Mag-log in"Apa kamu gila?!" teriak pria itu dengan mata melotot, hampir tidak percaya dengan permintaanku.Aku menggeleng pelan sembari menahan rasa sakit yang kian dahsyat mencabik perutku. "Tolong... aku akan berikan apa pun yang kamu minta," bisikku dengan suara yang semakin samar, nyaris hilang tertelan hiruk pikuk suara gaduh di ruang UGD."Argh! Baru kali ini aku dihadapkan dengan perempuan gila sepertimu!" teriaknya kesal. Meski mengomel, ia segera menyambar pulpen dan menandatangani dokumen itu dengan gerakan cepat dan kasar."Cepat tangani dia! Menyusahkan saja!" keluhnya sembari menyodorkan kembali dokumen itu pada suster yang menunggu."Atas nama siapa?" tanya suster itu, menunjuk kolom kosong pada surat tersebut. "Anda tidak menulis nama pasien di sini."Pria itu melirikku tajam, napasnya memburu. "Hei! Cepat katakan siapa namamu?!" teriaknya tidak sabar seolah dikejar waktu."Erika..." bisikku lemah."Kamu dengar, kan, Suster? Silakan ditulis," ucapnya ketus.Suster itu mencatat n
Mataku membulat sempurna. Di sana, berdiri seorang wanita yang wajahnya pernah kulihat di foto rahasia dalam kamar Mas Jefri dan terselip di dompetnya. Dia adalah Clara, wanita yang pernah mengisi hidup Mas Jefri jauh sebelum ia mengenalku. Wajahnya benar-benar mirip denganku, hanya saja ia berambut pirang dengan postur tubuh yang lebih tinggi dan elegan.Namun, kenapa dia ada di kantor Mas Jefri mengenakan pakaian kerja? Dan apa yang baru saja kudengar? Wanita itu memanggil suamiku 'Sayang'?Tubuhku terhuyung mundur karena syok yang teramat sangat. Aku menatap Mas Jefri dengan kelopak mata yang berkedip cepat dan bibir yang bergetar hebat. "Apa maksudnya ini, Mas?! Kamu mengkhianati saya?!" teriakku dengan dada kembang kempis menahan sesak."Erika... semua ini tidak seperti yang kamu pikirkan," ucap Mas Jefri cepat sambil meremas kedua bahuku, mencoba menenangkanku."Pembohong!" Aku mengempaskan tangannya kasar dengan mata melotot tajam. "Itu sebabnya kamu selalu menunda kembali ke
Aku sibuk menatap layar ponsel saat keluar dari gedung Gourmet Indonesia, hingga tanpa sadar aku menabrak dada bidang seseorang yang tiba-tiba berdiri di hadapanku."Ah!" teriakku terperanjat. Aku mendongak dan mengerjap. "Mas Raka?""Ngapain kamu jalan terburu-buru sambil fokus ke HP?" protesnya dengan kening berkerut.Aku tertawa garing, mataku bergerak gelisah ke segala arah untuk mencari alasan. "Aku... ada urusan mendadak," ucapku spontan sambil menggigit bibir, berharap Mas Raka tidak menginterogasiku lebih jauh."Ada apa?" tanyanya lagi, matanya menyipit penuh selidik.Aku menggaruk kepala yang tidak gatal sembari mengalihkan pandangan. Dalam hati aku bergumam, 'Aduh... kenapa masih tanya, sih?'"Erika... apa ada masalah?" ulangnya sambil meneliti ekspresi wajahku.Apa yang harus kukatakan? Jangan sampai dia tahu aku mau menyusul Mas Jefri ke London. Mereka tidak saling suka, Mas Raka bisa melakukan segala cara untuk mencegahku pergi."Iya, Mas..." jawabku akhirnya. Aku mencoba
"Tentu saja." Mbak Nirmala memutar laptop di atas meja, mengarahkan layarnya tepat ke hadapanku. "Hari ini dia sedang mengadakan pameran di London. Ini adalah beberapa karya populernya."Aku sedikit mencondongkan tubuh, menatap layar dengan saksama. Aku melihat hasil dokumentasi lukisan dan ilustrasi sampul novel yang pernah ia buat. Sekali pandang, aku langsung dibuat takjub oleh goresan tangannya."Wow... hasil karyanya memang sangat menarik," pujiku tulus sambil terus menggulir kursor pada laptop tersebut.Mbak Nirmala tiba-tiba mengambil alih kursor. Ia membuka sebuah draf sampul buku dari penulis lain. "Dan ini adalah hasil ilustrasi terbaru yang dia buat."Aku kembali meneliti setiap perpaduan warna yang pelukis itu tuangkan di atas sampul buku. Estetikanya benar-benar berbeda."Semua novel yang sampulnya dibuat oleh dia selalu mendapat angka penjualan yang fantastis," jelas Mbak Nirmala penuh semangat. Ia kemudian membuka data penjualan dan menunjukkan kurva statistik padaku.
Aku menyampirkan tas di pundak dengan senyum yang lebih cerah. "Baiklah, Nyonya Roy..."Dita tertawa lebar mendengar godaanku. Aku segera turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam gedung untuk menemui editor novelku."Selamat siang, Mbak Erika..." sapa Mbak Nirmala ramah sambil mengulurkan tangan begitu aku memasuki ruangannya.Aku menjabat tangannya hangat. "Siang, Mbak..."Kami pun duduk berhadapan. Suasana kantor yang tenang membuatku sedikit lebih rileks."Nggak menyangka ya, akhirnya Mbak Erika akan menerbitkan buku lagi setelah satu tahun vakum," ucap Mbak Nirmala dengan nada bangga."Iya, Mbak. Aku juga nggak menyangka bisa menulis lagi," sahutku sembari tersenyum lebar."Kali ini tulisan Mbak Erika jauh lebih menarik dari sebelumnya," ucapnya antusias sambil mengecek layar laptop di depannya. "Dari hasil survei, pembaca setia Mbak Erika sudah tidak sabar menunggu buku ini terbit."Aku ikut mencondongkan tubuh, menatap layar laptopnya dengan perasaan berdebar."Jujur, aku s
"Gue nggak bisa kasih tahu Pak Jefri lewat telepon, Dit," jawabku dengan wajah lesu. Aku menyandarkan bahu di dinding rumah sakit yang dingin, menatap kosong ke ujung lorong dengan mata sayu."Gue nggak tahu bagaimana suasana hatinya yang mungkin..." Suaraku tercekat di tenggorokan. Aku berusaha mengatur napas agar tak terbawa emosi, namun dadaku terasa semakin sesak. "...nggak akan mengakui bayi ini sebagai anaknya."Dita mengerutkan kening, ia berdiri tepat di hadapanku. "Apa Lo nggak bisa tunggu sampai dia pulang saja?""Sampai kapan?!" tanyaku dengan nada tinggi yang mendadak meledak. Dadaku mulai kembang kempis menahan isak yang hampir pecah. "Gue nggak pernah tahu kapan dia akan benar-benar kembali ke Indonesia. Bagaimana kalau itu sampai enam bulan? Atau bahkan satu tahun?!"Air mataku mulai luruh membasahi pipi. Aku segera membalikkan badan, bersembunyi di balik pilar tembok agar orang-orang yang berlalu-lalang di klinik itu tidak melihat rapuhnya keadaanku saat ini.Dita mend







