"Aku sudah lelah, Bang. Aku tak mau dibohongi lagi. Mari kita berpisah!" Permintaan Dahlia yang langsung membuat Raja berlutut dan memeluk kakinya.
"Tidak! Iya, Sayang. Aku tidak mau berpisah dengan kamu! Aku gak, sayang. Sungguh aku tidak mau!" Raja menangis sesenggukan sambil memohon pada Dahlia. Namum Dahlia tak bergeming, dia tetap pada pendirian. Dia bahkan mencoba melepaskan pelukan Raja di kakinya. "Lepas, Bang! Aku harus pulang. Tari sendiri di rumah sakit." Kata Dahlia berbohong. Mendengar kalau Tari sendirian di rumah sakit. Raja lalu melepaskan kaki Dahlia. Dia kemudian bangkit, dia sadar dia harus menemui Tari. Dahlia langsung pergi saat raja melepaskam belikan di kakinya. Meskipun Raja mencoba menahannya dia langsung menepis tenang Raja. Dia langsung menarik Tristan berjalan ke arah mobilnya. Raja lalu membuka gawainya yang ternyata sudah mati. Dia menghidupkan gawainya, betapa terkejutnya begitu banyak panggilan dan pesan yang dikirim oleh Dahlia. Bukan hanya dari Dahlia namun dari kakaknya dan adiknya juga. Raja berbalik menatapnya tajam ke arah Jessika. "Kenapa kamu tak mengatakan kalau Dahlia menghubungi aku? Kenapa pula kamu tak mengatakan kalau Dahlia mengirim pesan? kenapa, hah?" Raja terdengar sangat marah. Jessika merasa takut melihat Raja marah "Aku tidak tahu kalau Dahlia mengirim pesan. Aku hanya mematikan gawai kamu. ini sudah kesepakatan kita kan?" Jawab Jessika berbohong, karena nyatakan Jessika tahu Dahlia mengirim pesan dan melakukan beberapa panggilan pada Raja. Namum oleh Jessika diabaikan. "Akhhh!" Raja langsung menjambak rambutnya karena kesal dan marah. Raja lalu berbalik arah menunjukkan mobilnya. Dia akan menyusul Dahlia, namun rupanya Jessika menahan raja. "Kamu mau kemana, Raja? kita obati luka kamu dulu!" Jessika menahan raja untuk pergi. Namun Raja langsung menepis tangan Jessika yang menggenggam tangannya. "Lepaskan! Aku akan menyusul istriku." kata Raja. Jessika tak menyerah dia masih kembali menahan Raja. "kamu obati dulu lukamu. Biarkan saja Dahlia pergi!" kata Jessika lagi. "Aku bukan hanya mau menyusul istriku tapi aku juga mau menemui anakku, Jes. aku harus menemui anakku!" Jessika masih menahan Raja, dia tidak mau raja pergi. Raja kembali menepis tangannya. Dia lalu berlalu meninggalkan Jessika yang berusaha untuk menahannya. Dengan marah Raja langsung masuk ke dalam mobilnya dan melaju mobil tersebut tanpa peduli pada Jessika yang berusaha mengejar. Tujuan Raja tentu saja rumah sakit tempat anaknya di rawat. Sesampainya di rumah sakit, Raja langsung dihadang oleh Queensa adik semata wayangnya. "Ngapain kamu kesini?" tanya Eca dengan wajah juteknya. "Awas, Ca! Aku mau melihat Tari." Raja mendorong Eca yang berdiri di depan pintu ruang rawat Tari. Tapi rupanya Eca tidak mau memberikan jalan untuk Raja. "Tari sedang tak bisa diganggu. Toh ngapain juga kamu kesini? Tari gak butuh kamu." Raja memandang tajam pada Eca. "Ngapain marah?" Eca malah balik menantang. Raja kembali ingin mendorong Eca, tapi kaisar langsung menahan tahan Raja "Jangan kasar kamu sama adik sendiri!" Raja langsung diam melihat sang kakak sudah bertindak. "Kamu mau bertemu dengan Tari dengan wajah seperti ini?" Tunjuk Kaisar pada Raja. "Obati dulu luka kamu. Baru bisa menemui Tari. Jangan buat dia sedih melihat keadaan kamu yang hancur begini." Kata Kaisar. Raja akhirnya tak memaksa untuk masuk ke ruang rawat Tari. dia memilih untuk mengikuti Eca yang sudah menarik tangannya menjauh dari ruang rawat. "Pelan-pelan, Ca!" Kata Raja sambil meringis sakit. "Manja! Ini cuman luka memar, dua atau tiga hari juga sudah baik lagi. Apa kabar dengan luka hati Kak Lia. Butuh waktu berapa lama untuk sembuh atau mungkin tak akan sembuh. " Kata Eca sambil menekan-nekan luka di wajah Raja. "Kenapa mau menyangkal?" Eca melototi Raja yang akan menyangkal. "Kali ini siapa yang ngasih kamu hadiah seperti ini?". Tanya Eca. "Tristan." Jawab Raja pelan. "Bagus, harus jangan sampai memar. kalau bisa sampai geger otak kamu, Bang. Agar gak menyakiti Kak Lia lagi." Ucapan Eca membuat Raja mendengus kesal. Adiknya ini memang sering sekali berdebat dengannya. "Bang, kamu gak bosan nyakitin Kak Lia? Apa lebihnya sih Jessika itu? Lebih cantikan kak Lia, apalagi Kak Lia orangnya sabar banget menghadap kamu." Kata Eca. Raja menatap Eca tak percaya bagaimana adiknya bisa mengetahui kalau dirinya punya hubungan dengan Jessika. "Gak usah sok terkejut begitu, Bang. Kabar kedekatan kamu sama Jessika sudah menyebar kemana-mana. Kamu gak sadar? Jangan bilang ini hanya Gimik. Gimik kok bisa ciuman gitu di club malam." Mata Raja langsung melotot tak percaya. Apalagi saat Eca menunjukkan foto tersebut pada Raja. Dia sangat terkejut siapa yang memotret mereka. Karena di club itu tidak ada orang lain selain beberapa kru film dan para pemain juga managernya. "Dapat dari mana kamu foto itu?" Tanya Raja. "Gak perlu kamu tahu dari mana aku dapat. Tapi yang penting bagaimana kalau Kak Lia melihat foto ini? Kamu bisa bayangkan bagaimana perasaannya?" Raja langsung panik mendengar perkataan Eca. Dia tak bisa membayangkan seandainya Lia mengetahui foto tersebut bisa-bisa Lia benar-benar meminta pisah. "Iya sudah tahu tentang foto ini?" Tanya Raja panik. "Gak tahu. Tapi mudah-mudahan dia tak tahu, soalnya sampai saat ini Kak Lia tidak bicara apa-apa." Jawab Eca. Raja bisa bernafas lega sebentar. "Tapi aku lebih berharap Kak Lia bisa membuka matanya, dan bisa lepas dari kamu. Kak Lia berhak bahagia loh, Bang." Eca lalu bangun dan pergi meninggalkan Raja sendirian disana. Raja memasuki ruang rawat Tari. Nampak Dahlia sedang menyuapi Tari dengan telaten. Wajah Tari langsung terlihat berseri saat melihat sang ayah. "Papa!" Teriak Tari, dia langsung merentangkan tangannya minta dipeluk oleh sang ayah. Raja lalu berjalan mendekati sang anak langsung memeluk sang anak penuh sayang. Air matanya tak terasa menetes. Raja sangat menyesali perbuatannya, bukan hanya istrinya tetapi anaknya juga. "Aku kangen papa. Papa kemana saja? Kenapa papa baru pulang? Papa sibuk banget ya kerjanya?" Tanya Tari bertubi-tubi. "Maaf kan papa ya, sayang!" Bisik Raja pada sang putri. "Papa jangan capek-capek kerjanya, ya? Aku gak mau papa kecapean sampai terluka begini. Nanti biar aku yang kerja saja. Papa di rumah temanin mama, oke!" kata Tari sambil mengusap luka lebab di wajah Raja. Air mata Raja langsung mengalir deras. sungguh dia terenyuh dengan perkataan sang anak. Anaknya begitu perhatian, Namun dirinya justru begitu bajingan. "Maafkan papa, Nak. Maaf!" kata Raja sekali lagi sambil memeluk sang anak kembali.Kehidupan Raja paska perpisahan dengan Dahlia tak berjalan dengan baik. Dia tidak bisa kembali membangun kariernya lagi di dunia entertainment. Ini semua karena citra diri sudah buruk. Banyak sekali project dia yang di batalkan. Dan diganti oleh orang lain. Hanya beberapa project saja yang masih berjalan itu pun hanya sekedar untuk menghabiskan masa kontraknya saja.Karena kerjaan sedikit Raja kini lebih sering menghabiskan waktunya di rumah atau pergi bersama putrinya Tari. Dulu saat dia bergelimang harta dia tidak memiliki banyak waktu untuk bersama dengan putrinya. Meskipun ada dia lebih memilih untuk bersenang-senang dengan teman atau selingkuhannya. Kini dia memiliki banyak waktu dengan putrinya namun sayang dia tidak memiliki banyak uang seperti dulu. Tapi setidaknya Raja dapat membayar kebersamaannya dengan sang putri yang pernah hilang.Seperti hari ini Raja bertugas untuk menjemput Tari dari sekolahnya. Waktu berangkat sekolah Tari diantar oleh Dahlia. Namun kini Dahlia sudah
"Apa mama sudah benar-benar yakin dengan keputusan tersebut?" Tanya Reni. Malam ini Nina mengumpulkan ketiga anak dan menantunya di rumah anak tertuanya."Mama sudah yakin dengan keputusan mama." Jawab Nina "Kita hanya akan mendukung semua keputusan dari mama. Kita yakin apapun keputusan mama tersebut pasti sudah mama pertimbangkan dengan baik." Kata Reni lagi. "Walaupun aku sih tidak setuju. Aku maunya mama pisah saja sama dia. Aku sanggup kok menafkahi mama." Kata Lili geram. Dia tak menyangka kalau akhirnya ibunya membatalkan gugatan cerainya."Mama juga masih mampu untuk menafkahi diri mama sendiri, Li. Bukan masalah nafkah yang membuat mama bertahan. Mama hanya ingin memberikan dia kesempatan saja." Kata Bu Nina. Selama ini Bu Nina memiliki usaha katering. Meskipun tidak terlalu besar namun cukup untuk menafkahi dirinya sendiri."Ini ada hubungannya dengan harta warisan?" Tanya Dahlia. Semua langsung memandang ke arah Dahlia."Warisan?" Tanya Lili tidak mengerti."Iya warisan.
Saat Raja dan Dahlia telah berpisah. Maka sidang perceraian ibu dan ayahnya belum selesai juga. Danang tetap menolak berpisah dengan Nina sang istri. Butuh waktu dua puluh enam tahun bagi Nina untuk mengajukan gugatan perceraian dengan sang suami."Kalau kamu takut tentang harta warisan dari bapak. Tenang saja saya tidak akan membawa sepeserpun harta tersebut. Saya hanya ingin berpisah saja." Kata Nina pada saat sidang mediasi."Apakah tidak ada kesempatan untuk aku memperbaiki semuanya, Nin?" Tanya Danang putus asa."Saya sudah memberikan kamu kesempatan selama dua puluh enam tahun ini. Tapi waktu begitu lama pun ternyata tidak cukup untuk kamu." Kata Nina,Tidak ada lagi Nina yang dulu. Nina yang patuh pada suami. Lemah lembut dalam berbicara. Kini yang ada adalah Nina yang tenang namun penuh ketegasan dalam bicara. Tak ada lagi tatapan penuh cinta yang ada tatapan penuh keberanian. Sudah tak ada lagi cinta Dimata Nina untuk Danang."Aku tahu aku salah. Mungkin sebanyak apapun kata
Perpisahan Dahlia dan Raja terjadi juga. Setelah tiga bulan pulang pergi ke pengadilan agama, akhirnya sah juga perpisahan mereka. Raja yang awalnya ngotot ingin mempertahankan rumah tangganya tak bisa memaksa Dahlia untuk tetap menemaninya. Dia sadar kalau dia sudah terlalu banyak menyakiti Dahlia.Raja menyerah semua harta bersama untuk Dahlia juga tak memaksa gak asuh dari Tari. Melihat tari begitu bahagia bersama Dahlia membuat Raja sadar, dia tidak bisa memisahkan mereka. "Semoga kamu bahagia selepas dari aku, Ya. Maaf aku selama ini begitu banyak menyakiti kamu." Kata Raja tulus."Sama-sama, Bang. aku juga meminta maaf sama Abang, selama menjadi istri kamu aku tidak sempurna dan banyak kurangnya. Semoga Abang juga mendapatkan istri yang jauh lebih baik lagi dan berbahagia hidup dengan nya kelak." Kata Dahlia tak kalah lebih tulus lagi.Raja hanya mengangguk siapa pula yang mau menikah lagi. Untuk saat ini dia tidak memiliki niat untuk menjalin asmara dengan siapa pun, apalagi m
Proses perceraian Dahlia dan Raja semakin alot karena Raja yang tetap kekeh ingin mempertahankan rumah tangganya. Sedangkan Dahlia bersikukuh ingin berpisah. "Kamu mau sampai kapan menyiksanya, Ja. Lia berhak untuk bahagia." Kata Sultan. Malam ini Sultan meminta Raja menemuinya di ruang kerjanya. Sengaja Sultan ingin bicara empat mata dengan anak keduanya tersebut. Dia tidak mau istrinya ikut serta karena bukan menenangkan anaknya malah membuat semakin panas saja. "Papa ingin Lia bahagia, tapi aku tidak begitu maksud papa?" Kata Raja. "Justru karena ingin kalian sama-sama bahagia, Ja. Makanya ikhlaskan berpisah dengan Lia." Kata sang ayah lagi "Pa, kebahagiaan aku itu ada di Lia. kalau aku berpisah dengan Lia dimana aku akan mendapatkan kebahagiaan ku lagi, Pa?" Sultan tersenyum kecil mendengar perkataan anaknya. "Kebahagiaan kamu di Lia, benar? Tapi selama ini kamu lebih sering menghabiskan waktu di luar sana bukan dengan Lia. Dengan alasan pekerjaan, namun nyatanya bukan pe
Jessika sedang menangis tergugu di kamarnya. Dia berpikir caranya membuka lagi cerita sedihnya saat di SMA bisa menjatuhkan nama baik Dahlia. Tapi rupanya salah, Dahlia memang mendapatkan hinaan namun dirinya jauh lebih mendapatkan hujatan. Ditambah lagi ternyata berefek pada pekerjaan sang ayah flashback on"Bukan Lia yang memberi tahu keberadaan kamu pada papamu, Jes. Bukan dia." Kata ibunya tadi. Setelah reda tangisannya sang ibu mengajaknya ke kamar."Selama ini papa sangat menyayangi kamu bahkan jauh lebih sayang ke kamu daripada ke Dahlia. Saking sayangnya papa kamu selalu membela kamu walaupun kamu salah. Sampai dia berbuat nekad menampar Dahlia dihadapan banyak orang demi membela kamu. Dan itu adalah kesalahan terbesarnya. Selain rahasia kita terbongkar, dia juga harus kehilangan hak waris dari keluarganya. Kakek dan nenek kamu mencabut hak dia sebagai ahli waris karena kecewa. Tapi bukan itu yang membatu dia sedih. Papa kamu menjadi sedih dan hancur saat tahu kamu berakhir