Home / Romansa / DIPTA / BAB 120 Orang Lama Kembali Muncul

Share

BAB 120 Orang Lama Kembali Muncul

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-06-28 15:36:52

Malam sudah benar-benar larut ketika mobil memasuki area rumah. Lampu pagar Arjito Rajendra sudah menyala dari tadi dan dia sudah berdiri di depan pintu rumah. Diam, tegak seperti memang menunggu sejak lama.

Di dalam mobil, Aira baru membuka mata pelan. “Udah sampai?”

Dipta mengangguk. “Iya.”

Aira menghela napas kecil. “Aku ketiduran lagi.”

Dipta melirik sekilas. “Kamu capek.” ucanya singkat tapi ada maknanya.

Mobil berhenti, Aira turun duluan. Baru dia sadar, Arjito sudah berdiri di
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DIPTA   BAB 162 Aira dalam Cerita Dipta

    Obrolan mereka yang tadinya penuh reaksi kaget perlahan berubah jadi lebih sunyi, nada bercanda mulai hilang. Raka yang dari tadi paling banyak komentar, sekarang malah diam. Tangannya masuk ke saku, matanya sesekali melirik ke arah Aira. “Ta…” suaranya lebih rendah sekarang, “Apa separah itu ya?” Dipta tidak langsung menjawab. Beberapa detik ia hanya berdiri, rahangnya sedikit mengeras seolah menahan sesuatu yang sebenarnya tidak biasa ia keluarkan. “Lebih dari yang kalian bayangin." Bayu yang biasanya paling ceplas-ceplos, kali ini tidak langsung menyahut. Ia cuma menghela napas pelan. “Dia… nanggung sendiri semua itu?” “Iya.” Tidak ada pembelaan dan tidak ada pembenaran, hanya jawaban jujur. David menunduk sedikit, mengusap wajahnya. “Anjir…” Angger yang sejak tadi lebih tenang, kini ikut bicara. “Lo nggak ada sama sekali waktu itu?” Pertanyaan itu sensitif. Tapi Dipta tetap menjawab. “Nggak bisa.” “Kenapa?” refleks Bayu, lalu langsung menyesal setelah sadar. Dipta menat

  • DIPTA   BAB 161 SMA Gaurda

    Saat mobil berhenti di halaman SMA Garuda, suasana sudah cukup ramai. Lampu-lampu aula menyala terang, suara musik dan obrolan terdengar sampai ke luar. Beberapa mobil terparkir rapi, menunjukkan kalau acara ini memang dihadiri banyak orang dari berbagai angkatan. Dipta turun lebih dulu, lalu memutar ke sisi lain membuka pintu untuk Aira. Aira keluar dengan tenang, merapikan sedikit dress-nya. Tatapannya sempat mengarah ke gedung sekolah itu, ada jeda sepersekian detik. Tempat ini, tempat yang seharusnya jadi kenangan biasa, tapi justru menyimpan sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai. “Siap?” tanya Dipta pelan. Aira melirik, lalu mengangguk singkat. “Siap.” Mereka berjalan berdampingan menuju aula. Langkah Dipta tetap tenang, seperti biasa tegap, dingin, penuh kontrol. Sementara Aira di sampingnya terlihat anggun, tapi ada ketegangan halus yang hanya bisa terasa kalau diperhatikan lebih dalam. Begitu masuk ke dalam aula, suasana langsung terasa lebih hidup. Orang-orang be

  • DIPTA   BAB 160 Reuni

    Saat Aira keluar dari kamar mandi dengan dress yang sudah rapi menempel di tubuhnya, suasana kamar terasa lebih tenang. Rambutnya masih setengah basah, ujung-ujungnya meneteskan air yang ia biarkan jatuh begitu saja sebelum akhirnya duduk di depan meja rias. Tangannya bergerak pelan, mengambil cushion, menepuk-nepuk tipis ke wajahnya. Tidak berlebihan, hanya cukup untuk meratakan warna kulit yang sedikit lelah. Lalu concealer tipis di bawah mata, sedikit lipbalm, dan sentuhan halus lain yang hampir tidak terlihat tapi cukup membuat aura wajahnya berubah. Bukan jadi mencolok, hanya terlihat lebih segar. Di saat yang sama, pintu kamar terbuka. Dipta masuk, rambutnya masih sedikit berantakan, kaosnya sudah ia ganti dengan yang lebih santai setelah tadi menemani Askara mandi. Langkahnya sempat terhenti begitu melihat Aira di depan meja rias. Ia tidak langsung bicara hanya berdiri sebentar, memperhatikan. Aira yang awalnya fokus ke cermin akhirnya sadar sedang diperhatikan. Matanya meli

  • DIPTA   BAB 159 Sebelum Acara

    Menjelang sore, suasana rumah sudah kembali hidup seperti biasanya. Dari dapur, aroma masakan mulai menyebar perlahan ke seluruh ruangan. Wangi gurih ayam kremes yang sedang digoreng bercampur dengan aroma rolade yang sudah matang, ditambah tumis kacang panjang yang masih mengeluarkan suara “cesss…” pelan dari wajan. Aira berdiri di depan kompor, rambutnya diikat seadanya, tangannya sibuk bolak-balik antara wajan dan piring. Sesekali ia mencicipi masakan, memastikan rasanya pas. Sementara di sampingnya, Dipta duduk santai di kursi dapur sambil membantu memotong ujung-ujung kacang panjang. Gerakannya rapi, meski jelas bukan ahli dapur, tapi cukup terbiasa. “Yang ini dibuang semua?” tanyanya sambil mengangkat satu potong. Aira melirik sekilas. “Iya, yang keras-keras dibuang. Jangan ikut dimasak nanti susah dimakan.” Dipta mengangguk pelan, lanjut bekerja tanpa banyak komentar. Suasana itu sederhana, tapi terasa hangat. Di kamar, Askara yang tadi tidur siang mulai bergerak pelan. Al

  • DIPTA   BAB 158 Baterai Habis

    Setelah keluar dari butik, mereka tidak langsung pulang. Langkah Aira justru melambat saat melewati deretan restoran di lantai itu. Perutnya sebenarnya sudah mulai terasa kosong, apalagi sejak tadi hanya fokus memilih baju dan “mengawasi” dua orang di belakangnya, satu suami, satu anak. “Aku lapar.” ucap Aira tiba-tiba. Dipta yang berjalan di sampingnya langsung menoleh. “Dari tadi nggak bilang.” Aira mendengus. “Lagi milih baju mana sempat mikirin makan.” Askara yang dengar kata makan langsung bereaksi paling cepat. “MAKAN??” Nada suaranya naik satu oktaf Aira langsung tertawa kecil. “Iya, makan.” “AYO!” katanya sambil langsung menarik tangan Aira. Dipta hanya menggeleng kecil melihat itu. Mereka akhirnya memilih salah satu restoran yang tidak terlalu ramai tapi cukup nyaman. Tempatnya hangat, tidak terlalu formal, cocok untuk makan santai. Begitu duduk, Askara langsung naik ke kursi dengan semangat, bahkan belum lihat menu. “Aku mau ayam!” Aira menghela napas. “Belum liha

  • DIPTA   BAB 157 Undangan Reuni

    Sore itu, Dipta baru saja sampai rumah, masih dengan kemeja kerja yang belum sempat dia ganti. Ponselnya bergetar terus sejak tadi di mobil, tapi baru sekarang dia benar-benar membuka grup lama yang sudah lama sekali tidak aktif. “SMA Garuda – Angkatan Kita” Nama grup yang bahkan sudah hampir dia lupakan. Begitu dibuka, isinya sudah ramai, David, Angger, Bayu, Raka semuanya muncul lagi dengan gaya yang masih sama seperti dulu, hanya saja sekarang ditambah topik kerja, hidup, dan reuni. Dipta membaca beberapa pesan, sudut bibirnya sedikit naik. “Reuni, ya…” gumamnya pelan. Malamnya, saat Aira sedang duduk santai di ruang tengah sambil scroll sesuatu di ponselnya, Dipta duduk di sebelahnya. “Ada undangan.” katanya tiba-tiba. Aira melirik sekilas. “Undangan apa?” “Reuni SMA Garuda.” Aira langsung berhenti scrolling. Dia menoleh penuh. “Reuni?” Dipta mengangguk. “Yang ngundang anak-anak satu angkatan. Di sekolah.” Aira diam sebentar, mencerna. SMA Garuda, tempat yang punya cuku

  • DIPTA   BAB 7 Perhatian

    Pagi itu, udara di SMA terasa hangat, tapi tidak menusuk. Cahaya matahari menembus jendela kelas XI IPA 2, menyorot buku catatan Aira yang rapi. Ia duduk di bangku dekat jendela, mencoba fokus pada pelajaran Biologi. Tapi pikirannya sering melayang ke seseorang yang ia lihat beberapa kali dalam beb

  • DIPTA   BAB 6 Chemistry dan Konflik kecil

    Hari itu, Dipta duduk di kelas XII IPS 1 sambil membaca catatan ekonomi. Tapi matanya tidak sepenuhnya fokus pada buku, tatapannya sesekali tertuju ke kelas XI IPA 2, tepatnya ke Aira yang sedang menulis catatan di meja dekat jendela.“Hmm… berbeda dari yang lain", pikirnya dalam hati.Bukan karena

  • DIPTA   BAB 5 Persaingan dan Strategi

    Pagi menjelang siang, lapangan sekolah lebih sepi dari biasanya. Angin tipis membuat dedaunan bergetar, dan cahaya matahari yang mulai miring menembus sela-sela pepohonan. Aira duduk di bawah pohon besar, buku biologi di pangkuan, mencoba memahami diagram sel yang rumit. Tiba-tiba, suara ringan

  • DIPTA   BAB 4 Persaingan Dipta dan Teman-Teman

    Suasana kelas XI IPA 2 pagi itu lebih tegang dari biasanya. Kertas ulangan biologi sudah dibagikan, masih tertutup di atas meja masing-masing siswa. Suara kipas angin berputar terasa lebih keras karena hampir semua orang diam. Aira duduk tegak. Tangannya berada di atas meja, jari-jarinya saling b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status