首頁 / Romansa / DIPTA / BAB 57 Sesuatu yang Tertinggal

分享

BAB 57 Sesuatu yang Tertinggal

作者: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-04-20 12:59:50

Langkah Aira menghilang dengan cepat, tanpa ragu dan tanpa menoleh, yang tertinggal di sana bukan cuma keheningan. Justru kesunyian yang berat, seperti udara tiba-tiba berubah. Tidak ada yang langsung bicara, tidak ada tawa dsn tidak ada candaan lanjutan. Padahal beberapa menit lalu, mereka masih tertawa, masih santai, sekarang semuanya terasa aneh.

Bayu yang biasanya paling berisik justru diam, tangannya menyilang di dada, matanya masih mengarah ke arah Aira tadi pergi.

Angger menghembuska
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • DIPTA   BAB 147 Teman Lama

    Begitu mobil mulai menjauh dari area proyek, suasana di dalam langsung berubah. Dipta fokus menyetir, tapi jelas dia sadar ada yang “nggak beres” di sebelahnya. Aira duduk dengan tangan terlipat, menatap ke luar jendela dalm diam. Tapi auranya sangat tidak santai. Beberapa menit berlalu. Akhirnya Dipta buka suara. “Capek?” Aira menjawab tanpa menoleh. “Capek.” Nada suaranya datar. "...dan kesel.” Dipta menarik napas pelan. “Kenapa lagi?” Aira langsung menoleh. Tatapannya tajam. “Kamu nanya kenapa?” Dipta melirik sekilas. “Ya aku nanya.” Aira tertawa siinis. “Tadi yang kamu bilang ke Pak Rendra.” Dipta sempat berpikir sepersekian detik. “Yang mana?” masih pura-pura. Aira langsung mendengus. “Jangan pura-pura nggak tau. 'Menang tender besar semalam’ katanya.” Nada suaranya meniru. Dipta menahan senyum, salah besar kalau ketahuan. “Itu kan cuma—” Belum selesai, Aira langsung potong. “Cuma apa?” Dipta diam. “Candaan.” Aira langsung menyandar lagi ke kursi. “Candaan apaan coba

  • DIPTA   BAB 146 Lokasi Proyek

    Mereka sampai tepat pukul 10.00. benar-benar pas. Area proyek sudah cukup ramai. Beberapa tim dari PT Arkananta Konstruksi Nusantara sudah lebih dulu berada di lokasi, lengkap dengan helm proyek dan rompi keselamatan. Begitu mobil Dipta berhenti, beberapa pasang mata langsung menoleh. Dipta turun lebih dulu,angkahnya tegas seperti biasa. Aura dingin, profesional, tetap ada, namun hari ini ada yang beda. Wajahnya lebih “hidup”, matanya lebih terang. Bahkan garis tegas di wajahnya terlihat lebih ringan. Kalau orang tidak tahu mungkin dikira benar-benar habis dapat proyek besar. Sementara di sisi lain, Aira turun dari mobil. Secara tampilan tetap rapi, cantik dan profesional. Make-up tipisnya berhasil menutupi lingkar hitam di bawah mata. Namun raut wajahnya, masih ada sisa kelelahan meski samar tapi terasa dan cara jalannya yang sedikit lebih hati-hati cukup menjelaskan segalanya bagi orang yang peka. Dipta melirik sekilas. 'Kayaknya masih capek ya…' Belum sempat mereka melangkah le

  • DIPTA   BAB 145 Setelah Bangun

    Saat semuanya benar-benar berhenti, jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Aira bahkan tidak sempat berkata apa-apa. Begitu tubuhnya menyentuh ranjang, matanya langsung terpejam. Tenaganya benar-benar habis. Napasnya pelan, teratur. Wajahnya masih menyisakan lelah dan juga damai. Dipta yang masih terjaga hanya bisa menatapnya beberapa detik. Lalu perlahan dia menarik tubuh Aira ke dalam dekapannya. Aira tidak bereaksi. Sudah terlalu lelah bahkan untuk sekadar menggerakkan tubuh. Senyum kecil muncul di wajah Dipta. Tangannya mengusap punggung Aira pelan. Sesekali dia menunduk, memberi kecupan singkat di dahi, di pelipis bahkan di bibirnya dengan lembut. “Istri kecil…” gumamnya pelan. Kalimat itu terdengar hampir seperti kebiasaan lama. Namun maknanya sekarang sudah berbeda. Dulu, Aira adalah gadis yang lugu, polos dan penurut. Apa pun yang dia katakan, Aira ikuti. Sekarang Dipta menatap wajah Aira lagi. “Udah nggak kecil lagi ternyata…” bisiknya sambil terkekeh pelan. Aira se

  • DIPTA   BAB 144 Hukuman

    Waktu terasa berjalan lambat. Napas yang tadinya tidak teratur, perlahan mulai kembali normal. Keheningan memenuhi kamar itu, tapi bukan keheningan yang canggung justru terasa hangat dan penuh sisa-sisa emosi yang belum sepenuhnya hilang. Lebih dari satu jam berlalu, Dipta akhirnya bergerak lebih dulu. Dia menatap Aira yang masih berbaring membelakanginya, tubuhnya terlihat lemas, napasnya pelan, jelas kelelahan. Senyum tipis muncul di wajah Dipta. Dia mendekat sedikit, lalu memberi kecupan singkat di dahi Aira. “Terima kasih…” ucapnya pelan. Aira tidak menjawab hanya menarik napas pelan, masih terlalu lelah untuk bicara. Dipta terkekeh kecil. 'Dia yang mulai… dia juga yang tumbang duluan.' batinnya. Tangannya terangkat, mengusap lembut kepala Aira, menyelipkan beberapa helai rambut yang berantakan ke belakang telinga. “Ini cobaan… atau keberuntungan ya…” gumamnya pelan, setengah bicara pada dirinya sendiri. Cobaan karena semua ini berawal dari emosi Aira yang dipantik ol

  • DIPTA   BAB 143 Malam Panjang

    Pintu kamar terbuka pelan. Dipta masuk sambil membawa beberapa kantong makanan di tangannya. Suasana kamar langsung terasa sunyi dan sepi. “Aira?” panggilnya. Tidak ada jawaban. Dia melangkah lebih masuk, menaruh makanan di meja kecil. Matanya menyapu ruangan, tapi memang tidak ada siapa-siapa. Alisnya sedikit berkerut. “Kemana dia…” Lalu terdengar suara air dari kamar mandi. “Oh…” gumamnya pelan, mengangguk kecil. Mungkin lagi di kamar mandi. Tanpa pikir panjang, Dipta mulai membuka satu per satu bungkus makanan, menatanya di atas meja. Gerakannya rapi, teratur, seperti biasa. Sementara itu, di balik pintu kamar mandi Aira berdiri di depan cermin. Dia baru saja selesai mencuci tangan. Perlahan, dia menyemprotkan parfum tipis di pergelangan tangan dan lehernya. Aroma lembut langsung menyebar, tidak menyengat, tapi cukup untuk meninggalkan kesan. Tangannya lalu mengambil lip balm dioleskan tipis di bibirnya. Matanya menatap bayangannya sendiri. Ingatan itu kembali pada ucapan S

  • DIPTA   BAB 142 Rencana Aira

    Setelah sampai di hotel, keduanya tidak langsung banyak bergerak. Seharian di luar, berpindah dari meeting ke lokasi proyek, lalu ke mall, cukup menguras tenaga. Begitu pintu kamar tertutup, suasana langsung terasa lebih tenang. Aira meletakkan kantong-kantong belanjaannya di dekat sofa, lalu menjatuhkan tubuhnya perlahan ke atas tempat tidur. Dia menarik napas panjang, meregangkan tubuhnya sedikit. “Capek juga” gumamnya pelan. Dipta tidak langsung menjawab. Dia hanya meletakkan barang-barang yang dibawanya dengan rapi, lalu duduk di kursi dekat meja, menyandarkan tubuh sejenak. Capek jelas tapi yang lebih terasa justru pikirannya. Masih tertinggal di butik, di percakapan dengan Rendra. Baru saja suasana mulai hening, ponsel Aira berdering. Nama yang muncul di layar langsung membuatnya sedikit tersenyum. “Bunda” ucapnya pelan. Dia langsung mengangkat panggilan itu. Belum sempat bicara banyak, suara kecil yang sangat dikenalnya langsung terdengar dari seberang. “Mamaaa!”

  • DIPTA   BAB 89 Standar Arjito

    Ruangan masih hening setelah kalimat Arjito tadi. Arjito Rajendra menatap Dipta cukup lama, seperti sedang memastikan bukan hanya jawabannya yang ia dengar tapi cara Dipta berpikirnya. Dipta tidak menghindar namun juga tidak tergesa menjawab. “Kalau orang yang saya lindungi jadi risiko,” akhirnya

  • DIPTA   BAB 71 Ngambek

    Malam itu Arjito Rajendra baru saja masuk ke rumah setelah seharian di kantor. Belum sempat melepas jas sepenuhnya, ia sudah melihat sesuatu yang familiar, Aira duduk di ruang tamu, diam dan tegak. Wajahnya jelas tidak santai, bahkan dari cara dia menatap saja sudah ketebak, ini bukan obrolan ringa

  • DIPTA   BAB 69 Interview

    Di sisi lain, kehidupan Dipta berjalan dengan ritme yang terlihat rapi di luar, tapi tidak pernah benar-benar tenang di dalam. Setiap satu bulan sekali, selalu ada kiriman yang datang. Bukan pesan panjang dan percakapan, hanya satu hal yang selalu sama, sebuah foto. Di ruang kerjanya di Jakarta,

  • DIPTA   BAB 68 Rencana Menuju Satu Titik

    Malam di apartemen Singapura terasa lebih tenang dari biasanya. Humaira Navya Aruna duduk di ruang tamu, berhadapan dengan dua orang paling penting dalam hidupnya sekarang, Arjito Rajendra dan Linda. Di meja kecil itu hanya ada teh yang sudah mulai dingin. Namun percakapan yang akan terjadi tidak

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status