Home / Mafia / Dalam Cengkeraman Teman Malamku / 4. Teman Malam yang Berubah

Share

4. Teman Malam yang Berubah

Author: Velmoria
last update Last Updated: 2025-12-19 20:22:39

​Vera menatap pergelangan tangannya. Gelang emas putih itu melingkar dingin, terasa berat. Suara klik tadi bukan sekadar bunyi pengunci, melainkan bunyi pintu penjara Dante yang tertutup rapat.

​“Lepaskan, Dante. Sekarang!” Vera menyentak tangannya, tapi Dante justru mengeratkan pelukannya di pinggang Vera, membuat wanita itu tidak punya pilihan selain tetap duduk di atas pangkuan Dante dalam keadaan telanjang.

​Dante mengusap ibu jarinya di atas gelang itu. “Kunci peraknya ada padaku. Dan hanya aku yang tahu kombinasinya. Gelang ini memiliki pelacak GPS, Vera. Kau melangkah keluar dari radius gedung ini tanpa izin, alarm di ponselku akan menyala.”

​“Kau benar-benar sudah kehilangan akal!” Vera memukul dada Dante, suaranya bergetar antara amarah dan rasa tidak percaya. “Aku punya kehidupan! Aku punya pekerjaan! Kau tidak bisa memenjarakanku hanya karena kau mendadak merasa kesepian!”

​Dante menangkap kedua tangan Vera, menahannya dengan satu tangan di belakang punggung wanita itu, memaksa dada mereka beradu.

Tatapan Dante kini gelap, tidak ada lagi sisa kelembutan dari yang bisa ia berikan saat ini. ​“Pekerjaanmu? Sudah kuurus. Pengunduran dirimu sudah diterima pagi ini,” ucap Dante datar, seolah sedang membicarakan hal sepele.

​Vera ternganga. “Kau … kau melakukan apa?”

​“Aku melakukan sesuatu agar kau tidak punya alasan untuk kembali ke sana.” Dante memajukan wajahnya, membisikkan kata-kata yang membuat Vera membeku. “Aku tidak memenjarakanmu karena kesepian. Aku mengurungmu karena aku baru sadar bahwa membiarkanmu berkeliaran di luar sana adalah kesalahan terbesar yang kubuat selama delapan bulan ini.”

​“Kesalahan? Karena aku bukan milikmu?” Kedua mata Vera terbelalak marah.

​“Karena kau terlalu indah untuk dilihat orang lain, dan aku terlalu haus untuk hanya memilikimu di jam sepuluh malam sampai menjelang pagi,” Dante menggigit pelan cuping telinga Vera, membuat wanita itu gemetar. “Aku tahu kalau kau lelah menjadi wanita setia, Vera. Itu bagus. Mulai sekarang kau tidak perlu setia pada ‘cinta’ karena kau hanya perlu patuh padaku. Itu jauh lebih sederhana, bukan?”

​Vera mencoba meludahi wajah Dante lagi, namun Dante seolah sudah mengantisipasinya. Pria itu membungkam bibir Vera dengan ciuman yang menuntut—sebuah ciuman yang rasanya seperti menyegel mati.

​Sambil terus mencium Vera, tangan Dante meraih ponsel di meja samping ranjang, menekan sebuah tombol. Seketika, tirai otomatis di seluruh penthouse tertutup rapat, mengubah kemilau matahari pagi menjadi kegelapan yang intim dan mencekam.

Ciuman itu semakin ganas, lidah Dante memaksa masuk, menjarah mulut Vera tanpa ampun sementara tangan yang menahan pergelangan Vera semakin erat.

Vera menggeliat marah, mencoba menolak, tapi posisi duduk di pangkuan Dante membuat ia justru merasakan kejantanan Dante yang sudah mengeras lagi, menekan keras di antara paha telanjangnya yang rupanya sudah basah kembali dengan cepat.

Dante melepaskan ciuman sebentar hanya untuk menggeram di telinga Vera, “Kau marah? Bagus. Gunakan kemarahanmu itu untuk menunggangiku, Vera. Buktikan kalau kau benci aku.” Ia melepaskan tangan Vera, tapi langsung meraih pinggul, mengangkat tubuh wanita itu sedikit hingga ujung batangnya yang tebal dan berdenyut menyentuh bibir masuk yang licin.

Vera menggigit bibir bawahnya keras, matanya membara penuh kebencian, tapi tubuhnya—sialan sekali tubuhnya, malah merespons dengan getaran haus.

Dengan gerakan kasar yang lahir dari amarah, Vera menurunkan pinggulnya sendiri, menelan seluruh panjang milik Dante dalam satu hentakan turun yang membuat keduanya mengerang bersamaan.

“Kurang ajar kau ...” desis Vera serak, tapi ia mulai bergerak, naik-turun dengan ritme marah yang cepat dan brutal, seolah ingin menghukum Dante dengan tubuhnya sendiri.

Setiap kali ia naik hingga hampir lepas, lalu menghantam turun hingga pangkal, bunyi basah yang vulgar memenuhi ruangan—suara kewanitaannya yang banjir menampar kulit Dante, disertai erangannya yang campur aduk antara benci dan nikmat terpaksa.

Dante tersenyum gelap, tangannya mencengkeram bokong Vera erat-erat, membantu mengangkat dan menjatuhkan tubuh wanita itu lebih keras lagi. “Itu dia, Vera ... sial! Milikmu ini selalu begitu rakus. Kau selalu tidak menyadarinya selama ini,” ejeknya parau, matanya tak lepas dari wajah Vera yang memerah dan payudara yang berguncang liar setiap gerakan.

Ia sengaja menjentikkan puting Vera yang mengeras, membuat wanita itu menjerit kecil dan jepitan wanita itu semakin kuat, seolah ingin memeras habis Dante sebagai balas dendam.

Vera mempercepat ritmenya, napasnya tersengal, keringat mulai menetes di antara dada mereka yang menempel. “Aku benci kau ... benci ...” rintihnya berulang, tapi pinggulnya tak berhenti bergoyang, menggiling pelan di setiap turun dalam untuk menggesek klitorisnya yang bengkak ke pangkal milik Dante yang tebal.

Dante tiba-tiba duduk lebih tegak, satu tangannya naik ke tengkuk Vera, menarik kepala wanita itu hingga dahi mereka bertemu. “Benci aku sepuasnya, tapi kau tetap akan kembali padaku,” bisiknya kasar, lalu mendorong pinggulnya ke atas untuk bertabrakan dengan setiap turunan Vera, membuat penetrasi terasa lebih dalam, lebih menghancurkan.

Tak lama, Vera menegang hebat—tubuhnya kejang dalam orgasme yang dipaksakan oleh amarahnya sendiri, miliknya berdenyut kuat menjepit Dante hingga pria itu menggeram panjang dan menyusul, menyemprotkan cairan panasnya jauh di dalam Vera sambil mencengkeram pinggulnya hingga memar.

“Selamat datang di kontrak baru kita, Vera Nyx,” bisik Dante di sela ciumannya. “Di sini, matahari hanya terbit jika aku mengizinkannya.”

Vera merasa dunianya runtuh. Ia benci betapa ia merasa terhina, tapi ia lebih benci lagi saat menyadari bahwa di balik kemarahannya, ada bagian dari dirinya yang merasa aman dalam cengkeraman obsesif pria ini. Sebuah pengakuan yang tidak akan pernah ia ucapkan dengan keras.

Setelah emosi dan gairah yang dipaksakan itu surut, Vera duduk di tepi ranjang dengan selimut yang melilit tubuhnya.

Ia menatap gelang di tangannya dengan tatapan benci. Baru beberapa hari terakhir ia tahu nama belakang Dante—Obsidian. Itu pun tanpa sengaja. Karena meski tidak tertulis larangan mencari tahu nama asli satu sama lain dalam kontrak, ia tetap tidak ingin mencari tahu. Bahkan sebelum hari ini, ia tidak peduli bagaimana bisa Dante mengetahui nama belakangnya.

Tidak ada yang tidak tahu bahwa Obsidian Holdings merupakan perusahaan terbesar di Arcadia City dan sekitarannya. Namun Vera tidak pernah tahu seberapa berpengaruh posisi Dante—sampai hari ini.

Dante baru saja keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan celana kain hitam, tampak tenang seolah tidak baru saja menjungkirbalikkan hidup seseorang.

​“Kenapa baru sekarang, Dante? Kenapa setelah delapan bulan kau tiba-tiba menjadi begini?” tanya Vera lirih.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Cengkeraman Teman Malamku   25. Aku Pintar Berakting

    “Ganti lingkungannya secara total,” saran Dokter Hans. “Pindah ke rumah lain, atau setidaknya renovasi total lantai itu agar tidak ada lagi kemiripan dengan tempat kejadian. Dia butuh tempat yang netral untuk mulai membangun memori baru.”Dante terdiam. Pindah dari The Apex, berarti meninggalkan Obsidian Tower. Jelas bukan hal mudah baginya, tapi melihat Vera menjerit ketakutan tadi membuatnya merasa teriris.“Kita pindah ke Villa del Velo di pinggir kota besok pagi,” putus Dante final. “Siapkan semuanya. Dan pastikan di sana tidak ada satu pun benda yang bisa mengingatkannya pada masa lalu.”Di dalam mobil menuju Villa, Vera duduk bersandar di kursi belakang, menatap keluar jendela. Ia tampak tenang, namun di dalam kepalanya, ia sedang menyusun kepingan-kepingan.Ia sengaja menjerit tadi malam. Ia tahu kamar itu adalah pusat penderitaannya, dan ia butuh alasan untuk menjauh dari jangkauan Dante yang terlalu intim.Vera melirik Dante melalui pantulan kaca jendela. Pria itu rupanya men

  • Dalam Cengkeraman Teman Malamku   24. Kau ... siapa?

    Dua puluh jam berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Dante tidak beranjak sedikit pun dari sisi ranjang Vera.Ia tidak makan, tidak berganti pakaian, bahkan tidak peduli pada puluhan panggilan telepon yang masuk ke ponselnya. Matanya yang merah terus terpaku pada pergerakan dada Vera yang naik-turun dibantu mesin ventilator.​Hingga akhirnya, jemari dingin dalam genggaman Dante bergerak sedikit.​Dante tersentak. Ia langsung berdiri, mencondongkan tubuhnya. “Vera? Vera, kau mendengarku?”​Kelopak mata Vera bergetar hebat sebelum perlahan-lahan terbuka. Matanya tampak kuyu, pupilnya mengecil saat mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya lampu ruangan. Ia mengerjap beberapa kali, menatap langit-langit dengan tatapan kosong yang membingungkan.​“Dokter Hans!” teriak Dante tanpa mengalihkan pandangan dari Vera.​Vera menoleh perlahan ke arah suara itu. Ia menatap wajah Dante. Wajah yang biasanya memicu ketakutan atau gairah dalam dirinya. Namun kali ini, tidak ada reaksi apa pun. Tatap

  • Dalam Cengkeraman Teman Malamku   23. Aku Lelah

    Dante berbisik tepat di telinga Vera, suaranya terdengar sangat terhibur.​“Aku tidak sedang mencoba. Aku sedang melakukannya,” jawab Vera berani, meski hatinya masih berdenyut karena trauma. Ia mencium rahang Dante di depan umum, sebuah tindakan yang sangat berisiko namun efektif.​Dante mempererat cengkeramannya di pinggang Vera hingga Vera sedikit mendesah. “Ingat ini, Vera ... aku menyukai keberanianmu. Tapi jangan pernah buat aku memilih antara bisnis dan kau, karena kau mungkin tidak akan suka jawabannya.”Mendengar penuturan Dante yang lebih mirip peringatan, membuat ekspresi Vera menjadi kaku. Ia tetap melanjutkan dansa walau kakinya sudah sulit digerakkan.Sampai dansa selesai, tidak sekalipun Vera berucap sepatah kata pun. Bahkan Dante tidak mengajaknya bicara. Hanya menatap, seolah puas telah mengancamnya seperti tadi.***Perjalanan pulang dari galeri berlangsung dalam kesunyian yang mencekam. Dante sibuk dengan ponselnya, sesekali membalas pesan yang Vera yakini berasal d

  • Dalam Cengkeraman Teman Malamku   22. Menandai Wilayah

    Dante tidak segera menjawab. Ia memperbaiki letak kalung berlian di leher Vera dengan tenang. “Bianca adalah putri dari keluarga Sterling. Malam ini, peresmian proyek besar hasil kerja sama kami. Bersikaplah dewasa, Vera. Aku butuh dia untuk kelancaran bisnis ini.”​Kalimat itu seperti tamparan dingin. Dante tidak membantah, ia justru menegaskan posisi Bianca yang penting bagi perusahaannya.​“Jadi, aku harus membiarkannya menyentuhmu lagi?” tanya Vera dengan suara yang mulai bergetar.​Dante melepaskan tangannya dari leher Vera, lalu berjalan menuju pintu. “Dia tidak menyentuhku, Vera. Dia sedang berinvestasi padaku. Ada perbedaan besar di sana. Sekarang, ayo pergi. Kita sudah terlambat.”***​Galeri seni itu dipenuhi oleh kaum elit Arcadia City. Cahaya lampu kristal memantul di gelas-gelas sampanye dan perhiasan mahal.Begitu Dante dan Vera masuk, seluruh perhatian tertuju pada mereka.​Namun, kedamaian itu hanya bertahan beberapa menit.“Dante! Akhirnya kau datang juga!” seru Bianc

  • Dalam Cengkeraman Teman Malamku   21. Seakan Bercinta Sendirian

    Dante melepaskan kemejanya yang beraroma parfum Bianca, melemparkannya begitu saja ke lantai, lalu berbaring di atas ranjang dengan santai.Bukannya menarik Vera ke dalam pelukannya, ia justru meraih tablet dari meja samping, mulai menggulir laporan bisnis seolah kehadiran Vera di sana tidak lebih dari sekadar pajangan saja.​Vera berdiri di tepi ranjang, merasa kedinginan meski pemanas ruangan menyala. Tatapan acuh tak acuh Dante jauh lebih menyakitkan daripada amarah pria itu padanya.Dengan tangan yang sedikit gemetar, Vera melepas satin tidurnya, membiarkan pakaian itu jatuh ke lantai. ​Ia merangkak naik ke atas ranjang, mendekati Dante yang masih fokus pada layar digitalnya.Vera mulai menciumi rahang pria itu, turun ke leher, hingga ke dada yang bidang. Namun, Dante tetap tidak bergerak. Napasnya belum berubah, matanya pun tidak beralih dari layar.​Keputusasaan Vera memuncak. Ia meraba celana pendek yang dikenakan Dante, menurunkannya perlahan hingga kejantanan pria itu terliha

  • Dalam Cengkeraman Teman Malamku   20. Mainan Baru

    Pertanyaan yang menggantung di udara, dingin dan tajam.​Dante terdiam sejenak. Bukannya marah, ia justru mempererat pelukannya, memastikan Vera merasakan setiap inci keberadaannya yang masih terbenam di dalam sana. “Selama kau tidak mencoba meninggalkanku, kau tidak perlu memikirkan jawaban dari pertanyaanmu, Vera.”​Dante memejamkan mata, jatuh tertidur dengan posisi yang paling posesif yang bisa dilakukan olehnya sebagai seorang pria yang sangat terobsesi akan kepemilikan utuh selamanya.Namun bagi Vera, tidur dalam keadaan seperti ini tidak lagi terasa seperti bercinta yang menyenangkan, tapi lebih terasa seperti dirantai dan dibebani rasa bersalah entah sampai kapan.***​Dua Minggu Kemudian.​Dante menepati janjinya untuk memberikan atau mengembalikan kehidupan normal pada Vera.Vera diizinkan kembali bekerja penuh di Lantai 10 dengan pengawalan yang jauh lebih longgar, namun tetap ada untuk memantau dari jarak tertentu yang telah ditetapkan Dante.​Namun, Vera bukan lagi Vera y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status