/ Romansa / Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar / Bab 10 : Ranjang yang Salah

공유

Bab 10 : Ranjang yang Salah

작가: Vanilla_Nilla
last update 게시일: 2025-11-07 20:08:14

“Kamu mau tahu apa yang ingin aku lakukan?”

Maura hanya mengangguk pelan. Sebenarnya, ia sendiri tak mengerti kenapa kini bisa berada di kamar Revan.

“Kenapa sekarang kamu jadi terlihat ragu?” Revan menatap wajah Maura lekat-lekat. Sorot matanya yang tajam seperti mencoba membaca isi hati perempuan di depannya itu. Maura kini tampak berbeda, tidak lagi tegas seperti saat pertama kali melangkah ke kamarnya beberapa menit lalu.

“A-aku …” suara Maura bergetar pelan. Ia berusaha melepaskan tang
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar   BAB 132: AKHIR YANG BARU

    Setelah kejadian di rumah sakit itu, waktu berlalu dengan cepat. Cornelia pulih total dan memutuskan untuk menjalani hidup dengan lebih damai, bahkan sering mengunjungi makam Dimas bersama Revan dan Maura untuk berdoa bersama. Maura melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat dan segar. Mereka memberinya nama Rafael Tama Mahendra – nama pertama dari Revan, nama tengah dari ayahnya, dan nama terakhir sebagai penghormatan pada keluarga. Sementara anak perempuan Nabila dan Dimas diberi nama Sofia Aulia. Dua tahun kemudian, rumah Cornelia dipenuhi dengan suasana bahagia. Sudut ruangan penuh dengan dekorasi balon warna-warni dan bunga segar. Hari ini adalah ulang tahun Rafael. Maura sedang mengasuh Rafael, sementara Revan berdiri di sisinya dengan wajah penuh kebanggaan. Tiba-tiba, pintu rumah terbuka lebar. Masuklah Mira bersama suaminya Tama Herlambang, serta keluarga besar Maura yang datang dengan membawa banyak hadiah – mulai dari kerajinan tangan hingga makanan khas yang disiapka

  • Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar   Bab 132 : Saling Memaafkan

    "Aduh, Sayang, Mama sudah tidak marah lagi jauh-jauh hari," jawab Mira dengan suara penuh cinta. "Mama hanya marah pada diri sendiri karena terlalu keras kepadamu dulu. Kamu adalah anak satu-satunya kami Maura, bagaimana mungkin kami bisa benar-benar marah padamu selamanya? Saat kamu menikah dengan Dimas, kami hanya takut kamu akan terluka, dan ternyata ketakutan kami itu menjadi kenyataan. Mama sangat menyesal, Sayang, mama harusnya mendukungmu, bukan malah menjauhkanmu." Maura menangis terisak-isak, akhirnya tidak mampu lagi menahan emosinya. Suaranya terdengar jelas di lorong yang sunyi itu. Ia bersandar lembut pada dinding, tangannya masih menggenggam ponsel erat-erat sementara yang satunya terus mengelus perutnya yang membesar. "Mama ... Mama sudah lama sekali tidak menyapa Maura seperti ini," ucap Maura dengan suara berdesis, menelan ludahnya yang sudah penuh rasa pahit. "Mama tahu, Sayang, mama tahu," jawab Mira dari seberang, dan kali ini terdengar jelas tangisan wanita itu

  • Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar   Bab 131 : Permintaan Maaf yang Terlambat

    Beberapa hari sudah Cornelia dirawat di rumah sakit. Kondisinya perlahan mulai membaik, meski masih perlu waktu lama untuk pulih total. Maura pun selalu ada di sana untuk menjaga ibu mertuanya itu, meskipun perutnya yang sudah sangat membesar membuatnya sering merasa capek. Revan sudah berkali-kali melarangnya untuk menjaga Cornelia, takut kondisi fisik Maura akan terpengaruh. Namun Maura tetap bersikeras ingin membantu. Kadang ia bergantian dengan Revan menjaga di rumah sakit, kadang pula ia datang sendirian saat Revan harus menangani urusan bisnis yang tertunda. Hari ini, Maura duduk di sisi ranjang Cornelia, tangan kirinya sedang mengupas kulit jeruk dengan hati-hati. Gerakannya terlihat sedikit berat karena ukuran perutnya yang membesar, tapi ia tetap melakukan itu dengan senang hati. Tiba-tiba, suara lembut menyapa dari arah ranjang. "Maura ..." Maura langsung mengangkat pandangan dari jeruk yang ada di tangannya ke arah Cornelia yang sudah sadar. "Iya, Ma?" Pandangan Maura

  • Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar   BAB 130: Nisan yang Basah

    Pemakaman Dimas dipenuhi pelayat. Sanak saudara, teman, dan kolega bisnis datang untuk memberikan penghormatan terakhir. Namun, di antara kerumunan orang itu, Cornelia berdiri seorang diri di depan nisan putranya. Nisan itu masih basah oleh air mata dan hujan yang turun sejak pagi. Cornelia mengulurkan tangannya yang gemetar dan mengelus nisan itu dengan lembut, seolah sedang membelai wajah Dimas. "Nak, kenapa kamu meninggalkan Mama?" bisiknya lirih, suaranya pecah oleh kesedihan. "Kenapa kamu pergi secepat ini? Mama belum siap kehilanganmu." Air mata Cornelia mengalir deras membasahi pipinya. Ia merasa bersalah atas kematian Dimas. Ia merasa, jika saja ia tidak terlalu keras padanya, mungkin Dimas tidak akan frustrasi dan mengalami kecelakaan. "Kamu marah sama Mama, ya? Karena Mama sudah menamparmu? Karena Mama sudah menyakitimu, iya?" Cornelia terisak, dadanya sesak oleh penyesalan. Bayangan malam itu kembali berputar di benaknya. Malam ketika ia pulang bersama Dimas dar

  • Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar   BAB 129: Bisikan Terakhir

    (Di ruang ICU) Dimas terbaring lemah di ranjang rumah sakit, dikelilingi oleh berbagai macam alat medis. Wajahnya pucat dan penuh luka, matanya terpejam rapat. Ia tidak sadarkan diri sejak kecelakaan itu terjadi. Tiba-tiba, jari-jari Dimas bergerak pelan. Matanya terbuka perlahan, menampakkan tatapan kosong dan bingung. Ia melihat sekelilingnya, mencoba mengenali tempat itu. "Di ... mana ... aku?" bisiknya lirih, suaranya hampir tak terdengar. Seorang perawat yang sedang berjaga di dekatnya segera menghampirinya. "Anda di rumah sakit, Pak Dimas. Anda mengalami kecelakaan." Dimas mengerutkan kening, mencoba mengingat apa yang terjadi. Kemudian, bayangan-bayangan masa lalu berkelebat di benaknya: Maura, Revan, Nabila, ibunya, klub malam, alkohol, dan kecelakaan itu sendiri. Air mata menetes dari sudut matanya. "Maura ..." bisiknya lagi, kali ini dengan nada yang lebih jelas. "Di mana ... Maura?" Perawat itu tersenyum lembut. "Nanti saya panggilkan, Pak. Anda istirahat saja dulu.

  • Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar   BAB 128: Jeratan Alkohol

    Dimas berjalan gontai menyusuri trotoar, pikirannya kacau dan hatinya hancur. Kata-kata ibunya dan Revan terus terngiang di telinganya, bagai pisau yang mengiris-iris perasaannya. Maura hanya untuk Dimas? Sampai mati pun Cornelia tak akan merestui Revan bersatu dengan Maura? Kebohongan macam apa ini? Amarah, cemburu, dan rasa sakit bercampur menjadi satu, membentuk gumpalan emosi yang menyesakkan dadanya. Ia merasa dikhianati oleh semua orang yang ia cintai: oleh Maura yang telah meninggalkannya, oleh Revan yang ternyata menyimpan perasaan pada istrinya sendiri, dan oleh ibunya yang lebih memilih nama baik keluarga daripada kebahagiaannya. Tanpa tujuan yang jelas, Dimas melangkah menuju sebuah klub malam yang terletak di pusat kota. Cahaya lampu neon yang berkedip-kedip dan suara musik yang menghentak-hentak seolah memanggilnya untuk datang. Ia butuh sesuatu untuk melupakan semua masalahnya, meski hanya sesaat. Begitu masuk ke dalam klub, Dimas langsung memesan minuman keras. Ia m

  • Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar   Bab 7 : Senyum yang Menyimpan Racun

    Revan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Maura dalam-dalam, seperti sedang menilai perasaan di balik wajah cantik yang kini diliputi kecewa. “Kenapa emangnya?” ucap Revan pelan. “Bukankah itu justru bagus untukmu?” Maura memicingkan mata. “Bagus? Kamu pikir apa yang bagus dari melihat wan

  • Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar   Bab 6 : Jemari di Jurang Terlarang

    “Apa aku harus menjawabnya sekarang?” suara Maura nyaris tenggelam di antara detak jantungnya sendiri. Ada getar gugup yang tak bisa ia sembunyikan, dan keberanian yang perlahan menguap saat Revan masih memeluknya dari belakang.Pelukan itu bukan sekadar hangat, tapi juga terasa menyesakkan. Napas

  • Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar   Bab 5 : Bisikan yang Menggoda

    Sontak Maura mundur beberapa langkah, menjaga jarak dari Revan ketika mendengar suara suaminya dari luar. “Dimas sudah pulang …” gumam Maura gugup, jantungnya berdegup kencang. Revan mengangkat alis. “Kenapa kamu terlihat gugup? Harusnya kamu senang, bukan?” “Kak, cepatlah pergi! Aku tidak in

  • Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar   Bab 4 : Godaan yang Tak Terelakkan

    Maura mengepalkan tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih, darahnya terasa berdesir cepat seiring matanya yang tak bisa lepas dari pemandangan itu. Suaminya, lelaki yang selalu ia banggakan, yang dulu ia perjuangkan mati-matian, tengah bercinta dengan wanita lain. Dan yang paling menus

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status