LOGIN“Itu … dia pergi,” jawab Maura sambil menunduk.
“Pergi?” Revan memicingkan mata. “Meninggalkanmu sendirian di sini?”
Maura menelan ludah, berusaha menahan suara gemetar di tenggorokannya. “Dia … pergi untuk bekerja, Kak.”
“Bekerja? Malam-malam seperti ini? Meninggalkanmu sendirian? Apa pekerjaannya lebih penting daripada kamu?”
Suara Revan yang tegas membuat Maura semakin terdiam. Lelaki itu kemudian menatap wajah polos Maura yang basah kuyup oleh hujan, bukan hanya wajahnya, tapi seluruh tubuhnya yang kini menggigil kedinginan.
Tak terasa air mata Maura mengalir begitu saja, bersamaan dengan hujan yang menetes di wajahnya. Maura hanya berharap Revan tidak tahu bahwa dirinya sedang menangis.
“Kak, aku ingin pulang,” ucap Maura lirih.
“Hm, baiklah.”
Mereka berdua pun berjalan menuju arah di mana mobil Revan terparkir.
Sesampainya di dalam mobil, Revan melirik ke arah Maura yang duduk diam di sampingnya. Rambut gadis itu masih lembab, beberapa helaian menempel di wajah pucatnya. Revan menghela napas panjang, tanpa banyak bicara, ia meraih sesuatu dari kursi belakang.
“Lepas bajumu,” titah Revan datar.
Sepasang netra coklat Maura langsung membulat sempurna. “A—apa maksudmu?” suara Maura bergetar, ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Kamu tidak dengar? Aku bilang, lepas bajumu.” Revan lalu menyerahkan handuk kecil dan pakaian bersih itu ke pangkuan Maura. “Ganti bajumu. Aku tidak mau kamu sakit.”
“T-tapi …” gumam Maura, sambil memeluk handuk itu di dada. Apakah lelaki itu berpikir ia akan mengganti pakaian begitu saja … di depannya?
“Kamu tidak perlu khawatir, aku akan menutup mata.” Suara Revan memang terdengar tenang, namun dari sorot matanya tadi, Maura tahu lelaki itu sempat memperhatikan wajahnya yang kini tampak begitu gugup.
Maura menggigit bibir bawahnya, kedua tangannya saling meremas di pangkuan. “Mm …” Ia ragu. Dalam pikirannya masih terlintas ketakutan, bagaimana kalau Revan tiba-tiba membuka matanya saat ia berganti pakaian?
“Kenapa? Kamu tidak percaya padaku?”
“E … mm … bukan begitu,” jawab Maura, meski masih terdengar ragu. “Aku percaya kok.”
“Kalau begitu, cepat ganti bajumu.”
Maura menatap wajah Revan beberapa detik, memastikan kelopak mata pria itu tak bergerak sedikit pun. Setelah yakin, barulah ia menarik napas panjang dan mulai melepas pakaiannya yang basah. Rasa takut dan canggung bergulat di dalam dadanya, tetapi ia tahu tubuhnya sudah menggigil hebat. Gaun hitamnya terasa dingin menempel di kulit, membuat setiap gerakan terasa tak nyaman.
Tangannya bergetar saat mengenakan pakaian kering yang diberikan Revan.
“Sudah selesai?” tanya Revan setelah beberapa saat berlalu.
“S-sudah,” jawab Maura pelan, sambil merapikan kemeja Revan yang kebesaran di tubuhnya. Lengan bajunya menjuntai panjang hingga menutupi hampir seluruh telapak tangan.
Begitu mendengar jawaban itu, Revan membuka matanya perlahan. Sekilas pandangannya sempat terpaku, Maura tampak begitu kecil dalam balutan kemeja hitamnya. Rambutnya masih sedikit lembab, pipinya memerah entah karena dingin atau gugup.
Namun kemudian kening Revan berkerut. “Tunggu … kenapa kamu tidak pakai celana?”
Maura menunduk dalam, wajahnya memanas. “A-aku juga bingung. Kamu cuma kasih aku handuk sama kemeja, nggak ada celananya.”
Revan mengusap tengkuknya dengan canggung, lalu menghela napas pendek. “Aku lupa bawa,” katanya lirih, sambil menahan tawa. “Lagipula, kalaupun aku bawa, kamu yakin mau pakai celana aku yang segede itu?”
Maura hanya menunduk makin dalam, menatap ujung kemeja yang hampir menutupi pahanya. “Ya … nggak juga sih.”
Melihat tubuh Maura yang masih menggigil, Revan lalu melepas jaketnya dan menyerahkannya pada Maura. “Tutup saja pahamu dengan ini. Setidaknya biar tidak kedinginan.”
“Oh …” gumam Maura pelan. Ia menerima jaket itu dan segera mengenakannya. Jaket hitam itu masih hangat, aroma parfum Revan yang lembut langsung tercium begitu menyentuh kulitnya.
Maura menatap sekilas ke arah Revan. Entah kenapa, hatinya terasa hangat sekaligus aneh. Lelaki itu … kenapa bisa sebaik ini padanya? Padahal, suaminya sendiri bahkan tak pernah memperhatikannya sedalam itu.
“Kak …” panggil Maura lirih.
“Iya?” Revan menoleh sekilas.
“Kenapa kamu begitu baik padaku?”
Revan tersenyum samar. “Kamu lupa, ya? Kamu itu sahabatku. Bahkan sebelum kamu mengenal Dimas, aku sudah mengenal kamu lebih dulu.”
Maura terdiam. Ia ingat masa-masa dulu. Dulu, ia dan Revan memang sangat dekat, bahkan sebelum ia mengenal Dimas. Mereka sering pulang sekolah bersama, mengerjakan tugas bareng, saling bertukar cerita. Sebelum hubungan mereka berubah jadi keluarga ipar.
Revan selalu jadi sosok yang mudah diajak bicara, penyayang, dan punya cara sendiri membuat suasana tenang. Sementara Dimas … entah sejak kapan, lelaki itu berubah dingin padanya.
“Maura, aku ingin bertanya padamu, tapi kamu harus menjawab dengan jujur.”
Maura menoleh perlahan. Tatapan lembut di mata lelaki itu membuat dadanya bergetar aneh. “Memangnya … apa yang ingin kamu tanyakan?”
Revan menarik napas dalam, menimbang-nimbang setiap kata yang akan keluar dari mulutnya. “Apa kamu bahagia dengan pernikahan ini?”
Pertanyaan itu seperti anak panah yang melesat tepat ke dada Maura. Untuk sesaat, bibirnya kelu, tapi kemudian ia tersenyum. “Tentu saja aku bahagia,” jawabnya sambil meremas ujung jaket Revan. “Aku sangat bahagia, Kak.”
“Tapi kenapa matamu berkaca-kaca?”
Maura mencoba berkedip, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang. Tapi satu bulir tak sempat tertahan, jatuh, mengalir di pipinya, menggelinding tanpa permisi.
“A-aku …” Maura menunduk cepat, menyembunyikan wajahnya di balik helaian rambut yang basah.
Tanpa banyak kata, Revan mengulurkan tangan, ibu jarinya menyeka air mata di pipi Maura dengan hati-hati.
“Aku tidak suka melihatmu menangis,” bisik Revan, matanya menatap penuh iba.
Maura menatap balik, dan entah kenapa, untuk sesaat dunia terasa hening. Hanya ada mereka berdua di tengah hujan yang tak kunjung reda.
Ada sesuatu di mata Revan, sesuatu yang tak semestinya dilihat seorang kakak ipar pada istri adiknya.
Dan Maura … tak tahu kenapa, kali ini ia tidak mampu mengalihkan pandangannya.
***
Beberapa hari setelah malam itu …
Dimas belum juga pulang ke rumah. Telepon dan pesan yang Maura kirim pun tak kunjung dibalas. Rasa khawatir yang semula ia tahan kini berubah menjadi gelisah yang tak tertahankan. Akhirnya, dengan bekal makan siang yang ia siapkan sendiri, Maura memutuskan untuk datang ke kantor suaminya.
Setibanya di sana, Maura langsung disambut oleh salah satu karyawan yang sudah ia kenal cukup lama.
“Bu Maura?” sapa Mila, resepsionis yang ramah itu, tampak sedikit terkejut melihat Maura. “Tumben ke sini?”
Maura tersenyum sambil mengangkat kotak bekal di tangannya. “Iya, kebetulan aku mau bawain makan untuk Dimas. Dia pasti belum makan.”
Namun ekspresi Mila mendadak berubah canggung. “Bekal? Tapi …”
Maura menatapnya heran. “Tapi kenapa, Mila?”
“Pak Dimas nggak ada di kantor, Bu.”
Alis Maura langsung bertaut. “Nggak ada? Bukannya dia sering lembur?”
Mila menggeleng pelan. “Lembur? Nggak, Bu. Malah … Pak Dimas lagi cuti.”
“Cuti?” Maura mengulang pelan, tak percaya dengan yang ia dengar.
“Iya,” jawab Mila hati-hati. “Beliau ngajuin cuti sejak minggu lalu. Apa Bu Maura belum tahu?”
Jantung Maura seakan berhenti berdetak. Bibirnya bergetar, saat ia berkata, “Tidak .…”
Bekal di tangannya terasa berat, seluruh harapannya ikut jatuh bersama kabar itu. Dimas bilang sedang sibuk di kantor, tapi nyatanya ia malah cuti?
Lalu … kalau bukan di kantor, selama ini Dimas di mana?
Hari berikutnya, Revan mengunjungi rumah Alyssa tepat setelah matahari mulai menyemburkan sinarnya ke langit. Udara pagi masih segar, tapi dia merasa tubuhnya terasa panas dan gelisah. Setelah mengetuk pintu beberapa kali, Alyssa membukanya dengan wajah yang masih sedikit pucat. Tanpa berkata apa-apa, dia mengizinkan Revan masuk ke ruang tamu. Revan berdiri di tengah ruangan, tidak berani duduk. Matanya menunduk, seolah tidak punya keberanian untuk melihat wajah Alyssa. "Aku mau minta maaf, Alyssa," ucapnya dengan suara rendah. "Untuk meninggalkanmu begitu saja di hari pertunangan kita. Itu tidak benar dan aku menyadari betapa salahku." Alyssa menutup pintu dengan perlahan, kemudian berdiri di hadapan Revan dengan jarak yang cukup jauh. Matanya tajam, penuh dengan emosi yang sudah menumpuk selama beberapa hari. "Kamu minta maaf karena merasa bersalah padaku, atau karena kamu harus meninggalkanku demi Maura? Apakah itu karena yang paling dalam di hatimu memang hanya padanya?" Revan
Malam telah menyelimuti rumah baru Maura dengan selimut kegelapan yang dalam. Cahaya lampu taman di halaman hanya menerangi sebagian kecil area depan pintu, membuat sudut-sudut rumah terlihat semakin sunyi. Maura sedang duduk di sofa ruang tamu, sambil menatap layar televisi yang menyala tapi tidak ada yang ia lihat. Tiba-tiba, suara bel berbunyi dengan keras, membuat Maura terkejut hingga tubuhnya sedikit melompat. Pasalnya hari sudah gelap, atau mungkin itu Dimas yang pulang, pikirnya sambil menghela napas lega. Tanpa berlama-lama, ia pun bangkit dari sofa dan bergegas menuju pintu. Tangannya terulur meraih gagang pintu kayu yang hangat karena terkena sinar lampu ruangan, tapi saat pintu terbuka lebar, ia terkesiap. Di depan dia berdiri Alyssa, wanita itu mengenakan baju warna cream dengan rok hitam, rambutnya terurai rapi di pundaknya. Wajahnya terlihat pucat di bawah cahaya lampu taman, dan matanya penuh dengan emosi yang tidak bisa Maura tebak. "Alyssa?" ucap Maura dengan su
Nabila menutup mulutnya, berusaha menahan gelombang mual yang datang tiba-tiba. Ia melihat tatapan kaget Maura, lalu berusaha tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Kak, mungkin aku hanya masuk angin karena semalaman menjaga Kakak," kilahnya, suaranya sedikit bergetar. Maura mengerutkan kening, menatap Nabila skeptis. Ia tahu betul bagaimana rasanya mual karena kehamilan. Namun, ia memilih untuk tidak mengatakan apa-apa. "Ya sudah, kamu istirahat saja." "Iya, Kak, tapi aku ada kelas sore ini," jawab Nabila, masih berusaha terlihat baik-baik saja. "Tapi kamu kelihatan tidak sehat." Maura bersikeras, mengamati wajah Nabila yang pucat. Nabila melangkah mendekat, menggenggam tangan Maura erat. "Kakak tenang saja, aku tidak apa-apa, mungkin aku hanya kecapean saja karena belum tidur," katanya, mencoba meyakinkan Maura dan dirinya sendiri. Maura menghela napas, melepaskan genggaman Nabila perlahan. "Ya sudah, tapi kamu harus tetap jaga kesehatan, ya." "Baik, Kak, Kakak juga. Aku perg
Pagi menyingsing dengan sinar matahari yang menyusup melalui tirai tebal rumah besar keluarga Revan. Ia baru saja pulang dari rumah sakit, jas tuxedonya kusut, matanya merah karena kurang tidur. Ia baru saja menutup pintu kamar mandi setelah mandi cepat ketika pintu kamarnya dibanting terbuka. Cornelia berdiri di ambang pintu, wajahnya merah padam karena amarah. Gaun tidurnya yang biasanya rapi kini acak-acakan, rambutnya yang selalu tersisir sempurna berantakan. "Revan! Kamu berani-beraninya pulang pagi-pagi begini setelah apa yang kamu lakukan semalam?!" teriaknya, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. Revan menoleh, wajahnya tetap tenang meski hatinya bergejolak. "Mama ..." "Jangan panggil Mama dengan nada seolah kamu tidak bersalah!" potong Cornelia kasar, melangkah mendekat sambil menunjuk wajah Revan. "Kamu tinggalkan pesta pertunanganmu sendiri! Di depan semua tamu! Di depan Alyssa dan ayahnya! Kamu serahkan cincin itu dan pergi begitu saja seperti orang gila! Apa yang
Maura membuka bibirnya, hendak mengucapkan sesuatu, hendak mengungkapkan kebenaran yang selama ini ia pendam, kebenaran tentang perasaannya, tentang rahasia besar yang bersarang di rahimnya. Namun, tiba-tiba suster masuk ke dalam ruangan, menginterupsi momen intim mereka. Revan dan Maura terkesiap, segera menjauhkan diri satu sama lain. Suster itu tersenyum ramah, membawa sebuah papan catatan di tangannya. "Selamat malam, Bu Maura. Bagaimana perasaan Anda?" Ia melangkah mendekat, matanya meneliti grafik di papan. "Saya perlu mengecek kondisi Anda sebentar." Maura mengangguk, napasnya masih terengah. Ia melirik Revan yang berdiri kaku di sisi ranjang, wajahnya tegang. Suster itu memeriksa infus Maura, lalu menatapnya dengan senyum penuh arti. "Ibu Maura, kondisi Anda mulai membaik. Namun, Anda harus lebih banyak beristirahat dan tidak terlalu stres. Kehamilan Anda masih sangat muda, jadi perlu perhatian ekstra." Mendengar itu, Revan kaget. Tubuhnya menegang, matanya membelalak,
Bibir Maura merekah, seolah mengundang, dan Revan tak menyia-nyiakannya. Ia terus saja melumatnya, merasakan manisnya bibir itu, kelembutan yang memabukkan, aroma Maura yang memabukkan indranya. Awalnya, ciuman itu lembut, sebuah sentuhan rindu yang lama terpendam, ungkapan maaf tanpa kata. Namun, semakin lama, sentuhan itu semakin menuntut, semakin dalam, meminta balasan yang lebih dari sekadar pasif. Revan menangkup wajah Maura dengan kedua tangannya, ibu jarinya membelai pipi Maura yang basah oleh air mata. Ia memiringkan kepalanya, memperdalam ciuman, lidahnya menyusup masuk, menjelajahi setiap inci rongga mulut Maura. Sebuah erangan pelan lolos dari bibir Maura. Tangannya yang semula pasif kini bergerak, melingkar ke leher Revan, menariknya mendekat, seolah ingin tenggelam dalam ciuman itu. Napas mereka memburu, berpadu dalam irama yang semakin cepat. Maura merasakan getaran arus listrik menjalar ke seluruh tubuhnya, melupakan sejenak rasa pusing dan mual yang tadi menyerang







