ホーム / Romansa / DIPTA / BAB 57 Sesuatu yang Tertinggal

共有

BAB 57 Sesuatu yang Tertinggal

作者: Adw_Canss781
last update 公開日: 2026-04-20 12:59:50

Langkah Aira menghilang dengan cepat, tanpa ragu dan tanpa menoleh, yang tertinggal di sana bukan cuma keheningan. Justru kesunyian yang berat, seperti udara tiba-tiba berubah. Tidak ada yang langsung bicara, tidak ada tawa dsn tidak ada candaan lanjutan. Padahal beberapa menit lalu, mereka masih tertawa, masih santai, sekarang semuanya terasa aneh.

Bayu yang biasanya paling berisik justru diam, tangannya menyilang di dada, matanya masih mengarah ke arah Aira tadi pergi.

Angger menghembuska
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • DIPTA   BAB 60 Kedatangan dan Pukulan Kenyataan

    Rumah itu berdiri jauh lebih megah dari yang terakhir kali ia ingat. Arjito Rajendra berdiri di depan gerbang besar, matanya menatap lurus ke arah bangunan luas dengan arsitektur modern yang menjulang elegan. Dulu, tempat ini tidak seperti ini. Masih besar, iya. Tapi belum semewah dan sedingin sekarang. Ia menarik napas pelan, langkahnya mantap saat akhirnya masuk. Bukan karena rindu atau karena ingin mengenang masa lalu, justru karena satu hal, anaknya. Pintu utama terbuka setelah pelayan mempersilakan masuk. Di dalam, suasana rumah terasa tenang dan tertata rapi. Beberapa detik kemudian, langkah kaki terdengar dari arah dalam dan sosok itu muncul. Hadiyasa Mahesa, langkahnya langsung terhenti dan wajahnya jelas menunjukkan keterkejutan. “…Arjito?” Nama itu keluar pelan, hampir tidak percaya. Sudah belasan tahun dan orang itu sekarang berdiri di depannya. Arjito tidak tersenyum, dan tatapannya datar. “Hadiyasa.” Sunyi sesaat, lalu Hadiyasa sadar dan sedikit mengangguk. “Ma

  • DIPTA   BAB 59 Kosong dan Hampa

    Setelah dua hari pemeriksaan di klinik, malam itu dirumah tidak lagi sama, suasana rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Pintu utama terbuka pelan. Arjito Rajendra akhirnya pulang setelah beberapa hari berada di Singapura untuk urusan kantor pusat. Biasanya, setiap kali ia pulang, Aira akan menyambutnya meski tidak berlari atau memeluk, setidaknya ada senyum kecil dan sapaan hangat tapi kali ini, tidak ada. Rumah terasa kosong. Ia melepas jasnya perlahan, lalu menoleh ke arah ruang tengah. Linda keluar dari dapur, wajahnya terlihat lelah. “Kamu sudah pulang mas…” Arjito mengangguk. “Aira di mana?” Linda terdiam sejenak sebelum menjawab pelan, “Di kamar.” Nada suaranya cukup untuk membuat Arjito langsung paham, ada sesuatu yang tidak beres. “Ada apa?” Linda sempat ragu, tangannya saling menggenggam. “Aira… lagi nggak enak badan. Capek katanya.” Arjito mengernyit. “Cuma capek?” Linda memaksakan senyum kecil. “Iya… mungkin kecapekan sekolah.” Arjito tidak langsung per

  • DIPTA   BAB 58 Kenyataan yang Menyakitkan

    Sejak malam itu tidak ada yang benar-benar membaik. Aira tetap di kamarnya lebih banyak diam dan lebih banyak menatap kosong. Tangisnya tidak lagi sekeras hari pertama, namun bukan berarti hilang, justru lebih sunyi dan lebih dalam. Empat hari ia tidak sekolah, tidak keluar kamar kecuali ke kamar mandi. Tubuhnya semakin lemah, wajahnya pucat, bibirnya kering dan mual itu tidak pernah benar-benar pergi. Pagi itu bahkan sebelum jam lima, Aira sudah terbangun. Perutnya langsung terasa tidak nyaman. Ia buru-buru bangkit hampir tersandung, lalu berlari ke kamar mandi. Suara muntah kembali terdengar lebih lama dari biasanya. Di luar Linda terdiam berdiri di depan pintu kamar. Tangannya mengepal pelan, sekarang ia tahu semua itu bukan sekadar sakit biasa. Beberapa menit kemudian Aira keluar dari kamar mandi, langkahnya lemah. Saat membuka pintu kamar ia terkejut. Ibunya sudah berdiri di sana. “Aira…”, suara Linda pelan. Ada sesuatu yang berbeda disana, bukan sekadar khawatir, ini leb

  • DIPTA   BAB 57 Sesuatu yang Tertinggal

    Langkah Aira menghilang dengan cepat, tanpa ragu dan tanpa menoleh, yang tertinggal di sana bukan cuma keheningan. Justru kesunyian yang berat, seperti udara tiba-tiba berubah. Tidak ada yang langsung bicara, tidak ada tawa dsn tidak ada candaan lanjutan. Padahal beberapa menit lalu, mereka masih tertawa, masih santai, sekarang semuanya terasa aneh. Bayu yang biasanya paling berisik justru diam, tangannya menyilang di dada, matanya masih mengarah ke arah Aira tadi pergi. Angger menghembuskan napas panjang. “…anjir…”, gumamnya pelan. Raka bersandar ke tembok, kali ini tidak ada ekspresi santai di wajahnya. David menatap ke satu titik, lalu perlahan mengalihkan pandangan ke arah Dipta. Sementara Dipta masih berdiri di tempatnya, kotak kecil itu ada di tangannya belum dibuka masih utuh. Beberapa detik berlalu tidak ada yang bergerak, sampai akhirnya Bayu bicara. “Ta…”, suaranya pelan tidak seperti biasanya. “Lu… nggak kepikiran buat ngejar?” Dipta tidak langsung menjawab, tat

  • DIPTA   BAB 56 Yang di Siapkan Diam-diam

    Perjalanan pulang terasa seperti mimpi yang terlalu panjang. Aira tidak benar-benar ingat bagaimana ia keluar dari klinik, tidak ingat bagaimana ia naik kendaraan dan tidak ingat jalan yang ia lewati. Semuanya seperti lewat begitu saja, seolah tubuhnya berjalan sendiri, sementara pikirannya tertinggal di ruangan itu. Di depan layar itu, di dua kalimat itu. “Ini janinnya, usianya sekitar tujuh minggu.” Saat sampai di depan rumah, Aira berdiri cukup lama. Tangannya masih menggenggam hasil pemeriksaan itu. Kertas tipis yang terasa jauh lebih berat dari seharusnya. Ia menatap pintu rumahnya, rumah yang biasanya terasa aman dan hangat. Sekarang justru terasa menakutkan. “…kalau mereka tahu…” Dadanya langsung terasa sesak, tangannya gemetar. Untuk sesaat ia ingin pergi lagi, ke mana saja asal bukan ke dalam sana. Namun tidak ada tempat lain, tidak ada tujuan dan akhirnya ia membuka pintu. Di dalam, suasana rumah seperti biasa, terasa tenang. Ibunya terdengar dari dapur, suara piring

  • DIPTA   BAB 55 Taruhan yang Terlewat dan yang Tak Bisa Ditahan Lagi

    Sore itu, sebuah kafe tidak jauh dari pusat kota cukup ramai. Di salah satu sudut, empat orang sudah duduk santai sejak tadi. Angger bersandar di kursi, kakinya selonjoran, Bayu sibuk dengan minumannya dan Raka lebih banyak diam, memainkan sendok di gelasnya. Sementara David tampak santai, ponselnya di tangan. “Mana sih orangnya?”, keluh Bayu. “Ngaret mulu.” “Biasa”, jawab Angger santai. “Orang sibuk.” “Gaya”, gumam Bayu. Belum sempat mereka lanjut seseorang datang. Dipta, langkahnya tenang seperti biasa, ekspresinya datar. Ia langsung duduk tanpa banyak basa-basi. “Lama”, komentar Bayu. “Macet”, jawab Dipta singkat. Padahal tidak, namun tidak ada yang mempermasalahkan. Beberapa menit awal diisi obrolan ringan, tentang sekolah, tentang kelulusan dan tentang rencana setelah lulus. Sampai akhirnya topik itu muncul. “Eh”, ucap David tiba-tiba, matanya beralih ke Dipta. “Ngomong-ngomong…” Dipta melirik sekilas. “Apa?” David menyandarkan tubuhnya. “Udah lewat, ya?” “A

  • DIPTA   BAB 13 Apartemen

    Lift sudah menunggu ketika mereka memasuki lobi apartemen. Lampu di dalamnya terang, dindingnya dilapisi cermin dari sisi ke sisi. Pantulan mereka langsung terlihat begitu pintu terbuka. Aira melangkah masuk lebih dulu, lalu berdiri sedikit ke samping. Dipta masuk setelahnya dan menekan tombol lant

  • DIPTA   BAB 12 Pertemuan dan Lebih dari Sekedar Pedas

    Jam di dinding kamar Aira menunjukkan pukul 15.12. Ia sudah membuka lemari sejak lima menit lalu, tapi belum juga mengambil keputusan.“Kenapa sih susah banget cuma mau makan?” gumamnya pelan.Tangannya menyentuh beberapa gantungan baju. Blus putih? Terlalu formal. Kaos oversized? Terlalu santai. A

  • DIPTA   BAB 11 Tarikan Tidak Terlihat

    Pagi itu sekolah terasa seperti biasa, tapi bagi Aira, ada sedikit rasa “tidak biasa” yang sulit dijelaskan. Ia berjalan bersama Nadhira dan Lestari, tas digendong satu sisi, buku di tangan. Suara sepatu beradu dengan lantai keramik, tawa teman-teman terdengar dari beberapa kelas.“Air, nanti istir

  • DIPTA   BAB 10 Celah Yang Terlihat

    Pagi itu koridor sekolah lebih ramai dari biasanya. Anak-anak baru selesai upacara dan bergerak ke kelas masing-masing. Suara sepatu beradu dengan lantai, tawa kecil terdengar di beberapa sudut. Aira berjalan bersama Nadhira dan Lestari. Tasnya digendong satu sisi, tangannya memegang buku yang belu

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status