LOGINAira mencoba melanjutkan makannya, sendok kembali bergerak. Roti diambil, jus diminum, tidak ada yang benar-benar masuk. Fokusnya sudah hilang, matanya memang ke piring tapi pikirannya ke satu titik yang sama memandang jam tangan itu. “Masih dipakai…” Kalimatnya sendiri terulang. Dan jawaban Dipta terlalu sederhana. “Iya... kenapa cuma ‘iya’ sih…” gumamnya dalam hati. Aira menarik napas pelan. Berusaha mengalihkan pikirannya. “Ya mungkin… ya biasa aja…” dia mencoba rasional. “…mungkin emang dia suka modelnya…natau ya… kebetulan aja masih kepakai…” Masuk akal, harusnya masuk akal, kenapa rasanya tidak sesederhana itu? Aira tanpa sadar kembali melirik. Pergelangan tangan itu masih di sana, tenang dan tidak berubah. Dan justru itu, yang membuatnya semakin tidak tenang. “Kalau cuma kebetulan…” “…harusnya udah ganti…” Dia mengerutkan kening sedikit. “…orang kayak dim, jam tangan pasti banyak…” Fakta, Dipta bukan tipe orang yang kekurangan pilihan. Jadi kenapa itu? Kenapa yang itu?
Pintu kamar tertutup pelan. ‘Klik.’ Aira bersandar beberapa detik di balik pintu. Tangannya masih menggenggam handle pintu, seolah belum benar-benar siap melepas momen barusan. “Kenapa sih aku ngomong sejauh itu…" gumamnya pelan. Ia menghela napas panjang, lalu akhirnya melepas tangannya dan melangkah masuk lebih dalam ke kamar. Ruangan itu rapi. Lampu hangat menyala lembut. Semua terlihat biasa saja, tapi kepalanya tidak. Aira berjalan ke arah tempat tidur, duduk di tepi ranjang, lalu menatap kosong ke depan. Pikirannya masih di luar di percakapan tad, di pertanyaan Dipta. “Kenapa kamu nggak bilang waktu itu?” Aira menunduk pelan. Tangannya saling menggenggam. “Aku udah bilang…” gumamnya sangat pelan. Bahkan hampir tidak terdengar dia bilang dan dia tidak benar-benar diam. Dia tidak benar-benar pergi tanpa jejak dan dia tetap memberikan. Kado itu, surat itu, foto itu. Hanya saja yang tidak pernah dia siapkan adalah keberanian untuk melihat reaksinya. Aira menarik napas d
Malam di sekitar hotel terasa lebih hidup. Lampu jalan menyala hangat, suara kendaraan tidak terlalu ramai, dan angin malam sesekali lewat pelan. Setelah selesai makan, Aira dan Dipta tidak langsung kembali ke kamar. Mereka memilih berjalan kaki sebentar, langkah mereka sejajar tidak terlalu dekat dan tidak juga jauh. Aira menarik napas panjang. “Enak juga ya…” Dipta melirik sekilas. “Apa?” Aira tersenyum senang. “Kayak gini. Jalan malam, nggak mikirin kerjaan.” Dipta memperhatikan Aira. “Sementara, tunggu nanti. Aira langsung nyengir. “Iya sih… tetap aja besok dikejar lagi.” Beberapa langkah mereka lalui dalam, tapi bukan diam yang canggungebih ke nyaman. Aira melihat ke arah jalan. Pak.” “Ya.” sahut Dipta seperti biasa. Bapak capek nggak sih?” tanya Aira. Dipta menatap ke depadepan"Sudah biasa.” Aira menghela napas kecil. “Jawaban standar banget…” Dipta tidak menanggapi. Lalu tiba-tiba, Dipta bicara. “Nama lengkap Askara siapa?” Langkah Aira sedikit melam
Di kamar sebelah, Dipta sudah duduk kembali di depan laptopnya. Namun tidak ada satu pun kalimat di layar yang benar-benar dia proses. “Ada kecoak…” gumamnya pelan. Tangannya berhenti di atas keyboard. Biasanya dia bisa fokus bahkan di tengah rapat paling rumit. Tapi sekarang yang muncul di pikirannya bukan laporan proyek dan bukan timeline pekerjaan. “Aira panik tadi…” Dia menghela napas pelan. Lalu menutup laptopnya. “…harusnya aku tetap tenang.” Beberapa detik hening. Dia bersandar di kursi, memandang ke arah pintu connecting door yang tadi dia lewati. “Kenapa malah jadi ribet…” gumamnya lagi. Di kamar sebelah, Aira masih berdiri di depan cermin, wajahnya masih merah. “Aku tadi teriak kayak orang kesurupan…” bisiknya. Dia menutup wajah. “…dan dia langsung masuk.” ia berhenti. “…ya ampun.” Dia langsung ambil handuk tambahan, lalu buru-buru mengeringkan rambutnya. Gerakannya cukup panik. "Lupakan, lupakan, lupakan…” Di kamar Dipta. Dipta berdiri lagi, berjalan ke arah pintu c
Mobil kantor melaju pelan meninggalkan area Rajendra Engineering pagi itu masih agak lengang, langit baru saja benar-benar terang, dan jalanan Jakarta mulai hidup dengan ritme macet yang khas. Di kursi belakang, Aira duduk dengan koper kecil di sampingnya. Laptop sudah masuk tas, dokumen perjalanan juga sudah dia cek dua kali. Tapi tetap saja, tangannya sesekali membuka catatan kecil di ponsel, memastikan tidak ada yang tertinggal. Di sebelahnya, Dipta duduk tenang, seperti biasa. Jasnya rapi, posturnya tegak, mata fokus ke tablet yang berisi agenda perjalanan. Tidak ada percakapan panjang di awal, hanya suara AC mobil dan jalanan yang mulai ramai. Aira melirik ke luar jendela. “Surabaya ya…” gumamnya pelan, lebih ke dirinya sendiri. Dipta tanpa menoleh menjawab. “Iya.” Aira menghela napas kecil. “Kayaknya terakhir ke luar kota itu… lama banget.” Dipta tetap membaca layar. “Biasakan.” Aira langsung nyengir tipis. “Jawaban Bapak selalu kayak gitu ya.” Dipta tidak menanggapi, ta
Ruang meeting akhirnya benar-benar kosong. Tamu sudah pergi, dokumen sudah ditutup dan suasana kantor perlahan kembali ke ritme normal walaupun jam sudah lewat cukup jauh dari jam makan siang. Aira masih duduk di ruang meeting kecil yang tadi dipakai. Laptopnya sudah ditutup tapi dia belum bergerak. “Laper banget…” gumamnya pelan, sambil melirik jam di layar ponsel. Ia menghela napas. “…jam makan siang hilang total.” Tangannya meraih tas kecil di samping kursi. Lalu kotak makan itu keluar, bekal sederhana yang rapi. Aira membuka penutupnya pelan ada rolade, tumis buncis wortel jagung dan sambal ikan teri. “Akhirnya…” gumamnya kecil, hampir lega. Baru saja ia mengambil sendok, pintu ruangan terbuka. Dipta masuk lagi. Langkahnya pelan, matanya langsung menangkap kotak makan di meja. Aira langsung berhenti. “ Ada apa pak?” Dipta berdiri sebentar, seolah hanya lewat dan tidak ada tujuan. “Sudah selesai?” “Sudah.” jawab Aira. Mereka sama-sama terdiam, meski mata Dipta jelas
Ruang musik sudah setengah terbuka ketika Aira datang. Ia memang sengaja datang lebih awal bukan karena terlalu rajin, tapi karena ia butuh ruang sebelum ruangan itu penuh suara dan tatapan. Tasnya ia letakkan di kursi dekat piano. Udara di dalam masih dingin, bercampur aroma kayu dan kabel alat mu
Aira terbangun bahkan sebelum alarmnya berbunyi. Langit di luar jendela kamarnya masih berwarna abu-abu pucat. Cahaya pagi belum sepenuhnya masuk, tapi cukup untuk membuat bayangan lemari dan meja belajarnya terlihat jelas. Ia menatap langit-langit beberapa detik, lalu semalam kembali. Cahaya layar
Jam di dinding kamar Aira menunjukkan pukul 15.12. Ia sudah membuka lemari sejak lima menit lalu, tapi belum juga mengambil keputusan.“Kenapa sih susah banget cuma mau makan?” gumamnya pelan.Tangannya menyentuh beberapa gantungan baju. Blus putih? Terlalu formal. Kaos oversized? Terlalu santai. A
Beberapa hari setelah mereka bertukar nomor HP, Aira duduk di kelas kosong XI IPA 2. Di depannya, buku Biologi terbuka lebar, catatan rapi tertata di setiap halaman. Tapi matanya sesekali menatap layar ponsel, jari-jarinya memainkan ujung pena tanpa sadar. Napasnya pendek ketika ia menarik napas da







