LOGINRuangan masih hening setelah kalimat Arjito tadi. Arjito Rajendra menatap Dipta cukup lama, seperti sedang memastikan bukan hanya jawabannya yang ia dengar tapi cara Dipta berpikirnya. Dipta tidak menghindar namun juga tidak tergesa menjawab. “Kalau orang yang saya lindungi jadi risiko,” akhirnya dia bicara pelan, “saya tidak akan langsung menghapusnya dari sistem." ia berhenti sebentar. “…saya akan ubah sistemnya.” Aira yang duduk di sampingnya langsung menoleh kecil, ia tidak menyangka jawabannya akan mengarah ke situ. "Ubah sistem…” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar. Arjito mengangkat alis sedikit, ekspresinya benar-benar berubah bukan dingin, tapi lebih seperti “menilai ulang”. “…dan kalau sistem itu tidak bisa diubah?” Dipta langsung menjawab tanpa jeda. “Berarti saya yang salah desain dari awal.” Ruangan kembali sunyi. Kali ini bukan tegang yang menekan, ini hening yang berhenti menolak. Arjito Rajendra menatap layar sebentar, lalu kembali ke Dipta. “Jawabanmu t
Pagi di Rajendra Engineering berjalan seperti biasa, tapi ada satu hal yang terasa sedikit berbeda di ruangan atas. Dipta duduk di meja kerjanya, beberapa dokumen sudah tersusun rapi di depan. Kali ini bukan laporan internal, melainkan proposal kerja sama dengan Aurelis Global Holdings. Dia membaca ulang sekali lagi, lalu berhenti. “Ini harusnya sudah cukup.” meski kalimat itu tidak benar-benar meyakinkan dirinya sendiri. Pintu diketuk. Aira masuk sambil membawa berkas kecil. “Pak, ini revisi vendor...” Dia berhenti ketika melihat tumpukan dokumen di meja. “Itu apa?” Dipta menutup file perlahan. “Kerja sama Aurelis.” Aira langsung diam. “Yang itu?” Dipta mengangguk. Aira menarik kursi, duduk tanpa diminta. “Bapak yakin?” nada suaranya lebih hati-hati dari biasanya. Dipta menatapnya. “Tidak ada yang saya kirim tanpa yakin.” jawabnya singkat. Aira menghela napas kecil. “Tapi itu kan…” Dia ragu. “Aurelis.” Dipta sudah tahu maksudnya karena 'Arjito Rajendra'. “Saya tahu.” jawab
Dari kejauhan, Dipta sebenarnya tidak sedang benar-benar fokus pada pembicaraan koleganya. Matanya sesekali bergerak dan sejak beberapa menit terakhir arah pandang itu selalu kembali ke satu titik yang sama, Aira. Saat perempuan tadi mendekat dan berbisik, ekspresi Dipta memang tidak berubah. Tapi langkah percakapannya dengan kolega di depannya sempat berhenti sepersekian detik, memang hanya sebentar sangat kecil sampai orang lain tidak sadar. Di sisi Aira, suasana masih tegang. Perempuan itu sudah sedikit menjauh, tapi tatapannya masih menyisakan penegasan yang tidak perlu diucapkan lagi. “Aku cuma kasih tahu ya” katanya santai, “di sini banyak yang tahu posisi Dipta itu gimana.” Lalu dia berbalik, pergi begitu saja, seperti tidak terjadi apa-apa. Aira berdiri diam, matanya mengikuti langkah perempuan itu sebentar, lalu perlahan kembali ke depan. Ekspresinya tetap tenang… tapi jelas pikirannya tidak. “Milih kata juga orang ini” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar. Di
Siang di Rajendra Engineering berjalan seperti biasa. Meeting, laporan, dan ritme kerja yang padat. Tapi sore itu, jam menunjukkan sekitar 15.00 ketika Dipta memanggil Aira ke ruangannya. Aira masuk dengan ekspresi biasa, masih membawa beberapa berkas. “Pak?” Dipta tidak langsung menjawab. Dia menutup file di depannya, lalu bersandar ringan. “Kamu pulang sekarang.” Aira langsung kaget kecil. “Hah? Sekarang?” Dipta mengangguk. "Malam ini kamu ikut saya.” Aira langsung bingung. “Ikut ke mana, Pak?” Dipta menatapnya sebentar. “Makan malam.” jawabnya singkat dan jelas. Aira masih diam. “Makan malam sama siapa?” Dipta menjawab santai, seolah itu hal paling biasa di dunia. "Kolega.” Aira mengernyit. “Kolega perusahaan?” Dipta mengangguk. “Iya.” Aira mulai merasa aneh. “Berapa orang?” Dipta menatapnya sebentar, lalu menjawab ringan: “Banyak.” Aira langsung terdiam. Dipta berdiri, mengambil sesuatu dari meja sampingnya. Sebuah paperbag besar, dia menyerahkannya ke A
Malam itu, Dipta tidak langsung pulang ke rumahnya sendiri. Mobilnya justru berhenti di kediaman keluarga Mahesa. Rumah yang sudah lama ia kenal, tapi jarang benar-benar ia datangi untuk membahas hal “serius” seperti malam ini. Di ruang kerja rumah itu, Hadiyasa Mahesa sedang duduk dengan beberapa dokumen di meja. Lampu ruangannya tidak terlalu terang. Saat Dipta masuk, Hadiyasa langsung menutup map di depannya. “Tumben malam-malam ke sini.” Dipta tidak langsung duduk. “Aku mau tanya sesuatu.” Hadiyasa mengangkat alis sedikit. “Tentang Arjito?” Dipta diam sebentar. “Iya.” Hadiyasa menghela napas pelan, lalu bersandar di kursinya. “Akhirnya kamu tanya juga.” Dipta menatapnya. “Kenapa dia muncul sekarang? Dan kenapa sekali dia datang, kantor langsung seperti itu reaksinya?” Hadiyasa tidak langsung menjawab. Matanya sedikit kosong, seperti sedang menarik memori lama yang sudah lama tidak disentuh. “Arjito itu bukan orang biasa di dunia bisnis” akhirnya dia berkata pelan. “…
Sore itu di gedung Rajendra Engineering, cahaya matahari mulai miring masuk dari kaca-kaca besar kantor. Aktivitas sudah mulai melambat, tapi suasana justru belum benar-benar tenang. Di lantai direksi, Dipta masih duduk di ruangannya. Tangannya mengetuk pelan meja, sementara layar laptop di depannya masih menyala. Pintu diketuk. “Masuk.” ucap Dipta. Asistennya masuk dengan ekspresi agak ragu. “Pak, bawah masih ramai ngomongin Pak Arjito.” Dipta tidak langsung menoleh. “Masih?” “Iya, Pak. Dari siang sampai sekarang belum reda. Malah makin banyak yang nebak-nebak.” jawab asistennya Dipta menutup laptopnya pelan. “…biarkan saja.” Asistennya sedikit bingung. “Tapi Pak, ini sudah mulai dikaitkan ke sejarah perusahaan dan—” “Semua orang selalu butuh cerita” potong Dipta pelan, tapi tegas. “Kalau tidak diberi fakta, mereka bikin sendiri.” Ruangan jadi hening sebentar. Dipta berdiri, berjalan ke arah jendela. Di bawah sana, kantor masih terlihat sibuk, tapi tidak seramai tad
Tempat itu tidak pernah berubah. Kafe semi-terbuka di sudut jalan utama, dengan dinding kaca besar menghadap persimpangan. Lampunya terang, tidak temaram. Meja-meja tersusun rapi, kursi kayu dengan sandaran lurus, dan aroma kopi yang lebih kuat daripada wangi manis sirup seperti di tempat lain, tid
Mobil melaju kembali, lampu jalan mulai menari di kaca depan. Hening, tapi tidak canggung hanya ruang yang penuh konsentrasi. Aira masih merasakan sisa hangat di pergelangan tangannya, sedangkan Dipta memutar-mutar setir dengan tenang, matanya fokus ke depan, tapi pikirannya masih tertuju pada resp
Mesin mobil masih menyala pdalam Dipta duduk tegak di kursi pengemudi, satu tangan di setir dan satu tangan bertumpu ringan di paha. Ia tidak membunyikan klakson dan tidak mengirim pesan. Ia memang datang tepat waktu, tidak lebih cepat dan tidak terlambat. Rumah Aira cukup sederhana, cat pagarnya
Sabtu pagi, jam menunjukkan pukul 06.12. Padahal biasanya Aira baru benar-benar bangun pukul tujuh saat tidak ada sekolah. Matanya sudah terbuka sejak lima belas menit lalu. Ia menatap langit-langit kamar, diam untuk beberapa waktu. Lalu memiringkan tubuh, mengambil ponsel di meja samping ranjang, t







