Share

Bab 7

Author: Any Anthika
last update publish date: 2026-04-28 21:51:54

Bab 7

Emma yang tadinya siap marah, langsung berhenti di tempat. Ia memicingkan mata, berusaha melihat jelas wajah pemilik suara itu.

Dan detik berikutnya, hidupnya terasa makin kacau.

“Kai?” ucap Emma kaget sekaligus melongo. Dari semua manusia di muka bumi, kenapa harus dia?

Kai. Salah satu anggota The Crown. Yang paling dingin. Paling pintar dan susah ditebak. Dan yang jelas, masuk daftar orang yang seharusnya tidak ingin dia temui hari ini.

Cowok itu duduk santai di balik kemudi. Belum cukup rasa kaget yang melandanya, Arsen

menyapanya dari bangku penumpang di samping Kai. Senyum ala playboy yang bisa merontokkan hati setiap cewek, terlukis indah di bibirnya. Namun, Emma yang sudah muak dengan sikap mereka sepanjang hari itu, tidak akan tergoda oleh cowok brengsek itu.

Emma berdiri tegak, merapikan tasnya.

"Nggak usah. Aku masih sayang nyawa dan harga diri."

Kai menatapnya datar, seolah-olah ucapan Emma seperti angin yang enggan bertiup.

Melihat tanggapan Emma, Arsen keluar dari mobil dan menghampirinya.

"Naik mobil kami bisa bikin harga diri lo hilang? Apa nggak salah dengar?"

“Bukan mobilmu. Pemiliknya.”

Hening dua detik.

Lalu, ajaibnya, sudut bibir Arsen terangkat lagi. Mungkin berharap agar senyum indahnya bisa meluluhkan hati Emma yang sudah sumpek.

“Lo lucu banget.”

“Apanya yang lucu? Aku serius.”

“Aku juga serius. Masuk.” Kai mengulang.

Emma menyilangkan tangan di dada.

“Enggak. Makasih. Aku masih bisa jalan. Kedua kakiku tidak manja seperti kalian.”

“Rumah lo lima kilometer dari sini," ucap Arsen sambil menggerakkan jari-jarinya seolah sedang menghitung berapa kilometer yang harus ditempuh Emma.

Mata Emma langsung menyipit.

“Stalker?”

“Observatif.”

“Nggak, itu creepy," sentak Emma sengit.

Kai yang tadinya duduk diam, mengetuk setir pelan. Sepertinya dia tidak sabar dengan perdebatan Arsen dan keras kepala si Emma.

“Lo capek. Tangan lo lecet. Sepeda juga rusak. Dan lo baru habis drama di parkiran. Gue cuma menawarkan tumpangan, bukan ngajak kabur ke luar negeri.”

Emma menegang.

Jadi dia tahu. Tentu saja dia tahu. Mereka melihat semuanya dari atas. Rasa kesal langsung naik lagi ke ubun-ubun.

“Oh, jadi sekarang anggota kerajaan turun tangan? Setelah nonton pertunjukan gratis tadi sore?”

Nada suara Emma tajam. Arsen tidak langsung menjawab. Ia menatap Emma sebentar, lalu berkata pelan,

“Yaudah kalau nggak mau diantar.” Arsen mengangkat bahu singkat.

Emma tertawa kecil. Hambar.

Kai yang tadinya masih duduk dan menanti, menghela napas pendek. “Lo, masuk mobil.”

“Tidak.”

“Kenapa keras kepala sekali?”

“Karena hari ini aku sudah ditampar, disiram, sepeda dirusak, harga diri diinjak-injak, dan sekarang kalian pikir solusi terbaiknya adalah aku nebeng anggota geng elit kampus? Maaf dan makasih, tapi aku menolak.”

Kai membuka pintu mobil. Dengan langkah tegap dan percaya diri, ia mendekati Emma. Maniknya menatap gadis itu beberapa detik seperti sedang mempelajari wajahnya. Lalu berkata sangat tenang.

“Lo kalau ngambek ternyata pidatonya panjang juga.”

Emma melotot. “Kamu nyebelin banget, ya.”

“Udah sering dibilang begitu," ucap Kai dingin.

“Syukurlah, berarti aku masih waras.”

Kai membuka pintu penumpang. "Masuklah."

Emma bergeming. Lebih baik dia terseok-seok karena jalan, daripada nebeng cowok-cowok songong itu.

“Oke. Gini aja, kalau lo nggak mau nebeng, setidaknya lo kami antar sampai halte bus terdekat," tawar Arsen.

Emma terdiam. Tanpa sadar, dia mulai menimbang tawaran Arsen.

"Lo lihat belokan di depan?" lanjut Arsen saat melihat Emma terlihat ragu.

Emma mengangguk kaku.

"Di sana biasa berkumpul cowok-cowok nggak benar."

"Hah! Kayak kamu paling benar aja," ejek Emma.

Arsen nyengir menyadari sindiran Emma yang tepat sasaran.

"Terserah lo deh, tapi setidaknya gue ada niat untuk anterin. Lo mau diganggu sama cowok-cowok itu?"

“Kamu hanya nakut-nakutin aku ya?”

“Nggak, itu strategi.”

“Kamu manipulatif.”

“Lo yang dramatis.”

“Kamu ngeselin.”

“Lo naik.”

Emma mendengkus keras. Tidak ada gunanya berdebat sekarang ini. Perutnya juga udah keroncongan. Sial.

Dia melirik jalanan yang mulai gelap. Jujur, kakinya sudah pegal. Lalu terbayang wajah Ayah yang pasti khawatir kalau dia pulang terlalu malam.

Dengan sangat terpaksa, dia masuk ke kursi penumpang pintu mobil.

“Fine. Tapi jangan merasa menang dulu.”

Arsen mengangguk kecil dengan senyum yang mengembang.

“Gue memang menang. Dan akan selalu menang.”

“Ya Tuhan, sombong banget.”

“Jangan lupa pakai seatbelt.”

Emma memutar bola matanya dan membanting pintu lebih keras dari yang diperlukan.

Sedangkan Kai menarik tangan Arsen dan meletakkan kunci mobil di telapak tangan cowok itu.

Arsen melotot. "Loh, kok kuncinya dikasih ke gue?"

"Lo nyetir, gue duduk di belakang."

"What? It's not fair!"

"Nggak aman kalau anak perempuan orang duduk sama lo," bisik Kai.

Tanpa mempedulikan protes dari Arsen, Kai memindahkan tas kuliahnya di tengah, lalu duduk dengan tenang. Kehadiran Emma di sampingnya, tidak mempengaruhi dunianya yang dingin.

Mereka duduk berjauhan. Emma memeluk tasnya erat-erat.

Kalau bukan karena sepedanya rusak dan kakinya hampir copot dari sendi-sendinya, ia tidak akan pernah, sekali pun, mau semobil dengan manusia sedingin kulkas dua pintu ini.

Arsen menyetir dengan santai. Mobil melaju mulus membelah jalanan yang sepi dan mulai gelap.

Lima menit pertama, sunyi. Lalu, suara Arsen mulai terdengar, bersenandung mengikuti alunan lagu yang ada. Ternyata bukan hanya playboy, Arsen memiliki suara yang cukup indah.

Kai membuka tasnya dan mengeluarkan sesuatu. Laptop mahal keluaran terbaru, yang pastinya benda itu tak akan pernah bisa dibeli oleh orang-orang yang bernasib seperti Emma.

Saat mereka berhenti di lampu merah pertama. Jemari Kai bergerak cepat di keyboard. Mengetik, memasukkan kode-kode rumit pada sebuah proyek di layar laptop.

Emma awalnya memilih menatap keluar jendela. Pikirannya tertuju pada ayahnya yang pasti sudah khawatir karena dia belum pulang-pulang juga.

Namun, lama-lama ... matanya melirik. Sedikit. Lalu sedikit lagi. Sampai akhirnya fokusnya pindah total ke layar laptop Kai.

Bersambung ...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 102

    Tak sampai satu menit kemudian, seorang wanita elegan berlari keluar rumah dengan wajah panik. Rambutnya bahkan sedikit berantakan, sesuatu yang sangat jarang terjadi. Bima sampai mengerutkan dahi. "Apa Bunda sakit gara-gara mikirin gue ya?" Perasaan tak enak mulai merambat di dadanya. "Bima!" Mata Larissa Handoyo langsung berkaca-kaca saat melihat putranya berdiri di depan gerbang yang belum terbuka sepenuhnya. "Nak ..." Beliau nyaris berlari saking senangnya. Lalu mendadak berhenti seperti adegan slow motion di film-film.Tatapannya beralih ke para satpam yang masih bergerombol di dekat pos keamanan. Ekspresi hangat itu langsung berubah. "Bapak-bapak ini bagaimana sih?" Para satpam spontan berdiri tegak. "Maaf, Bu. Kami tadi terlalu senang." "Senang sampai lupa buka gerbang?" “Kami minta maaf, Bu." "Anak saya sudah berdiri di depan gerbang dari tadi." "Maaf, Bu." "Kalau dia berubah pikiran lalu pergi lagi bagaimana?" Mendengar itu, wajah para satpam langsung pucat.

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 101

    Sudah hampir satu bulan lamanya Bima menghabiskan hari-harinya di vila milik keluarganya yang terletak jauh dari keramaian kota. Tempat itu nyaman, tenang, dan memiliki segala fasilitas yang dibutuhkan untuk proses pemulihannya. Apa pun yang ia perlukan selalu tersedia. Makanan datang tepat waktu, obat-obatan tidak pernah terlambat diberikan, dan dokter rutin memantau perkembangannya.Namun, semua kemudahan itu tidak serta-merta membuatnya merasa bahagia.Justru sebaliknya. Semakin lama berada di sana, semakin besar perasaan terasing yang menggerogoti dirinya. Setiap hari rasa bersalah terus menghantuinya. Rasa bersalah karena menghilang begitu saja dari kehidupan orang-orang yang peduli padanya dan membiarkan keluarga, teman-teman, dan orang-orang terdekat bertanya-tanya mengenai keadaannya.Awalnya Bima menganggap menyendiri adalah keputusan terbaik. Ia ingin fokus sembuh tanpa gangguan apa pun. Namun, setelah berminggu-minggu berlalu, kesunyian yang dulu terasa menenangkan kini b

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 100

    "Emma." "Hm?" "Kita perlu bicara." "Aku tahu." "Bagus." "Aku tahu." "Bagus." Emma menoleh ke luar jendela. Pohon-pohon melintas seperti bayangan. Cepat. Kabur. Sama seperti masa depannya sekarang ini. "Aku pikir …" Emma menarik napas. Lalu memberanikan diri menatap Raka. "Kita harus benar-benar jaga jarak." Mobil langsung hening. Arsen bahkan otomatis mengecilkan volume musik. "Lo serius?" Suara Raka terdengar pelan dan berbahaya. "Iya, Raka. Kita nggak punya pilihan lain." "Of course kita punya banyak pilihan." "Ya, benar, untukmu selalu ada banyak pilihan, tapi tidak untukku." "Karena Mama gue?" "Bukan cuma itu." "Lalu?" Emma menunduk. "Karena aku lelah dengan semua ini." Raka tertawa pendek, dan terdengar pahit. "Bilang saja lo lelah karena hadapin gue?" "Bukan, tapi aku lelah dan capek lihat semua orang bermasalah gara-gara aku." "Itu bukan salah lo." "Tapi tetap terjadi." "Emma ..." "Kamu dengar Mama kamu tadi kan?" "Terserah apa mau Mama, gue nggak

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 99

    Emma terdiam. Pertanyaan itu datang tiba-tiba dan terlalu tajam. Seolah seseorang baru saja membongkar pintu yang selama ini ia jaga rapat-rapat."Siapa nama ibu kandungmu, Emma?"Jantung Emma berdetak semakin cepat.Ia melirik Raka. Lalu Arsen. Seakan kedua pria itu punya kunci jawabannya."Aku …"Emma menelan ludah. Tatapannya turun sesaat. Lalu kembali terangkat."Setahuku nama ibu kandungku Ningsih Sulastri."Mata Ibu Renata langsung menyipit."Ningsih Sulastri?"Emma mengangguk tak yakin. Setidaknya itu adalah nama yang selalu Ayah ucapkan. Namun, setelah Ayah membuka masa lalunya, tentunya dia tahu kalau nama itu hanya karangan Ayahnya saja."Benar?"tanya Ibu Renata."Iya.""Kamu yakin?""Ayah selalu bilang begitu.""Selalu bilang?"Emma mulai merasa seperti sedang diinterogasi."Iya.""Kamu pernah bertemu perempuan itu?."Aku nggak ingat karena. Mama meninggal saat aku masih kecill.""Foto?""Nggak ada.""Alamat?""Beliau tinggal bersama aku dan Ayah saat masih hidup.""K

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 98

    Tatapan Ibu Renata bergeser ke Emma.Hanya sepersekian detik. Namun, cukup membuat Emma merasa seperti sedang diperiksa dari ujung kepala sampai ujung kaki."Kamu sudah paham kenapa dipanggil ke sini."Emma menatap Ibu Renata tanpa berkedip. ‘Pas aku masuk ke sini, kok dia nggak ada?’ pikirnya, lalu melirik pintu samping dan sadar, saat dia sedang bicara dengan rektor, ternyata Ibu Renata sedang duduk di ruangan sebelah.Raka melangkah maju."Mama, please …"Ibu Renata tersenyum kecil."Mama bahkan belum bicara apa-apa.""Karena aku tahu Mama bakal …"Sunyi.Kata-kata Raka menggantung begitu saja sehingga ketegangan merambah pelan seperti api yang menyusuri sumbu bom.Arsen melirik Emma.Lalu kembali menatap ibu dan anak yang sedang saling berhadapan.Sial.Ini jauh lebih menarik daripada yang dia bayangkan. Ibunda Raka, adalah salah satu pemilik saham terbesar di sekolah ini. Bukan itu saja, dia juga merupakan pendiri kampus ini. Hanya satu kalimat perintah darinya, maka kampus i

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 97

    Begitu tiba di kantor rektor, pintu terbuka otomatis. Mahasiswa yang mengantarkan mereka tadi memberi isyarat. “Emma, kamu masuk dulu.” Emma mengerjap. “Hah? Aku? Masuk sendiri?” Raka langsung menoleh. “Kenapa dia harus masuk sendiri?” “Ini permintaan rektor.” Arsen langsung mengernyit. “Gue ikut. Ngapain coba Emma masuk sendiri ke sana?” “Tolong, Kak Arsen. Tunggu di luar.” Raka melangkah maju. “Gue juga ikut masuk.” Mahasiswa itu langsung mengangkat tangan panik. “Maaf, Kak. Hanya Emma yang diminta masuk menemui rektor.” Sunyi yang mencekam menghinggapi mereka, dan kali ini lebih panjang. Emma menatap Raka sekilas, dia melihat ada keraguan kecil di wajah cowok itu. Bukan karena takut, tapi karena tidak bisa mengontrol situasi. Emma menarik napas. “Aku masuk. Kalian tunggu di sini saja.” Raka langsung memegang tangan Emma. “Lo ama gue masuk bareng. Kalau rektor protes, gue tinggal pecat.” Emma menatap Raka tajam. “Aku tidak tahu kuasa apa y

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 88

    Pintu kayu itu tertutup dengan debuman pelan, menyisakan kesunyian yang mencekik. Emma bersandar pada daun pintu, merosot perlahan hingga terduduk di lantai yang dingin. Surat pengusiran di tangannya diremas kuat-kuat hingga membentuk gumpalan tak beraturan. Air mata yang sejak tadi ditahannya ki

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 87

    Terdengar suara helaan napas panjang dari seberang sana. Lalu beberapa detik kemudian— ‘Gue cuma nggak suka ada yang diam-diam ambil foto lo, terus berfantasi macam-macam saat lihat senyum lo.’ Kalimat itu keluar pelan. Nyaris seperti bisikan. Namun, cukup jelas untuk membuat Emma terdiam. ‘Aku

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 86

    Malam sudah larut ketika Emma akhirnya tiba di rumah kontrakan kecil yang selama ini menjadi tempatnya berteduh dari kerasnya dunia. Gang sempit itu nyaris kosong. Bahkan suara kendaraan lewat pun hampir tak terdengar. Hanya lampu jalan yang berkedip malas dan suara jangkrik yang bersahutan da

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 85

    Ibu Rosalinda tertidur pulas di atas sofa yang terletak di sudut ruangan tempat rawat inap suaminya. Kai sudah memintanya pulang untuk beristirahat di rumah, tapi beliau tidak mau meninggalkan suaminya di saat-saat seperti ini. Walaupun kini, kondisi Papa Kai sudah lebih stabil tinggal menunggu pe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status