Share

DIA LAGI?

Author: Rosemala
last update Last Updated: 2023-10-31 15:35:22

2

“Dasar duda meresahkan!” Aku terus menggerutu sembari mengacak rambut dengan kesal. Walaupun sudah menganggap ucapan ayahnya Prisa hanya angin lalu, tetapi tak ayal pikiran ini terganggu.

Bagaimana kalau benar dia datang ke rumah, menemui ibu dan ayah, terus melamarku?

“Aarghhh ….” Lagi, aku mengacak rambut. Apa yang akan dipikirkan orang tuaku nantinya? Bagaimana kalau mereka mengira aku dihamili Om Pandu? Atau mereka menyangka aku dihamili Dimas, tapi Dimas tidak mau bertanggung jawab, terus yang nikahin malah ayahnya Prisa?

Idih, amit-amit. Masa iya aku harus nikah sama duda. Dudanya ayahnya Prisa lagi. Apa kata dunia? Helo, Alvina apa kamu sudah tidak laku lagi sampai harus nikah sama Om-om? Ingat, dia ayahnya Prisa. Pantasnya jadi ayahmu juga.

Tapi kan, dia masih ganteng. Walaupun sudah empat puluhan, dia masih gagah, masih tampan, kaya lagi. Rumah makannya saja memiliki cabang di seleuruh sudut kota. Sisi hatiku yang lain terus mempengarungi. Mungkin itu diriku yang versi berwarna merah dan bertanduk.

Sementara sisi diriku yang memakai jubah putih terus mengatakan jika ini tidak benar. Kamu punya Dimas, pacar yang sudah setahun ini mendampingimu. Dimas juga ganteng, romantis, masih muda lagi. Jauh ke mana-mana. Hanya satu kelemahan Dimas, ia belum bekerja.

Aku semakin mengacak rambut karena frustrasi. Bukan tanpa alasan jika aku dibuat pusing, karena sepertinya Om Pandu tidak main-main dengan ucapannya. Raut serius sangat kentara di wajahnya kemarin. Walaupun tetap mengucapkan dengan santai.

Ah, kenapa aku tidak menelepon Dimas saja? Kuadukan jika ada om-om yang mau melamarku. Siapa tahu dengan begitu Dimas bergerak cepat. Ia segera melamarku juga sama Ayah. Karena sebenarnya cita-citaku memang menikah muda.

Aku meraih ponsel di atas nakas, kemudian mulai mencari nama Dimas di list kontak. Menghubunginya dengan semangat. Namun, berkali-kali kucoba menghubungi nomor itu, selalu berakhir sama. Hanya dijawab operator.

Ke mana Dimas? Kenapa sejak kemarin nomornya tidak bisa dihubungi? Padahal ini masalah penting. Jangan sampai ia keduluan om duda itu menemui orang tuaku. Sayangnya, bahkan hingga berpuluh kali aku menghubunginya, nomor Dimas tak kunjung aktif. Anehnya lagi, saat kucari berbagai sosial media miliknya dengan akunku, aku tidak adapat menemukannya.

Apa ini artinya aku diblokir?

**

"Kita mau ke mana, sih?" tanyaku saat kami dalam perjalanan. Sore ini Prisa datang ke rumah saat aku masih dilanda kebingungan. Ia mengatakan ingin diantar ke suatu tempat. Dan aku tidak bisa menolaknya karena katanya ia harus mengerjakan sesuatu yang sangat penting.

"Nanti juga tahu!” Prisa menjawab singkat sambil terus menekuri ponselnya. Sesekali ia tersenyum menatap layar benda pipih itu, lalu tertawa lepas. Aku hanya mendengkus pelan lalu mengalihkan pandangan ke luar jendela. Ternyata, sifat pecicilan Prisa itu menurun dari Om Pandu, papanya. Setidaknya itu yang kutangkap dari pertemuan pertamaku dengan Om Pandu kemarin.

Dulu, kukira papanya Prisa itu seumuran ayah, usia enam puluhan. Ternyata ia masih muda. Hanya terpaut dua puluh tahun dengan anaknya. Terlihat lebih muda karena ia suka olahraga. Terbukti di rumahnya ada ruangan khusus dengan berbagai alat kebugaran.

Prisa pernah bercerita orang tuanya menikah di usia muda. Saat emosi masih labil dan ego masing-masing masih tinggi, ditambah faktor ekonomi yang belum mapan. Mungkin karena itu mereka akhirnya bercerai saat Prisa masih sangat kecil, hingga akhirnya gadis itu hanya diasuh sang papa. 

Om Pandu hebat, bisa membesarkan anak seorang diri, sambil membangun usaha hingga mapan seperti sekarang. 

Tunggu! Kenapa aku jadi memikirkan Om Pandu? Jangan bilang kalau ... ih, apa sih, Alvina?Payah, katanya tidak mau, tapi terus saja dipikirin.

Aku menggeleng sambil mengibaskan tangan di depan wajah. 

"Kenapa, Al?" tanya Prisa tiba-tiba dengan jarak wajah sangat dekat. "Dari tadi senyum-senyum, geleng-geleng, kibas-kibas. Kamu sakit?" lanjut gadis itu seraya menempelkan punggung tangannya di keningku.

Aku menepisnya cepat. 

"Kayaknya aku mabuk laut, Pris," jawabku asal untuk menyembunyikan malu. 

"Mabuk laut?" Prisa keheranan. 

Aku mengangguk pasti. 

"Tapi, kita, kan ... di darat.” Ia menatap bingung. 

Aku mengulum senyum melihat raut wajahnya. 

"Aku tahu, kamu bukan mabuk laut," katanya lagi sambil menjentikkan jari. 

"Lalu?"

"Mabuk ... mabuk duda, haha ...." Tawa Prisa membahana, tetapi tak lama kemudian meringis saat kakinya kuinjak.

"Rasain!" omelku pelan. 

"Galak banget ibu tiri!" gerutunya. 

"Kamu bilang apa?" Aku mendelik. 

Prisa refleks menutup mulutnya sambil menggeleng. 

"Sudah, yuk, turun! Sudah sampai dari tadi!" ajaknya sambil membuka pintu taxi. Aku mengikutinya turun. Namun kemudian mengernyitkan kening saat menyadari kami berada di mana.

"Yaelah, jadi kita cuma mau makan doang? Kamu minta diantar hanya buat makan?" tanyaku setelah kami berada di depan sebuah rumah makan yang cukup ramai. Kuedarkan pandang mengamati sekeliling restoran yang terlihat sangat cantik dan elegan. Pasti pemiliknya memiliki selera tinggi.

"Di rumahku enggak ada makanan, Al. Aku lapar," jawab Prisa memelas. Aku kasihan melihatnya.

"Aku bisa masak buat kita, Pris." Aku membelai pundaknya. Tapi jika dipikir-pikir, buat apa kasihan? Walaupun tidak punya ibu, di rumahnya ada pembantu yang mengerjakan pekerjaan rumah.

"Memangnya kamu bisa masak?" Ia menatap sangsi.

"Bisa!"

"Masak apa?" 

"Mie instan."

Prisa memutar bola mata malas mendengar jawabanku. Lalu, menarikku memasuki bangunan yang ternyata di dalam terasa sangat luas. Di pintu, seorang pelayan menyambut kami dengan ramah. 

"Selamat datang, Mbak Prisa.”

Aku takjub, pasti Prisa sering datang ke sini sampai pelayan saja mengenalnya. 

Prisa mengajakku duduk di meja agak sudut dekat jendela. Lebih privacy katanya. Entahlah, dia mau apa, seperti mau pacaran saja. Padahal kami hanya mau makan, bukan?

Aku duduk dekat jendela dengan pandangan menyapu keluar. Sebuah taman kecil dengan air mancur dan bunga warna-warni di luar sana, memanjakan mata.

"Baru datang, Sayang?" Sekonyong-konyong suara seseorang terdengar dari belakang kami. Dan aku mengenali suara itu.

Aku dan Prisa menoleh bersamaan ke asal suara. Dan ….

Ya Tuhan, dia lagi? 

Aku sontak membalikkan badan kembali menghadap meja, membelakanginya. Karena di sana berdiri duda meresahkan yang katanya ingin meminta tanggung jawabku.

Dadaku mendadak berdebar sangat keras karena jantung di dalamnya terasa melompat-lompat. Kenapa, ya, hal ini selalu terjadi setiap kali aku bertemu Om Pandu? Padahal dia pakai baju sekarang. 

Kuketuk-ketuk ujung telunjuk di meja untuk membuang grogi yang tetiba menyerang. Kaki juga kuhentak pelan agar tidak kentara jika aku salah tingkah. Duh, Om Pandu kenapa harus ada di sini, sih? Apa dia menyusul kami? Mau apa?

Dipikir-pikir, kenapa aku segrogi ini? Seolah belum pernah mengenal laki-laki.

“Mau makan apa? Ada menu special buat calon nyonya bos di sini.”

Aku mengerjap sebelum melirik Prisa yang cengengesan geli. Pertanyaan Om Pandu barusan ….

"Menu di sini enak-enak, loh. Apalagi buat calon nyonya bos, spesial pokoknya,” lanjut Om Pandu lagi yang tidak aku mengerti. 

Aku menatap Prisa dan Om Pandu yang tersenyum penuh arti melihatku kebingungan, mereka tertawa bersama. 

"Ini rumah makan papaku, Al. Nyantai aja. Kita bisa makan sepuasnya, menu spesial pakai cinta," goda Prisa lagi masih dengan cekikikan.

Aku mengerjap lagi. Tunggu! Ini rumah makan Om Pandu? Nyonya bos, menu special, pakai cinta? Apa maksudnya?

Aku meraih tangan Prisa, kemudian menariknya agar menghadapku.

“Pris, aku enggak ngerti. Apa maksudnya ini? Calon Nyonya bos. Menu special pakai cinta? Apa itu?”

Prisa mengibaskan tangan dengan jengah. “Yaelah, gitu aja masa eggak ngerti. Itu artinya sebentar lagi kamu jadi ibu sambungku, Alvina. Karena papaku besok mau melamar kamu.”

“Apa?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DUDA KAYA YANG MELAMARKU ITU AYAH SAHABATKU   200

    Acara syukuran pun berjalan sangat rinci sesuai rencana. Lancar, tanpa kendala berarti. Setiap hidangan tersaji tepat waktu, setiap tamu datang dengan senyum dan doa baik. Pembacaan doa menjadi penutupnya. Alvina menunduk, kedua tangannya terkatup rapi di pangkuan. Setiap kalimat doa menembus dadanya, menggetarkan sesuatu yang rapuh sekaligus kuat—sesuatu yang selama ini ia rawat dalam diam.Terima kasih, Ya Allah, batinnya. Terima kasih karena Engkau masih mengizinkan kami merasakan bahagia.Ia memejamkan mata lebih lama dari yang lain, membiarkan kata-kata itu mengendap. Dalam hidupnya yang panjang, Alvina tahu betul bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang datang terus-menerus. Bahagia adalah jeda. Hadiah kecil yang kadang datang setelah air mata panjang. Dan hari ini, ia merasa diberi jeda yang begitu indah.Saat doa selesai, suasana mencair. Obrolan kecil bermunculan, tawa pecah tanpa beban. Beberapa tetangga bercanda ringan, sebagian lain menyalami Nakula dan Dinda sambil meng

  • DUDA KAYA YANG MELAMARKU ITU AYAH SAHABATKU   199

    Rumah itu tidak pernah terasa sehidup ini sejak lama.Alvina berdiri di tengah ruang tamu yang kini disulap menjadi ruang syukuran sederhana. Taplak putih terhampar rapi di meja panjang, di atasnya berjejer piring-piring kecil berisi jajanan pasar—kue lapis, lemper, risoles, dan onde-onde yang masih hangat. Di sudut ruangan, rangkaian bunga segar kiriman tetangga menebarkan wangi yang lembut, bercampur dengan aroma masakan dari dapur.Empat bulan.Empat bulan kehidupan kecil yang tumbuh di rahim menantu perempuannya.Alvina menekan dadanya pelan. Ada rasa penuh yang sulit ia jelaskan—campuran syukur, bahagia, dan haru yang terus mengendap sejak pagi tadi. Berkali-kali ia menarik napas dalam, takut air mata jatuh sebelum waktunya. Ia tidak ingin menangis sekarang, bukan karena sedih, melainkan karena terlalu bahagia. Kebahagiaan yang membuat dadanya terasa sesak, seperti hendak meluap keluar.Ia masih ingat jelas bagaimana perjalanan Nakula dan Dinda tidak selalu mudah. Ada masa-masa c

  • DUDA KAYA YANG MELAMARKU ITU AYAH SAHABATKU   198

    Pagi itu bandara terasa lebih sunyi dari biasanya bagi Sadewa. Bukan karena jumlah penumpang yang sedikit, melainkan karena hatinya penuh oleh hal-hal yang tak terucap. Deru pendingin udara, suara pengumuman keberangkatan, dan langkah-langkah orang yang berlalu-lalang seolah menjadi latar samar dari perpisahan yang sedang ia jalani.Ia berdiri di dekat jendela besar ruang tunggu internasional, menatap landasan pacu yang masih basah oleh sisa embun pagi. Sebuah koper hitam berdiri tegak di samping kakinya—ringkas, rapi, seperti hidup baru yang hendak ia mulai: tidak banyak, tidak berlebihan, hanya yang perlu.Alvina duduk di kursi deret belakangnya. Kedua tangannya saling menggenggam, jemarinya dingin meski ruangan itu hangat. Sesekali ia mengusap sudut matanya dengan punggung tangan, berusaha menahan sesuatu yang terus mendesak keluar. Pandu berdiri di sampingnya, tubuhnya tegap seperti biasa mesku usia tidak lagi muda, namun sorot matanya menyimpan kelelahan dan kebanggaan yang berke

  • DUDA KAYA YANG MELAMARKU ITU AYAH SAHABATKU   197

    Dua Tahun KemudianSore itu begitu tenang. Angin berhembus pelan, menggoyangkan pucuk-pucuk kamboja yang tumbuh rapi di tepi pemakaman. Matahari sedang turun, menyisakan cahaya jingga yang jatuh lembut di atas barisan nisan putih. Burung-burung kecil pulang ke sarang, sesekali suaranya memecah keheningan yang terasa menenangkan sekaligus mengiris di dada.Di tengah barisan makam, seorang pria berjongkok lama. Kepalanya tertunduk, kedua siku bertumpu pada lututnya. Nafasnya naik turun pelan, seperti menahan sesuatu yang sudah lama mengendap.Ketika angin kembali bergerak, pria itu akhirnya mengangkat wajahnya. Perlahan ia bangkit, telapak tangannya menepuk-nepuk celana yang sedikit kotor oleh tanah. Dia memunggungi angin, membiarkannya menyapu rambut yang kini lebih pendek dari dua tahun lalu.Di hadapannya, sebuah nisan berdiri sunyi. Namanya terukir jelas—nama yang pernah menjadi pusat hidupnya, tapi juga pusat kehancuran dan penyesalannya.Pria itu menunduk lagi, kali ini dengan lem

  • DUDA KAYA YANG MELAMARKU ITU AYAH SAHABATKU   196

    Lorong rumah sakit itu dingin. Lampu-lampu putih memantulkan cahaya yang terasa getir di mata, seolah ikut menegaskan kecemasan yang menggantung di setiap helaan napas. Nakula berjalan cepat, hampir berlari. Tangannya menggenggam tangan Dinda yang hampir terseok-seok mengejar di belakangnya, memanggil namanya agar sedikit memperlambat langkah. Tapi Nakula seolah tidak mendengar apa pun selain degup jantungnya sendiri.Begitu tiba di depan ruang tunggu ICU, Pandu bangkit dari kursi. Wajahnya kusut, rambutnya berantakan, dan lingkar hitam membekas di bawah matanya. Alvina duduk di pojok ruangan, menangis dalam diam, bahunya bergetar pelan. Di sampingnya, Prisa memeluk wanita itu erat-erat, berusaha menenangkannya meski air matanya sendiri terus mengalir.“Naku….” Pandu mencoba menyapa.Tapi Nakula langsung menghampirinya, wajahnya pucat dan matanya merah. “Bagaimana Dewa sekarang? Kenapa kalian tidak bilang sejak awal?” Suaranya pecah. “Kenapa aku tidak diberi tahu sejak dia celaka? Buk

  • DUDA KAYA YANG MELAMARKU ITU AYAH SAHABATKU   195

    Lorong rumah sakit malam itu berubah menjadi ruang tanpa waktu. Lampu-lampu putih terasa terlalu terang, tetapi tetap saja tidak mampu mengusir pekatnya ketegangan yang menggerogoti semua orang. Suara langkah kaki dokter dan perawat yang berlalu-lalang terdengar seperti gema tak berujung, menambah kegelisahan yang sejak tadi menghimpit dada Alvina, Pandu, dan keluarga lainnya.Alvina duduk di kursi tunggu dengan lemas, tubuhnya gemetar tak berhenti. Ia baru saja sadar dari pingsan. Kedua tangannya mencengkeram ujung rok rumah sakit yang tadi dipinjamkan perawat saat ia kehilangan kesadaran. Napasnya masih tersengal, seolah paru-parunya menolak bekerja sejak melihat kondisi Sadewa.Prisa duduk di sebelahnya, menggenggam bahunya erat-erat, berusaha membuatnya tetap bertahan. Namun mata Alvina terus kosong, sesekali terpejam kuat-kuat seakan ingin menghapus bayangan mengerikan yang tadi ia lihat di ruang perawatan Sadewa. Bayangan itu terus menempel di belakang kelopak matanya, seakan-ak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status