Home / Romansa / DIPTA / BAB 32 Rutinitas Sekolah dan Masa Lalu

Share

BAB 32 Rutinitas Sekolah dan Masa Lalu

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-03-24 00:31:59

Bel istirahat baru saja berbunyi. Kantin sekolah sudah mulai ramai oleh suara siswa yang saling bercakap. Aira duduk di salah satu meja bersama Nadhira dan Lestari. Nadhira sedang bercerita tentang guru matematika mereka yang tiba-tiba memberi kuis dadakan pagi tadi.

“…terus dia bilang ini cuma latihan,” keluh Nadhira. “Latihan apanya kalau nilainya masuk?”

Lestari tertawa kecil mendengar celotehan Nadhira, Aira ikut tersenyum, tapi pikirannya tidak sepenuhnya berada di percakapan itu. Ia tanpa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DIPTA   BAB 32 Rutinitas Sekolah dan Masa Lalu

    Bel istirahat baru saja berbunyi. Kantin sekolah sudah mulai ramai oleh suara siswa yang saling bercakap. Aira duduk di salah satu meja bersama Nadhira dan Lestari. Nadhira sedang bercerita tentang guru matematika mereka yang tiba-tiba memberi kuis dadakan pagi tadi.“…terus dia bilang ini cuma latihan,” keluh Nadhira. “Latihan apanya kalau nilainya masuk?”Lestari tertawa kecil mendengar celotehan Nadhira, Aira ikut tersenyum, tapi pikirannya tidak sepenuhnya berada di percakapan itu. Ia tanpa sadar membuka ponselnya, tidak ada pesan baru dari Dipta.Nadhira memperhatikan itu. “Aira.”“Hm?”, sahut Aira.Nadhira mengubah posisi duduknya. “Kamu dari tadi lihat HP terus.”Aira langsung mengunci layar ponselnya. “Enggak kok.”Lestari menyipitkan mata sedikit. “Kamu lagi nunggu chat seseorang ya?”Aira cepat menggeleng. “Enggak lah.”Namun reaksi itu justru membuat Nadhira dan Lestari saling melirik.Nadhira mencondongkan tubuh sedikit ke depan. “Aira…”Aira menatap Nadhira. “Iya?”“Jujur

  • DIPTA   BAB 31 Metode Belajar Baru

    Sore itu hujan turun tipis di luar apartemen Dipta. Cahaya kota memantul samar dari jendela kaca besar ruang nonton yang terhubung dengan ruang rahasia. Humaira duduk bersila di karpet tebal, buku anatomi terbuka di depannya. Diagram tubuh manusia terpampang jelas sistem reproduksi, jaringan, kelenjar, struktur detail yang membuatnya sedikit kikuk. “Aku nggak ngerti bagian ini…”, gumamnya pelan. Dipta berdiri di belakangnya, membaca dari atas bahunya. Terlalu dekat, terlalu hangat. “Anatomi itu bukan cuma dihafal,” katanya tenang. “Harus dipahami secara struktur dan fungsi.” Humaira menoleh. “Maksudnya?” Dipta berjalan memutar, lalu duduk di hadapannya. Tatapannya berbeda hari itu, lebih dalam dan lebih lama. “Belajar pakai visual, pakai pendekatan nyata.” Aira mengerutkan dahi. “Nyata gimana?” Dipta tersenyum tipis, lalu menunjuk diagram wajah di buku. “Kalau kita bahas fungsi indera… misalnya mata.” Ia mendekat sedikit. Tangannya terangkat, berhenti sebentar di udara memberi

  • DIPTA   BAB 30 Izin dan Bimbingan Belajar

    Aira membuka pintu rumah perlahan. Aroma masakan yang hangat menyambutnya. Matahari sore baru saja condong ke barat, menembus jendela ruang tamu dan menciptakan garis-garis cahaya yang menari di lantai. “Ibu… aku pulang!”, Aira memanggil sambil melepaskan tasnya, menaruhnya di kursi dekat pintu. Linda, ibunya, yang sedang menata beberapa kotak oleh-oleh, menoleh dan tersenyum. “Pulang lebih awal hari ini, ya?” Aira mengangguk sambil duduk sebentar di sofa. Tangannya masih memegang tas, kakinya menekuk di kursi. “Iya, Bu. Hari ini ada jadwal belajar… sama teman.” Linda menatapnya dengan mata yang tajam tapi lembut, ada senyum tipis di bibirnya. “Kamu kelihatan lebih ceria akhir-akhir ini, semuanya lancar di sekolah?” Aira tersenyum, sedikit ragu tapi mencoba terlihat santai. “Iya… lumayan, Bu. Cuma, aku ingin belajar lebih fokus aja. Teman itu ngajak ke apartemennya, biar tempatnya tenang.” Mata Linda menyipit sedikit, menandakan perhatian lebih. Ia mendekat dan duduk di sofa ber

  • DIPTA   BAB 29 Rania dan Meyakinkan Posisi

    Pagi itu terasa berbeda bagi Aira, bukan karena cuaca dan bukan karena jadwal pelajaran, tapi karena sejak membuka mata, ada satu wajah yang langsung muncul di kepalanya, Dipta. Aira berdiri di depan cermin kamar, merapikan rambutnya. Tangannya sempat berhenti beberapa detik ketika bayangan semalam melintas sentuhan lembut, jarak yang terlalu dekat, napas yang hampir bertabrakan. Pipinya menghangat. “Kenapa sih senyum sendiri…”, gumamnya pelan. Di ruang makan, ibunya memperhatikan tanpa banyak komentar, hanya senyum kecil yang penuh arti. Setelah selesai sarapan dan juga bersiap, akhirnya Aira pamit pergi ke sekolah. Bel pertama hampir berbunyi ketika Aira berjalan menyusuri lorong XI IPA 2. Tasnya tersampir rapi, langkahnya ringan. Beberapa siswa menoleh, bukan karena ia berbeda tapi karena ia terlihat lebih hidup, lebih berwarna. Di ujung lorong, Rania sudah berdiri. Seragamnya rapi sempurna, rambutnya tergerai halus, tangannya menyilang di dada dan tatapannya tajam, terarah lan

  • DIPTA   BAB 28 Sesi Belajar dan Kedekatan Yang Meningkat

    Hening menyelimuti apartemen. Lampu kuning lembut dari plafon menyorot ke meja belajar mereka. Aira duduk di kursi, buku catatan dan pulpen di tangan, tapi matanya tak lepas dari Dipta. Dipta berdiri di dekat papan tulis, menunjukkan diagram anatomi tubuh manusia. Tapi jaraknya kini lebih dekat dari biasanya. “Sekarang bagian jantung”, kata Dipta sambil menunjuk diagram, jaraknya hanya sepasang langkah dari Aira. Aira menunduk, menulis catatan, tapi napasnya terasa lebih cepat. Dipta mencondongkan tubuh ke arahnya. Sekali lagi, tangannya menyapu lembut helaian rambut yang jatuh ke pipi Aira. Aira menahan napas. Sudah beberapa kali ciuman terjadi sebelumnya, tapi tiap sentuhan tetap membuatnya berdebar. “Kalau aku cuma main-main, aku nggak bakal sebegini dekat” bisik Dipta, matanya mengunci mata Aira. Aira menatap balik, bibir sedikit mengulum, dagunya gemetar. Dipta menunduk, jarak bibir mereka hanya beberapa sentimeter. Aira bisa merasakan hangatnya napas Dipta. Tangan Dipta seca

  • DIPTA   BAB 27 Penyelidikan dan Kedekatan

    Sore hari, diruang utama rumah Aira. Lampu hangat, rak buku rapi, layar komputer menyala. Aroma kopi hangat dari cangkir di sampingnya. Arjito Rajendra, duduk di kursi kulit hitam, mata fokus menatap layar. Jari-jarinya mengetik cepat, membuka profil Mahesa Group, berita lama, dan forum diskusi bisnis. Linda, ibu Aira, masuk membawa teh hangat. “Masih nyari info tentang anak itu?”, suaranya lembut, tapi penasaran. Arjito menoleh sebentar, lalu kembali menatap layar. “Iya. Aku cuma ingin tahu siapa sebenarnya Niskala Mahesa. Anak itu dekat sama Aira sekarang. Aku harus tahu apa yang sedang mereka hadapi.” Linda meletakkan cangkir di meja. “Aku ngerti… tapi jangan terlalu khawatir. Anaknya pintar, keluarganya jelas, dari latar belakang bisnis juga bukan sembarangan.” Arjito menghela napas, jari-jarinya berhenti di keyboard. “Itu masalahnya. Keluarga Mahesa dulu dan kita… hubungannya rumit. Ingat waktu krisis beberapa tahun lalu?” Linda duduk di sampingnya, tatapan lembut tapi seriu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status