LOGIN“Lalu jalur kedua?” tanya Kai sambil jari-jarinya menari lincah di atas keybord komputer. "Apakah itu transaksi? Kita cari siapa yang menerima pembayaran dari jaringan Paman Hendra, bukan?” Emma menggeleng cepat. “Bukan itu, Kak.” Kai menatapnya heran. Jemarinya berhenti menari di atas keyboard laptop seketika itu juga. “Kamu senang banget buat aku pusing tujuh keliling hari ini, Dek,” dengkus Kai dengan wajah lucu. “Nggaklah, itu karena Kakak masih berpikir kita sedang mencari dua hal berbeda.” Kai menatap Emma sambil nyengir, lalu memilih untuk diam saja biar tidak salah bicara. Emma menunjuk dua layar. “Kita cari satu orang yang muncul di kedua jalur.” Cengiran di wajah Kai perlahan hilang. Digantikan tatapan serius. “Kita cari orang yang punya akses terhadap informasi. dan punya hubungan dengan aliran uang," terang Emma lebih jelas. “Kalau orang itu ditemukan …” bisik Kai. “Dia bisa membawa kita kepada orang yang memberi perintah.” Kai mengangguk pelan. Pen
Mendengar ucapan Emma, Kai menatapnya beberapa saat. Dia terpana pada cara berpikir gadis itu. “Kamu luar biasa, Emma. Tapi bagaimana mereka bisa bekerja sama tanpa saling mengenal?” “Jadi gini, Kak. Paman Hendra kan hanya tahu kepada siapa dia menyerahkan informasi.""Lalu?""Nah, orang kedua hanya tahu siapa yang memberinya informasi dan mungkin siapa yang harus dia hubungi. Dan si pelaksana hanya menerima instruksi.” Kai langsung bertepuk tangan dengan kagum. “Sekarang aku mengerti kenapa Papa memberikan berkas ini kepada kita berdua.” Emma menatapnya, “Karena kita harus mencari mata rantainya?” “Bukan. Karena dia tahu satu orang akan melihat uang, sementara yang satunya akan melihat motif," jawab Kai. Emma terdiam. “Kakak yang melihat uang?” tanyanya ragu. “Yep! Benar sekali.” “Dan aku yang melihat motif?” “Lebih tepatnya, kamu melihat perilaku manusia di balik angka yang tersembunyi.” Emma tersenyum tipis. Lalu mengangguk setuju. “Berarti kita nggak boleh
Setelah selesai makan siang, Kai membawa Emma ke ruangan kerja pribadinya di lantai dua. Ruangan itu terletak di samping kamar tidur Kai, bernuansa gelap dengan deretan monitor besar yang menampilkan lalu lintas data, kode pemrograman, dan jaringan peladen atau server rahasia.Emma melangkah mendekati meja kendali, lalu meletakkan lembaran berkas investigasi yang tadi dibawanya dari ruang makan. Semua itu diserahkan Pak Ridwan pada mereka berdua."Kak, coba lihat alur transaksi di lembar ketiga ini," panggil Emma seraya menunjuk satu baris angka.Kai mendekat, menyipitkan mata membaca dokumen tersebut. "Ini aliran dana rahasia Paman Hendra belasan tahun lalu.""Iya. Berkas ini jelas membuktikan kalau Paman Hendra yang membocorkan lokasi dan posisi di mana pesta peresmian kantor berada dan jam kedatanganku ke pesta."Kai membaca bagian penting yang ditunjuk Emma."Kak, kita harus mencari tahu pihak mana yang telah menerima semua informasi dari Paman Hendra" ujar Emma pelan. "Dan di sin
Mobil mewah yang dikendarai Emma dan keluarganya, akhirnya tiba di pelataran kediaman utama klan Gunawan. Rumah megah dan bernuansa klasik modern itu menyambut Emma dengan kehangatan yang sudah belasan tahun asing baginya. Rosalinda langsung menuntun putri tunggalnya menuju ruang makan luas, tempat hidangan makan siang hangat sudah tertata rapi."Duduk di sampingku," pinta Kai sambil menarik sebuah kursi untuk Emma. Kai memperlakukan Emma dengan sangat lembut.Rasa sayangnya pada gadis itu membuat dia ingin memaki-maki dirinya karena terlambat melindunginya dari bully-an yang terjadi di kampus. Bahkan Kai juga ikut membullynya. Itu adalah penyesalan yang tak akan pernah bisa Kai lupakan seumur hidup. Dia hanya bisa berdoa semoga Emma memaafkannya."Makasih, Kak."Emma duduk di kursi kayu jati berukir. Matanya kembali berkaca-kaca menatap piring di hadapannya."Kenapa, Sayang? Makanan ini kurang cocok?" tanya Rosalinda cemas, mengelus jemari Emma.Emma menggeleng cepat, menyapu air ma
Prosesi pemakaman Ayah Bagas berlangsung khidmat di bawah langit pagi yang cukup cerah.Deretan kendaraan hitam milik klan Gunawan berbaris rapi di area pemakaman pribadi. Emma berdiri paling depan, mengenakan gaun hitam polos dengan kalung bintang melingkar indah di lehernya. Ibu Rosalinda memeluk bahu Emma, sambil sesekali melap air mata gadis itu dengan dengan penuh kasih sayang. Tanah dingin dan lembab perlahan menutupi peti kayu jati tempat Ayah Bagas beristirahat selamanya. Air mata Emma menetes tanpa suara, membasahi buket bunga mawar putih di genggamannya. "Selamat jalan, Ayah," bisik Emma pelan, menaruh mawar putih itu tepat di atas gundukan tanah yang masih basah. "Terima kasih sudah menjagaku selama belasan tahun ini. Aku janji akan jaga diri baik-baik, Ayah." "Beliau orang yang sangat mulia dan baik hati, Nak," ucap Rosalinda lembut seraya mengusap bahu Emma. "Papa dan Mama sudah menyiapkan panti asuhan atas nama Pak Bagas untuk meneruskan kebaikannya." "Terima kasih
Kai terlihat salah tingkah, memyadari kebodohannya sendiri seraya mengusap tengkuknya. "Semua karena Mama. Beberapa hari lalu, Mama marah besar sama aku." "Iyalah! Bagaimana Mama nggak marah-marah coba?!" potong Rosalinda sambil menatap Kai tajam. "Mama udah capek-capek undang Emma masak-masak di rumah, tapi kamu malah bikin dia sakit hati sampai dia lari dan menangis seperti itu! Mama tahu ada yang nggak beres dari caramu menatap Emma." "Aku kan kebingungan waktu itu, Ma," sela Kai membela diri. "Aku jujur ke Mama kalau selama ini aku sengaja mengawasi dan mematai-matai kamu. Awalnya cuma penasaran dan iseng karena ngerasa ada kemiripan, tapi makin lama dipelajari, semua petunjuk malah mengarah kalau Emma ini adikku yang hilang." Rosalinda menghela napas panjang, lalu menggenggam kedua tangan Emma erat-erat. "Saat Kai mengaku, Mama nggak bisa menahannya lagi, Nak," ucap Rosalinda lembut. "Sebenarnya Mama sudah tahu lebih dulu. Mama sengaja mengambil sampel rambutmu di rumah sak
Kening Kai langsung berkerut. Biasanya file seperti itu hanya berisi catatan sensitif siswa. Entah masalah keluarga. Psikologis. Masalah kriminal. Atau sesuatu yang tidak boleh diketahui publik. Rasa penasaran Kai langsung memuncak. “Emma, lo sebenarnya siapa sih?” Tanpa berpikir pa
Sinar matahari menyusup lemah melalui celah tirai kain tipis, seakan memaksa Emma untuk membuka mata. Gadis itumengerang pelan, tubuhnya terasa pegalAlarm ponselnya sudah berbunyi untuk ketiga kalinya. Mata Emma terasa berat, seperti ada pasir yang menumpuk di kelopak. Ia memaksa diri duduk, men
“Saya tidak berniat mendekati siapa pun di luar tugas saya sebagai guru les, Tante. Yang tadi… hanya kesalahpahaman.»"Oh ya? Semoga benar hanya kesalahpahaman," ucap Renata sinis sambil membuat tanda kutip dua dengan jemarinya yang lentik dan terawat."Tante, saya menghargai keluarga ini karena te
“HEI! MUNDUR LO SEMUA!”Suara rendah itu muncul dari ujung koridor.Semua kepala langsung menoleh.Kai muncul seperti dengan langkah lebar hampir setengah berlari. Jaket hitamnya terbuka. Ekspresinya penuh amarah. Matanya yang biasanya tenang dan penuh perhitungan, kini dingin menakutkan.Alicia me







