Masuk
Emma Salsabila berdiri di depan gerbang Universitas Adiwangsa Utama. Tidak bisa dipungkiri, perasaannya agak gugup. Mungkin karena ini baru pertama kalinya dia datang ke tempat semegah ini.
Gedung mewah yang menjulang tinggi di depannya itu adalah kawasan kampus para kaum elit. Hampir tidak akses bagi orang luar kalau tidak memiliki agenda atau keperluan khusus. Saat dia berdiri di sini saja, dia sudah merasa jika dunia mereka memang sangat berbeda. Dia berasal dari golongan orang-orang yang harus berjuang untuk bertahan, sedangkan mereka yang berada di dalam sana adalah orang-orang yang telah hidup berkecukupan sejak lahir. Emma datang ke kampus ini bukan tanpa alasan. Satu bulan lalu, dia sempat menerima kabar bahwa dia dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa di Universitas Adiwangsa Utama. Bukan hal gampang untuk bisa diterima di Universitas ini. Emma harus memenuhi standar dan kriteria yang berlaku. Namun, belum sempat dia benar-benar merasakan kebahagiaan itu, sebuah pemberitahuan lain datang secara tiba-tiba: beasiswanya dicabut tanpa penjelasan yang jelas. Karena itulah hari ini Emma datang, berharap mendapatkan jawaban langsung dari pihak kampus. Dia teringat perkataan temannya sebelum mereka lulus kampus Menengah Atas. ‘Tidak sembarangan orang bisa masuk ke Universitas Adiwangsa Utama. Karakter institusi di sana menjadi salah satu syarat yang perlu dipertimbangkan oleh tim rektor.’ Apa memang itu alasannya kenapa beasiswanya dicabut? Kalau benar begitu, lalu kenapa universitas ini membuka jalur beasiswa? Bukankah jalur itu memang diperuntukkan bagi orang-orang seperti dirinya? Emma menatap map cokelat di tangannya, mengeratkan genggamannya sampai map itu sedikit tertekuk. Seluruh berkas yang dia miliki ada di dalam sana, nilai, sertifikat, hingga surat penerimaan beasiswa yang kini terasa seperti lelucon pahit. Selama ini dia telah berjuang sangat keras demi mendapatkan beasiswa itu. Banyak hal yang ia korbankan, termasuk waktu, tenaga, bahkan kesempatan untuk membantu ayahnya demi fokus belajar. Itulah sebabnya dia panik ketika menerima kabar pencabutan tersebut. Bukan hanya karena mimpinya yang tiba-tiba runtuh, tetapi juga karena beasiswa tersebut adalah satu-satunya jalan baginya untuk melanjutkan pendidikan tanpa harus membebani sang ayah. Kehilangannya berarti dia harus menghadapi kenyataan bahwa mimpinya bisa terhenti di sini. Jadi hari ini dia sengaja datang untuk mendapatkan penjelasan. Emma menarik napas panjang. Perlahan, dia mulai melangkah masuk. Belum jauh berjalan, beberapa tatapan langsung tertuju padanya. Ada yang melirik sekilas, ada yang berbisik-bisik, ada juga yang terang-terangan memperhatikannya dari ujung kaki sampai ujung kepalanya. “Dia siapa?” “Kayaknya bukan anak sini.” “Apa mahasiswi baru?” “Seriusan, tampilannya begitu?” “Siapa yang kasih akses dia masuk ke sini?” Emma pura-pura tidak mendengar saja walaupun kata-kata yang ia dengar cukup membuat kupingnya panas dingin. Namun, wajahnya tetap tenang, dan semua itu tidak menghentikan langkahnya. Ayunana kakinya terhenti di depan gedung administrasi. Dinding kaca di depannya memantulkan bayangannya. Sederhana. Biasa saja. Tidak ada menonjol dari dirinya. Jauh berbeda dari orang-orang yang barusan dia lewati. Tiba-tiba, ada rasa kecil yang menusuk. Dia merasa tidak pantas berada di lingkungan elit itu. Setelah termenung beberapa saat, Emma memutuskan untuk masuk ke dalam. Udara dingin langsung menyambutnya, membuat suasana terasa kaku. Lantai mengkilap, meja resepsionis rapi, dan staf yang terlihat sempurna. Emma mendekat. “Permisi, Kak. Saya mau tanya soal beasiswa atas nama Emma Salsabila.” Wanita di balik meja menatapnya sekilas. Tatapan singkat, tapi seperti kakak resepsionis itu sedang menilainya. “Sudah ada janji?” “Belum. Tapi ini sangat penting.” “Oke. Tunggu sebentar.” Wanita itu kemudian mengetik sesuatu. “Ruang 203. Bagian evaluasi.” “Terima kasih.” Tak lama kemudian, Emma tiba di ruangan 203. Tangannya bergerak ke depan dan mengetuk pintu dengan lembut. “Masuk.” Pintu itu terasa berat seberat persoalan yang bercokol di pikirannya saat dia mendorongnya. Perlahan, Emma melangkah masuk. Seorang pria duduk di balik meja besar, berkas-berkas tertata rapi di depannya. Tatapannya langsung terarah pada Emma, ekspresinya sama seperti kakak di meja Resepsionis tadi. “Nama?” “Emma Salsabila, Pak.” “Keperluan?” Emma maju satu langkah. “Saya ingin menanyakan soal pencabutan beasiswa saya, Pak. Saya tidak menerima penjelasan yang jelas.” Pria itu membuka berkas. Semua data memang sudah ada di sana. “Keputusannya memang sudah final.” Pria itu menjawab langsung tanpa basa-basi. Emma menahan napas. “Maaf, Pak. Tapi saya lolos seleksi resmi. Nilai saya memenuhi syarat. Saya—” “Kami tidak mempertanyakan hal itu,” potong pria itu. Emma terdiam beberapa detik, “Lalu, kenapa dicabut?” Pria itu menatapnya. Lalu berkata dengan tenang, “Karena Anda tidak memenuhi standar karakter institusi.” Kata-kata itu rapi dan formal. Tapi bagi Emma, seperti tamparan di wajahnya. Dia mengernyit. “Karakter institusi? Maksudnya apa, Pak?” “Universitas ini memiliki citra tertentu. Dan kami menilai Anda tidak sesuai.” Tidak sesuai? Dua kata sederhana, tapi cukup untuk membuat Emma mengerti maksudnya. “Karena saya bukan dari keluarga kaya, ya?” Sunyi. Pria itu tidak menjawab langsung. Tapi itu sudah cukup menjadi jawaban. Emma tersenyum pahit. “Saya hanya kurang mengerti, Pak. Universitas ini, kalau sejak awal memang hanya menerima orang kaya, kenapa membuka jalur beasiswa? Bukankah itu diperuntukkan untuk orang-orang seperti saya?” “Jaga ucapan Anda,” balas pria itu dingin. “Tidak, Pak. Saya hanya kurang mengerti.” Suara Emma mulai bergetar, “apa gunanya kerja keras kalau hasilnya tetap sama? Padahal, saya benar-benar berharap.” Pria itu terdiam. Sepertinya dia sengaja tidak ingin menjelaskan lebih lanjut. Bagaimanapun juga, ini keputusan Rektor. Dia hanya bertugas menyampaikan. Tangan Emma mengepal pelan di samping. Ada rasa tidak terima. Namun, dia juga tahu, dia tidak punya posisi untuk menuntut lebih jauh. Perlahan dia menunduk. Bukan karena dia pasrah, tapi dia memang tidak bisa melakukan apa-apa di sini. Akhirnya dia berkata dengan nada kecewa, “Kalau memang begitu, baiklah, Pak. Saya tidak akan bertanya lebih lanjut. Saya permisi. Terima kasih.” Dia berbalik, lalu berjalan keluar. Pikirannya kosong. Hatinya seperti diremas. Bahkan dia hampir menangis. Apa yang harus dia katakan pada ayahnya? Ayahnya pasti akan sangat sedih dan kecewa. Semua yang dia perjuangkan selama ini, benarkah akan berakhir sia-sia? “Karakter institusi?” Kalau ukuran karakter adalah kekayaan, sejak awal, dia memang tidak pernah punya kesempatan. Untuk makan saja, Emma dan ayahnya harus berjuang mengais rejeki dari setiap kesempatan yang ada. Diterima di sini lewat jalur beasiswa adalah satu-satunya harapan Emma untuk keluar dari garis kemiskinan yang selama ini mengikatnya. Namun, masalahnya, Universitas ini telah menutup mimpinya untuk mendapat kehidupan yang lebih layak.Mendengar perkataan Ibu Renata, darah Arsen seketika mendidih. Dia melangkah maju, memotong jarak di antara dengan aura mengintimidasi yang begitu berwibawa. Hilang semua gaya tengil dan acuh tak acuhnya. “Jaga bicara Anda, Ibu Renata. Emma adalah prioritas saya malam ini. Dan jika proyek itu hancur karena saya melangkah keluar dari pintu ini, maka dipastikan keluarga Ibu yang akan menanggung kerugian pertamanya.” “Arsen, tolong ... Ayahku ...” bisik Emma bingung sambil meremas lengan baju Arsen dalam keputusasaan yang dalam. Arsen hendak menerobos orang-orang suruhan Ibu Renata itu secara paksa. Namun, Ibu Renata kembali bersuara pelan, hanya cukup didengar oleh mereka bertiga. “Dokter Setiawan di ICU adalah rekanan yayasan keluarga saya, Arsen. Satu telepon dari saya, dan operasi itu tidak akan pernah dimulai sebelum kamu duduk manis di meja perundingan atas.” Arsen mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih. Trik kotor ini benar-benar membuatnya harus
Emma dan Arsen pun kembali duduk di meja VIP yang penuh kemewahan itu. Tak lama kemudian, di sudut ruangan lain, Raka keluar dari lorong toilet dengan langkah santai. Dia merapikan jas elegannya, membetulkan kancing kemeja hitamnya, lalu berjalan tenang kembali ke meja jamuan keluarganya seolah tidak terjadi apa-apa. Dari kejauhan, mata tajam Raka langsung mengunci sosok Emma yang kini duduk tegak di hadapan Arsen. Raka menyunggingkan senyum miring yang penuh kemenangan ketika melihat Emma sibuk menarik rambut tebalnya ke depan untuk menutupi tanda kepemilikan yang baru saja dia ukir di leher gadis itu. "Gue cari lo tadi karena nggak mau makanan pesanan kita cepat dingin, nanti rasanya jadi nggak enak." Emma tersenyum lembut, hatinya semakin dipenuhi rasa bersalah. Arsen terus berusaha memperlakukan Emma dengan sangat manis dan penuh perhatian. Dia bahkan sudah memesankan hidangan penutup lain, mengajak Emma mengobrol dengan santai dan selalu mendahulukan kenyamanan Emma.. “Coba
Emma menahan napasnya yang masih tersengal-sengal, sedangkan detak jantungnya bergemuruh hebat. Dalam kepanikan yang menghimpit, jemari Emma yang gemetar mencengkeram erat kemeja Raka, menatap pria itu dengan pandangan memohon yang teramat sangat. Air matanya yang menggenang, berkilat di bawah temaram cahaya dalam ruangan itu karena rasa bersalahnya pada Arsen. “Raka ... aku mohon, lepasin aku,” bisik Emma dengan suara tercekat, hampir seperti rintihan yang mengiba. Tangannya bergerak cepat menaikkan kembali ritsleting gaun emerald green-nya, menutupi dadanya yang masih naik-turun parah karena sisa gairah. "Gue nggak takut sama Arsen," ucap Raka tegas. Tangannya siap membuka pintu dan hendak menjotos Arsen. “Jangan, Raka ... Kalau Arsen tahu kamu di sini dan liat kita kayak gini, semuanya bakal hancur! Tolong, untuk saat ini, aku butuh pengertianmu!” Raka menatap wajah pucat Emma. Rasa cemburu yang tadinya membakar akal sehatnya perlahan meredupi saat melihat ketakutan yang
Arsen menatap kepergian Emma ke toilet dengan pandangan tidak tidak rela. Jujur, semua yang dia lakukan sekarang ini bukan sandiwara lagi atau sekedar cari perhatian. Dia sudah jatuh hati pada Emma. Malam ini, sekuat tenaga dia menahan diri untuk tidak mengecup Emma. Arsen harus hati-hati. Tipe gadis seperti Emma sangat sulit ditaklukkan. Emma melangkah dengan ragu menyusuri karpet tebal restoran, menuju lorong remang di sebelah kanan yang mengarah ke area toilet VIP. Begitu dia melangkah masuk ke dalam lorong yang sepi dari riuk pikuk area makan utama, atmosfer mendadak berubah dingin dan mencekam. Lorong itu berhiaskan dinding marmer gelap dengan pencahayaan temaram. Gadis itu menghentikan langkahnya di depan pintu toilet, jantungnya berdegup gila. “Raka ...?” bisiknya pelan ke arah kegelapan lorong. Tanpa sempat menyadari apa yang terjadi, sebuah tangan berurat yang sangat kuat tiba-tiba menyambar pinggang Emma dari balik bayangan pintu darurat. Pintu tebal berlapis pereda
"Hmm, nggak tahu nih, tenggorokanku tiba-tiba kering banget," elak Emma. Bukannya marah, Arsen justru memasang raut wajah yang mendadak muram. Dia bersedekap dada, menyandarkan punggungnya pada kursi mewah restoran dengan bibir yang sedikit ditarik ke bawah, sebuah gestur berpura-pura ngambek yang dikemas dengan sangat tampan dan mempesona. “Lo sama sekali nggak fokus sama gue dari tadi, Emma,” bisik Arsen dengan nada bicara yang dibuat agak lesu dan kecewa. “Padahal gue udah usahain semuanya buat malam ini. Lo lebih milih liat ponsel daripada natap cowok yang udah ada di depan lo.” Emma tersentak, rasa bersalah seketika melingkupi dadanya. Dia sadar, Arsen baru saja menyelamatkan nyawa ayahnya beberapa jam lalu. Mengabaikan Arsen demi teror pesan Raka adalah tindakan yang sangat tidak tahu diri. “Maaf, Arsen ... bukan gitu maksudku,” ujar Emma panik, buru-buru meletakkan ponselnya di dalam tasnya.. Dia menjangkau jemari Arsen di atas meja, mengusapnya perlahan dengan raut memoho
Di sana, di sebuah meja panjang berukir mewah, berkumpul beberapa orang tua berpenampilan sangat elit dan berwibawa, ada Raka. Cowok itu tampaknya sedang menghadiri acara makan malam formal atau pertemuan bisnis penting bersama keluarganya. Kedua orang tuanya juga ada di sana. Hanya Lilis yang tak terlihat. Raka tidak lagi mengenakan jaket kulit hitam jalanannya yang biasa, melainkan kemeja formal hitam yang dipadukan dengan setelan jas desainer yang sangat elegan, membuat auranya terlihat berkali-kali lipat lebih mengintimidasi. Namun, yang membuat darah Emma mendadak membeku hingga ke ujung jari adalah tatapan mata Raka. Cowok itu tidak sedang mendengarkan obrolan di mejanya. Dia sedang menatap Emma dengan sangat tajam dari kejauhan. Rahang Raka mengeras seperti sedang menggeretakkan giginya sendiri, dan sepasang mata tajamnya menyala oleh kombinasi antara amarah yang meledak, rasa dikhianati, dan cemburu yang luar biasa hebat. Raka menatap bagaimana gaun emerald green seksi i
Keputusan itu tak menunggu lama untuk diberitahukan kepada Emma.Kini, ia kembali duduk di tempat yang sama, dengan punggung tegak menegang. Kedua tangannya menggenggam erat, menguatkan dirinya sendiri untuk mendengar hal yang paling buruk sekalipun.Di hadapannya, dosen dan para staf berjejer deng
Ruang Kemahasiswaan terasa lebih dingin dari biasanya. Emma duduk di salah satu kursi, punggungnya tegak, tangannya saling menggenggam di pangkuan. Di depannya, meja panjang membentang, memisahkan dirinya dengan Naomi, Olivia, Alicia dan mahasiswa-mahasiswi yang ikut dalam perang saling melempar m
Beberapa orang langsung bergerak mendekati Emma. Kursi bergeser kasar, suara langkah tergesa mengelilingi Emma. Suasana yang tadinya cuma panas berubah jadi seperti menunggu ledakan besar. Mereka tidak akan melepaskannya begitu saja. Namun, yang terjadi sebaliknya, Emma bukannya mundur. Ia tidak l
Mata kuliah pertama hari ini adalah Hermeneutika - seni mengulik makna di balik sesuatu. Bukan sekedar baca teks. Emma cukup antusias, mengingat dosen yang membawa materi ini terkenal sangat kritis dan juga suka memancing para mahasiswa untuk menggali lebih jauh nilai-nilai yang terkandung dalam se







