LOGINTak sampai satu menit kemudian, seorang wanita elegan berlari keluar rumah dengan wajah panik. Rambutnya bahkan sedikit berantakan, sesuatu yang sangat jarang terjadi. Bima sampai mengerutkan dahi. "Apa Bunda sakit gara-gara mikirin gue ya?" Perasaan tak enak mulai merambat di dadanya. "Bima!" Mata Larissa Handoyo langsung berkaca-kaca saat melihat putranya berdiri di depan gerbang yang belum terbuka sepenuhnya. "Nak ..." Beliau nyaris berlari saking senangnya. Lalu mendadak berhenti seperti adegan slow motion di film-film.Tatapannya beralih ke para satpam yang masih bergerombol di dekat pos keamanan. Ekspresi hangat itu langsung berubah. "Bapak-bapak ini bagaimana sih?" Para satpam spontan berdiri tegak. "Maaf, Bu. Kami tadi terlalu senang." "Senang sampai lupa buka gerbang?" “Kami minta maaf, Bu." "Anak saya sudah berdiri di depan gerbang dari tadi." "Maaf, Bu." "Kalau dia berubah pikiran lalu pergi lagi bagaimana?" Mendengar itu, wajah para satpam langsung pucat.
Sudah hampir satu bulan lamanya Bima menghabiskan hari-harinya di vila milik keluarganya yang terletak jauh dari keramaian kota. Tempat itu nyaman, tenang, dan memiliki segala fasilitas yang dibutuhkan untuk proses pemulihannya. Apa pun yang ia perlukan selalu tersedia. Makanan datang tepat waktu, obat-obatan tidak pernah terlambat diberikan, dan dokter rutin memantau perkembangannya.Namun, semua kemudahan itu tidak serta-merta membuatnya merasa bahagia.Justru sebaliknya. Semakin lama berada di sana, semakin besar perasaan terasing yang menggerogoti dirinya. Setiap hari rasa bersalah terus menghantuinya. Rasa bersalah karena menghilang begitu saja dari kehidupan orang-orang yang peduli padanya dan membiarkan keluarga, teman-teman, dan orang-orang terdekat bertanya-tanya mengenai keadaannya.Awalnya Bima menganggap menyendiri adalah keputusan terbaik. Ia ingin fokus sembuh tanpa gangguan apa pun. Namun, setelah berminggu-minggu berlalu, kesunyian yang dulu terasa menenangkan kini b
"Emma." "Hm?" "Kita perlu bicara." "Aku tahu." "Bagus." "Aku tahu." "Bagus." Emma menoleh ke luar jendela. Pohon-pohon melintas seperti bayangan. Cepat. Kabur. Sama seperti masa depannya sekarang ini. "Aku pikir …" Emma menarik napas. Lalu memberanikan diri menatap Raka. "Kita harus benar-benar jaga jarak." Mobil langsung hening. Arsen bahkan otomatis mengecilkan volume musik. "Lo serius?" Suara Raka terdengar pelan dan berbahaya. "Iya, Raka. Kita nggak punya pilihan lain." "Of course kita punya banyak pilihan." "Ya, benar, untukmu selalu ada banyak pilihan, tapi tidak untukku." "Karena Mama gue?" "Bukan cuma itu." "Lalu?" Emma menunduk. "Karena aku lelah dengan semua ini." Raka tertawa pendek, dan terdengar pahit. "Bilang saja lo lelah karena hadapin gue?" "Bukan, tapi aku lelah dan capek lihat semua orang bermasalah gara-gara aku." "Itu bukan salah lo." "Tapi tetap terjadi." "Emma ..." "Kamu dengar Mama kamu tadi kan?" "Terserah apa mau Mama, gue nggak
Emma terdiam. Pertanyaan itu datang tiba-tiba dan terlalu tajam. Seolah seseorang baru saja membongkar pintu yang selama ini ia jaga rapat-rapat."Siapa nama ibu kandungmu, Emma?"Jantung Emma berdetak semakin cepat.Ia melirik Raka. Lalu Arsen. Seakan kedua pria itu punya kunci jawabannya."Aku …"Emma menelan ludah. Tatapannya turun sesaat. Lalu kembali terangkat."Setahuku nama ibu kandungku Ningsih Sulastri."Mata Ibu Renata langsung menyipit."Ningsih Sulastri?"Emma mengangguk tak yakin. Setidaknya itu adalah nama yang selalu Ayah ucapkan. Namun, setelah Ayah membuka masa lalunya, tentunya dia tahu kalau nama itu hanya karangan Ayahnya saja."Benar?"tanya Ibu Renata."Iya.""Kamu yakin?""Ayah selalu bilang begitu.""Selalu bilang?"Emma mulai merasa seperti sedang diinterogasi."Iya.""Kamu pernah bertemu perempuan itu?."Aku nggak ingat karena. Mama meninggal saat aku masih kecill.""Foto?""Nggak ada.""Alamat?""Beliau tinggal bersama aku dan Ayah saat masih hidup.""K
Tatapan Ibu Renata bergeser ke Emma.Hanya sepersekian detik. Namun, cukup membuat Emma merasa seperti sedang diperiksa dari ujung kepala sampai ujung kaki."Kamu sudah paham kenapa dipanggil ke sini."Emma menatap Ibu Renata tanpa berkedip. ‘Pas aku masuk ke sini, kok dia nggak ada?’ pikirnya, lalu melirik pintu samping dan sadar, saat dia sedang bicara dengan rektor, ternyata Ibu Renata sedang duduk di ruangan sebelah.Raka melangkah maju."Mama, please …"Ibu Renata tersenyum kecil."Mama bahkan belum bicara apa-apa.""Karena aku tahu Mama bakal …"Sunyi.Kata-kata Raka menggantung begitu saja sehingga ketegangan merambah pelan seperti api yang menyusuri sumbu bom.Arsen melirik Emma.Lalu kembali menatap ibu dan anak yang sedang saling berhadapan.Sial.Ini jauh lebih menarik daripada yang dia bayangkan. Ibunda Raka, adalah salah satu pemilik saham terbesar di sekolah ini. Bukan itu saja, dia juga merupakan pendiri kampus ini. Hanya satu kalimat perintah darinya, maka kampus i
Begitu tiba di kantor rektor, pintu terbuka otomatis. Mahasiswa yang mengantarkan mereka tadi memberi isyarat. “Emma, kamu masuk dulu.” Emma mengerjap. “Hah? Aku? Masuk sendiri?” Raka langsung menoleh. “Kenapa dia harus masuk sendiri?” “Ini permintaan rektor.” Arsen langsung mengernyit. “Gue ikut. Ngapain coba Emma masuk sendiri ke sana?” “Tolong, Kak Arsen. Tunggu di luar.” Raka melangkah maju. “Gue juga ikut masuk.” Mahasiswa itu langsung mengangkat tangan panik. “Maaf, Kak. Hanya Emma yang diminta masuk menemui rektor.” Sunyi yang mencekam menghinggapi mereka, dan kali ini lebih panjang. Emma menatap Raka sekilas, dia melihat ada keraguan kecil di wajah cowok itu. Bukan karena takut, tapi karena tidak bisa mengontrol situasi. Emma menarik napas. “Aku masuk. Kalian tunggu di sini saja.” Raka langsung memegang tangan Emma. “Lo ama gue masuk bareng. Kalau rektor protes, gue tinggal pecat.” Emma menatap Raka tajam. “Aku tidak tahu kuasa apa y
Emma refleks menutup wajah. "Malu-maluin banget." "Peduli amat." Lalu sebelum Emma sempat bereaksi— Arsen tiba-tiba menariknya ke dalam pelukan. Hangat. Cepat. Refleks. Emma membeku. Seluruh tubuhnya langsung kaku. Dia bahkan tidak tahu harus merespon seperti apa. "Arsen!" Namun,
Begitu tiba di sana, Raka berdiri bersandar pada pagar koridor. Tangannya berada di saku celana.Wajahnya datar. Namun, siapa pun yang mengenalnya pasti tahu. Ia sedang menahan sesuatu. Tatapannya tidak pernah lepas dari taman di bawah sana. Hanya tertuju hanya pada dua sosok. Dari Emma. Ke Ars
Malam itu Emma tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, isi surat itu kembali muncul. Kata demi kata. Kalimat demi kalimat. Seperti pisau yang menggores pelan. Akhirnya ia mengambil keputusan yang bahkan membuat dadanya terasa nyeri. "Aku harus menjaga jarak." Namun, apakah dia sanggup
Sore itu juga, Raka benar-benar menyeret Emma menemui pemilik kontrakan. Mereka mampir ke ATM sebentar untuk mengambil uang cash. "Gue bakal kasih pelajaran pemilik rumah kontrakan," geram Raka sambil terus menyetir. "Jangan aneh-aneh. Ntar malah aku benaran diusir," ucap Emma mengingatkan. "Oh,







