Beranda / Romansa / DIPTA / BAB 12 Pertemuan dan Lebih dari Sekedar Pedas

Share

BAB 12 Pertemuan dan Lebih dari Sekedar Pedas

Penulis: Adw_Canss781
last update Tanggal publikasi: 2026-03-03 17:54:57

Jam di dinding kamar Aira menunjukkan pukul 15.12. Ia sudah membuka lemari sejak lima menit lalu, tapi belum juga mengambil keputusan.

“Kenapa sih susah banget cuma mau makan?” gumamnya pelan.

Tangannya menyentuh beberapa gantungan baju. Blus putih? Terlalu formal. Kaos oversized? Terlalu santai. Akhirnya ia mengambil kemeja krem tipis dengan celana hitam sederhana. Rapi, tapi tidak berlebihan. Ia berdiri di depan cermin, rambutnya dibiarkan terurai, lalu ia ikat setengah, lalu dilepas lagi.

“Y
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • DIPTA   BAB 85 Arjito Rajendra

    Malam itu, Dipta tidak langsung pulang ke rumahnya sendiri. Mobilnya justru berhenti di kediaman keluarga Mahesa. Rumah yang sudah lama ia kenal, tapi jarang benar-benar ia datangi untuk membahas hal “serius” seperti malam ini. Di ruang kerja rumah itu, Hadiyasa Mahesa sedang duduk dengan beberapa dokumen di meja. Lampu ruangannya tidak terlalu terang. Saat Dipta masuk, Hadiyasa langsung menutup map di depannya. “Tumben malam-malam ke sini.” Dipta tidak langsung duduk. “Aku mau tanya sesuatu.” Hadiyasa mengangkat alis sedikit. “Tentang Arjito?” Dipta diam sebentar. “Iya.” Hadiyasa menghela napas pelan, lalu bersandar di kursinya. “Akhirnya kamu tanya juga.” Dipta menatapnya. “Kenapa dia muncul sekarang? Dan kenapa sekali dia datang, kantor langsung seperti itu reaksinya?” Hadiyasa tidak langsung menjawab. Matanya sedikit kosong, seperti sedang menarik memori lama yang sudah lama tidak disentuh. “Arjito itu bukan orang biasa di dunia bisnis” akhirnya dia berkata pelan. “…

  • DIPTA   BAB 84 Nama yang Diperbincangkan

    Sore itu di gedung Rajendra Engineering, cahaya matahari mulai miring masuk dari kaca-kaca besar kantor. Aktivitas sudah mulai melambat, tapi suasana justru belum benar-benar tenang. Di lantai direksi, Dipta masih duduk di ruangannya. Tangannya mengetuk pelan meja, sementara layar laptop di depannya masih menyala. Pintu diketuk. “Masuk.” ucap Dipta. Asistennya masuk dengan ekspresi agak ragu. “Pak, bawah masih ramai ngomongin Pak Arjito.” Dipta tidak langsung menoleh. “Masih?” “Iya, Pak. Dari siang sampai sekarang belum reda. Malah makin banyak yang nebak-nebak.” jawab asistennya Dipta menutup laptopnya pelan. “…biarkan saja.” Asistennya sedikit bingung. “Tapi Pak, ini sudah mulai dikaitkan ke sejarah perusahaan dan—” “Semua orang selalu butuh cerita” potong Dipta pelan, tapi tegas. “Kalau tidak diberi fakta, mereka bikin sendiri.” Ruangan jadi hening sebentar. Dipta berdiri, berjalan ke arah jendela. Di bawah sana, kantor masih terlihat sibuk, tapi tidak seramai tad

  • DIPTA   BAB 83 Kemunculan Orang Lama

    Hari itu ruang rapat pemegang saham di gedung Rajendra Engineering terasa lebih tegang dari biasanya. Para direksi sudah duduk rapi. Layar presentasi menampilkan grafik kenaikan yang terus naik tajam, bulan pertama 15%, lalu bulan kedua dan ketiga digabung, total lebih dari 35%. Angka yang terlalu bagus untuk dianggap “kebetulan”. Di kursi utama, Dipta Niskala Mahesa duduk tenang seperti biasa. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi berlebihan. Tapi tangannya yang sesekali menyentuh meja, menunjukkan dia tahu hari ini bukan hari biasa. Lalu pintu ruang rapat terbuka, suara kecil gesekan pintu saja sudah cukup membuat beberapa kepala menoleh dan suasana langsung berubah. Arjito Rajendra masuk, sendirian tanpa perwakilan dan tanpa kabar sebelumnya. Beberapa orang langsung saling pandang, ada yang refleks berdiri setengah, ada yang langsung menegakkan duduk. Sudah lama sekali, belasan tahun yang mungkin hampir dua dekade sejak sosok itu benar-benar hadir di ruang ini. Arjito melangkah pe

  • DIPTA   BAN 82 Sindiran dan Cerminan Diri

    Perjalanan pulang dari hotel menuju kantor Rajendra Engineering berlangsung seperti biasa—tenang, tapi heningnya terasa “berisi”. Dipta memilih menyetir sendiri sejak awal keberangkatan. Tidak ada supir, tidak ada pihak ketiga. Hanya dia dan Humaira Navya Aruna di kursi sebelah. Di dalam mobil, Aira awalnya sibuk melihat jalanan dari jendela. Tapi lama-lama, dia mulai merasa suasananya agak berbeda. “Pak.” panggilnya pelan. Dipta tidak langsung menoleh. “Hm? jawabnya singkat. “Tadi meetingnya lancar ya?” Aira mencoba membuka percakapan ringan. "Lancar.” jawab Dipta tetap datar. Hening lagi. Aira kembali menatap ke luar jendela. “Aneh banget suasana sekarang…” gumamnya pelan dalam hati. Di sisi lain, Dipta fokus mengemudi. Tangannya stabil di setir. Sementara pikirannya tidak sepenuhnya “kosong”. Masih ada satu adegan yang terus muncul ulang di kepalanya, nomor yang diberikan Aira tanpa ragu dan tanpa curiga. Dipta menghela napas pelan, bukan marah dan bukan juga kaget

  • DIPTA   BAB 81 Pakaian dan Gosip

    Perjalanan dari Puncak menuju Jakarta akhirnya selesai saat mobil memasuki area rumah Aira. Di dalam mobil, Aira bahkan sudah tertidur sejak beberapa puluh menit terakhir. Kepalanya miring ke kaca, napasnya pelan, benar-benar kelelahan setelah rangkaian acara di penginapan Rajendra Engineering. Dipta melirik sekilas ke samping. “Udah sampai.” gumamnya pelan, lebih ke dirinya sendiri. Mobil berhenti tepat di depan rumah. Aira langsung terbangun karena guncangan kecil. “Eh?” Ia langsung menegakkan badan. “…sudah sampai?” Dipta mengangguk. “Iya.” jawabnya singkat. Aira buru-buru merapikan diri. “Maaf saya ketiduran, Pak…” ucapnya sambil membuka pintu. Ia turun dari mobil, masih agak mengantuk. “…terima kasih banyak ya, Pak.” katanya sopan. Dipta juga turun sebentar, membantu mengeluarkan koper Aira dari bagasi. Gerakannya cepat, rapi, tanpa banyak bicara. Saat Aira sudah siap mengambil kopernya. “Aira.” Dipta memanggil. Aira menoleh. “Iya, Pak?” Dipta menyerahkan sebuah paper ba

  • DIPTA   BAB 80 Hari Terakhir

    Sore itu di penginapan Rajendra Engineering, kondisi sudah jauh lebih tenang setelah rangkaian kegiatan. Aira akhirnya sudah bisa kembali ke kamarnya sendiri setelah sebelumnya beristirahat cukup lama di kamar Dipta. Langkahnya ringan, bahkan sedikit lega "Akhirnya balik kamar sendiri…” gumamnya pelan sambil menutup pintu. Di sisi lain, Dipta baru saja kembali ke kamarnya juga. Setelah seharian mengawasi kegiatan, tubuhnya mulai ingin istirahat dan mandi. “Akhirnya selesai juga.”gumamnya sambil membuka kancing lengan kemeja. Ia melangkah ke kamar mandi tanpa banyak pikir dan tepat saat dia masuk. “….” Dipta berhenti, di dalam kamar mandi, masih tergantung pakaian Aira yang tadi dipakai saat terpeleser dan hanyut di sungai dan belum dibawa kembali. Ia menatapnya cukup lama satu detik, dua detik. Lalu menghela napas panjang. “Kamu ini..." gumamnya pelan, entah ke siapa. Matanya turun sedikit dan langsung berhenti di bagian paling atas tumpukan pakaian itu, pakaian dalam milik

  • DIPTA   BAB 29 Rania dan Meyakinkan Posisi

    Pagi itu terasa berbeda bagi Aira, bukan karena cuaca dan bukan karena jadwal pelajaran, tapi karena sejak membuka mata, ada satu wajah yang langsung muncul di kepalanya, Dipta. Aira berdiri di depan cermin kamar, merapikan rambutnya. Tangannya sempat berhenti beberapa detik ketika bayangan semalam

  • DIPTA   BAB 28 Sesi Belajar dan Kedekatan Yang Meningkat

    Hening menyelimuti apartemen. Lampu kuning lembut dari plafon menyorot ke meja belajar mereka. Aira duduk di kursi, buku catatan dan pulpen di tangan, tapi matanya tak lepas dari Dipta. Dipta berdiri di dekat papan tulis, menunjukkan diagram anatomi tubuh manusia. Tapi jaraknya kini lebih dekat dar

  • DIPTA   BAB 23 Keputusan dan Status

    Pintu apartemen terbuka bahkan sebelum Aira sempat mengetuk dua kali. Dipta sudah berdiri di sana, kaus hitam polos dan celana training abu-abu, rambutnya sedikit basah seperti baru selesai mandi. “Cepat banget bukanya”, Aira mengangkat alis. “Kebetulan lagi di dekat pintu”, jawabnya ringan. Pada

  • DIPTA   BAB 22 Tempat Yang Sama, Posisi Yang Berubah

    Tempat itu tidak pernah berubah. Kafe semi-terbuka di sudut jalan utama, dengan dinding kaca besar menghadap persimpangan. Lampunya terang, tidak temaram. Meja-meja tersusun rapi, kursi kayu dengan sandaran lurus, dan aroma kopi yang lebih kuat daripada wangi manis sirup seperti di tempat lain, tid

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status