Share

DUDA KAYA YANG MELAMARKU ITU AYAH SAHABATKU
DUDA KAYA YANG MELAMARKU ITU AYAH SAHABATKU
Author: Rosemala

KEDUDAAN YANG TERNODA

Author: Rosemala
last update Last Updated: 2023-10-31 11:42:56

1

"Prisa, tolong bilang sama teman kamu, dia harus bertanggung jawab, ya! Kedudaan Papa sudah ternoda. Da sudah melihat aurat Papa. Pokoknya Papa tidak mau tahu, dia harus bertanggung jawab!" teriak Om Pandu dari depan pintu kamar Prisa, membuatku terperangah. 

Apa katanya? Aku harus bertanggung jawab? 

Oh My God, yang ternoda di sini, aku. Mata dan otakku sudah ternoda gara-gara melihat ... ah, aku mengacak rambut frustrasi. Menyesal kenapa harus datang ke sini kalau tahu akan seperti ini. 

"Iya, Pa. Tenang aja, Alvina bukan gadis yang suka lari dari tanggung jawab, kok," balas Prisa juga sambil teriak dan diiringi tawanya yang membahana.

Aku melotot kesal ke arah sahabatku itu, tetapi hanya dibalas dengan tawa renyahnya. 

"Pokoknya Papa tidak mau tahu, dia harus mau menikahi Papa. Kalau tidak, Papa akan tuntut sama orang tuanya!" teriak Om Pandu lagi dari celah pintu kamar Prisa yang sedikit terbuka. 

Aku semakin terbelalak mendengar ucapan ayah sahabatku itu. 

Dasar duda meresahkan! Dia yang tidak pakai baju. Kenapa aku yang disalahkan? Sampai meminta tanggung jawab pula. Memangnya dia pikir aku perempuan apa? 

Dasar Om-om aneh! Duda meresahkan! Aku terus mengumpat dalam hati.

Prisa sudah membuka lagi mulutnya hendak menjawab teriakkan papanya. Namun, aku secepat kilat mengeluarkan jurus andalan. Kuterjang sahabatku itu dengan bantal tepat di wajahnya, hingga ia terjungkal di atas karpet tebal kamarnya ini, dan itu sukses membuatnya bungkam dengan mata melotot. Walaupun akhirnya terdengar lagi tawanya yang menyebalkan. 

Aku memajukan bibir dengan kesal. Teringat kejadian beberapa saat sebelumnya yang menjadi momen pertemuan pertamaku dengan Om Pandu si duda menyebalkan itu.

Hari ini aku dan Prisa sudah janjian mengerjakan tugas kuliah bareng. Kami sepakat menajdikan rumah Prisa sebagai tempat mengerjakan tugas. Entah kenapa kali ini ia mau di sini. Padahal biasanya rumahku yang dijadikan base camp kami. Ia menyebut selalu suka suasana rumahku yang hangat, dan yang terpenting Prisa suka masakan ibu. 

Prisa yang sudah lama tidak merasakan kasih sayang seorang ibu, selalu bermanja-manja dengan ibuku. Kalau dilihat sekilas, seolah-olah ialah yang anak kandung ibu, dan bukan aku. Ia lebih dekat dan manja daripada aku anak kandungnya.

Kedekatanku sendiri dengan Prisa sudah terjalin sejak kami menginjakkan kaki di kampus yang sama dua tahun lalu. Berlanjut hingga kini lebih dari dua tahun.

Dengan memesan ojek online, aku menuju rumah Prisa. Hari masih terlalu pagi saat aku tiba karena kami berencana keluar setelah tugas selesai. 

Aku menekan bel di samping kanan pintu bercat putih hingga beberapa kali karena tak kunjung ada yang membukakan pintu. 

Kemana Prisa? Apa ia belum bangun sesiang ini? Masa iya anak gadis bangunya siang. 

Aku yang kerepotan dengan buku-buku tebal di tangan, kesal juga karena cukup lama Prisa tak jua membuka pintu.

Tanganku terangkat lagi hendak mengetuk pintu, saat tiba-tiba benda itu terbuka dan langsung menyuguhkan pemandangan yang membuat tubuh ini panas dingin. 

Seorang pria usia awal empat puluhan berdiri di sana dengan tubuh bagian atas tak berpenutup, hanya celana pendek yang membalut tubuh bagian bawahnya. Keringat terlihat membanjiri seluruh tubuhnya. Dari gelagatnya aku yakin ia baru selesai berolahraga.

Mataku terbelalak melihat pemandangan di depan mata. Buku-buku tebal yang kupegang lolos begitu saja dari dekapan, karena sendi-sendiku mendadak lemas tak bertenaga. 

Ya Tuhan, oh tidak ... mataku ternoda. Aku memalingkan pandangan, tetapi sial mataku malah disuguhi keringat yang mengalir di sela-sela roti sobek pria itu seperti air sungai yang mengalir di sela-sela bebatuan kaki bukit. 

"Cari siapa?" tanya sang pria seraya maju satu langkah. 

Aku yang kaget, sontak mundur juga selangkah. 

"Eh, anu cari ... saya cari keringat, Om." Aku membekap mulut dengan kelima jari yang entah kenapa menjadi gagap. Kemudian kupukuli mulut itu tanpa sadar. 

"Bagaimana?" tanya sang pria lagi. Kening berkeringatnya terlihat berkerut. 

"Anu Om, saya mau cari ... anuan ... roti sobeknya, Om." 

Ya Tuhan, ada apa dengan diriku? Bicara apa aku ini? Semakin tidak karuan saja. Aku memukuli lagi mulut yang tidak tahu malu.

"Roti sobek?" Sang pria kembali bertanya dengan heran. Ia kembali maju, dan aku refleks mundur lagi dengan mata semakin membeliak. Ternyata setelah di depan pintu dengan pencahayaan matahari, roti sobek dan keringatnya terlihat semakin ...  arghhh ...  tubuhku semakin panas dingin tak karuan. 

Dasar payah, kenapa hanya melihat roti sobek saja sampai terhipnotis seperti ini? Alvina, matamu benar-benar ternoda. Matamu sudah tak perawan lagi! 

"Al, kamu sudah datang?" Suara Prisa terdengar nyaring di balik punggung pria itu. 

Percayalah, aku merasa seolah terbebas dari tiang gantungan. Menghadapi pria ini bagai dihadapkan vonis kematian. Aku sulit bernapas.

"Papa apa, sih? Malah nakut-nakutin temanku. Sana minggir! Mana enggak pakai baju, lagi!" Prisa mengomel, mungkin karena melihat wajahku yang pucat. Kemudian ia mendorong tubuh pria yang menghalangi jalannya. 

"Loh, siapa yang nakut-nakutin? Malah Papa yang takut diterkam sama temanmu itu. Dari tadi dia melihat Papa terus, enggak ngedip-ngedip." 

Apa? 

Mataku semakin membulat mendengar ocehannya. 

Terlihat Prisa memajukan bibirnya. 

"Iyalah, dia enggak ngedip-ngedip, orang Papa porno begitu," timpal Prisa lagi seraya menunjuk tubuh sang pria. 

"Masih untung anak orang enggak pingsan. Kalau pingsan Papa mau tanggung jawab?" Kali ini Prisa bertolak pinggang.

"Loh, kok, jadi Papa yang harus tanggung jawab? Yang ternoda di sini tuh, Papa. Kedudaan Papa sudah ternoda sama dia, jadi dia yang harus tanggung jawab." Pria itu menunjukku.

Aku semakin terperangah. Kepalaku berdenyut mendengar perdebatan mereka. Sementara Prisa berdecak kesal. Kemudian memungut buku-buku yang tadi kujatuhkan.

"Sudah Al, ayo masuk! Kenapa lama banget, sih? Aku tunggu dari tadi, loh!” ujar Prisa tak mempedulikan ayahnya. Ditariknya tanganku yang masih bengong menatap sepasang ayah dan anak aneh itu.

"Tunggu, Pris!" seru pria itu lagi. 

Prisa menghentikan langkahnya secara mendadak. Aku yang tidak fokus, menabrak tubuh Prisa karena tanganku digeretnya. 

"Pokoknya Papa tidak mau tahu, Papa mau meminta pertanggungjawaban temanmu, ya!" Sang pria masih kukuh dengan ucapannya. 

Aku dan Prisa memutar bola mata malas bersamaan. 

"Dasar centil!" umpat Prisa kemudian menarik tanganku lagi, membuatku terhuyung-huyung mengikuti langkahnya. 

Aku pikir semua sudah selesai dan ayah Prisa hanya seseorang yang memiliki selera humor tinggi. Siapa sangka saat kami selesai mengerjakan tugas dan keluar kamar, sang pria sudah menunggu kami di ruangan yang akan kami lewati. Kali ini dengan pakaian lengkap. Sudah rapi juga dengan wajah segar.

Aku berusaha cuek dan menganggap tidak pernah terjadi apa-apa hingga tidak disangka sang pria menghadang langkah kami.

“Kamu, namamu siapa tadi?” tanyanya dengan gaya so cool. Walaupun kuakui wajah ayah sahabatku masih tampan dan terlihat lebih muda dari usianya.Tapi dia tetap duda, kan? Ayah Prisa juga.

Aku melirik Prisa sebelum menjawab singkat. “Alvina, Om.”

“Ok, Alvina. Tolong sampaikan kepada orang tuamu, besok Om mau ke rumahmu.”

“Rumahku?” Keningku mengernyit. “Baik, Om. Akan saya sampaikan,” lanjutku tanpa curiga.

“Kamu enggak nanya saya mau apa ke rumahmu?” 

Kening ini kurasakan semakin berlipat demi pertanyaan aneh Om Pandu.

“Memangnya mau apa, Om?” tanyaku polos.

“Mau melamar kamu.”

Idih.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Umi Ayyuni
bukanya om m mang sudah ternoda yaaa,sudah duda pula.aneh...
goodnovel comment avatar
Isnia Tun
Om duda kelakuannya benar² ajaib, harusnya Alvina yang matanya ternoda lah ini malah kedudaanya yg ternoda dan minta tanggung jawab hahahahahaha
goodnovel comment avatar
Nathalie Simatupang
baru baca chapter 1 aja udah geleng2..lucu, aneh, tp penasaran..wkwkkw
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • DUDA KAYA YANG MELAMARKU ITU AYAH SAHABATKU   200

    Acara syukuran pun berjalan sangat rinci sesuai rencana. Lancar, tanpa kendala berarti. Setiap hidangan tersaji tepat waktu, setiap tamu datang dengan senyum dan doa baik. Pembacaan doa menjadi penutupnya. Alvina menunduk, kedua tangannya terkatup rapi di pangkuan. Setiap kalimat doa menembus dadanya, menggetarkan sesuatu yang rapuh sekaligus kuat—sesuatu yang selama ini ia rawat dalam diam.Terima kasih, Ya Allah, batinnya. Terima kasih karena Engkau masih mengizinkan kami merasakan bahagia.Ia memejamkan mata lebih lama dari yang lain, membiarkan kata-kata itu mengendap. Dalam hidupnya yang panjang, Alvina tahu betul bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang datang terus-menerus. Bahagia adalah jeda. Hadiah kecil yang kadang datang setelah air mata panjang. Dan hari ini, ia merasa diberi jeda yang begitu indah.Saat doa selesai, suasana mencair. Obrolan kecil bermunculan, tawa pecah tanpa beban. Beberapa tetangga bercanda ringan, sebagian lain menyalami Nakula dan Dinda sambil meng

  • DUDA KAYA YANG MELAMARKU ITU AYAH SAHABATKU   199

    Rumah itu tidak pernah terasa sehidup ini sejak lama.Alvina berdiri di tengah ruang tamu yang kini disulap menjadi ruang syukuran sederhana. Taplak putih terhampar rapi di meja panjang, di atasnya berjejer piring-piring kecil berisi jajanan pasar—kue lapis, lemper, risoles, dan onde-onde yang masih hangat. Di sudut ruangan, rangkaian bunga segar kiriman tetangga menebarkan wangi yang lembut, bercampur dengan aroma masakan dari dapur.Empat bulan.Empat bulan kehidupan kecil yang tumbuh di rahim menantu perempuannya.Alvina menekan dadanya pelan. Ada rasa penuh yang sulit ia jelaskan—campuran syukur, bahagia, dan haru yang terus mengendap sejak pagi tadi. Berkali-kali ia menarik napas dalam, takut air mata jatuh sebelum waktunya. Ia tidak ingin menangis sekarang, bukan karena sedih, melainkan karena terlalu bahagia. Kebahagiaan yang membuat dadanya terasa sesak, seperti hendak meluap keluar.Ia masih ingat jelas bagaimana perjalanan Nakula dan Dinda tidak selalu mudah. Ada masa-masa c

  • DUDA KAYA YANG MELAMARKU ITU AYAH SAHABATKU   198

    Pagi itu bandara terasa lebih sunyi dari biasanya bagi Sadewa. Bukan karena jumlah penumpang yang sedikit, melainkan karena hatinya penuh oleh hal-hal yang tak terucap. Deru pendingin udara, suara pengumuman keberangkatan, dan langkah-langkah orang yang berlalu-lalang seolah menjadi latar samar dari perpisahan yang sedang ia jalani.Ia berdiri di dekat jendela besar ruang tunggu internasional, menatap landasan pacu yang masih basah oleh sisa embun pagi. Sebuah koper hitam berdiri tegak di samping kakinya—ringkas, rapi, seperti hidup baru yang hendak ia mulai: tidak banyak, tidak berlebihan, hanya yang perlu.Alvina duduk di kursi deret belakangnya. Kedua tangannya saling menggenggam, jemarinya dingin meski ruangan itu hangat. Sesekali ia mengusap sudut matanya dengan punggung tangan, berusaha menahan sesuatu yang terus mendesak keluar. Pandu berdiri di sampingnya, tubuhnya tegap seperti biasa mesku usia tidak lagi muda, namun sorot matanya menyimpan kelelahan dan kebanggaan yang berke

  • DUDA KAYA YANG MELAMARKU ITU AYAH SAHABATKU   197

    Dua Tahun KemudianSore itu begitu tenang. Angin berhembus pelan, menggoyangkan pucuk-pucuk kamboja yang tumbuh rapi di tepi pemakaman. Matahari sedang turun, menyisakan cahaya jingga yang jatuh lembut di atas barisan nisan putih. Burung-burung kecil pulang ke sarang, sesekali suaranya memecah keheningan yang terasa menenangkan sekaligus mengiris di dada.Di tengah barisan makam, seorang pria berjongkok lama. Kepalanya tertunduk, kedua siku bertumpu pada lututnya. Nafasnya naik turun pelan, seperti menahan sesuatu yang sudah lama mengendap.Ketika angin kembali bergerak, pria itu akhirnya mengangkat wajahnya. Perlahan ia bangkit, telapak tangannya menepuk-nepuk celana yang sedikit kotor oleh tanah. Dia memunggungi angin, membiarkannya menyapu rambut yang kini lebih pendek dari dua tahun lalu.Di hadapannya, sebuah nisan berdiri sunyi. Namanya terukir jelas—nama yang pernah menjadi pusat hidupnya, tapi juga pusat kehancuran dan penyesalannya.Pria itu menunduk lagi, kali ini dengan lem

  • DUDA KAYA YANG MELAMARKU ITU AYAH SAHABATKU   196

    Lorong rumah sakit itu dingin. Lampu-lampu putih memantulkan cahaya yang terasa getir di mata, seolah ikut menegaskan kecemasan yang menggantung di setiap helaan napas. Nakula berjalan cepat, hampir berlari. Tangannya menggenggam tangan Dinda yang hampir terseok-seok mengejar di belakangnya, memanggil namanya agar sedikit memperlambat langkah. Tapi Nakula seolah tidak mendengar apa pun selain degup jantungnya sendiri.Begitu tiba di depan ruang tunggu ICU, Pandu bangkit dari kursi. Wajahnya kusut, rambutnya berantakan, dan lingkar hitam membekas di bawah matanya. Alvina duduk di pojok ruangan, menangis dalam diam, bahunya bergetar pelan. Di sampingnya, Prisa memeluk wanita itu erat-erat, berusaha menenangkannya meski air matanya sendiri terus mengalir.“Naku….” Pandu mencoba menyapa.Tapi Nakula langsung menghampirinya, wajahnya pucat dan matanya merah. “Bagaimana Dewa sekarang? Kenapa kalian tidak bilang sejak awal?” Suaranya pecah. “Kenapa aku tidak diberi tahu sejak dia celaka? Buk

  • DUDA KAYA YANG MELAMARKU ITU AYAH SAHABATKU   195

    Lorong rumah sakit malam itu berubah menjadi ruang tanpa waktu. Lampu-lampu putih terasa terlalu terang, tetapi tetap saja tidak mampu mengusir pekatnya ketegangan yang menggerogoti semua orang. Suara langkah kaki dokter dan perawat yang berlalu-lalang terdengar seperti gema tak berujung, menambah kegelisahan yang sejak tadi menghimpit dada Alvina, Pandu, dan keluarga lainnya.Alvina duduk di kursi tunggu dengan lemas, tubuhnya gemetar tak berhenti. Ia baru saja sadar dari pingsan. Kedua tangannya mencengkeram ujung rok rumah sakit yang tadi dipinjamkan perawat saat ia kehilangan kesadaran. Napasnya masih tersengal, seolah paru-parunya menolak bekerja sejak melihat kondisi Sadewa.Prisa duduk di sebelahnya, menggenggam bahunya erat-erat, berusaha membuatnya tetap bertahan. Namun mata Alvina terus kosong, sesekali terpejam kuat-kuat seakan ingin menghapus bayangan mengerikan yang tadi ia lihat di ruang perawatan Sadewa. Bayangan itu terus menempel di belakang kelopak matanya, seakan-ak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status