LOGIN“Lepaskan saja,” bisiknya rendah. “Aku ikut.”Elara mengangguk lemah, tubuhnya semakin bergetar. Alessandro menahan pinggangnya erat. Gerakan terakhirnya dalam dan penuh, hingga keduanya mencapai puncak hampir bersamaan. Desahan mereka pecah di keheningan kamar, lalu perlahan mereda.Napas masih memburu. Keringat membuat kulit mereka lengket. Alessandro tidak langsung keluar. Ia menjatuhkan diri dengan memeluk Elara. Kini tubuh mereka berhadapan. Alessandro mengecup bibir Elara pelan beberapa kali, sampai detak jantung mereka berangsur tenang. Tenaga yang terkuras membuat keduanya terdiam."Aah," erang Alessandro sambil mencabut miliknya yang sudah benar-benar lemas.Elara bergidik pelan, saat milik Alessandro lepas sepenuhnya. Ia tersenyum dengan mata berat."I love you, Honey," ucapnya lirih dan langsung menutup kelopak mata.Alessandro menarik selimut hingga ke bahu mereka, masih memeluknya erat. "I love you too, Sweety."Tidak lama kemudian, napas Elara menjadi teratur. Alessandr
Alessandro menggeram rendah, keningnya menempel di bahu Elara. “El, pelan. Aku tidak tahan kalau kamu pegang seperti itu.”Elara menelan ludah, masih menatap apa yang ada di tangannya dengan ekspresi campur aduk. Rasa terkejut, penasaran, dan bercampur sedikit takut. “Ini… benar-benar masuk nanti?” tanyanya pelan, suaranya hampir berbisik.Alessandro mengecup pelipisnya, napasnya sudah tidak beraturan. “Kita pelan-pelan. Kamu yang atur, Sayang.”Alessandro melumat bibir Elara, saat tangan Elara menarik batangnya untuk masuk. Ketika Alessandro menekan sedikit masuk Elara, keduanya menggeram pelan.Elara langsung menegang. Wajahnya mengernyit, bibirnya terkatup rapat menahan rasa perih yang menusuk.“Ahh… sakit…,” desah Elara tertahan, kuku-kukunya menancap di bahu Alessandro. Namun alkohol yang masih mengalir di darahnya membuat tubuhnya bereaksi lain. Sensasi panas, sensitif, dan semakin haus akan sentuhan.Alessandro langsung berhenti. Napasnya memburu, dahi berkerut menahan diri. Se
Malam itu, restoran Bianchi yang terletak di tepi sungai terasa hangat dan intimate. Lampu-lampu kecil menggantung di atas meja, memantulkan cahaya ke permukaan air di luar jendela.Maria duduk di seberang, sesekali menyeletuk dengan ceria, sementara Alessandro lebih banyak memperhatikan Elara. Percakapan mengalir dari desain, Milan Fashion Week, hingga sedikit tentang pekerjaan Alessandro di rumah sakit—tanpa menyinggung Thomas secara mendalam.Seiring malam berjalan, Maria dengan sengaja meminta izin undur diri lebih awal dengan alasan lelah. “Kalian masih muda. Nikmati malamnya. Alessandro, antar Elara pulang nanti.”Tersisa berdua, suasana menjadi lebih tenang. Alessandro memesan sebotol wine lagi. Elara yang biasanya jarang minum, malam itu menerima gelas demi gelas. Ia mungkin ingin melupakan Kael atau memang tatapan Alessandro yang lembut membuatnya lengah.“Kamu berbeda dari yang kubayangkan,” kata Alessandro pelan, menyandarkan dagu di punggung tangan. “Di atas kertas dan di
Elara saling pandang dengan Clara. Keduanya ragu harus mulai dari mana. Akhirnya Clara yang lebih dulu menarik napas dalam.“Om Thomas, ada kabar dari dokter,” kata Clara pelan, mencoba menjaga suaranya tetap tenang. “Kondisi sumsum tulang Om memburuk lebih cepat dari yang diperkirakan. Dokter bilang Om akan membutuhkan transplantasi sumsum tulang.”Thomas mengerutkan dahi lemah. “Transplantasi…?”Elara menunduk sebentar, lalu mengangkat wajah. “Idealnya dari anak kandung, karena peluang kecocokan HLA-nya paling tinggi. Tapi…” Ia terdiam, tidak sanggup melanjutkan.Thomas menatapnya tajam meski tubuhnya lemah. “Tapi apa, Elara?”Clara menggenggam sisi tempat tidur. “Hasil pemeriksaan menunjukkan Kael tidak cocok, Om. Bahkan dari pola genetiknya, kemungkinan besar Kael bukan anak kandung Om.”Keheningan yang menyakitkan menyelimuti kamar. Monitor detak jantung berbunyi stabil, seolah tidak peduli dengan bom yang baru saja dijatuhkan.Thomas terdiam lama. Matanya menatap langit-langit p
"Kenapa kamu gak jujur dari awal, kalau pernah tidur dengan Lyra? Kenapa kau membuatku merasa jadi wanita satu-satunya bagimu? Kau bilang tidur dengan Lyra karena mabuk? Tapi kau peluk dia dalam keadaan setengah telanjang? Lupakan! Aku mau pulang." "Waktu itu Lyra demam tinggi. Tubuhnya sudah kejang. Aku lakukan pertolongan pertama agar suhunya bisa normal. Di markas gak ada obat. Itulah cara alami yang bisa dilakukan," jelas Kael dengan berusaha meraih jemari Elara. Namun gadis itu buru-buru menepisnya. "Telan itu buat diri kamu sendiri. Sekarang katakan, kamu menemui aku untuk apa?" tanya Elara sambil menatap tajam Kael. "Kasih tahu, gimana caranya agar kamu bisa maafkan aku? Mari kita bersama lagi, El! Gak ada wanita lain di hati aku,"ucap Kael dengan mata berkaca-kaca. "Katakan, kamu mau pernikahan macam apa dan kapan? Semua akan aku wujudkan." Elara tersenyum tipis. Baginya yang dilakukan Kael barusan seperti sebuah parodi. Ia bertanya dengan nada sinis. "Apa kamu liat, aku se
Malam itu, La Pergola dipenuhi suasana elegan. Lampu kristal merefleksikan cahaya hangat di atas meja-meja yang tertata rapi. Elara tiba tepat pukul tujuh, mengenakan gaun hitam sederhana potongan modern yang memamerkan bahunya. Rambut blonde-nya tersisir rapi ke belakang, tampilannya tenang dan profesional.Marco Rossi sudah menunggu di meja dekat jendela. Pria berusia empat puluhan itu tersenyum lebar saat melihatnya.“Elara, senang sekali kamu bisa datang,” sapa Marco sambil berdiri. “Silakan duduk!"Elara tersenyum sopan dan duduk di seberangnya. “Terima kasih sudah mengundang saya, Mr. Rossi. Anda bilang ada proposal menarik?”Marco mengangguk. “Ya. Ada peluang kolaborasi dengan beberapa rumah mode di Paris dan New York. Saya rasa karya Anda sangat cocok. Tapi sebelum kita bahas detailnya… ada seseorang yang ingin bergabung sebentar.”Elara mengernyitkan dahi. “Seseorang?”Belum sempat Marco menjawab, langkah kaki berhenti tepat di samping meja mereka. Bayangan tinggi menaungi ca







