LOGINBab 7
Emma yang tadinya siap marah, langsung berhenti di tempat. Ia memicingkan mata, berusaha melihat jelas wajah pemilik suara itu. Dan detik berikutnya, hidupnya terasa makin kacau. “Kai?” ucap Emma kaget sekaligus melongo. Dari semua manusia di muka bumi, kenapa harus dia? Kai. Salah satu anggota The Crown. Yang paling dingin. Paling pintar dan susah ditebak. Dan yang jelas, masuk daftar orang yang seharusnya tidak ingin dia temui hari ini. Cowok itu duduk santai di balik kemudi. Belum cukup rasa kaget yang melandanya, Arsen menyapanya dari bangku penumpang di samping Kai. Senyum ala playboy yang bisa merontokkan hati setiap cewek, terlukis indah di bibirnya. Namun, Emma yang sudah muak dengan sikap mereka sepanjang hari itu, tidak akan tergoda oleh cowok brengsek itu. Emma berdiri tegak, merapikan tasnya. "Nggak usah. Aku masih sayang nyawa dan harga diri." Kai menatapnya datar, seolah-olah ucapan Emma seperti angin yang enggan bertiup. Melihat tanggapan Emma, Arsen keluar dari mobil dan menghampirinya. "Naik mobil kami bisa bikin harga diri lo hilang? Apa nggak salah dengar?" “Bukan mobilmu. Pemiliknya.” Hening dua detik. Lalu, ajaibnya, sudut bibir Arsen terangkat lagi. Mungkin berharap agar senyum indahnya bisa meluluhkan hati Emma yang sudah sumpek. “Lo lucu banget.” “Apanya yang lucu? Aku serius.” “Aku juga serius. Masuk.” Kai mengulang. Emma menyilangkan tangan di dada. “Enggak. Makasih. Aku masih bisa jalan. Kedua kakiku tidak manja seperti kalian.” “Rumah lo lima kilometer dari sini," ucap Arsen sambil menggerakkan jari-jarinya seolah sedang menghitung berapa kilometer yang harus ditempuh Emma. Mata Emma langsung menyipit. “Stalker?” “Observatif.” “Nggak, itu creepy," sentak Emma sengit. Kai yang tadinya duduk diam, mengetuk setir pelan. Sepertinya dia tidak sabar dengan perdebatan Arsen dan keras kepala si Emma. “Lo capek. Tangan lo lecet. Sepeda juga rusak. Dan lo baru habis drama di parkiran. Gue cuma menawarkan tumpangan, bukan ngajak kabur ke luar negeri.” Emma menegang. Jadi dia tahu. Tentu saja dia tahu. Mereka melihat semuanya dari atas. Rasa kesal langsung naik lagi ke ubun-ubun. “Oh, jadi sekarang anggota kerajaan turun tangan? Setelah nonton pertunjukan gratis tadi sore?” Nada suara Emma tajam. Arsen tidak langsung menjawab. Ia menatap Emma sebentar, lalu berkata pelan, “Yaudah kalau nggak mau diantar.” Arsen mengangkat bahu singkat. Emma tertawa kecil. Hambar. Kai yang tadinya masih duduk dan menanti, menghela napas pendek. “Lo, masuk mobil.” “Tidak.” “Kenapa keras kepala sekali?” “Karena hari ini aku sudah ditampar, disiram, sepeda dirusak, harga diri diinjak-injak, dan sekarang kalian pikir solusi terbaiknya adalah aku nebeng anggota geng elit kampus? Maaf dan makasih, tapi aku menolak.” Kai membuka pintu mobil. Dengan langkah tegap dan percaya diri, ia mendekati Emma. Maniknya menatap gadis itu beberapa detik seperti sedang mempelajari wajahnya. Lalu berkata sangat tenang. “Lo kalau ngambek ternyata pidatonya panjang juga.” Emma melotot. “Kamu nyebelin banget, ya.” “Udah sering dibilang begitu," ucap Kai dingin. “Syukurlah, berarti aku masih waras.” Kai membuka pintu penumpang. "Masuklah." Emma bergeming. Lebih baik dia terseok-seok karena jalan, daripada nebeng cowok-cowok songong itu. “Oke. Gini aja, kalau lo nggak mau nebeng, setidaknya lo kami antar sampai halte bus terdekat," tawar Arsen. Emma terdiam. Tanpa sadar, dia mulai menimbang tawaran Arsen. "Lo lihat belokan di depan?" lanjut Arsen saat melihat Emma terlihat ragu. Emma mengangguk kaku. "Di sana biasa berkumpul cowok-cowok nggak benar." "Hah! Kayak kamu paling benar aja," ejek Emma. Arsen nyengir menyadari sindiran Emma yang tepat sasaran. "Terserah lo deh, tapi setidaknya gue ada niat untuk anterin. Lo mau diganggu sama cowok-cowok itu?" “Kamu hanya nakut-nakutin aku ya?” “Nggak, itu strategi.” “Kamu manipulatif.” “Lo yang dramatis.” “Kamu ngeselin.” “Lo naik.” Emma mendengkus keras. Tidak ada gunanya berdebat sekarang ini. Perutnya juga udah keroncongan. Sial. Dia melirik jalanan yang mulai gelap. Jujur, kakinya sudah pegal. Lalu terbayang wajah Ayah yang pasti khawatir kalau dia pulang terlalu malam. Dengan sangat terpaksa, dia masuk ke kursi penumpang pintu mobil. “Fine. Tapi jangan merasa menang dulu.” Arsen mengangguk kecil dengan senyum yang mengembang. “Gue memang menang. Dan akan selalu menang.” “Ya Tuhan, sombong banget.” “Jangan lupa pakai seatbelt.” Emma memutar bola matanya dan membanting pintu lebih keras dari yang diperlukan. Sedangkan Kai menarik tangan Arsen dan meletakkan kunci mobil di telapak tangan cowok itu. Arsen melotot. "Loh, kok kuncinya dikasih ke gue?" "Lo nyetir, gue duduk di belakang." "What? It's not fair!" "Nggak aman kalau anak perempuan orang duduk sama lo," bisik Kai. Tanpa mempedulikan protes dari Arsen, Kai memindahkan tas kuliahnya di tengah, lalu duduk dengan tenang. Kehadiran Emma di sampingnya, tidak mempengaruhi dunianya yang dingin. Mereka duduk berjauhan. Emma memeluk tasnya erat-erat. Kalau bukan karena sepedanya rusak dan kakinya hampir copot dari sendi-sendinya, ia tidak akan pernah, sekali pun, mau semobil dengan manusia sedingin kulkas dua pintu ini. Arsen menyetir dengan santai. Mobil melaju mulus membelah jalanan yang sepi dan mulai gelap. Lima menit pertama, sunyi. Lalu, suara Arsen mulai terdengar, bersenandung mengikuti alunan lagu yang ada. Ternyata bukan hanya playboy, Arsen memiliki suara yang cukup indah. Kai membuka tasnya dan mengeluarkan sesuatu. Laptop mahal keluaran terbaru, yang pastinya benda itu tak akan pernah bisa dibeli oleh orang-orang yang bernasib seperti Emma. Saat mereka berhenti di lampu merah pertama. Jemari Kai bergerak cepat di keyboard. Mengetik, memasukkan kode-kode rumit pada sebuah proyek di layar laptop. Emma awalnya memilih menatap keluar jendela. Pikirannya tertuju pada ayahnya yang pasti sudah khawatir karena dia belum pulang-pulang juga. Namun, lama-lama ... matanya melirik. Sedikit. Lalu sedikit lagi. Sampai akhirnya fokusnya pindah total ke layar laptop Kai. Bersambung ..."Kai ..." bisik Emma tertahan, memegang lengan kakaknya yang gemetar menahan murka. Kai, pria yang selama ini terkenal paling tak banyak omong, kalau pun becanda, terasa garing sekali, dan hampir tak pernah mengandalkan otot, kini berdiri tegak di tempat Bima tadi berdiri. Tangannya yang terkepal rapat masih melayang di udara, dengan urat-urat leher yang menonjol tegang dan pandangan mata yang siap menghancurkan siapa saja. Arsen segera berdiri di tengah mereka. Dia siap turun tangan kalau Bima masih keras kepala. "Bangsat lo," maki Bima yang berdiri terhuyung-huyung mencoba duduk. Pria itu memegangi rahangnya yang terasa remuk. Dia menatap Kai dengan tatapan tak percaya, rasa panas membakar pipinya. Kai maju satu langkah, menunduk menatap Bima bagaikan melihat seekor serangga. "Sensasi bogem mentah dari 'kakak kandungnya' berasa nyata nggak, Bim? Atau lo masih mikir ini prank?" Suara Kai begitu dingin, tanpa ada sedikit pun nada bergurau yang biasanya melekat pada dirinya.
"Diem lo, Arsen!" bentak Bima tak sabar. Tawanya pecah, terdengar parau sekaligus sinis. "Lo yang diam," balas Arsen tak mau kalah. "Sebelum cewek ini masuk ke kampus kita, kita berempat solid! Tapi sekarang? Raka berantem sama lo, dan lo berdua malah nempel-nempel sama dia seolah dia ratu di sini!" "Jaga omongan lo, Bima!" Raka menggebrak meja hingga gelas-gelas kaca berdenting keras. "Di sini yang bermasalah itu lo! Datang-datang langsung mengkambinghitamkan Emma!" "Lihat! Bahkan ketua The Crown pun mendadak buta demi ngebela cewek biasa kayak dia!" teriak Bima murka, menatap Emma dengan sorot kebencian mendalam. "Puas lo, Emma? Puas udah hancurin nama besar kami?!" Kai yang sedari tadi menyandarkan tubuhnya di dekat pintu akhirnya melangkah maju, memotong ketegangan yang makin memuncak. "Bima, Bima ..." celetuk Kai dengan nada tenang, tapi sarat intimidasi. "Lo ngomong panjang lebar kayak gitu, lo tahu nggak siapa cewek yang dari tadi lo tunjuk-tunjuk pakai mulut sampah lo
Mobil Kai membelah jalanan malam yang mulai sepi. Di kursi depan, Kai fokus menyetir seraya sesekali melirik Arsen dari kaca spion tengah dengan tatapan curiga. Sementara Arsen yang duduk di belakang Emma justru cengengesan puas. Jejak cinta kemerahan di leher Emma akibat sapuan ciuman mereka di taman tadi masih tersembunyi rapi di balik rambut panjangnya yang digerai. TRING! TRING! TRING! Tiga nada dering pesan masuk berbunyi serentak di dalam mobil. Ponsel Kai yang terpasang di dashboard, ponsel Arsen di genggamannya, serta ponsel Emma di dalam tas kecilnya bergetar bersamaan. Kai mengernyitkan dahi seraya menepi pelan di lampu merah. Dia melirik layar ponselnya lebih dulu. Arsen pun langsung menunduk menatap layarnya, sementara Emma merogoh tasnya dengan heran. Pesan dari nomor Bima masuk ke layar mereka masing-masing. Bima: Bro, gue perlu ngomong sesuatu yang penting. Datang ke Restoran Merah besok am lima sore setelah pulang kampus. Gue tunggu kalian di sini. Tak berhenti
Arsen tersentak, mengerjapkan matanya berkali-kali seolah baru saja terbangun dari mimpi indah. 'Kita nggak boleh lebih dari ini, Arsen."Arsen mengangguk cepat saat melihat Emma yang ngos-ngosan dengan bibir makin bengkak dan leher berbekal jejak manis buatannya.Arsen menyapu rambutnya ke belakang dengan raut wajah kebingungan dan serba salah. Pria itu berdehem canggung, mencoba menetralkan napasnya yang ikut memburu. "S-sorry, Emma. Astaga, maafin gue," jelas Arsen parau, meraba tenggorokannya yang mendadak terasa kering. "Kamu tuh ya ..." "Iya, Emma. Entah kenapa, gue beneran nggak bisa kontrol diri pas nyium lo. Abisnya bibir lo manis banget, terus leher lo ... duh, bikin tatanan iman gue runtuh seketika." "Nakal banget sih! Lagian, emang kamu punya iman selama ini?" omel Emma mengusap lehernya yang masih sangat sensitif. Matanya yang berbinar indah, membuatnya terlihat makin menggemaskan di mata Arsen. "Ya nggak sih." Arsen tertawa renyah, melangkah mendekat satu langk
Emma tertegun. Lidahnya seketika kelu. Biasanya dia selalu menganggap kalimat godaan Arsen cuma angin lalu, tapi malam ini, tatapan mata pria itu begitu tajam, dalam, dan dipenuhi sinar ketulusan tanpa topeng."Kamu salah makan apa, Arsen?" canda Emma mencoba mengusir gejolak aneh dalam dadanya.Arsen meraih kedua tangan Emma, menggenggamnya erat lalu mengusap punggung tangan gadis itu dengan jemarinya yang hangat dan sedikit gemetar. "Please, jawab aku, Emma ..." bisik Arsen parau, membuat Emma menarik napas panjang."Atau setidaknya kita mencoba dulu. Gue tahu lo ragu gara-gara jejak playboy gue, tapi kasih gue kesempatan buat ngebuktiin semuanya ke lo kalau gue serius." Emma menatap Arsen lurus-lurus, mencari kepalsuan di balik mata pria itu. Namun, yang dia temukan hanyalah kejujuran dan ketakutan akan penolakan.Rasa ragu yang selama ini membentengi hati Emma perlahan runtuh. Toh selama ini, Arsen selalu ada untuknya.Akhirnya Emma mengangguk pelan, bibirnya mengukir senyum tip
"Pak Kumis, totalnya berapa semuanya?" tanya Kai seraya merogoh dompet tebal dari saku celananya, pasrah menghadapi kekalahannya dalam taruhan sambal malam itu. Pak Kumis menghitung cepat sambil tersenyum lebar. "Tiga porsi bakso urat super pedas, tiga teh botol, sama kerupuk lima, totalnya jadi seratus dua puluh ribu aja, Mas." Kai menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan dengan raut wajah yang merengut konyol. "Kembaliannya ambil aja, Pak, hitung-hitung tip buat kuah baksonya yang sukses bikin lambung gue bergejolak." Arsen yang berdiri di sebelah Kai tertawa lepas sambil menepuk-nepuk perutnya yang kenyang. "Makasih ya, Kai. Makan malam gratis dari kekalahan tragis lo emang terasa sepuluh kali lebih nikmat." "Diem lo, Sen! Awas aja ntar di mobil gue, lo ngeluh mules," sungut Kai, berjalan memimpin ke luar warung bakso menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan. Setelah keluar dari warung dan melangkah menuju area parkir, Arsen tiba-tiba mempercepat langkahnya. Dia meran
Lapangan parkir belakang kampus mulai terasa sepi. Hanya tersisa beberapa kendaraan yang berkilau tertimpa cahaya matahari senja. Aspal menguarkan hawa hangat sisa panas sejak siang.Setengah berlari Emma menuju ke tempat ia memarkirkan sepedanya. Ia harus bergegas pulang, mungkin ia masih sempat m
Udara pagi masih segar ketika Emma mengayuh sepedanya pelan menyusuri jalan menuju kampus. Tas ransel tergantung di punggungnya, bergerak naik turun mengikuti irama kayuhan kakinya. Rambutnya yang terikat sederhana ikut bergoyang tertiup angin pagi. Gerbang kampus menjulang tinggi di depannya, sam
Malam ini, Emma tidak bisa tidur. Pikirannya tidak bisa tenang sedikit pun. Ayahnya sudah berkali-kali berkata padanya. Tidak masalah dia tidak bisa masuk universitas itu. Jalan masih panjang. Emma masih bisa mengejar mimpi yang lain.Emma juga merasa lega karena ayahnya tidak kecewa. Tapi bukan
Emma bisa merasakan tekanan dari tatapan pria itu. Sepertinya dia sedang mengukurnya.Tapi Emma tidak takut. Dia membalas tatapan Raka.Toh, dia juga bukan bagian dari kampus ini. Dan tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk menjadi bagiannya. Dia tidak bisa berdiam diri melihat kelakuan mereka.







