Share

Bab 6

Author: Any Anthika
last update publish date: 2026-04-24 17:43:09

Lapangan parkir belakang kampus mulai terasa sepi. Hanya tersisa beberapa kendaraan yang berkilau tertimpa cahaya matahari senja. Aspal menguarkan hawa hangat sisa panas sejak siang.

Setengah berlari Emma menuju ke tempat ia memarkirkan sepedanya. Ia harus bergegas pulang, mungkin ia masih sempat membantu Ayah sebelum hari berakhir.

Tanpa ia sadari, dari kejauhan, di balkon lantai dua gedung fakultas, empat sosok berdiri santai. The Crown.

Raka bersandar di pagar besi dengan ekspresi datar. Kai tegak di sampingnya, diam seperti bayangan. Sementara Arsen duduk di railing dengan kaki menjuntai, sama sekali tak peduli risiko terjatuh. Dan Bima berdiri paling depan sambil menyeringai.

“Mulai.” Gumaman disertai kilat berbahaya di mata Bima terpancar.

Di parkiran, tiga mahasiswa langsung bergerak mendekati Emma dari arah belakang.

Emma terbelalak. Langkahnya melambat lalu berhenti di depan sepeda kesayangannya yang kini tak berbentuk lagi.

Ban depan kempes total. Stangnya bengkok, sementara pedalnya lenyap entah ke mana. Rantai juga tak lagi pada tempatnya, malah terkait acak di sekeliling ban belakang.

Ia terpaku beberapa saat. Tangannya yang memegang helm terkulai di sisi tubuh.

“Wah, datang juga bintang utama kita. Lama banget sih, kita hampir bosan nunggu.”

Suara itu membuat Emma membalikkan tubuhnya. Tiga cowok menatapnya dengan tampang penuh senyum meremehkan.

Insting Emma mengatakan bahwa mereka datang bukan untuk beramah-tamah dengannya.

“Kalau bosan, kenapa ditunggu? Aku sepenting itu ya?” sahut Emma santai.

“Wow, pede banget. Pantesan berani nampar orang. Gaya lo macam nggak ngerti posisi aja.”

“Posisi aku jelas. Mahasiswa kayak kalian. Bedanya, aku nggak perlu main keroyokan.”

Tiga cowok itu saling pandang, lalu tertawa lebih keras.

“Denger tuh. Si paling ngerasa kuat sendirian. Lo harusnya bersyukur masih dikasih tempat di sini. Anak beasiswa kayak lo harusnya diem, tahu diri, nggak banyak gaya.”

“Tahu diri versi yang kamu sebutin itu kayak apa? Diam waktu dihina? Nunduk waktu diperlakukan kayak sampah? Atau pura-pura buta pas orang lain diinjak-injak?”

Cowok yang badannya paling besar langsung mendekat sampai jarak mereka menyempit. Bayangannya menutupi Emma sepenuhnya, menciptakan aura gelap yang mengintimidasi.

“Simpel aja. Nggak usah bacot kalau lo nggak mau bernasib sama kayak rongsokan ini.” Sambil berucap, kakinya menendang sepeda Emma.

“Jadi ini kelakuan kalian?” Emma mulai meradang.

“Eits, jangan asal nuduh, Upik Abu. Lo nggak ada bukti valid buat bilang kayak gitu,” sahut cowok lainnya dengan wajah tengil.

Cowok satunya lagi turut mendekat sambil membuka tutup botol air di tangannya. Dengan gerakan slow-mo, ia menuang isinya ke kepala Emma.

“Nih, biar kepala lo adem jadi bisa berpikir jernih, nggak asal fitnah orang.” Ketiga cowok itu tertawa terbahak-bahak.

Emma menggertakan giginya. Untung airnya tak begitu banyak, sehingga seragam dan tasnya tak sampai basah kuyup.

Tenang, Emma. Nggak boleh terpancing. Ingat, beasiswa ini diperoleh dengan susah payah. Ini nggak ada apa-apanya dibanding Ayah yang banting tulang siang malam. Ia mensugesti dirinya sendiri.

“Lumayan nih buat hiburan sore-sore.” Cowok berbadan besar itu menyeringai.

“Oke, jadi ini konsepnya kalian butuh panggung, ya? Haus tontonan supaya hidup lebih berwarna?” balas Emma dingin.

Ketiga cowok itu sedikit kaget dengan respon Emma. Mereka kira gadis itu akan menangis, tantrum atau apalah itu.

“Dan lo cocok jadi tontonan yang asyik.”

“Masalahnya, aku bukan badut, tapi orang yang bakal bikin kalian nyesel udah lakuin semua ini.”

“Wah, ancaman nih. Takut banget gue.” Seiring ucapan itu, tanpa peringatan, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Emma.

Wajahnya terpelanting ke samping, rasa nyeri menjalar di seluruh wajah dan telinganya berdenging samar. Perlahan dia kembali menoleh dengan tangan mengepal.

“Sudah?”

“Belumlah. Lo pikir satu doang cukup?” Cowok yang tadi memegang botol siap melayangkan tamparan berikutnya.

Emma bergeser sedikit ke samping, tangannya yang mengepal terangkat memberikan satu uppercut tepat di bawah rahang cowok itu. Suara gemeretak terdengar.

“Sialan. Lo beneran cari mati.” Kedua cowok lainnya merangsek maju.

Emma berusaha menghindar, tapi salah satu cowok itu berhasil menarik tasnya. Alhasil, tubuhnya ikut terseret karena kalah tenaga.

Tas itu terlepas, lalu dilempar ke sana kemari seperti mainan.

“Balikin tasku!”

“Manusia sok suci kayak lo tuh ganggu keseimbangan di sini. Semua orang udah nyaman di posisi masing-masing, malah lo rusak dengan drama ga penting. Ambil nih kalau bisa!” ejek mereka.

“Keseimbangan? Maksudnya sistem busuk itu? Parah banget.”

“Mulut lo keknya perlu dikasih pelajaran!”

Tepat ketika tinju itu hampir mengenai bibir Emma, cowok itu tiba-tiba menghentikan gerakannya. Tangannya beralih menyentuh sesuatu di telinga.

Suasana senyap sejenak. Emma mengernyit, bingung dengan perubahan itu. Ia baru sadar bahwa cowok itu sedang mengenakan earphone.

“Cukup. Kita balik aja.” Ketiga cowok itu melirik sejenak ke arah lantai dua, lalu melenggang pergi seolah tak terjadi apa-apa.

“Hei, kalian nggak bisa seenaknya pergi ….”

Ucapan Emma terhenti saat matanya menangkap empat siluet di atas sana. Wajah mereka kurang jelas karena backlight, tapi dari posturnya, Emma tahu siapa mereka.

Jadi dari tadi mereka juga melihat semua ini?

Amarah kian menggelegak di dada Emma. Namun, raut wajah Ayah yang penuh gurat kelelahan kembali terbayang di benaknya. Lumayanlah untuk meredakan api yang mulai berkobar.

Dengan geram ia meraih tas serta sepeda dan menuntunnya susah payah ke pos satpam. Jangan sampai Ayah tahu hal ini. Ayah pasti sedih dan Emma tak mau Ayah keluar uang untuk memperbaikinya. Biar nanti ia pikirkan caranya sendiri.

“Pak, aku boleh titip sepeda di sini dulu ya. Nanti ambilnya besok Minggu. Eh iya, besok masih Bapak yang jaga?”

Satpam menatap miris pada sepeda Emma yang penyok. Tanpa bertanya pun, ia sudah paham apa yang sedang terjadi.

“Besok ganti shift jam 12 siang. Kamu datang sebelum itu ya.”

“Siap, makasih banyak, Pak. Ini aku taruh mana?”

Satpam menunjuk area kosong yang sempit di antara pos dan tembok pembatas pagar. Sedikit tertutup dengan tanaman bonsai yang rimbun sehingga aman.

Setelah berpamitan, Emma melangkah keluar area kampus. Terpaksa ia harus pulang dengan berjalan kaki. Meski ada sedikit uang, ia memilih berhemat karena banyak kebutuhan lain yang lebih penting. Hitung-hitung olahraga juga ‘kan?

Jarak kampus dan rumahnya lumayan jauh, sekitar 5 kilometer. Emma memutuskan untuk mengirim chat pada Ayah bahwa ia akan pulang telat karena masih harus mengerjakan tugas. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia terpaksa berbohong pada Ayah.

Matahari kini tenggelam sepenuhnya, berganti bulan yang merangkak naik dengan sinarnya yang lembut. Beruntunglah jalur pedestrian lumayan ramai. Emma mengambil rute di mana orang-orang sering melewatinya untuk jogging malam.

Ia sampai ke pertigaan kecil di mana ia harus menyeberang langsung. Ini jalur baru, sehingga belum ada jembatan penyeberangan. Sambil menanti lampu lalu lintas berubah merah, ia menatap kendaraan yang berlalu lalang.

Cuma ia satu-satunya pejalan kaki yang berniat menyeberang. Ketika mengayunkan langkah saat lampu merah menyala, sebuah mobil berhenti tiba-tiba tepat di depannya. Ckiiit!

Saking kagetnya, Emma terlonjak mundur dan kehilangan keseimbangan. Ia terjerembap di trotoar. Dengan kesal ia siap melontarkan sumpah serapah kepada pengemudi saklek itu.

Kaca bagian pengemudi perlahan terbuka, menampilkan seraut wajah yang menatapnya intens.

“Ayo, aku antar pulang.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 177

    "Kai ..." bisik Emma tertahan, memegang lengan kakaknya yang gemetar menahan murka. Kai, pria yang selama ini terkenal paling tak banyak omong, kalau pun becanda, terasa garing sekali, dan hampir tak pernah mengandalkan otot, kini berdiri tegak di tempat Bima tadi berdiri. Tangannya yang terkepal rapat masih melayang di udara, dengan urat-urat leher yang menonjol tegang dan pandangan mata yang siap menghancurkan siapa saja. Arsen segera berdiri di tengah mereka. Dia siap turun tangan kalau Bima masih keras kepala. "Bangsat lo," maki Bima yang berdiri terhuyung-huyung mencoba duduk. Pria itu memegangi rahangnya yang terasa remuk. Dia menatap Kai dengan tatapan tak percaya, rasa panas membakar pipinya. Kai maju satu langkah, menunduk menatap Bima bagaikan melihat seekor serangga. "Sensasi bogem mentah dari 'kakak kandungnya' berasa nyata nggak, Bim? Atau lo masih mikir ini prank?" Suara Kai begitu dingin, tanpa ada sedikit pun nada bergurau yang biasanya melekat pada dirinya.

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 176

    "Diem lo, Arsen!" bentak Bima tak sabar. Tawanya pecah, terdengar parau sekaligus sinis. "Lo yang diam," balas Arsen tak mau kalah. "Sebelum cewek ini masuk ke kampus kita, kita berempat solid! Tapi sekarang? Raka berantem sama lo, dan lo berdua malah nempel-nempel sama dia seolah dia ratu di sini!" "Jaga omongan lo, Bima!" Raka menggebrak meja hingga gelas-gelas kaca berdenting keras. "Di sini yang bermasalah itu lo! Datang-datang langsung mengkambinghitamkan Emma!" "Lihat! Bahkan ketua The Crown pun mendadak buta demi ngebela cewek biasa kayak dia!" teriak Bima murka, menatap Emma dengan sorot kebencian mendalam. "Puas lo, Emma? Puas udah hancurin nama besar kami?!" Kai yang sedari tadi menyandarkan tubuhnya di dekat pintu akhirnya melangkah maju, memotong ketegangan yang makin memuncak. "Bima, Bima ..." celetuk Kai dengan nada tenang, tapi sarat intimidasi. "Lo ngomong panjang lebar kayak gitu, lo tahu nggak siapa cewek yang dari tadi lo tunjuk-tunjuk pakai mulut sampah lo

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 175

    Mobil Kai membelah jalanan malam yang mulai sepi. Di kursi depan, Kai fokus menyetir seraya sesekali melirik Arsen dari kaca spion tengah dengan tatapan curiga. Sementara Arsen yang duduk di belakang Emma justru cengengesan puas. Jejak cinta kemerahan di leher Emma akibat sapuan ciuman mereka di taman tadi masih tersembunyi rapi di balik rambut panjangnya yang digerai. TRING! TRING! TRING! Tiga nada dering pesan masuk berbunyi serentak di dalam mobil. Ponsel Kai yang terpasang di dashboard, ponsel Arsen di genggamannya, serta ponsel Emma di dalam tas kecilnya bergetar bersamaan. Kai mengernyitkan dahi seraya menepi pelan di lampu merah. Dia melirik layar ponselnya lebih dulu. Arsen pun langsung menunduk menatap layarnya, sementara Emma merogoh tasnya dengan heran. Pesan dari nomor Bima masuk ke layar mereka masing-masing. Bima: Bro, gue perlu ngomong sesuatu yang penting. Datang ke Restoran Merah besok am lima sore setelah pulang kampus. Gue tunggu kalian di sini. Tak berhenti

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 174

    Arsen tersentak, mengerjapkan matanya berkali-kali seolah baru saja terbangun dari mimpi indah. 'Kita nggak boleh lebih dari ini, Arsen."Arsen mengangguk cepat saat melihat Emma yang ngos-ngosan dengan bibir makin bengkak dan leher berbekal jejak manis buatannya.Arsen menyapu rambutnya ke belakang dengan raut wajah kebingungan dan serba salah. Pria itu berdehem canggung, mencoba menetralkan napasnya yang ikut memburu. "S-sorry, Emma. Astaga, maafin gue," jelas Arsen parau, meraba tenggorokannya yang mendadak terasa kering. "Kamu tuh ya ..." "Iya, Emma. Entah kenapa, gue beneran nggak bisa kontrol diri pas nyium lo. Abisnya bibir lo manis banget, terus leher lo ... duh, bikin tatanan iman gue runtuh seketika." "Nakal banget sih! Lagian, emang kamu punya iman selama ini?" omel Emma mengusap lehernya yang masih sangat sensitif. Matanya yang berbinar indah, membuatnya terlihat makin menggemaskan di mata Arsen. "Ya nggak sih." Arsen tertawa renyah, melangkah mendekat satu langk

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 173

    Emma tertegun. Lidahnya seketika kelu. Biasanya dia selalu menganggap kalimat godaan Arsen cuma angin lalu, tapi malam ini, tatapan mata pria itu begitu tajam, dalam, dan dipenuhi sinar ketulusan tanpa topeng."Kamu salah makan apa, Arsen?" canda Emma mencoba mengusir gejolak aneh dalam dadanya.Arsen meraih kedua tangan Emma, menggenggamnya erat lalu mengusap punggung tangan gadis itu dengan jemarinya yang hangat dan sedikit gemetar. "Please, jawab aku, Emma ..." bisik Arsen parau, membuat Emma menarik napas panjang."Atau setidaknya kita mencoba dulu. Gue tahu lo ragu gara-gara jejak playboy gue, tapi kasih gue kesempatan buat ngebuktiin semuanya ke lo kalau gue serius." Emma menatap Arsen lurus-lurus, mencari kepalsuan di balik mata pria itu. Namun, yang dia temukan hanyalah kejujuran dan ketakutan akan penolakan.Rasa ragu yang selama ini membentengi hati Emma perlahan runtuh. Toh selama ini, Arsen selalu ada untuknya.Akhirnya Emma mengangguk pelan, bibirnya mengukir senyum tip

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 172

    "Pak Kumis, totalnya berapa semuanya?" tanya Kai seraya merogoh dompet tebal dari saku celananya, pasrah menghadapi kekalahannya dalam taruhan sambal malam itu. Pak Kumis menghitung cepat sambil tersenyum lebar. "Tiga porsi bakso urat super pedas, tiga teh botol, sama kerupuk lima, totalnya jadi seratus dua puluh ribu aja, Mas." Kai menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan dengan raut wajah yang merengut konyol. "Kembaliannya ambil aja, Pak, hitung-hitung tip buat kuah baksonya yang sukses bikin lambung gue bergejolak." Arsen yang berdiri di sebelah Kai tertawa lepas sambil menepuk-nepuk perutnya yang kenyang. "Makasih ya, Kai. Makan malam gratis dari kekalahan tragis lo emang terasa sepuluh kali lebih nikmat." "Diem lo, Sen! Awas aja ntar di mobil gue, lo ngeluh mules," sungut Kai, berjalan memimpin ke luar warung bakso menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan. Setelah keluar dari warung dan melangkah menuju area parkir, Arsen tiba-tiba mempercepat langkahnya. Dia meran

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 2

    Emma berjalan menuju gerbang dengan langkah berat, tapi dia ingin secepatnya pergi dari tempat mewah ini.Tiba-tiba, suara deru mesin mobil memecah udara. Emma refleks menoleh.Beberapa mobil mewah meluncur masuk ke halaman kampus dengan kecepatan tinggi, seolah tempat itu adalah milik pribadi mere

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 1

    Emma Salsabila berdiri di depan gerbang Universitas Adiwangsa Utama. Tidak bisa dipungkiri, perasaannya agak gugup. Mungkin karena ini baru pertama kalinya dia datang ke tempat semegah ini. Gedung mewah yang menjulang tinggi di depannya itu adalah kawasan kampus para kaum elit. Hampir tidak akses

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 7

    Bab 7Emma yang tadinya siap marah, langsung berhenti di tempat. Ia memicingkan mata, berusaha melihat jelas wajah pemilik suara itu.Dan detik berikutnya, hidupnya terasa makin kacau. “Kai?” ucap Emma kaget sekaligus melongo. Dari semua manusia di muka bumi, kenapa harus dia?Kai. Salah satu angg

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 5

    Udara pagi masih segar ketika Emma mengayuh sepedanya pelan menyusuri jalan menuju kampus. Tas ransel tergantung di punggungnya, bergerak naik turun mengikuti irama kayuhan kakinya. Rambutnya yang terikat sederhana ikut bergoyang tertiup angin pagi. Gerbang kampus menjulang tinggi di depannya, sam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status