Share

Bab 2

Author: Any Anthika
last update publish date: 2026-04-23 18:25:24

Emma berjalan menuju gerbang dengan langkah berat, tapi dia ingin secepatnya pergi dari tempat mewah ini.

Tiba-tiba, suara deru mesin mobil memecah udara. Emma refleks menoleh.

Beberapa mobil mewah meluncur masuk ke halaman kampus dengan kecepatan tinggi, seolah tempat itu adalah milik pribadi mereka.

Anehnya, tidak ada yang protes. Mahasiswa yang tadi berlalu-lalang justru menepi. Bahkan ada yang mundur tanpa sadar, dengan wajah tegang.

“Wow, mereka datang!”

“The Crown.”

“Kita harus tampil sempurna di hadapan mereka agar diperhatikan.”

Para mahasiswa berbisik. Emma mengernyit. Belum sempat dia menebak, mobil paling depan berhenti mendadak. Pintu pun terbuka pelan secara otomatis.

Seorang pria tampan turun dengan langkah santai.

Tidak terburu-buru. Tidak menunjukkan apa pun. Namun, satu langkahnya saja, bisa langsung membuat suasana berubah menjadi dingin dan menekan. Seolah-olah semua perhatian memang harus tertuju padanya.

Emma mengerutkan alisnya. Pandangannya beralih dari pria itu ke para mahasiswa-mahasiswi yang berdiri dalam beberapa grup.

Dari cara mereka memandang, sudah bisa ditebak, pria itu jelas bukan orang sembarangan. Mereka semua terhipnotis dengan keberadaannya.

Emma kembali menoleh ke arah pria itu. Di belakangnya, tiga pria lain ikut turun. Semua berwajah tampan dengan penampilan yang tak kalah keren.

Satu pria dengan senyum santai yang terlalu percaya diri. Pria yang kedua berjalan tegap dengan tubuh atletis dan sorot tajam. Dan yang terakhir, terlihat pendiam, tapi aura yang dipancarkannya sangat kuat. Cerdas dan penuh perhitungan.

Beberapa dari mereka hanya menunduk, tidak berani mengangkat pandangan atau mungkin tidak mau mengangkat wajah karena sudah terbiasa mendapat sambutan dan perhatian yang berlebihan. Ada yang pura-pura tidak melihat saja dan meneruskan langkah untuk cari aman.

Para gadis berteriak histeris, terbius oleh ketampanan mereka.

“Wow, cakep banget mereka.”

“Ya ampun, aku mau jadi pacar Raka!”

“Gila Lo ya. Cari mati? Dia itu milik gua!”

Gadis sebelahnya langsung memukul kepala temannya itu.

“Eh.” Gadis yang dipukul kepalanya langsung menutup mulutnya dengan gugup.

Tanpa sadar, Emma memperhatikan mereka. Entah kenapa, meskipun keempat pria itu benar-benar tampan dan keren, tapi dia kurang suka.

Cara semua orang bereaksi. Takut dan penuh kekaguman seperti menatap dewa, membuat Emma tidak nyaman. Dia semakin ingin cepat angkat kaki dari tempat itu.

Tiba-tiba,

BRUK!

Seorang mahasiswa yang berjalan gugup, tersandung dan menabrak bahu Raka dengan cukup keras. Semua orang langsung terdiam. Mahasiswa itu membeku di tempat, wajahnya langsung pucat.

“Ma-maaf, aku nggak sengaja.” Suaranya gemetar. Keringat dingin tampak membasahi dahinya.

Sunyi.

Tidak ada yang bicara. Raka tidak bereaksi. Dia hanya menatap dingin. Arsen menghela napas pelan, lalu tertawa kecil.

“Wah, pagi-pagi udah ada yang cari masalah, ya?”

Nada bicaranya santai. Bima di sampingnya mendecih.

“Lo kalau jalan pakai mata dong.”

Mahasiswa itu buru-buru mengangguk patuh. “I-iya. Aku minta maaf. Aku beneran nggak sengaja, Kak. Sumpah.”

Kai berdiri diam tanpa komentar, dia hanya mengamati sekaligus menilai gerak-gerak dari orang di depannya.

Raka masih tidak bereaksi. Pandangan matanya tidak bisa dibaca oleh siapa pun.

Arsen justru yang maju satu langkah.

Mahasiswa itu refleks mundur, dia hampir kehilangan keseimbangan.

“Maaf, aku minta maaf …,” ulangnya panik. Jari-jemarinya meremas tali tas yang tersampir di punggungnya.

Bima tiba-tiba menarik kerah pria itu dengan kasar.

“Segitu doang? Lo kira minta maaf udah cukup?”

BUG!

Satu pukulannya mendarat di wajah pria itu. Tubuhnya langsung jatuh, dan cairan merah kental menghiasi sudut bibirnya yang pecah.

Kerumunan tetap diam, tidak ada yang bergerak untuk menolong mahasiswa malang itu.

Emma menegang.

Universitas macam apa ini?

Tadi bapak itu bilang soal “karakter institusi”.

Tapi apa yang dia lihat sekarang?

Orang dipukul di depan umum. Dan semua orang hanya diam?

Pandangannya berpindah dari satu wajah ke wajah lain.

Padahal mereka semua melihat.

Seharusnya mereka tahu kalau itu salah, tapi tidak ada yang bergerak untuk membantu.

BUG!

Tiba-tiba Bima menendang kaki pria yang sudah jatuh di tanah.

Emma terbelalak. Apa memang begitu karakter orang kaya?

Detik berikutnya, bayangan-bayangan menyakitkan di masa lalu melintas dipikirannya.

Ayahnya dipukuli orang kaya hanya karena tanpa sengaja gerobak sayur ayahnya menyenggol spion mobilnya.

Gerobak sayur ayahnya hancur, wajah ayahnya memar, dan masih dituntut ganti rugi.

Saat itu Emma masih kecil, dia hanya bisa menangis.

Di depannya, Bima mengulurkan tangan. Mencengkram kerah pria yang di tanah.

Tangan Emma terkepal.

“Lepaskan dia.” Suaranya tidak terlalu keras.

Tapi bisa mengejutkan semua orang. Pria di tanah juga terkejut. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran.

Mereka langsung menoleh ke arahnya.

“Aduh, siapa itu?”

“Berani ikut campur urusan The Crown.”

“Anak baru kayaknya.”

“Ya ampun, malang banget nasibnya.”

Raka mengangkat alisnya.

Selama ini, apa pun yang mereka lakukan, tidak ada yang berani menghentikan mereka. Bahkan dosen pembimbing sekalipun.

Dia menoleh ke arah Emma.

Seorang gadis?

Dilihat dari penampilan, gadis itu sangat sederhana.

Pasti identitasnya juga tidak jauh dari penampilannya.

Bima juga langsung menoleh, melepaskan cengkramannya dan berdiri tegak. “Lo siapa, berani nyela?”

Emma melangkah maju.

Satu langkah, lalu selangkah lagi.

“Bukan siapa-siapa. Aku hanya orang yang masih punya akal sehat,” jawabnya.

Beberapa mahasiswa langsung menahan napas.

“Dia tidak sengaja,” lanjut Emma. “Dia juga sudah minta maaf. Kenapa masih dipukul?”

Arsen tertawa mengejek. “Wah! Keren, nih.”

Bima mencibir, “Lo tahu lagi ngomong sama siapa?”

Emma menatap mereka satu per satu. “Enggak. Aku juga nggak peduli.”

Suasana langsung menegang.

Kai mengangkat pandangan. Dia menatap Emma lebih lama.

Arsen sedikit mendekat.

“Lo anak baru, ya.” katanya, kesal.

“Sini gue bilangin. Di sini, ada aturan. Dan yang nentuin aturan itu, kita.”

Emma mendengkus pelan. “Aturannya seperti ini? Kalian mahasiswa apa preman?”

Bima mendecih. Cewek ini berani ceramah?

“Lo ngajarin kita?”

Emma tidak mundur. “Aku hanya bilang yang benar.”

Suasana tiba-tiba menjadi sunyi.

Semua mata kini tertuju pada satu orang, yaitu Raka.

Dia masih diam, tapi perlahan, dia menatap Emma. Kedua matanya menggelap.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 6

    Lapangan parkir belakang kampus mulai terasa sepi. Hanya tersisa beberapa kendaraan yang berkilau tertimpa cahaya matahari senja. Aspal menguarkan hawa hangat sisa panas sejak siang.Setengah berlari Emma menuju ke tempat ia memarkirkan sepedanya. Ia harus bergegas pulang, mungkin ia masih sempat membantu Ayah sebelum hari berakhir.Tanpa ia sadari, dari kejauhan, di balkon lantai dua gedung fakultas, empat sosok berdiri santai. The Crown.Raka bersandar di pagar besi dengan ekspresi datar. Kai tegak di sampingnya, diam seperti bayangan. Sementara Arsen duduk di railing dengan kaki menjuntai, sama sekali tak peduli risiko terjatuh. Dan Bima berdiri paling depan sambil menyeringai.“Mulai.” Gumaman disertai kilat berbahaya di mata Bima terpancar.Di parkiran, tiga mahasiswa langsung bergerak mendekati Emma dari arah belakang.Emma terbelalak. Langkahnya melambat lalu berhenti di depan sepeda kesayangannya yang kini tak berbentuk lagi.Ban depan kempes total. Stangnya bengkok, sementara

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 5

    Udara pagi masih segar ketika Emma mengayuh sepedanya pelan menyusuri jalan menuju kampus. Tas ransel tergantung di punggungnya, bergerak naik turun mengikuti irama kayuhan kakinya. Rambutnya yang terikat sederhana ikut bergoyang tertiup angin pagi. Gerbang kampus menjulang tinggi di depannya, sama seperti kemarin, tapi kali ini berbeda. Kemarin dia berdiri sebagai orang luar. Hari ini dia melangkah masuk sebagai bagian dari tempat itu.Tak butuh waktu lama, Emma sudah berada di area parkir.Ia memperlambat kayuhannya, lalu berhenti di antara deretan kendaraan yang jelas tidak selevel dengan sepedanya. Mobil-mobil mahal berjejer rapi. Motor-motor keluaran terbaru berkilau terkena sinar matahari pagi.Sepedanya terlihat asing di tengah semua itu.Emma turun, menuntun sepedanya sebentar, lalu memarkirkannya di sudut yang tidak terlalu mencolok. Tangannya bergerak cekatan memasang kunci, memastikan semuanya aman.Namun, saat ia berdiri tegak—dia langsung merasakan tatapan aneh dari oran

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 4

    Malam ini, Emma tidak bisa tidur. Pikirannya tidak bisa tenang sedikit pun. Ayahnya sudah berkali-kali berkata padanya. Tidak masalah dia tidak bisa masuk universitas itu. Jalan masih panjang. Emma masih bisa mengejar mimpi yang lain.Emma juga merasa lega karena ayahnya tidak kecewa. Tapi bukan itu, dia memikirkan perkataan pria tadi. Mengapa pria itu justru malah marah dan menyalahkannya?Emma bolak-balik di atas kasur.Menjelang pagi, Emma segera bersiap untuk menyusul ayahnya ke pasar.Saat dia tiba di jembatan yang biasa ia lalui, di tengah jembatan, dia melihat ada mobil berhenti. Lalu pintu belakang terbuka. Seorang pria didorong keluar dengan sengaja. Pria itu jatuh tersungkur.Pria itu? Mahasiswa yang kemarin?Emma terkejut. Saat mobil itu melintas di sampingnya, matanya melebar.The Crown?Emma kembali pada pria yang tersungkur di tanah. Kondisinya terlihat kacau.Bagian rambutnya terlihat botak-botak. Bajunya robek. Wajahnya bengkak.Emma membeku. Pikirannya teringat

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 3

    Emma bisa merasakan tekanan dari tatapan pria itu. Sepertinya dia sedang mengukurnya.Tapi Emma tidak takut. Dia membalas tatapan Raka.Toh, dia juga bukan bagian dari kampus ini. Dan tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk menjadi bagiannya. Dia tidak bisa berdiam diri melihat kelakuan mereka.Kalau memang harus membuat keributan, tidak masalah. Tapi tatapan Raka hanya sebentar, dia beralih ke arah Arsen.Seorang Raka, tidak perlu mengurus hal kecil seperti ini.Mendapat tatapan dari Raka, Arsen mendekati Emma. “Baru datang, ya?” Suaranya rendah.Emma tidak menjawab.“Belum tahu tempatnya,” lanjut Arsen, sambil mencondongkan tubuhnya ke samping Emma.Emma mengangkat dagu. “Kalau tempatnya seperti ini, memang nggak ada yang perlu dimengerti.”Arsen langsung tertawa. “Gila, gue suka lo.”Bima menggeleng. “Keren, keren.”Raka melirik sekilas, wajahnya kembali datar tanpa ekspresi. “Suruh dia pergi.” Raka berkata sambil menoleh pada Arsen.“He, lu denger nggak? Ketua kami nyuruh lu

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 2

    Emma berjalan menuju gerbang dengan langkah berat, tapi dia ingin secepatnya pergi dari tempat mewah ini.Tiba-tiba, suara deru mesin mobil memecah udara. Emma refleks menoleh.Beberapa mobil mewah meluncur masuk ke halaman kampus dengan kecepatan tinggi, seolah tempat itu adalah milik pribadi mereka.Anehnya, tidak ada yang protes. Mahasiswa yang tadi berlalu-lalang justru menepi. Bahkan ada yang mundur tanpa sadar, dengan wajah tegang.“Wow, mereka datang!”“The Crown.”“Kita harus tampil sempurna di hadapan mereka agar diperhatikan.”Para mahasiswa berbisik. Emma mengernyit. Belum sempat dia menebak, mobil paling depan berhenti mendadak. Pintu pun terbuka pelan secara otomatis.Seorang pria tampan turun dengan langkah santai.Tidak terburu-buru. Tidak menunjukkan apa pun. Namun, satu langkahnya saja, bisa langsung membuat suasana berubah menjadi dingin dan menekan. Seolah-olah semua perhatian memang harus tertuju padanya.Emma mengerutkan alisnya. Pandangannya beralih dari pria it

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 1

    Emma Salsabila berdiri di depan gerbang Universitas Adiwangsa Utama. Tidak bisa dipungkiri, perasaannya agak gugup. Mungkin karena ini baru pertama kalinya dia datang ke tempat semegah ini. Gedung mewah yang menjulang tinggi di depannya itu adalah kawasan kampus para kaum elit. Hampir tidak akses bagi orang luar kalau tidak memiliki agenda atau keperluan khusus. Saat dia berdiri di sini saja, dia sudah merasa jika dunia mereka memang sangat berbeda. Dia berasal dari golongan orang-orang yang harus berjuang untuk bertahan, sedangkan mereka yang berada di dalam sana adalah orang-orang yang telah hidup berkecukupan sejak lahir. Emma datang ke kampus ini bukan tanpa alasan. Satu bulan lalu, dia sempat menerima kabar bahwa dia dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa di Universitas Adiwangsa Utama. Bukan hal gampang untuk bisa diterima di Universitas ini. Emma harus memenuhi standar dan kriteria yang berlaku. Namun, belum sempat dia benar-benar merasakan kebahagiaan itu, sebuah pembe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status