawab tanpa ragu. “Iya.” “Umur berapa?” tanya David cepat. “Hampir enam tahun.” “ANJIRRRR?!” Bayu refleks hampir teriak lagi. “WOY!” Raka langsung nyikut dia. Bayu nutup mulut sendiri, tapi matanya masih melotot. “Enam tahun?!” David sampai ketawa nggak percaya. “Gue kira masih balita banget…” Angger geleng pelan sambil senyum tipis. “Berarti dari awal banget ya…” Raka menatap Dipta lebih dalam sekarang. “Ta…” Nada suaranya berubah sedikit. “Berarti… waktu itu Aira hamil?” Dipta tidak menghindar. “Iya.” Bayu kali ini nggak bercanda. “Oh… pantesan.” David menghela napas. “Makanya bokapnya datang minta tanggung jawab.” Dipta mengangguk. Raka menunduk sebentar. “Dan dia… jalanin semua itu sendirian…” Nada suaranya lebih p

  • DIPTA   BAB 162 Aira dalam Cerita Dipta

    Obrolan mereka yang tadinya penuh reaksi kaget perlahan berubah jadi lebih sunyi, nada bercanda mulai hilang. Raka yang dari tadi paling banyak komentar, sekarang malah diam. Tangannya masuk ke saku, matanya sesekali melirik ke arah Aira. “Ta…” suaranya lebih rendah sekarang, “Apa separah itu ya?” Dipta tidak langsung menjawab. Beberapa detik ia hanya berdiri, rahangnya sedikit mengeras seolah menahan sesuatu yang sebenarnya tidak biasa ia keluarkan. “Lebih dari yang kalian bayangin." Bayu yang biasanya paling ceplas-ceplos, kali ini tidak langsung menyahut. Ia cuma menghela napas pelan. “Dia… nanggung sendiri semua itu?” “Iya.” Tidak ada pembelaan dan tidak ada pembenaran, hanya jawaban jujur. David menunduk sedikit, mengusap wajahnya. “Anjir…” Angger yang sejak tadi lebih tenang, kini ikut bicara. “Lo nggak ada sama sekali waktu itu?” Pertanyaan itu sensitif. Tapi Dipta tetap menjawab. “Nggak bisa.” “Kenapa?” refleks Bayu, lalu langsung menyesal setelah sadar. Dipta menat

  • DIPTA   BAB 161 SMA Gaurda

    Saat mobil berhenti di halaman SMA Garuda, suasana sudah cukup ramai. Lampu-lampu aula menyala terang, suara musik dan obrolan terdengar sampai ke luar. Beberapa mobil terparkir rapi, menunjukkan kalau acara ini memang dihadiri banyak orang dari berbagai angkatan. Dipta turun lebih dulu, lalu memutar ke sisi lain membuka pintu untuk Aira. Aira keluar dengan tenang, merapikan sedikit dress-nya. Tatapannya sempat mengarah ke gedung sekolah itu, ada jeda sepersekian detik. Tempat ini, tempat yang seharusnya jadi kenangan biasa, tapi justru menyimpan sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai. “Siap?” tanya Dipta pelan. Aira melirik, lalu mengangguk singkat. “Siap.” Mereka berjalan berdampingan menuju aula. Langkah Dipta tetap tenang, seperti biasa tegap, dingin, penuh kontrol. Sementara Aira di sampingnya terlihat anggun, tapi ada ketegangan halus yang hanya bisa terasa kalau diperhatikan lebih dalam. Begitu masuk ke dalam aula, suasana langsung terasa lebih hidup. Orang-orang be

  • DIPTA   BAB 160 Reuni

    Saat Aira keluar dari kamar mandi dengan dress yang sudah rapi menempel di tubuhnya, suasana kamar terasa lebih tenang. Rambutnya masih setengah basah, ujung-ujungnya meneteskan air yang ia biarkan jatuh begitu saja sebelum akhirnya duduk di depan meja rias. Tangannya bergerak pelan, mengambil cushion, menepuk-nepuk tipis ke wajahnya. Tidak berlebihan, hanya cukup untuk meratakan warna kulit yang sedikit lelah. Lalu concealer tipis di bawah mata, sedikit lipbalm, dan sentuhan halus lain yang hampir tidak terlihat tapi cukup membuat aura wajahnya berubah. Bukan jadi mencolok, hanya terlihat lebih segar. Di saat yang sama, pintu kamar terbuka. Dipta masuk, rambutnya masih sedikit berantakan, kaosnya sudah ia ganti dengan yang lebih santai setelah tadi menemani Askara mandi. Langkahnya sempat terhenti begitu melihat Aira di depan meja rias. Ia tidak langsung bicara hanya berdiri sebentar, memperhatikan. Aira yang awalnya fokus ke cermin akhirnya sadar sedang diperhatikan. Matanya meli

  • DIPTA   BAB 159 Sebelum Acara

    Menjelang sore, suasana rumah sudah kembali hidup seperti biasanya. Dari dapur, aroma masakan mulai menyebar perlahan ke seluruh ruangan. Wangi gurih ayam kremes yang sedang digoreng bercampur dengan aroma rolade yang sudah matang, ditambah tumis kacang panjang yang masih mengeluarkan suara “cesss…” pelan dari wajan. Aira berdiri di depan kompor, rambutnya diikat seadanya, tangannya sibuk bolak-balik antara wajan dan piring. Sesekali ia mencicipi masakan, memastikan rasanya pas. Sementara di sampingnya, Dipta duduk santai di kursi dapur sambil membantu memotong ujung-ujung kacang panjang. Gerakannya rapi, meski jelas bukan ahli dapur, tapi cukup terbiasa. “Yang ini dibuang semua?” tanyanya sambil mengangkat satu potong. Aira melirik sekilas. “Iya, yang keras-keras dibuang. Jangan ikut dimasak nanti susah dimakan.” Dipta mengangguk pelan, lanjut bekerja tanpa banyak komentar. Suasana itu sederhana, tapi terasa hangat. Di kamar, Askara yang tadi tidur siang mulai bergerak pelan. Al

  • DIPTA   BAB 7 Perhatian

    Pagi itu, udara di SMA terasa hangat, tapi tidak menusuk. Cahaya matahari menembus jendela kelas XI IPA 2, menyorot buku catatan Aira yang rapi. Ia duduk di bangku dekat jendela, mencoba fokus pada pelajaran Biologi. Tapi pikirannya sering melayang ke seseorang yang ia lihat beberapa kali dalam beb

  • DIPTA   BAB 3 Taruhan Dimulai

    Bel pulang berbunyi nyaring, menggema sampai ke lorong-lorong gedung IPS. Siswa kelas XII IPS 1 mulai beranjak dari kursi mereka. Suara kaki kursi bergeser dan ritsleting tas yang ditarik bersahutan. Di antara keramaian itu, Dipta tetap bergerak dengan ritmenya sendiri. Ia merapikan buku ekonominya

  • DIPTA   BAB 2 Mata Yang Mengamati

    Di kelas dekat sisi lapangan, suasana pagi begitu hidup. Beberapa murid masih asyik mengobrol, ada yang menatap papan tulis dengan serius didalam kelas, ada yang memainkan pulpen sambil setengah mengantuk saat berjalan. Di salah satu sisinya, empat murid Angger, Bayu, Raka, dan David duduk berdampi

  • DIPTA   BAB 1 Hari Pertama Humaira

    Humaira Navya Aruna atau biasa akrab dipanggil Aira menatap halaman depan sekolah baru itu dengan mata berbinar campur gugup. Gedung tinggi, cat krem yang rapi, kaca-kaca besar memantulkan cahaya pagi yang lembut. Semua terlihat begitu megah, berbeda dari sekolah lamanya yang sederhana. Jalan setap

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status