ログインMobil melaju cepat, lampu jalan berkelebat. Satu persatu terlewati tanpa benar-benar dilihat. Dipta tidak memperhatikan arah. Tangannya tetap di setir dan rahangnya mengeras. Pikirannya masih penuh tentang kamar, Karin, dan foto Askara. Semuanya bercampur menjadi satu. Napasnya berat, sesekali ia menariknya dalam terasa tidak cukup. Mobil berbelok lalu berhenti dan baru saat mesin dimatikan Dipta tersadar. Matanya terangkat menatap ke depan rumah itu, rumah tempat Aira dan Askara berada. Beberapa detik ia hanya diam. “Kenapa aku kesini…?” Ia sendiri tidak tahu atau mungkin tahu tapi tidak ingin mengakuinya. Dipta membuka pintu mobil dan turun. Ia bersandar di samping mobil menatap rumah itu. Lampu masih menyala dan hening malam terasa lebih jelas. Tangannya masuk ke saku mengambil ponsel. Ia menatap layar sebentar lalu mengetik. “Keluar sebentar.” Pesan terkirim, dan ia menurunkan ponsel menunggu. Di dalam rumah, Aira masih duduk di atas tempat tidurnya. Laptop terbuka, ja
Mobil melaju pelan menembus jalan malam yang mulai lengang. Lampu-lampu kota memantul di kaca depan, membentuk bayangan yang bergerak pelan seiring laju kendaraan. Di dalam hening, Dipta menyandarkan punggungnya ke kursi. Tangannya tetap di setir, pandangan lurus ke depan tapi pikirannya tidak di jalan. “Mama beneran beli papa buat Aska ya…” Kalimat itu terulang lagi dengan pelan dan jelas dipikirannya. Dipta menarik napas dalam. Tangannya sedikit mengerat di setir, bayangan itu muncul lagi pintu terbuka, langkah kecil, mata yang langsung tertuju padanya dan senyum itu terlihat polos, tanpa ragu dan tanpa beban. “Waah…” Seolah dia memang sudah seharusnya ada di sana. Dipta menelan pelan, selama ini dia hanya melihat dari jauh, sekilas dan cepat tanpa pernah benar-benar berhenti. Dari dalam mobil, dari kejauhan halaman atau dari balik kaca. Cukup untuk memastikan bahwa anak itu baik-baik saja. Tapi malam ini jarak itu hilang dan dia berdiri tepat di depan anaknya sendiri. Tanpa
Suasana di depan pintu swalayan itu masih menyisakan sedikit ketegangan. Orang-orang sudah kembali lalu-lalang seperti biasa, tapi di antara empat orang yang berdiri di sana, rasanya belum benar-benar kembali normal. Indri menarik napas pelan, mencoba merapikan ekspresinya. Tatapannya kembali ke arah Dipta Niskala Mahesa. “Kamu pulang malam ini.” Nada suaranya tidak keras tapi jelas itu bukan sekadar permintaan. Dipta menatapnya. “Kenapa?” Indri menjawab tenang. “Jam delapan ada acara keluarga di rumah.” Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan, “Karin menginap. Orang tuanya menitipkan dia sementara di rumah kita.” Di sampingnya, Karin langsung menyahut dengan nada lebih ringan. “Iya, aku mau mulai kuliah di Jakarta, jadi sementara di sana dulu…” Dipta hanya mengangguk kecil, tidak ada respon berlebihan. “Saya lihat nanti.” Indri tidak membantah, namun tatapannya sedikit menahan. “Usahakan.” Tidak ada yang berbicara untuk beberapa saat, lalu tanpa sadar tatapan Indri kemba
Barang-barang di atas meja kasir mulai berpindah satu persatu. Suara beep mesin scanner terdengar berulang kaleng susu, botol minum, buku gambar astronot dan cemilan sampai perintilan kecil lainnya. Aira berdiri di sisi kasir, sesekali melirik layar total belanja. “Ini kayaknya bisa buat buka warung…” gumamnya pelan, setengah bercanda. Di sampingnya, Dipta masih membantu mengangkat barang dari troli. Gerakannya tenang sudah terbiasa, kasir menyebutkan total pembelian yang angkanya tidak kecil. Aira langsung mengambil dompetnya tanpa ragu. “Sebentar ya—” Namun tangan Dipta lebih dulu bergerak. Satu kartu sudah diletakkan di mesin. Aira langsung menoleh cepat. “Pak?!” Dipta tidak melihat ke arahnya. “Lanjut saja mbak.” Kasir langsung memproses. Aira langsung mendekat sedikit. “Pak, ini saya yang bayar…” Dipta tetap tenang. “Sudah biar saya aja.” Aira mengernyit. “Kan ini belanjaan saya…” Dipta baru memandang, tatapannya datar. “Iya.” Aira makin bingung. “Terus ken
Aira masih berdiri di depan rak susu, mencoba mengembalikan fokusnya setelah kejadian barusan yang jujur saja, cukup membuat kepalanya sedikit “panas dingin”. Troli di depannya sudah hampir penuh. Ia mengambil satu kaleng susu formula, memperhatikan labelnya sebentar, lalu tanpa ragu memasukkannya ke dalam troli. Gerakannya cepat seolah sudah hafal. Di sampingnya, Dipta berdiri tenang. Tadinya hanya memperhatikan sekilas, namun kali ini tatapannya bertahan lebih lama. Matanya turun perlahan ke dalam troli, satu persatu isi di dalamnya terlihat jelas produk anak-anak. Cemilan khusus, perawatan bayi, minyak telon dan lainnya. Semuanya bukan yang biasa, lalu pandangannya bergeser ke bagian lain. Produk milik Aira seperti sabun, sampo, body lotion, skincare, make up, semuanya standar. Bahkan bisa dibilang sederhana. Dipta tidak langsung bicara, tatapannya sedikit berubah lebih dalam. Aira yang masih fokus merapikan barang, tidak langsung sadar diperhatikan seperti itu. “Ini harusnya
Dulu, Dipta adalah seseorang yang mengendalikan. Sekarang dia terlihat seperti seseorang yang membentuk tanpa menekan. Arjito menghela napas lagi, lebih panjang dari sebelumnya. “Kamu benar-benar belajar…” Kalimat itu keluar pelan, bukan hanya untuk Aira justru ini juga untuk Dipta. Beberapa detik ruangan itu benar-benar hening. Tidak ada suara selain napas yang teratur. Lalu perlahan, tangan Arjito meraih ponselnya yang terletak di sisi meja. Ia menatap layar sebentar, seolah memastikan keputusan kecil itu, kemudian satu nama dipilih. Panggilan dilakukan. Nada sambung terdengar beberapa detik, sebelum akhirnya tersambung. “Jarang kamu yang menghubungi duluan.” suara di seberang terdengar santai, sedikit ringan, sangat kontras dengan suasana di ruangan itu. Suara dari Hadiyasa Mahesa. Arjito tidak langsung menjawab. Ia berdiri perlahan dari kursinya, berjalan mendekati jendela besar di belakang meja. Pemandangan kota terbentang luas di bawah sana, gedung-gedung tinggi berdir
Tempat itu tidak pernah berubah. Kafe semi-terbuka di sudut jalan utama, dengan dinding kaca besar menghadap persimpangan. Lampunya terang, tidak temaram. Meja-meja tersusun rapi, kursi kayu dengan sandaran lurus, dan aroma kopi yang lebih kuat daripada wangi manis sirup seperti di tempat lain, tid
Mobil melaju kembali, lampu jalan mulai menari di kaca depan. Hening, tapi tidak canggung hanya ruang yang penuh konsentrasi. Aira masih merasakan sisa hangat di pergelangan tangannya, sedangkan Dipta memutar-mutar setir dengan tenang, matanya fokus ke depan, tapi pikirannya masih tertuju pada resp
Sabtu pagi, jam menunjukkan pukul 06.12. Padahal biasanya Aira baru benar-benar bangun pukul tujuh saat tidak ada sekolah. Matanya sudah terbuka sejak lima belas menit lalu. Ia menatap langit-langit kamar, diam untuk beberapa waktu. Lalu memiringkan tubuh, mengambil ponsel di meja samping ranjang, t
Jum'at, saat jam istirahat pertama selalu jadi waktu yang paling bising di sekolah. Tapi koridor lantai dua hari itu justru terasa lebih lengang. Mungkin karena sebagian besar siswa turun ke kantin. Cahaya matahari masuk dari jendela panjang, memantul di lantai keramik yang sedikit kusam. Aira ber







