MasukEmma berjalan menuju gerbang dengan langkah berat, tapi dia ingin secepatnya pergi dari tempat mewah ini.
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil memecah udara. Emma refleks menoleh. Beberapa mobil mewah meluncur masuk ke halaman kampus dengan kecepatan tinggi, seolah tempat itu adalah milik pribadi mereka. Anehnya, tidak ada yang protes. Mahasiswa yang tadi berlalu-lalang justru menepi. Bahkan ada yang mundur tanpa sadar, dengan wajah tegang. “Wow, mereka datang!” “The Crown.” “Kita harus tampil sempurna di hadapan mereka agar diperhatikan.” Para mahasiswa berbisik. Emma mengernyit. Belum sempat dia menebak, mobil paling depan berhenti mendadak. Pintu pun terbuka pelan secara otomatis. Seorang pria tampan turun dengan langkah santai. Tidak terburu-buru. Tidak menunjukkan apa pun. Namun, satu langkahnya saja, bisa langsung membuat suasana berubah menjadi dingin dan menekan. Seolah-olah semua perhatian memang harus tertuju padanya. Emma mengerutkan alisnya. Pandangannya beralih dari pria itu ke para mahasiswa-mahasiswi yang berdiri dalam beberapa grup. Dari cara mereka memandang, sudah bisa ditebak, pria itu jelas bukan orang sembarangan. Mereka semua terhipnotis dengan keberadaannya. Emma kembali menoleh ke arah pria itu. Di belakangnya, tiga pria lain ikut turun. Semua berwajah tampan dengan penampilan yang tak kalah keren. Satu pria dengan senyum santai yang terlalu percaya diri. Pria yang kedua berjalan tegap dengan tubuh atletis dan sorot tajam. Dan yang terakhir, terlihat pendiam, tapi aura yang dipancarkannya sangat kuat. Cerdas dan penuh perhitungan. Beberapa dari mereka hanya menunduk, tidak berani mengangkat pandangan atau mungkin tidak mau mengangkat wajah karena sudah terbiasa mendapat sambutan dan perhatian yang berlebihan. Ada yang pura-pura tidak melihat saja dan meneruskan langkah untuk cari aman. Para gadis berteriak histeris, terbius oleh ketampanan mereka. “Wow, cakep banget mereka.” “Ya ampun, aku mau jadi pacar Raka!” “Gila Lo ya. Cari mati? Dia itu milik gua!” Gadis sebelahnya langsung memukul kepala temannya itu. “Eh.” Gadis yang dipukul kepalanya langsung menutup mulutnya dengan gugup. Tanpa sadar, Emma memperhatikan mereka. Entah kenapa, meskipun keempat pria itu benar-benar tampan dan keren, tapi dia kurang suka. Cara semua orang bereaksi. Takut dan penuh kekaguman seperti menatap dewa, membuat Emma tidak nyaman. Dia semakin ingin cepat angkat kaki dari tempat itu. Tiba-tiba, BRUK! Seorang mahasiswa yang berjalan gugup, tersandung dan menabrak bahu Raka dengan cukup keras. Semua orang langsung terdiam. Mahasiswa itu membeku di tempat, wajahnya langsung pucat. “Ma-maaf, aku nggak sengaja.” Suaranya gemetar. Keringat dingin tampak membasahi dahinya. Sunyi. Tidak ada yang bicara. Raka tidak bereaksi. Dia hanya menatap dingin. Arsen menghela napas pelan, lalu tertawa kecil. “Wah, pagi-pagi udah ada yang cari masalah, ya?” Nada bicaranya santai. Bima di sampingnya mendecih. “Lo kalau jalan pakai mata dong.” Mahasiswa itu buru-buru mengangguk patuh. “I-iya. Aku minta maaf. Aku beneran nggak sengaja, Kak. Sumpah.” Kai berdiri diam tanpa komentar, dia hanya mengamati sekaligus menilai gerak-gerak dari orang di depannya. Raka masih tidak bereaksi. Pandangan matanya tidak bisa dibaca oleh siapa pun. Arsen justru yang maju satu langkah. Mahasiswa itu refleks mundur, dia hampir kehilangan keseimbangan. “Maaf, aku minta maaf …,” ulangnya panik. Jari-jemarinya meremas tali tas yang tersampir di punggungnya. Bima tiba-tiba menarik kerah pria itu dengan kasar. “Segitu doang? Lo kira minta maaf udah cukup?” BUG! Satu pukulannya mendarat di wajah pria itu. Tubuhnya langsung jatuh, dan cairan merah kental menghiasi sudut bibirnya yang pecah. Kerumunan tetap diam, tidak ada yang bergerak untuk menolong mahasiswa malang itu. Emma menegang. Universitas macam apa ini? Tadi bapak itu bilang soal “karakter institusi”. Tapi apa yang dia lihat sekarang? Orang dipukul di depan umum. Dan semua orang hanya diam? Pandangannya berpindah dari satu wajah ke wajah lain. Padahal mereka semua melihat. Seharusnya mereka tahu kalau itu salah, tapi tidak ada yang bergerak untuk membantu. BUG! Tiba-tiba Bima menendang kaki pria yang sudah jatuh di tanah. Emma terbelalak. Apa memang begitu karakter orang kaya? Detik berikutnya, bayangan-bayangan menyakitkan di masa lalu melintas dipikirannya. Ayahnya dipukuli orang kaya hanya karena tanpa sengaja gerobak sayur ayahnya menyenggol spion mobilnya. Gerobak sayur ayahnya hancur, wajah ayahnya memar, dan masih dituntut ganti rugi. Saat itu Emma masih kecil, dia hanya bisa menangis. Di depannya, Bima mengulurkan tangan. Mencengkram kerah pria yang di tanah. Tangan Emma terkepal. “Lepaskan dia.” Suaranya tidak terlalu keras. Tapi bisa mengejutkan semua orang. Pria di tanah juga terkejut. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran. Mereka langsung menoleh ke arahnya. “Aduh, siapa itu?” “Berani ikut campur urusan The Crown.” “Anak baru kayaknya.” “Ya ampun, malang banget nasibnya.” Raka mengangkat alisnya. Selama ini, apa pun yang mereka lakukan, tidak ada yang berani menghentikan mereka. Bahkan dosen pembimbing sekalipun. Dia menoleh ke arah Emma. Seorang gadis? Dilihat dari penampilan, gadis itu sangat sederhana. Pasti identitasnya juga tidak jauh dari penampilannya. Bima juga langsung menoleh, melepaskan cengkramannya dan berdiri tegak. “Lo siapa, berani nyela?” Emma melangkah maju. Satu langkah, lalu selangkah lagi. “Bukan siapa-siapa. Aku hanya orang yang masih punya akal sehat,” jawabnya. Beberapa mahasiswa langsung menahan napas. “Dia tidak sengaja,” lanjut Emma. “Dia juga sudah minta maaf. Kenapa masih dipukul?” Arsen tertawa mengejek. “Wah! Keren, nih.” Bima mencibir, “Lo tahu lagi ngomong sama siapa?” Emma menatap mereka satu per satu. “Enggak. Aku juga nggak peduli.” Suasana langsung menegang. Kai mengangkat pandangan. Dia menatap Emma lebih lama. Arsen sedikit mendekat. “Lo anak baru, ya.” katanya, kesal. “Sini gue bilangin. Di sini, ada aturan. Dan yang nentuin aturan itu, kita.” Emma mendengkus pelan. “Aturannya seperti ini? Kalian mahasiswa apa preman?” Bima mendecih. Cewek ini berani ceramah? “Lo ngajarin kita?” Emma tidak mundur. “Aku hanya bilang yang benar.” Suasana tiba-tiba menjadi sunyi. Semua mata kini tertuju pada satu orang, yaitu Raka. Dia masih diam, tapi perlahan, dia menatap Emma. Kedua matanya menggelap."Kai ..." bisik Emma tertahan, memegang lengan kakaknya yang gemetar menahan murka. Kai, pria yang selama ini terkenal paling tak banyak omong, kalau pun becanda, terasa garing sekali, dan hampir tak pernah mengandalkan otot, kini berdiri tegak di tempat Bima tadi berdiri. Tangannya yang terkepal rapat masih melayang di udara, dengan urat-urat leher yang menonjol tegang dan pandangan mata yang siap menghancurkan siapa saja. Arsen segera berdiri di tengah mereka. Dia siap turun tangan kalau Bima masih keras kepala. "Bangsat lo," maki Bima yang berdiri terhuyung-huyung mencoba duduk. Pria itu memegangi rahangnya yang terasa remuk. Dia menatap Kai dengan tatapan tak percaya, rasa panas membakar pipinya. Kai maju satu langkah, menunduk menatap Bima bagaikan melihat seekor serangga. "Sensasi bogem mentah dari 'kakak kandungnya' berasa nyata nggak, Bim? Atau lo masih mikir ini prank?" Suara Kai begitu dingin, tanpa ada sedikit pun nada bergurau yang biasanya melekat pada dirinya.
"Diem lo, Arsen!" bentak Bima tak sabar. Tawanya pecah, terdengar parau sekaligus sinis. "Lo yang diam," balas Arsen tak mau kalah. "Sebelum cewek ini masuk ke kampus kita, kita berempat solid! Tapi sekarang? Raka berantem sama lo, dan lo berdua malah nempel-nempel sama dia seolah dia ratu di sini!" "Jaga omongan lo, Bima!" Raka menggebrak meja hingga gelas-gelas kaca berdenting keras. "Di sini yang bermasalah itu lo! Datang-datang langsung mengkambinghitamkan Emma!" "Lihat! Bahkan ketua The Crown pun mendadak buta demi ngebela cewek biasa kayak dia!" teriak Bima murka, menatap Emma dengan sorot kebencian mendalam. "Puas lo, Emma? Puas udah hancurin nama besar kami?!" Kai yang sedari tadi menyandarkan tubuhnya di dekat pintu akhirnya melangkah maju, memotong ketegangan yang makin memuncak. "Bima, Bima ..." celetuk Kai dengan nada tenang, tapi sarat intimidasi. "Lo ngomong panjang lebar kayak gitu, lo tahu nggak siapa cewek yang dari tadi lo tunjuk-tunjuk pakai mulut sampah lo
Mobil Kai membelah jalanan malam yang mulai sepi. Di kursi depan, Kai fokus menyetir seraya sesekali melirik Arsen dari kaca spion tengah dengan tatapan curiga. Sementara Arsen yang duduk di belakang Emma justru cengengesan puas. Jejak cinta kemerahan di leher Emma akibat sapuan ciuman mereka di taman tadi masih tersembunyi rapi di balik rambut panjangnya yang digerai. TRING! TRING! TRING! Tiga nada dering pesan masuk berbunyi serentak di dalam mobil. Ponsel Kai yang terpasang di dashboard, ponsel Arsen di genggamannya, serta ponsel Emma di dalam tas kecilnya bergetar bersamaan. Kai mengernyitkan dahi seraya menepi pelan di lampu merah. Dia melirik layar ponselnya lebih dulu. Arsen pun langsung menunduk menatap layarnya, sementara Emma merogoh tasnya dengan heran. Pesan dari nomor Bima masuk ke layar mereka masing-masing. Bima: Bro, gue perlu ngomong sesuatu yang penting. Datang ke Restoran Merah besok am lima sore setelah pulang kampus. Gue tunggu kalian di sini. Tak berhenti
Arsen tersentak, mengerjapkan matanya berkali-kali seolah baru saja terbangun dari mimpi indah. 'Kita nggak boleh lebih dari ini, Arsen."Arsen mengangguk cepat saat melihat Emma yang ngos-ngosan dengan bibir makin bengkak dan leher berbekal jejak manis buatannya.Arsen menyapu rambutnya ke belakang dengan raut wajah kebingungan dan serba salah. Pria itu berdehem canggung, mencoba menetralkan napasnya yang ikut memburu. "S-sorry, Emma. Astaga, maafin gue," jelas Arsen parau, meraba tenggorokannya yang mendadak terasa kering. "Kamu tuh ya ..." "Iya, Emma. Entah kenapa, gue beneran nggak bisa kontrol diri pas nyium lo. Abisnya bibir lo manis banget, terus leher lo ... duh, bikin tatanan iman gue runtuh seketika." "Nakal banget sih! Lagian, emang kamu punya iman selama ini?" omel Emma mengusap lehernya yang masih sangat sensitif. Matanya yang berbinar indah, membuatnya terlihat makin menggemaskan di mata Arsen. "Ya nggak sih." Arsen tertawa renyah, melangkah mendekat satu langk
Emma tertegun. Lidahnya seketika kelu. Biasanya dia selalu menganggap kalimat godaan Arsen cuma angin lalu, tapi malam ini, tatapan mata pria itu begitu tajam, dalam, dan dipenuhi sinar ketulusan tanpa topeng."Kamu salah makan apa, Arsen?" canda Emma mencoba mengusir gejolak aneh dalam dadanya.Arsen meraih kedua tangan Emma, menggenggamnya erat lalu mengusap punggung tangan gadis itu dengan jemarinya yang hangat dan sedikit gemetar. "Please, jawab aku, Emma ..." bisik Arsen parau, membuat Emma menarik napas panjang."Atau setidaknya kita mencoba dulu. Gue tahu lo ragu gara-gara jejak playboy gue, tapi kasih gue kesempatan buat ngebuktiin semuanya ke lo kalau gue serius." Emma menatap Arsen lurus-lurus, mencari kepalsuan di balik mata pria itu. Namun, yang dia temukan hanyalah kejujuran dan ketakutan akan penolakan.Rasa ragu yang selama ini membentengi hati Emma perlahan runtuh. Toh selama ini, Arsen selalu ada untuknya.Akhirnya Emma mengangguk pelan, bibirnya mengukir senyum tip
"Pak Kumis, totalnya berapa semuanya?" tanya Kai seraya merogoh dompet tebal dari saku celananya, pasrah menghadapi kekalahannya dalam taruhan sambal malam itu. Pak Kumis menghitung cepat sambil tersenyum lebar. "Tiga porsi bakso urat super pedas, tiga teh botol, sama kerupuk lima, totalnya jadi seratus dua puluh ribu aja, Mas." Kai menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan dengan raut wajah yang merengut konyol. "Kembaliannya ambil aja, Pak, hitung-hitung tip buat kuah baksonya yang sukses bikin lambung gue bergejolak." Arsen yang berdiri di sebelah Kai tertawa lepas sambil menepuk-nepuk perutnya yang kenyang. "Makasih ya, Kai. Makan malam gratis dari kekalahan tragis lo emang terasa sepuluh kali lebih nikmat." "Diem lo, Sen! Awas aja ntar di mobil gue, lo ngeluh mules," sungut Kai, berjalan memimpin ke luar warung bakso menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan. Setelah keluar dari warung dan melangkah menuju area parkir, Arsen tiba-tiba mempercepat langkahnya. Dia meran
Bab 7Emma yang tadinya siap marah, langsung berhenti di tempat. Ia memicingkan mata, berusaha melihat jelas wajah pemilik suara itu.Dan detik berikutnya, hidupnya terasa makin kacau. “Kai?” ucap Emma kaget sekaligus melongo. Dari semua manusia di muka bumi, kenapa harus dia?Kai. Salah satu angg
Lapangan parkir belakang kampus mulai terasa sepi. Hanya tersisa beberapa kendaraan yang berkilau tertimpa cahaya matahari senja. Aspal menguarkan hawa hangat sisa panas sejak siang.Setengah berlari Emma menuju ke tempat ia memarkirkan sepedanya. Ia harus bergegas pulang, mungkin ia masih sempat m
Udara pagi masih segar ketika Emma mengayuh sepedanya pelan menyusuri jalan menuju kampus. Tas ransel tergantung di punggungnya, bergerak naik turun mengikuti irama kayuhan kakinya. Rambutnya yang terikat sederhana ikut bergoyang tertiup angin pagi. Gerbang kampus menjulang tinggi di depannya, sam
Malam ini, Emma tidak bisa tidur. Pikirannya tidak bisa tenang sedikit pun. Ayahnya sudah berkali-kali berkata padanya. Tidak masalah dia tidak bisa masuk universitas itu. Jalan masih panjang. Emma masih bisa mengejar mimpi yang lain.Emma juga merasa lega karena ayahnya tidak kecewa. Tapi bukan







