LOGINHening. Hanya suara napas yang saling berkejaran di antara mereka.
Dante ambruk di atas tubuh Vera, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher wanita itu yang kini basah oleh peluh. Ia tidak langsung menjauh. Pria itu justru memeluk Vera sangat erat, seolah takut jika ia melonggarkan pelukannya sedikit saja, wanita di bawahnya ini akan menguap—menghilang begitu saja. Vera terbaring diam, menatap kosong ke jendela besar. Kepuasan yang selalu ia cari setiap beberapa malam sekali, didapatkannya dari Dante. Sangat nyata, tapi diiringi dengan rasa bingung yang menyesakkan. Dante Obsidian yang ia kenal selama delapan bulan ini adalah pria yang efisien. Pria yang setelah selesai berhubungan intim, akan langsung mandi, memakai bathrobe sutranya, lalu duduk di kursi kulit sambil menyesap wiski dan menunggu sampai waktunya mereka pergi meninggalkan ruangan ke tempat tujuan akhir masing-masing. Menjadi asing setelah keluar dari ruangan ini. Dante yang biasanya dingin dan menjaga jarak emosional, malam ini menjelma menjadi monster yang posesif. Vera masih heran kenapa Dante bisa berubah dalam sekejap. Selama delapan bulan, Vera selalu menganggap penthouse ini hanyalah apartemen pribadi yang sunyi. Zona netral tempat mereka bisa menanggalkan identitas masing-masing. Ia tidak pernah bertanya kenapa pengamanan gedung ini begitu tertutup atau kenapa suasananya selalu terasa terisolasi dari dunia luar. Baginya, ruangan ini adalah tempat peristirahatan mewah yang aman, bukan markas kekuasaan seorang pria yang berbahaya. Malam delapan bulan lalu, Vera datang ke The Void dengan kebutuhan yang ia pahami betul. Kebutuhan yang tidak pernah terpenuhi dalam hubungan-hubungan sebelumnya sampai berakhir dengan perpisahan yang dingin. Mantan kekasihnya menginginkan kelekatan dan janji, sementara Vera justru mendambakan kebebasan untuk menikmati hasratnya tanpa harus mengikatkan diri pada siapa pun. Karena ia lelah menjadi setia, lelah berekspektasi bahwa mencintai pasti dicintai, dan lelah disalahpahami hanya karena ia tahu apa yang ia inginkan. Bahkan saat ia pernah menjalani hubungan serius selama bertahun-tahun—mencurahkan perhatian, waktu, hingga sebagian besar hidupnya, pengkhianatan tetap menjadi akhir yang ia terima. Jadi Vera memilih jujur pada dirinya sendiri. Ia tidak ingin cinta. Ia tidak mencari masa depan. Ia hanya menginginkan kepuasan yang bersih—tanpa kepemilikan, dan keterikatan. Di sanalah Dante menemukannya—atau lebih tepatnya, mereka saling menemukan. Awalnya lewat sebuah kekeliruan yang tidak Vera sadari sepenuhnya. Ia datang ke The Void karena satu tujuan yang jelas. Bertemu seorang pria yang bersedia menjadi partner seksnya. Tempat itu memang dikenal sebagai ruang aman bagi kesepakatan semacam itu. Rahasia, mahal, dan tidak ada banyak pertanyaan. Ia sudah menerima petunjuk singkat dari jalur perantara. Booth VIP kiri, jas hitam, dan jam tangan perak. Tidak ada nama. Karena memang tidak diperlukan. Di The Void, deskripsi seperti itu sudah cukup. Ketika Vera melihat satu-satunya sosok berjas gelap duduk sendirian dengan postur tenang dan aura terkontrol, serta berjam tangan perak, ia menganggap pencariannya selesai. Percakapan mereka singkat, dan langsung menyentuh inti. Tidak ada basa-basi yang tidak perlu. Vera menjelaskan batasannya dengan tenang, sementara Dante mendengarkan dengan perhatian penuh. The Void jarang dikunjungi tanpa tujuan. Namun Vera tidak segera tahu kenapa Dante tidak meluruskan apa pun. Pria itu membiarkan asumsi berjalan, membiarkan ia berpikir sedang berbicara dengan orang yang dimaksud. Ketika akhirnya jelas bahwa pria yang seharusnya ditemui Vera tidak akan datang—dan ternyata bukanlah Dante, ia tidak benar-benar merasa tertipu. Keputusan untuk tetap melanjutkan terasa alami. Karena Dante mengakui bahwa ia pun sedang mencari teman malam. Sehingga pembicaraan mereka berlanjut tanpa rayuan berlebihan, atau basa-basi tidak perlu. Hanya dua orang dewasa yang sadar betul apa yang sama-sama mereka cari malam itu. Dante lebih dulu yang kemudian menawarkan kesepakatan yang lugas, tanpa embel-embel moral. Dari awal, Dante menjelaskan bahwa ia adalah pria yang setelah melakukan seks, benci berbagi ruang tidurnya dengan siapa pun. Ia menganggap tidur bersama adalah bentuk keintiman yang terlalu berisiko bagi pria di posisinya. Vera menerimanya tanpa masalah. Batas itu justru yang membuat segalanya terasa aman dan terkendali. Selama delapan bulan, aturan itu adalah kitab suci mereka. Sampai malam ini. Vera tersentak pelan dari lamunannya saat merasakan kecupan lembut di keningnya. Biasanya, Dante nyaris tidak pernah melakukan ini setelah mereka selesai bercinta. “Tidurlah, Vera,” bisik Dante, suaranya sangat dalam dan pelan. “Pagi hampir tiba, tapi kau tidak akan pergi ke mana-mana.” Bukan kata-kata Dante yang membuat jantung Vera berdebar kencang—melainkan kepastian di baliknya. Ia ingin bertanya, ingin memprotes perubahan sikap pria itu, tapi kelelahan yang luar biasa menyeretnya ke alam bawah sadar. Beberapa jam kemudian, cahaya matahari yang pucat mulai menyelinap masuk. Vera mengerjapkan mata, tangannya meraba sisi ranjang yang biasanya kosong dan dingin—karena ia selalu langsung terlelap di kamarnya sendiri, setiap kali pulang dari penthouse dengan kelelahan dan nyaris setengah tidak sadar. Tapi pagi ini, tangannya menyentuh kulit hangat yang padat. Ia segera sadar bahwa dirinya sedang tidak berada di kamarnya. Ia menoleh dan tersentak. Dante masih di sana, tidur dengan posisi memeluk pinggangnya seolah ia adalah sesuatu yang tak ingin dilepaskan. Di atas meja samping ranjang, sebuah map hitam sudah tergeletak di sana. Vera meraihnya dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat dokumen baru dengan stempel resmi Obsidian Holdings. AMANDEMEN KONTRAK: STATUS KEPEMILIKAN 1. Subjek (Vera Nyx) secara resmi berada di bawah pengawasan penuh Dante Obsidian selama 24 jam sehari. 2. Kediaman Subjek dialihkan secara permanen ke Penthouse Obsidian Tower. 3. Pelanggaran terhadap klausul kepatuhan akan berakibat pada isolasi total. Di bawahnya, Dante sudah menandatanganinya dengan tinta hitam yang tegas. Di samping map itu, ada sebuah kotak kecil berisi gelang emas putih dengan pengait yang tampak mustahil dibuka tanpa kunci khusus. Vera menoleh ke arah Dante yang kini sudah membuka mata, menatapnya dengan binar posesif yang tidak lagi disembunyikan. “Kau sudah membacanya?” tanya Dante, suaranya serak khas orang bangun tidur. “Dante … kau gila? Ini bukan kontrak, ini penculikan!” Vera mencoba bangkit, tapi Dante menariknya kembali hingga ia terduduk di pangkuan pria itu. “Di bawah kuasaku, Vera … perbedaannya sangat tipis,” Dante mengunci gelang itu di pergelangan tangan Vera. Klik. “Dan kau baru saja kehilangan hak untuk memilih.” “Ganti lingkungannya secara total,” saran Dokter Hans. “Pindah ke rumah lain, atau setidaknya renovasi total lantai itu agar tidak ada lagi kemiripan dengan tempat kejadian. Dia butuh tempat yang netral untuk mulai membangun memori baru.”Dante terdiam. Pindah dari The Apex, berarti meninggalkan Obsidian Tower. Jelas bukan hal mudah baginya, tapi melihat Vera menjerit ketakutan tadi membuatnya merasa teriris.“Kita pindah ke Villa del Velo di pinggir kota besok pagi,” putus Dante final. “Siapkan semuanya. Dan pastikan di sana tidak ada satu pun benda yang bisa mengingatkannya pada masa lalu.”Di dalam mobil menuju Villa, Vera duduk bersandar di kursi belakang, menatap keluar jendela. Ia tampak tenang, namun di dalam kepalanya, ia sedang menyusun kepingan-kepingan.Ia sengaja menjerit tadi malam. Ia tahu kamar itu adalah pusat penderitaannya, dan ia butuh alasan untuk menjauh dari jangkauan Dante yang terlalu intim.Vera melirik Dante melalui pantulan kaca jendela. Pria itu rupanya men
Dua puluh jam berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Dante tidak beranjak sedikit pun dari sisi ranjang Vera.Ia tidak makan, tidak berganti pakaian, bahkan tidak peduli pada puluhan panggilan telepon yang masuk ke ponselnya. Matanya yang merah terus terpaku pada pergerakan dada Vera yang naik-turun dibantu mesin ventilator.Hingga akhirnya, jemari dingin dalam genggaman Dante bergerak sedikit.Dante tersentak. Ia langsung berdiri, mencondongkan tubuhnya. “Vera? Vera, kau mendengarku?”Kelopak mata Vera bergetar hebat sebelum perlahan-lahan terbuka. Matanya tampak kuyu, pupilnya mengecil saat mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya lampu ruangan. Ia mengerjap beberapa kali, menatap langit-langit dengan tatapan kosong yang membingungkan.“Dokter Hans!” teriak Dante tanpa mengalihkan pandangan dari Vera.Vera menoleh perlahan ke arah suara itu. Ia menatap wajah Dante. Wajah yang biasanya memicu ketakutan atau gairah dalam dirinya. Namun kali ini, tidak ada reaksi apa pun. Tatap
Dante berbisik tepat di telinga Vera, suaranya terdengar sangat terhibur.“Aku tidak sedang mencoba. Aku sedang melakukannya,” jawab Vera berani, meski hatinya masih berdenyut karena trauma. Ia mencium rahang Dante di depan umum, sebuah tindakan yang sangat berisiko namun efektif.Dante mempererat cengkeramannya di pinggang Vera hingga Vera sedikit mendesah. “Ingat ini, Vera ... aku menyukai keberanianmu. Tapi jangan pernah buat aku memilih antara bisnis dan kau, karena kau mungkin tidak akan suka jawabannya.”Mendengar penuturan Dante yang lebih mirip peringatan, membuat ekspresi Vera menjadi kaku. Ia tetap melanjutkan dansa walau kakinya sudah sulit digerakkan.Sampai dansa selesai, tidak sekalipun Vera berucap sepatah kata pun. Bahkan Dante tidak mengajaknya bicara. Hanya menatap, seolah puas telah mengancamnya seperti tadi.***Perjalanan pulang dari galeri berlangsung dalam kesunyian yang mencekam. Dante sibuk dengan ponselnya, sesekali membalas pesan yang Vera yakini berasal d
Dante tidak segera menjawab. Ia memperbaiki letak kalung berlian di leher Vera dengan tenang. “Bianca adalah putri dari keluarga Sterling. Malam ini, peresmian proyek besar hasil kerja sama kami. Bersikaplah dewasa, Vera. Aku butuh dia untuk kelancaran bisnis ini.”Kalimat itu seperti tamparan dingin. Dante tidak membantah, ia justru menegaskan posisi Bianca yang penting bagi perusahaannya.“Jadi, aku harus membiarkannya menyentuhmu lagi?” tanya Vera dengan suara yang mulai bergetar.Dante melepaskan tangannya dari leher Vera, lalu berjalan menuju pintu. “Dia tidak menyentuhku, Vera. Dia sedang berinvestasi padaku. Ada perbedaan besar di sana. Sekarang, ayo pergi. Kita sudah terlambat.”***Galeri seni itu dipenuhi oleh kaum elit Arcadia City. Cahaya lampu kristal memantul di gelas-gelas sampanye dan perhiasan mahal.Begitu Dante dan Vera masuk, seluruh perhatian tertuju pada mereka.Namun, kedamaian itu hanya bertahan beberapa menit.“Dante! Akhirnya kau datang juga!” seru Bianc
Dante melepaskan kemejanya yang beraroma parfum Bianca, melemparkannya begitu saja ke lantai, lalu berbaring di atas ranjang dengan santai.Bukannya menarik Vera ke dalam pelukannya, ia justru meraih tablet dari meja samping, mulai menggulir laporan bisnis seolah kehadiran Vera di sana tidak lebih dari sekadar pajangan saja.Vera berdiri di tepi ranjang, merasa kedinginan meski pemanas ruangan menyala. Tatapan acuh tak acuh Dante jauh lebih menyakitkan daripada amarah pria itu padanya.Dengan tangan yang sedikit gemetar, Vera melepas satin tidurnya, membiarkan pakaian itu jatuh ke lantai. Ia merangkak naik ke atas ranjang, mendekati Dante yang masih fokus pada layar digitalnya.Vera mulai menciumi rahang pria itu, turun ke leher, hingga ke dada yang bidang. Namun, Dante tetap tidak bergerak. Napasnya belum berubah, matanya pun tidak beralih dari layar.Keputusasaan Vera memuncak. Ia meraba celana pendek yang dikenakan Dante, menurunkannya perlahan hingga kejantanan pria itu terliha
Pertanyaan yang menggantung di udara, dingin dan tajam.Dante terdiam sejenak. Bukannya marah, ia justru mempererat pelukannya, memastikan Vera merasakan setiap inci keberadaannya yang masih terbenam di dalam sana. “Selama kau tidak mencoba meninggalkanku, kau tidak perlu memikirkan jawaban dari pertanyaanmu, Vera.”Dante memejamkan mata, jatuh tertidur dengan posisi yang paling posesif yang bisa dilakukan olehnya sebagai seorang pria yang sangat terobsesi akan kepemilikan utuh selamanya.Namun bagi Vera, tidur dalam keadaan seperti ini tidak lagi terasa seperti bercinta yang menyenangkan, tapi lebih terasa seperti dirantai dan dibebani rasa bersalah entah sampai kapan.***Dua Minggu Kemudian.Dante menepati janjinya untuk memberikan atau mengembalikan kehidupan normal pada Vera.Vera diizinkan kembali bekerja penuh di Lantai 10 dengan pengawalan yang jauh lebih longgar, namun tetap ada untuk memantau dari jarak tertentu yang telah ditetapkan Dante.Namun, Vera bukan lagi Vera y