Share

BAB 62 HORNI

Penulis: Libra Syafarika
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-04 13:37:16

"Ya ampun, Non... Cuma mau tanya itu kok sampek lari?" Ia merangkulku—mengajak duduk di kursi makan. "Sini duduk dulu. Mbok ambilkan air sebentar."

Aku mengatur napas sambil menunggu Mbok Parti datang. Rasanya sudah tidak sabar untuk segera ingin tahu jawabannya.

Tapi di sisi lain, aku juga merasa sangat khawatir. Apa jadinya jika kecurigaanku itu benar? Aku tidak bisa membayangkan jika harus melihat pria yang sudah meniduriku, duduk di kursi pengantin bersama sahabatku sendiri.

"Ini Non, minum dulu," pinta Mbok Parti, memberiku segelas air dingin.

Aku langsung meminumnya hingga habis, karena tenggorokanku terasa kering setelah mencurigai hubungan Dita dan pak Jefri.

"Jadi gimana, Mbok? Mbok Parti tahu, kan? Siapa calon suami Dita?" tanyaku setelah meletakkan gelas di meja.

"Oalah Non... Mbok ya mana tahu," sahutnya sambil mengelus tanganku. "Mbok cuma denger sedikit saat Non Dita ngobrol sama Nyonya. Harusnya Non Erika yang tahu kan, siapa calon suami Dita?"

Aku menyeret kursi agar l
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • DOSEN KILLER: Skripsi Berbuah Cinta   BAB 193 PENGALAMAN PERTAMA

    Namun, tubuhku tetap membeku tak bergerak. Hati dan pikiranku seolah bertolak belakang, saling mengunci satu sama lain. Tepat saat bibir Steafen hampir menyentuh bibirku, seorang pelayan tiba-tiba lewat di lorong itu."Permisi..." ucap pelayan itu sopan.Suara itu membuat Steafen seketika menarik diri dan menegakkan kembali tubuhnya. Ia mengalihkan pandangan ke arah lain, terlihat salah tingkah dengan telinga yang sedikit memerah. Aku pun menelan ludah dengan susah payah, segera menyelipkan anak rambut ke belakang telinga sambil menyembunyikan wajah di sisi tembok.Tanpa bicara sepatah kata pun, Steafen langsung menarik tanganku kembali, menuntun langkahku dengan cepat hingga kami masuk ke dalam mobil.Suasana canggung menyelimuti kabin mobil selama beberapa saat. Tak ada yang memulai pembicaraan di antara kami. Hanya suara deru mesin yang memecah keheningan, sampai akhirnya Steafen memecah suasana."Mau pergi ke mana kita?" tanyanya dengan nada santai, seolah-olah ketegangan di loro

  • DOSEN KILLER: Skripsi Berbuah Cinta   BAB 192 GETARAN YANG SEMAKIN GILA

    "Erika?!" balas Steafen sama kagetnya denganku. "Kamu penulisnya?" tanyanya dengan nada suara yang terdengar meremehkan."Iya!" jawabku ketus. Aku melirik penampilannya dari atas hingga ke bawah, masih tak percaya dengan kenyataan ini. "Kamu pelukis terkenal itu? Fen De Light?"Ia menyilangkan tangan di dada, dagunya terangkat menatapku dengan sombong. "Iya. Kenapa? Sudah mulai kagum sama aku?""Cih!" Aku membuang muka sambil mencibir. "Aku memang kagum dengan karyamu. Tapi tidak dengan orangnya."Steafen tersenyum miring. Ia duduk dengan santai di kursi sambil menyilangkan kakinya. "Jadi... haruskah kita membatalkan kerja sama ini? Kamu terlihat sangat kecewa setelah melihatku."Aku terperanjat dan langsung duduk di hadapannya dengan wajah gusar. "Aku sudah menantimu selama sebulan. Sekarang mau membatalkan begitu saja?"Ia kembali tersenyum miring sambil memainkan kukunya, seolah-olah proyek ini tidak berarti baginya. "Bagaimana lagi. Aku sudah tidak bersemangat," sahutnya dengan na

  • DOSEN KILLER: Skripsi Berbuah Cinta   BAB 191 KEHANGATAN YANG BERANGSUR DINGIN

    Aku langsung mengangkat panggilan itu dengan tergesa. "Halo! Apa maksudmu?!" bentakku tanpa basa-basi. "Sayang... galak sekali, sih, kamu," jawab Steafen di seberang sana dengan nada suara yang menggoda. "Aku tidak punya waktu untuk bercanda, Steafen. Jangan coba-coba datang ke apartemenku!" Aku mendengar dia terkekeh pelan, seolah menganggap ancamanku hanyalah gurauan semata. "Erika... Erika. Padahal saat ini kamu sedang kesepian, kan? Cepat katakan mau ke mana? Aku akan menemanimu meski keliling dunia sekalipun." Alisku berkerut dalam, dadaku kembang kempis menahan kesal yang meluap. "Nggak perlu. Terima kasih!" sahutku kasar, lalu langsung memutus panggilan secara sepihak. Aku melempar ponsel ke ranjang dengan napas memburu. Namun, beberapa detik kemudian, tubuhku mendadak lemas setelah menyadari kenyataan pahit. Steafen... memang terasa lebih peduli padaku daripada Mas Jefri saat ini. Tubuhku merosot ke lantai dan kembali meringkuk di samping tempat tidur. Aku men

  • DOSEN KILLER: Skripsi Berbuah Cinta   BAB 190 PERBANDINGAN YANG MENYAKITKAN

    "Uhuk! Uhuk!" Aku seketika terbatuk hebat karena tersedak ludah sendiri.Dalam hatiku bergumam gelisah, 'Bisa-bisanya Mas Raka meminta hal yang justru sudah direncanakan oleh Steafen.'Tapi, aku tidak mau Mas Raka sampai tahu soal kesepakatan kencan itu. Kalau tidak, dia pasti akan salah sangka dan masalahnya akan semakin panjang."Nggak mungkinlah, Mas. Aku kan sudah mau menikah," kelitku berusaha tenang sambil mengalihkan pandangan ke luar jendela mobil.Mas Raka terkekeh kecil, seolah menganggap penolakanku hanya angin lalu. "Ya sudah kalau itu keputusanmu. Tapi, aku akan sangat mendukung kalau kamu memberi kesempatan pada Steafen, sebelum kamu dan Jefri benar-benar menikah."Aku membuang muka dengan bibir mengerucut sebal. "Hhmm... itu sih maunya Mas Raka saja."Ia kembali terkekeh sambil fokus mengendalikan kemudi. "Aku memang sangat ingin menjodohkanmu dengan Steafen," ucapnya lugas sambil menoleh padaku sejenak. "Steafen lebih kaya dari Jefri. Perusahaannya lebih kuat di banya

  • DOSEN KILLER: Skripsi Berbuah Cinta   BAB 189 DISERANG RAYUAN SI PLAYBOY

    Hanya sekali kencan, bukan? Lagipula, Steafen tidak mungkin jatuh cinta padaku. Orang sepertinya hanya sekadar penasaran dan ingin memuaskan egonya dalam menaklukkan wanita. Yang penting kami tidak menjalin hubungan apa pun setelahnya.​Mas Jefri juga sedang di London. Asal aku mengikuti permintaan pria ini, semua rahasia akan aman dan urusan selesai. Setelah itu, aku tidak perlu lagi berhubungan dengannya.​"Baiklah..." jawabku akhirnya dengan nada pasrah.​Steafen seketika menyunggingkan senyum puas penuh kemenangan. Ia mengangkat ujung alisnya sambil mencuil daguku dengan ujung jemarinya. "Bagus, Nona..."​Sialan! Padahal aku sudah berdoa agar tidak dipertemukan lagi dengannya. Tetapi, Tuhan justru mengabulkan permintaan pria ini yang ingin kembali bertemu denganku.​Ia mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, lalu memberikannya padaku. "Cepat, simpan nomor kamu di sini," pintanya tanpa melepaskan tatapan dariku.​"Untuk apa?!" tolakku dengan nada tinggi.​Steafen menghela napas lelah

  • DOSEN KILLER: Skripsi Berbuah Cinta   BAB 188 KESEPAKATAN UNTUK MENJAGA RAHASIA

    "Wow... kejutan sekali, Nona. Apa kamu mengejarku sampai ke sini karena rindu?" goda Steafen dengan senyuman miringnya yang menyebalkan.Aku langsung membuang muka, sama sekali tidak berniat meladeni godaannya. Di dunia yang seluas ini, aku benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengannya lagi di sini. Ah, tidak. Apa mungkin Steafen adalah sahabat yang dimaksud Mas Raka?Aku menatap Mas Raka dengan wajah tegang, berharap mendapat jawaban darinya. Namun, Mas Raka sendiri tampak kebingungan melihat interaksi kami."Steafen, Erika... kalian sudah saling kenal?" tanyanya sambil menunjuk kami berdua bergantian.Aku mengalihkan pandangan sambil meremas sisi gaunku, bingung harus menjelaskan situasiku dan Steafen dari mana. Tidak mungkin aku jujur tentang kejadian di London.Steafen tanpa canggung meletakkan sikutnya di pundak Mas Raka. "Tentu saja aku mengenalnya," ucapnya sembari menatapku dengan tatapan buaya yang sangat kukenali.Sepertinya benar dugaanku, mereka memang bersahabat. At

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status