LOGINDetik demi detik berlalu, baik Arjito dan Hadiyasa masih berada diruang rapat. Arjito menatapnya beberapa detik, lalu tertawa pelan, bukan tawa karena lucu justru tawanya terdengar pahit. “Sekarang kamu marah sama Adi?”, tanya Arjito. Hadiyasa hanya diam. “Harusnya dari dulu.” Nada suara Arjito tetap tenang, tapi justru itu yang membuatnya terdengar lebih tajam. “Kalau dulu kamu mau dengar penjelasanku, mungkin Rajendra Engineering nggak akan jatuh secepat itu.” Rahang Hadiyasa mengeras. “Aku sudah bilang waktu itu kalau semuanya masih bisa diselamatkan”, lanjut Arjito. “Aku bilang ada yang salah di dalam perusahaan, aku bilang aku butuh waktu.” “Tapi Mahesa Group juga sedang di ambang jatuh”, potong Hadiyasa pelan. “Dan kamu pilih perusahaanmu sendiri”, lanjut Arjito memotong. Kali ini Hadiyasa tidak membantah karena memang itu kenyataannya. Beberapa detik mereka hanya saling diam. “Kalau aku nggak lepas Rajendra Engineering waktu itu, Mahesa Group juga ikut habis
Sejak kejadian di koridor itu, Aira mulai sengaja menjaga jarak. Pagi ini, ia keluar rumah lebih cepat bahkan saat sampai di ujung gang dan melihat motor Dipta belum ada, Aira langsung berjalan ke arah jalan besar untuk naik angkot. Tapi belum sempat jauh, suara motor berhenti tepat di sampingnya.“Kenapa jalan sendiri?”, tanya Dipta. Aira langsung menoleh dan mendapati Dipta sedang menatapnya dari atas motor. “Aku... pengen berangkat sendiri aja hari ini.”Dipta tidak langsung menjawab. Tatapannya justru semakin lama tertuju pada wajah Aira. “Naik.”Aira menolak. “Aku bisa sendiri.”“Naik, Aira”, nada suara Dipta tetap datar, tapi justru itu yang membuat Aira tidak bisa membantah.Akhirnya ia naik juga, meski sepanjang jalan suasana di antara mereka lebih sunyi dari biasanya. Dan sejak itu, Aira mulai melakukannya lagi dan lagi. Kalau Dipta datang ke kelas, Aira pura-pura sibuk, kalau Dipta menunggunya di kantin, Aira sengaja pergi lebih dulu dan kalau Dipta mengirim pesan, Aira mem
Malam itu Aira benar-benar mencoba belajar. Buku biologi sudah terbuka di atas meja. Pulpen, stabilo, dan beberapa catatan kecil berserakan di sampingnya. Tapi sejak lima belas menit lalu, ia masih berhenti di halaman yang sama, pikirannya ke mana-mana. Aira melirik ponselnya lagi. "Besok aku jemput lagi." Pesan itu masih ada di layar. Jarinya sempat bergerak mengetik sesuatu. 'Nggak usah.' Aira menatap kalimat itu beberapa detik, lalu menghapusnya. Ia mengetik lagi, 'Terserah.' Dihapus lagi, lalu pada akhirnya, Aira hanya menggigit bibir bawahnya pelan sebelum membalas singkat. Aira: "Iya." Tidak lama kemudian pesan itu langsung dibaca, tapi tidak ada balasan lagi. Dan anehnya, justru itu yang membuat Aira makin tidak tenang. Ia menjatuhkan kepalanya ke atas meja pelan. “Kenapa sih...”, gumamnya lirih pada diri sendiri. Padahal Dipta tidak melakukan apa-apa, tidak mengatakan hal aneh, tidak memaksa. Tapi semakin Dipta bersikap seperti biasa, Aira justru semakin salah
Bel tanda ujian berakhir baru saja berbunyi. Suara kursi yang digeser dan lembar soal yang dikumpulkan langsung memenuhi kelas. Aira menghela napas pelan dan memijat jari-jarinya sebentar sebelum mulai memasukkan pensil, penghapus, dan buku ke dalam tas. "Gimana?", tanya Nadhira sambil menghampiri mejanya. "Soal nomor tujuh tadi jawabannya apa? Aku bingung banget sumpah." "Yang tentang persilangan itu?" Aira menoleh pelan. "Aku jawab yang C... tapi nggak tau juga benar atau nggak." "Nah kan! Aku juga C!", seru Lestari dari samping, lalu langsung tertawa lega. Aira ikut tersenyum kecil, tapi kepalanya terasa berat. Sedari tadi tubuhnya lemas, entah karena terlalu keras belajar dan kurang tidur, atau karena akhir pekan kemarin yang terlalu melelahkan. "Ra, kamu nggak apa-apa?", tanya Nadhira lagi begitu melihat wajah Aira. Aira tersenyum tipis, lalu menggeleng. "Nggak kok... cuma capek aja." Mereka bertiga berjalan keluar kelas bersama. Koridor sudah mulai ramai. Beberapa
Hari itu udara terasa panas di sekolah, tapi koridor tetap ramai oleh siswa yang bersiap menghadapi ujian akhir semester. Aira berjalan bersama Nadhira dan Lestari, tasnya digenggam erat. “Eh, Aira… kamu yakin siap untuk ujian hari ini?” tanya Nadhira, suara bergetar sedikit karena takut soal biologi sulit. Aira tersenyum tipis, menepuk tasnya. “Iya, aku siap. Bukannya kita semua sudah belajar cukup, kan?” Lestari menggigit bibir, matanya tetap gelisah. “Aku… aku takut soal biologi sulit banget.” Aira menepuk bahu Lestari. “Tenang saja, kita bisa saling bantu jika ada yang lupa. Fokus aja, kita pasti bisa atasi semuanya.” Lestari ikut menambahkan, masih gelisah. “Aku… takut nggak bisa jawab semua soal. Aira, kalau kamu… kamukan memang pintar, jadi jawab soal tu pasti mudah bagimu.” Aira menatap mereka. “Kalian juga bisa kok, cuma jangan panik.” Sepanjang jalan menuju kelas, mereka tetap melihat-lihat siswa lain, beberapa kali terdengar bisik-bisik tentang Aira. Gosip yan
Cahaya pagi merayap pelan melalui tirai, menerpa ranjang di mana Dipta masih tertidur dengan tenang. Aira membuka mata perlahan, tubuhnya sudah lebih segar dibanding kemarin. Nafasnya masih lembut, tapi matanya tertuju pada sosok di sampingnya Dipta, yang benar-benar tampak damai. Ia tersenyum kecil, menahan rasa geli di hati. Tanpa sadar, tangannya bergerak pelan, mencoba menyentuh hidung Dipta dengan ujung jarinya. Bergumam pelan ia berkata, “Hmm.. apa kamu memang selalu seperti ini saat tidur nyenyak…?” Dipta membuka satu matanya sedikit tanpa disadari oleh Aira, ia menatap Aira sebentar, tapi tetap pura-pura tidur. Aira tersenyum lebih lebar, merasa sedikit gemas dan juga terpesona memandangi wajah Dipta yang tenang dan damai. Ia terus menyentuh hidung Dipta, kali ini lebih lembut. “Sudah… belum?”, suara Dipta tiba-tiba terdengar, halus tapi mengandung nada menggoda. Aira terkejut, wajahnya langsung memerah. Tangan yang tadi menyentuh hidung Dipta langsung menarik diri. “A
Koridor pagi itu cukup ramai, beberapa siswa masih berlalu-lalang menuju kelas masing-masing. Namun seperti biasa, kehadiran Dipta tetap menarik perhatian beberapa orang yang lewat. Aira berhenti tepat di depan Dipta. “Kenapa?”, tanya Aira pelan. Dipta menatapnya beberapa detik sebelum menjawab
Pagi di kantor pusat Mahesa Group berjalan seperti biasa. Deretan laporan menumpuk rapi di meja kerja Hadiyasa Mahesa. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela kaca besar membuat ruangan itu terasa terang, namun wajah pria paruh baya itu tetap terlihat serius. Satu per-satu berkas ia buka, memeri
Halaman SMA Garuda sudah ramai sejak bel istirahat berbunyi. Suara siswa bercampur dengan derit kursi yang digeser dan langkah-langkah terburu menuju kantin. Di salah satu meja dekat jendela kantin, Humaira Navya Aruna atau Aira duduk bersama dua sahabatnya, Nadhira dan Lestari. Nadhira baru saja m
Bel istirahat baru saja berbunyi. Kantin sekolah sudah mulai ramai oleh suara siswa yang saling bercakap. Aira duduk di salah satu meja bersama Nadhira dan Lestari. Nadhira sedang bercerita tentang guru matematika mereka yang tiba-tiba memberi kuis dadakan pagi tadi.“…terus dia bilang ini cuma lat







