LOGINUdara pagi masih segar ketika Emma mengayuh sepedanya pelan menyusuri jalan menuju kampus. Tas ransel tergantung di punggungnya, bergerak naik turun mengikuti irama kayuhan kakinya. Rambutnya yang terikat sederhana ikut bergoyang tertiup angin pagi.
Gerbang kampus menjulang tinggi di depannya, sama seperti kemarin, tapi kali ini berbeda. Kemarin dia berdiri sebagai orang luar. Hari ini dia melangkah masuk sebagai bagian dari tempat itu. Tak butuh waktu lama, Emma sudah berada di area parkir. Ia memperlambat kayuhannya, lalu berhenti di antara deretan kendaraan yang jelas tidak selevel dengan sepedanya. Mobil-mobil mahal berjejer rapi. Motor-motor keluaran terbaru berkilau terkena sinar matahari pagi. Sepedanya terlihat asing di tengah semua itu. Emma turun, menuntun sepedanya sebentar, lalu memarkirkannya di sudut yang tidak terlalu mencolok. Tangannya bergerak cekatan memasang kunci, memastikan semuanya aman. Namun, saat ia berdiri tegak—dia langsung merasakan tatapan aneh dari orang-orang di sekitarnya. “Itu dia, kan?” “Iya, yang kemarin—” “Yang nampar ...?” "Wah, berani juga ya." Emma menguatkan tekadnya tanpa mempedulikan bisikan-bisikan orang. Dia mempercepat langkahnya. Namun, beberapa orang mulai menoleh. Ada yang sekadar penasaran. Ada yang tampak kagum, tapi lebih banyak yang seolah sedang menonton sesuatu yang akan segera hancur. Emma mengepalkan tangan di samping tubuhnya. “Fokus aja,” gumamnya pelan. Saat ia melewati sekelompok mahasiswi, salah satu dari mereka berbisik cukup keras. “Berani banget sih. Nggak tahu diri.” Emma terdiam sejenak. Tidak untuk melawan. Dia hanya ingin memastikan kalimat apa yang akan dilontarkan orang itu selanjutnya. Sunyi. Emma kembali melanjutkan langkahnya. "Hari pertama. Kelas pertama!" Emma bersorak penuh kemenangan dalam hatinya. Langkah Emma yang semula ringan mendadak melambat saat matanya menangkap sekelompok orang di ujung koridor. The Crown. Suasana sekitar langsung meredup. Orang-orang menyingkir tanpa diminta. Emma tetap berjalan. Saat jarak mereka tinggal beberapa langkah— Arsen menyeringai. “Wah, tamu kita datang," ucapnya dengan lantang. "Nggak kapok juga, ya?” tanya Bima dengan tatapan sinis. Emma berhenti tepat di depan mereka. Tatapannya tenang. “Permisi.” "Sopan banget. Sayang, salah tempat," ujar Arsen tertawa kecil. Emma tidak bergeming. “Kalau cuma buat lewat, harusnya nggak masalah.” Bima melangkah maju sedikit. “Masalahnya lo yang lewat.” Emma mengangkat dagunya dan tersenyum tipis. “Terus? Masalahnya apa?" "Lo pikir, setelah diterima di sini, lo jadi setara?” cibir Bima. "Dari awal juga aku nggak pernah merasa di bawah kalian," jawab Emma tenang. Bima langsung tersulut. “Mulut lo—” "Apa?" Emma kembali menantang. “Udah.” Suara rendah itu memotong. Raka, yang sejak tadi diam, kini ia melangkah maju. Tatapannya jatuh ke Emma. Dingin dan menekan. Beberapa detik berlalu tanpa suara. Emma tidak menghindar. Raka memiringkan kepala sedikit, seolah menilai. Lalu dia bergeser, memberi jalan. “Lewat.” Emma melangkah tanpa ragu. Saat melewati Raka, “Jangan terlalu percaya diri,” ucapnya pelan. Emma terdiam sebentar. Dia menjawab, tanpa menoleh ke belakang. “Lebih baik daripada terlalu meremehkan.” Langkahnya tidak berhenti. Namun, di belakangnya, suasana langsung pecah dalam bisik-bisik. Beberapa orang mulai mengangkat ponsel, merekam. Sepanjang sejarah, hampir tidak pernah ada yang berani berbicara seperti itu pada The Crown. Hari ini, Emma melakukannya. Padahal secara kasta saja Emma sudah tertinggal jauh. Emma akhirnya sampai di depan kelasnya. Tangannya sedikit menegang saat mendorong pintu, tapi begitu masuk, ia langsung merasakan hal yang sama seperti di luar. Semua mata seolah beralih padanya dalam satu waktu. Beberapa detik hening. Lalu, bisik-bisik kembali muncul. “Itu dia ...." “Yang tadi di koridor." “Gila sih." Emma pura-pura tidak mendengar. Ia berjalan masuk, mencari tempat duduk kosong. Barisan depan dan tengah kosong. Namun, beberapa orang langsung mengalihkan tas mereka, seolah tidak ingin duduk di dekatnya. Emma berhenti sejenak. Lalu memilih duduk di pojok, dekat jendela. Emma duduk sendiri. Dia menarik napas, mencoba fokus. Emma mulai mengeluarkan buku dan alat tulisnya. Semuanya terlihat normal. Saat dosen masuk, suasana sedikit mereda. Perkuliahan pertama dimulai. Emma berusaha memfokuskan diri. Namun, nyatanya dia tidak benar-benar fokus. Beberapa kali ia merasa ada yang melempar sesuatu kecil ke mejanya. Kertas. Saat dibuka— “Sok berani.” “Nunggu dihancurin ya?” Emma menghela napas pelan. Kertas itu ia lipat kembali, disimpan begitu saja tanpa komentar. Di belakangnya, terdengar tawa kecil. Seolah itu hiburan. Beberapa menit kemudian, seseorang sengaja menjatuhkan pulpen ke arahnya. “Eh, maaf ya,” ucapnya, tapi nada suaranya jelas tidak tulus. Emma mengambil pulpen itu, meletakkannya di pinggir meja tanpa menoleh. Suara kecil itu rupanya cukup menarik perhatian. Dosen yang sedang menjelaskan tiba-tiba berhenti. Tatapannya menyapu ruangan, lalu berhenti tepat pada Emma. “Kamu.” Emma mengangkat kepala. “Iya, kamu yang duduk di dekat jendela,” lanjutnya, nada suaranya berubah tegas. “Kalau datang ke kelas hanya untuk membuat keributan, sebaiknya tidak usah masuk sekalian.” Sunyi. Semua mata langsung tertuju pada Emma. Beberapa orang mulai berbisik pelan. Ada yang menunduk menahan senyum, ada yang terang-terangan menatap dengan ekspresi puas. Emma mengernyit. “Saya tidak—” “Saya tidak butuh penjelasan. Sejak tadi saya perhatikan, kamu yang paling tidak fokus," potong dosen itu dingin. Kalimat itu terasa seperti tamparan. Padahal Emma sudah berusaha lebih keras dari yang lain untuk memperhatikan. Tangannya mengepal di bawah meja. Emma bisa saja membela diri. Bisa saja menunjuk siapa yang sebenarnya membuat keributan. Tapi—tatapannya menyapu sekilas ke belakang. Mereka semua diam. Bahkan terlihat rapi, seolah tidak terjadi apa-apa. Emma menarik napas pelan. “Maaf, Pak,” ucapnya akhirnya. Dosen itu menatapnya beberapa detik, lalu kembali melanjutkan materi seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, suasana sudah berubah. Tatapan-tatapan itu tidak hilang. Justru semakin terasa. Emma menunduk, membuka bukunya lagi. Tulisan di sana terasa kabur. Bukan karena dia tidak bisa membaca, tapi karena rasa malu itu terlalu nyata. Di belakangnya, terdengar lagi bisikan kecil. “Pantes aja." “Baru juga masuk." "Tidak heran, dia kan ...."Suasana makan di warung Pak Kumis berlangsung sangat seru dan penuh gelak tawa. Kai dan Arsen yang biasanya tampil necis dan dingin di lingkungan kampus, kini sibuk mengusap keringat di dahi mereka yang bercucuran deras gara-gara kuah bakso super pedas."Aduh, nikmat bange emang nih bakso aplagi kuahnyat!" seru Emma gembira, menyantap baksonya dengan lahap. Bibirnya yang semula pink alami kini berubah merona merah, basah, dan agak merekah akibat efek rasa pedas yang membakar.Arsen yang sedang mengunyah bakso mendadak menghentikan gerakannya. Pandangannya mengunci lurus pada wajah Emma, khususnya pada bibir ranum gadis itu yang berkilau terkena kuah pedas dan memerah sempurna.Pemuda itu menelan salivanya dengan susah payah. pikirannya mendadak melayang ke mana-mana. Dadanya berdesir hebat, membayangkan betapa hangat dan nikmatnya jika dia bisa melumat bibir merona itu sekarang juga, menyesap rasa pedas dan manis yang menyatu di sana."Arsen? Kok malah melamun?" tegur Emma sambil m
Mobil pun melaju meninggalkan area parkir kampus yang makin sepi. Di dalam mobil, hening sejenak sebelum Emma yang duduk di samping Kai menoleh ke belakang, menatap Arsen yang sedang bersandar santai. "Kamu laper kan, Arsen?" tanya Emma. "Kok tahu sih? Iya, aku laper banget, Emma. Dari siang cuma ganjal sosis panggang doang," jawab Arsen sambil memasang raut wajah memelas. Nafsu makan pemuda itu sudah melampui nafsu makan manusia normal. Camilan yang biasanya tersedia dalam tas, kini sudah habis tak tersisa. "Kak Kai, mumpung kita lewat daerah tempat sekolah SMA-ku yang dulu, mampir ke Warung Bakso Pak Kumis yuk!" usul Emma dengan mata berbinar-binar. "Wah boleh tuh. Enak ya makanan di sana?" "Super duper enak, menurutku. Lagian, aku kangen banget makan bakso urat super pedas di sana." Kai langsung menoleh sekilas ke arah adiknya dengan senyuman hangat. "Boleh banget, Dek! Aku juga cicip dan nemenin kamu makan bakso langganan kamu itu.""Asik! Makasih, Kak.""Tapi ingetin
"Apaan sih? Berisik banget!" ucap Arsen sinis. "Arsen! Lo beneran udah dibutakan sama cewek ini?!""Buta? Sejak kapan gue buta gara-gara Emma?""Dulu lo di The Crown paling rasional, sekarang lo mau-mau aja dituntun kayak kerbau dicocok hidungnya!" sentak Olivia kesal. Arsen menaikkan sebelah alisnya, tersenyum amat tipis. "Daripada dituntun sama iri dengki kayak lo? Upgrading otak itu gratis loh, Oliv." "Brengsek lo," maki Olivia. "Lah, kok malah maki gue. Eh, harusnya dari kemarin lo coba, biar nggak usah bayar orang lima juta cuma buat ngerusak acara yang ujung-ujungnya tetep sukses besar." "Lo ..." Olivia menganga, kehabisan kata-kata saat sindiran pedas itu menghantam gengsinya telak. Emma akhirnya melangkah maju, menatap Olivia dengan raut tenang. "Olivia, daripada kamu habis energi marah-marah di parkiran yang berdebu ini," bisik Emma lembut, tapi intonasinya penuh penekanan. "Apa maksudmu?" balas Alicia tajam. Dia tidak suka Emma mengintimidasi Olivia sahabatnya. "K
"Gue baru aja ngobrol sama Dekan lima menit yang lalu, Olivia," ujar Arsen santai, tapi tiap katanya menusuk bagai belati. Dia lalu berdiri si samping Emma dan Kai Alicia tertawa terbahak-bahak seolah Emma, Arsen dan Kai adalah badut-badut lucu yang sedang menghiburnya. "Hah! Silakan tertawa sepuasnya selama lo masih bisa. Bukti rekaman suara mahasiswa sewaan lo yang ngaku disuap lima juta sama lo udah masuk ke meja komite kampus." "Nggak percaya gue. Lagak banget, sok dekat ama dekan aja lo," ejek Noami meremehkan ucapan Arsen. "Emang dekan mau ngapain kalau lo ngobrol sama dia, Arsen?" Bibir Alicia yang seperti habis disengat lebah atau salah pakai suntikan silikon, semakin monyong saat dia mencibir ke arah Arsen. "Hmm, kasih tahu nggak ya?" ucap Arsen dengan gaya menggoda. "Alaaaaah! Bilang aja lo omong besar." Arsen menarik napas panjang, lalu menatap ketiga gadis itu. "Dengar ya. Gue udah serahkan semua bukti ke komita kampus. Sebentar lagi kalian akan mendapat kejutan d
"Makasih ya, Arsen. Ini juga kan berkat kerja keras tim dan bantuan kamu sama teman-teman yang lain," balas Emma tulus. "Jangan lupa pujian buat aku dong, Dek!" sela Kai tak mau kalah sambil merangkul pundak Emma.Arsen hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Kai. "Tanpa keahlian mc dan pengawasan ketat dari kakakmu yang ganteng ini, acara bisa oleng!" "Iya, iya, Kak Kai terhebat deh!" tawa Emma pecah.Setelah pidato rektor yang membakar semangat usai, panggung diambil alih oleh pertunjukan-pertunjukan spektakuler. Mulai dari atraksi modern dance yang energized, penampilan band kampus yang membawakan lagu-lagu hits, hingga peragaan busana kreasi mahasiswa yang estetik. Di sela-sela acara, Kai sibuk membagikan kupon makanan sponsor ke panitia yang kelelahan. "Ayo, ayo! Makanan gratis! Jangan sampai ada panitia yang pingsan gara-gara kelaparan!" "Kak Kai, jangan dihabisin sendiri burger yang rasa blackpepper itu ya!" teriak Emma dari meja kontrol suara. "Tenang, Dek! Udah ak
"Siapa orangnya?" tanya Kai tajam. Arsen menunjuk mahasiswa di depannya. "Dia orang suruhan Olivia yang iri karena Emma dipercaya untuk mimpin acara besar ini. Mahasiswa itu langsung menangis ketakutan. "Maaf! Maaf! Saya cuma disuruh! Olivia bakal kasih saya duit lima juta kalau saya rusakin acara yang ada!" Kai langsung menyeret mahasiswa itu menuju pihak keamanan kampus, sementara Arsen melangkah mendekati Emma untuk memastikan kondisinya aman. BZZZZ... Layar monitor utama stan mendadak menyala kembali. Lampu indikator proyektor berubah hijau terang. Raka berdiri kembali setelah merapikan peralatan, lalu menyapu keringat di dahinya dengan punggung tangan. "Listriknya udah nyala lagi," ujar Raka pelan pada Emma. "Dan buat file-file lo yang terhapus, gue sempet backup data server kampus tadi pagi waktu gue belajar di lab. File lo aman." Raka merogoh sakunya dan meletakkan sebuah flashdisk hitam di atas meja Emma. Emma menatap flashdisk itu, lalu beralih menatap Raka. Ada ra
Emma menyeka sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan, lalu menarik napas panjang sekali lagi—lebih dalam, lebih teratur. Seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia masih bisa berdiri, masih bisa berjalan, masih bisa menghadapi semuanya.Perlahan, kakinya melangkah menuruni undukan t
Keputusan itu tak menunggu lama untuk diberitahukan kepada Emma.Kini, ia kembali duduk di tempat yang sama, dengan punggung tegak menegang. Kedua tangannya menggenggam erat, menguatkan dirinya sendiri untuk mendengar hal yang paling buruk sekalipun.Di hadapannya, dosen dan para staf berjejer deng
Ruang Kemahasiswaan terasa lebih dingin dari biasanya. Emma duduk di salah satu kursi, punggungnya tegak, tangannya saling menggenggam di pangkuan. Di depannya, meja panjang membentang, memisahkan dirinya dengan Naomi, Olivia, Alicia dan mahasiswa-mahasiswi yang ikut dalam perang saling melempar m
Beberapa orang langsung bergerak mendekati Emma. Kursi bergeser kasar, suara langkah tergesa mengelilingi Emma. Suasana yang tadinya cuma panas berubah jadi seperti menunggu ledakan besar. Mereka tidak akan melepaskannya begitu saja. Namun, yang terjadi sebaliknya, Emma bukannya mundur. Ia tidak l







