Melihat judul 'Romansa Stovia' langsung mengingatkanku pada eksplorasi estetika retro-futuristik yang sering muncul di karya indie. Stovia sendiri terdengar seperti portmanteau dari 'stoic' dan 'nova', mungkin merujuk pada ketegangan antara ketenangan klasik dengan ledakan emosi baru. Dalam konteks bahasa Indonesia, ada kesan romantisme yang dibungkus dalam kemasan ambigu - seolah mengajak pembaca menafsirkan apakah ini kisah cinta di tengah disonansi zaman atau metafora hubungan manusia dengan teknologi.
Aku pernah membaca ulasan yang menghubungkan Stovia dengan istilah Belanda 'stoven' (memasak pelan), yang bisa jadi simbol proses pendewasaan asmara. Tapi menurutku justru keindahannya terletak pada ambiguitasnya; seperti lagu-lagu Iwan Fals yang sengaja dibiarkan terbuka untuk interpretasi personal. Judul semacam ini biasanya sengaja dirancang untuk memancing diskusi panjang di forum-forum penggemar sebelum ceritanya sendiri terbuka.